Negeri Para Bedebah By Tere Liye

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 433 Halaman

“Di negeri para bedebah, kisah fiksi kalah seru dibandingkan dengan kisah nyata. Di negeri para bedebah, musang berbulu domba berkeliaran di halaman rumah. Tetapi setidaknya, Kawan, di negeri para bedebah, petarung sejati tidak akan pernah berhianat.”

Buku Tere Liye kali ini sama sekali ngga ada haru biru dan cinta-cintaannya. Kali ini salah satu pengarang Indonesia favorit saya menyajikan cerita dengan genre action drama (setidaknya begitu dalam bayangan di kepala saya). Jadi yang lagi kepengen dibikin nangis tahan nafas dulu sebentar dan nantikan buku2 berikutnya.

Tokoh utama dalam buku ini bernama Thomas. Seorang konsultan keuangan profesional yang sukses hingga di taraf internasional. Adegan dibuka dengan wawancara di atas kelas eksekutif sebuah pesawat ketika Thomas akan kembali menuju Jakarta dari sebuah konferensi. Wawancara untuk sebuah majalah ternama itu dilakukan oleh seorang wartawan muda bernama Julia.

Thomas yang merasa heran kenapa majalah tersebut mengirimkan seorang wartawan mentah untuk mewawancarai dirinya akhirnya memutuskan untuk sedikit mengospek Julia tentang sistem ekonomi global. Sang perempuan muda yang akhirnya ngeh kalo dirinya sedang dijadikan bulan-bulanan akhirnya meninggalkan acara wawancara tersebut dengan keki.

Baik Thomas maupun Julia sama sekali tidak mengira bahwa keduanya akan segera terlibat dalam suatu konspirasi besar.

Setibanya di Jakarta Thomas segera mendatangi klub rahasianya yang hanya kalangan sangat-sangat terbatas saja yang diperkenankan menjadi anggotanya. Apa kegiatan mereka? Kegiatan mereka adalah bertarung. Ya bertarung. Secara berkala mereka bertemu, ketika mendapat jadwal bertarung maka mereka akan menjadi pihak yang ditonton. Jika tidak maka mereka akan menjadi penonton saja. Sesama anggota klub tidak tahu dengan pasti siapa sebenarnya anggota lainnya (pekerjaan, jabatan) di luar kegiatan klub.

Ketika beristirahat di sebuah hotel Thomas dikejutkan oleh seorang tamu yang datang di tengah malam. Ia adalah Ram, orang kepercayaan keluarganya. Dunia luar mengira Thomas adalah benar-benar seorang yatim piatu yang hidup sebatang kara di dunia. Sebenarnya Thomas masih mempunyai keluarga. Dan keluarganya bukan keluarga sembarangan. Pamannya adalah Liem sang pemilik Bank Semesta.

Thomas memutuskan ikatan dengan keluarganya semenjak suatu insiden merenggut ayah dan ibunya dalam suatu kerusuhan massal. Ayah dan Ibunya meninggal dalam rumah keluarga yang dilempari, dihancurkan dan dibakar oleh massa.

Ram mengabarkan bahwa rumah om nya sudah dikepung oleh polisi. Tantenya terbaring sakit dan tidak bisa bangkit dari tempat tidur. Om nya ingin bertemu dengan Thomas sebelum masuk penjara. Karena miss management yang terlambat ditangani Bank Semesta akan dibekukan, dan Om nya akan dijebloskan ke penjara.

Ram mengabarkan bahwa tidak satupun kenalan tingkat tinggi Om nya yang dapat menyelamatkan keadaan. Terlalu banyak kepentingan (dan bahkan mungkin konspirasi) sehingga kali ini terpelesetlah ke dalam jurang sebuah usaha yang telah dirintis semenjak Opa Thomas mengungsi ke Indonesia dengan menumpang sebuah kapal kayu.

Thomas terenyuh melihat kondisi tantenya. Melalui pembicaraan dengan Om nya otak (jenius) Thomas segera merangkaikan fakta-fakta yang ada. Thomas mencium adanya konspirasi busuk. Dengan skenario yang super nekat Thomas akan melalukan upaya terakhir untuk menyelamatkan keluarganya. Bank Semesta tidak boleh dibekukan. Thomas pun melarikan Om Liem.

Cerita selanjutnya diwarnai dengan pengejaran Thomas dan Om Liem oleh berbagai pihak, skenario gila Thomas untuk menyelamatkan keadaan, dan terbongkarnya sebuah konspirasi busuk yang telah disusun semenjak kejadian gelap di masa lalunya merenggut orang tua Thomas.

Walaupun saya sudah bisa menebak siapakah sang musang dalam cerita, keasikan membaca tidak berkurang karena ntah bagaimana di saat2 terakhir Thomas selalu bisa berkelit dan memanipulasi keadaan. Selain dari itu yang saya suka dari buku ini adalah citarasa sarkasmenya dalam memandang bagaimana dunia saat ini (termasuk sistem ekonominya) bekerja.

“Kita amat tahu, untuk orang-orang seperti kita, inilah teror sebenarnya. Rasa cemas akan masa depan.”

“Kalian tahu bagaimana cara terbaik menanamkan sebuah ide di kepala orang lain? Lakukan dengan cara berkelas.”

“Tidak ada skenario Russian Roullete dalam kehidupan nyata. Kita selalu saja punya kesempatan untuk memanipulasi situasi, bertaruh dengan sedikit keunggulan.”

Advertisements

Berjuta Rasanya By Tere Liye

Penerbit : Mahaka Publishing

Tebal : 204 Halaman

“Seseorang yang mencintaimu karena fisik, maka suatu hari ia juga akan pergi karena alasan fisik tersebut. Seseorang yang menyukaimu karena materi, maka suatu hari ia juga akan pergi karena materi. Tetapi seseorang yang mencintaimu karena hati, maka ia tidak akan pernah pergi! Karena hati tidak pernah mengajarkan tentang ukuran relatif lebih baik atau lebih buruk.”

Agak beda dari biasanya, kali ini Tere Liye mengeluarkan karya berupa kumpulan cerita pendek. Temanya? Cinta.. Tapi jangan salah, 15 cerita ini sungguh bukan kisah cinta biasa. Bang Tere Liye berhasil merangkai 15 kisah cinta yang menggelitik peresepsi kita sendiri tentang apa itu cinta dan segala pernak perniknya.

Tentang kesalahan sudut pandang wanita (dan mungkin juga laki2) tentang definisi kecantikan diceritakan dalam Bila Semua Wanita Cantik. Cerita ini sungguh lucu dan sangat menyentil para perempuan, salah satu cerita favorit saya.

Lalu ada juga kisah luar biasa tentang suatu kota yang dipenuhi oleh para penemu. Kota tersebut punya masalah kependudukan yaitu jumlah bayi yang semakin berkurang. Hal itu disebabkan karena kurangnya keberanian para anak muda di kota tersebut untuk menyatakan cinta. Maka para tetua di kota tersebut menciptakan sebuah alat yang bernama cintanometer. Alat tersebut dipasang di dekat telinga dan dapat mendeteksi jika ada seseorang yang jatuh cinta pada pemakainya. Lama2 penduduk kota mulai lupa akan perasaan seperti apa cinta itu. Ada atau tidaknya hanya ditentukan oleh sinyal dari alat pendeteksi. Unik kan?

Nasib yang terkadang kejam digambarkan dalam cerita Pandangan Pertama Zalaiva. Kalau ternyata cinta jatuh pada orang yang salah lalu bagaimana? Siapa yang harus disalahkan, nasib kah? Hhhhmm…

Dan kisah favorit saya yang judulnya Kupu-Kupu Monarch. Kisah getir yang mempertanyakan apa itu cinta sejati. Saat satu pihak sudah bersedia berkorban jiwa dan raga, pihak yang lain dapat dengan mudah menyepelekan semuanya dan berujar “tidak cinta lagi”. Lalu apa itu cinta?

Pada intinya kalo anda bosan dengan kisah2 cinta yang standar, 15 cerita ini bisa menyediakan alternatif yang unik dan menyegarkan.

“Nak, apakah ada yang pernah berpikir hidup ini bukan soal pilihan? Karena jika hidup hanya sebatas soal pilihan, bagaimana caranya kau akan melanjutkan hidupmu, jika ternyata kau adalah pilihan kedua atau berikutnya bagi orang pilihan pertamamu?”

“Cinta sejati adalah perjalanan, Sayang. Cinta sejati tidak pernah memiliki tujuan.”

Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah By Tere Liye

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 507 Halaman

“Sederhana, Borno. Kau bolak balik sedikit saja hati kau. Sedikit saja, dari rasa dipaksa menjadi sukarela, dari rasa terhina menjadi dibutuhkan, dari rasa disuruh-suruh menjadi penerimaan. Seketika wajah kau tak kusut lagi. Dijamin berhasil.”

Duh, nasihat yang tepat untuk diberikan pada saya yang terkadang suka mutung sama urusan kantor. Hehe. Andai saja saya seperti Borno (sang tokoh utama dalam cerita ini) yang selalu dibimbing oleh kata-kata bijak tetangganya, Pak Tua.

Anyway, He’s done it again. I love the story of this book. Tambah kagum bagaimana Tere Liye bisa memandang cinta dari sudut yang sama sekali berbeda dan menceritakannya dengan cita rasa yang sama sekali berbeda pula. Kalo di buku sebelumnya, Sunset Bersama Rosie saya dibikin nangis termehek-mehek berkali-kali hingga menutup halaman terakhir. Di buku Kau Aku ini ntah berapa kali saya dibikin ketawa2 sendiri, belum lagi kasus senyum2 yang tak terhitung. Sampai menutup buku pun saya masih tertawa terkekek2. Borno.. Borno..

Resmi deh jadi pengarang Indonesia kedua fav saya setelah (alm) Pramoedya Ananta Toer. Dengan suksesnya berhasil menyalip Andrea Hirata, A. Fuadi, Dewi Lestari dkk.

Back to the story. Cerita ini berlatar belakang kota Pontianak yang dipotong oleh sungai terpanjang di Indonesia, Sungai Kapuas. Karena dipotong oleh sungai besar maka penduduk yang memiliki keperluan menyeberang dari satu sisi kota ke sisi kota lainnya seringkali menggunakan perahu kecil bertenaga motor yang mereka sebut dengan istilah Sepit.

Saya juga baru tau dari buku ini kalo nama kota Pontianak berasal dari sebuah cerita/legenda hantu yang melibatkan kuntilanak (ini fakta loh). Sungguh aneh tapi nyata. Hehe. Bandung kenapa namanya Bandung ya? Hhhmmm O_o .. Sudahlah..

Kisah dibuka dengan penggalan kehidupan Borno_sang pemuda dengan hati paling lurus sepanjang sungai kapuas, tokoh utama kita ketika masih seorang bocah kecil. Ayah Borno, seorang pengemudi Sepit kawakan di kota Pontianak pada suatu waktu mengalami kecelakaan, terjatuh dari Sepit kemudian tersengat ubur-ubur beracun.

Ketika sampai di rumah sakit dokter menyimpulkan bahwa nyawa Ayah Borno tidak terselamatkan lagi. Wasiat terakhir dari Ayahnya Borno adalah supaya Borno jangan pernah menjadi pengemudi Sepit seperti dirinya, dan untuk mendonorkan jantungnya jika ia meninggal. Borno kecil terlambat mengetahui bahwa Ayahnya memutuskan untuk mendonorkan jantung. Ketika tau dada Ayahnya telah dibelah dan diambil jantungnya, Borno mengamuk sejadi-jadinya di rumah sakit. Di saat itu dia diamati oleh seorang gadis kecil keturunan Tionghoa yang nanti akan masuk ke dalam kehidupannya.

Cerita beranjak ke masa-masa Borno yang telah lulus dari sma. Karena ketidak tersediaan biaya maka Borno memutuskan untuk bekerja terlebih dahulu. Setelah berkali-kali berganti pekerjaan akhirnya Borno terpojok pada suatu keadaan dimana ia tidak memiliki pilihan pekerjaan lagi. Lalu sahabat-sahabat baik orang tuanya Pak Tua (seorang pengemudi sepit senior yang telah memperlakukan Borno seperti anak sendiri), Bang Togar (Ketua perkumpulan pengemudi sepit yang super galak tapi komikal), Cik Tulani (pemilik rumah makan yang sering menyuruh2 Borno), dan Koh Acong (pemilik toko kelontong) akhirnya membujuk Borno untuk melaksanakan satu-satunya pekerjaan yang ketika itu mungkin dilakukan, menjadi pengemudi sepit.

Tentu saja pada awalnya Borno menolak untuk melanggar wasiat Ayahnya. Namun ia memang tidak memiliki pilihan lain. Jadilah Borno seorang pengemudi sepit, walaupun harus melewati masa ospek yang kejam tapi lucu oleh Bang Togar. Di hari ketika Borno sudah dinilai layak untuk mengemudikan sepit sendiri, tanpa diduga2 sahabat2 ayahnya yang dimotori oleh Bang Togar menghadiahkan sebuah sepit baru untuk Borno. Resmilah pada hari itu Borno bergabung ke perkumpulan pengemudi sepit.

Di suatu hari yang sebenarnya biasa-biasa saja, untuk Borno sesuatu yang akan menjungkir balikkan hidupnya pagi itu terjadi. Salah satu penumpang sepitnya adalah seraut wajah yang tidak pernah akan ia lupakan. Seorang gadis muda berambut hitam panjang dengan wajah sendu menawan. Sayangnya proses menyeberang sungai kapuas dengan menggunakan sepit hanya berlangsung selama 10 menit. Berlalu pula lah gadis itu dengan meninggalkan kegelisahan di hati Borno.

“Apalah namanya ini? Disebut apakah perasaan ini? Kenapa hatiku macam sayuran lupa dikasih garam, hambar, tidak enak, tidak nyaman? Atau seperti ada tumpukan batu besar di dalamnya, bertumpuk-tumpuk, membuat sempit. Atau seperti ikan diambil tulangnya, kehilangan semangat.”

Melalui berkali-kali kejadian yang manis tapi sangat mengundang tawa akhirnya Borno berkenalan dengan gadis sendu menawan itu, namanya Mei.

“Ibu, usiaku dua puluh dua, selama ini tidak ada yang mengajariku tentang perasaan-perasaan, tentang salah paham, tentang kecemasan, tentang bercakap dengan seseorang yang diam-diam kaukagumi. Tapi sore ini, meski dengan menyisakan banyak pertanyaan, aku tahu, ada momen penting dalam hidup kita ketika kau benar-benar merasa ada sesuatu yang terjadi di hati. Sesuatu yang tidak pernah bisa dijelaskan.”

“Kita tidak pernah tahu masa depan. Dunia terus berputar. Perasaan bertunas, tumbuh mengakar, bahkan berkembang biak di tempat yang paling mustahil dan tidak masuk akal sekalipun.”

Lantas apa semuanya menjadi sesederhana itu. Tentu saja tidak. Tidak ada yang sederhana di dunia ini. Borno dan Mei harus berpisah untuk kemudian dipertemukan lagi. Saling merindukan, saling menunggu dan tentu saja aneka ria kesalahpahaman.

“Nak, perasaan itu tidak sesederhana satu tambah satu sama dengan dua. Bahkan ketika perasaan itu sudah jelas bagai bintang di langit, gemerlap indah tak terkira, tetap saja dia bukan rumus matematika. Perasaan adalah perasaan.”

“Rasa senang, rasa sedih, itu semua hanya soal pengharapan.”

“Maafkan aku Mei, itulah satu-satunya yang tidak bisa kupenuhi. Sarah bukan kesempatan baru bagiku. Kau satu-satunya kesempatan yang pernah kumiliki, dan aku tidak akan pernah mau menggantinya dengan siapapun.”

Aaaawwww… Borno sepertinya memang pemuda dengan hati paling lurus di sepanjang sungai kapuas.

Dua dunia yang berbeda, namun tetap berusaha sebaik-baiknya menjalankan peran masing-masing dalam penantian. Terus memperbaiki nilai keberadaan masing-masing di dunianya. Sungguh ini bukan kisah cinta yang cengeng dan menye2. Ini adalah sample kisah cinta yang penuh kesabaran dan penerimaan. Tidak terburu-buru mencari kesimpulan dan membiarkan takdir mengantarkan mereka berdua pada kebenaran. Kebenaran? Ya.. Karena memang semuanya tidak sesederhana yang terlihat. Borno bertemu dengan Mei dan kemudian Sarah. Ada jalinan benang nasib yang mempertautkan pertemuan dan perpisahan mereka.

Duh Tere Liye ini memang jago deh. Dia berhasil menceritakan kisah yang sebenarnya penuh ketabahan ini dengan bahasa yang ceria, lucu dan seringkali mengundang tawa. Ketika menutup halaman terakhir saya masih tertawa tergelak sendiri, ikut senang akan akhir kisah Borno, kemudian merenung.. Sanggupkah saya menerima jalinan benang nasib dengan senyuman, penerimaan, kerja keras dan keikhlasan seperti Borno? Sanggupkah saya menjalankan peran itu?

Tokoh fav saya tentu saja geng recok Pak Tua, Bang Togar, Cik Taulani, Koh Acong. Tokoh2 yang berkarakter dan unik dan sangat mewarnai isi cerita. Sangat direkomendasikan untuk dibaca buku ini!! I completely adore this story!!

“Ah, cinta selalu saja misterius. Jangan diburu-buru atau kau akan merusak jalan ceritanya sendiri.”

Sunset Bersama Rosie By Tere Liye

Penerbit : Mahaka Publisher

Tebal : 425 Halaman

Besok adalah pembacaan vonis bagi terdakwa pelaku pengeboman Jimbaran. Anak-anak harus datang. Mereka harus menyaksikan. Mereka harus tahu indahnya proses berdamai dengan masa lalu. Memaafkan siapapun yang pernah menyakiti kita. Memahami indahnya menerima, memaafkan, tapi tidak melupakan.”

5 dari 5 bintang untuk buku Sunset Bersama Rosie. Wow! Novel karya pengarang Indonesia pertama yang paling banyak membuat saya meneteskan air mata. Bahkan saat menutup halaman terakhir saya sampai menangis sesenggukan. Bukan karena sad ending, sama sekali bukan. Tapi karena ceritanya yang indah. Cerita yang indah hampir di setiap bab dan membuat saya bertanya-tanya sendiri tentang banyak hal.

Setelah buku ini sepertinya Tere Liye berhasil melesat ke tiga teratas pengarang Indonesia Favorit saya.

Tegar dan Rosie adalah teman semenjak kecil. Mereka tumbuh besar di daerah Gili Trawangan, Lombok. Keluarga Rosie adalah salah satu pemilik Resort yang ada di sana. Mereka berdua lalu kuliah di Bandung.

Di Bandung, Tegar bertemu dengan Nathan yang ternyata berasal dari Gili Meno, tidak jauh dari tempat Tegar dan Rosie tumbuh besar. Tegar kemudian mengenalkan Nathan kepada Rosie.

Tegar dan Rosie memiliki kebiasaan mendaki Gunung Rinjani bersama pada masa liburan kuliah. Dua bulan setelah Tegar mengenalkan Nathan kepada Rosie, Tegar mengajaknya untuk ikut serta mendaki Gunung Rinjani, sesaat sebelum wisuda. Rencananya Tegar akan menyatakan perasaan yang telah ia pendam selama dua puluh tahun kepada Rosie. Tegar mengajak Nathan agar situasi tidak berubah menjadi ganjil jika ternyata Rosie menolaknya.

Sesaat sebelum mencapai puncak Gunung Rinjani, Tegar menyuruh Nathan dan Rosie untuk naik duluan karena ia akan mengisi persediaan minum terlebih dahulu. Ketika Tegar akhirnya menyusul sampai ke puncak, ia menyaksikan Nathan dan Rosie sedang duduk bersama di sebuah batu besar menghadap ke arah Sunset. Nathan sedang menyatakan perasaannya pada Rosie. Dua puluh tahun Tegar setara dengan dua bulan Nathan.

Tidak sanggup menyaksikan lebih lanjut, Tegar tersuruk-suruk turun gunung sendirian. Semenjak saat itu Tegar menghilang dari kehidupan Nathan dan Rosie tanpa kabar sama sekali. Tegar hanya mendengar bahwa Nathan dan Rosie kemudian menikah. Tegar pindah ke Jakarta, diterima di perusahaan sekuritas, kemudian bekerja seperti orang kesetanan. Berusaha sekuat tenaga mengusir bayang-bayang Rosie.

Lima tahun kemudian Tegar telah menjadi pekerja yang sukses. Suatu ketika bel pintu apartemen Tegar berbunyi. Yang datang adalah Nathan, Rosie bersama dua anak perempuan mereka Anggrek dan Sakura. Dua anak itu memperlakukan Tegar seolah telah mengenalnya seumur hidup. Melihat kedua anak tersebut, Tegar akhirnya menemukan kedamaian. Tegar pun menjadi sahabat keluarga tersebut. Paman paling hebat dari anak-anak Nathan dan Rosie.

Delapan tahun kemudian Nathan dan Rosie telah memiliki empat orang anak perempuan. Anggrek, Sakura, Jasmine dan Lili. Nathan dan Rosie akan merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang ketiga belas bersama anak-anak di suatu restoran di daerah Jimbaran, Bali. Keluarga itu ber tele confrence dengan Tegar yang ada di Jakarta. Mereka mengajak Tegar untuk turut serta menyaksikan Sunset Jimbaran melalui layar Laptop. Saat itu Tegar pun telah menemukan perempuan baik-baik bernama Sekar. Mereka akan bertunangan esok hari.

Lewat layar laptopnya Tegar mendengarkan anak-anak mengoceh. Lewat layar laptopnya juga Tegar menyaksikan secara langsung bom meledak di Jimbaran, tepat di restoran dimana keluarga Rosie berada.  Tanpa pikir panjang Tegar melesat ke Bandara, mencari pesawat tercepat ke Bali, tanpa ingat lagi bahwa esoknya ia seharusnya bertunangan.

Hanya dalam waktu tiga jam Tegar tiba di tempat kejadian. Hatinya teriris melihat kehancuran yang terjadi. Mendengar banyaknya korban yang jatuh. Di rumah sakit Tegar menemukan bahwa Nathan telah meninggal dunia, Rosie baik-baik saja namun tidak mau melepaskan tubuh Nathan yang sudah dingin. Anggrek, Jasmine dan Lili baik-baik saja, hanya Sakura yang terluka tangannya kirinya patah dan harus di gips, beberapa jarinya tidak akan bisa berfungsi seperti dulu.

Tegar kemudian mengurus pemakaman Nathan dan membawa Rosie beserta anak-anak kembali ke Gili Trawangan. Rosie bersikap seperti mayat hidup, hanya menatap kosong. Tegar mengambil tanggung jawab menghibur dan membesarkan hati anak-anak, juga mengurus resort. Rosie kemudian mencoba bunuh diri dan gagal. Beberapa hari kemudian Rosie tiba-tiba berteriak-teriak sendiri seperti orang kesurupan dan menyakiti siapa pun yang mendekatinya, termasuk anak-anak.

Rosie menderita depresi akut dan harus dirawat di sebuah shelter pemulihan jiwa di Bali. Satu tahun yang lalu mungkin saya akan menganggap reaksi Rosie berlebihan. Namun sekarang saya tau dengan pasti bahwa hal-hal semacam itu memang terjadi. Depresi akut membuat anda gila, depresi kronis membuat anda menjadi zombie.

Tegar lalu memutuskan mengurus anak-anak dan resort sementara Rosie dalam pengobatan, walau sebagai konsekuensinya Tegar harus menunda janji kehidupan yang sudah ia lontarkan pada Sekar. Perempuan sabar yang teramat mencintainya. Kisah selanjutnya harus dibaca sendiri. Yang jelas halaman demi halaman akan membuat kita mempertanyakan arti nasib, takdir, pilihan dan kesempatan.

Kalau saya yang menceritakan, jalan ceritanya mungkin terdengar biasa-biasa saja ya. Tapi cara Tere Liye menceritakan dalamnya perasaan dan betapa emosionalnya suatu peristiwa sungguh teramat sangat indah. Bravo! There were more than five times I actually weep reading this book. Akhirnya ada yang bisa menggambarkan perasaan cinta/kasih sayang dalam derajat yang lebih tinggi dari sekedar romantisme biasa.

Biasanya saya lebih menyukai kisah dengan ending yang biasa-biasa saja atau bahkan ending yang sedih karena lebih realistis untuk terjadi. Life isn’t a fairy tale. Tapi indahnya kisah jatuh bangun  tokoh-tokoh dalam buku ini, walaupun memang mungkin too good to be true, buat saya tetap seperti sebatang lilin dalam gelap. Masih adakah kesempatan itu?

Ada banyak cara menikmati sepotong kehidupan saat kalian sedang tertikam belati sedih. Salah-satunya dengan menerjemahkan banyak hal yang menghiasi dunia dengan cara tak lazim. Saat melihat gumpalan awan di angkasa. Saat menyimak wajah-wajah lelah pulang kerja. Saat menyimak tampias air yang membuat bekas di langit-langit kamar. Dengan pemahaman secara berbeda maka kalian akan merasakan sesuatu yang berbeda pula. Memberikan kebahagiaan yang utuh – yang jarang disadari – atas makna detik demi detik kehidupan.”