Invisible Man By Ralph Ellison

Penerbit : Signet Books

Tebal : 503 Halaman

Buku ini kayaknya udah saya “timbun” lebih dari 3 tahun ;p . Beli di sebuah pameran buku seharga 25 ribu saja. Zaman-zaman saya masih terobsesi dengan Times 100 Best Novel. Buku ini masuk ke dalam list itu. Setelah ditelisik ternyata buku yang saya punya ini terbitan tahun 1960. Bahkan belum ada kode ISBN nya J J.

Berlatar di Amerika pada tahun 1930 an, tokoh utama dari buku ini adalah seorang pria afro amerika anonimus. Buku dibuka dengan prolog dari sang tokoh utama yang menamakan dirinya sebagai invisible man. Terus terang paragraf pertama dari buku ini langsung terasa menyengat dan menarik perhatian.

I am an invisible man. No, I am not a spook like those who haunted Edgar Allan Poe; nor am I one of your Hollywood – Movie Ectoplasms. I am man of substance, of flesh and bone, fiber and liquids, and I might even be said to posses a mind. I am invisible, understand simply because people refuse to see me. When they approach me they see only my surrounding, themselves, or figments of their imagination, indeed, everything and anything except me.”

Sang tokoh utama tinggal di sebuah kota kecil di selatan Amerika, saat itu rasisme masih terjadi. Tokoh utama kita adalah seorang pelajar teladan di sekolah tingginya. Suatu saat ia membuat suatu karya tulis tentang perjuangan orang kulit hitam. Karena karya tulisnya tersebut ia mendapatkan kesempatan untuk berpidato di depan para pemuka kulit putih.

Dia sama sekali tidak menyangka bahwa dalam acara tersebut, sebelum diberi kesempatan untuk berpidato, ia dan beberapa anak muda kulit hitam lainnya dijadikan objek practical jokes yang kejam dan menjijikan sebagai hiburan bagi para pemuka kulit putih tersebut. Mereka dikumpulkan di suatu ring, ditutup matanya dan diperintahkan untuk bertarung satu sama lain dengan mata tertutup, setelah itu yang masih bertahan dipertintahkan memunguti koin-koin emas yang ternyata sudah dialiri listrik sementara para pemuka kulit putih tertawa-tawa melihat adegan tersebut. Menjijikan.

Pada akhir acara, setelah babak belur dan dipermalukan, sang tokoh utama akhirnya mendapatkan kesempatan untuk berpidato. Sebagai reward, ia diberikan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke universitas khusus untuk orang kulit hitam. Tokoh utama kita yang naif mengira keterlibatannya dalam practical jokes tersebut adalah sebuah “kesalahan informasi” dan merasa sangat berterimakasih atas beasiswa yang diberikan.

Di tahun pertamanya ia diberi tugas untuk menjadi tour guide bagi seorang penyandang dana universitas, Mr. Norton. Tetapi ia membawa Mr.Norton ke tempat yang menurut pemimpin universitas (Mr.Bledsoe) memalukan dan merendahkan ras kulit hitam sehingga ia dikeluarkan dan diperintahkan untuk pergi ke New York.

Ia pun tiba di Harleem dan secara tidak sengaja terseret kedalam putaran peristiwa. Tokoh utama kita pada awalnya adalah orang yang percaya kepada kebaikan orang kulit putih dan bahwa equality atau persamaan kesempatan antara ras kulit putih dan ras kulit hitam adalah suatu keniscayaan.

Peristiwa demi peristiwa yang terjadi di Harleem membawa ia ke suatu titik kesadaran bahwa selama hidupnya ia selalu melaksanakan apa yang orang lain inginkan dan kerap dimanfaatkan oleh orang-orang yang memiliki motivasi ganda tersebut. Dia menyadari betapa naif dirinya dan bahwa selama ini ia hanya dipergunakan sebagai alat. Ia hanyalah salah satu dari banyak invisible man di dunia ini. Common people. Just another face in the crowd.

Here I had thought they accepted me because they felt that color made no difference, when in reality it made no difference because they didn’t see either color or men. For all they concerned, we were so many names scribble on fake ballots. It was a joke, an absurd joke.”

Saya bisa merasakan pain dan agony dari sang tokoh utama. Perubahannya dari pemuda naif menjadi orang yang cynical pun tergambarkan dengan sangat baik dan beralasan. Namun saya merasa pesan yang disampaikan seharusnya bisa digali lebih dalam. Pada beberapa titik penggambaran situasi begitu berapi-api sehingga dapat memancing emosi pembaca, namun di sisi lain mengaburkan makna.

Bagaimanapun Ralph Ellison menceritakan kisahnya dengan sangat nyata sehingga kebingungan sang tokoh utama dalam mencari “tempatnya” di masyarakat tersampaikan dan membuat saya penasaran dari halaman pertama hingga halaman terakhir.

Advertisements