The Hundred Year Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeard By Jonas Jonasson

13486632Penerbit : Hesperus Press Limited

Tebal : 393 Halaman

“Things are what they are, and whatever will be, will be.”

Haha! Saya nutup halaman terakhir buku ini asli sambil ketawa cekikikan. Padahal ngga sengaja nemu waktu lagi browsing2 di bookdepository dan kesengsem sama judulnya yang menarik. Emang bikin penasaran kan judulnya? Hehe..

Merasa beruntung karena jenis cerita macem gini adalah salah satu jenis yang paling saya suka. Ibarat perpaduan antara Forrest Gump nya Winston Groom dan Good Omens nya Neil Gaiman sama Terry Pratchett. Lucu, humoris dan sedikit absurd. Hehe.

Alkisah seorang tua di rumah jompo yang bernama Allan Karlsson, beberapa jam lagi ia harus menghadiri pesta ulang tahunnya yang keseratus. Karena pencapaian umur yang cukup langka itu panti jomponya memutuskan  untuk mengadakan pesta yang sedikit heboh. Walikota dan beberapa media akan datang untuk meliput peristiwa langka tersebut.

Allan yang enggan menghadiri pesta tersebut akhirnya memutuskan untuk kabur dengan melompat dari jendela kamarnya dan mendarat di semak bunga yang terletak di bawah jendela. Masih menggunakan sendal tidurnya, Allan berhasil mengaburkan jejak pelariannya dan tiba di stasiun bus untuk lalu membeli tiket bus jalur apapun yang berangkat paling cepat.

Secara kebetulan di stasiun bus yang sepi itu hanya ada satu orang lain yang duduk bersamanya di ruang tunggu. Anak muda tersebut memakai jaket dengan tulisan “Never Again” dan membawa sebuah koper perak dengan ukuran yang cukup besar.

Dengan polos(atau bodoh)nya anak mudah tersebut menitipkan kopernya kepada Allan karena harus pergi ke kamar kecil (koper sebesar itu tidak akan muat dibawa ke kamar kecil). Di saat bersamaan bus yang Allan tunggu tiba, dan di dalam pikirannya mungkin di koper tersebut akan tersedia beberapa potong baju ganti dan sepasang sepatu (kalau ia beruntung). Tanpa pikir panjang Allan membawa koper yang bukan miliknya itu ke dalam bus dan berlalu melanjutkan perjalanan.

Di saat yang bersamaan pesta ulang tahun Allan yang keseratus telah siap dilaksanakan. Seluruh tamu undangan telah siap menyambut sang birthday boy. Alangkah terkejutnya direktur panti jompo ketika menemukan bahwa Allan tidak ada di kamarnya. Fakta bahwa walikota dan media telah ada di tempat itu menyebabkan peristiwa hilangnya Allan menjadi heboh. Pencarian sang sepuh pun dilakukan dan media dengan ramainya memberitakan perihal hilangnya “Sang Orang Tua yang Berumur 100 Tahun” dari panti jompo.

Lalu bagaimana kabarnya anak muda yang kopernya dibajak oleh Allan? Ternyata “Never Again” adalah nama suatu geng mafia yang memiliki spesialisasi di bidang perampokan dan perdagangan obat terlarang. Koper yang Allan curi penuh berisi uang. Tidak tanggung murkanya anak muda tersebut mendapati bahwa dirinya telah dikerjai oleh seorang kakek renta. Dengan geram (dan takut pada bos mafianya) anak mudah tersebut segera menyusul Allan dengan Bus berikutnya.

Dan petualangan absurd Allan yang melibatkan geng mafia dan sekumpulan polisi inkompeten pun dimulai. Allan diduga diculik, untuk kemudian diburu dengan tuduhan pembunuhan terhadap (tidak tanggung2) tiga orang.

“People could behave all they like, but Allan considered that in general it was quite unnecessary to be grumpy if you had the chance not to.”

Cerita digambarkan melalui kisah Allan di masa sekarang dan kilas balik cerita hidupnya. Melalui kilas balik itulah kita kemudian mengetahui bahwa tidak hanya menyaksikan sebagian besar peristiwa di abad 20-an, bahkan Allan pun terlibat dalam berbagai peristiwa besar di abad tersebut melalui keahlian otodidaknya dalam hal membuat bom.

Sebutlah berteman baik dengan Harry S. Truman, menyelamatkan istri Mao Tse-tung, bertengkar dengan Stalin, menjadi penghuni  camp Gulag dan kemudian berlibur berbelas-belas tahun di Bali, Indonesia. Hahaha!! This story is so funny and amusing that it makes me smile over and over again while writing the review.

Ah, sebenernya asik banget kalo buku ini ada yang mau terbitin di Indonesia, tapi terus terang saya khawatir dengan masyarakat Indonesia yang suka terlalu sensitif. Kenapa? Soalnya Indonesia digambarkan dalam buku ini sebagai tempat dimana segala sesuatunya bisa dibeli dengan uang (dimana kurang lebih saya sependapat dengan penulis). Reputasi, jabatan, identitas, ijasah, you name it! Hihihi..

Lima dari lima bintang dari saya untuk keseruan nan absurd buku ini.

“Allan asked the representative of the Indonesian Government to sit down. And then he explained that he had given the Bomb to Stalin, and that had been a mistake because Stalin was as crazy as they come. So first, Allan wanted to know about the mental state of Indonesian President.

The Government representative replied that President Yudhoyono was a very wise and responsible person.

‘I am glad to hear it,’ said Allan.’In that case I’d be happy to help out.’

And that’s what he did.

The End”

Advertisements