Looking For Alaska By John Green

/home/wpcom/public_html/wp-content/blogs.dir/2e1/22348610/files/2015/01/img_4194.jpg

Those awful things are survivable, because we are indestructible as we believe ourselves to be. When adults say, “Teenagers think they are invincible” with that sly, stupid smile on their faces, they don’t know how right they are. We need never be hopeless, because we can never be irreparably broken. We think that we are invincible because we are.

Wow! Udah lama banget rasanya saya bisa terpengaruh secara emosional oleh sebuah buku dan berhasil dibuat tercenung sendiri di tengah-tengah cerita.

Membaca buku ini membuat saya merasa bahwa pengalaman saya tumbuh dewasa highly uneventful. Hehe. Padahal emang ia biasa banget, bukan cuman perasaan ;p

Tiba-tiba saya ingin sekali masuk kedalam cerita di buku ini. Kembali menjadi remaja untuk berteman dengan seorang Miles Halter.

Seorang Miles Halter yang terobsesi dengan buku biografi tokoh-tokoh plus kata-kata terakhir dari orang-orang yang diceritakan sebelum mereka meninggal dunia dan menghafalnya diluar kepala.

Yes, I love quirky teenager!

Merasa bosan dengan kehidupannya di public school, Miles meminta izin kepada kedua orang tuanya untuk pindah ke sebuah boarding school bernama Culver Creek.

Miles Halter sedang mencari sesuatu yang dinamakan “The Great Perhaps”, yang ia dapatkan dari seorang penulis puisi bernama Francois Rebelais.

“The Great Perhaps”.. Kemungkinan, kesempatan, pengalaman hidup..

Apapun itu, yang memang dalam hidup ini harus dicari.

Kita tidak bisa memperoleh semua itu dengan hanya duduk manis di bangku, menunggu segala sesuatu terjadi.

Mind you, I wish I had done that. Creating chances for myself.

Setelah menjejakkan kaki di Culver Creek, Miles Halter menemukan dirinya memperolah seorang teman sekamar yang sangat menarik yang bernama Chip Martin.

Well.. Chip Martin ini menjuluki dirinya sendiri “The Colonel”. Dan seketika itu juga menciptakan nama panggilan yang tidak kalah menariknya untuk Miles. Pudge.

Sang Colonel bersekolah di Culver Creek dengan beasiswa penuh dari yayasan. Saat itu adalah tahun ketiga untuk Sang Colonel bersekolah disana dan mereka berada di kelas yang sama.

Sang Colonel kemudian memperkenalkan Miles alias Pudge kepada kehidupan di Culver Creek. Dari mulai dimana membeli barang-barang yang dilarang di asrama, dimana tempat persembunyian terbaik, sampai kepada para penghuninya. Termasuk kepala asrama mereka Mr. Eagle.

Miles akhirnya (semacam) bergabung dengan kelompok Sang Kolonel. Kelompok tersebut hanya terdiri dari dua orang tambahan. Takumi (pemuda dari Jepang), dan seorang perempuan bernama Alaska.

Perkenalan dengan Alaska yang dimulai dengan adegan membeli rokok meninggalkan Miles menjadi (sedikit) terobsesi dengan Alaska.

Alaska yang kamarnya dipenuhi oleh buku yang tidak semua (namun suatu hari pasti) ia baca. Alaska yang senang melakukan “prank” alias keisengan-keisengan di sekolah mereka. Alaska yang jago mengajarkan Pre Calculus. Alaska yang moody.. Dan.. Alaska yang sudah memiliki pacar ganteng bernama Jake.

Poor Miles.. Hehe..

Saya suka banget bagaimana John Green menggambarkan tokoh-tokohnya sebagai remaja yang suka baca buku dan remaja yang “berpikir”.

Dan mengikuti bagaimana Miles, Sang Colonel, Takumi, dan Alaska menjalani hari-hari mereka, mempelajari latar belakang dan kisah hidup setiap tokoh, bagaimana mereka menjalin persahabatan, belajar dengan serius sekaligus bersenang-senang sungguh membuat saya iri.

Ketika secara tiba-tiba hidup menggantung Miles dan Sang Kolonel dengan tragedi dan pertanyaan-pertanyaan tak terjawab, bisakah mereka menerima kenyataan?

Atau sebagaimana kutipan dari buku kesukaan Alaska, The General in his Labyrinth by Gabriel Garcia Marques (ya sodara-sodara, pengarang favorit saya juga!! Gabriel Garcia Marquez!!)

How will I ever get out of this labyrinth??

Bisakah mereka memecahkan misteri labirin hidup mereka?

I love this book!! I love this book with all it’s question, lesson, and beautiful quotes.

To all of you youngster out there. Please don’t waste your life sitting on a bench, just waiting for something to happen.

You have to get out there. Seeking “The Great Perhaps”

You spend your whole life stuck in the labyrinth, thinking about how you’ll escape it one day, and how awesome it will be, and imagining that future keeps you going, but you never do it. You just use the future to escape the present.

That everyone who wades through time eventually gets dragged out to sea by the undertow-that, in short, we are all going.

Advertisements

The Fault In Our Star By John Green

Penerbit : Dutton Books

Tebal : 313 Halaman

“I can’t talk about our love story, so I will talk about math. I am not a mathematician, but I know this: There are infinite numbers between 0 and 1. There’s 0.1 and 0.12 and 0.112 and an infinite collection of others. Of course, there is a bigger infinite set of numbers between 0 and 2, or between 0 and a million. Some infinities are bigger than other infinities. A writer we used to like thaught us that.

There are days, many of them, when I resent the size of my unbounded set. I want more numbers than I’m likely to get, and God, I want more numbers for Augustus Waters than he got. But, Gus, my love, I cannot tell you how thankful I am for our little infinity. I wouldn’t trade it for the world. You gave me a forever within the numbered days, and I’m grateful.”

Saya menutup buku ini dengan perasaan sesak yang ngga bisa dijelaskan. Mengawang2 sebentar,membaca halaman terakhir sekali lagi, lalu menangis terisak2. Ah.. Hidup ini kadang memang terlalu menyakitkan.

Hazel Grace adalah seorang remaja perempuan berumur 17 tahun yang telah cukup lama menderita kanker paru2. Dokternya menyarankan Hazel untuk mengikuti support group untuk anak2 remaja penderita kanker untuk mengurangi depresi (yang menurut dokternya) diderita Hazel.

Tidak butuh waktu lama bagi Hazel untuk menyimpulkan bahwa support group ini tidak memberikan dampak positif. Malah cenderung membuat mood nya semakin buruk karena aroma kematian tercium dimana-mana. Sampai suatu waktu ia bertemu dengan orang baru di support group tersebut. Seorang anak laki2 (yang cukup keren) yang terus menatapnya semenjak Hazel menginjakkan kaki di ruangan.

Namanya ternyata Augustus Waters, mantan penderita osteosarcoma yang telah pulih. Ia bergabung dengan support group atas permintaan sahabatnya Isaac, seorang anak penderita kanker mata. Melalui beberapa pembicaraan kita dapat membaca kalo Augustus dan Hazel are meant for each other. Mereka berdua sama2 memiliki pemikiran tidak biasa alias out of the box tentang kehidupan. Jika memang soulmate itu nyata, maka Augustus dan Hazel adalah manusia beruntung yang saling dipertemukan.

Namun demikian, Hazel ngotot untuk menjaga jarak. Augustus ternyata memiliki seorang mantan pacar yang meninggal karena kanker otak. Hazel tidak sampai hati membuatnya melalui semua itu lagi. Ia ingin meminimalisir dampak yang ditimbulkan jika esok lusa ia harus meninggalkan hidup.

“Much of my life had been devoted to trying not to cry in front of people who loved me, so I knew what Augustus was doing. You clench your teeth. You look up. You tell yourself if they see you cry, it will hurt them, and you will be nothing but A Sadness in their lives, and you must not become a mere sadness, so you will not cry, and you say all of this to yourself while looking up at the ceiling and then you swallow even though your throat does not want to close and you look at the person who loves you and smile.”

Hazel adalah seorang maniak baca yang memiliki obsesi kepada sebuah buku yang berjudul An Imperial Affliction karya seorang pengarang bernama Peter Van Houten. Obsesi itu muncul karena ending buku yang sangat menggantung, diakhiri oleh kalimat yang tidak terselesaikan tanpa keterangan apa yang terjadi pada tokoh2 dalam buku itu selanjutnya. Dan Peter Van Houten tidak pernah menulis sequelnya. Hazel sudah berkali2 menulis surat pada sang pengarang tanpa satupun jawaban.

Hazel dan Augustus saling lebih mengenal dengan bertukar buku fav mereka. Hazel pun bercerita pada Augustus tentang obsesinya. Augustus akhirnya berhasil menemukan alamat dimana Peter Van Houten tinggal. Ternyata Peter tinggal di Amsterdaam dan Augustus berhasil berkorespondensi dengan asisten Peter via email.

Hazel girang luar biasa berhasil menemukan cara untuk menemukan jawabannya. Ternyata Peter adalah seorang pria yang cukup keras kepala yang tidak mau menceritakan apa yang terjadi selanjutnya pada tokoh2 dalam An Imperial Affliction. Alih2 Peter malah mengundang Hazel untuk datang ke rumahnya di Amsterdaam, Peter berujar bahwa ia hanya akan menceritakan kelanjutannya melalui pertemuan langsung.

Apparently anak2 penderita kanker disana diberikan kesempatan untuk dikabulkan satu permintaannya, apapun itu (oleh pemerintah? oleh departemen kesehatan?). Hazel telah menggunakan permintaannya untuk pergi ke Disney World. Tapi Augustus belum, dan ia memutuskan bahwa ia akan menghadiahkan keinginannya untuk Hazel. Mereka akan pergi ke Amsterdaam untuk bertemu langsung dengan Peter.

Kisah selanjutnya harus dibaca sendiri. Sepertinya saya masih cukup terhipnotis dengan efek post reading buku ini dan belum bisa banyak mengeluarkan komentar pribadi selain buku ini BAGUS BANGET BANGET!! Highly recomended untuk dibaca. Genre contemporary young adult romance yang indah dalam sedih dan meninggalkan kesan yang susah dihapus.

For my own reason, this book has earned it place in my best book of all times shelf. Lima bintang dari saya untuk buku ini.

And by the way Augustus Waters manage to beat Peeta from hunger games in my number one “prince of my dreams” book character ^_^

‘“That’s the thing about pain,” Augustus said, and then glanced back at me.”It demands to be felt.”’

‘”Sometimes people don’t understand the promises they’re making when they make them,” I said. Isaac shot me a look. “Right, of course. But you keep the promise anyway. That’s what love is. Love is keeping the promise anyway.”