Ibuk By Iwan Setyawan

14624906Penerbit :  PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 289 Halaman

“Dapur ini penuh dengan jelaga. Hidup ini mungkin akan penuh dengan jelaga juga. Tapi anak-anakku lah yang akan memberikan warna terang dalam hidupku. Ini hartaku. Dan kini saatnya , semua yang telah keluar dari rahimku bisa hidup bahagia. Tanpa jelaga, lanjutnya”

“Cintanya, terbisikkan lewat nasi goreng terasi. Lewat tatapan mata yang syahdu. Lewat daster batik usangnya. Ah, begitu perkasa. Lima buah hati di tangan satu perempuan yang penuh cinta dan ketulusan”

Saya pernah membaca komentar orang bahwa terdapat ratusan ribu kisah seperti ini Indonesia. That’s so true. Tapi ngga semuanya bisa menuliskan kisah yang dijalani seperti Iwan Setyawan. Menulis hingga dapat mentransferkan emosi dan perasaan. Menulis hingga dapat menyebabkan pembacanya literary merasakan kasih sayang yang besar antar keluarga.

Kisah ini sederhana. Kisah seorang Bayek yang memiliki Ibu luar biasa. Kisah seorang Bayek yang sangat mencintai keluarganya dan bersumpah untuk tidak akan membiarkan Ibunya menangis. Kisah ini adalah kisah ribuan anak Indonesia yang berhasil mencapai sesuatu dari kondisi yang penuh dengan keterbatasan.

Ya. Kisah sederhana yang saya tidak akan pernah bosan membacanya. Kisah sederhana dengan perasaan yang mampu menjalar keluar dari buku dan menghangatkan hati. Kisah sederhana yang akan selalu saya rindukan.

Bayek adalah anak ketiga dari lima bersaudara. Keempat saudaranya perempuan. Ayahnya seorang supir angkutan umum. Ibunya adalah seorang Ibu rumah tangga yang memegang prinsip-prinsip keuangan maju bahkan sebelum prinsip-prinsip tersebut dibakukan dalam sebuah teori seperti sekarang ini.

Kalau ada uang lebih simpanlah. Untuk anak-anak sekolah sisihkan dari uang sehari-hari. Jika ada rezeki simpanlah dalam bentuk emas untuk dijual jika tidak ada pilihan lain. Jauh sebelum Ligwina Hananto membuka QM Financial Ibunya Bayek sudah mempraktekan hal ini.

Sumber penghasilan dari menarik angkot harus diputar sedemikian mungkin agar anak-anak tidak kelaparan. Agar ada atap diatas kepala mereka. Agar anak2 bisa sekolah.

Penghargaan tertinggi saya untuk Ibu dan Ayah Bayek. Mereka sepasang manusia luar biasa yang sukses menghantarkan anak2nya menjadi manusia2 bersahaja. Mereka pasangan yang saling melengkapi hingga ketika Bapak harus pergi keluar kota di masa tua dan baru menyadari kerinduan terhadap Ibu, sesungguhnya mereka tidak pernah berpisah lama seumur hidup.

“Hidup adalah perjalanan untuk membangun rumah untuk hati. Mencari penutup lubang-lubang kekecewaan, penderitaan, ketidakpastian, dan keraguan. Akan penuh dengan perjuangan. Dan itu yang akan membuat sebuah rumah indah”

Bayek digambarkan sebagai anak yang kadang suka merengek. Tidak bisa jauh dari keluarga, dan teramat sangat kangenan dengan suara Ibu. Bayek bukan anak super pemberani namun ia belajar untuk berani. Bayek bukan seorang pemimpi tapi selalu mengusahakan yang terbaik di setiap langkahnya, demi usaha yang telah dilakukan kedua orangtuanya.

Di akhir buku saya turut menangis tersedu-sedu bersama Bayek. Ah Bayek.. Kedua orangtuamu pasti akan selalu bangga denganmu. Bayek yang memenuhi janjinya untuk tidak akan pernah membiarkan Ibunya menangis. Bayek yang membantu kehidupan kakak2 dan adik2 perempuannya. Bayek yang berbakti pada keluarga.

Ah.. Saya harap anak saya bisa seperti Bayek.. Amin.

“Cinta membutuhkan sebuah keberanian untuk membuka pintu hati”

 “Kadang perpisahan bisa membuat mata kita menjadi segar lewat air mata, hati menjadi peka lewat gelombang besar yang menerpa, dan menumbuhkan cinta yang lebih besar lewat orang-orang yang menyentuh hidup kita. Hidup semakin luas”

Advertisements

9 Summers 10 Autumns By Iwan Setyawan

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 211 Halaman

You may think this is weird. But reading some of the paragraphs in this book is like reading my own thoughts. I get the feeling. This guy also value solitude.

Tentang keramaian..

“Aku selalu berperang dengan diriku, selalu berat memilih antara kesendirian atau hiruk pikuk kehidupan. Aku telah terbiasa sendiri dalam hidupku, belasan tahun.”

“Hanya beberapa kali dalam setahun ke Hard Rock Cafe atau tempat hiburan malam lainnya. Aku tidak terlalu menikmatinya. Di tengah keramaian itu aku sering merasa asing, sepi, sendiri.”

Tentang ulang tahun…

“Dan hanya di malam panjang inilah aku bisa berdamai dengan rahasia-rahasia hidupku, melepaskannya, karena menyimpan rahasia sendiri hanya membuat nafasku tersengal. Aku ingin mengerti mereka dan memberi ruang yang lapang di hatiku.”

Tentang hal-hal yang hanya bisa disampaikan melalui tatapan..

“Some of you might know how it feels when eyes talk to you.”

I do know. Dalam dunia sempit saya yang nyaris berjalan selama 29 tahun, menemukan orang yang berada dalam chanel ini mungkin bisa dihitung jari.

Anyway. I love this book. I love the story. Untuk beberapa saat saya kira saya sempat bosan dengan buku bertema life struggle seperti ini. Tapi ternyata kita memang tidak akan pernah berhenti belajar. Jangan pernah mau berhenti belajar. Pengetahuan tentang hidup tidak ada batasnya.

Iwan tumbuh besar di daerah Batu, Malang. Di tengah keluarga yang memiliki berbagai keterbatasan namun justru memiliki kehangatan tidak terbatas yang tidak dapat dibeli dengan kekayaan. Kehangatan dan perjuangan bersama sebagai satu keluarga itulah yang saya rasa membuat jiwanya terasah. Kepekaan terhadap indahnya kehidupan, determinasi untuk melakukan hanya yang terbaik, kesabaran dan keihklasan dalam mencapai tujuan. Semua berawal dari kehangatan di sebuah rumah mungil di Batu, Malang.

Iwan menceritakan kisahnya ketika ia tengah bekerja di New York City. Ia tiba2 bertemu dengan anak kecil berseragam merah putih yang obviously adalah bagian dirinya sendiri. I get this, for I also sometimes talk to the child inside of me too. We do need to do that. Momen-momen untuk mengingatkan diri sendiri agar tidak menjadi daun kering yang ditiup angin kesana kemari.

Melalui dialog dengan anak tersebutlah Iwan menceritakan kisah hidupnya. Masa kecilnya, keluarganya, rumahnya, kapal layarnya hingga ia tiba di tempatnya sekarang. Kenapa anak itu muncul secara tiba-tiba di kehidupan Iwan, apa yang Iwan sendiri simpulkan melalui kisahnya sendiri. That’s the part I can not tell.

Yang jelas setelah menutup buku saya merasakan sedikit rasa panas di hati. This guy has been living my perfect version of “human soul” journey, and in the end he made the perfect choice.

Rasa panas di hati. Is it envy? Kalau pun iya, rasa panas ini sehat karena membuat saya ingin merasakan semua. Membuat saya bertanya pada diri sendiri sebenarnya apa yang saya inginkan dan beranikah saya untuk menetapkan keinginan. Tidak penting untuk dibahas disini, my personal story tentang hal itu bisa dibaca disini.

Apa yang membuat buku ini istimewa buat saya mungkin karena saya merasa personally connected with his point of view.

There’s no such thing as a perfect life. Everybody has their own issues. The difference is how we choose to make the best of this imperfect life. The choice is always ours.

“Kita selalu bisa kembali ke masa lalu. Kenangan itu, betapapun pahitnya, selalu bisa dikenang dan ditempatkan kembali di ruang yang tepat di hati kita. Dan, biarlah memori beristirahat disana. Biarlah kita kunjungi suatu saat.”