The Iliad By Homer

Penerbit : Oncor

Tebal : 248 Halaman

Alih  Bahasa : A. Rachmatullah

Luar biasa rasanya bagi saya bisa membaca suatu mahakarya yang ditulis antara 800BC-600BC. Walaui tidak banyak yang dunia ketahui secara pasti tentang pengarangnya, Homer, namun dua karyanya The Iliad dan The Odyssey diakui oleh dunia sebagai suatu mahakarya epic.

Sebagai manusia indonesia yang menjalani masa-masa abg dengan menonton sertial tv Hercules dan Xena The Warrior Princess, saya menjadi sangat berminat pada ancient greek history. Dan kisah The Iliad ini difilmkan berulang-ulang sehingga mau tidak mau walaupun belum membaca bukunya, saya sudah “ngeh” kurang lebih jalannya cerita.

Ternyata di dalam buku The Iliad, cerita tidak dimulai dengan pembajakan Helen oleh Paris dan sisi Menelaus. Kisah dimulai ketika pasukan Yunani sudah berkemah di sekitar perairan Troya. Ketika mereka sudah bersiap untuk melakukan penyerangan terjadi perselisihan antara Achilles dan Agamemnon.

Agememnon ingin memberikan pelajaran kepada Achilles karena menurutnya Achilles terlalu sombong (walau sebenarnya Agamemnon juga tidak kalah tinggi hatinya). Akibat pertengkaran itu Achilles_sang prajurit paling hebat dan manusia setengah dewa menolak untuk membantu Agamemnon menyerang troya.

Akhirnya Agamemnon harus menyerang Troya tanpa prajurit terhebatnya, Achilles. Namun takdir yang sudah ditentukan tidak dapat dihindari. Dengan banyak campur tangan dari para Dewa dan Dewi akhirnya Achilles mau bergabung dengan Agamemnon dengan suatu alasan tersendiri. Achilles ingin membalas dendam karena sahabat baiknya Patroclus telah meninggal dibunuh oleh Hector putra raja Troya.

Membaca buku ini saya tidak bisa menahan perasaan kesal terhadap ulah para Dewa dan Dewi yang menggunakan manusia sebagai pion-pion untuk keegosentrisan mereka sendiri. Saya juga geram karena dengan tindakan bodoh paris-helen, harga diri menelaus dan rasa haus kekuasaan Agamemnon yang begitu besar menyebabkan begitu banyak nyawa menghilang.

Memang begitu banyak kekerasan yang digambarkan dalam buku ini. Kepala yang menggelinding, isi perut yang terburai dan mayat yang diseret oleh kereta kesana kemari digambarkan dengan jelas. Walaupun demikian, isi buku ini juga menggambarkan bahwa ada sisi kemanusiaan dalam perang Troya.

Seperti ketika Diomedes (Yunani) dan Glaucus (Troya) membatalkan diri untuk berduel karena baru mengetahui bahwa ada pertalian persahabatan antara keduanya. Atau ketika kedua pihak sepakat untuk menghentikan perang sementara waktu untuk memberikan kesempatan kepada pihak masing-masing untuk mengumpulkan mayat para prajurit dan memperlakukannya secara layak. Atau ketika Achilles mengembalikan mayat Hector kepada ayahnya Raja Priam dan memutuskan untuk tidak menyerang selama 10 hari untuk memberikan waktu kepada Raja Priam untuk menyelenggarakan upacara pemakaman Hector secara layak.

Adegan paling konyol mungkin ketika Aphrodite mengadu pada Ibunya karena tangannya dilukai oleh Diomedes. Hehe. Dewa Dewi itu senang sekali saling berseteru dan meyabotase pekerjaan  masing-masing. Tokoh yang paling saya tidak sukai tetaplah Agamemnon dan Paris. Sedangkan yang paling mending Hector dan Odysseus kali ya.

Adalah sulit untuk menangkap “rasa asli” dari kisah yang diterjemahkan dari ancient greeks ke bahasa inggris lalu ke bahasa indonesia. Namun dengan membaca buku ini kita bisa mempelajari mahakarya yang ditulis pada zaman yang jauhnya luar biasa dari zaman kita. Kita bisa menyaksikan betapa luarbiasanya kekuatan suatu karya tulis. Karya tulis tidak akan pernah mati, karena itulah kisah The Iliad bisa sampai ke tangan kita pada saat ini.

Advertisements