Pak Harto The Untold Stories By Donna Sita Indria, Anita Dewi Ambarsari

Penerbit :  PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal  : 603 Halaman

Pada akhirnya, sejarah akan menilai Soeharto secara adil. Beliau harus diberi tempat yang terhormat dalam sejarah Indonesia.” – Lee Kuan Yew

Apa yang terjadi di benak seorang saya ketika menonton Pak Harto mengundurkan diri? Saat itu saya baru saja masuk SMA. Bahkan ketika itu saya bisa merasakan para brutus, orang-orang Asal Bapak Senang (ABS), menusuk dari belakang. Mereka adalah orang-orang yang membuat saya mual hanya dengan memikirkannya. Setelah sebelumnya dengan mulut penuh madu mengatakan “Rakyat masih menginginkan bapak untuk memimpin Indonesia” dalam sekejap mereka bisa berbalik dan melemparkan semua kesalahan. What a looser. But that’s politic and that’s why i loathe it.

Melihat hujatan yang kejam dan euforia yang berlebihan, saya ketika itu berfikir, that’s not how you treat your former president. Very disrespectful. Sebagaimana tidak ada manusia yang sempurna, seorang pemimpin pun tidak ada yang sempurna.

Dari helicopter view agaknya dapat kita pahami bahwa perencaanaan dan eksekusi yang Pak Harto lakukan melalui Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) dan Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) belum ada yang bisa menyamai. Beliau merencanakan dan beliau melaksanakan rencana itu.

Agak sulit mencari pemimpin yang bisa melaksanakan implementasi secara jitu dan tepat sasaran. Lebih banyak pemimpin yang sibuk menstabilkan kekuasaan daripada menstabilkan bangsa dan negara. Pembangunan infrastruktur, swasembada pangan, pengendalian penduduk melalui program KB, PKK dan Posyandu, diperhitungkannya Indonesia dalam percaturan Asia bahkan dunia, and i always wonder why we always win at Sea Games at Pak Harto era?

Buku ini sungguh akan membantu orang-orang untuk memahami, memahami Pak Harto dari sisi yang sama sekali lain dan mungkin tidak pernah terekspos kepada media. 113 tulisan dari 113 orang yang berbeda betul-betul berkisah tentang Pak Harto sebagai manusia biasa. Memang ada beberapa tulisan yang memang hanya menceritakan diri atau keberhasilan mereka sendiri, namun lebih banyak tulisan yang betul-betul menyentuh dan menceritakan Pak Harto sebagai pribadi.

Ketika hujatan dan fitnah berdatangan, beliau hadapi semuanya dengan tabah dan sabar karena beliau yakin kepada Yang Maha Kuasa, ‘Gusti Allah mboten sare (Tuhan tidak tidur), sing becik ketitik, sing olo ketoro (yang baik akhirnya akan tampak, yang buruk akan terlihat)’, itu yang selalu beliau katakan.” – Siti Hutami Endang Adiningsih

Harus dipahami bahwa kadang sebagai seorang pemimpin, kita harus mengambil keputusan yang tepat untuk jangka panjang. Dan terkadang keputusan-keputusan tersebut bukan keputusan populer yang diinginkan oleh orang banyak. Dari apa yang saya pahami dari buku ini Pak Harto selalu berani untuk menempatkan dirinya di dalam posisi yang tidak populer demi kestabilan negara yang memang pondasi dari pelaksanaan pembangunan. Kalo negara terus-terusan tidak stabil, bagaimana pembangunan bisa dilaksanakan?

Ada beberapa tulisan yang sangat berkesan buat saya, salah satunya adalah tulisan Emil Salim tentang bagaimana pada suatu waktu Pak Harto memberikan perintah larangan menembak kawanan gajah di Palembang, Pak Harto malah memerintahkan para tentara untuk mengawal kawanan gajah kembali ke habitatnya dengan perangkat bunyi-bunyian.

Tidak pernah sekalipun Pak Harto melemparkan kesalahan pada orang lain. Hanya orang besar yang dapat melakukan hal itu. Ketika jabatan Presiden RI tidak lagi beliau sandang, hujatan dan caci maki semakin ramai dan nyaring diteriakkan. Pak Harto diam dan tidak berusaha membela diri. Seluruh beban dipikulnya sendiri.” – Anindyati Sulasikin Murpratomo

Setelah upacara selesai, saya mengantarkan Pak Harto ke mobil. Saya bilang, ‘Bapak kan masih dalam pemulihan kesehatan, tetapi kuat melalui seluruh acara tadi. Saya jadi ingin tahu dimana rahasianya. Apa jamunya Pak?’. Pak Harto berhenti sebelum masuk mobil. Disalaminya tangan saya dan ditatapnya wajah saya. Sejurus kemudian beliau berkata.’Tidak ada apa-apa. Rahasianya Cuma satu, ikhlas. Apapun yang kita hadapi, kita harus hadapi dengan ikhlas.”-Muhammad Alwi Dahlan.

Tulisan Fadli Zon memberikan pemahaman bahwa krisis moneter kala itu terjadi karena Global Capital Movement, dan sama sekali tidak bisa dihindari. Belum lagi karena diagnosis dan obat yang salah dari IMF. Sebenarnya ketika itu jika saja Pak Harto mau mempertahankan kekuasaannya dan mengadakan perlawanan, tentu ia sangat mampu. Namun sebagaimana yang beliau sampaikan kepada anak-anaknya di malam sebelum pengunduran diri, ketika empat belas menteri pilihannya mengundurkan diri dari kabinet :

“Karena keadaan sudah semakin kacau dan saya tidak mau terjadi pertumpahan darah antar sesama rakyat Indonesia, saya sudah memutuskan untuk mengundurkan diri dan berhenti dari jabatan saya sebagai presiden. Biarlah nanti sejarah yang akan membuktikan apa yang sudah Bapak dan Ibumu lakukan untuk negara dan bangsa ini.”

Ada satu kisah yang membuat saya sesenggukan. Kisah Munari Ari yang dulu adalah pengamen di jalanan yang setiap hari Pak Harto lewati di Jakarta. Alkisah Munari muda dan beberapa teman pengamennya ingin memberi hormat kepada iring-iringan mobil yang lewat. Kali pertama mereka berhasil melakukannya dengan mengecoh petugas pengamanan, walau akhirnya diusir. Namun setiap hari mereka melakukannya hingga lama kelamaan setiap melewati jalan itu iring-iringan kendaraan selalu memperlambat kecepatan. Suatu saat kaca hitam jendela belakang mobil RI 1 turun dan munculah senyuman khas Pak Harto.

Betapa kagetnya ketika suatu hari Munari Ari dkk dipanggil untuk menyanyi di acara ulang tahun pernikahan Pak Harto dan Ibu Tien. Dari sana pintu rejeki terbuka untuknya.

Terserah orang bilang apa saja mengenai Pak Harto. Bagi saya, budi baik Pak Harto tak terbalaskan. Saya adalah bukti nyata bahwa Pak Harto adalah pemimpin yang sangat memerhatikan rakyatnya dan suka mengangkat nasib orang kecil seperti saya.”-Munari Ari

Belum lagi kisah para saksi mata tentang bagaimana saling mencintainya Pak Harto dan Ibu Tien. Pasangan hebat yang membumi dan saling melengkapi. Dan betapa amat sangat kehilangannya Pak Harto ketika Ibu Tien meninggal dunia.

Buku ini sebaiknya dibaca oleh generasi muda saat ini. Agar dapat lebih menghargai sisi positif dari tokoh yang memang sudah banyak melakukan banyak tindakan nyata dalam membagun Indonesia. Agar dapat lebih memahami betapa sulit dan peliknya menjaga persatuan negara kita yang secara geografis dan budaya sangat beragam.

Dendam politis tidak akan membawa kita ke tempat yang lebih baik. Terlepas dari kekurangan yang banyak terjadi. Seperti yang dikemukakan Lee Kuan Yew, hendaknya kita menilai sejarah secara adil. Bukan hanya dari kacamata pemenang.

Jika kamu memberi sesuatu, tulislah itu di pasir agak dapat terhapus, tetapi jika kamu diberi sesuatu pahatlah dibatu, agar selalu teringat.”- (alm) HM Soeharto

Advertisements