Inheritance By Christopher Paolini

Penerbit : Knopf

Tebal : 860 Halaman

Sejujurnya saya khawatir waktu mau baca buku ini karena lupa cerita sebelumnya udah sampe mana. Untungnya mas Christopher berbaik hati untuk menceritakan resume buku satu sampai tiga di awal cerita. Agaknya beliau juga ngerti kalo jarak antara Brisingr (buku 3) dan Inheritance cukup jauh dan ada kemungkinan para pembaca (khususnya yang punya short term memory seperti saya) akan lupa.

Walaupun agak kecewa dengan buku ketiga Brisingr yang menurut saya agak terlalu bertele-tele (ntah terjemahannya yang bikin bosen), biar bagaimanapun penasaran juga dengan bagaimana akhir dari kisah Saphira dan Eragon.

Terakhir kali kita meninggalkan Saphira dengan Eragon, mereka sedang bergerak bersama kaum Varden untuk satu persatu menguasai kota-kota yang berada dalam kekuasaan Galbatorix untuk kemudian bergerak menghadapi Galbatorix dan naganya hitamnya Shruikan di Uru’baen.

Satu demi satu kita disuguhi adegan perebutan kota. Banyak juga diceritakan tentang kiprah Roran, kakak Eragon yang sekarang telah menjadi salah satu pahlawan diantara kaum Varden. Sampai setengah lebih buku Eragon dan Saphira masih sama sekali tidak menyakinkan untuk dapat mengalahkan pasangan maha hebat Galbatorix dan Shruikan.

Sampai suatu ketika Eragon teringat pada ramalan Solembum sang kucing jadi-jadian.

Then when all seems lost and your power is insufficient, go to The Rock of Kuthian and speak your name to open the Vault of Souls.”

Ditengah keputus asaan yang terjadi karena Nasuada, pimpinan kaum Varden berhasil diculik oleh Murtagh dan Thorn. Eragon yang saat itu ditunjuk menjadi pengganti Nasuada merasa bahwa ramalan itu adalah satu-satunya jalan untuk bisa mengalahkan Galbatorix. Eragon dan Saphira pun melaksanakan ekspedisi untuk mencari kebenaran dalam ramalan tersebut. Di saat yang bersamaan kaum Varden mulai bergerak ke arah Uru’baen, menuju pusat dari segala kegelapan.

Walaupun plot cerita ini similar dengan seri Lord of The Rings, harus diakui bahwa Christopher Paolini memiliki kemampuan yang sangat mendetail dalam menciptakan dunianya, Alagesia. Hey, dia berhasil menulis buku satu Eragon ketika masih berusia 15 tahun aja dong.

Dan saya selalu suka pada hubungan naga dan ridernya, Saphira dan Eragon yang bisa saling merasakan dan tau pikiran masing-masing tanpa berkata-kata. Plus kepribadian Saphira sang naga betina yang sassy, ada suatu adegan dimana Saphira sibuk berkaca di danau setelah pertarungan karena khawatir sisiknya yang tercabut tidak akan tumbuh lagi. Sementara Eragon sibuk meyakinkan bahwa Saphira tampak baik-baik saja. Very amusing.

However, tidak sulit untuk membayangkan bahwa sebenarnya buku Brisingr dan Inheritance dapat disatukan menjadi satu buku dengan memangkas beberapa adegan tidak signifikan di sana sini.

Tentang hubungan Eragon dengan Arya sang Elf. Saya sangat lega tidak dikembangkan menjadi roman biasa. Eragon dan Arya memilih jalan yang harus dipilih dan tetap menjadi star crossed lover, they know they were ment to be each other but they choose to do what is right and happy enough to feel what they feel and not being selfish about it.

Saya mengharapkan suatu adegan pertarungan yang Grande antara Eragon-Saphira dengan Galbatrorix-Shruikan. Sayangnya tidak ada. Namun cukup puas dengan endingnya. Another story about beating the impossible.

If we are to tempt fate, then let us not be cowards about it

Advertisements

Brisingr By Christopher Paolini

Reviewed on : May 4th 2009

Saya suka cerita di buku pertamanya Christopher Paolini “Eragon”, walau agak bosan rasanya membaca cerita yang mengandung elf dan kurcaci, namun di buku pertama itu Christopher Paolini menulisnya dengan cukup seru dan bikin penasaran. Di buku kedua “Eldest” terdapat kejutan-kejutan yang menyenangkan, bahwa ternyata Saphira bukan satu-satunya naga yang tersisa selain Shruikan-Naga Galbatorix.

Pertama kali melihat buku Brisingr di etalase toko buku Periplus, kesan yang saya dapat,

“Wuih tebelnya, tamat kayanya nih, asik.. asik”

Namun saya menyabarkan diri untuk menunggu sang edisi bahasa indonesianya keluar (Mahal soalnya euy edisi Bahasa Inggrisnya, 375 ribu kalo ga salah harganya). Setelah mendapatkan edisi bahasa indonesianya setebal 875 halaman dan selesai membacanya.. Sebenarnya saya masih mengharapkan sesuatu yang luar biasa terjadi sampai halaman-halaman terakhir.. Tapi ternyata tidak ada yang luar biasa.. Konon saking panjangnya Paolini menulis, buku terakhir ini dipecah menjadi dua dan yang seru-serunya tampak disimpan untuk buku keempat.. yaaaahhh..

Agak bertele-tele Paolini menulisnya.. Seperti terlalu banyak yang ingin dituliskan dan akhirnya membuat jalan ceritanya berjalan lambat dan melelahkan membacanya (untuk saya loh). Memang ada beberapa fakta-fakta penting yang terungkap. Seperti siapa ayah Eragon, ramalan Angela yang menjadi nyata. Tapi teuteup kurang greget ah.

Hehe, maaph yah buat para penggemarnya Paolini kalo ada salah-salah kata. Harus diakui hebat buat seorang penulis muda bisa menelurkan buku seperti Eragon, Eldest dan Brisingr. Bravo !! Kayanya buku keempatnya bakalan rame deh.. Tamat soalnya, hehe..