Queen of Dreams By Chitra Banerjee Divakaruni

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 396 Halaman

Alih Bahasa : Gita Yuliani K.

Cara terbaik untuk mencintai orang adalah dengan tidak membutuhkan mereka. Itulah cinta yang paling murni.”

Itulah yang diajarkan oleh Ibunya kepada Rakhi. Dan cinta seperti itulah yang dipraktekkan ibunya kepada dia dan ayahnya. Bagi Rakhi, Ibunya yang seorang penafsir mimpi selalu tampak seperti mahluk yang berasal dari dunia lain. Selalu menjaga jarak dan mengelilingi dirinya dengan benteng yang tidak terlihat.

Ayah dan Ibu Rakhi pergi ke Amerika dari India ketika Rakhi belum lahir. Konon selain karena Ayahnya akan melanjutkan kuliah di Amerika, perkawinan antara Ayah dan Ibu Rakhi juga tidak disetujui oleh keluarga sehingga mereka memilih untuk meninggalkan tanah tempat kelahiran mereka.

Rakhi tumbuh menjadi anak perempuan kecil yang sangat penasaran dengan asal muasalnya. Namun baik Ayah maupun Ibunya tidak bersedia untuk memberikan kisah-kisah tentang India. Rakhi cukup terobsesi dengan Ibunya dan Ibunya selalu menarik garis sampai mana Rakhi diizinkan untuk mendekat. Ibunya adalah misteri yang sulit untuk dipecahkan.

Ketika setelah dewasa Rakhi mengalami kegagalan dalam perkawinannya. Maka untuk menghidupi anaknya, Jona dan dirinya sendiri Rakhi membuka sebuah cafe bernama Chai House bersama seorang sahabatnya yang juga beretnis India, Belle. Selain dari itu Rakhi juga merupakan seorang pelukis yang akan melaksanakan pameran pertamanya.

Suatu saat dibuka sebuah cafe baru bernama Java di dekat tempat mereka. Pelanggan Chai House segera beralih ke Java dan bisnis mereka terancam tutup. Di saat yang bersamaan tepat di malam ketika Rakhi menyelenggarakan pameran pertamanya, Ibu dan Ayahnya mengalami kecelakaan. Ibunya meninggal, Ayahnya mengalami luka parah sehingga Rakhi harus tinggal bersamanya. Rakhi pun terpaksa menitipkan Jona kepada Sonny, mantan suaminya.

Rakhi dan Ayahnya tidak pernah dekat. Ibunya selalu menjadi penengah dan penerus komunikasi diantara mereka berdua. Bagi Rakhi Ayahnya hanyalah seorang pria India biasa yang rutin mabuk-mabukan setiap Jum’at malam. Dan terkadang dia menyalahkan Ibunya atas kondisi tersebut. Mungkin Ayahnya sama frustasinya dalam menghadapi Ibunya.

Di rumah orang tua mereka secara tidak sengaja Rakhi menemukan jurnal yang ditulis oleh Ibunya dalam bahasa Benggali. Dengan terpaksa Rahki meminta tolong Ayahnya untuk menerjemahkan jurnal tersebut. Melalui kegiatan itulah mata Rakhi mulai terbuka tentang siapa sebenarnya Ayahnya. Kedekatan mulai terbentuk diantara mereka dan ternyata, Ayahnya adalah seorang pria hangat yang penuh dengan kisah-kisah menakjubkan tentang India. Melalui jurnal tersebut pula Rakhi mulai mengetahui kebenaran demi kebenaran yang dipendam Ibunya selama bertahun-tahun.

Dengan bantuan Ayahnya Rakhi dan Belle mulai membangun bisnisnya kembali. Sonny juga mulai mendekat kembali ke dalam dunianya melalui Jona. Ketika World Trade Center di hancurkan oleh teroris, kehidupan mereka mulai berubah. Ketika tragedi menyentuh kehidupan mereka. Hal-hal kecil mengganggu yang sebelumnya tampak krusial kini menjadi tidak penting sama sekali.

Dalam ¾ buku ini saya tidak begitu menyukai karakter Rakhi. Rakhi tampak seperti wanita yang mudah kesal dengan hal-hal kecil dan terlalu banyak mengeluh. Sedangkan karakter Ibu Rakhi sedikit banyak berafiliasi dengan diri saya sendiri. Menjaga jarak dan membentengi diri. Namun pada akhirnya saya senang karena ternyata in the end Rakhi tercerahkan akan apa yang sebenarnya dicarinya, siapa Ibunya, siapa Ayahnya dan pada akhirnya Rakhi bisa menjalani kehidupan dengan lebih bijak.

Overall buku ini menceritakan tentang struggle nya para wanita dalam kehidupan. Sebuah tema yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari yang saya jalani. Ada suatu adegan ketika Rakhi sedang merasa sangat kesepian yang mungkin sering dirasakan oleh para perempuan :

Ketika memperhatikan mereka, aku merasa bahagia sekaligus kesepian. Bukan kesepian karena tidak mempunyai pasangan, tetapi sesuatu yang lebih mendasar. Seakan-akan aku satu-satunya mahluk yang tertinggal di sisi kaca sebelah sini, sementara dunia selebihnya-bahagia, acuh tak acuh- menjalani kehidupannya di sisi sebelah sana. Mereka tahu kehadiranku, mereka bahkan kadang-kadang melambai kepadaku sesekali, seperti yang dilakukan Belle, tetapi mereka tidak tahu bagaimana rasanya menengok kedalam, balas melambai, tidak bisa menyeberang kesana.

Again, well done Chitra Banerjee Divakaruni!!

Advertisements

The Palace Of Illusion By Chitra Banerjee Divakaruni

Reviewed on : February 1st 2010

Beginilah rasanya kalo membaca buku yang (menurut saya) menghanyutkan.. Begitu membuka halaman demi halaman apa yang terjadi di sekitar mengabur dan seperti terseret ke dalam dunia lain.. Padahal saya pertama kali buka halaman buku ini di atas bis damri menuju Bandung. Hehe.

Untuk yang tidak terlalu familiar dengan kisah Mahabharata, buku ini merupakan suatu adaptasi yang baik untuk memulai karena ceritanya mengalir dengan baik dan tidak se-jelimet kalo baca kitab aslinya.

Terdapat banyak sekali tokoh dalam epic Mahabharata ini, dan sang pengarang memilih untuk bercerita dari sudut pandang seorang perempuan yaitu Dropadi/Drupadi/Panchali. Akibatnya pernyataan, pemikiran dan perasaan yang sampai melalui buku ini “perempuan banget” tapi sama sekali tidak cengeng. Tentang perempuan yang terseret dalam “skenario sang waktu”, bukannya kita semua seperti itu ya.. Walau tidak semaha dasyat kisah Drupadi.

Jadi inget di salah satu postingan dimana saya pernah nulis betapa kita ini hanya setitik debu di padang pasir yang dinamakan nasib dan takdir. Yah yah yah, jadi menyimpang kan ceritanya.

Drupadi adalah seorang perempuan yang unik di zamannya, bukan hanya karena dia terlahir dari api dan diramalkan akan merubah jalannya sejarah tetapi memang karena keingintahuannya, tindakannya dan temperamennya yang cepat panas sehingga membuat dia “stand out” dan berbeda dari perempuan-perempuan lainnya.

Menjelang dewasa ayah drupadi sang puteri kerajaan Panchala mengadakan sayembara untuk para raja. Sang pemenang boleh memboyong sang puteri sebagai istri. Sebenarnya ini adalah suatu taktik untuk mendapatkan sekutu (ah ya banyak pelajaran politik dalam cerita ini).

Drupadi hampir saja diperistri oleh seorang anak kusir kereta yang sekarang menjadi raja Angga yang bernama Karna, namun demi meredam konflik yang nyaris melibatkan kakaknya. Drupadi melontarkan pertanyaan yang membuat Karna mundur, merasa sakit hati dan menaruh dendam pada Drupadi (Ah ya, banyak sekali dendam diumbar dalam cerita ini).

Akhirnya yang menjadi pemenang adalah Arjuna, salah satu dari kelima bersaudara Pandawa. Karena sesuatu pernyataan Sang Bunda Pandawa bersaudara yang tidak bisa ditarik lagi maka Drupadi pun terpaksa harus menjadi istri dari kelima Pandawa bersaudara itu.

Diboyonglah Drupadi ke istana Hastanipura. Karena tidak betah di istana yang dipenuhi dengan para Kurawa yang terdiri dari 100 bersaudara dengan saudara tertuanya Durdoyana (para Pandawa dan Kurawa bersepupu tapi bersaing dalam memperebutkan tahta) akhirnya para Pandawa diberi jatah suatu lahan yang gersang dimana mereka diperkenankan memerintah. Disanalah mereka membangun The Palace Of Illusions yang akhirnya menjadi negeri yang makmur.

Dalam suatu perjamuan Yudhistira, kakak tertua para Pandawa yang paling jujur dan lurus digoda (saya tidak bisa menahan diri untuk memikirkan cerita Nabi Adam yang digoda setan) untuk bermain dadu dengan Durdoyana dan (dengan bodohnya) mempertaruhkan seluruh kerajaannya, saudara-saudaranya bahkan Drupadi. Kejadian itu berakhir dengan dipermalukannya Drupadi di depan umum. Saat itu Drupadi mengucapkan sumpah bahwa dia tidak akan tenang sampai bisa mencuci rambut dengan darah para Kurawa (Ah ya cerita ini penuh dengan sumpah serapah yang selalu terjadi).

Setelah peristiwa pengasingan dan penyamaran terjadilah perang akbar antara para Pandawa dan Kurawa. Tertumpaslah para Kurawa. Namun ntah kenapa saya merasa tidak ada yang menang dalam hal ini karena pada akhirnya para Pandawa yang telah memegang kekuasaan pun dihantui rasa bersalah dan merekapun kehilangan banyak hal. Termasuk Drupadi.

Major Moral of the story menurut saya : dendam tidak akan membawa kita kemanapun_tidak juga ke perasaan damai ketika dendam itu sudah dibalaskan, tahanlah apa yang ingin diucapkan jika sedang marah karena kemungkinan besar kita akan menyesalinya.