Harry Potter and the Cursed Child By Jack Thorne

Caution, my reviews contains spoiler.

Act Three Scene Nine

Snape

“Tell Albus – tell Albus Severus – I’m proud he carries my name. Now go. Go!

29056083I’m in tears when I read that part. I can imagine this scene clear as a day. Severus Snape will do it all over again for his love for Lily. Did I mention that Severus Snape is probably my favorite fictional character of all time? ;p

When I read this script (not book), the scene where Severus Snape was there may very be the main reason that I am grateful that I bought this script.

Ok back to business..

Buku ini sebenarnya adalah naskah sebuah drama teater yang ditulis oleh Jack Thorne, tentu saja berkolaborasi dengan J. K. Rowling. Naskah ini terbagi menjadi 2 Part dan IV Act (saya juga termasuk salah satu orang yang tidak familiar dengan struktur naskah drama, so pardon me if I make mistakes reviewing this script).

A walk down a memory lane..

Cerita dimulai dengan adegan penutup buku Harry Potter and the Deathly Hallows, 19 tahun setelah Battle of Hogwarts,  dimana Harry & Ginny yang sudah dewasa sedang mengantar anak kedua mereka Albus Severus berangkat untuk pertama kalinya dengan Hogwart Express.

Do you remember?

Albus bertanya pada ayahnya bagaimana jika nanti Sorting Hat menempatkannya di Slytherin, and this is how Harry respond :

“Albus Severus,” Harry said quietly, so that nobody but Ginny could hear, and she was tactful enough to pretend to be waving to Rose, who was now on the train, “you were named for two headmasters of Hogwarts. One of them was a Slytherin and he was probably the bravest man I ever knew.”

That is definitely an aaaaaaawww moments and I am freaked out by how well I remember passages from Harry Potter books ;p

The story continues..

Berangkatlah Albus dengan Hogwarts Express, di kereta ia memulai pertemanan dengan Scorpius Malfoy, anak dari Draco Malfoy. Sesampainya di Hogwarts Albus dan Scorpius dua2nya ditempatkan oleh Sorting Hat di asrama Slytherin.

Albus dan Scorpius merasa memiliki banyak kesamaan, mereka berdua mempunyai ayah yang terkenal walaupun terkenal karena dua hal yang berbeda. Albus merasa tertekan karena nama besar ayahnya, dan bagaimana dirinya selalu dibandingkan dengan ayahnya, sedangkan scorpius tertekan dengan ejekan orang-orang kepada ayahnya, dimana sempat tersebar rumor bahwa ia sebenarnya adalah anak dari Voldemort yang melalukan perjalanan waktu.

Mereka berdua pun menjadi bersahabat sebagaimana dulu Harry bersahabat dengan Ron dan Hermione.

Tiga tahun kemudian Harry Potter telah menjabat sebagai kepala Magical Law Enforcement di Ministry of Magic dan Hermione menjabat sebagai Minister of Magic (couldn’t be more appropriate if I may say). Debacle ini bermula dari ditemukannya barang sihir terlarang, sebuah Time Turner, alat untuk kembali ke masa lalu.

Dalam 3 tahun ini pun hubungan Harry dan Albus semakin memburuk, Albus merasa tidak dipahami oleh ayahnya dan merasa bahwa ayahnya tidak bangga kepada dirinya. Harry merasa bahwa Albus semakin menjauh dan semakin tidak mengenali anaknya.

Pada suatu hari Albus mencuri dengar pembicaraan antara Amos (ayah Cedric Digory) yang sekarang sudah sangat sepuh dengan ayahnya di rumah mereka. Amos datang ke rumah Harry untuk meminta Harry menggunakan Time Turner untuk menyelamatkan Cedric Digory.

Harry menolak dengan alasan bahwa kembali ke masa lalu dan merubah sesuatu adalah hal yang berbahaya. Di kesempatan itu pula Albus berkenalan dengan Delphi, keponakan sekaligus perawat Amos yang juga ikut mencuri dengar percakapan antara Harry dan Amos.

Albus pun kembali ke Hogwarts untuk menjalani tahun keempatnya, Rose (anak dari Ron dan Hermione yang masuk ke asrama Gryffindor) dalam upayanya untuk kembali berteman dengan Albus (mereka berteman sewaktu belum memulai bersekolah di Hogwarts, setelah Hogwarts pertemanan mereka tidak lagi seperti dulu bahkan mungkin bisa dibilang tidak lagi berteman) menginformasikan bahwa keberadaan Time Turner itu benar dan sekarang Time Turner itu berada di Ministry of Magic.

Albus, dalam upaya untuk membuktikan bahwa ayahnya tidak sempurna dan membuat banyak kesalahan, mengemukakan ide kepada Scorpius untuk bersama2 mencuri Time Turner itu, kembali ke masa lalu dan mencegah adegan dimana Cedric Digory terbunuh.

How harmless it can be, they think..

Nothing will go wrong they think..

Untuk misi ini Albus dan Scorpius meminta bantuan dari Delphi.. Bertiga mereka meminum Polyjuice Potion dan menyamar sebagai Harry, Ron dan Hermione, masuk ke Ministry of Magic dan mencuri Time Turner-nya.

They did it and after that everything goes haywire..

Selesai membaca naskah ini, saya pada awalnya memberikan rating 5 di goodreads, kemudian saya turunkan jadi 4, kemudian besoknya saya turunkan lagi jadi 3.

Sekangen2nya saya dengan dunia Harry Potter, plot twist di akhir naskah dimana Voldemort memiliki anak dari seseorang tampak terlalu mustahil and doesn’t fit the profile at all, I can not phantom a Harry Potter world where Voldemort manage to produce a child and refuse to accept that. Period. Hehe.

Pada awal-awal mendalami karakter Harry di naskah ini,  saya sempat sebal dengan miskomunikasi antara Harry dan dan Albus, namun dipikir2 Harry grows up without James, so I’ll give him a pass. The alternate universe dimana Ron dan Hermoine tidak menikah itu agak-agak menyakitkan, seeing how miserable they’ve become.

I absolutely love Scorpius! And Draco Malfoy. But anyway by the end of Harry Potter and the Deathly Hallows the Malfoys are already forgiven and deserved a second chance.

In the end, bagaimanapun juga, mengunjungi kembali dunia Harry Potter bersama tokoh2nya tetap merupakan sesuatu yang menyenangkan dan akan selalu dirindukan. It’s a privilege.

14910578_10154056189573379_8182615881656500421_nDan Severus Snape.. ah Severus Snape..

“SCORPIUS: The world changes and we change with it. I am better off in this world. But the world is not better. And I don’t want that.”

“It is exceptionally lonely, being Draco Malfoy. I will always be suspected. There is no escaping the past.”

“How to distract Scorpius from difficult emotional issues. Take him to a library.”

Advertisements

Reconstructing Amelia By Kimberly McCreight

15820136The worst thing that could happen to a mother is losing her child..

Itu kali ya yang bikin buku ini haunting buat saya, karena dari awal kita sudah diberitahu hasil akhirnya. Amelia, seorang anak remaja perempuan, meninggal lompat dari gedung sekolahnya.

Pada suatu pagi Kate Baron, seorang pengacara yang cukup sukses mendapat telepon dari sekolah anaknya bahwa anaknya diskors karena menyerahkan tugas yang ternyata merupakan karya plagiat. Kate dipanggil ke sekolah. Kate lalu meninggalkan pekerjaannya dan bergegas naik kereta menuju ke sekolah anaknya.

Sesampainya di sekolah Kate melihat ambulans dan mobil polisi. Lalu ia melihat mayat seorang anak tergeletak di rumput dan tertutupi, bagian badan yang terlihat hanya sepatunya. Kate lalu mengingat-ingat sepatu apa yang digunakan Amelia tadi pagi, dan kesal pada dirinya sendiri karena tidak bisa mengingat apa yang anaknya pakai ke sekolah. The dread, the guilt. Can you imagine?

Anak yang tergeletak di rumput itu ternyata betul adalah Amelia. Polisi mengatakan Amelia bunuh diri karena malu telah membuat karya plagiat, Amelia menulis “sorry” di dinding yang terletak di atap sekolahnya sebelum ia melompat.

Kate sempat menyangsikan bahwa anaknya membuat karya plagiat karena Amelia merupakan anak yang cerdas dan tidak pernah bermasalah dari sisi akademik. Kate menyekolahkan Amelia di private school di daerah Brooklyn karena menginginkan anaknya mendapatkan pendidikan yang terbaik.

Ketika mengetahui dirinya hamil Amelia, Kate telah memutuskan untuk menjadi single parent. Dan dia telah bekerja keras untuk menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan Amelia. Kate tidak menyangkal bahwa karena pekerjaan yang harus ia lakukan ia menjadi jarang di rumah dan sering meninggalkan Amelia.

Namun bagaimanapun Kate adalah orang tua yang penuh kasih sayang, walaupun ia hanya menghabiskan waktu yang terbatas bersama anaknya, Amelia tumbuh menjadi remaja yang sempurna dimata Kate (dan remaja idaman menurut saya), pintar, cerdas, tidak macam-macam, pengertian dan tidak seemosional remaja-remaja lain pada umumnya.

Namun polisi menyimpulkan bahwa Amelia bunuh diri. Dan tidak ada yang bisa Kate lakukan kecuali tenggelam dalam duka. Membayangkan seorang Ibu yang harus memakamkan anaknya sendiri sudah cukup membuat saya sakit perut dan ngilu sendiri.

Lalu kemudian Kate memperoleh sms anonim bahwa Amelia tidak membunuh dirinya sendiri. Dari situlah obsesi Kate dimulai untuk mencari tau apa yang sebenarnya terjadi pada Amelia, Kate menggeledah barang-barang Amelia, membaca file-file dalam laptop, handphone dan juga status-status di media sosial Amelia. Kate juga somehow berhasil membuat penyelidikan terhadap kasus Amelia dibuka kembali.

POV cerita berganti-ganti antara Kate dimasa kini dan Amelia beberapa waktu sebelum kematiannya. Beberapa narasi berupa status facebook dan newsletter tidak resmi di sekolah Amelia (semacam film seri Gossip Girl) dan saya jadi sukaaaa banget sama kepribadian Amelia yang bookish.

Di awal-awal narasi Amelia saya juga menyangsikan bahwa ia bisa menjadi seputus asa itu dan lompat dari atap sekolahnya. Lalu dari cerita yang disuguhkan saya dibuat ragu sendiri dan geram karena cerita berkembang ke arah dimana Amelia menjadi terpojok dan mungkin saja menjadi putus asa. Dan lalu saya disuguhkan ending yang bikin ternganga dan pengen mewek sendiri.

Why do bad things happen to good people.. Why?

Lalu saya jadi ngeri sendiri dengan kehidupan remaja di masa sekarang, bullying, cyberbullying, dan dibuat gelisah dan ngga bisa tidur. Apa saya bisa menemani anak saya sendiri dengan selamat melewati masa-masa rawan itu?

Saya sedih karena Kate tidak sempat mengetahui apa yang terjadi di kehidupan anaknya sampai semuanya menjadi terlambat dan bertanya-tanya sendiri seperti apa sih sebenarnya kehidupan remaja-remaja jaman sekarang. Walaupun saya masih punya cukup waktu untuk mempersiapkan diri I’m still feel clueless and afraid.

Beberapa hari yang lalu saya membaca berita tentang anak remaja di amerika yang membunuh dirinya sendiri karena cyberbullying yang memang amat sangat parah.

Walaupun ada beberapa kelemahan dalam jalan cerita Reconstructing Amelia, menurut saya isi buku ini masih sangat direkomendasikan untuk dibaca sebagai sentilan untuk para orangtua untuk melakukan evaluasi dari waktu ke waktu. Apakah komunikasi dengan anak berjalan dengan lancar? Kapan terakhir kali betul-betul menyediakan waktu untuk mendengarkan cerita tentang kehidupan anaknya? Apa kita betul-betul tahu apa yang terjadi dalam kehidupan anak kita?

Kalo buat saya buku ini recomended banget, bikin sesak nafas, inti serta jalannya ceritanya bagus, tema dan pesan yang disampaikan juga penting. Jadi 4 dari 5 bintang dari saya untuk buku ini.

I’ll Give You the Sun By Jandy Nelson

20820994“Or maybe a person is just made up of a lot of people,” I say. “Maybe we’re accumulating these new selves all the time.” Hauling them in as we make choices, good and bad, as we screw up, step up, lose our minds, find our minds, fall apart, fall in love, as we grieve, grow, retreat from the world, dive into the world, as we make things, as we break things.”

“Reality is crushing. The world is a wrong-sized shoe. How can anyone stand it?”

So let me tell you how good this book is. I cannot compare it with any book that I have read. At time I have to force myself to stop reading and remember my ground. This book is like an alien suddenly burst from another galaxy just to let you know that if you’re feeling that you are a misfit, an outcast that doesn’t belong anywhere.

You are not alone.

You are, mistakenly, never have been alone.

Man, This book is magic.

Bercerita tentang sepasang anak kembar bernama Noah dan Jude. Dengan point of view bergantian antara Noah ketika umur mereka 14 tahun, dan point of view Jude dua tahun kemudian, ketika mereka sudah berumur 16 tahun.

Pada narasi pertama dari Noah, saya langsung jatuh cinta dengan tokoh dorky, geeky Noah yang punya daya imajinasi dan kemampuan lukis luar biasa sehingga ia hampir setiap saat membayangkan adegan-adegan yang terjadi dalam hidupnya dalam bentuk self potrait skecth dengan judul yang nyeleneh.

Noah adalah remaja penyendiri yang tidak mempunyai teman. Bertolak belakang dengan saudari kembarnya Jude yang normal dan populer. Jude yang digambarkan berambut pirang teramat panjang seperti malaikat. Jude sang daredevil dan nge geng dengan para surfer yang berumur jauh lebih tua darinya.

Kedua orang tua Noah dan Jude adalah orang dengan kepribadian yang sangat bertolak belakang. Ibu mereka yang seniman banget, dreamy dan percaya pada hal-hal yang bersifat supranatural. Ayah mereka yang seorang scientist, logis dan normal in every way. Nenek Noah dan Jude belum lama meninggal.

Pada suatu acara makan malam Ibu mereka mengumumkan kalo arwah nenek mereka yang sudah meninggal mendatanginya, dan memberikan wangsit kalau Noah dan Jude harus masuk sekolah seni yang kebetulan ada di lingkungan sekitar mereka. Kebetulan Noah dan Jude memang sangat berbakat.

Semenjak malam itu Ibu mereka menjadi semacam mengadakan sebuah kontes antara Noah dan Jude. Siapa yang paling berbakat. Dan darisana segala sesuatunya mulai berjalan salah.

Dari narasi Noah ketika berumur 14 tahun dan narasi Jude ketika berumur 16 tahun, kita bisa mengetahui bahwa ada sesuatu yang terjadi diantara waktu tersebut yang membuat segalanya berubah. Di narasi Noah kita tau kalo Noah adalah the geeky one dan Jude adalah the popular one.

Apa yang sebenarnya terjadi diantara kedua tahun tersebut sehingga di usia 16 tahun kehidupan mereka seperti berbalik 180 derajat. Noah menjadi remaja normal sedangkan Jude menjadi penyendiri, percaya pada segala macam tahayul dan bisa serta senang mengobrol dengan hantu neneknya.

Di umur 16 tahun Jude merasa frustasi karena karya2nya di sekolah seni (iya Jude berhasil masuk sekolah seni) selalu dipecahkan oleh hantu Ibunya hingga Ia diberi julukan CJ alias Calamity Jude oleh guru dan teman-teman di sekolahnya.

Jude pun didesak pihak sekolah untuk membuat karya yang lebih serius. Jude akhirnya memilih untuk mencari mentor yang bisa mengajarinya membuat karya dengan bahan dasar batu. Dari titik ini lah cerita mulai beranjak seru.

Narasi yang bergantian antara Noah dan Jude (yang sama gila dan indahnya) membuat pembaca makin penasaran akan apa yang sebenarnya terjadi, dan akhirnya mengerti kenapa tokoh2 yang ada bisa sampe ke titik dimana mereka berada. Keren. Keren.

Reading this book makes me feel okay about my own craziness. Everybody is crazy in their own thoughts I bet. They all have magic in them that they no longer believe in. They’ve become robots. Living dead man.

Sometimes I’m having trouble to explain myself without being judge that I am a complete loon. How can anybody understand ? But Jude does. She is like my long lost best friend emerging from a book. Jude, I wish you were here with me. So we can whack this dead uninteresting world together in our Hippitty Hop.

And the way Jude and Noah utter their words.. No one can talk like that. No one.

Oh ya, satu lagi tokoh favorit saya, Grandma Sweetwine yang berhasil menulis Superstition Bible untuk Jude, yang suka memakai dress bunga-bunga dan juga menyebut Tuhan dengan nama panggilan sayang Clark Gable. Oh how I love the sassy ghost of Grandma Sweetwine. Hehe.

And last but not least. Buku ini juga mengajarkan kita akan Redemption, kesempatan kedua. Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki semuanya.

Let’s remake the world.

5 dari 5 bintang untuk buku ini. Semoga segera diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

“I didn’t know you could get buried in your own silence.”

“Sometimes you think you know things, know things very deeply, only to realize you don’t know a damn thing.”

“No one tells you how gone gone really is, or how long it lasts.”

“If you’re going through hell, keep going.” – Winston Churchill”

Looking For Alaska By John Green

/home/wpcom/public_html/wp-content/blogs.dir/2e1/22348610/files/2015/01/img_4194.jpg

Those awful things are survivable, because we are indestructible as we believe ourselves to be. When adults say, “Teenagers think they are invincible” with that sly, stupid smile on their faces, they don’t know how right they are. We need never be hopeless, because we can never be irreparably broken. We think that we are invincible because we are.

Wow! Udah lama banget rasanya saya bisa terpengaruh secara emosional oleh sebuah buku dan berhasil dibuat tercenung sendiri di tengah-tengah cerita.

Membaca buku ini membuat saya merasa bahwa pengalaman saya tumbuh dewasa highly uneventful. Hehe. Padahal emang ia biasa banget, bukan cuman perasaan ;p

Tiba-tiba saya ingin sekali masuk kedalam cerita di buku ini. Kembali menjadi remaja untuk berteman dengan seorang Miles Halter.

Seorang Miles Halter yang terobsesi dengan buku biografi tokoh-tokoh plus kata-kata terakhir dari orang-orang yang diceritakan sebelum mereka meninggal dunia dan menghafalnya diluar kepala.

Yes, I love quirky teenager!

Merasa bosan dengan kehidupannya di public school, Miles meminta izin kepada kedua orang tuanya untuk pindah ke sebuah boarding school bernama Culver Creek.

Miles Halter sedang mencari sesuatu yang dinamakan “The Great Perhaps”, yang ia dapatkan dari seorang penulis puisi bernama Francois Rebelais.

“The Great Perhaps”.. Kemungkinan, kesempatan, pengalaman hidup..

Apapun itu, yang memang dalam hidup ini harus dicari.

Kita tidak bisa memperoleh semua itu dengan hanya duduk manis di bangku, menunggu segala sesuatu terjadi.

Mind you, I wish I had done that. Creating chances for myself.

Setelah menjejakkan kaki di Culver Creek, Miles Halter menemukan dirinya memperolah seorang teman sekamar yang sangat menarik yang bernama Chip Martin.

Well.. Chip Martin ini menjuluki dirinya sendiri “The Colonel”. Dan seketika itu juga menciptakan nama panggilan yang tidak kalah menariknya untuk Miles. Pudge.

Sang Colonel bersekolah di Culver Creek dengan beasiswa penuh dari yayasan. Saat itu adalah tahun ketiga untuk Sang Colonel bersekolah disana dan mereka berada di kelas yang sama.

Sang Colonel kemudian memperkenalkan Miles alias Pudge kepada kehidupan di Culver Creek. Dari mulai dimana membeli barang-barang yang dilarang di asrama, dimana tempat persembunyian terbaik, sampai kepada para penghuninya. Termasuk kepala asrama mereka Mr. Eagle.

Miles akhirnya (semacam) bergabung dengan kelompok Sang Kolonel. Kelompok tersebut hanya terdiri dari dua orang tambahan. Takumi (pemuda dari Jepang), dan seorang perempuan bernama Alaska.

Perkenalan dengan Alaska yang dimulai dengan adegan membeli rokok meninggalkan Miles menjadi (sedikit) terobsesi dengan Alaska.

Alaska yang kamarnya dipenuhi oleh buku yang tidak semua (namun suatu hari pasti) ia baca. Alaska yang senang melakukan “prank” alias keisengan-keisengan di sekolah mereka. Alaska yang jago mengajarkan Pre Calculus. Alaska yang moody.. Dan.. Alaska yang sudah memiliki pacar ganteng bernama Jake.

Poor Miles.. Hehe..

Saya suka banget bagaimana John Green menggambarkan tokoh-tokohnya sebagai remaja yang suka baca buku dan remaja yang “berpikir”.

Dan mengikuti bagaimana Miles, Sang Colonel, Takumi, dan Alaska menjalani hari-hari mereka, mempelajari latar belakang dan kisah hidup setiap tokoh, bagaimana mereka menjalin persahabatan, belajar dengan serius sekaligus bersenang-senang sungguh membuat saya iri.

Ketika secara tiba-tiba hidup menggantung Miles dan Sang Kolonel dengan tragedi dan pertanyaan-pertanyaan tak terjawab, bisakah mereka menerima kenyataan?

Atau sebagaimana kutipan dari buku kesukaan Alaska, The General in his Labyrinth by Gabriel Garcia Marques (ya sodara-sodara, pengarang favorit saya juga!! Gabriel Garcia Marquez!!)

How will I ever get out of this labyrinth??

Bisakah mereka memecahkan misteri labirin hidup mereka?

I love this book!! I love this book with all it’s question, lesson, and beautiful quotes.

To all of you youngster out there. Please don’t waste your life sitting on a bench, just waiting for something to happen.

You have to get out there. Seeking “The Great Perhaps”

You spend your whole life stuck in the labyrinth, thinking about how you’ll escape it one day, and how awesome it will be, and imagining that future keeps you going, but you never do it. You just use the future to escape the present.

That everyone who wades through time eventually gets dragged out to sea by the undertow-that, in short, we are all going.

The Maze Runner ( The Maze Runner #1 ) By James Dashner

6186357“Shouldn’t someone give a pep talk or something?” Minho asked, pulling Thomas’s attention away from Alby.
“Go ahead,” Newt replied.
Minho nodded and faced the crowd. “Be careful,” he said dryly. “Don’t die.”

Seorang remaja laki-laki bernama Thomas, terbangun dalam sebuah lift dengan tidak satu pun memori dalam ingatannya.

Masih dalam keadaan kebingungan, Thomas mendapati dirinya ditarik keluar oleh segerombolan remaja laki-laki yang menjulukinya “Greenie” alias anak baru.

Ternyata Thomas berada di sebuah tempat bernama Glade. Tempat itu berupa ruang terbuka yang dikelilingi tembok maha tinggi yang menyerupai labirin. Anak-anak remaja yang tinggal disana menyebut dirinya Gladers.

Tempat itu telah ada selama dua tahun. Alby, sang pemimpin dari Gladers, merupakan anak-anak pertama yang dikirim kesana. Setiap bulannya satu anak laki-laki (hanya laki-laki) baru dikirim oleh dalang dari semua “permainan” yang mereka sebut sebagai The Creators.

Semua anak dikirim dalam keadaan tanpa ingatan kecuali nama mereka.

Semenjak terbangun di tempat tersebut, Alby dan kawan-kawan telah berusaha untuk membangun komunitas dengan peran-peran tertentu untuk setiap anak agar komunitas mereka sustain dan dapat bertahan. Ada yang berperan sebagai petani, peternak, tenaga kesehatan, tukang masak, pembangun, dan salah satu peran terpenting adalah sebagai “runners” alias pelari.

Rupanya setiap siang hari terdapat celah pintu masuk ke labirin yang selalu terbuka, pintu tersebut akan tertutup pada waktu yang selalu sama menjelang malam. Tugas para runners adalah menelusuri labirin dan mencoba mencari jalan keluar. Tidak ada anak yang boleh masuk ke dalam labirin kecuali para runners. Mereka harus kembali sebelum pintu tertutup. Jika tidak, mereka akan (hampir pasti) terbunuh oleh mahluk monster setengah mesin setengah binatang yang mereka namakan “Grievers”.

Grievers digambarkan sebagai mahluk dengan banyak tangan yang sebagian berupa senjata maupun suntikan (iya! Suntikan) yang bergerak dengan cara menggulung tubuhnya seperti bola dan menggeludung dengan bunyi yang keras dan mengerikan.

Baju, peralatan-peralatan dan juga serum penyembuh (jika tersengat grievers) dikirimkan oleh para Creators melalui lift.

Alby kemudian menugaskan seorang anak bernama Chuck untuk membantu Thomas beradaptasi. Chuck merupakan anak baru sebelum Thomas datang yang ternyata menawarkan persabahatan kepada Thomas.

Keadaan mulai kacau ketika sehari setelah Thomas datang, para Creators mengirimkan anak lain ke dalam Glade. Ini belum pernah terjadi. Ditambah lagi anak yang dikirim ternyata adalah seorang anak perempuan dalam keadaan koma dengan sepotong kertas dalam genggaman tangannya yang bertuliskan “She’s the last one”.

Setelah itu peristiwa menegangkan satu persatu mulai terjadi. Percobaan pembunuhan terhadap Thomas, terjebaknya Thomas, Alby dan Minho (pemimpin para runners) di dalam labirin. Terbunuhnya Grievers untuk pertama kalinya dalam sejarah Glade. Terhentinya malam dan siang. Ter-trigger nya ending dari Glade. Dan yang paling mengejutkan yaitu peran Thomas dalam keseluruhan permainan.

Thing are definitely changing at The Glade.

Mampukah mereka memecahkan teka teki dari labirin? Mampukah mereka keluar?

Dan orang gila macam apa yang tega menaruh anak-anak remaja dalam eksperimen hidup dan mati?

“If you ain’t scared… you ain’t human.”

Kesan yang diterima oleh saya, buku ini adalah campuran dari buku Lord of the Flies nya William Golding, buku The Hunger Games, dan juga film Saw. Hehehe. Seru!! Awal-awalnya saya agak sulit mengikuti cerita karena istilah-istilah gaul yang digunakan anak-anak Gladers.

Namun melewati 30% dari buku saya susaaaaaaaaaaaah banget ngerem baca. Thrill nya itu loh. Ditambah lagi endingnya yang bikin gerabakan cari buku seri selanjutnya.

Haaaaaaa.. Sangat direkomendasikan..

Dan ngeri juga ya kalo menilik cerita dystopia yang selalu berawal dari kondisi post-apocalypse. Seperti sebuah penerawangan atas masa depan bumi kita ini. Hancurnya peradaban selalu dituliskan sebagai sebuah kepastian.

Alkisah habis baca buku ini saya langsung nonton filmnya. Hhhmmmmm saya ngga begitu suka filmnya. Terlalu banyak disimpangkan jadi “lack of reason”.

Baca bukunya aja yaaaaaaaa…. Hihihihi…

5 dari 5 bintang untuk buku ini.

Among Others By Jo Walton

20130613-092607.jpg

Hahaha.. Saya harus jitak diri sendiri waktu liat postingan ini ada di box draft sejak tanggal 13 Juni, terus lupa ga diterusin.. Maafkan teman2, maklum masih menyesuaikan dengan ritme kehidupan di Jakarta Raya Megapolitan ini 😉

Padahal waktu selesai baca pengeeeen banget cerita tentang buku ini, apalagi waktu BBI ada jadwal posting bareng review buku dengan tema “book about books“. Waaah cocok banget nih, soalnya tokoh utama di buku ini Morwena Phelps alias Mori adalah seorang hardcore bookaholics di genre science fiction & fantasy. Saya aja selesai baca langsung hunting buku2 SF!! *ga insyaf2 emang nih saya* 😉

Buku bergenre contemporary fantasy magic ini bercerita tentang remaja perempuan bernama Mori yang pada suatu waktu tidak memiliki pilihan lain melainkan pindah dari kota tempat ia dibersarkan dan tinggal bersama Ayahnya yang telah pergi dari kehidupannya semenjak ia kecil.

Tadinya Mori memiliki seorang saudara kembar perempuan identik, Mor. Mereka berdua memiliki kemampuan melihat mahluk2 magis, peri, kurcaci dan sebagainya. Sayangnya, mereka dibesarkan oleh seorang Ibu yang agak gila merangkap seorang penyihir jahat.

Suatu insiden yang melibatkan Ibu mereka menyebabkan saudara kembar Mori meninggal. Dan semenjak saat itu Mori menyadari jika hidupnya akan selalu berada dalam bahaya jika ia masih berada di sekitar Ibunya.

Maka Mori mengambil keputusan berat untuk pindah. Satu2nya pelarian Mori adalah buku2 science fiction & fantasy-nya. And believe me she’s an expert in those genre, saya langsung merasa ngga tau apa2 ttg buku2 yang Mori sebutkan di ceritanya.

Ternyata Ayahnya adalah orang yang cukup baik, walau tidak hangat. Mereka berdua memiliki hobby yang sama yaitu membaca. Satu kesamaan itu sudah cukup membuat Mori merasa nyaman dengan Ayahnya.

Oleh sang Ayah, Mori didaftarkan ke sebuah boarding school khusus untuk anak perempuan. Disana Mori bertahan dengan buku2nya, plus perpustakaan boarding school tersebut memiliki koleksi yang cukup lumayan menurut standar Mori.

Satu kerepotan yang harus ia lalukan adalah menebarkan sihir untuk menghalangi Ibunya memata-matai dirinya dari jauh. Mori menemukan itu sedikit sulit karena hanya ada sedikit magic di sekitar sekolahnya. Bahkan ia kesulitan untuk menemukan seorang peri! Di tempat dimana penghuninya tidak percaya lagi pada hal2 magis, maka para peri pun tidak akan mau menampakkan dirinya.

Seminggu sekali setiap murid diizinkan untuk pergi ke kota terdekat selama satu hari. Tebak apa yang Mori cari ketika pertama kalinya pergi ke kota? Tentu saja perpustakaan!! Hehe. Tempat itulah yang menjadi tujuan utama Mori untuk rekreasi.

Diantara mengatasi perasaan sedih karena kehilangan saudari kembarnya dan juga takut akan keberadaan Ibunya. Mori mengubur dirinya dalam buku. Tidak lama ia menemukan bahwa perpustakaan kota yang sering ia kunjungi memiliki reading club khusus genre favoritnya. Anggota perkumpulan tersebut bertemu seminggu sekali untuk membahas buku2 dan juga pengarang2 science fiction & fantasy.

Disana Mori berkenalan dengan seorang remaja laki2 yang sehobi dan sama fasihnya dalam pengetahuan tentang buku. Saat kehidupan mulai berjalan dengan baik, dalam hatinya Mori tau bahwa ia tidak bisa selamanya menghindar. Ada hal yang harus ia selesaikan di tempat kelahirannya, ada hal yang harus ia selesaikan dengan Ibunya.

Lalu akankah sihir Mori cukup kuat untuk mengkonfrontasi Ibunya?

In my humble opinion buku ini memiliki material cerita yang keren banget. Namun saya baru yakin 100% sihir yang diceritakan Mori adalah nyata ketika sudah mencapai 1/2 buku. Tadinya jujur saya mengira ybs sedikit delusional.

Satu lagi, klimaks dari cerita agak kurang menggigit (menurut saya loh), karena saya sudah menunggu2 momen2 akhir itu dengan sangat antusias, sayang eksekusi pertarungan akhirnya kurang nendang.

Terlepas dari semua “sayang” yang tadi saya ceritakan. Saya tetap memberikan 4 dari 5 bintang untuk buku ini ’cause I love book about books especially when the main character is a bookaholic just like me. Hehehe.

Dan ceritanya memang seru kok, I just wish that it has more sensational ending. And probably that just a subjectively opinion from my self, I’m sure you’ll like this book plus the heroine.

Divergent By Veronica Roth

20130525-104404.jpgPenerbit : Katherine Tegen Books

Tebal : 487 Halaman

Our dependents are now sixteen. They stand on the precipice of adulthood, and it is up to them to decide what kind of people they will be. Decades ago our ancestor realized that it is not political ideology, religious belief, race, or nationalism that is to blame for a warring world. Rather, they determined that it was the fault of human personality-of humankind’s inclination toward evil, in whatever form that is. They divided into factions that sought to eradicate those qualities they believed responsible for the world’s disarray.

Those who blamed aggressions formed Amity.

Those who blamed ignorance became the Erudite.

Those who blamed duplicity created Candor.

Those who blamed selfishness made Abnegation.

And those who blamed cowardice were the Dauntless.

For me, to start reading an unfinished series always create an agony. Especially dystopian series like this one, in which by the time you close the last page, your hand will itch to get the next book. 🙂

Saya baca langsung dari buku satunya ini ke buku selanjutnya yang judulnya Insurgent. Itu juga begitu beres gemes bukan alang kepalang karena penasaran. Berhubung buku penutup dari seri ini (Allegiant) bakalan terbit di 2013 dan saya baru aja Pre Order (yes, I am that sick ;p) jadi yuk mari saya cerita sedikit soal buku satunya dulu, Divergent.

Seperti yang dijelaskan di quote awal, masyarakat di dunia Beatrice Prior, sang heroine kita dibagi kedalam lima kelompok. Amity, Erudite, Candor, Abnegation dan Dauntless. Penentuan dilaksanakan ketika anak2 mencapai umur 16 tahun.

Sebelum upacara penentuan, setiap anak diassessment kecenderungan sikapnya melalui suatu simulasi. Dari petugas simulasinya Beatrice menerima sebuah rahasia bahwa dirinya berbeda, hasil simulasinya tidak bisa disimpulkan.

Ia bisa memilih diantara tiga kelompok Abnegation, Dauntless dan Erudite. Orang2 seperti itu dinilai memiliki kecenderungan berbahaya karena tidak terkendali, karena itulah Beatrice tidak diperkenankan menceritakan hasil aptitude test nya kepada siapa pun. Orang2 dengan hasil seperti Beatrice, mereka disebut dengan istilah Divergent.

Dalam upacara penentuan, para anak remaja dipersilahkan untuk memilih kelompok yang sesuai dengan hasil aptitude test dan juga prinsip/ keinginan mereka, pilihan itu dinyatakan dengan meneteskan darah mereka ke salah satu simbol dari lima kelompok yang ada.

Setelah memilih, anak2 tersebut akan di didik menurut cara masing2 kelompok. Anak yang memilih kelompok yang sama dimana ia dibesarkan akan masih dapat bertemu dengan keluarganya. Namun anak yang memilih kelompok yang berbeda dari tempat ia dibesarkan harus meninggalkan keluarganya dan setia pada kelompok yang dipilih. Faction before blood. Begitulah motto yang dianut.

Working together, these five factions have lived in peace for many years, each contributing to a different sector of society. Abnegation has fulfilled our need for selfless leaders in government; Candor has provided us with trustworthy and sound leaders in law; Erudite has supplied us with intelligent teachers and researchers; Amity has given us understanding counselors and caretakers; and Dauntless provides us with protection from threats both within and without. In our factions, we find meaning, we find purpose, we find life.

Lalu apa yang terjadi dengan Beatrice di upacara pemilihan. Setelah cukup tercengang dengan kakaknya yang memilih Erudite alih2 kelompok asal mereka Abnegation, Beatrice ternyata melakukan hal yang sama dengan memilih Dauntless. Hari itu kedua orang tua mereka harus merelakan kedua anaknya mempunyai keluarga baru.

Those who want power and get it live in terror of losing it. That’s why we have to give power to those who do not want it.

Singkat kata, anak muda Dauntless adalah sekelompok daredevil yang dengan berbagai cara mencoba menguji “keberanian” para anak baru dengan tantangan yang penuh bahaya. Selain itu mereka juga berlatih kemampuan fisik dengan pertarungan satu lawan satu, menggunakan senapan, melempar pisau dan juga berlatih untuk menghadapi hal yang paling ditakuti melalui sebuah simulasi psikologis.

Persaingan pun sengaja diciptakan antara para anak baru. Setiap latihan memiliki skor sendiri untuk setiap anak.
Needless to say that from that point on the competition tends to get dirty.

Human reaction can excuse any evil; that is why it’s so important that we don’t rely on it.

Perlahan-lahan, Tris (panggilan Beatrice semenjak bergabung dengan Dauntless) menyadari bahwa kelompok2 yang sekarang ini ada sudah banyak menyimpang dari tujuan awal mereka dibentuk. Dari dalam kelompok Dauntless ia menyaksikan sendiri hal itu. Dauntless yang didirikan dengan prinsip “We believe in ordinary acts of bravery, in the courage that drives one person to stand up for another”, telah sedikit banyak mengabaikan idealisme mereka.

Ujian paling menantang dari inisiasi para Dauntless muda justru adalah ujian psikologis. Setiap anak disutik oleh suatu serum, lalu mereka masuk ke suatu ruangan. Serum tersebut akan memancing setiap anak untuk berhadapan dengan hal yang paling ditakutinya. Apa yang dilihat oleh setiap anak dapat dilihat dari tim penilai melalui layar, dan disitulah setiap anak dinilai dalam menghadapi ketakutan terbesarnya.

Dari ujian itu pula Tris mengetahui bahwa dirinya bisa memanipulasi jalannya simulasi. Serum simulasi tersebut tidak mempan padanya. Tris mampu menyadarkan dirinya bahwa itu adalah simulasi dan menenangkan dirinya sendiri. Situasi itu menyebabkan Tris menjadi menonjol diantara initiates lainnya. Tris dapat melalui simulasi tersebut dengan waktu tersingkat.

It’s when you’re acting selflessly that you are at your bravest.

Tris menjadi salah satu initiates dalam peringkat teratas. Sepanjang masa pendidikannya Tris menjalin kedekatan dengan seorang senior yang dijuluki Four. Four yang merupakan rival salah satu pemimpin muda Dauntless yang keji bernama Eric.

Bersama-sama dengan Four, kejadian demi kejadian menunjukkan bahwa fakta bahwa dirinya adalah seorang Divergent adalah kenyataan yang membahayakan. Banyak orang memberikan Tris peringatan. Sesuatu sedang terjadi diluar, ketegangan antar kelompok terasa hingga kalangan initiates.

Apa yang terjadi sebenarnya? Mengapa para Divergent berada dalam bahaya? Dijamin begitu nutup buku ini, anda pasti grabak grubuk mencari buku berikutnya. Hehehe.

I love Dystopians genre!! 5 dari 5 bintang untuk Divergent!!