The Girl on the Train By Paula Hawkins

“I have never understood how people can blithely disregard the damage they do by following their hearts”

22557272Saya membaca buku ini lebih dari setahun yang lalu. Hiatus menulis review sempat membuat saya dapat melupakan betapa menyebalkannya Rachel, sang tokoh utama dalam buku ini. Kasihan sekaligus sebal sebenarnya sih. Hehehe.

Tapi setiap kali saya membaca buku lain yang tokoh utamanya menggemaskan (akhir-akhir ini saya baca buku Luckiest Girl Alive-nya Jessica Knoll) saya selalu teringat kembali kepada neng Rachel.

Jadi begini kurang lebih ceritanya..

Alkisah princess Rachel menikah dengan prince charming Tom. Mereka pun pindah ke rumah idaman dimana keluarga mereka akan dibangun. Rachel dan Tom tentu saja berharap hidup mereka akan bahagia selama-lamanya. Happily ever after bak cerita dalam dongeng.

Lalu kemudian Rachel tidak kunjung mengandung. Mereka berdua mulai mencoba segala cara untuk kemudian menghadapi kegagalan demi kegagalan. Rachel kemudian mulai stress dan merasa gagal sebagai wanita. Ia tidak bisa bangkit dan malah menjerumuskan dirinya sendiri kedalam kebiasaan minum minuman keras.

Waktu terus berjalan, kebiasaan minum-minum Rachel menjadi semakin buruk, pada waktu-waktu tertentu ia mabuk parah hingga mengalami black out. Sama sekali tidak dapat mengingat hal-hal terakhir yang ia lakukan.

Seperti bisa ditebak, Tom merasa terabaikan. Alih-alih mendampingi Rachel melalui depresinya, prince charming Tom malah selingkuh dengan seorang wanita yang jauh lebih muda dari Rachel yang bernama Anna.

Rachel dan Tom bercerai. Rachel pun keluar dari istananya untuk kemudian menghadapi kenyataan bahwa Tom sang former prince charming menikahi sang selingkuhan dan memboyongnya masuk ke rumah yang dulu mereka tinggali. Tidak lama kemudian Anna hamil dan mengkaruniai Tom seorang putri cilik yang cantik.

Jleb.. Jleb.. Jleb..

Rachel sekarang tinggal di apartemen temannya yang bernama Cathy. Ia masih belum bisa melepaskan kebiasaan mabuk-mabukannya. Ketika Rachel sedang mabuk berat ia seringkali menelepon  Tom dan merecokinya dengan racauan-racauan. Ini membuat Anna membenci Rachel yang terus-terusan mengusik rumah tangganya (which in my opinion she has no right to object since she’s the homewrecker in the first place).

Seperti bisa ditebak, Rachel pun tidak bisa mempertahankan pekerjaannya. Namun demi mengelabui teman seapartemennya bahwa ia masih bekerja (dan tidak akan diminta pindah dari apartemen Cathy), Rachel pun setiap hari masing melakukan commuting dari apartemen ke tengah kota dengan menggunakan kereta, hanya untuk mabuk di tempat lain dan pulang lagi ke apartemen.

Kereta yang Rachel naiki setiap hari selalu melalui perhentian dimana pemandangan yang ia lihat di luar jendela adalah daerah rumah lamanya. Ada satu rumah yang selalu Rachel amati, di dalamnya ia dapat melihat bahwa rumah itu ditinggali sepasang suami istri muda yang cantik dan ganteng. Pasangan ideal. Setiap hari pun Rachel selalu mengamati kegiatan pasangan muda itu. Rachel bahkan menamai mereka Jess dan Jason.

Pada suatu pagi Rachel melihat pemandangan yang membuat ia terkaget-kaget, ia melihat Jess di beranda memeluk dan mencium pria yang bukan Jason. Di hari itu Rachel mabuk berat, ia terbangun di apartemennya dengan keadaan berantakan, terluka dan berdarah. Rachel sama sekali tidak dapat mengingat apa yang terakhir kali ia lakukan.

Tidak lama setelah itu Rachel melihat bahwa seorang wanita muda bernama Megan dilaporkan hilang, Megan tak lain adalah Jess yang setiap hari Rachel lihat dalam perjalanan keretanya. Yakin bahwa pemandangan yang ia lihat (Jess/Megan mencium pria lain) ada kaitannya dengan hilangnya Megan, Rachel memutuskan untuk melaporkan ke polisi tentang apa yang ia lihat.

Bagaimanapun Rachel adalah saksi mata yang tidak credible, seorang pemabuk yang tidak dapat mengingat apa yang ia sendiri terakhir kali lakukan. Ditambah lagi sang mistress Anna melaporkan juga kepada polisi bahwa di malam kejadian ia melihat Rachel berkeliaran di daerah sekitar perumahan mereka. Jadilah Rachel semakin terjerumus kedalam penyelidikan hilangnya Megan.

Dan layer demi layer cerita membuat kita jadi tau bahwa segala sesuatu tidak seindah apa yang terlihat dan membuat kita semakin penasaran apa yang sebenarnya terjadi dengan Megan. Dan akankah neng Rachel eling and straighten out herself?

Point of view dalam buku ini sebenarnya berganti-ganti antara Rachel, Megan dan Anna. Dari cerita masing-masing tokoh itu kita jadi tau bahwa masing-masing tokoh memiliki kekurangan dan kesalahan masing-masing. Yang paling bikin gemes tentu saja point of view Rachel karena ancur-ancuran banget, menyedihkan dan bikin kasihan sekaligus sebel.

Tapi saya bisa mengerti sih obsesi Rachel terhadap Jess & Jason. Kalo mengamati orang di kendaraan umum atau di lift, saya juga sering mengarang-ngarang tentang kehidupan mereka seperti apa dan berfikir bahwa they seem very happy with their life. Hehe.

Buat yang suka genre mistery, thriller & suspense, buku ini seru juga buat dibaca dan susah loh berhenti bacanya. Hehehe.

3.5 bintang dari saya untuk buku ini.

“I have lost control over everything, even the places in my head.”

“When did you become so weak?” I don’t know. I don’t know where that strength went, I don’t remember losing it. I think that over time it got chipped away, bit by bit, by life, by the living of it.”

Advertisements

The Girl Who Kicked The Hornets’ Nest By Stieg Larsson

Penerbit : Quercus

Tebal : 743 Halaman

Dear God.. Sesunggunya lebih dari sekedar sarang lebah (hornets’s nest) yang terusik oleh sepak terjang Lisbeth Salander, our heroine di buku ketiga dari Millenium trilogi ini. Sangat senang di buku kedua dan buku ketiga ini Stieg Larsson memutar fokus cerita kepada Lisbeth.

“My name is Lisbeth Salander. I was born on 30 April 1978. My mother was Agneta Sofia Salander. She was seventeen when I was born. My father was a psychopath, a killer and wife beater whose name was Alexander Zalachenko. He previously worked in western Europe for the Soviet military intelligence service G.R.U…”

Itu adalah sepenggal paragraf yang Lisbeth tulis dalam autobiografi yang akan digunakan sebagai material pembelaan dalam sidang yang akan dia hadapi. Sidang ? Ya, terakhir kali kita bertemu Lisbeth ybs sedang berada dalam kondisi sekarat karena tertembak di kepala.

Lisbeth ditemukan oleh Mikael Blomkvist, seorang jurnalis dari majalah Millenium yang juga merupakan ex co workers/ ex lovers/ ex best friend nya Lisbeth. Di buku kedua diceritakan bahwa Lisbeth sedang menghindari Mikael karena menyadari kalo dirinya merasakan sesuatu yang seharusnya tidak dirasakan dan she’s simply couldn’t handle those kind of feeling so she avoid him instead.

Tapi dasar nasib bagaimanapun juga dihindari ternyata kehidupan mereka terus saling berkaitan sampai akhirnya Mikael berhasil menemukan Lisbeth, walau nyaris terlambat. Lisbeth lalu dilarikan ke rumah sakit dan secara luar biasa berhasil diselamatkan. Walaupun demikian Lisbeth tetap terkena dakwaan atas upaya pembunuhan.

Setelah itu kita akan digiring untuk menemui fakta demi fakta bahwa kehidupan Lisbeth memang sedari kecil sudah diacak-acak karena kepentingan suatu kelompok kecil di dalam Swedish Intelegent yang berusaha melindungi mantan agen Rusia yang telah diberi suaka oleh mereka dengan kompensasi informasi2 yang dibutuhkan oleh Swedia. Orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Alexander Zalachenko, ayah dari Lisbeth Salander.

Lisbeth ternyata adalah korban dari konspirasi besar yang melibatkan suatu kelompok rahasia dalam badan intelegen Swedia. Dan pada kesempatan ini mereka sekali lagi berusaha untuk menjebloskan Lisbeth ke dalam rumah sakit jiwa, kali ini untuk selamanya. Beruntung Lisbeth memiliki beberapa pendukung setia yang betul2 mengetahui siapa dirinya yang berusaha keras untuk mengungkap fakta yang sebenarnya.

Blomkovist beserta kru Millenium, Dragan Armanksky mantan bos nya di Milton sekuriti, Palmgren, Bublanski dan yang terpenting komunitas hackers dimana Lisbeth adalah salah satu anggota pentingnya. Bersama mereka membentuk kelompok The Knight of the Idiotic Table untuk satu tujuan bersama, membantu Lisbeth Salander selamat dari konspirasi jahat yang memojokkannya dan juga membongkar seluruh konspirasi tersebut.

Can they do it against all odds? Waaaa super duper rame deh. Buku ketiga ini sungguh penuh dengan konspirasi besar yang melibatkan tokoh-tokoh penting Swedia. Stieg Larsson betul-betul memperluas skala konfliknya. Walaupun edisi bhs inggrisnya ini lumayan tebel, 743 halaman, sama sekali ngga kerasa bacanya saking seru dan bikin penasarannya cerita di buku ini. Ini pun udah kepotong dua hari puasa baca gara2 audit mendadak.

Sedih ngga bisa membaca tentang Lisbeth Salander lagi (krn Stieg Larsson nya sudah almarhum). Lisbeth Salander bener-bener salah satu karakter buku favorit saya sepanjang masa. Jadi pengen nonton filmnya. Tapi tetep ah Daniel Craig to handsome to be Don Juan Mikael Blomkvist. Hehe.

The Girl Who Played With Fire By Stieg Larsson

Penerbit : Quercus

Tebal : 649 Halaman

There are no innocents. There are, however, different degrees of responsibility.”

Akhirnya kebaca juga buku kedua dari millenium trilogi ini. Over all saya lebih menyukai buku kedua ini karena kadar kesadisan nya ngga separah yang pertama dan lebih banyak bercerita tentang tokoh kesukaan saya Lisbeth Salander dari pada sang Don Juan Mikael Blomkvist :).

Setelah huru hara yang terjadi di buku pertama, Lisbeth Salander berhasil “mengamankan” sejumlah kekayaan yang membuat dia tidak perlu pusing-pusing lagi bekerja di masa yang akan datang. Setelah mengakhiri hubungan singkatnya dengan Mikael, Salander memutuskan untuk travelling keliling dunia.

Sementara itu kantor  Millenium yang saat ini tengah mengalami kebangkitan dari kondisi sebelumnya akan menerbitkan sebuah buku yang mengungkap tentang seluk beluk dunia “sex trade” yang terjadi di Swedia. Termasuk aktor-aktor yang terlibat di dalamnya. Buku ini diprediksi akan menyebabkan kehebohan karena banyak aparat hukum, termasuk dari kepolisian yang terlibat dalam dunia tersebut yang akan terungkap dalam buku.

Ketika Salander kembali dari tour nya, ia mencoba untuk mencari tahu apa yang akhir-akhir ini dikerjakan oleh Mikael. Alangkah terkejutnya Salander ketika membaca material buku dan menemukan nama Zala di dalamnya. Sebuah nama dari masa lalu ketika peristiwa yang dia sebut “All The Evil” belum terjadi.

Lalu suatu malam pengarang dari buku yang akan diterbitkan oleh kantor Millenium, Dag Svensson dan pacarnya Mia Johansson ditemukan terbunuh di apartemen mereka.  Senjata api yang dipergunakan untuk membunuh teregister milik Nils Erik Bjurman, tokoh dari buku pertama yang kita ketahui merupakan legal guardian dari Salander yang dengan semena-mena menyalahgunakan posisinya. Tidak lama kemudian diketahui pula ternyata Bjurman pun sudah tertembak mati di apartemennya sendiri.

Pada senjata yang digunakan untuk ketiga pembunuhan tersebut ditemukan sidik jari Lisbeth Salander. Tidak butuh waktu lama bagi media untuk mencium berita tersebut, dan Lisbeth Salander pun menjadi buronan nomor satu di Swedia. Ditambah dengan fakta bahwa Salander dimasukan ke rumah sakit jiwa pada umur 12 tahun dan dinyatakan legally incompetent membuat dirinya semakin menjadi bulan2an media.

Sebuah tim di kepolisian dibentuk untuk menyelidiki pembunuhan tersebut. Di awal penyelidikan misi mereka sangat jelas, memburu secepat mungkin Lisbeth Salander. Di sisi lain, beberapa orang yang mengenal baik Salander pun berusaha mencari fakta yang sebenarnya terjadi untuk membebaskan Salander dari tuduhan.

My oh my. Saya semakin menyukai karakter Lisbeth Salander. Di buku kedua ini masa lalu Salander terbongkar, termasuk salah satu episode dalam hidupnya yang selama ini hanya disebut-sebut sebagai “All The Evil”. Masa lalunya memang mengerikan. Dan saya dapat merasakan betapa selama ini Lisbeth Salander salah dimengerti oleh semua pihak dan kesal setengah mati pada orang-orang yang berkonspirasi sehingga ia dicitrakan sebagai perempuan muda yang sakit jiwa.

Sekali lagi Stieg Larsson berhasil menyajikan mistery thriller yang bikin betah untuk dibaca sampai akhir dan menutupnya dengan ending yang dramatis dan tidak terduga. Mari baca buku ketiganya !!

“I am what I am,” Salander said. “I ran away from everything and everybody.”