[Un]affair By Yudhi Herwibowo

Penerbit : Bukukatta

Tebal : 169 Halaman

“Kenapa sebuah lagu bisa diterima di semua tempat, di semua negara? Musik memang universal, tapi kisah dibalik lagu itulah yang membuatnya semakin diterima. Itu artinya sebuah kejadian seperti dalam lagu itu ternyata terjadi pula di tempat-tempat lain. Jadi seseorang seharusnya tidak perlu terlalu sedih akan sesuatu, karena di tempat lain pun, ada orang yang bersedih karena hal yang sama.”

Aaaakkhh ternyata Yudhi Herwibowo kalo menulis romance baguuuss ^_^ hehe.. Udah ada feeling waktu baca Perjalanan Menuju Cahaya, kayaknya kalo nulis drama atau romance bakalan sedih ceritanya dan ternyata ngga jauh2 tuh.. Hehe.. Because sometimes sad ending does make a story felt more real.. Life ain’t a fairy tale right?

Buku ini berkisah tentang seorang pemuda bernama Bajja yang memilih untuk berkerja dan tinggal di sebuah kota kecil bernama Kota Sendu. Kota Sendu? Iya.. Sebuah kota kecil dimana hujan selalu datang, dihiasi oleh taman yang dilengkapi dengan bangku-bangku untuk menghabiskan waktu, sebuah toko buku tua di pojokan jalan dan cafe dimana seseorang bisa membunuh malam dengan nyamannya. Akhhh semakin dijelaskan semakin saya ingin terjun masuk ke dalam buku dan tinggal di kota sendu ini.

Kembali ke cerita Bajja.. Huuumm.. Saya punya teori gila kalo sebenarnya setiap manusia hidup di frekuensi jiwa (soul) yang berbeda-beda. Dan bisa menemukan seseorang yang berada di frekuensi jiwa yang sama untuk menjadi sahabat, pasangan hidup atau sekedar rekan kerja adalah anugrah yang luar biasa. Dan biasanya jika kita menemukan seseorang yang berada dalam frekuensi yang sama, semua hal akan bergulir begitu saja seperti memang sudah digariskan, bagaikan potongan puzzle yang akhirnya menjadi masuk akal dan membentuk sebuah gambar yang berarti. Tiba-tiba kita seperti telah mengenal orang tersebut begitu lama, bisa saling memahami tanpa banyak bicara.

Saya rasa itu yang terjadi ketika Bajja dan Arra saling menemukan. Sayangnya Arra sudah memiliki kekasih, walaupun dari apa yang diceritakan, sepertinya orang itu lebih banyak membawa kesedihan daripada kebahagiaan buat Arra.

Pertemuan Arra dan Bajja bisa dihitung oleh jari, namun memang tidak akan butuh lama untuk dua orang dalam frekuensi yang sama untuk saling mengenal, dan prosesnya memang sulit untuk dijelaskan. Terjadi begitu saja.

Di pertemuan terakhir Arra mengabarkan bahwa ia telah dilamar oleh kekasihnya, dan tidak pernah muncul lagi di kehidupan Bajja. Undangan pernikahan datang ke rumahnya tidak lama setelah itu. Kehampaan yang khas ketika seseorang baru saja mengalami perpisahan pun mengisi relung hati pemuda itu.

Sesungguhnya semasa kuliah Bajja memiliki seorang kekasih bernama Canta. Namun ketika lulus karena belum siap dengan rencana apapun mereka menempuh jalan masing-masing.

Siapa sangka kemudian Canta datang ke Kota Sendu. Profesi Canta sebagai dokter memungkinkan dirinya untuk pindah ke kota itu, kota dimana Bajja tinggal. Hari-hari Bajja pun kembali diisi oleh Canta. Namun hidup memang kadang persis seperti panggung sandiwara dimana kita adalah aktornya, namun kita tidak pernah tau skenario apa yang menunggu kita di adegan berikutnya. Sisanya baca sendiri ya! ^_^ hehe..

Hhhhhh.. Jadi pengen tinggal di Kota Sendu..

“Pertemuan itu sebenarnya mudah saja, kita yang membuatnya menjadi rumit.”

Advertisements

The Art Of Hearing Hearbeats By Jan Philipp Sendker

Penerbit : Other Press

Tebal : 325 Halaman

 “And so there must be in life something like a catastrophic turning point, when the world as we know ceases to exist. A moment that transform us into a different person from one heartbeat to the next.”

Kepuasan nemuin dan baca suatu buku yang kita ngga pernah tahu dan ternyata layak buat dapetin 5 bintang dan jadi buku favorit itu memang luar biasa. Sekali lagi secara ngga sengaja saya dipertemukan dengan satu buku keren yang jadi kesayangan saya : The Art of Hearing Hearbeats ini.

Julia nekat berangkat ke pedalaman Burma setelah menemukan salah satu surat ayahnya yang belum lama menghilang. Surat itu ditujukan kepada seorang wanita bernama Mi Mi. Setibanya di tempat tujuan tiba2 ia dihampiri oleh seorang lelaki tua yang mengklaim bahwa ia telah lama menunggu Julia untuk datang.

Prasangka bahwa lelaki tua itu kurang waras terpatahkan setelah ia berhasil menyebutkan dengan persis nama panjang Julia berikut tempat dan tanggal lahirnya. U Ba nama lelaki tua itu. Ia berjanji untuk menceritakan segala sesuatu tentang ayahnya. Ia telah menunggu lama untuk menceritakan kisah itu kepada Julia.

“How can anyone truthfully claim to love someone when they’re not prepared to share everything with that person, including their past?”

Sebelum berangkat ke Burma, Julia telah mengkonfrontasi Ibunya perihal surat itu. Ternyata selama ini Ibunya selalu mengetahui hati Ayah Julia bukan miliknya. Ia mencintai orang lain entah dimana. Ibunya tidak pernah berhasil mencari tahu. Ayahnya telah menjadi seseorang yang dekat dimata namun jauh dihati. Mereka hidup di tempat yang sama tapi di dua dimensi yang berbeda. Demi mendapatkan penjelasan mengapa Ayahnya setega itu berbuat demikian, Julia memutuskan untuk mendengarkan kisah U Ba.

Ketika keesokan harinya Julia bertemu kembali dengan U Ba, bergulirlah kisah yang indah namun getir dari seorang lelaki burma bernama Tin Win dan perempuan yang memiliki cacat fisik bernama Mi Mi.

Tin Win lahir dari pasangan orang tua yang sangat percaya pada astrologi. Ketika Tin Win lahir di “hari buruk” dimana seringkali kelahiran seseorang membawa bencana, Ibu dan Ayahnya secara tidak disadari menciptakan jarak yang tidak tertembus antara dirinya dan Tin Win. Ketika Tin Win sudah menginjak usia anak2, dua orang polisi datang ke rumahnya dengan membawa informasi bahwa Ayahnya telah mengalami kecelakaan.

Ibunya menerima berita tersebut dengan tenang, melaksanakan upacara pemakaman sebagaimana kewajiban seorang istri dan 36 jam kemudian mengepak sedikit barangnya dan pergi meninggalkan Tin Win begitu saja. Tin Win yang diperintahkan untuk menunggu memanjat sebuah pohon sehingga bisa melihat Ibunya berjalan menjauh dan dalam pikirannya, akan pula bisa melihat jika Ibunya pulang dari kejauhan. Pada kenyataannya Ibunya tidak pernah pulang. Tin Win menunggu berhari-hari.

Seorang tetangga mereka, wanita yang hidup sebatang kara bernama Su Kyi akhirnya memaksa Tin Win untuk turun.  Tin Win yang sudah tidak makan dan minum selama berhari-hari seolah sudah ada di pintu ajalnya. Dengan telaten Su Kyi merawat Tin Win, namun ia tidak bisa menyelamatkan Tin Win sepenuhnya. Tin Win telah kehilangan kemampuannya untuk melihat. Su Kyi bertekad untuk merawat Tin Win karena kesamaan nasib. Mereka dua orang yang telah dilukai hidup.

“She hoped that Tin Win would learn what she had learned over the years: that there are wounds time does not heal, though it can reduce them to a manageable size.”

Cerita U Ba bergerak dari waktu ke waktu, peristiwa ke peristiwa. Dengan setengah percaya Julia mendengarkan kisah seorang pemuda yang kemudian menjadi Ayahnya. Yang kemudian tidak dapat melupakan cinta sejatinya Mi Mi, walaupun sejak berpisah diumur belasan tahun tidak pernah berjumpa kembali. Pemuda yang konon dapat mendengar suara detak jantung setiap mahluk hidup yang ditemuinya.

Aaaaakkhh, cerita buku ini bagus banget!! Walaupun saya tidak sreg dengan beberapa pilihan hidup Tin Win, namun ceritanya tetep romantis dan meluluh lantakkan perasaan. Apa benar ada cinta sejati seperti ini? I wonder…

“Life is a gift full of riddles in which suffering and happiness are inextricably intertwined. Any attempt to have one without the other was simply bound to fail.”

Where She Went By Gayle Foreman

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Alih Bahasa : Poppy D. Chusfani

Tebal : 231 Halaman

“I’ve blamed her for all of this, for leaving, for ruining me. And maybe that was the seed of it, but from that one little seed grew this tumor of a flowering plant. And I’m the one who nurtures it. I water it. I care for it. I nibble from its poison berries. I let it wrap around my neck, choking the air right out of me. I’ve done that. All by myself. All to myself.”

Tiga tahun setelah peristiwa kecelakaan mobil yang menewaskan seluruh anggota keluarga Mia Hall, ia telah berhasil membuktikan dirinya mampu untuk sukses di sekolah musik Juliard dan menjadi salah satu pemain Cello muda berbakat yang diakui di dunianya. Mia kini meneruskan hidupnya di New York.

Adam yang tiga tahun lalu bersumpah akan melakukan apa saja, temasuk meninggalkan Mia,  jika saja Mia bersedia bangun dari kondisi komanya, kini telah menjadi gitaris dari salah satu band ternama Shooting Stars. Album perdana mereka Collateral Damage menjadi hits di seluruh dunia. Adam tinggal di Los Angeles bersama kekasihnya yang berprofesi sebagai seorang artis, Bryn.

Keduanya telah jauh meninggalkan Oregon. Tempat asal mereka berdua.

Melalui narasi Adam kita mengetahui bahwa setelah Mia akhirnya mulai keluar dari kondisi koma dengan menggerakkan jarinya, empat hari kemudian Mia terbangun. Mia kemudian menjalani rehabilitasi dengan senantiasa didampingi oleh Adam. Mia menolak penangguhan beasiswanya untuk bersekolah di Juliard dan bersikeras untuk pergi. Pada awalnya komunikasi berjalan lancar diantara Mia dan Adam, sampai suatu saat Mia memutuskan komunikasi begitu saja.

Mia menolak segala pesan dan telepon dari Adam. Meninggalkan Adam tanpa penjelasan begitu saja (menurut Adam karena buku kedua ini diceritakan dari sudut pandangnya). Adam patah hati dan depresi. Setelah beberapa waktu berada dalam “masa2 mengkhawatirkan”, suatu hari Adam beranjak dan menulis lagu. Seluruh lagunya menjadi bahan di album Collateral Damage dan Album itu menjadi hits di seluruh dunia.

Kini tiga tahun kemudian Adam tengah berada di New York. Ditengah2 tour band Shooting Star. Malam itu Mia akan menggelar konser solo di Carniege Hall. Adam yang tengah gusar karena sebuah wawancara melihat posternya dan segera membeli tiketnya. Tiga tahun kemudian Adam tersihir ulang oleh permainan Cello Mia. Dan semua kenangan, kemarahan, pertanyaan mengalir kembali tanpa mampu dibendung.

Melalui narasinya kita bisa merasakan betapa patah hatinya Adam. Betapa sebenarnya ia tidak rela ditinggalkan begitu saja tanpa penjelasan. Betapa bagaimanapun marahnya, Adam masih mencintai Mia.

Let me tell you this! Dalam suatu hubungan (apapun itu), asumsi adalah suatu hal yang sangat berbahaya yang jika dibiarkan dapat menggiring kepada kehancuran. Yang saya lihat dalam cerita ini adalah Adam terlalu banyak berasumsi. Ketika Mia meninggalkannya Adam menjadi egosentris dan menganggap dirinya orang paling menderita sedunia. Lupa kalau Mia sedang menghadapi kehilangan yang lebih besar, Ayah, Ibu dan adik lelakinya dalam seketika meninggalkkannya di dunia. Hanya Mia yang tersisa hidup. Dan luka seperti itu tidak akan bisa sembuh dalam hitungan bulan. Butuh tahunan, bahkan mungkin seumur hidup akan menjadi lubang yang menganga.

Walau Adam pada akhirnya bangkit dan berhasil membuat dirinya sukses. Ketidakrelaan itu terbaca jelas di narasinya. Dan gumpalan perasaan yang terpendam itu telah merubah Adam menjadi granat berjalan. Salah sedikit maka semua orang akan terkena akibatnya.

Lupakah ia bahwa dirinya pernah mengucap janji bahwa ia rela meninggalkan Mia jika Mia berhasil bangun dari koma dan menemukan bahwa tetap bersama dengannya terlalu berat (karena semua kenangan akan keluarganya). Pada kenyataannya Adam belum bisa merelakan Mia. Dan memang jika dia tidak rela dan masih sangat mencintai Mia maka kejarlah! bertanyalah! bersikaplah lebih berani sedikit dan hampiri Mia! Bantu Mia menghadapi peperangannya..

Di buku kedua ini saya malah jauh lebih bisa merasakan simpati kepada Mia dibandingkan dengan buku pertama.

Dan ketika dia akhir2 cerita terdapat adegan dimana Adam menemukan bahwa yang membeli gitar akustiknya yang ia lelang beberapa tahun yang lalu dengan harga sangat mahal adalah Mia, ingin rasanya saya melompat ke dalam buku, merebut gitar akustik itu dari tangan Adam dan memukulkan gitar tersebut ke kepala Adam. You fool!! 😀 Dasar laki-laki.. hehehe..

“You?’ is all I can manage to choke out.

‘Always me,’ she replies softly, bashfully. ‘Who else?”

If I Stay By Gayle Foreman

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Alih Bahasa : Poppy D. Chusfani

Tebal : 195 Halaman

“Sometimes you make choices in life and sometimes choices make you.”

Awal tahun ini inget banget temen2 di komunitas Blogger Buku Indonesia banyak yang menominasikan tokoh Adam di buku ini sebagai ‘My Number 1 Book Boyfriend’. Saya timbunlah buku ini beserta sequelnya Where She Went selama berbulan2 dan baru dibaca kemarin2. Hehe.

Huuumm. Sepertinya saya akan lebih dapet feelnya kalo baca yang versi aslinya. Atau memang waktu baca lagi kurang sensitif aja kali ya jadi buku ini ngga bikin saya terharu biru seperti yang banyak dialamin temen2 yang sudah baca duluan.

Dalam buku ini tokoh utamanya adalah seorang remaja perempuan yang bernama Mia Hall. Mia adalah seorang pemain Cello yang cukup berbakat. Mia terlahir di keluarga yang mencintai musik, namun saja Ayah dan Ibunya lebih ke aliran musik band dan berbeda dengan Mia yang menyukai musik klasik. Mia juga memiliki seorang adik laki2. Secara sekilas kehidupan Mia lengkap, ia punya keluarga kecil yang bahagia dengan kehidupan mereka. Ia punya kegiatan yang sangat dicintainya yaitu bermain Cello. Dan Mia punya Adam.

Adam, kekasihnya yang termasuk ke dalam kategori ‘cowo keren’ di sekolahnya. Adam yang gitaris sebuah band yang karirnya mulai beranjak naik. Adam yang memiliki banyak penggemar wanita.

Mia yang selalu merasa berbeda dari anggota keluarganya yang lain ini seringkali heran mengapa Adam tertarik kepadanya. Namun dengan mulusnya Adam masuk ke dalam kehidupan Mia, termasuk juga ke dalam kehidupan anggota keluarganya. Adam sudah nyaris seperti anak ketiga dalam keluarganya. Bahkan Adam lebih nyambung dengan Ayah dan adik lelakinya dibandingkan dengan Mia sendiri.

Di suatu hari yang bersalju di daerah Oregon. Sekolah2 memutuskan untuk meliburkan murid2 mereka. Ayah Mia yang seorang guru juga diliburkan. Akhirnya keluarga itu memutuskan untuk pergi bersama mengunjungi kakek dan nenek Mia.

Hal terakhir yang diingat Mia adalah Cello Sonata No.3 Beethoven. Setelah itu tiba2 Mia berada di luar mobil. Mobil yang mereka kendarai hancur berantakan. Mia dapat melihat jasad Ayah dan Ibunya yang tidak utuh lagi. Mia juga melihat ada sosok yang terlempar ke parit, Mia mengira itu Teddy adik laki2nya. Setelah dihampiri ternyata ia melihat tubuh fisik dirinya sendiri terbaring di parit. Darah merembes dari bajunya.

Selanjutnya Mia menyaksikan regu penolong dan ambulans mulai berdatangan. Ia juga melihat tubuhnya diangkut ke dalam helikopter untuk diterbangkan ke rumah sakit terdekat. Ia menyaksikan upaya para tenaga medis untuk menyelamatkan nyawanya. Bahkan kemudian setibanya di rumah sakit Mia menyaksikan sendiri operasi yang dilakukan untuk menjaga dirinya tetap hidup. Mia melihat tubuhnya yang carut marut penuh dengan luka. Ia nyaris tidak mengenali dirinya sendiri.

Lalu para penjenguk mulai berdatangan. Kakeknya, neneknya, sahabatnya Kim, dan Adam. Melalui pembicaraan para tenaga medis Mia mengetahui bahwa adiknya Teddy telah meninggal dunia di rumah sakit yang lain. Dalam satu hari Mia kehilangan seluruh anggotanya. Dalam satu kedipan mata ia tertinggal sendirian. Mia tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya hidup tanpa anggota keluarganya.

“I realize now that dying is easy. Living is hard.”

“I’m not sure this is a world I belong in anymore. I’m not sure that I want to wake up.”

Mia menyaksikan neneknya, kakeknya dan Adam berbicara pada tubuhnya yang terbaring dipenuhi dengan selang2 yang berfungsi menjaga dirinya tetap hidup. Ia menyaksikan kakeknya berbicara bahwa ia merelakan Mia pergi jika memang sakit yang Mia pikul tidak tertahankan. Ia juga melihat Adam memohon agar dirinya tetap hidup apapun resikonya. Ia melihat Kim sahabatnya menangis tersedu2. Namun Mia merasa takut. Sanggupkah ia hidup dengan menahan semua kesedihan akan kehilangan seluruh anggota keluarganya.

Mia merasa letih dan menyerah. Ia menunggu kemana nasib akan membawanya.

Ending buku ini begitu membuat penasaran hingga saya menyarankan untuk tidak jauh2 menaruh buku sequelnya yang berjudul Where She Went. Di buku pertama ini, cerita diambil dari sudut pandang Mia, karakter Adam belum terlalu terlihat dengan jelas hingga saya belum bisa memutuskan pendapat saya terhadap Adam. Dan setelah membaca buku keduanya baru saya mengenal siapakah Adam ini.

Mia adalah tipe remaja perempuan yang tidak mencolok namun mudah untuk disukai karena kesederhanaannya. Mia adalah remaja perempuan luar biasa yang merasa dirinya biasa-biasa saja. Dan itulah yang membuatnya menjadi menarik.

Over all buku pertama ini terasa seperti introduction alias kata pengantar untuk buku keduanya yang ternyata menurut saya lebih mempunyai jiwa. Tapiiii ntar aja saya ceritanya di review buku yang kedua yaa. Kali ini saya kurang sependapat dengan groupiesnya Adam di komunitas Blogger Buku Indonesia. Semoga nanti saya ngga ditimpukin rame2 oleh para penggemarnya Adam waktu menayangkan review buku Where She Went besok2. Hehehe.

““It’s okay,’ he tells me. ‘If you want to go. Everyone wants you to stay. I want you to stay more than I’ve ever wanted anything in my life.’ His voice cracks with emotion. He stops, clears his throat, takes a breath, and continues. ‘But that’s what I want and I could see why it might not be what you want. So I just wanted to tell you that I understand if you go. It’s okay if you have to leave us. It’s okay if you want to stop fighting.'”

“If you stay, I’ll do whatever you want. I’ll quit the band, go with you to New York. But if you need me to go away, I’ll do that, too. I was talking to Liz and she said maybe coming back to your old life would be too painful, that maybe it’d be easier for you to erase us. And that would suck, but I’d do it. I can lose you like that if I don’t lose you today. I’ll let you go. If you stay.”

The Lovers Dictionary By David Levithan

Penerbit : Farrar, Straus and Giroux

Tebal : 224 Halaman

Reservation, noun.

There are times when I worry that I’ve already lost myself. That is, that myself is so inseparable from being with you that if we were to separate, I would no longer be. I save this thought for when I feel the darkest discontent. I never meant to depend so much on someone else.

Yearning, noun. And adjective.

At the core of this desire is the belief that everything can be perfect.”

Hmmm.. Ini adalah salah satu buku yang saya merasa sulit sekali untuk membuat reviewnya.

Beberapa halaman pertama waktu baca buku ini agak sedikit membingungkan. Isinya seperti kamus. Di setiap alfabet a sampai z, sang pencerita (pria) memilih satu atau beberapa kata untuk diuraikan berdasarkan memori dari hubungannya dengan pasangannya yang ia punya atas kata-kata itu. Seperti contoh quotes yang saya tulis di atas.

Sedikit demi sedikit pembaca akan mulai bisa merangkai kepingan puzzle dan menangkap apa yang sebenarnya terjadi antara pasangan itu. Dari mulai kencan pertama, jatuh cinta, tinggal bersama, pertengkaran2 kecil, terciptanya jarak, pengkhianatan, pengakuan dan selamat tinggal.

Uraian dari setiap kata kadang sangat manis dan puitis dan kadang getir, bahkan sarat kemarahan. Sampai saat terakhir siapa identitas kedua pasangan ini tidak  terungkap. Begitu pula dengan apa yang terjadi pada keduanya. Apakah mereka tetap bersama atau akhirnya berpisah.

Yang jelas sang pria lah yang menuliskan kisah cinta berbentuk kamus ini. Untuk diberikan kepada pasangannya. Menurut saya ceritanya agak mengenaskan. Tidak disarankan untuk dibaca buat orang2 yang baru saja membina hubungan. Bisa memberikan efek pesimis soalnya.

Tapi itulah realitas. Dalam pernikahan, yang namanya jatuh cinta berbunga-bunga pada suatu waktu akan padam sendiri. Semua belang2 akan terlihat. Dan di saat itu suatu hubungan baru benar-benar diuji. Yang tertinggal adalah seberapa besar komitmen untuk menjalani segalanya bersama. Untuk saling melengkapi, saling memaklumi, memaafkan, dan menerima kekurangan dan kelebihan masing2 alih2 mencoba untuk merubah sifat pasangan.

Ada kalanya di titik stagnan salah satu akan berpaling karena melihat orang yang lebih segala2nya dari pasangannya. Let me tell you this! That is non sense! Setiap orang pasti punya kelebihan dan kekurangan. Tidak ada manusia yang sempurna. Dan pasangan yang ditinggalkan akan merasa dirinya tidak berdaya, tidak berharga. Tinggal bersama dengan manusia yang bagai kemasan kosong yang isinya ntah sudah terbang kemana. And after all of that happened there is no going back.

Jadi adek2 yang baik there is no such thing as Pangeran Berkuda Putih, Putri Cantik Jelita atau Hidup Bahagia Selamanya. Sorry to say, but that’s the fact. The ugly and bitter truth of this so called life.

Jika ingin segera menikah atau bahkan akan segera menikah. Janganlah terlalu heboh merancang pesta atau resepsi sekali seumur hidup yang membuat pengantinnya seperti raja & ratu satu malam. Jangan dilaksanakan karena tekanan sosial atau keluarga yang selalu memburu2. Atau jangan pula karena banyak temen2 yang sudah menikah jadi tertular ingin mensegerakan dan itu dijadikan motivasi. Yang lebih diperlukan adalah persiapan mental, ketenangan jiwa untuk menerima apapun yang terjadi, dan kehidupan setelahnya akan seperti apa. Ini yang penting dibicarakan sebelum memutuskan untuk membuat resepsi.

Kehidupan baru akan dimulai setelahnya. Dan keduanya harus cukup dewasa untuk menghadapi segala kemungkinan yang terjadi.

Lover, noun.

Oh, how I hated this word. So pretentious, like it was always being translated from the French. The tint and taint of illicit, illegitimate affections. Dictionary meaning: a person having a love affair. Impermanent. Unfamilial. Inextricably linked to sex.

I have never wanted a lover. In order to have a lover, I must go back to the root of the word. For I have never wanted a lover, but I have always wanted lover, and to be loved.

There is no word for the recipient of the love. There is only a word for the giver. There is the assumption that lovers come in pairs.

When I say, Be my lover, I don’t mean, Let’s have an affair. I don’t mean Sleep with me. I don’t mean, Be my secret.

I want us to go back to that root.

I want you to be the one who loves me.

I want to be the one who loves you.”

I hope I didn’t sound to preachy. But trust me, I know this Lovers Dictionary story like the back of my own hand. In real life situation like this does happen. Learn from other people mistakes, don’t ever let it happen to yourself. It just to painful to cope with. It will break you. And you can not put back together broken pieces. It’s damaged forever.

“I spent all this time building a relationship. Then one night I left the window open, and it started to rust.”

“The mistake is thinking there can be an antidote to the uncertainity.”

Life is but A Dream By Brian James

Penerbit : Feiwel and Friends

Tebal : 239 Halaman

Rasanya saya pernah denger ungkapan kalo satu orang normal ada di antara sekumpulan orang kurang waras. Maka dimata mayoritas (orang kurang waras), satu orang itulah yang akan terlihat ganjil. To be frank I do feel a little bit crazy sometimes. Being who I am does make me feel a little bit out of place at some point. Makanya jatuh hati banget waktu liat sinopsis buku ini di goodreads plus taglinenya :

“I am not crazy. At least.. I don’t think I am, anyway.”

Sabrina, seorang anak perempuan berusia 15 tahun didiagnosa menderita schizophrenia dan dititipkan ke suatu pusat rehabilitasi jiwa oleh orangtuanya. Semenjak kecil Sabrina selalu melihat dunia yang berbeda dari dunia yang dilihat orang kebanyakan. Dimata Sabrina awan memiliki warna warni yang indah, angin memiliki suara dan tekstur serta bergerak bagai ombak menembus tubuhnya, bebatuan tertentu memancarkan cahaya dan Sabrina gemar mengoleksinya.

Sabrina seringkali menuangkan dunia yang dilihatnya lewat gambar. Ketika ia kecil kedua orang tuanya menganggap Sabrina adalah anak yang penuh dengan imajinasi dan mendukungnya. Namun seiring bertambahnya usia Sabrina, kedua orang tuanya mulai merasa tidak sabar dan memberitahunya untuk bersikap lebih dewasa dan berhenti terlalu banyak berhayal.

Di pusat rehabilitasi jiwa para dokter memberikan Sabrina obat2an dan juga berbagai macam terapi. Suatu ketika Sabrina menemukan seseorang yang ia kira selama ini hanya hidup dalam mimpinya, seorang remaja laki2 yang memancarkan sinar terang putih dari seluruh tubuhnya.

Alec, nama remaja laki2 itu, baru saja bergabung di pusat rehabilitasi jiwa. Beberapa kesempatan berbicara membuat Sabrina merasa nyaman karena Alec mempercayai apa yang ia lihat di dunianya. Bukan sekedar pura2 percaya seperti orang2 kebanyakan, ia dapat merasa Alec betul2 mempercayainya. Alec pun merasa tertarik dengan sudut pandang Sabrina. Alec yang muak dengan dunia yang menganggap semua orang harus bertindak wajar dan selaras menurut satu tata nilai tertentu, menemukan bahwa Sabrina unik.

Alec membuat Sabrina mempercayai bahwa tidak ada yang salah dengan dirinya. Dunia luar lah yang salah menetapkan standar “normal” dan mencoba membuat semua manusia menjadi robot yang seragam. Orang yang memiliki sedikit perbedaan akan dianggap sakit dan harus disembuhkan. Alec membuat Sabrina merasa istimewa.

“Having something to look forward to, no matter how insignificant, is still something.”

Diam-diam Sabrina menjadi takut bahwa obat2an yang diberikan oleh para dokter akan membuatnya menjadi sama seperti orang lain. Dalam hatinya Sabrina tidak mau “keistimewaannya” hilang. Dan dia pun berhenti mengkonsumsi obat2an yang diharuskan oleh dokternya. Lalu apakah Alec ternyata benar? Apakah kita yang dicap sebagai orang2 normal sebenarnya hanya sekelompok robot yang manut pada “standar hidup wajar” yang ditetapkan. Sekolah, kuliah, lulus, bekerja, menikah, punya anak, punya anak lagi, menikahkan anak, punya cucu, meninggal. Jika tidak mengikuti sequence itu seseorang dianggap menjalani sesuatu yang tidak normal. Apa hanya sebatas itukah hidup kita sebagai manusia?

Membaca buku ini membuat saya merasa dibawa turut melayang-layang di dunianya Sabrina. Di mata saya, dunia Sabrina indah. Namun sayangnya manusia ini terkadang suka merasa angkuh dan lebih jika melihat seseorang yang berbeda, lalu menganggap wajar jika memperlakukan seseorang yang berbeda dengan tidak baik. Di titik itu manusia menjadi jahat dan kehilangan “kemanusiaannya”, tidak ada bedanya dengan hewan. Yang kuat dialah yang menang. Oleh karena itu Sabrina dengan dunianya memang rentan untuk menjadi korban.

Menutup buku ini saya jadi bertanya-tanya. Apakah kita memang harus mengikuti apa yang orang lain harapkan dari kita? Hhhhmmmmm…

“I don’t care. I like the world in my dreams. It’s a happier place than here.”

Memori By Windry Ramadhina

Penerbit : Gagasmedia

Tebal : 312 Halaman

Ah, Mae, dunia tidak sekelam yang kau perlihatkan kepadaku

Baru kali ini baca bukunya Windry Ramadhina. Aaakkhhhh buku ini mengingatkan saya tentang betapa pentingnya “kewarasan” orang tua dalam membentuk kepribadian anak. Anak-anak tidak bisa memilih ingin dilahirkan di keluarga mana. Orangtua lah yang harus bertanggungjawab terhadap pilihan mereka. Terhadap kehidupan manusia lain yang sudah dititipkan oleh Tuhan.

Kenapa saya jadi membahas tentang ini? Karena Mahoni, sang perempuan mudah tokoh utama dalam buku ini adalah bentuk konsekuensi dari betapa egois sang Ibu dalam mangatasi permasalahan hidupnya.

Mahoni kecil sering sekali menyaksikan Ayah dan Ibunya bertengkar. Mahoni yang sangat mengidolakan Ayahnya sangat terkejut ketika suatu hari ditodong untuk ikut Ibunya pergi dari rumah. Ibunya, Mae, adalah tipe drama queen yang selalu merasa dirinya adalah korban dengan nasib paling naas di dunia. Mahoni dibesarkan dengan hawa negatif yang menyudutkan sang Ayah yang kemudian menikah lagi dengan seorang perempuan bernama Grace. Ya, Mahoni pun tumbuh besar membenci Ayahnya.

Mahoni tumbuh menjadi perempuan muda yang keras dan engga membagi perasaannya. Kuliah di jurusan arsitektur membuatnya dekat dengan si jenius berandal Simon. Tidak bisa disangkal bahwa Mahoni dan Simon menyimpan perasaan satu sama lain. Namun di saat kelulusan, ketika Simon akan memintanya untuk selangkah lebih serius, Mahoni takut benteng yang sudah dibangunnya runtuh. Ia pun lari dan memilih untuk menyisihkan perasaannya.

Mahoni pun hijrah ke Virginia, bekerja di suatu biro arsitek disana dan cukup sukses dalam karirnya. Mahoni seolah ingin melupakan kehidupannya yang dulu. Ayahnya yang telah berhianat, Ibunya yang telah mengukung dirinya dalam drama pribadinya.

Ketika sebuah pesan telepon memberitahukan bahwa Ayahnya dan Grace telah meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Mahoni pun tidak punya pilihan lain, ia harus pulang dan menghadapi kehampaannya mendengar bahwa Ayahnya telah meninggal dunia.

Di Jakarta ia mendapati kenyataan bahwa ia harus bertanggungjawab atas adik lelaki tirinya, Sigi yang masih duduk di kelas satu sma. Mahoni tiba2 saja harus melepas kehidupannya di Virgina. Rela? Tentu tidak, pada awalnya Mahoni menjalani semua tanpa niat. Sikap Sigi lah yang kemudian meluluhkan keras hati Mahoni.

Di sisi lain, Mahoni kembali bertemu dengan Simon. Bahkan ikut membantu sebagai arsitek free lance di perusahaan Simon. Namun kali ini di sisi Simon sudah ada seorang perempuan cantik bernama Sofia. Mereka kuliah bersama dan kemudian mendirikan perusahaan bersama pula. Mahoni tidak bisa menyangkal bahwa masih tersisa rasa untuk Simon, namun sanggupkah Mahoni menjadi sosok yang sangat ia benci. Grace yang telah merebut papanya.

Baca cerita ini saya jadi pengen punya rumah sendiri yang dindingnya dipenuhi sama rak buku. Windry menggambarkan detail arsitektur sebuah bangunan dengan sangat baik hingga seolah-olah kita bisa melihatnya. Bahasanya juga ringan mengalir, tidak berat dan tidak ada adegan yang terlalu dramatis.

Pasti para cewe2 akan kesengsem sama sosok Sigi yang manis dan cool. Hehe. Saya ngebayanginnya kayak cowo2 di film korea yang ngga banyak omong tapi sweet. Kalo Simon mah kayak cowo2 di film Indonesia yang agak2 jutek gimana tapi tetep aja bikin cewe2 suka.

Buku simple yang ringan dan enak buat dibaca!!