The Castle in the Pyrenees By Jostein Gaarder

Penerbit : Phoenix

Tebal : 250 Halaman

Buku ini khas Jostein Gaarder banget, namun kali ini diwarnai dengan sedikit romance antara sepasang manusia yang bertemu kembali setelah 30 tahun terpisah dan tidak saling berhubungan. Solrun dan Stein.

Solrun dan Stein yang tinggal di Norwegia bertemu pada saat kuliah dan hidup bersama sejak berumur 19 tahun. Mereka adalah dua orang yang sangat berbeda namun saling melengkapi. Solrun dan Stein sangat suka travelling, bahkan pada suatu waktu mereka memutuskan untuk hidup di suatu daerah terpencil di pegunungan tanpa bantuan teknologi apapun. Mereka ingin merasakan hidup bagai “orang-orang gua” di masa lampau.

Lima tahun setelah tinggal bersama ketika mereka sedang berlibur di Lake Eldrevatnet, mereka mengalami suatu peristiwa yang secara paksa memisahkan mereka. Solrun meninggalkan Stein.

Neither of us said a word the whole time. About that i mean… We couldn’t even say goodnight to each other. I remember spending that last night on the sofa.. I moved out the next day, and we’d not seen each other since, not for more than thirty years. It’s unbelievable.

Tiga puluh tahun kemudian keduanya telah sama-sama berkeluarga. Suatu hari secara tidak sengaja mereka bertemu kembali di hotel tempat tiga puluh tahun lalu mereka menginap. Stein mengatakan itu hanya kebetulan. Solrun menyebutnya Fate.

The world isn’t a mosaic of coincidences, Steinn. It’s all interconnected.

Obviously they still had feeling for each other. Semenjak pertemuan di hotel itu mereka memutuskan berkomunikasi dengan saling mengirimkan email. Tetapi email yang dikirimkan harus dihapus segera setelah dibaca.

Melalui rangkaian email tersebutlah kisah ini diceritakan. Setelah tiga puluh tahun berlalu Stein telah menjadi seorang scientist murni yang tidak percaya pada Tuhan dan kehidupan setelah mati. Sedangkan Solrun adalah seorang spritualis yang percaya bahwa jasad kita mungkin membusuk tapi jiwa kita tidak.

Itulah yang mereka bicarakan dalam rangkaian email mereka, kenapa mereka sekarang bertemu, apa itu kehidupan, apa itu kematian, apakah jiwa benar-benar ada, apakah itu kebetulan. Namun pada akhirnya pembicaraan menyeret mereka kembali ke peristiwa yang terjadi tiga puluh tahun lalu. Dan pada akhirnya apa yang selama ini mereka pendam dan berpura-pura bahwa tidak terjadi terbicarakan juga.

Harus saya akui bahwa ending buku ini mengejutkan. Dua per tiga dari awal buku cukup sulit untuk saya lalui karena mungkin timingnya tidak tepat buat saya. Pembicaraan tentang nasib, takdir dan kenapa suatu peristiwa harus terjadi. Pembicaraan antara Solrun dan Stein membuat saya meragukan kehidupan saya sendiri sehingga pada beberapa titik saya memutuskan untuk menutup buku terlebih dahulu.

Seperti halnya buku-buku Jostein Gaarder yang lain, buku ini juga membuat saya ingin meng quote seluruh isi buku ^_^. Untuk para penggemar Jostein Gaarder, buku ini akan sangat membantu untuk lebih jauh untuk mempelajari filosofi kehidupan.