Anthem By Ayn Rand

Anthem By Ayn Rand

2114“And here, over the portals of my fort, I shall cut in the stone the word which is to be my beacon and my banner. The word which will not die should we all perish in battle. The word which can never die on this earth, for it is the heart of it and the meaning and the glory.

The sacred word: EGO”

Buat saya, Anthem nya Ayn Rand lebih cenderung berada di genre Philosophy yang disampaikan melalui cerita bergaya Dystopia. Let me explain why..

Penghilangan atribut-atribut individualitas secara ekstrim pada manusia tidak mungkin untuk dilakukan kecuali secara genetic direkayasa seperti dalam buku A Brave New World Aldous Huxley, atau dihadapkan dengan the power of extreme fear seperti dibangun George Orwell dalam 1984.

Diluar dari kondisi ekstrem tersebut, tatanan masyarakat Dystopia yang dibentuk secara fondasi akan sangat lemah dan pastinya akan menimbulkan banyak pemberontakan.

Ayn Rand sengaja mengambil bentuk Dystopia untuk meng-highlight individualitas dan ego manusia yang memang hampir mustahil untuk dihilangkan, kecuali oleh dua hal yang saya sebutkan sebelumnya.

Anthem berlatar di suatu waktu yang tidak spesifik di masa yang akan datang. Pada komunitas tersebut, semua atribut individual telah dicabut manusia. Seluruh anggota masyarakat, berkegiatan dan bekerja solely untuk kepentingan komunitas. Keinginan pribadi adalah dosa.

Profesi anggota masyarakat ditunjuk oleh counsel. Regenerasi dilaksanakan dengan mempertemukan perempuan dan laki-laki yang sudah masuk ke umur produktif secara seksual dipertemukan dalam secara random oleh counsel dalam suatu “mating night”. Bayi-bayi yang lahir kemudian diurus oleh komunitas hingga mereka dewasa untuk kemudian ditunjuk profesinya. Total Collectivism.

Is it possible? Secara Human Nature, No.

Selalu ada individu seperti tokoh Utama kita, Equality 7-2521 yang ditunjuk counsel untuk berprofesi sebagai penyapu jalan. Point of view narasi adalah dari Equality 7-2521. Awal-awalnya saya sempat dibuat bingung dengan narasi Equality 7-2521 yang menyebut I sebagai we. Tidak ada ungkapan sebagai individu. Sejak lahir orang-orang di komunitas tersebut sudah menggantikan I dengan kata We. The word “I”, simply does not exist.

Equality 7-2521 sebenarnya happy2 saja menjalankan perannya sebagai penyapu jalan. Namun ia tidak bisa melawan rasa keingintahuannya terhadap fenomena alam seperti hujan dan petir. Fyi, di komunitas itu, penerangan kembali ke bentuk lilin, tidak ada listrik, tidak ada teknologi whatsoever.

Rasa keingintahuan pribadi seharusnya merupakan dosa besar di komunitas tersebut. Namun anehnya Equality 7-2521 sama sekali tidak merasa itu adalah dosa. Menurutnya, keingintahuan itu adalah sebuah panggilan karena sebenarnya Equality 7-2521 sangat ingin berprofesi sebagai seorang scholar. Alias peneliti atau penemu.

Pada suatu hari, ketika menyapu jalan. Equality 7-2521 menemukan terowongan bawah tanah peninggalan peradaban yang sudah lama hancur. Agaknya, terowongan bawah tanah itu adalah eks terowongan kereta api peradaban modern yang pada saat ini sedang kita jalani.

Equality 7-2521 terkesima melihat terowongan tersebut. Ubin2nya halus dan putih, logam2 yang berjajar rapi (most likely rel kereta). Menurut peraturan, Equality 7-2521 seharusnya melaporkan temuannya tersebut. Namun ia ingin menyimpan rahasianya tersebut untuk dirinya sendiri. Equality 7-2521 tidak bisa membendung rasa ingin tahunya dan memutuskan untuk mengeskplorasi terowongan tersebut.

Pada waktu yang hampir bersamaan, Equality 7-2521 secara tidak sengaja bertemu dengan seorang wanita dengan kode nama Liberty 5-3000. Pria dan wanita secara aturan dilarang untuk saling memperhatikan. Namun Equality 7-2521 pada kenyataannya selalu mencari alasan untuk menyapu jalan di area ia biasanya bisa melihat Liberty 5-3000 bekerja. Suatu hari Equality 7-2521 memberanikan diri untuk berbicara dengan Liberty 5-3000 untuk meminta air. Ia menjuluki Liberty 5-3000 “the golden one” karena rambutnya yang pirang indah.

Equality 7-2521 telah melakukan eksperimen-eksperimen di terowongan bawah tanahnya. Secara tidak sengaja Equality 7-2521 berhasil menemukan listrik. Ia berencana untuk membawa penemuannya ke gedung para penemu agar komuitas mereka dapat menjadi tempat terang benderang yang ia impikan.

Namun apa daya, yang terjadi ketika ia menerobos masuk ke ruangan para scholar dan mendemonstrasikan penemuannya yang terjadi adalah mereka memanggilnya evil wretch dan filthy side sweeper. Para scholar sama sekali tidak mengganggap penemuannya dan meminta petugas keamanan untuk menahan Equality 7-2521.

Equality 7-2521 lalu kemudian kabur keluar batas area komunitas mereka. Ke hutan yang selama ini dilarang untuk diinjak oleh counsel komunitasnya. Pelarian Equality 7-2521 telah menjadi hot news di komunitasnya, Liberty 5-3000 kemudian memutuskan untuk menyusul Equality 7-2521 dan berhasil. Mereka berdua kemudian berjalan bersama mengarungi daerah hutan yang tak tersentuh dan juga berjalan untuk kemudian perlahan memahami konsep individu.

Ketika Equality 7-2521 akhirnya menangkap arti kata “I”, digambarkan oleh Ayn Rand seperti Hellen Keller pertama kali memperoleh pemahaman melaui kata pertamanya, “air”.

“The word “We” is as lime poured over men, which sets and hardens to stone, and crushes all beneath it, and that which is white and that which is black are lost equally in the grey of it.

It is the word by which the depraved steal the virtue of the good, by which the weak steal the might of the strong, by which the fools steal the wisdom of the sages. What is my joy if all hands, even the unclean, can reach into it? What is my wisdom, if even the fools can dictate to me? What is my freedom, if all creatures, even the botched and impotent, are my masters? What is my life, if I am but to bow, to agree and to obey?

But I am done with this creed of corruption. I am done with the monster of “We,” the word of serfdom, of plunder, of misery, falsehood and shame.

And now I see the face of god, and I raise this god over the earth, this god whom men have sought since men came into being, this god who will grant them joy and peace and pride.

This god, this one word: “I.”

5 dari 5 bintang untuk Ayn Rand atas penegasannya atas konsep alamiah individu dan ego yang memang adalah hal tersulit untuk disingkirkan dari fitrah seorang manusia.

Fahrenheit 451 By Ray Bradbury

20130530-172304.jpg

There’s nothing magical about books at all. The magic is only in what books say, how the stiched the patches into one garment of us.

I’ve been wondering for quite a long time.. What is it that so special about books that makes me can’t get enough of them? The more I read the more I want to read. Does that even make sense?

Saat pertanyaan yang serupa dilontarkan oleh seorang tokoh tidak signifikan dalam buku ini, “Apa yang membuat buku begitu spesial hingga seseorang rela membahayakan dirinya untuk benda itu?

Can you answer it?

Mungkin salah satu jawaban yang sebenarnya adalah dalam quote di atas. Bukan apa isi dari buku itu sendiri yang ajaib, tetapi efek yang disebabkan kepada pembacanya itu sendiri yang luar biasa. Dan satu buku dapat memberikan efek yang berbeda dan unik antara satu orang dengan orang lainnya.

Makanya, never undermine anyone because of what they’re read and what they perceived by their reading experience.

Hal itu akan memicu perdebatan yang tidak ada ujungnya karena pengalaman membaca dan persepsi yang disebabkan oleh pengalaman membaca tersebut tidak akan ada yang persis serupa antara setiap orang yang satu dengan yang lainnya.

Back to the story, jadi apa itu Fahrenheit 451? Itu adalah suhu dimana kertas/buku mulai terbakar. Kenapa hal itu signifikan? Karena di dunia ini tugas utama seorang pemadam kebakaran adalah membumi hanguskan buku-buku berikut rumah dimana buku-buku tersebut ditemukan.

Tokoh utama kita, Guy Montag adalah seorang pemadam kebakaran. Ia tadinya menikmati pekerjaannya, melihat api menjilat-jilat menghanguskan benda-benda terlarang itu adalah suatu pemandangan yang teramat indah menurutnya.

Sampai suatu saat sepulang kerja ia bertemu dengan seorang tetangga baru, remaja perempuan bernama Clarrise. Dalam dunia itu, Clarisse adalah anak yang “berbeda” karena ia suka berbicara, berfikir dan mempertanyakan banyak hal yang membuatnya di cap bermasalah.

Dalam suatu percakapan dengan Guy Montag, Clarrise memprotes kenapa dirinya di cap sebagai orang yang tidak dapat bersosialisasi. Bagi Clarrise bersosialisasi adalah kegiatan mengobrol seperti yang saat itu mereka lalukan, bukan semata-mata sekumpulan orang yang didudukan di dalam satu ruangan yang sama dan dibuat menyaksikan suatu rekaman video pelajaran dalam diam.

Percakapan sepulang kerja dengan Clarrise akhirnya menjadi rutinitas yang menyenangkan bagi Guy Montag. Bak rubah dan sang pangeran kecil dalam buku cerita The Little Prince. Clarrise akan menunggunya di ujung jalan dan mereka bercakap-cakap hingga masing-masing sampai di depan rumah mereka yang bersebelahan.

Setelah itu Guy pulang ke Mildred, istrinya. Istrinya dan tayangan-tayangan televisi kesayangan yang diibaratkan sebagai keluarga. Istrinya yang kadang Guy pun merasa asing melihatnya.

Hingga pada suatu saat Guy tidak pernah melihat Clarrise lagi. Seminggu berlalu, ia mendapat kabar bahwa Clarrise mengalami kecelakaan, gadis itu tertabrak oleh mobil yang ngebut dan keluarganya pindah segera setelah peristiwa tersebut.

Ide-ide Clarrise dan pernyataan2nya tentang dunia meninggalkan jejak dalam diri Guy. Sebuah perasaan langka di dunianya yang bernama kehilangan.

Pada suatu malam alarm pemadam kebakaran berbunyi nyaring di markas mereka. Guy dan timnya pergi untuk melaksanakan tugas. Dalam prosedur normal, sebuah rumah bersama buku2 yang ada di dalamnya hanya akan dibakar ketika semua penghuni sudah keluar.

Di malam itu Guy merasa terguncang karena menemukan penghuni rumah yang memilih mati terbakar bersama buku-bukunya. Apa yang membuat orang itu begitu mencintai buku-buku?

Guy kehilangan minat bekerja. Ia tidak sanggup kembali ke markas pemadam kebakaran.

Guy sebenarnya menyimpan rahasia, ia menyimpan suvenir dari pekerjaannya. Dan saat ia mulai bertanya-tanya apa keistimewaan dari suvenir2 yang ia kumpulkan yang tidak lain adalah buku2, disaat itulah sang pemburu berbalik menjadi seseorang yang diburu.

Sejujurnya endingnya agak nanggung buat saya. But for the sake of the love of reading! For the good that books brought to us! With pleasure I gave 5 stars for this book.

PS : Review ini juga ditulis dalam rangka posting bareng Blogger Buku Indonesia (BBI) bulan Mei untuk kategori Klasik Kontemporer 🙂

The Time Keeper By Mitch Albom

15041918Penerbit : Hyperion New York

eISBN: 9781401304706

“Man alone measure time

Man alone chimes the hour

And because of this, man alone suffers a paralyzing fear that no other creature endures

A fear of time running out”

6000 tahun yang lalu seorang pria bernama Dor menemukan cara untuk menandai waktu. Sesuatu yang sebelumnya berlalu begitu saja berhasil dikuantifikasi oleh Dor yang memang cukup dikenal karena kepintarannya. Suatu saat seorang raja yang sedang membangun menara maha tinggi untuk mengalahkan para dewa2 meminta bantuan Dor untuk menggunakan peralatan2 temuannya. Dor yang tidak memiliki minat pada ketenaran, kekayaan maupun kekuasaan pun menolaknya. Dor hanya ingin hidup damai dengan istri dan anak2nya.

Sang raja pun murka. Dor dan keluarganya pun diasingkan dari daerah tersebut. Di pengasingan pada suatu saat istri Dor mengidap penyakit mewabah yang cukup parah. Keadaannya semakin memburuk hingga pada suatu hari Dor merasa kalau ajal istrinya semakin dekat.

Didorong oleh rasa putus asa, panik dan kemarahan karena pengetahuan yang ia miliki tidak dapat menyelamatkan istrinya, Dor pun lari menuju menara maha tinggi yang dibangun sang raja. Dor bertekad untuk memanjat menara tersebut hingga ia dapat sampai ke surga. Lalu ia akan memaksa para dewa untuk menghentikan waktu agar ia dapat menyelamatkan istrinya.

Saat Dor sedang memanjat menara tersebut, tiba2 bangunan megah tersebut runtuh secara perlahan2. Manusia2 yang sedang berada di dalam menara pun berjatuhan seperti boneka. Hanya satu orang yang terus bergerak ke atas, Dor. Ketika ia sampai di puncaknya seluruh menara luluh lantak, di saat itu Dor terangkat ke langit, dan tidak seorangpun pernah melihatnya lagi.

Dor kemudian terbangun di sebuah gua. Karena ialah yang pertama kali mengetahui tentang waktu, maka ia ditugaskan oleh Tuhan untuk menjaga penemuannya tersebut. Dor menjadi The Time Keeper. Dalam gua tersebut ia akan hidup abadi dan dapat mendengarkan seluruh permohonan manusia tentang waktu.

“Mankind is connected in ways it does not understand”

6000 tahun kemudian seorang remaja perempuan bernama Sarah Lemon berharap agar waktu dapat berjalan lebih cepat hingga ia dapat segera bertemu dengan pria pujaannya. Di tempat yang lain seorang lelaki bernama Victor Delamonte berharap agar waktu dapat berjalan lebih lambat hingga ia dapat menyembuhkan penyakit kanker yang dideritanya, Victor tidak bisa menerima bahwa ia akan dikalahkan oleh waktu.

Di saat yang sama Dor menerima petunjuk bahwa tugasnya telah hampir selesai. Untuk menutup seluruh perjalannya Dor harus menemukan makna dari waktu. Caranya adalah dengan turun ke bumi dan membantu dua manusia yang sedang memohon untuk dapat melakukan tawar menawar dengan waktu.

Dor pun terlempar ke bumi. Lalu garis Tuhan mempertemukannya dengan Sarah Lemon dan Victor Delamonte. Melalui permasalahan kedua manusia tersebutlah Dor mencoba untuk memahami tujuan perjalannya sendiri. Kenapa ia harus mengalami semua yang ia alami.

“Sitting high above the city, father of time realized that knowing something and understanding it were not the same thing”

Mmmm.. Buat saya buku ini sedikit dibahwa ekspektasi. Mungkin juga karena kesan dari buku2 Mitch Albom lain yang lebih ngena sehingga cerita di buku ini rasanya klise dan datar2 aja. However, I really appreciate how Mitch Albom always try to remind us how important it is what we choose to do in the time that had been given to us. And how sometimes we have to try to view our circumstances from outside our own perspective.

Situation in which we think as the end of the world, might seems silly if we try to see it from other’s eyes.

Anyhow, 3 dari 5 bintang dari saya untuk buku ini.

“A heart weighs more when it splits in two; it crashes in the chest like a broken plane”

“There is a reason God limits our days

Why?

To make each one precious..

The Giving Tree By Shel Silverstein

370493

Penerbit   : Harper Collins Publisher

“Once there was a tree.. And she love the little boy..”

Buat saya cerita ini sepertinya rasanya terlalu menyakitkan kalo dimasukkan dalam kategori cerita anak2. Bagaimana ya menggambarkannya? Mmm.. Selesai membaca cerita ini yang saya rasakan adalah sedih sekaligus marah.. Dua rasa yang maknyus dicampur menjadi sesuatu yang menyakitkan..

Let me tell you something about the tree..

The ability to love is a gift.. Ada tipe orang yang jika ia mencintai, maka ia akan mencintai dengan sepenuh jiwa raganya. Apapun akan dia berikan demi melihat orang yang dicintainya bahagia. Kebahagiaannya sendiri menjadi sesuatu yang tidak relevan. Banyak wanita yang mencintai seorang pria dengan cara seperti ini, atau contoh yang lebih konkrit sebagian besar rasa cinta seorang Ibu kepada anaknya adalah seperti ini.

And the most unfortunate fate are if this kind of tree come to love this kind of little boy.

Let me tell you something about the little boy..

A concrete typical type of human. Kadang kita manusia ini memang terlalu rakus. Alih2 memberi, kita lebih suka mengambil dan terus mengambil. Pun dalam urusan cinta. Kadang kita lupa menghargai orang2 yang mencintai kita dengan sedemikian besarnya. Kita memperlakukan mereka seakan2 sudah kewajiban mereka untuk memberikan kita cinta, kasih sayang dan apapun yang dapat membuat kita bahagia. Padahal itu adalah pilihan. Pilihan orang2 yang menempatkan kebahagiaan orang lain diatas kebahagiaannya sendiri.

Kita sanggup untuk bermanis2 di depan orang yang kita kenal selewat saja, namun kadang dihadapan orang yang mencintai kita, kita lupa untuk menjaga perasaannya dan tidak sungkan untuk bersikap ketus dan seenaknya. Padahal itu menyakitkan. Mereka yang betul mencintai kita pasti akan memaafkan, namun sebelum itu sungguh mereka akan tersakiti hatinya.

Dan kita kadang tidak tahu kapan harus berhenti. Kapan sebetulnya cukup adalah cukup. Kapan kita sebaiknya balas memberi alih-alih terus terlalu nyaman menerima.

Let me tell you something about the tree and the little boy..

I wish with all my heart and soul the tree love another boy who could appreciate her more and make her happy.

I wish with all my heart and soul that the boy understand what kind of privilege he’s been taking advantage of. To have someone loving him with such a sincerity.

Alas my wishful thinking, the tree love that particular little boy and no other. So she give and give and give. The boy take and take and take.

Life is never fair. Never has, never will.

Cloud Atlas By David Mitchell

13642707Penerbit : Random House

Tebal : 528 Halaman

eISBN : 9780307483041

“Our lives are not our own. We are bound to others, past and present, and by each crime and every kindness, we birth our future.”

“It’s a small world. It keeps re-crossing itself.”

Tambah pengen cepet2 nonton filmnya!! To tell you the truth, for me this is one of the most difficult book to be reviewed. It’s hard to explain, the taste of this book is hard to be described by words. Aneh ya?

Dan ah! akhirnya saya menemukan dystopian story yang berkiblat pada A Brave New World nya om Aldous Huxley. Dari keenam cerita berbeda masa yang saling bertautan ini, saya paling suka cerita Sonmi dan dunia dystopianya.

Hhhhmm mari coba dijelaskan dari awal. Terus terang pada awalnya sangat sulit buat saya untuk mengikuti cerita dalam buku ini. Bentuknya adalah cerita pendek yang masing2 berada di masa yang jauh berbeda, namun selalu saling berkaitan karena sang tokoh utama selalu menemukan kaitan dengan tokoh di cerita sebelumnya. Dan satu lagi, mereka selalu memiliki tanda lahir serupa meteor ^_^

Kenapa sulit buat saya? Pertama, karena ceritanya selalu terputus di puncak alur dan membuat saya gemes bukan alang kepalang. Kedua, banyak kata2 baru yang saya pelajari sampai2 harus bolak-balik buka kamus Inggris-Indonesia, so it’s difficult in a good way.

Saya baru ngeh akan briliannya cara menulis dan muatan dalam buku ini setelah lewat setengah buku, dari cerita keenam kita dibawa mundur lagi satu-persatu ke cerita sebelumnya. Lalu semuanya  menjadi jelas dan terbengong-bengong lah saya. Edun! Buku ini bagus banget! Banget! Banget!

So here’s the resume of the stories :

  1. The Pasific Journal of Adam Ewing : Berlatar di tahun 1800-an (sepertinya?! 0_o). Menceritakan tentang seorang Adam Ewing yang ikut di suatu ekspesdisi pelayaran dan menyaksikan berbagai kebudayaan barbar (baik yang dilakukan oleh manusia yang mengaku berbudaya atau manusia yang memang belum mengenal budaya).
  2. Letters from Zedelghem : Berlatar di tahun 1930-an. Menceritakan seorang composer musik muda bernama Robert Frobisher yang in my humble opinion memiliki tingkah laku menyebalkan.
  3. Half Life-The First Luisa Rey Mystery: Berlatar di tahun 1960-an. Bercerita tentang Luisa Rey, seorang wartawati yang berusaha mengungkap skandal besar proyek nuklir sebuah koorporasi.
  4. The Ghastly Ordeal of Timothy Cavendish : Berlatar di tahun 2000-an. Menceritakan tentang Timothy Cavendish, seorang pemilik sebuah penerbitan yang tiba2 terjebak di sebuah panti jompo.
  5. An Orison of Sonmi-451: My favorite story. Berlatar belakang jauh-jauh di masa depan dimana teknologi manusia telah sebegitu canggihnya sehingga mereka menggunakan clone untuk melaksanakan tugas yang tidak ingin mereka lakukan. Tokoh utamanya Sonmi-451 seorang clone perempuan yang sedikit demi sedikit memperoleh kesadaran dan dapat melihat bagaimana dunianya berputar dari sudut pandang yang lebih tinggi. I absolutely love Sonmi.
  6. Sloosha’s Crossin’ An’EV’Rhythin After: Berlatar lebih jauh lagi ke masa depan dimana teknologi dan peradaban telah mencapai puncaknya sehingga sampe ke titik self destruct. Peradaban dan teknologi telah menghilang dan manusia kembali ke pola kehidupan purba. Tokoh utamanya adalah Zachry yang hidup di masyarakat yang mempercayai seorang dewi bernama Sonmi! (read it yourself I don’t want to spoil the fun).

Cuma sampai disini kemampuan saya buat menceritakan buku ini ^_^. A very brilliantly written book! And needless to say, Cloud Atlas is a must watch movie! (and a must read book to those of you whose willing to take the challenge :p) hihihi.

“What moral to draw? Peace, though beloved of our Lord, is a cardinal virtue only if your neighbors share your conscience.”

 “So winners, Hae-Joo proposed, are the real losers because they learn nothing?”

Brida By Paulo Cuelho

“We know that mystery won’t ever go away and so we learn to accept it. I think the same things happens in many situations in life. It isn’t explanations that carry us forward, it’s our desire to go on.”

Hhhmm. Dalam mencoba menangkap isi buku ini saya memilih untuk mengesampingkan cerita dimana Brida, sang tokoh utama menjalani semua yang dia jalani untuk mempelajari sihir. Mungkin lebih enak proses pembelajaran sebagai penyihir tersebut dipandang sebagai pencarian jawaban atas berbagai pertanyaan hidup yang menggelitik. Some of us are borne restless.

Juga tentang Soulmate yang diceritakan dalam buku ini, seringkali merupakan cinta pada pandangan pertama. Maklum, saya termasuk orang yang memiliki keyakinan bahwa cinta pada pandangan pertama adalah non sense. Apalagi bicara Soulmate. You have to know the person deeply, being through hardship together and still love each other after, he/she completes you. Aaah but that’s just me. The truth is I know nothing at all. Hehe.

Ceritanya bersetting di Irlandia. Brida yang sangat ingin mempelajari sihir mencari seorang Magus yang seringkali terlihat bermeditasi di hutan (btw nama Magus nya Santiago, apa ini Santiago yang sama dengan yang kita temui di The Alchemist?). Brida berhasil menemukan sang Magus, sang Magus seketika dapat melihat bahwa Brida adalah Soulmate nya, tapi Brida sendiri tidak menyadari hal itu.

Ada dua jalan yang bisa ditempuh dalam mempelajari sihir. Satu adalah The Tradition of The Sun yang mengajarkan kebijaksanaan melalui ruang dan dunia yang ada di sekitar kita. Kedua The Tradition of The Moon yang mengajarkan kebijaksanaan melalui pengetahuan yang tersimpan dalam waktu.

Melalui pertemuan tersebut Brida menemukan jawaban bahwa dia harus mencari jalannya sendiri. Setelah itu baru dia akan kembali untuk menemui sang Magus.

Brida berhasil menemukan seorang guru lain, kali ini seorang wanita bernama Wicca. Pada akhirnya melalui Wicca lah dia menemukan bahwa jalannya adalah tradisi bulan dan dengan perjalanan waktu menyadari bahwa dirinya dalam berbagai kehidupan sebelumnya, adalah seorang penyihir.

Ah, agak sulit ternyata mereview buku ini. Walaupun ceritanya tentang mencari jalan untuk memahami sihir. Namun saya menemukan bahwa inti dari cerita terangkum dalam quotes ini :

“Right now, while we’re eating, ninety-nine percent of the people on this planet are, in their own way, struggling with that very question. Why are we here? Many think they’ve found the answer in religion or materialism. Others despair and spend their lives and their money trying to grasp the meaning of it all. A few let the question unanswered and live for the moment, regardless of the results or the consequences. Only the brave are aware that the only possible answer to the question is I DON’T KNOW.”

Banyak pertanyaan dalam hidup yang tidak terjawab. Termasuk hal-hal yang dipertanyakan oleh Brida dalam buku ini. Jalan hidup, pilihan, nasib, takdir. Dan bahwa pada akhirnya cinta sejati, bahkan kepada seorang Soulmate pun dapat berarti tidak memiliki cukup menohok buat saya.

Dan beberapa quotes di bawah mungkin bisa menggambarkan isi buku lebih baik daripada cerita saya. Anyway, tiga bintang saya berikan untuk Brida.

“Sometimes we set off down a path simply because we don’t believe in it. It’s easy enough. All we have to do then is prove that it isn’t the right path for us. However, when things start to happen, and the path does reveal itself to us, we become afraid of carrying on.”

“Learning something means coming contact with a world of wich you know nothing. In order to learn you must be humble.”

“The best way to destroy the bridge between the visible and the invisible is by trying to explain your emotions.”

“She feared pain, loss and separation. This things were inevitable in love, and the only way to avoiding them was by deciding not to take the path at all.”

“No one could make a choice without being afraid.”

“Perhaps the times when it goes wrong are teaching you something.”

Cecilia dan Malaikat Ariel By Jostein Gaarder

Penerbit : Mizan

Tebal : 210 Halaman

Alih Bahasa : Andityas Prabantoro

Semua bintang suatu saat akan jatuh. Tapi, sebuah bintang hanyalah sepercik kecil bunga api dari mercusuar agung di langit sana.”

Buat saya, mungkin buku ini adalah salah satu buku Jostein Gaarder yang paling mudah dipahami. Masih kental dengan filosofi, namun gagasan yang diungkapkan sederhana dan menohok.

Dikisahkan seorang anak perempuan bernama Cecilia Skotbu yang berada dalam kondisi amat sakit menjelang hari natal. Seisi keluarga berusaha sekeras mungkin untuk membuat Cecilia senang. Mungkin karena telah berada dalam kondisi sakit yang lumayan lama, Cecilia adalah anak perempuan yang pada awalnya (menurut saya) sedikit bitter dan pemaksa.

Suatu saat tiba-tiba saja muncul suatu sosok yang mirip dengan anak laki-laki berambut panjang di kamar Cecilia. Sosok tersebut memperkenalkan dirinya sebagai Malaikat dengan nama Ariel.

Semenjak saat itu ketika tidak ada seorang pun di kamar Cecilia Malaikat Ariel selalu menemaninya. Mereka saling ingin mengetahui tentang dunia masing-masing. Cecilia ingin tahu bagaimana rasanya menjadi malaikat yang hidup abadi sepanjang masa. Malaikat Ariel ingin tahu bagaimana rasanya menjadi manusia yang terbuat dari darah dan daging.

Pembicaraan mereka seringkali lucu dan menyentil. Bagaimana ternyata para malaikat tidak bisa merasa, tidak bisa mencium bebauan dan tidak bisa merasa sakit. Bahkan malaikat tidak merasakan apa-apa ketika mencubit tangannya sendiri. Dan bagi para malaikat, otak manusia dengan kemampuan berpikir, mengingat dan bermimpi adalah ciptaan yang paling luar biasa misterius.

Bagaimana rasanya di dalam kepalamu saat kau sedang ingat sesuatu? Apa yang terjadi dengan semua atom dan molekul di dalam otakmu? Apa menurutmu, mereka mendadak berlompatan dan menempati posisi yang tepat sama seperti saat kau mengalami apa yang sedang kau pikirkan?”

Karena saat kalian, manusia, bermimpi, kalian menjadi aktor sekaligus penonton. Bukankah itu sangat misterius?

Atau pemikiran geram Cecilia ketika Malaikat Ariel bercerita bahwa melalui matanya yang hidup dalam keabadian, manusia hanya datang dan pergi begitu saja dengan singkat. Pernyataan itu sedikit membuat Cecilia kesal karena merasa bagaikan bola sabun yang dipermainkan oleh Tuhan. Dan terpananya Cecilia ketika Malaikat Ariel bercerita bahwa ketika ingin menyendiri Malaikat bermain-main di antara asteroid bahkan kadang turut menumpang di atas meteor yang konon rasanya seperti bermain Rollercoaster.

The simple truth is, manusia memang tidak akan bisa memahami sepenuhnya tentang kehidupan. Di waktu kunjungan kita yang terbatas ini kita hanya bisa mempelajari sepotong-sepotong kecil pengetahuan hidup. Just be grateful for what we’re able to learn, little pieces puzzle of this universe.

Kita melihat segala sesuatu dalam cermin, samar-samar. Kadang-kadang, pandangan kita bisa menembus kaca dan melihat sekilas apa yang ada di balik cermin. Jika kita menggosok cermin itu sebersih-bersihnya, kita akan bisa melihat lebih banyak lagi. Tapi kita tidak bisa lagi melihat diri kita sendiri.

Hector and the Search for Happiness By Francois Lelord

Penerbit : Penguin Books

Tebal : 163 Halaman

Questions : Is happiness simply a chemical reaction in the brain?

Sukaaaa.. Banget sama buku kecil ini.. Kalo The Alchemist nya Paulo Cuelho membuat kita mempertanyakan tujuan hidup dan merenung dalam, maka buku tentang pencarian arti kebahagiaan ini akan membuat kita tersenyum simpul dan berucap “Oh iya ya..”.. Simpel tapi bener banget.

Bercerita tentang Hector, seorang pshychiatrist di sebuah negara yang makmur dan aman dimana penduduknya rata-rata berkecukupan, namun memiliki banyak sekali pshychiatrist seperti Hector. Hector adalah seorang pshychiatrist yang sukses karena dia benar-benar mendengarkan cerita pasien-pasiennya. Hector betul-betul tertarik mempelajari manusia dan berusaha untuk memberikan solusi-solusi yang terbaik untuk klien-kliennya.

Suatu ketika Hector merasa cukup heran karena semakin banyak kliennya yang berkecukupan dan tampak memiliki segalanya, tapi selalu bertanya-tanya apakah mereka telah memilih profesi yang tepat, apakah mereka telah memilih pasangan hidup yang tepat atau apakah mereka seharusnya sekarang berada di kehidupan yang berbeda dengan yang sekarang mereka jalani.

Di suatu titik Hector merasa jenuh. Dan dia memutuskan untuk berlibur sekaligus mencari penyebab apa yang kira-kira membuat seorang manusia merasa bahagia. Pertama-tama Hector berangkat ke China. Di pesawat Hector mengobrol dengan seorang bussiness man yang memiliki pabrik mainan di China, dan Hector mendapatkan pelajaran pertamanya sebagai berikut :

Lesson no.1 : Making comparisons can spoil your happiness.

Di China, Hector bertemu dengan seorang teman lamanya, Edouard, diperkenalkan lalu jatuh hati dengan seorang wanita bernama Ying Li dan bertemu dengan seorang biarawan yang menyuruhnya untuk kembali jika telah selesai melakukan pencarian atas penyebab kebahagiaan. Banyak pelajaran-pelajaran sederhana tentang kebahagiaan yang Hector temukan di China. Namun belum cukup untuk mengerti tentang keseluruhan arti kebahagiaan.

Dari sana Hector berangkat ke Africa. Di Africa, Hector mengalami petualangan dan “near death experience” yang membuatnya mengerti lebih dalam tentang arti kebahagiaan. Untuk membuktikan hipotesis-hipotesisnya, Hector pun pergi ke seorang Professor of Happiness yang tinggal di negara yang paling makmur memiliki kelebihan di segala bidang (i’m guessing it’s USA). Apa kesimpulan terakhir Hector atas penyebab kebahagiaan? A simple truth that will makes us feel a pang in our conscience, but you have to read it yourself ^_^

Bener-bener deh buku ini, keren. Karena kadang manusia mencari kebahagiaan sampe ke ujung-ujung dunia tanpa menyadari kalo sebenarnya kebahagiaan itu harus dicari di dalam diri sendiri. Satu pelajaran tentang kebahagiaan yang mungkin terlewat oleh Hector, menurut saya kebahagiaan adalah ketika kita mampu untuk bersyukur.

Pelajaran-pelajaran dan simple truth tentang kebahagiaan yang paling saya sukai dari buku ini :

Lesson no.3 : Many people see happiness only in their future.

Lesson no.5 : Sometimes happiness is not knowing the whole story.

Lesson no.7 : It’s a mistake to think that happiness is the goal.

Lesson no.14 : Happiness is to be loved for exactly who you are.

Lesson no.20 : Happiness is a certain way of seeing things.

Letters to Sam By Daniel Gotlib

Penerbit : Gagas Media

Tebal : 217 Halaman

Alih Bahasa : Windy Ariestanty

Terkadang, keadaan memaksa kita untuk berpura-pura kuat dan berani, padahal sebenarnya kita merasakan sebaliknya. Pada umumnya, akan lebih baik kalo kita tidak usah berpura-pura kuat ketika sedang merasa lemah, atau berpura-pura berani padahal merasa takut. Aku percaya, dunia akan menjadi tempat yang lebih aman kalau setiap orang yang merasa lemah menggunakan flasher dan berkata ‘Aku punya masalah. Aku lemah dan sedang berusaha semaksimal mungkin.’”

Benarkah seperti itu?

Thanks to Ally dan Melisa yang sudah merekomendasikan buku ini. Baru selesai saya baca hari ini jam 5 pagi dan ini ngebut bikin reviewnya di kantor. Buku ini akan menjadi salah satu buku kontempelasi buat saya. Sampe nangis-nangis bacanya. Dan jadi tergoda untuk menulis surat juga buat anak saya untuk dibaca ketika dia sudah dewasa. Hehe.

Cerita dalam buku ini dikisahkan melalui surat-surat seorang kakek kepada cucunya, Sam. Sang kakek telah berpuluh tahun mengalami kelumpuhan. Dan ketika mengatahui bahwa cucunya terdiagnosis autisme somehow sang kakek merasa bahwa mereka berdua memiliki banyak kemiripan dalam menghadapi hidup. Kondisi mereka berbeda dari kebanyakan orang, dan mereka harus belajar menjalani dan menerima hidup dengan kondisi tersebut.

Melalui surat-suratnya sang kakek bercerita mengenai pengalaman hidupnya. Mengenai masa lalunya. Melalui surat tersebut sang kakek mengisahkan tentang bagaimana dirinya harus menghadapi kenyataan setelah mengalami kecelakaan mobil dirinya tidak akan pernah bisa berjalan kembali. Bagaimana ternyata kondisinya malah membawa banyak pemahaman baru tentang kehidupan. Pada akhirnya hidup dengan kursi roda memberinya sudut pandang yang sama sekali berbeda dari sebelumnya.

Huaaa. Pengen banget punya kakek sepertinya kakeknya Sam. Orang dengan kondisi autisme melihat dunia dengan caranya sendiri.. Dan melalui surat-suratnya sang kakek mengajarkan agar cucunya kelak tidak terpengaruh oleh pandangan dan label yang diberikan orang lain.

Membaca buku ini membuat saya tersentil bahwa sebagai manusia, kadang kita lupa untuk bersyukur. Lupa bahwa diatas langit masih ada langit.

Bagaimanapun rasa sakit hanyalah sebuah emosi. Tak ada satu pun emosi yang abadi.

Banyak sekali  kalimat penyembuh  bertebaran dalam buku yang sangat saya butuhkan di titik ini. Somehow saya merasa surat itu tidak hanya ditujukan pada Sam. Tapi pada semua orang di dunia yang sedang bertarung di medan perangnya masing-masing. Kesedihan, kebingungan, ketakutan menghadapi hidup adalah sesuatu yang pasti dirasakan oleh setiap orang dan akan berlalu seiring berlalunya waktu. I do hope so…

Ketika kau terluka, dekatkanlah dirimu dengan orang yang bisa mentoleransi rasa sakitmu tanpa melontarkan penilaian atau memberimu saran. Seiring dengan waktu yang berlalu, kau tidak akan terlalu merindukan apa yang dulu kau miliki dan bisa lebih menjalani apa yang kau hadapi hari ini.

Pergilah Ke Mana Hati Membawamu By Susanna Tamaro

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 215 Halaman

Alih Bahasa : Antonius Sudiarja, SJ

Dan kelak, di saat begitu banyak jalan terbentang di hadapanmu

Dan kau tak tahu jalan mana yang harus kau ambil,

Janganlah memilihnya dengan asal saja,

Tetapi duduklah dan tunggulah sesaat.

Tariklah nafas dalam-dalam, dengan penuh kepercayaan,

Seperti saat kau bernafas di hari pertamamu di dunia ini.

Jangan biarkan apa pun mengalihkan perhatianmu,

Tunggulah dan tunggulah lebih lama lagi.

Berdiam dirilah, tetap hening, dan dengarkanlah hatimu.

Lalu ketika hati itu bicara, beranjaklah,

Dan pergilah kemana hati membawamu…

Membaca ulang buku ini adalah misi pribadi buat saya. Pertama, karena kesimpulan saya beberapa tahun terakhir ini, keputusan yang hanya diambil dengan menggunakan hati seringkali mengarahkan pada kekacauan. Hati dan nalar memang dua kutub yang harus diperlakukan secara seimbang. Jadi saya ingin menguji diri dengan membaca ulang.

Kedua, karena biasanya setelah membaca buku untuk keberapa kalinya selalu ada hal baru yang bisa diambil, terutama dari buku yang sarat makna seperti buku Pergilah Ke Mana Hati Membawamu ini. Dan memang, pada akhirnya saya menemukan sesuatu yang sebelumnya mungkin saya tidak perhatikan. Yaitu people have reasons to do what they do…

“Belum lama ini aku membaca peribahasa Indian yang mengatakan ‘Sebelum menghakimi orang, berjalanlah selama tiga bulan dengan menggunakan sepatunya’. Aku sangat menyukai peribahasa itu, sampai-sampai aku menyalinnya di notes dekat telepon agar aku tidak lupa. Dilihat dari luar, banyak kehidupan tampaknya keliru, irasional, gila. Bila kita memandang dari luar, begitu mudahnya orang menyalahpahami orang lain, hubungan-hubungan mereka. Hanya dengan melihatnya lebih dalam, hanya dengan berjalan tiga bulan dengan menggunakan sepatu mereka, kita dapat memahami motivasi, perasaan, serta apa yang menggerakan seseorang melakukan sesuatu dan bukan yang lainnya. Pemahaman ini lahir dari kerendahan hati, bukan dari kesombongan dan pengetahuan.

Pemahaman yang lahir dari kerendahan hati ini yang sedang saya cari, agar saya bisa berhenti menyombongkan diri sebagai korban, agar saya bisa belajar memahami, agar pada akhirnya saya bisa ikhlas menerima keadaan dan melanjutkan hidup. Again.. Setiap orang punya alasan untuk melakukan apa yang mereka lakukan. Dan saya tidak memiliki hak setitik pun untuk menghakimi karena kita tidak pernah tahu sepenuhnya seseorang.

Disisi lain saya juga berdoa agar suatu saat saya bisa dipahami. Oleh orang-orang yang selama ini misunderstood me bahwa saya juga memiliki alasan dan sejarah tersendiri untuk melakukan yang saya lakukan. Please don’t judge me.

Gosh.. This is more like a personal blog content than a book reviews. Buku ini bercerita tentang tiga generasi wanita. Nenek, anak perempuan dan cucu perempuan. Olga, Ilaria dan Martha dimana di dalam kehidupan mereka begitu banyak kesalahpahaman satu sama lain yang tidak terselesaikan. Sang anak perempuan meninggal karena kecelakaan mobil sehingga meninggalkan sang nenek untuk membesarkan cucu perempuannya.

Ketika cucu perempuannya beranjak remaja begitu banyak kesalahpahaman dan komunikasi yang tidak tersampaikan diantara mereka berdua sehingga sang cucu perempuan memutuskan untuk meninggalkan rumah. Beberapa saat kemudian sang nenek mengetahui bahwa umurnya tidak lama lagi dan alih-alih memberitahukan cucunya secara langsung, sang nenek memutuskan untuk menuliskan surat untuk cucu perempuannya.

Dalam suratnya itulah sang nenek menceritakan kisah hidupnya, kisah hidup anak perempuannya dengan harapan agar sedikit lebih dipahami. Dan ia tidak ingin meninggalkan cucu perempuannya dengan tanda tanya besar dan penyesalan sehingga melalui surat-surat tersebut pula ia meminta penerimaan dan keikhlasan dari cucunya.

Secara keseluruhan saya sangat menyukai buku ini. Ketika lebih muda karena pesannya tentang kata hati. Sekarang karena pesannya tentang penerimaan. Isi buku ini lebih bersifat filosofis dari drama. Mungkin akan banyak yang menemukan bahwa buku ini sedikit sulit untuk dibaca. Namun bagi saya buku ini adalah teman hidup. Pada suatu masa saya adalah Martha, pada suatu masa saya adalah Ilaria dan pada suatu masa saya adalah Olga.