The Man Who Mistook His Wife for a Hat By Oliver Sacks

12143354Penerbit : Picador

Tebal Buku : 257 Halaman

Dua tahun terakhir ini saya memang jadi sangat tertarik dengan pengetahuan tentang otak manusia. Pada awalnya saya membeli dan membaca text book terjemahan yang membahas tentang topik tersebut, namun karena memang basic  saya tidak memadai tentang ilmu kedokteran (yang mana buku-buku tersebut memang ditujukan untuk orang2 yang begelut di dunia tersebut), alangkah girangnya ketika saya menemukan buku2nya Oliver Sacks. Eureka!!

The Man Who Mistook His Wife for a Hat, perhatikan judulnya! Aneh? Tapi ini bukan fiksi atau hayalan. Pada kenyataannya memang terdapat kekurangan fungsi saraf yang menyebabkan hilangnya fungsi saraf tersebut.  Dalam kasus yang dijadikan judul buku ini, Mr.P yang dalam usia lanjutnya ternyata mengidap tumor otak betul2 menarik kepala istrinya karena dalam visualisasinya, kepala istrinya itu adalah topi. Ini terjadi karena tumor otak tersebut menyebabkan hilangnya fungsi saraf tertentu pada Mr.P

Dan banyaaaaaaaak lagi kasus-kasus unik yang membuat saya semakin terpesona pada otak manusia dan misterinya. Dan untuk dapat hidup dengan fungsi otak yang normal ternyata adalah suatu privilege yang jarang kita syukuri, iya kan?

Secara garis besar buku ini berfokus pada neurology alias ilmu saraf. Buku dibagi ke dalam empat bagian besar yang didasarkan pada penyebab dasar mengapa suatu fungsi saraf bisa tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Empat bagian tersebut adalah : losses (kehilangan atau tidak terdapatnya “sesuatu” yang menyebabkan saraf tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya), excesses (kelebihan “sesuatu” yang juga menyababkan saraf tidak dapat berfungsi sebagai mana mestinya), transports (gangguan pada alur kerja sel saraf) dan bagian keempat (yang menurut saya paling menyentuh) adalah the world of the simple.

Dalam masing-masing bagian Oliver Sacks menceritakan (dengan bahasa yang mudah dimengerti) tentang contoh-contoh kasus (unik) yang pernah ia temui, analisanya dan solusi terhadap diagnosis yang ia kemukakan. Salah satu yang membuat saya kagum adalah betapa mereka dengan serius merawat orang-orang yang memiliki gangguan fungsi saraf (dalam fasilitas home care khusus) dan mencarikan solusi atas kondisi2 tersebut sehingga bisa kembali berfungsi di masyarakat. Sementara di Indonesia, nasib orang2 yang kurang beruntung seperti di kasus2 yang dikemukakan Oliver Sacks akan dengan mudahnya tidak dimanusiakan dan ditempeli cap “Gila”, dimasukan ke rumah sakit jiwa, dipasung, dikurung atau dibiarkan berkeliaran dijalanan.

Dalam kasus excesses yang bermanifestasi dalam bentuk mania, saya rasa banyak betul orang Indonesia yang tidak menyadari bahwa terdapat excesses tersebut dalam fungsi sarafnya.

Sepenuh hati, betapa saya sangat menyayangkan kurang awarenya manusia2 di negeri ini terhadap mental health yang sesugguhnya bermuara pada sesuatu yang sepenuhnya scientific seperti fungsi saraf (bukan klenik seperti kerasukan dan perdukunan) dan sepenuhnya treatable.

Boleh dibilang buku ini menginspirasi buat saya belajar lebih banyak lagi tentang mahluk seperti apa sebenarnya kita ini (manusia). Banyak sekali hal menarik yang sebenarnya bisa kita pelajari untuk lebih memahami diri kita sendiri dan (bahkan mungkin ) orang2 di sekitar kita.

Lima dari lima bintang dari saya untuk buku ini.

Advertisements

Memahami Negativitas By F. Budi Hardiman

Penerbit : Kompas

Tebal : 222 Halaman

“Memutuskan dan bertanggung jawab sebagai individu menimbulkan rasa sepi, maka ego cenderung menghindar.”

Saya teringat pada buku ini setelah selesai membaca buku Maryam nya Okky Madasari yang jadi proyek baca bareng nya Blogger Buku Indonesia untuk bulan Mei (Buku2 terbitan Gramedia). Maryam membahas tentang nasib pemeluk Ahmadiyah yang sering terusir.  Selengkapnya tentang buku Maryam saya publish 31 Mei nanti.

Saya selalu heran jika melihat, mendengar atau membaca tentang negativitas kolektif di media. Sebenernya semua bermula dari kerusuhan Mei 1998 yang sempat membuat saya seminggu lebih bermimpi buruk. Walau di Bandung sendiri aman jaya. Namun melihat dan mendengar berita kota2 lain di tv membuat saya tercengang. Bagaimana bisa terjadi? Dimana monster2 kejam tersebut selama ini bersembunyi? Kemana hati nuraninya?

Sayangnya setelah itu, banyak kejadian lain yang menyusul. Kerusuhan antar etnis, antar agama, antar suporter fanatik, peristiwa main hakim sendiri dan mungkin yang belum lama ini kita lihat tentang pengusiran pemeluk ahmadiyah yang menelan korban.

Saya membeli buku ini sekitar tahun 2006. Baru dibaca sekarang ck ck ck. Isinya sedikit banyak membuka pemahaman saya tentang mekanisme bagaimana suatu negativitas kolektif bisa terbentuk. Namun memang bahasa nya yang sangat ngelmu membuat saya dalam beberapa bagian harus mengulang2 apa yang dibaca.

“Dan mereka yang takut akan dirinya sendiri cenderung melihat yang lain sebagai ancaman survivalnya, sebagai penyerang. Rasa takut adalah sumber utama takhayul dan salah satu sumber kekejaman.”

Pada intinya, manusia memiliki insting untuk lari dari tanggungjawab sebagai individu, karena konsekuensi berdiri tegak sebagai suatu individu adalah rasa sepi (that I agree). Ditambah dengan kekecewaan, krisis kepercayaan, perasaan tertekan dan tersisihkan dan aneka ketidakpastian di negeri ini cenderung membuat banyak manusia sangat ingin menjadi bagian dari sesuatu at some point they’re willing to believe in anything even in the most senseless and outrageus things.

Suatu negativitas kolektif bermanifestasi menjadi tindakan nyata sebenarnya sangat dipengaruhi oleh banyak faktor luar yang pada titik probabilitas tertentu memiliki komposisi yang tepat dan terjadilah peristiwa2 yang membuat rasa mual muncul tersebut.

Individu yang terseret dalam negativitas kolektif karena sugesti absurd yang ditelan demi menjadi bagian dari sesuatu melihat manusia lain yang disakitinya bukan sebagai manusia. Tetapi sebagai musuh yang mengancam eksistensinya. Oleh karena itu mereka mempercayai tindakan menyakiti manusia lain yang mereka lakukan adalah sesuatu yang benar.

“Massa adalah kuasa di tangan para provokatornya. Individu2 melebur dan tak menyadari diri telah diperalat sebagai meriam-meriam dari darah dan daging untuk membidik kekuasaan lawan2 politik. Manusia2 tanpa wajah itulah korban kuasa.”

Untuk hal2 yang diuraikan di atas buku ini memberi saya jawaban. Namun masih banyak pertanyaan saya yang lebih ke bagaimana mekanisme psikologis & neurologis suatu individu dapat mengabaikan akal sehatnya. Mungkin harus mencari referensi lain untuk pertanyaan ini.

“Sebuah masyarakat yang tidak mempersoalkan kekerasan sudah kehilangan keberadabannya.”

Dear You By Moammar Emka

Penerbit : Gagas Media

Tebal : 392 Halaman

“Hidup itu bukan tentang menunggu badai berlalu, tapi tentang bagaimana belajar menari dalam hujan.”

Quotes yang paling saya sukai dari buku ini justru yang ngga ada kata-kata cintanya. Hehe. Coba berikan buku ini pada saya tahun lalu, mungkin hanya kuat baca 10 halaman terus mulai memecahkan gelas-gelas dan barang pecah belah lainnya.

Tapi di saat ini, after all I’ve been through. Rasanya urusan hati dan perasaan memang susah diatur. Variabel bebas hidup yang memang bisa datang dan pergi kapan saja.

Back to the book, duh.. gimana ya menggambarkan buku ini.. Bentuknya bukan kisah atau cerita, Intinya buku ini berisi  potongan kalimat/ paragraf yang menggambarkan siklus cinta.. Dari mulai jatuh cinta, rindu, patah hati, perpisahan sampe kenangan-kenangan akan kisah cinta..

Untuk manusia seperti saya yang anti gombalisme picisan, buku ini termasuk ke dalam kategori lulus sensor. Bahasanya poetic, ini sungguh nilai tambah karena susah menuliskan kata-kata poetic dalam Bahasa Indonesia, salah-salah kepeleset jadi gombal.

Tapi emang sih sebaiknya buku ini jangan dibaca sekali habis, sedikit-sedikit aja, apalagi kalo lagi ada “apa-apa” dengan perasaan, bisa-bisa jadi pusing kepala sendiri, hehe. Jadi penasaran apa yang menjadi inspirasi sang penulis sampe-sampe bisa mengeluarkan kata-kata tentang cinta segini banyaknya.

Saya belum pernah baca bukunya Moammar Emka soalnya. Ini pertama kalinya karena dulu2 keburu menilai kalo buku2 genre ini “not my cup of tea”. Berhubung  sedang melaksanakan perluasan genre jadi dicobalah, dan ternyata untuk buku ini cukup worthed kok.

Oiya, yang lagi patah hati sebaiknya menunggu tingkat emosional stabil dulu. Dari pada galau dan melamun mengawang-ngawang lagi karena kata-kata dalam buku ini. Hehe.

Berikut adalah beberapa paragraf yang saya suka :

“Tentangmu yang tak mampu kutepikan apalagi kulupakan. Tentangmu yang setia kujaga dan kusimpan rapi di sudut hati terdalam. Inilah kuasa pilihanku. Inilah yang tertulis dihatiku : aku mencintaimu.”

“Kadang cuma butuh satu helaan napas panjang buat menyudahi penat hari ini sambil membayangkan sepotong senyumanmu.”

“Aku ingin mencintaimu tanpa batas waktu. Tidak kini, dulu, apalagi nanti. Aku ingin mencintaimu saja untuk selamanya.”

“Rumah. Sejauh manapun aku melangkah dan berlari, kepadanya juga aku kembali. Karena disanalah hati begitu nyaman berdiam. Ada rindu yang terus bernyawa. Membawa inginku selalu kembali kepadanya.
Rumah itu kamu. Semesta nyaman yang menjalar dan teduh yang berjajar. Menguar rindu yang tak terbilang. Mengeja cinta – tanpa tanda tanya, berulang-ulang. Rumah itu hatimu.”

Ibuku Adalah… By Jazim Naira Chandra, dkk

Penerbit : Leutika

Tebal : 119 Halaman

Terus terang saya beli buku ini karena tergoda sama judulnya. Ternyata isinya adalah antologi curhat dari 37 penulis tentang apa arti sosok seorang Ibu buat mereka. Ada yang menulis dalam bentuk puisi, ada yang menulis dalam bentuk prosa.

Betapa beruntungnya karena sebagian besar penulis yang kisahnya saya baca ini memiliki sosok Ibu yang sungguh luar biasa. Sebagian besar memandang Ibu sebagai sosok panutan hidup yang memang pantang menyerah dan ikhlas melakukan segala sesuatu untuk keluarga. Mereka menuliskan dengan gaya masing-masing tentang betapa luar biasanya sosok Ibu. Saya paham betul. I adore my Mother too..

Namun dari output tulisan pada beberapa bagian saya menjadi bosan karena rata-rata penulis menceritakan hal yang sama. Indah sih. Tapi tidak ada kisah yang berbeda. Atau saya saja yang terlalu banyak berharap ya. Hehe.

Begini pasalnya, tidak semua orang dianugrahi Yang Di Atas sosok seorang Ibu penuh cinta yang bagaikan malaikat. Para Ibu adalah manusia dengan berbagai macam sifat dan tingkah polah pula. Tidak ada kisah yang berbeda misal, anak yang Ibunya pergi meninggalkan keluarga, atau anak yang Ibunya bersifat ignorance , atau anak yang Ibunya memiliki kelainan jiwa, atau anak yang Ibunya bukan Ibu sebenarnya. Kondisi-kondisi tidak ideal tersebut betul-betul ada dan deep down inside saya penasaran bagaimana sang anak akan berpendapat tentang Ibunya.

Ya, para Ibu juga manusia loh. Tugas fitrah seorang anak untuk menyayangi Ibu yang telah mengantarkan sang anak ke dunia. Jika seseorang diberi suatu kondisi luar biasa, bagaimanakah dia akan bersikap atau memandang Ibunya? Hehe.. Terlalu banyak permintaan ya! Atau sebaiknya saya baca antologi curhat para Ibu tentang anak-anaknya aja ya ;p atau mungkin tulis aja buku sendiri, kok banyak protes, kekekek….

Anyway, yang paling ngena di hati saya mungkin tulisannya Endang Ssn. Bahasanya sederhana tetapi menyentuh. Berikut quote tulisan beliau :

Tak ada lautan cinta seabadi milik Ibu, betapapun kita sebagai anak berusaha mengingkarinya. Cintanya selalu hadir dalam bait-bait doa yang lamat dilantunkannya setiap waktu. Pada semua itu aku belajar bahwa cinta tak selamanya butuh balasan. Cinta tulus akan selalu menemukan arahnya sendiri, bahkan justru akan membawanya kembali pulang kala ia berusaha menjauh. Cinta yang menempati hakikatnya sebagai cinta, itulah yang selalu nyata pada cinta yang Ibu tawarkan.

Ada beberapa paragraf dari penulis lain yang membuat saya nyengir dan bergumam ini bener banget nih. Diantaranya tulisan Fauziah Harsyah berikut :

Hebatnya, Ibuku selalu tahu jika aku merasa kesepian, entah sinyal mana yang menyampaikan rasaku padanya hingga ia menelepon menanyakan keadaanku. Ternyata sinyal nurani Ibu lebih kuat daripada sinyal operator.

Atau tulisan semi ceplas ceplos nya Mieny Angel yang cukup berbeda dan menghibur karena memang tidak semua orang bisa ekspresif menggambarkan rasa kasih sayang :

Mak, mereka semua bilang sayang dan membanggakan Mamak masing-masing. Aku suka kalau Mamak tidak iri dengan mereka. Kalau Mamak iri aku yang susah, hehehe, pasalnya aku orang yang malu mengakui atau berucap ‘Aku sayang Mamak’. Bukan gengsi, tapi entah rasanya gimana gitu. Yang jelas Mamak itu di hatiku. Kalau tidak ada Mamak, maka tak hadir seorang aku.

Hayo, kalo anda ditugaskan untuk meneruskan kalimat “Ibuku adalah…….” Apa yang akan anda tulis?? 😀

Nguping Jakarta

Penerbit : B First

Tebal : 215 Halaman

Ya ampun buku ini sukses membuat saya ketawa cekikikan ala kunti sendiri tengah malem. Hehehe. Jadi, buku ini isinya adalah potongan-potongan pembicaraan yang absurd dari penghuni Ibukotajakartarayamegapolitan yang ngga sengaja didengar orang lain dan dilaporkan kepada makelar, si kuping kiri dan si kuping kanan.

Awalnya mereka menulis isi pembicaraan2 tersebut dalam situs ngupingjakarta.blogspot.com sebelum akhirnya diterbitkan dalam format buku seperti sekarang. Blog ini suka saya buka di  kantor kalo lagi suntuk dan biasanya sukses ngebuat saya ketawa cekakakan sendiri di ruangan.

Potongan-potongan pembicaraan dikelompokkan ke dalam enam bagian : Cerahnya dunia pendidikan kita, Saat kecepatan suara lebih tinggi dari kecepatan pikiran, Gagap (ngomong) teknologi, Tepuk jidat berjamaah, Cerita keluarga tanpa rencana dan Diantara Kantor, klien dan tenggat.

Pokoknya buku ini cocok banget buat yang lagi ingin menghibur diri dan ngga keberatan dilirikin orang-orang gara-gara ketawa-ketawa sendiri wkwkwk.

Berikut beberapa contoh isi pembicaraan absurd tersebut :

Cerahnya dunia pendidikan kita

Awas Kalo Dia Sampai Bersin-bersin Kedinginan

Mahasiwa : Woi, mana flashdisk lo, mau presentasi nih… (…) Mana tutupnya? Nanti kena virus loh!”

Fakultas ilmu komputer di Depok, di dengar oleh dosen yang kehilangan harapan.

Saat Kecepatan Suara Lebih Tinggi daripada Kecepatan Pikiran

Yang Pasti Ponsel Gak Bakalan Low Batt

Cewek : “Grup yang kemarin ke Pulau Seribu itu memang beda kelas sama kita. Kalo mereka, kan, golongan genset, jadi maunya semua serbanyaman dan enak.”

Warung bakso di Jakarta, didengar oleh semua teman yang langsung memesan solar supaya dibilang elit.

Gagap (Ngomong) Teknologi

Sekarang Semua Bisa Di-Google

Wartawan : “Lalu, apa yang membuat Mbak yakin mencalonkan diri?”

Artis : “Gue memang nol di politik, tapi gue baca buku dan internet, kok.”

Didengar oleh pemirsa televisi yang langsung berniat Golput seumur hidupnya.

Tepuk Jidat Berjamaah

Memang Lebih Pintar Dari Pemiliknya

Pramugari “Pak, tolong HP nya dimatikan.”

Penumpang : “Mbak, gak tahu ya? Ini bukan HP, ini BlackBerry.”

Didengar penumpang lain yang ingin mengunci si penumpang dalam bagasi.

Cerita Keluarga Tanpa Rencana

Dan Jangan Belajar, Nyontek Aja.

Sepupu : “Kamu suka pelajaran Fisika, gak?”

Anak : “Gak suka, abis bosenin. Kalo lagi bosen, biasanya aku tidur di kelas.”

Ayah : “oh, masih mending. Dulu waktu Ayah sekolah, kalo lagi bosen, Ayah bolos aja.”

Didengar oleh Ibu yang memutuskan untuk menjauhkan si anak dari ayahnya.. setidaknya sampe si anak lulus kuliah.

Di Antara Kantor, Klien, dan Tenggat

Lain Kali Ajak Nonton Film 2012

Marcomm Manager : “Eh, nonton Fantastic Four yang baru, yuk, ntar malem?”

Project Manager : “Aduh mau banget. Tapi gue belum nonton yang 1 sampai 3 nih, takutnya ngga ngerti.”

Di sebuah ruangan kantor bank asing di Jakarta, didengarkan oleh tetangga-tetangga kubikelnya sambil cekikikan.

Pak Harto The Untold Stories By Donna Sita Indria, Anita Dewi Ambarsari

Penerbit :  PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal  : 603 Halaman

Pada akhirnya, sejarah akan menilai Soeharto secara adil. Beliau harus diberi tempat yang terhormat dalam sejarah Indonesia.” – Lee Kuan Yew

Apa yang terjadi di benak seorang saya ketika menonton Pak Harto mengundurkan diri? Saat itu saya baru saja masuk SMA. Bahkan ketika itu saya bisa merasakan para brutus, orang-orang Asal Bapak Senang (ABS), menusuk dari belakang. Mereka adalah orang-orang yang membuat saya mual hanya dengan memikirkannya. Setelah sebelumnya dengan mulut penuh madu mengatakan “Rakyat masih menginginkan bapak untuk memimpin Indonesia” dalam sekejap mereka bisa berbalik dan melemparkan semua kesalahan. What a looser. But that’s politic and that’s why i loathe it.

Melihat hujatan yang kejam dan euforia yang berlebihan, saya ketika itu berfikir, that’s not how you treat your former president. Very disrespectful. Sebagaimana tidak ada manusia yang sempurna, seorang pemimpin pun tidak ada yang sempurna.

Dari helicopter view agaknya dapat kita pahami bahwa perencaanaan dan eksekusi yang Pak Harto lakukan melalui Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) dan Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) belum ada yang bisa menyamai. Beliau merencanakan dan beliau melaksanakan rencana itu.

Agak sulit mencari pemimpin yang bisa melaksanakan implementasi secara jitu dan tepat sasaran. Lebih banyak pemimpin yang sibuk menstabilkan kekuasaan daripada menstabilkan bangsa dan negara. Pembangunan infrastruktur, swasembada pangan, pengendalian penduduk melalui program KB, PKK dan Posyandu, diperhitungkannya Indonesia dalam percaturan Asia bahkan dunia, and i always wonder why we always win at Sea Games at Pak Harto era?

Buku ini sungguh akan membantu orang-orang untuk memahami, memahami Pak Harto dari sisi yang sama sekali lain dan mungkin tidak pernah terekspos kepada media. 113 tulisan dari 113 orang yang berbeda betul-betul berkisah tentang Pak Harto sebagai manusia biasa. Memang ada beberapa tulisan yang memang hanya menceritakan diri atau keberhasilan mereka sendiri, namun lebih banyak tulisan yang betul-betul menyentuh dan menceritakan Pak Harto sebagai pribadi.

Ketika hujatan dan fitnah berdatangan, beliau hadapi semuanya dengan tabah dan sabar karena beliau yakin kepada Yang Maha Kuasa, ‘Gusti Allah mboten sare (Tuhan tidak tidur), sing becik ketitik, sing olo ketoro (yang baik akhirnya akan tampak, yang buruk akan terlihat)’, itu yang selalu beliau katakan.” – Siti Hutami Endang Adiningsih

Harus dipahami bahwa kadang sebagai seorang pemimpin, kita harus mengambil keputusan yang tepat untuk jangka panjang. Dan terkadang keputusan-keputusan tersebut bukan keputusan populer yang diinginkan oleh orang banyak. Dari apa yang saya pahami dari buku ini Pak Harto selalu berani untuk menempatkan dirinya di dalam posisi yang tidak populer demi kestabilan negara yang memang pondasi dari pelaksanaan pembangunan. Kalo negara terus-terusan tidak stabil, bagaimana pembangunan bisa dilaksanakan?

Ada beberapa tulisan yang sangat berkesan buat saya, salah satunya adalah tulisan Emil Salim tentang bagaimana pada suatu waktu Pak Harto memberikan perintah larangan menembak kawanan gajah di Palembang, Pak Harto malah memerintahkan para tentara untuk mengawal kawanan gajah kembali ke habitatnya dengan perangkat bunyi-bunyian.

Tidak pernah sekalipun Pak Harto melemparkan kesalahan pada orang lain. Hanya orang besar yang dapat melakukan hal itu. Ketika jabatan Presiden RI tidak lagi beliau sandang, hujatan dan caci maki semakin ramai dan nyaring diteriakkan. Pak Harto diam dan tidak berusaha membela diri. Seluruh beban dipikulnya sendiri.” – Anindyati Sulasikin Murpratomo

Setelah upacara selesai, saya mengantarkan Pak Harto ke mobil. Saya bilang, ‘Bapak kan masih dalam pemulihan kesehatan, tetapi kuat melalui seluruh acara tadi. Saya jadi ingin tahu dimana rahasianya. Apa jamunya Pak?’. Pak Harto berhenti sebelum masuk mobil. Disalaminya tangan saya dan ditatapnya wajah saya. Sejurus kemudian beliau berkata.’Tidak ada apa-apa. Rahasianya Cuma satu, ikhlas. Apapun yang kita hadapi, kita harus hadapi dengan ikhlas.”-Muhammad Alwi Dahlan.

Tulisan Fadli Zon memberikan pemahaman bahwa krisis moneter kala itu terjadi karena Global Capital Movement, dan sama sekali tidak bisa dihindari. Belum lagi karena diagnosis dan obat yang salah dari IMF. Sebenarnya ketika itu jika saja Pak Harto mau mempertahankan kekuasaannya dan mengadakan perlawanan, tentu ia sangat mampu. Namun sebagaimana yang beliau sampaikan kepada anak-anaknya di malam sebelum pengunduran diri, ketika empat belas menteri pilihannya mengundurkan diri dari kabinet :

“Karena keadaan sudah semakin kacau dan saya tidak mau terjadi pertumpahan darah antar sesama rakyat Indonesia, saya sudah memutuskan untuk mengundurkan diri dan berhenti dari jabatan saya sebagai presiden. Biarlah nanti sejarah yang akan membuktikan apa yang sudah Bapak dan Ibumu lakukan untuk negara dan bangsa ini.”

Ada satu kisah yang membuat saya sesenggukan. Kisah Munari Ari yang dulu adalah pengamen di jalanan yang setiap hari Pak Harto lewati di Jakarta. Alkisah Munari muda dan beberapa teman pengamennya ingin memberi hormat kepada iring-iringan mobil yang lewat. Kali pertama mereka berhasil melakukannya dengan mengecoh petugas pengamanan, walau akhirnya diusir. Namun setiap hari mereka melakukannya hingga lama kelamaan setiap melewati jalan itu iring-iringan kendaraan selalu memperlambat kecepatan. Suatu saat kaca hitam jendela belakang mobil RI 1 turun dan munculah senyuman khas Pak Harto.

Betapa kagetnya ketika suatu hari Munari Ari dkk dipanggil untuk menyanyi di acara ulang tahun pernikahan Pak Harto dan Ibu Tien. Dari sana pintu rejeki terbuka untuknya.

Terserah orang bilang apa saja mengenai Pak Harto. Bagi saya, budi baik Pak Harto tak terbalaskan. Saya adalah bukti nyata bahwa Pak Harto adalah pemimpin yang sangat memerhatikan rakyatnya dan suka mengangkat nasib orang kecil seperti saya.”-Munari Ari

Belum lagi kisah para saksi mata tentang bagaimana saling mencintainya Pak Harto dan Ibu Tien. Pasangan hebat yang membumi dan saling melengkapi. Dan betapa amat sangat kehilangannya Pak Harto ketika Ibu Tien meninggal dunia.

Buku ini sebaiknya dibaca oleh generasi muda saat ini. Agar dapat lebih menghargai sisi positif dari tokoh yang memang sudah banyak melakukan banyak tindakan nyata dalam membagun Indonesia. Agar dapat lebih memahami betapa sulit dan peliknya menjaga persatuan negara kita yang secara geografis dan budaya sangat beragam.

Dendam politis tidak akan membawa kita ke tempat yang lebih baik. Terlepas dari kekurangan yang banyak terjadi. Seperti yang dikemukakan Lee Kuan Yew, hendaknya kita menilai sejarah secara adil. Bukan hanya dari kacamata pemenang.

Jika kamu memberi sesuatu, tulislah itu di pasir agak dapat terhapus, tetapi jika kamu diberi sesuatu pahatlah dibatu, agar selalu teringat.”- (alm) HM Soeharto