The Girl on the Train By Paula Hawkins

“I have never understood how people can blithely disregard the damage they do by following their hearts”

22557272Saya membaca buku ini lebih dari setahun yang lalu. Hiatus menulis review sempat membuat saya dapat melupakan betapa menyebalkannya Rachel, sang tokoh utama dalam buku ini. Kasihan sekaligus sebal sebenarnya sih. Hehehe.

Tapi setiap kali saya membaca buku lain yang tokoh utamanya menggemaskan (akhir-akhir ini saya baca buku Luckiest Girl Alive-nya Jessica Knoll) saya selalu teringat kembali kepada neng Rachel.

Jadi begini kurang lebih ceritanya..

Alkisah princess Rachel menikah dengan prince charming Tom. Mereka pun pindah ke rumah idaman dimana keluarga mereka akan dibangun. Rachel dan Tom tentu saja berharap hidup mereka akan bahagia selama-lamanya. Happily ever after bak cerita dalam dongeng.

Lalu kemudian Rachel tidak kunjung mengandung. Mereka berdua mulai mencoba segala cara untuk kemudian menghadapi kegagalan demi kegagalan. Rachel kemudian mulai stress dan merasa gagal sebagai wanita. Ia tidak bisa bangkit dan malah menjerumuskan dirinya sendiri kedalam kebiasaan minum minuman keras.

Waktu terus berjalan, kebiasaan minum-minum Rachel menjadi semakin buruk, pada waktu-waktu tertentu ia mabuk parah hingga mengalami black out. Sama sekali tidak dapat mengingat hal-hal terakhir yang ia lakukan.

Seperti bisa ditebak, Tom merasa terabaikan. Alih-alih mendampingi Rachel melalui depresinya, prince charming Tom malah selingkuh dengan seorang wanita yang jauh lebih muda dari Rachel yang bernama Anna.

Rachel dan Tom bercerai. Rachel pun keluar dari istananya untuk kemudian menghadapi kenyataan bahwa Tom sang former prince charming menikahi sang selingkuhan dan memboyongnya masuk ke rumah yang dulu mereka tinggali. Tidak lama kemudian Anna hamil dan mengkaruniai Tom seorang putri cilik yang cantik.

Jleb.. Jleb.. Jleb..

Rachel sekarang tinggal di apartemen temannya yang bernama Cathy. Ia masih belum bisa melepaskan kebiasaan mabuk-mabukannya. Ketika Rachel sedang mabuk berat ia seringkali menelepon  Tom dan merecokinya dengan racauan-racauan. Ini membuat Anna membenci Rachel yang terus-terusan mengusik rumah tangganya (which in my opinion she has no right to object since she’s the homewrecker in the first place).

Seperti bisa ditebak, Rachel pun tidak bisa mempertahankan pekerjaannya. Namun demi mengelabui teman seapartemennya bahwa ia masih bekerja (dan tidak akan diminta pindah dari apartemen Cathy), Rachel pun setiap hari masing melakukan commuting dari apartemen ke tengah kota dengan menggunakan kereta, hanya untuk mabuk di tempat lain dan pulang lagi ke apartemen.

Kereta yang Rachel naiki setiap hari selalu melalui perhentian dimana pemandangan yang ia lihat di luar jendela adalah daerah rumah lamanya. Ada satu rumah yang selalu Rachel amati, di dalamnya ia dapat melihat bahwa rumah itu ditinggali sepasang suami istri muda yang cantik dan ganteng. Pasangan ideal. Setiap hari pun Rachel selalu mengamati kegiatan pasangan muda itu. Rachel bahkan menamai mereka Jess dan Jason.

Pada suatu pagi Rachel melihat pemandangan yang membuat ia terkaget-kaget, ia melihat Jess di beranda memeluk dan mencium pria yang bukan Jason. Di hari itu Rachel mabuk berat, ia terbangun di apartemennya dengan keadaan berantakan, terluka dan berdarah. Rachel sama sekali tidak dapat mengingat apa yang terakhir kali ia lakukan.

Tidak lama setelah itu Rachel melihat bahwa seorang wanita muda bernama Megan dilaporkan hilang, Megan tak lain adalah Jess yang setiap hari Rachel lihat dalam perjalanan keretanya. Yakin bahwa pemandangan yang ia lihat (Jess/Megan mencium pria lain) ada kaitannya dengan hilangnya Megan, Rachel memutuskan untuk melaporkan ke polisi tentang apa yang ia lihat.

Bagaimanapun Rachel adalah saksi mata yang tidak credible, seorang pemabuk yang tidak dapat mengingat apa yang ia sendiri terakhir kali lakukan. Ditambah lagi sang mistress Anna melaporkan juga kepada polisi bahwa di malam kejadian ia melihat Rachel berkeliaran di daerah sekitar perumahan mereka. Jadilah Rachel semakin terjerumus kedalam penyelidikan hilangnya Megan.

Dan layer demi layer cerita membuat kita jadi tau bahwa segala sesuatu tidak seindah apa yang terlihat dan membuat kita semakin penasaran apa yang sebenarnya terjadi dengan Megan. Dan akankah neng Rachel eling and straighten out herself?

Point of view dalam buku ini sebenarnya berganti-ganti antara Rachel, Megan dan Anna. Dari cerita masing-masing tokoh itu kita jadi tau bahwa masing-masing tokoh memiliki kekurangan dan kesalahan masing-masing. Yang paling bikin gemes tentu saja point of view Rachel karena ancur-ancuran banget, menyedihkan dan bikin kasihan sekaligus sebel.

Tapi saya bisa mengerti sih obsesi Rachel terhadap Jess & Jason. Kalo mengamati orang di kendaraan umum atau di lift, saya juga sering mengarang-ngarang tentang kehidupan mereka seperti apa dan berfikir bahwa they seem very happy with their life. Hehe.

Buat yang suka genre mistery, thriller & suspense, buku ini seru juga buat dibaca dan susah loh berhenti bacanya. Hehehe.

3.5 bintang dari saya untuk buku ini.

“I have lost control over everything, even the places in my head.”

“When did you become so weak?” I don’t know. I don’t know where that strength went, I don’t remember losing it. I think that over time it got chipped away, bit by bit, by life, by the living of it.”

Dracula By Bram Stoker

17238Format : librivox.org Audiobook

Adalah Jonathan Harker, seorang penasehat hukum, yang pada suatu waktu menerima perintah dari Biro Hukumnya untuk pergi ke tempat seorang klien bernama Count Dracula yang tinggal di suatu tempat bernama Transylvania.

Jonathan Harker mengganggap penugasan tersebut sebagai petualangan dan cukup bersemangat untuk menyelesaikannya. Sepanjang perjalanan, Jonathan selalu menulis jurnal tentang pengalamannya dari hari ke hari, dan juga menulis surat kepada kekasihnya Wilhelmina Murray.

Melalui jurnal dan surat-surat tersebutlah kita memperoleh narasi tentang pengalaman Jonathan Harker di Transylvania.

Fyi, gaya penulisan novel ini memang memiliki format epistolary, yaitu penceritaan berdasarkan jurnal dan juga surat dari tokoh-tokoh utamanya, dan juga dokumen-dokumen tertulis lain seperti Log Book kapal atau berita di surat kabar.

Gaya penceritaan model ini, menambah unsur misteri di keseluruhan jalan cerita dan juga memberikan kesempatan kepada pembaca untuk melihat suatu kejadian dari berbagai sudut pandang tokoh utamanya.

Kembali ke cerita. Dalam perjalanan menuju kastil Count Dracula, Jonathan mulai menemui hal-hal misterius. Diantaranya adalah nyaris diserang oleh sekumpulan Serigala, dan ketika singgah di suatu tempat istirahat menuju kastil tersebut, setelah bercerita tentang tempat tujuannya, oleh pemilik tempat istirahat Jonathan dibekali salib untuk dikalungkan. Untuk melindungi Jonathan, ujar si pemilik tempat istirahat. Weird.

Sesampainya di Kastil, Jonathan bercerita tentang aura misterius tempat tersebut, dan juga tentang Count Dracula yang dingin, tidak pernah sekalipun terlihat makan, dan juga memilih waktu-waktu yang ganjil untuk berkonsultasi kepada Jonathan tentang prosedur pembelian rumah di London serta permasalahan hukum lainnya.

Count Dracula sangat tertarik dengan London. Itu kesan kuat yang didapatkan oleh Jonathan.

Setelah beberapa hari Jonathan menyadari bahwa ia tidak pernah melihat siapapun di dalam kastil tersebut. Hanya ia dan Count Dracula. Jonathan pun perlahan sadar kalo sebenarnya ia adalah seorang tahanan di Kastil tersebut.

Pada suatu malam ketika nyenyak tertidur, Jonathan mendengar suara-suara di kamarnya. Mengintip melalui kelopak matanya yang tertutup, Jonathan melihat tiga wanita yang cantiknya tidak manusiawi sedang memandangi Jonathan yang tertidur. Ia menjuluki mereka the tree sisters. Ketika salah satu dari perempuan itu merundukkan mukanya ke arah Jonathan, ia diselamatkan oleh Count Dracula yang segera mengusir perempuan-perempuan itu.

Yang membuat Jonathan ketakutan adalah bahwa ketika Count Dracula tiba-tiba muncul, ia membawa sebuah karung. Dan apa yang Nampak merupakan isi dari karung tersebut, Jonathan menduga, adalah tubuh seorang anak kecil.

Jonathan pun mulai menyelidiki kastil tersebut. Ia menyaksikan Count Dracula mampu merayap di dinding kastil. Dan juga menemukan tempat istirahat dari Count Dracula yang tidak lain berupa sebuah peti mati.

Jonathan takut setakut2nya.

Narasi kemudian beralih ke log book sebuah kapal yang tiba di London dalam keadaan kosong dan hanya menyisakan kapten kapal. Semua kru kapal hilang di perjalanan. Melalui jurnal sang kapten kita mempelajari bahwa ia beberapa kali melihat seorang laki-laki tinggi kurus asing berkeliaran di kpalnya. Dan juga muatan aneh berupa 50 peti mati yang konon berisi tanah dari Trasylvania. Setibanya di pelabuhan London, sang kapten melihat seekor serigala besar melompat dari kapalnya.

Dari sini cerita beralih ke tunangan Jonathan, Wilhelmina Murray. Melalui jurnal Mina, begitu ia biasanya dipanggil, dan juga surat-surat Mina kepada sahabat karibnya Lucy Westenra, pembaca bisa menduga-duga apa yang terjadi.

Setelah beberapa waktu Mina mengkhawatirkan tunangannya yang hilang tanpa kabar, ia akhirnya berhasil menemukan Jonathan yang ternyata jatuh sakit dan menderita demam otak. Tidak ada yang tahu kapan dan bagaimana Jonathan kabur dari kastil di Trasylvania.

Jonathan yang baru sembuh akhirnya meminta Mina untuk menikahinya. Namun sebelumnya menyerahkan jurnalnya kepada Mina, untuk ia baca dan setelah itu untuk baru memberikan keputusan apakah ia mau menikahi Jonathan.

Mina bersedia untuk menyimpan jurnal tersebut, namun menolak untuk membacanya karena ia percaya sepenuhnya pada Jonathan. Mereka pun menikah dengan bahagia.

Sementara itu di tempat lain, sahabat Mina, Lucy Westenra tiba-tiba menderita sakit berat. Tubuhnya tampak pucat dan tidak berdaya. Tunangan Lucy, Arthur Holmwood kemudian meminta bantuan temannya, seorang dokter bernama John Seward.

Karena penyakit Lucy yang hanya aneh dan hanya bisa disembuhkan dengan transfusi darah, John Seward pun akhirnya meminta bantuan kolega nya Abraham Van Helsing.

Legenda Vampir, sesungguhnya telah ada untuk waktu yang sangat lama. Abraham Van Helsing, ternyata adalah salah satu orang yang familiar dengan legenda-legenda tersebut. Penyakit Lucy, membuat Van Helsing memiliki dugaan tertentu. Van

Helsing kemudian mencoba melidungi Lucy dengan barang-barang yang menurut mitos dapat menangkal Vampir. Namun demikian Lucy terus menerus memerlukan transfuse darah. Arthur Holmwood, John Seward dan juga Van Helsing telah menyumbangkan darah mereka untuk Lucy.

Ketika Lucy masih membutuhkan darah, mereka pun mencari orang lain yang dapat melakukannya. Bertemulah ketiga orang tersebut dengan pemuda yang bernama Quincy Jones, yang ternyata pernah melamar Lucy namun ditolak olehnya (John Seward juga pernah melamar Lucy namun ditolak juga).

Ketiga pemuda yang sama-sama mencintai Lucy, dan juga Van Helsing telah berusaha sebisa mereka untuk menyelamatkannya. Namun apa daya, Lucy Westenra akhirnya meninggal. Anehnya, setelah meninggal tubuh Lucy secara fisik terlihat lebih sehat dan lebih hidup serta jauh lebih cantik, daripada sebelumnya. Ketiga pemuda itu pun berduka.

Dan Van Helsing tau bahwa permasalahannya tidak akan berakhir disini.

Beberapa hari kemudian, sebuah berita di surat kabar memberitakan tentang sebuah fenomena aneh. Dalam beberapa hari terakhir kerap terjadi kejadian “anak hilang”. Anak2 tersebut selalu hilang menjelang malam, dan pada pagi harinya ditemukan kembali di tempat-tempat umum. Anak-anak yang ditemukan tersebut selalu memiliki dua bekas gigitan kecil di lehernya.

Mereka mengaku dibawa oleh seorang bloofer lady (beautiful lady). Menarik kan?

Abraham Van Helsing, Athur Holmwood, John Seward, dan Quincy Jones akhirnya berkorespondsi dan bertemu dengan Jonathan dan Mina Harker. Mereka berenam pun mengakurkan cerita mereka. Akhirnya mereka membentuk persekutuan untuk memburu mahluk bernama Count Dracula. Dan disinilah cerita menjadi amat sangat seru dan membuat penasaran.

Dan jangan salah, Count Dracula pun tidak akan menyerah tanpa perlawanan.

Seruuuuuuuuuuuuuuuu deh!!

Yang jelas buku Dracula nya Bram Stoker ini menjadi cerita gothic yang menjadi trendsetter vampirisms. Buku klasik yang harus dibaca… Itu juga kalo kamu berani! Hihihi..

Mata Air Kumari By Yudhi Herwibowo

20130530-122227.jpg

Penerbit : Bukukatta
Tebal : 136 Halaman

Peringatan : Kalo anda gampang gentar jangan coba-coba membaca cerpen ini malam-malam sendirian, hehe. Nanti nasibnya seperti saya yang merinding sendiri di dalam gerbong kereta sepi malam hari begitu sampai ke cerita tentang Ana Bakka! Hiiiiiii.

Kayaknya baru kali ini deh saya memberi 5 bintang pada buku kumpulan cerpen. Terlebih lagi kumpulan cerpen Indonesia. Mungkin memang cerita-cerita pendek di buku ini selera saya banget. Yang jelas begitu nutup buku langsung tertegun saking dibuat merindingnya oleh beberapa cerita di buku ini.

Secara keseluruhan terdapat 14 kisah dalam kumpulan cerpen ini. Genre setiap cerpen adalah campuran misteri, horror, dan magic realisme. Beberapa subjek cerita sudah kita jumpai dalam beberapa buku Yudhi Herwibowo yang lain seperti cerita tentang Kitta Kadafaru dan cerita tentang para Tiku (gerombolan perampok).

Ada beberapa cerita yang ingin saya highlight dari koleksi ini. Beberapa cerita yang menurut saya paling istimewa dan nendang banget, hehe. Berikut top five stories dari keempatbelas koleksi yang ada:

5. Bayi Baboa
Kisah ini adalah tentang seorang dokter wanita bernama Linda Dethan yang berpraktek di sebuah kota kecil bernama Rimolaka, sekitar 50 km sebelah utara kota Ende, Nusa Tenggara Timur.

Suatu ketika selesai praktek di kliniknya, dalam perjalanan pulang Linda di hentikan oleh seorang wanita yang menduga anaknya digigit ular. Ia pun segera mengikuti wanita yang ternyata bernama Magdalena itu.

Bayinya ternyata tidak apa-apa. Magdalena rupanya panik karena melihat dengan mata kepala sendiri ada ular baboa di dalam tempat tidur bayinya. Setelah ia berteriak ular itu pun pergi ke arah jendela dan Magdalena pergi mencari dokter.

Selang beberapa hari berlalu, Magdalena tiba-tiba datang ke tempat praktek Linda. Ia terlihat galau karena ular baboa itu muncul lagi di samping bayinya. Magdalena galau justru karena ular itu tidak mengigit bayinya. Dia khawatir bahwa bayinya adalah jelmaan setang (setan)!

Rupanya terdapat kepercayaan bahwa bila bayi baru lahir didatangi ular baboa, ia akan menjadi anak yang jahat dan durhaka pada orang tua. Ini bukan kejadian pertama, dan kejadian-kejadian sebelumnya selalu berakhir dengan Sang Ibu dengan tega membuang bayinya sendiri.

Sebagai dokter bagaimana Linda akan bersikap? Adakah itu hanya cerita karangan masyarakat setempat saja?

4. Dua Mata Perak
Dua mata perak adalah cerita tentang seorang wanita tuna susila yang tinggal berdua bersama anak perempuannya yang berumur 6 tahun, Aritha.

Aritha terlahir terlahir dengan dua mata perak yang membuatnya tidak dapat melihat. Terlepas dari hal itu, Aritha tumbuh menjadi anak yang kuat.

Namun ntah kenapa perempuan itu merasa Aritha belakangan ini banyak melakukan perlawanan diam terhadap dirinya. Aritha yang tadinya tidak pernah keberatan pada kenyataan ia banyak membawa lelaki ke rumah akhir2 ini menghatuinya dengan kedua mata perak itu.

Perempuan itu merasa takut kepada pandangan mata anaknya. Di kedua mata perak itu ia seolah-olah melihat bayangan kematian.

3. Anak Nemang Kawi
Cerita ini berlatar belakang di papua. Dengan tokoh seorang anak lelaki berumur 12 tahun yang mencoba membuktikan kepada teman-temannya bahwa ia juga adalah seorang anak yang pemberani, walaupun dengan perbuatannya itu ia telah melanggar larangan Ibunya.

Apa bentuk tantangan yang harus ia lalui itu?

Ia hanya harus mendaki bukit bernama Anak Nemang Kawi. Pada ajakan pertama ia menolak teman2nya karena ingat pada peringatan sang Ibu : Anak Nemang Kawi adalah tempat yang berbahaya, banyak orang jahat disana. Anak Nemang Kawi menurut Ibunya adalah tempat orang-orang mati.

Penolakan atas tantangan teman-temannya membuat ia diejek-ejek sebagai anak penakut dan pengecut. Oleh karena itu ia sekarang akan membuktikan keberaniannya dengan mendaki bukit itu sendirian, walaupun hati kecilnya tetap memperingati bahwa tindakannya salah. Ia bukan seorang pengecut.

2. Keris Kyai Setan Kober
Pernahkah terpikir oleh anda bahwa sebuah keris bisa memiliki ambisi?

Ya, ia adalah sebuah keris yang diciptakan seorang empu sakti dengan kemampuan terakhirnya. Ia ditempa dengan mantra-mantra sakti, ditemani dengan bayang-bayang gelap dan suara-suara bisikan dan gelak tawa yang licik.

Terbentuk sempurna dengan wilah 13 lekukan, sang keris pun tercipta sempurna dengan dilingkupi oleh bayang-bayang gelap dan dingin.

Lama terlupakan, keris itu haus akan petualangan. Ambisi untuk membuktikan kehebatannya semakin memuncak karena ejekan-ejekan dari bayang-bayang gelap yang menyelimutinya. Ia marah, dan mencari tuan yang layak untuk memilikinya.

1. Ana Bakka
Rombongan dokter muda dari Dinas Kesehatan Provinsi mendapatkan tugas untuk mengunjungi Desa Mafat-to, tiga jam dari Kota Kupang.

Salah satu dari rombongan itu adalah seorang dokter perempuan bernama Winda. Mereka memilki misi untuk melaksanakan survey perihal busung lapar.

Di tengah pelaksanaan survey Winda terhenyak melihat seorang anak perempuan yang terduduk di tanah. Kaki anak itu dipasung dengan kayu besar dari pohon kelapa.

Tanpa memperdulikan peringatan dari warga bahwa anak perempuan itu gila, Winda nekat mendekatinya. Ana Bakka, anak perempuan itu terlihat tak berdaya dan mengenaskan.

Terlepas dari cerita absurd penduduk desa bahwa Ana telah membunuh Ibunya sendiri, bahwa fam Bakka adalah fam jahat dan semua leluhurnya merupakan orang tidak baik. Winda bertekad harus menyelamatkan anak perempuan malang itu, Ana Bakka.

PS : Postingan juga dibuat dalam rangka posting bareng Blogger Buku Indonesia edisi bulan Mei 2013 untuk kategori kumpulan cerita 🙂

The Eye Of The Moon By Anonymous (Bourbon Kid #2)

Penerbit : Michael O’Mara Books Limited

Tebal : 380 Halaman

Pheeew.. Udah lumayan lama juga saya baca buku pertamanya The Book With No Name.. Waktu itu saya baca terjemahan dari penerbit Kantera, setelah ditunggu2 sequelnya The Eye Of The Moon ini ngga juga terbit jadi ya sudah beli yang bahasa inggrisnya saja.

Setelah baca mungkin akan lebih seru lagi kalo saya baca yang bhs inggrisnya saja dari buku pertama. Banyak banget jokes yang agak ganjil kalo diterjemahin ke bahasa indonesia. Di akhir buku pertama kita akhirnya ngeh kalau Santa Mondega adalah kota antah berantah yang ternyata memang dipenuhi oleh vampir, warewolf dan berbagai macam mahluk mati tapi hidup lainnya.

Setelah keributan berdarah di Bar Tapioca milik Sanchez, sang tokoh utama dalam buku ini, si Bocah Bourbon yang berdarah dingin menyangka kalo perempuan jadi2an yang bernama Jessica telah ia bunuh dengan bantuan Dante (manusia biasa yang kebetulan akhirnya tahu mahluk macam apa Jessica sebenarnya). Padahal kemudian Jessica lagi2 diselamatkan oleh Sanchez yang konyolnya sebenarnya tidak mengerti apa yang terjadi.

Si Bocah Bourbon kemudian berhasil membunuh musuh lain yang konon tidak bisa mati dan pergi untuk membantai para biarawan Hubal dan merebut The Eye of The Moon. Ia berhasil membantai para biarawan tersebut, namun salah satu biarawan muda, Peto (yang juga telah menginjakkan kaki di Santa Mondega) berhasil selamat dan membawa serta batu yang diperebutkan itu.

Di buku kedua yang tidak kalah sadis dan penuh darah, cerita dibuka dengan flashback ke berbelas tahun yang lalu. Tentang masa lalu si Bocah Bourbon yang menyebabkan ia menjadi seperti sekarang. Tentang alasan di balik selalu selamatnya Sanchez dari pembantaian yang dilakukan si Bocah Bourbon dan kenapa ia mencari batu bertuah The Eye of The Moon.

Di sisi lain, sesuatu yang mengerikan terbangkitkan ketika si Bocah Bourbon membunuh pemimpin biarawan Hubal. Sesuatu yang mengerikan itu mencari sesuatu yang telah ribuan tahun dicuri darinya. Matanya, The Eye of The Moon.

Sementara itu Peto, setelah seluruh isi biaranya mati dibantai, kembali ke Santa Mondega dengan misi gila untuk menyembukan si Bocah Bourbon dari penyakit kejam dan haus darahnya. Dante dan pacarnya Kacy pun ternyata tidak dapat lari dari Santa Mondega dan malah terlibat semakin jauh ke dalam plot para mahluk jadi2an yang berniat mencelakakannya dan Kacy.

Dan Sanchez dengan keculunan tingkat tingginya tetap melakukan hal2 tidak disengaja yang sebenarnya sangat berpengaruh ke dalam seluruh jalan cerita. Kesimpulan saya, sequel The Book With No Name ini jauh lebih seru dari buku pertamanya. Apalagi setelah tahu kalo si Bocah Bourbon dulunya anak biasa yang juga mengalami cinta monyet (yang sayangnya berakhir tragis) dan punya keluarga (yang sayangnya juga berakhir tragis) ;p.

Akhir kata, jangan sekali-kali mau datang ke Santa Mondega atau berkenalan dengan orang-orang yang berasal dari sana. Salah2 ketularan kengerian yang tertimpa pada para penghuninya. Hehehe.

The Girl Who Kicked The Hornets’ Nest By Stieg Larsson

Penerbit : Quercus

Tebal : 743 Halaman

Dear God.. Sesunggunya lebih dari sekedar sarang lebah (hornets’s nest) yang terusik oleh sepak terjang Lisbeth Salander, our heroine di buku ketiga dari Millenium trilogi ini. Sangat senang di buku kedua dan buku ketiga ini Stieg Larsson memutar fokus cerita kepada Lisbeth.

“My name is Lisbeth Salander. I was born on 30 April 1978. My mother was Agneta Sofia Salander. She was seventeen when I was born. My father was a psychopath, a killer and wife beater whose name was Alexander Zalachenko. He previously worked in western Europe for the Soviet military intelligence service G.R.U…”

Itu adalah sepenggal paragraf yang Lisbeth tulis dalam autobiografi yang akan digunakan sebagai material pembelaan dalam sidang yang akan dia hadapi. Sidang ? Ya, terakhir kali kita bertemu Lisbeth ybs sedang berada dalam kondisi sekarat karena tertembak di kepala.

Lisbeth ditemukan oleh Mikael Blomkvist, seorang jurnalis dari majalah Millenium yang juga merupakan ex co workers/ ex lovers/ ex best friend nya Lisbeth. Di buku kedua diceritakan bahwa Lisbeth sedang menghindari Mikael karena menyadari kalo dirinya merasakan sesuatu yang seharusnya tidak dirasakan dan she’s simply couldn’t handle those kind of feeling so she avoid him instead.

Tapi dasar nasib bagaimanapun juga dihindari ternyata kehidupan mereka terus saling berkaitan sampai akhirnya Mikael berhasil menemukan Lisbeth, walau nyaris terlambat. Lisbeth lalu dilarikan ke rumah sakit dan secara luar biasa berhasil diselamatkan. Walaupun demikian Lisbeth tetap terkena dakwaan atas upaya pembunuhan.

Setelah itu kita akan digiring untuk menemui fakta demi fakta bahwa kehidupan Lisbeth memang sedari kecil sudah diacak-acak karena kepentingan suatu kelompok kecil di dalam Swedish Intelegent yang berusaha melindungi mantan agen Rusia yang telah diberi suaka oleh mereka dengan kompensasi informasi2 yang dibutuhkan oleh Swedia. Orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Alexander Zalachenko, ayah dari Lisbeth Salander.

Lisbeth ternyata adalah korban dari konspirasi besar yang melibatkan suatu kelompok rahasia dalam badan intelegen Swedia. Dan pada kesempatan ini mereka sekali lagi berusaha untuk menjebloskan Lisbeth ke dalam rumah sakit jiwa, kali ini untuk selamanya. Beruntung Lisbeth memiliki beberapa pendukung setia yang betul2 mengetahui siapa dirinya yang berusaha keras untuk mengungkap fakta yang sebenarnya.

Blomkovist beserta kru Millenium, Dragan Armanksky mantan bos nya di Milton sekuriti, Palmgren, Bublanski dan yang terpenting komunitas hackers dimana Lisbeth adalah salah satu anggota pentingnya. Bersama mereka membentuk kelompok The Knight of the Idiotic Table untuk satu tujuan bersama, membantu Lisbeth Salander selamat dari konspirasi jahat yang memojokkannya dan juga membongkar seluruh konspirasi tersebut.

Can they do it against all odds? Waaaa super duper rame deh. Buku ketiga ini sungguh penuh dengan konspirasi besar yang melibatkan tokoh-tokoh penting Swedia. Stieg Larsson betul-betul memperluas skala konfliknya. Walaupun edisi bhs inggrisnya ini lumayan tebel, 743 halaman, sama sekali ngga kerasa bacanya saking seru dan bikin penasarannya cerita di buku ini. Ini pun udah kepotong dua hari puasa baca gara2 audit mendadak.

Sedih ngga bisa membaca tentang Lisbeth Salander lagi (krn Stieg Larsson nya sudah almarhum). Lisbeth Salander bener-bener salah satu karakter buku favorit saya sepanjang masa. Jadi pengen nonton filmnya. Tapi tetep ah Daniel Craig to handsome to be Don Juan Mikael Blomkvist. Hehe.

Sweetness at the Bottom of the Pie By Alan Bradley

Penerbit : Bantam Books

Tebal : 373 Halaman

“As I stood outside in Cow Lane, it occurred to me that Heaven must be a place where the library is open twenty-four hours a day, seven days a week.

No … eight days a week.”

Perkenalkan detektif cilik kita, namanya Flavia de Luce. Seorang anak perempuan quirky berumur 11 tahun yang hobi berkutat di laboratorium kimia pribadinya dan hobi membaca buku-buku yang berhubungan dengan science.

Flavia punya dua orang kakak perempuan yang bernama Ophelia dan Daphney. Flavia dan kedua kakaknya jarang sekali akur dan lebih sering balas membalas iseng. Mereka tinggal bersama seorang Ayah yang pendiam dan menjaga jarak.

Hhhhmm.. Flavia ini sedikit berbeda dari anak-anak perempuan kebanyakan.. Selain karena dia sangat “gila ilmu” dan hobi melakukan percobaan2 (yang cukup berbahaya), Flavia juga punya rasa ingin tau yang kebangetan (menurut ukuran saya) sampe kadang-kadang gemes sendiri baca ceritanya..

Suatu malam Flavia mendapati Ayahnya sedang berbicara dengan nada agak keras dengan seorang pria berambut merah yang tidak ia kenali. Pagi berikutnya Flavia mendapati pria tersebut tergeletak di kebun, ketika didekati ternyata kemudian ia menghembuskan nafas terakhirnya sambil mengucap satu kata terakhir “Valle”..

Di sinilah segala sesuatu bermulai. Flavia dengan tingkat curiosity yang super duper tidak bisa menahan dirinya untuk mencari tahu dan step by step menemukan fakta demi fakta atas kematian si pria misterius.. Luckly Flavia adalah tipe manusia yang tahu kemana harus mencari, modal dasar untuk menjadi seorang detektif.

Semuanya berkaitan dengan masa remaja ayahnya. Dimana pada saat itu di sekolah ayahnya terjadi kematian seorang guru yang cukup tragis, ia melompat dari menara. Konon guru tersebut memutuskan untuk bunuh diri karena insiden hilangnya selembar prangko langka, satu-satunya di seantero Inggris. Pencarian yang  ternyata membahayakan jiwa namun along the way membuat Flavia lebih mengenal kepribadian ayahnya.

Cerita ini british banget, hehe. Saya sebenernya menyukai karakter Flavia yang quirky dan kadang sok tau, tapi dalam beberapa titik memang anak itu kebangetan karena hobi banget menyerempet2 bahaya. Selain dari itu karakter kedua kakaknya yang drama queen banget juga cukup menarik karena kontras banget dengan Flavia.

Yang saya ngga ngerti adalah why would anybody killed each other over a stamp? Hehe.. Ntahlah mungkin saya aja yang kurang paham. Mudah-mudahan di buku berikutnya Flavia dihadapkan dengan misteri yang lebih “mengigit” deh! Dan bagaimanapun saya tetap akan membaca buku berikutnya 😉

Thanks to mia yang udah minjemin buku ini!! Tengkyuuu yaaa..

The Mysterious Mr. Quin By Agatha Christie

Penerbit : Harper Collins

Tebal : 396 Halaman

“You say your life is your own. But can you dare to ignore the chance that you are taking part in a gigantic drama under the orders of a divine Producers? Your cue may not come till the end of the play – it may be totally unimportant, a mere walking on part, but upon it may hang the issues of the play if you do not give the cue to another players. The whole edifice may crumple. You as you, may not matter to anyone in the world, but you as a person in particular place may matter unimaginably.”

Love the quotes..

Agatha Christie boleh dibilang adalah biang keladi pertama yang menyebabkan saya jatuh cinta pada buku. Saya mulai membaca karya2 Agatha dari kelas 4 SD saat komik2 terasa begitu cepat habis terbaca. Jika temen2 yang lain pergi ke sekolah dengan membawa komik2 serial cantik, yang ada di tas saya adalah karya2 Agatha. Agak-agak creepy sepertinya ya, hehe. Di kelas 6 saya sudah menyapu semua koleksi Agatha yang ada di Taman Bacaan Hendra, Bandung.

Di masa2 SMP dan SMA baru banyak lagi karyanya Agatha yang diterbitkan ulang. Dan saya pun mulai menyicil mengoleksi satu demi satu sambil membaca ulang. Ngga kehitung berapa kali saya berharap bisa melompat ke dunianya Hercule Poirot dan Miss Marple. I completely idolized them at that time.

Buku The Mysterious Mr. Quin ini adalah salah satu karya non Hercule Poirot & Miss Marple yang saya sukai. Tentu saja selain  And Then There Were None (Sepuluh anak Negro), The Croocked House (Buku Catatan Yosephine) dan  Death Comes At The End (Ledakan Dendam). Buku ini, The Mysterious Mr. Quin baru saya temukan, beli (versi bhs inggris) dan baca agak belakangan, sekitar masa2 kuliah lah.

Suka banget sama tokoh utamanya, Mr. Satterthwaithe dan Mr. Harley Quin. Berikut merupakan penggambaran tentang Mr. Satterthwaithe paling pas yang saya comot dari bukunya :

“Mr. Satterthwaithe was sixty two – a little bent, dried-up man with a peering face oddly elflike, and an intense and inordinate interest in other people’s lives. All his life so to speak, he had sat in the front row of all the stalls watching various dramas of human nature unfold before him.”

Saya membayangkan Mr. Satterwaithe itu penampakannya kayak Bilbo Baggins, uncle nya Frodo di trilogi Lord of The Rings. Agak2 seperti Miss Marple versi laki-laki. Hehe. Yang jelas beliau semasa hidupnya selalu menganggap hidup adalah sebuah panggung drama dan beliau adalah penontonnya.

Sampai suatu saat ketika menghadiri acara di kediaman seorang kenalan Mr. Satterthwaithe akhirnya bertemu Mr. Quin. Sejak pertemuan pertama Mr. Satterthwaithe sudah merasa kalo Mr. Quin ini bisa sedemikian rupa berperan sebagai pemicu terkuaknya misteri2 yang selama ini tidak bisa dilihat oleh orang lain.

“The longer the time that has elapsed, the more things fall into proportion. One sees them in their true relationship to one another.”

Semenjak saat itu mereka sering secara tidak sengaja (atau disengaja oleh Mr. Quin) bertemu di berbagai tempat dan kesempatan, dan bagi Mr. Satterthwaithe, kemunculan dan kepergian Mr. Quin yang tidak bisa ditebak adalah pertanda “sesuatu” yang penting akan terjadi.

“I have a certain friend – his name is Mr. Quin, and he can best described in the terms of catalysis. His presence is a sign that things are going to happen, because when he is there, strange revelations come to light, discoveries are made. And yet – he himself takes no part in the proceedings.”

Cerita dalam buku ini sebenarnya bentuknya cerita2 pendek. Berbagai bentuk misteri (ngga selalu masalah pembunuhan loh) dimana Mr. Quin melempar umpan2 dan Mr. Satterthwaithe akhirnya menemukan pemecahannya. Seringkali semuanya berakhir dengan sama sekali tidak terduga. Khas Agatha, hehe.

Lama kelamaan Mr. Satterthwaithe mulai merasa bahwa dirinya berubah. Dan perubahan itu terasa juga oleh Mr. Quin (karena mungkin dia juga sebenarnya biang keladinya ;p).Yang jelas saya suka banget sama duo ini.

Mr. Quin yang misterius dan kadang2 agak2 berbau supranatural sosoknya (layaknya Harlequin, salah satu tokoh dalam pementasan drama yang sama misteriusnya) dan Mr. Satterthwaithe yang plain dan seringkali berakhir menjadi tempat curhat berbagai macam manusia.

Cara keduanya berinteraksi beda dari pasangan2 detektif lain (Hercule Poirot dan Kapten Hastings, Sherlock Holmes dan Watson), karena pada akhirnya Mr. Quin pun banyak membawa perubahan dalam kepribadian  dan cara pandang Mr. Satterthwaithe (dan saya rasa memang itu salah satu misinya). Mereka kontras banget tapi cocok dan membawa efek seru!

“’You have changed since I first knew you,’ said Mr.Quin.

‘In what way?’

‘You were content then to look on at the drama that life offered. Now you want to take part – to act.’”

Sampai saat2 terakhir saya masih ngga yakin Mr. Quin ini manusia atau bukan. Dan Agatha pun hanya memberikan petunjuk samar2. Hehehe. Tapi entah kenapa hal itu tidak menjadi sesuatu yang mengganggu karena bisa mempertahankan efek “misterius” yang khas dari buku ini.

Ngga terlalu tau buku Agatha yang ini ada terjemahannya ato ngga. Harusnya sih udah ya. Paling belum dicetak ulang jadinya agak2 susah dicari. Yg jelas buku ini termasuk salah satu karya Agatha fav saya. Keren banget deh Agatha Christie ini.

 “’Life is lived very much the same everywhere,’ he said wearily. ‘It wears different clothes – that’s all.’”

The Girl Who Played With Fire By Stieg Larsson

Penerbit : Quercus

Tebal : 649 Halaman

There are no innocents. There are, however, different degrees of responsibility.”

Akhirnya kebaca juga buku kedua dari millenium trilogi ini. Over all saya lebih menyukai buku kedua ini karena kadar kesadisan nya ngga separah yang pertama dan lebih banyak bercerita tentang tokoh kesukaan saya Lisbeth Salander dari pada sang Don Juan Mikael Blomkvist :).

Setelah huru hara yang terjadi di buku pertama, Lisbeth Salander berhasil “mengamankan” sejumlah kekayaan yang membuat dia tidak perlu pusing-pusing lagi bekerja di masa yang akan datang. Setelah mengakhiri hubungan singkatnya dengan Mikael, Salander memutuskan untuk travelling keliling dunia.

Sementara itu kantor  Millenium yang saat ini tengah mengalami kebangkitan dari kondisi sebelumnya akan menerbitkan sebuah buku yang mengungkap tentang seluk beluk dunia “sex trade” yang terjadi di Swedia. Termasuk aktor-aktor yang terlibat di dalamnya. Buku ini diprediksi akan menyebabkan kehebohan karena banyak aparat hukum, termasuk dari kepolisian yang terlibat dalam dunia tersebut yang akan terungkap dalam buku.

Ketika Salander kembali dari tour nya, ia mencoba untuk mencari tahu apa yang akhir-akhir ini dikerjakan oleh Mikael. Alangkah terkejutnya Salander ketika membaca material buku dan menemukan nama Zala di dalamnya. Sebuah nama dari masa lalu ketika peristiwa yang dia sebut “All The Evil” belum terjadi.

Lalu suatu malam pengarang dari buku yang akan diterbitkan oleh kantor Millenium, Dag Svensson dan pacarnya Mia Johansson ditemukan terbunuh di apartemen mereka.  Senjata api yang dipergunakan untuk membunuh teregister milik Nils Erik Bjurman, tokoh dari buku pertama yang kita ketahui merupakan legal guardian dari Salander yang dengan semena-mena menyalahgunakan posisinya. Tidak lama kemudian diketahui pula ternyata Bjurman pun sudah tertembak mati di apartemennya sendiri.

Pada senjata yang digunakan untuk ketiga pembunuhan tersebut ditemukan sidik jari Lisbeth Salander. Tidak butuh waktu lama bagi media untuk mencium berita tersebut, dan Lisbeth Salander pun menjadi buronan nomor satu di Swedia. Ditambah dengan fakta bahwa Salander dimasukan ke rumah sakit jiwa pada umur 12 tahun dan dinyatakan legally incompetent membuat dirinya semakin menjadi bulan2an media.

Sebuah tim di kepolisian dibentuk untuk menyelidiki pembunuhan tersebut. Di awal penyelidikan misi mereka sangat jelas, memburu secepat mungkin Lisbeth Salander. Di sisi lain, beberapa orang yang mengenal baik Salander pun berusaha mencari fakta yang sebenarnya terjadi untuk membebaskan Salander dari tuduhan.

My oh my. Saya semakin menyukai karakter Lisbeth Salander. Di buku kedua ini masa lalu Salander terbongkar, termasuk salah satu episode dalam hidupnya yang selama ini hanya disebut-sebut sebagai “All The Evil”. Masa lalunya memang mengerikan. Dan saya dapat merasakan betapa selama ini Lisbeth Salander salah dimengerti oleh semua pihak dan kesal setengah mati pada orang-orang yang berkonspirasi sehingga ia dicitrakan sebagai perempuan muda yang sakit jiwa.

Sekali lagi Stieg Larsson berhasil menyajikan mistery thriller yang bikin betah untuk dibaca sampai akhir dan menutupnya dengan ending yang dramatis dan tidak terduga. Mari baca buku ketiganya !!

“I am what I am,” Salander said. “I ran away from everything and everybody.”

The Book With No Name By Anonymous (Bourbon Kid #1)

Penerbit : Kantera

Tebal : 493 halaman

Alih Bahasa : M. Baihaqqi ST

Welcome to Santa Mondega! Sebuah kota dimana anda bisa menemukan berbagai jenis perampok, penipu, pembunuh bayaran dan aneka ria jenis penjahat lainnya. Di Santa Mondega secara rutin lima tahun sekali terjadi gerhana bulan total sehingga seluruh kota berada dalam kegelapan. Gerhana bulan tersebut dirayakan oleh warga kota, mereka menamainya festival bulan. Pada saat festival bulan seluruh warga kota bebas menggunakan berbagai macam kostum sebagai bagian dari perayaan. Santa Mondega adalah kota yang misterius.

Kenyataannya, Santa Mondega adalah sebuah kota yang oleh warga dunia lain dianggap tidak pernah ada. Kota itu tidak akan ditemukan di peta manapun, dan tidak ada cerita yang terjadi di kota itu yang pernah diberitakan oleh stasiun berita diluar batas kota.

Warga dunia tidak mengetahui bahwa lima tahun lalu, pada saat festival bulan, terjadi pembunuhan besar-besaran di Santa Mondega oleh seseorang bernama Bocah Bourbon. Pembunuh itu dapat menghabisi puluhan orang dalam waktu singkat setelah menegak segelas borboun. Konon, pembantaian tersebut dipicu oleh perebutan sebuah batu berharga yang disebut mata rembulan.

Satu-satunya manusia yang selamat dari pembantaian Bocah Bourbon adalah seorang perempuan bernama Jessica. Jessica ditemukan dalam keadaan koma oleh  Sanchez, seorang pemilik bar bernama Tapioca. Lima tahun kemudian Jessica baru tersadar dari koma panjangnya. Lima tahun kemudian pula serangkaian pembunuhan mulai terjadi lagi di Santa Mondega, bersamaan dengan hilangnya mata rembulan dari tempatnya.

Orang-orang yang ditemukan telah terbunuh secara kejam memiliki sebuah persamaan. Mereka pernah meminjam sebuah buku dari perpustakaan setempat. Sebuah “buku tanpa judul” dari pengarang yang anonim.

Detektif Jensen dan Sommers ditugaskan untuk menyelidiki pembunuhan-pembunuhan tersebut dan menemukan pelakunya. Apakah benar si Bocah Bourbon telah kembali ke Santa Mondega? Apakah peranan dari mata rembulan? Mengapa Jessica bisa selamat dari maut? Apa isi “buku tanpa judul”? Apakah rahasia yang tersimpan di Santa Mondega?

This book is a whole fun of mystery. Saya tidak menyangka kalau pada akhirnya saya bisa menyukai buku ini. Cerita misteri yang mengandung banyak unsur kesadisan, tapi cara menggambarkannya komikal sekali. Jika anda merasa tidak nyaman dengan adegan seperti mata dicungkil, lidah dicabut, isi perut terburai dan cairan otak yang tercecer kemana-mana maka sebaiknya anda menyiapkan nyali sebelum membaca buku ini ^_^

Walaupun demikian misteri di buku ini sangat menarik dan membuat penasaran hingga halaman terakhir. Santa Mondega benar-benar sebuah tempat yang absurd dan misterius. Endingnya mengejutkan sekaligus menambah kadar  penasaran karena konon buku ini berseri. Tapi buat saya tetep unsur yang paling unik dari buku ini adalah pengarangnya yang anonim. Ide cerdas untuk membuat sebuah buku terlihat stand out dan membikin orang yang meraihnya dari rak di toko buku tertarik.

Tokoh-tokoh favorit saya adalah para pembunuh bayaran yang karakternya fenomenal dan komikal, Elvis, Jefe, Rodeo Rex. Yang mau membaca buku ini ayo pasang kuda-kuda! Siap-siap untuk berkelana ke dunia gelap nan absurd bernama Santa Mondega ^_^

The Girl With The Dragon Tatoo By Stieg Larsson

Penerbit : Quercus

Tebal : 554 Halaman

Buku ini punya efek yang sama dengan ketika saya pertama kali baca The Da Vinci Code nya Dan Brown. Saya ngga nyangka kalo ternyata buku ini seru banget !! Ramuan antara crime, mystery, thriller yang bikin saya susah banget untuk berenti baca. Buku ini adalah buku pertama dari Millenium Trilogy yang diterbitkan setelah sang pengarang Stieg Larsson meninggal pada tahun 2004. By the way readers, jangan baca ulasan di wikipedia tentang buku ini ya! Total spoiler, untung saya baca sewaktu selesai baca bukunya or else it will ruin all the fun.

Berlatar belakang di swedia, setiap bagian dari buku ini ( empat bagian plus prolog dan epilog) dibuka dengan informasi-informasi seperti berikut :

18% of the women in Sweden have at one time been threatened by a man” atau

46% of the women in Sweden have been subjected to violence by a man”

Statistik tersebut sangat berhubungan dengan isi dari buku yang pada banyak bagian menggambarkan kekerasan atau kejahatan yang terjadi pada kaum perempuan di Swedia. Judul asli dari buku ini “Man who hate Woman” sebenarnya lebih menggambarkan isi buku daripada The Girl With The Dragon Tatoo” walau pastinya saya akan malas membeli buku yang judulnya “Man who hate Woman”

Buku ini bercerita tentang seorang pria tua bernama Henrik Vanger, seorang mantan CEO dari perusahaan keluarga Vanger Coorporation yang ingin melakukan upaya terakhir dalam memecahkan misteri hilangnya Harriet Vanger, keponakannya, 40 tahun yang lalu ketika Harriet masih berusia 16 tahun.  Ia lalu mempekerjakan seorang jurnalis yang juga pemilik dari majalah Millenium bernama Mikael Blomkvist untuk mengungkap misteri tersebut.

Mikael sendiri baru saja didakwa dan dijatuhi hukuman atas artikel terakhirnya yang menyerang sebuah perusahaan besar bernama Wennerström Coorporation. Henrik memberikan tawaran untuk bekerja padanya selama 1 tahun penuh dengan samaran membuat biografi dari keluarga Vanger dengan jumlah bayaran yang sangat menggoda, selain dari itu Henrik juga menawarkan bukti-bukti baru yang dapat menjatuhkan Wennerström Coorporation. Tawaran yang sulit ditolak untuk Mikael.

Mikael akhirnya mundur untuk sementara dari majalah Millenium untuk pindah ke salah satu villa di kediaman Hendrik Vanger dan keluarga di suatu pulau bernama Hedeby. Sewaktu Harriet masih hidup, setiap hari ulang tahun Hendrik pada tanggal 1 November Harriet selalu memberinya hadiah berupa bunga yang telah diawetkan dan diletakkan dalam sebuah figura. Setelah menghilangnya Harriet, setiap tanggal 1 November Hendrik menerima melalui pos hadiah yang sama. Hendrik menduga bahwa sang pembunuh sedang mengejeknya, berulang-ulang, selama 40 tahun. Hendrik sendiri mencurigai bahwa salah satu anggota keluarganyalah yang telah membunuh dan menyembunyikan mayat Harriet.

Mikael, you can ask questions later, but I want you to take my word when I say that I detest most of the members of my family. They are for the most part thieves, misers, bullies and incompetents.

Sebelum Hendrik mempekerjakan Mikael, ia telah memerintahkan terlebih dahulu kepada pengacara sekaligus sahabatnya Dirch Frode untuk menyelidiki latar belakang Mikael. Tugas jatuh kepada seorang wanita muda bernama Lisbeth Salander. Penyelidik profesional yang antisosial, memiliki photographic memori, cerdas dan tidak beremosi. Lisbeth lah The Girl With The Dragon Tatto yang dimaksud dalam judul buku.

Setelah berusaha untuk membuat biografi keluarga dan berusaha untuk menemukan fakta baru dalam setumpuk dokumen penyelidikan hilangnya Harriet, Mikael menemukan bahwa keluarga Vanger adalah keluarga unik dimana banyak sekali “kegilaan” di dalamnya. Mikael akhirnya memutuskan bahwa dirinya membutuhkan bantuan seorang penyelidik profesional. Dirch Frode secara tidak sengaja merekomendasikan Lisbeth Salander. Mikael dan Lisbeth akhirnya bekerja sama untuk mengungkap misteri 40 tahun yang lalu dan menemukan bahwa yang terjadi adalah jauh lebih besar dari yang mereka duga.

Saya sangat suka karakter Lisbeth Salander yang digambarkan sebagai perempuan yang memiliki temperamen nyaris nol. Lisbeth selalu menimbang konsekuensi dari setiap tindakannya dengan kepala dingin. Sama sekali tidak menye-menye atas kekerasan yang telah menderanya semenjak kecil. Saya ingin segera membaca buku ini karena penasaran dengan nasib Lisbeth Salander yang telah tertipu dengan ilusi bernama “Love” ;p

Untuk penggemar thriller maupun bukan, saya sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca !! You’ll never guess what will happen in the end of this book. Pengalaman yang seru ! I’ll definitely read the second sequel.