The Martian By Andy Weir

“They say once you grow crops somewhere, you have officially ‘colonised’ it. So technically, I colonised Mars.
In your face, Neil Armstrong!”

Meet Mark Watney, our hero in this book.

Jikalau kamu tumbuh besar di tahun 90an kamu pasti inget dong pria serba bisa ini : macgyver

Man he can make anything out of nothing!

This Mark Watney is a more sophisticated, witty and modern version of MacGyver, plus kalo MacGyver mempraktekkan kecerdasannya di bumi dimana beliau bisa bebas menghirup oksigen, Mark Watney harus memutar otak secerdas mungkin di PLANET MARS aja dong.

Hahaha!

Mark Watney adalah salah satu astronot pesawat luar angkasa Ares 3 yang sedang menjalani misi dari National Aeronautics and Space Administration (NASA) di planet Mars. Mark Watney mempunyai keahlian sebagai Botanist dan Mechanical Engineer dalam misi ini.

Ketika badai debu disertai angin melanda Acidalia Planitia – tempat pesawat luar angkasa Ares 3 mendarat, semua kru Ares 3 bersegera menyelamatkan diri masuk ke pesawat luar angkasa Ares 3 dan segera pergi dari permukaan planet Mars.

Sialnya, Mark Watney menabrak antenna dan jatuh pingsan di tengah-tengah badai debu tersebut. Kru lainnya yang telah berkumpul di Ares 3 berasumsi dan berhipotesis jikalau Mark (hampir pasti) sudah mati, dan mereka pun meninggalkan planet Mars.

Terbangun dan terbengkalai di planet Mars, geeky nerdy Mark Watney tidak memberikan kesempatan kepada dirinya sendiri untuk berlebay-lebay meratap karena ditinggalkan sendirian di planet Mars, dia segera begerak menuju The Hab (sepertinya ini adalah tempat atau stasiun semi permanen tempat para astronot beristirahat selama mereka berkeliaran di planet Mars) dan melakukan inventory mengenai barang krusial apa saja yang ia miliki dan memikirkan bagaimana caranya ia bisa bertahan sampai misi mars berikutnya.

Tepatnya, bagaimana ia harus bertahan dengan jatah makanan luar angkasa untuk 6 orang selama 50 hari, 300 galon air dan 12 buah kentang selama 4 tahun sampai misi ke Mars berikutnya (Ares 4) datang.

Sementara itu berhari2 kemudian di bumi, orang2 di NASA baru menyadari blunder yang meraka lakukan bahwa Mark Watney masih hidup, tertinggal dan wira wiri sendiri di planet Mars melalui rekaman citra satelit. Berita tersebut bocor ke media dan Mark pun segera menjadi pusat perhatian di seluruh dunia (ya iyalah).

NASA segera mereka-reka berbagai scenario penyelamatan yang mungkin dilakukan untuk menjemput Mark Watney.

“He’s stuck out there. He thinks he’s totally alone and that we all gave up on him. What kind of effect does that have on a man’s psychology?” He turned back to Venkat. “I wonder what he’s thinking right now.”

LOG ENTRY: SOL 61 How come Aquaman can control whales? They’re mammals! Makes no sense.”

Sementara itu di planet Mars, Mark dengan rajin merekam segala aktivitas yang ia lakukan untuk membuat dirinya sendiri bertahan hidup.

Termasuk dengan cerdasnya berhasil menumbuhkan kentang didalam The Hab dengan menggunakan tanah mars yang diperkaya oleh bakteri2 dari sisa pencernaan manusia (tebak sendiri apa itu, hihihi ;p) dan memperbanyak cadangan air sesuai kebutuhannya.

Kedengerannya gampang ya? Tapi kalo dibaca bukunya kebayang deh otak macam apa yang dibutuhkan untuk merancang dan mengeksekusi rencana-rencana yang dijalankan oleh Mark Watney. Thank God he’s a genius!

Edun dan unbelievable bagaimana Mark Watney mempertahankan hidupnya (fisik dan mental) sendirian di Mars sana. Peluang ia untuk diselamatkan sangaaaaaaaaaaaat kecil dan kita sebagai pembaca dibuat ngga bisa berhenti menguntit hari2 Mark di planet Mars dan geleng2 kepala sendiri atau ketawa terkekeh2 sendiri membaca kelakuan Mark Watney.

Hehehe.

Will the odds be ever in his favor?

18401393Read it yourself yaaaa.. Buku ini saya rekomendasikan banget, 5 dari 5 bintang untuk The Martian.

PS : Saya udah siap2 kecewa dengan filmnya, yang jadi Mark Watney-nya Matt Damon yang notabene tidak sesuai dengan si geeky Mark Watney yang ada di kepala saya ;p hehehe. Baca bukunya aja yaa, dijamin lebih seru!

“Yes, of course duct tape works in a near-vacuum. Duct tape works anywhere. Duct tape is magic and should be worshiped.”

“Also, please watch your language. Everything you type is being broadcast live all over the world. [12:15] WATNEY: Look! A pair of boobs! -> (.Y.)”

“Each crewman had their own laptop. So I have six at my disposal. Rather, I had six. I now have five. I thought a laptop would be fine outside. It’s just electronics, right? It’ll keep warm enough to operate in the short term, and it doesn’t need air for anything. It died instantly. The screen went black before I was out of the airlock. Turns out the “L” in “LCD” stands for “Liquid.” I guess it either froze or boiled off. Maybe I’ll post a consumer review. “Brought product to surface of Mars. It stopped working. 0/10.”

Advertisements

I’ll Give You the Sun By Jandy Nelson

20820994“Or maybe a person is just made up of a lot of people,” I say. “Maybe we’re accumulating these new selves all the time.” Hauling them in as we make choices, good and bad, as we screw up, step up, lose our minds, find our minds, fall apart, fall in love, as we grieve, grow, retreat from the world, dive into the world, as we make things, as we break things.”

“Reality is crushing. The world is a wrong-sized shoe. How can anyone stand it?”

So let me tell you how good this book is. I cannot compare it with any book that I have read. At time I have to force myself to stop reading and remember my ground. This book is like an alien suddenly burst from another galaxy just to let you know that if you’re feeling that you are a misfit, an outcast that doesn’t belong anywhere.

You are not alone.

You are, mistakenly, never have been alone.

Man, This book is magic.

Bercerita tentang sepasang anak kembar bernama Noah dan Jude. Dengan point of view bergantian antara Noah ketika umur mereka 14 tahun, dan point of view Jude dua tahun kemudian, ketika mereka sudah berumur 16 tahun.

Pada narasi pertama dari Noah, saya langsung jatuh cinta dengan tokoh dorky, geeky Noah yang punya daya imajinasi dan kemampuan lukis luar biasa sehingga ia hampir setiap saat membayangkan adegan-adegan yang terjadi dalam hidupnya dalam bentuk self potrait skecth dengan judul yang nyeleneh.

Noah adalah remaja penyendiri yang tidak mempunyai teman. Bertolak belakang dengan saudari kembarnya Jude yang normal dan populer. Jude yang digambarkan berambut pirang teramat panjang seperti malaikat. Jude sang daredevil dan nge geng dengan para surfer yang berumur jauh lebih tua darinya.

Kedua orang tua Noah dan Jude adalah orang dengan kepribadian yang sangat bertolak belakang. Ibu mereka yang seniman banget, dreamy dan percaya pada hal-hal yang bersifat supranatural. Ayah mereka yang seorang scientist, logis dan normal in every way. Nenek Noah dan Jude belum lama meninggal.

Pada suatu acara makan malam Ibu mereka mengumumkan kalo arwah nenek mereka yang sudah meninggal mendatanginya, dan memberikan wangsit kalau Noah dan Jude harus masuk sekolah seni yang kebetulan ada di lingkungan sekitar mereka. Kebetulan Noah dan Jude memang sangat berbakat.

Semenjak malam itu Ibu mereka menjadi semacam mengadakan sebuah kontes antara Noah dan Jude. Siapa yang paling berbakat. Dan darisana segala sesuatunya mulai berjalan salah.

Dari narasi Noah ketika berumur 14 tahun dan narasi Jude ketika berumur 16 tahun, kita bisa mengetahui bahwa ada sesuatu yang terjadi diantara waktu tersebut yang membuat segalanya berubah. Di narasi Noah kita tau kalo Noah adalah the geeky one dan Jude adalah the popular one.

Apa yang sebenarnya terjadi diantara kedua tahun tersebut sehingga di usia 16 tahun kehidupan mereka seperti berbalik 180 derajat. Noah menjadi remaja normal sedangkan Jude menjadi penyendiri, percaya pada segala macam tahayul dan bisa serta senang mengobrol dengan hantu neneknya.

Di umur 16 tahun Jude merasa frustasi karena karya2nya di sekolah seni (iya Jude berhasil masuk sekolah seni) selalu dipecahkan oleh hantu Ibunya hingga Ia diberi julukan CJ alias Calamity Jude oleh guru dan teman-teman di sekolahnya.

Jude pun didesak pihak sekolah untuk membuat karya yang lebih serius. Jude akhirnya memilih untuk mencari mentor yang bisa mengajarinya membuat karya dengan bahan dasar batu. Dari titik ini lah cerita mulai beranjak seru.

Narasi yang bergantian antara Noah dan Jude (yang sama gila dan indahnya) membuat pembaca makin penasaran akan apa yang sebenarnya terjadi, dan akhirnya mengerti kenapa tokoh2 yang ada bisa sampe ke titik dimana mereka berada. Keren. Keren.

Reading this book makes me feel okay about my own craziness. Everybody is crazy in their own thoughts I bet. They all have magic in them that they no longer believe in. They’ve become robots. Living dead man.

Sometimes I’m having trouble to explain myself without being judge that I am a complete loon. How can anybody understand ? But Jude does. She is like my long lost best friend emerging from a book. Jude, I wish you were here with me. So we can whack this dead uninteresting world together in our Hippitty Hop.

And the way Jude and Noah utter their words.. No one can talk like that. No one.

Oh ya, satu lagi tokoh favorit saya, Grandma Sweetwine yang berhasil menulis Superstition Bible untuk Jude, yang suka memakai dress bunga-bunga dan juga menyebut Tuhan dengan nama panggilan sayang Clark Gable. Oh how I love the sassy ghost of Grandma Sweetwine. Hehe.

And last but not least. Buku ini juga mengajarkan kita akan Redemption, kesempatan kedua. Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki semuanya.

Let’s remake the world.

5 dari 5 bintang untuk buku ini. Semoga segera diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

“I didn’t know you could get buried in your own silence.”

“Sometimes you think you know things, know things very deeply, only to realize you don’t know a damn thing.”

“No one tells you how gone gone really is, or how long it lasts.”

“If you’re going through hell, keep going.” – Winston Churchill”

The Night Circus By Erin Morgenstein

20140425-122633.jpg

“Stories have changed, my dear boy,” the man in the grey suit says, his voice almost imperceptibly sad.

“There are no more battles between good and evil, no monsters to slay, no maidens in need of rescue. Most maidens are perfectly capable of rescuing themselves in my experience, at least the ones worth something, in any case.

There are no longer simple tales with quests and beasts and happy endings. The quests lack clarity of recognize for what they are.

And there are never really endings, happy or otherwise. Things keep going on, they overlap and blur, your story is part of your sister’s story is part of many other stories, and there is no telling where any of them my lead.

Good and evil are a great deal more complex than a princess and a dragon, or a wolf and a scarlet-clad little girl. And is not the dragon the hero of his own story?

Is not the wolf simply acting as a wolf should act? Though perhaps it is a singulat wolf who goes to such lengths as to dress as a grandmother to toy with its prey.”

Pfiuh.. It’s been a quite while since I write a review.. Maybe it took this book for me to start again.. I’ve been itching to write this review ever since I finished this book on a plane from Jakarta to Yogyakarta!

Terus terang saya ngga pernah nonton pertunjukan sirkus, paling banter nonton di tv. Itu mungkin yang paling saya suka dari buku ini. Penggambaran suasana, flow cerita, seakan-akan saya betul-betul ada di dalam sirkus dan ikut merasakan efek magis yang ada.

Le Cirque des Reves nama sirkusnya. Dan sirkus tersebut datang dan pergi tanpa diundang. Tanpa mobilisasi dan peringatan apapun Le Cirque des Reves mendatangi suatu kota. Di suatu pagi tenda-tenda megah tiba-tiba sudah terbangun dengan megahnya. Pada pintu pagarnya akan terlulis sebuah papan hitam dengan tulisan putih:
Opens at Nightfall, Closes at Dawn

You step into a bright, open courtyard surrounded by striped tents.

Curving pathways along the perimeter lead away from the courtyard, turning into unseen mysteries dotted with twinkling lights.

Semua dimulai dari ide gila seorang Bilyuner nyentrik bernama Chandresh Christopher Lefevre. Di suatu malam ia mengumpulkan beberapa orang yang ia nilai bisa mewujudkan obsesi barunya dalam sebuah jamuan makan malam. Dan di keesokan paginya perencanaan sirkus pun telah dimulai.

Setelah blueprint sirkus ditetapkan mereka pun mulai mengaudisi performers. Salah satu yang terpilih adalah Celia Bowen, yang di kemudian hari akan menjadi bagian penting dari jalan nasib The Circus of Dreams.

Pada malam pembukaan sirkus, suatu kejadian di luar skenario terjadi. Salah seorang performers wanita yang berprofesi sebagai pawang macan melahirkan sepasang bayi kembar yang kemudian diberi nama panggilan Poppet dan Widget.

Bisa dikatakan bahwa Poppet dan Widget adalah anak dari sirkus itu sendiri. Tahun demi tahun berlalu, sirkus pun terus berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya tanpa pertanda atau peringatan, menyihir setiap pengunjungnya dengan venue-venue yang magis. The Hanged Man, Hall of Mirrors, The Labyrinth, The Cloud Maze, Wishing Tree, The Ice Garden, Pool of Tears.

Semua digambarkan seolah-olah pembaca betul-betul ada disana, dan berharap betul-betul bisa berada disana.

“You’re not destined or chosen, I wish I could tell you that you were if that would make it easier, but it’s not true. You’re in the right place at the right time, and you care enough to do what needs to be done. Sometime’s that’s enough.”

Menjelang ulang tahun sirkus yang kesepuluh, salah seorang pendiri sirkus bernama Tara Burgess mulai merasa gelisah. Ada sesuatu yang salah dengan Le Cirque des Reves, dari mulai atmosfir magis yang terlalu nyata sampai dengan kenyataan bahwa tidak satupun para anggota sirkus maupun pendirinya yang terlihat bertambah tua kecuali si kembar Poppet dan Widget.

Tidak lama kemudian Tara Burgess meninggal karena tertabrak kereta.

Sebenarnya ada apa dengan sirkus tersebut. Bagaimana sirkus tersebut bisa menghadirkan atmosfir magis yang seolah-olah (atau memang sebetulnya) nyata?

How about you? Care to join the Circus? 🙂

“Before you leave, the fortune-teller reminds you that the future is never set in stone.”

We By Yevgeny Zamyatin

20130930-084504.jpg
Saya baru tau keberadaan novel ini setelah seorang pembaca review A Brave New World saya merekomendasikannya. Dan setelah selesai membaca We ini, sulit bagi saya untuk mengendapkan kenyataan bahwa buku ini ditulis sebelum dua dedengkot buku dystopian favorit saya yaitu 1984-George Orwell dan A Brave New World-Aldous Huxley.

Yevgeny Zamyatin menulis buku ini pada tahun 1920-an, sedangkan di Rusia sendiri (tempat buku ini ditulis) buku ini baru bisa dibaca dengan bebas pada tahun 1980-an. Naskahnya terlebih dahulu bisa masuk ke luar Rusia dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.

Agak menggelitik bahwa George Orwell pernah menulis A Brave New World-nya Aldous Huxley terinspirasi dari buku ini, sedangkan banyak pihak yang juga menganalisis kalau sebenarnya 1984-nya George Orwell juga memiliki plot yang sama dengan We. In a way saya dapat melihat cikal bakal kedua buku kesukaan saya dalam We ini. Buku ini adalah pionernya, Aldous Huxley dan George Orwell menyempurnakannya dengan menuliskan dua jenis buku dystopia dengan basis yang berbeda, yaitu rekayasa genetis+subconscious dan the power of fear.

Kembali ke buku utama yang sedang dibahas, secara singkat di dalam dunia di buku ini setiap manusia yang hidup tidak memiliki kebebasan individu. Mereka tidak memiliki nama dan hanya diidentifikasikan melalui nomor yang diberikan oleh Negara. Tidak ada konsep keluarga, setiap orang hidup di flat kaca tembus pandang hingga seluruh kegiatan dapat dilihat oleh para penghuni lain dan para penegak hukum.

Satu-satunya kesempatan untuk menurunkan tirai kaca adalah ketika setiap penduduk mendapatkan jatah “tiket pink”, yaitu kesempatan untuk melaksanakan proses reproduksi manusia dimana bayi yang lahir akan diasuh dan dibesarkan oleh Negara.

It’s natural that once Hunger had been vanquished (which is algebraically the equivalent of attaining the summit of material well-being), OneState mounted an attack on that other ruler of the world, Love. Finally, this element was also conquered, i.e., organized, mathematicized, and our Lex sexualis was promulgated about 300 years ago: “Any Number has the right of access to any other Number as sexual product.”

The rest is a purely technical matter. They give you a careful going-over in the Sexual Bureau labs and determine the exact content of the sexual hormones in your blood and work out your correct Table of Sex Days. Then you fill out a declaration that on your days you’d like to make use of Number (or Numbers) so-and-so and they hand you the corresponding book of tickets (pink). And that’s it.

Semua aspek dalam hidup telah disimplifikasi melalui hitungan matematika sehingga segala sesuatu berjalan sesuai dengan prediksi dan penuh dengan keteraturan. Pemimpin mereka adalah The Benefactor yang memiliki kekuasaan mutlak akan segala hal. Setiap perbuatan makar akan mendapatkan ganjaran hukuman mengerikan yaitu di-disintegrasikan hingga ke level atom di depan umum. The Benefactor menekan tombol mesin, dan “puff” manusia di dalamnya pun meleleh kemudian menjadi butiran debu.

Narator cerita ini diidentifikasi dengan nomor D-503, seorang pria yang berprofesi sebagai mathematicians dan sedang melaksanakan proyek pembangunan pesawat luar angkasa pertama mereka, The Integral.

Just this morning I was at the hangar where the INTEGRAL is being built—and suddenly I caught sight of the equipment: the regulator globes, their eyes closed, oblivious, were twirling round; the cranks were glistening and bending to the left and right; the balance beam was proudly heaving its shoulders; the bit of the router was squatting athletically to the beat of some unheard music. I suddenly saw the whole beauty of this grandiose mechanical ballet, flooded with the light of the lovely blue-eyed sun.

But why—my thoughts continued—why beautiful? Why is the dance beautiful? Answer: because it is nonfree movement, because all the fundamental significance of the dance lies precisely in its aesthetic subjection, its ideal nonfreedom. And if it is true that our ancestors gave themselves over to dancing at the most inspired moments of their lives (religious mysteries, military parades), that can mean only one thing: that from time immemorial the instinct of nonfreedom has been an organic part of man, and that we, in our present-day life, are only deliberately …

Quote di atas merepresetasikan bagaimana narrator kita D-503 begitu mencintai presisi yang tercipta dalam dunianya. Sampai suatu saat ia bertemu dengan seorang wanita, I-330. Sederhananya, D-503 jatuh cinta dan di dalam dunianya, sesuatu yang tidak dapat diprediksi seperti halnya jatuh cinta, tidak ada bedanya dengan kegilaan (Aldous Huxley menyempurnakan kemungkinan itu dalam dunia dystopia versinya).

I-330 ternyata bagian dari sebuah pergerakan geriliya untuk menentang kekuasaan The Benefactor. Dengan jatuh cinta kepada I-330, D-503 tidak dapat mengelak untuk terlibat dalam perkumpulan berbahaya tersebut.

Sementara itu para penguasa yang telah dapat membaca bahwa sesuatu sedang terjadi mengumumkan bahwa telah terjadi pandemi penyakit yang menurut mereka disebabkan oleh bagian dalam otak manusia yang memicu imajinasi. Mereka menawarkan operasi penyembuhan dengan menyingkirkan bagian otak bermasalah tersebut sehingga manusia bisa hidup dalam damai.

Dan semua hal kembali ke D-503, apakah ia akan memilih untuk dive to the unknown atau kembali ke dunia sebelumnya yang penuh dengan presisi? Well.. Read it for yourself, I won’t spoiled this masterpiece.. Hehe.. A highly recommended classics pioneer dystopia!

Fahrenheit 451 By Ray Bradbury

20130530-172304.jpg

There’s nothing magical about books at all. The magic is only in what books say, how the stiched the patches into one garment of us.

I’ve been wondering for quite a long time.. What is it that so special about books that makes me can’t get enough of them? The more I read the more I want to read. Does that even make sense?

Saat pertanyaan yang serupa dilontarkan oleh seorang tokoh tidak signifikan dalam buku ini, “Apa yang membuat buku begitu spesial hingga seseorang rela membahayakan dirinya untuk benda itu?

Can you answer it?

Mungkin salah satu jawaban yang sebenarnya adalah dalam quote di atas. Bukan apa isi dari buku itu sendiri yang ajaib, tetapi efek yang disebabkan kepada pembacanya itu sendiri yang luar biasa. Dan satu buku dapat memberikan efek yang berbeda dan unik antara satu orang dengan orang lainnya.

Makanya, never undermine anyone because of what they’re read and what they perceived by their reading experience.

Hal itu akan memicu perdebatan yang tidak ada ujungnya karena pengalaman membaca dan persepsi yang disebabkan oleh pengalaman membaca tersebut tidak akan ada yang persis serupa antara setiap orang yang satu dengan yang lainnya.

Back to the story, jadi apa itu Fahrenheit 451? Itu adalah suhu dimana kertas/buku mulai terbakar. Kenapa hal itu signifikan? Karena di dunia ini tugas utama seorang pemadam kebakaran adalah membumi hanguskan buku-buku berikut rumah dimana buku-buku tersebut ditemukan.

Tokoh utama kita, Guy Montag adalah seorang pemadam kebakaran. Ia tadinya menikmati pekerjaannya, melihat api menjilat-jilat menghanguskan benda-benda terlarang itu adalah suatu pemandangan yang teramat indah menurutnya.

Sampai suatu saat sepulang kerja ia bertemu dengan seorang tetangga baru, remaja perempuan bernama Clarrise. Dalam dunia itu, Clarisse adalah anak yang “berbeda” karena ia suka berbicara, berfikir dan mempertanyakan banyak hal yang membuatnya di cap bermasalah.

Dalam suatu percakapan dengan Guy Montag, Clarrise memprotes kenapa dirinya di cap sebagai orang yang tidak dapat bersosialisasi. Bagi Clarrise bersosialisasi adalah kegiatan mengobrol seperti yang saat itu mereka lalukan, bukan semata-mata sekumpulan orang yang didudukan di dalam satu ruangan yang sama dan dibuat menyaksikan suatu rekaman video pelajaran dalam diam.

Percakapan sepulang kerja dengan Clarrise akhirnya menjadi rutinitas yang menyenangkan bagi Guy Montag. Bak rubah dan sang pangeran kecil dalam buku cerita The Little Prince. Clarrise akan menunggunya di ujung jalan dan mereka bercakap-cakap hingga masing-masing sampai di depan rumah mereka yang bersebelahan.

Setelah itu Guy pulang ke Mildred, istrinya. Istrinya dan tayangan-tayangan televisi kesayangan yang diibaratkan sebagai keluarga. Istrinya yang kadang Guy pun merasa asing melihatnya.

Hingga pada suatu saat Guy tidak pernah melihat Clarrise lagi. Seminggu berlalu, ia mendapat kabar bahwa Clarrise mengalami kecelakaan, gadis itu tertabrak oleh mobil yang ngebut dan keluarganya pindah segera setelah peristiwa tersebut.

Ide-ide Clarrise dan pernyataan2nya tentang dunia meninggalkan jejak dalam diri Guy. Sebuah perasaan langka di dunianya yang bernama kehilangan.

Pada suatu malam alarm pemadam kebakaran berbunyi nyaring di markas mereka. Guy dan timnya pergi untuk melaksanakan tugas. Dalam prosedur normal, sebuah rumah bersama buku2 yang ada di dalamnya hanya akan dibakar ketika semua penghuni sudah keluar.

Di malam itu Guy merasa terguncang karena menemukan penghuni rumah yang memilih mati terbakar bersama buku-bukunya. Apa yang membuat orang itu begitu mencintai buku-buku?

Guy kehilangan minat bekerja. Ia tidak sanggup kembali ke markas pemadam kebakaran.

Guy sebenarnya menyimpan rahasia, ia menyimpan suvenir dari pekerjaannya. Dan saat ia mulai bertanya-tanya apa keistimewaan dari suvenir2 yang ia kumpulkan yang tidak lain adalah buku2, disaat itulah sang pemburu berbalik menjadi seseorang yang diburu.

Sejujurnya endingnya agak nanggung buat saya. But for the sake of the love of reading! For the good that books brought to us! With pleasure I gave 5 stars for this book.

PS : Review ini juga ditulis dalam rangka posting bareng Blogger Buku Indonesia (BBI) bulan Mei untuk kategori Klasik Kontemporer 🙂

Mata Air Kumari By Yudhi Herwibowo

20130530-122227.jpg

Penerbit : Bukukatta
Tebal : 136 Halaman

Peringatan : Kalo anda gampang gentar jangan coba-coba membaca cerpen ini malam-malam sendirian, hehe. Nanti nasibnya seperti saya yang merinding sendiri di dalam gerbong kereta sepi malam hari begitu sampai ke cerita tentang Ana Bakka! Hiiiiiii.

Kayaknya baru kali ini deh saya memberi 5 bintang pada buku kumpulan cerpen. Terlebih lagi kumpulan cerpen Indonesia. Mungkin memang cerita-cerita pendek di buku ini selera saya banget. Yang jelas begitu nutup buku langsung tertegun saking dibuat merindingnya oleh beberapa cerita di buku ini.

Secara keseluruhan terdapat 14 kisah dalam kumpulan cerpen ini. Genre setiap cerpen adalah campuran misteri, horror, dan magic realisme. Beberapa subjek cerita sudah kita jumpai dalam beberapa buku Yudhi Herwibowo yang lain seperti cerita tentang Kitta Kadafaru dan cerita tentang para Tiku (gerombolan perampok).

Ada beberapa cerita yang ingin saya highlight dari koleksi ini. Beberapa cerita yang menurut saya paling istimewa dan nendang banget, hehe. Berikut top five stories dari keempatbelas koleksi yang ada:

5. Bayi Baboa
Kisah ini adalah tentang seorang dokter wanita bernama Linda Dethan yang berpraktek di sebuah kota kecil bernama Rimolaka, sekitar 50 km sebelah utara kota Ende, Nusa Tenggara Timur.

Suatu ketika selesai praktek di kliniknya, dalam perjalanan pulang Linda di hentikan oleh seorang wanita yang menduga anaknya digigit ular. Ia pun segera mengikuti wanita yang ternyata bernama Magdalena itu.

Bayinya ternyata tidak apa-apa. Magdalena rupanya panik karena melihat dengan mata kepala sendiri ada ular baboa di dalam tempat tidur bayinya. Setelah ia berteriak ular itu pun pergi ke arah jendela dan Magdalena pergi mencari dokter.

Selang beberapa hari berlalu, Magdalena tiba-tiba datang ke tempat praktek Linda. Ia terlihat galau karena ular baboa itu muncul lagi di samping bayinya. Magdalena galau justru karena ular itu tidak mengigit bayinya. Dia khawatir bahwa bayinya adalah jelmaan setang (setan)!

Rupanya terdapat kepercayaan bahwa bila bayi baru lahir didatangi ular baboa, ia akan menjadi anak yang jahat dan durhaka pada orang tua. Ini bukan kejadian pertama, dan kejadian-kejadian sebelumnya selalu berakhir dengan Sang Ibu dengan tega membuang bayinya sendiri.

Sebagai dokter bagaimana Linda akan bersikap? Adakah itu hanya cerita karangan masyarakat setempat saja?

4. Dua Mata Perak
Dua mata perak adalah cerita tentang seorang wanita tuna susila yang tinggal berdua bersama anak perempuannya yang berumur 6 tahun, Aritha.

Aritha terlahir terlahir dengan dua mata perak yang membuatnya tidak dapat melihat. Terlepas dari hal itu, Aritha tumbuh menjadi anak yang kuat.

Namun ntah kenapa perempuan itu merasa Aritha belakangan ini banyak melakukan perlawanan diam terhadap dirinya. Aritha yang tadinya tidak pernah keberatan pada kenyataan ia banyak membawa lelaki ke rumah akhir2 ini menghatuinya dengan kedua mata perak itu.

Perempuan itu merasa takut kepada pandangan mata anaknya. Di kedua mata perak itu ia seolah-olah melihat bayangan kematian.

3. Anak Nemang Kawi
Cerita ini berlatar belakang di papua. Dengan tokoh seorang anak lelaki berumur 12 tahun yang mencoba membuktikan kepada teman-temannya bahwa ia juga adalah seorang anak yang pemberani, walaupun dengan perbuatannya itu ia telah melanggar larangan Ibunya.

Apa bentuk tantangan yang harus ia lalui itu?

Ia hanya harus mendaki bukit bernama Anak Nemang Kawi. Pada ajakan pertama ia menolak teman2nya karena ingat pada peringatan sang Ibu : Anak Nemang Kawi adalah tempat yang berbahaya, banyak orang jahat disana. Anak Nemang Kawi menurut Ibunya adalah tempat orang-orang mati.

Penolakan atas tantangan teman-temannya membuat ia diejek-ejek sebagai anak penakut dan pengecut. Oleh karena itu ia sekarang akan membuktikan keberaniannya dengan mendaki bukit itu sendirian, walaupun hati kecilnya tetap memperingati bahwa tindakannya salah. Ia bukan seorang pengecut.

2. Keris Kyai Setan Kober
Pernahkah terpikir oleh anda bahwa sebuah keris bisa memiliki ambisi?

Ya, ia adalah sebuah keris yang diciptakan seorang empu sakti dengan kemampuan terakhirnya. Ia ditempa dengan mantra-mantra sakti, ditemani dengan bayang-bayang gelap dan suara-suara bisikan dan gelak tawa yang licik.

Terbentuk sempurna dengan wilah 13 lekukan, sang keris pun tercipta sempurna dengan dilingkupi oleh bayang-bayang gelap dan dingin.

Lama terlupakan, keris itu haus akan petualangan. Ambisi untuk membuktikan kehebatannya semakin memuncak karena ejekan-ejekan dari bayang-bayang gelap yang menyelimutinya. Ia marah, dan mencari tuan yang layak untuk memilikinya.

1. Ana Bakka
Rombongan dokter muda dari Dinas Kesehatan Provinsi mendapatkan tugas untuk mengunjungi Desa Mafat-to, tiga jam dari Kota Kupang.

Salah satu dari rombongan itu adalah seorang dokter perempuan bernama Winda. Mereka memilki misi untuk melaksanakan survey perihal busung lapar.

Di tengah pelaksanaan survey Winda terhenyak melihat seorang anak perempuan yang terduduk di tanah. Kaki anak itu dipasung dengan kayu besar dari pohon kelapa.

Tanpa memperdulikan peringatan dari warga bahwa anak perempuan itu gila, Winda nekat mendekatinya. Ana Bakka, anak perempuan itu terlihat tak berdaya dan mengenaskan.

Terlepas dari cerita absurd penduduk desa bahwa Ana telah membunuh Ibunya sendiri, bahwa fam Bakka adalah fam jahat dan semua leluhurnya merupakan orang tidak baik. Winda bertekad harus menyelamatkan anak perempuan malang itu, Ana Bakka.

PS : Postingan juga dibuat dalam rangka posting bareng Blogger Buku Indonesia edisi bulan Mei 2013 untuk kategori kumpulan cerita 🙂

The Casual Vacancy By J. K. Rowling

13593363Penerbit : Little Brown Book

eISBN : 9781405519229

“But who could bear to know which stars were already dead, she thought, blinking up at the night sky; could anybody stand to know that they all were?”

Saya heran dengan rating buku ini di Goodreads yang bahkan tidak mencapai angka 3,5. Apa karena para pembaca mengharapkan Rowling menuliskan sebuah kisah lain yang menyerupai Harry Potter series dimana pihak yang baik pada akhirnya akan selalu menang? Bahwa cinta akan memberikan kekuatan untuk mengalahkan kejahatan?

As much as I love Harry Potter series, I fully realized that in the end, it is a fairy tale.

Keberhasilan J. K. Rowling menulis buku yang betul2 bertolak belakang dengan karya masterpiece nya adalah sesuatu yang brilian, akui saja it’s hard for a book to be compared with Harry Potter series. Meskipun pengarangnya sama, buku di genre yang sama akan selalu diperbandingkan.

The Casual Vacancy ini tidak akan pernah bisa diperbandingkan dengan Harry Potter series karena berasal dari spesies yang 180 derajat bertolak belakang. Not apple to apple. Karena itulah saya menyarankan jika temen2 akan membaca buku ini, buang jauh2 dari ingatan bahwa penulisnya adalah orang yang sama dengan penulis Harry Potter series. In that way you’ll be able to judge more objectively.

What’s the book all about?

It’s about real people, real life, where nobody are completely evil or completely good. Everyone is gray, they had a good side, but they also keeping secrets about them-self. It’s about hypocrisy that rule our world, where what other think of us are far more important that who we really are. It’s about prejudice that let us judge people because of their label and not their heart. It’s about irony that so often happened in real life, where people with “less resources” usually loose. It’s about how unfair life is, what is fated, fated.

“Things denied, things untold, things hidden and disguised.”

Yups.. That’s exactly what this book all about..

Latar belakang cerita dalam buku ini adalah sebuah kota kecil indah bernama Pagford. Kalo yang suka baca bukunya Agatha Cristie yang edisi Miss Marple, persis seperti itulah Pagford. Area kecil dimana semua orang (mengira) saling mengenal satu sama lain dan banyak hal yang tersembunyi dibalik indah dan teraturnya kota.

“Pagford Parish Council was, for its size, an impressive force. Of all the local council under the higher authority of Yarvil District Council, Pagford prided itself on being the most obstreperous, the most vocal and the most independent.

Yet this amicably appointed body was currently in a state of civil war. An issue that had been causing fury and resentment in pagford for sixty odd years had reached a definitive phase, and factions hand rallied behind two charismatic leaders.”

Kehidupan Pagford dikendalikan oleh sebuah badan perwakilan, Pagford Parish Council. Selama ini warga (yang mengaku) asli Pagford memiliki kebencian terpendam terhadap sebuah area kecil yang mereka namai Fields yang terdiri dari sekumpulan rumah (yang menurut mereka) kumuh berikut penghuninya yang sebagian besar tidak bereputasi baik.

Fields memang bukan perumahan asli Pagford. Pembangunan perumahan itu dilakukan oleh Distric Yarvil karena kurangnya sarana perumahan di distrik tersebut. Namun karena berada dalam area Pagford, maka Fields dinyatakan sebagai bagian dari Pagford. Meskipun orang2 asli Pagford beranggapan bahwa Fields adalah daerah berpenyakit yang membawa pengaruh buruk pada warga Pagford.

Selama ini terjadi perpecahan dalam Pagford Parish Council. Kekuatan terbagi ke dalam dua kubu dimana kubu yang satu ingin mencoret Fields dari wilayah Pagford, dan kubu yang lain berusaha sebisa mungkin memanusiaakan para penghuni Fields.

Kubu yang terakhir, dipimpin oleh seorang lelaki kharismatik bernama Barry Fairbrother. Barry yang humoris ini, dengan tulus melakukan banyak hal yang dapat memajukan para penghuni Fields.

Ketika pada suatu malam, secara tidak terduga Barry Fairbrother tiba2 tumbang di halaman parkir sebuah restoran ketika bermaksud merayakan ulang tahun pernikahan dengan istrinya, saat itulah peta kekuatan mulai bergeser di Pagford.

Barry meninggal pada malam itu. Dan luar biasa bagaimana sebuah kematian dapat memicu rangkaian kejadian yang berujung pada tragedi terbesar sepanjang sejarah Pagford.

Melalui buku ini sayang mengaminkan kemampuan J. K. Rowling untuk menulis. Damn she can write!! Dan pastinya saya akan sangat-sangat menantikan buku yang akan ditulis Jeng Rowling berikutnya.

Lima dari lima bintang untuk The Casual Vacancy.

“You must accept the reality of other people. You think that reality is up for negotiation, that we think it’s whatever you say it is. You must accept that we are as real as you are: you must accept that you are not God.”

 “What was love, after all? Thought Parminder. Was it love when somebody filled a space in your life that yawned inside you once they had gone?”