9 Summers 10 Autumns By Iwan Setyawan

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 211 Halaman

You may think this is weird. But reading some of the paragraphs in this book is like reading my own thoughts. I get the feeling. This guy also value solitude.

Tentang keramaian..

“Aku selalu berperang dengan diriku, selalu berat memilih antara kesendirian atau hiruk pikuk kehidupan. Aku telah terbiasa sendiri dalam hidupku, belasan tahun.”

“Hanya beberapa kali dalam setahun ke Hard Rock Cafe atau tempat hiburan malam lainnya. Aku tidak terlalu menikmatinya. Di tengah keramaian itu aku sering merasa asing, sepi, sendiri.”

Tentang ulang tahun…

“Dan hanya di malam panjang inilah aku bisa berdamai dengan rahasia-rahasia hidupku, melepaskannya, karena menyimpan rahasia sendiri hanya membuat nafasku tersengal. Aku ingin mengerti mereka dan memberi ruang yang lapang di hatiku.”

Tentang hal-hal yang hanya bisa disampaikan melalui tatapan..

“Some of you might know how it feels when eyes talk to you.”

I do know. Dalam dunia sempit saya yang nyaris berjalan selama 29 tahun, menemukan orang yang berada dalam chanel ini mungkin bisa dihitung jari.

Anyway. I love this book. I love the story. Untuk beberapa saat saya kira saya sempat bosan dengan buku bertema life struggle seperti ini. Tapi ternyata kita memang tidak akan pernah berhenti belajar. Jangan pernah mau berhenti belajar. Pengetahuan tentang hidup tidak ada batasnya.

Iwan tumbuh besar di daerah Batu, Malang. Di tengah keluarga yang memiliki berbagai keterbatasan namun justru memiliki kehangatan tidak terbatas yang tidak dapat dibeli dengan kekayaan. Kehangatan dan perjuangan bersama sebagai satu keluarga itulah yang saya rasa membuat jiwanya terasah. Kepekaan terhadap indahnya kehidupan, determinasi untuk melakukan hanya yang terbaik, kesabaran dan keihklasan dalam mencapai tujuan. Semua berawal dari kehangatan di sebuah rumah mungil di Batu, Malang.

Iwan menceritakan kisahnya ketika ia tengah bekerja di New York City. Ia tiba2 bertemu dengan anak kecil berseragam merah putih yang obviously adalah bagian dirinya sendiri. I get this, for I also sometimes talk to the child inside of me too. We do need to do that. Momen-momen untuk mengingatkan diri sendiri agar tidak menjadi daun kering yang ditiup angin kesana kemari.

Melalui dialog dengan anak tersebutlah Iwan menceritakan kisah hidupnya. Masa kecilnya, keluarganya, rumahnya, kapal layarnya hingga ia tiba di tempatnya sekarang. Kenapa anak itu muncul secara tiba-tiba di kehidupan Iwan, apa yang Iwan sendiri simpulkan melalui kisahnya sendiri. That’s the part I can not tell.

Yang jelas setelah menutup buku saya merasakan sedikit rasa panas di hati. This guy has been living my perfect version of “human soul” journey, and in the end he made the perfect choice.

Rasa panas di hati. Is it envy? Kalau pun iya, rasa panas ini sehat karena membuat saya ingin merasakan semua. Membuat saya bertanya pada diri sendiri sebenarnya apa yang saya inginkan dan beranikah saya untuk menetapkan keinginan. Tidak penting untuk dibahas disini, my personal story tentang hal itu bisa dibaca disini.

Apa yang membuat buku ini istimewa buat saya mungkin karena saya merasa personally connected with his point of view.

There’s no such thing as a perfect life. Everybody has their own issues. The difference is how we choose to make the best of this imperfect life. The choice is always ours.

“Kita selalu bisa kembali ke masa lalu. Kenangan itu, betapapun pahitnya, selalu bisa dikenang dan ditempatkan kembali di ruang yang tepat di hati kita. Dan, biarlah memori beristirahat disana. Biarlah kita kunjungi suatu saat.”

Advertisements