The Maze Runner ( The Maze Runner #1 ) By James Dashner

6186357“Shouldn’t someone give a pep talk or something?” Minho asked, pulling Thomas’s attention away from Alby.
“Go ahead,” Newt replied.
Minho nodded and faced the crowd. “Be careful,” he said dryly. “Don’t die.”

Seorang remaja laki-laki bernama Thomas, terbangun dalam sebuah lift dengan tidak satu pun memori dalam ingatannya.

Masih dalam keadaan kebingungan, Thomas mendapati dirinya ditarik keluar oleh segerombolan remaja laki-laki yang menjulukinya “Greenie” alias anak baru.

Ternyata Thomas berada di sebuah tempat bernama Glade. Tempat itu berupa ruang terbuka yang dikelilingi tembok maha tinggi yang menyerupai labirin. Anak-anak remaja yang tinggal disana menyebut dirinya Gladers.

Tempat itu telah ada selama dua tahun. Alby, sang pemimpin dari Gladers, merupakan anak-anak pertama yang dikirim kesana. Setiap bulannya satu anak laki-laki (hanya laki-laki) baru dikirim oleh dalang dari semua “permainan” yang mereka sebut sebagai The Creators.

Semua anak dikirim dalam keadaan tanpa ingatan kecuali nama mereka.

Semenjak terbangun di tempat tersebut, Alby dan kawan-kawan telah berusaha untuk membangun komunitas dengan peran-peran tertentu untuk setiap anak agar komunitas mereka sustain dan dapat bertahan. Ada yang berperan sebagai petani, peternak, tenaga kesehatan, tukang masak, pembangun, dan salah satu peran terpenting adalah sebagai “runners” alias pelari.

Rupanya setiap siang hari terdapat celah pintu masuk ke labirin yang selalu terbuka, pintu tersebut akan tertutup pada waktu yang selalu sama menjelang malam. Tugas para runners adalah menelusuri labirin dan mencoba mencari jalan keluar. Tidak ada anak yang boleh masuk ke dalam labirin kecuali para runners. Mereka harus kembali sebelum pintu tertutup. Jika tidak, mereka akan (hampir pasti) terbunuh oleh mahluk monster setengah mesin setengah binatang yang mereka namakan “Grievers”.

Grievers digambarkan sebagai mahluk dengan banyak tangan yang sebagian berupa senjata maupun suntikan (iya! Suntikan) yang bergerak dengan cara menggulung tubuhnya seperti bola dan menggeludung dengan bunyi yang keras dan mengerikan.

Baju, peralatan-peralatan dan juga serum penyembuh (jika tersengat grievers) dikirimkan oleh para Creators melalui lift.

Alby kemudian menugaskan seorang anak bernama Chuck untuk membantu Thomas beradaptasi. Chuck merupakan anak baru sebelum Thomas datang yang ternyata menawarkan persabahatan kepada Thomas.

Keadaan mulai kacau ketika sehari setelah Thomas datang, para Creators mengirimkan anak lain ke dalam Glade. Ini belum pernah terjadi. Ditambah lagi anak yang dikirim ternyata adalah seorang anak perempuan dalam keadaan koma dengan sepotong kertas dalam genggaman tangannya yang bertuliskan “She’s the last one”.

Setelah itu peristiwa menegangkan satu persatu mulai terjadi. Percobaan pembunuhan terhadap Thomas, terjebaknya Thomas, Alby dan Minho (pemimpin para runners) di dalam labirin. Terbunuhnya Grievers untuk pertama kalinya dalam sejarah Glade. Terhentinya malam dan siang. Ter-trigger nya ending dari Glade. Dan yang paling mengejutkan yaitu peran Thomas dalam keseluruhan permainan.

Thing are definitely changing at The Glade.

Mampukah mereka memecahkan teka teki dari labirin? Mampukah mereka keluar?

Dan orang gila macam apa yang tega menaruh anak-anak remaja dalam eksperimen hidup dan mati?

“If you ain’t scared… you ain’t human.”

Kesan yang diterima oleh saya, buku ini adalah campuran dari buku Lord of the Flies nya William Golding, buku The Hunger Games, dan juga film Saw. Hehehe. Seru!! Awal-awalnya saya agak sulit mengikuti cerita karena istilah-istilah gaul yang digunakan anak-anak Gladers.

Namun melewati 30% dari buku saya susaaaaaaaaaaaah banget ngerem baca. Thrill nya itu loh. Ditambah lagi endingnya yang bikin gerabakan cari buku seri selanjutnya.

Haaaaaaa.. Sangat direkomendasikan..

Dan ngeri juga ya kalo menilik cerita dystopia yang selalu berawal dari kondisi post-apocalypse. Seperti sebuah penerawangan atas masa depan bumi kita ini. Hancurnya peradaban selalu dituliskan sebagai sebuah kepastian.

Alkisah habis baca buku ini saya langsung nonton filmnya. Hhhmmmmm saya ngga begitu suka filmnya. Terlalu banyak disimpangkan jadi “lack of reason”.

Baca bukunya aja yaaaaaaaa…. Hihihihi…

5 dari 5 bintang untuk buku ini.

Anthem By Ayn Rand

Anthem By Ayn Rand

2114“And here, over the portals of my fort, I shall cut in the stone the word which is to be my beacon and my banner. The word which will not die should we all perish in battle. The word which can never die on this earth, for it is the heart of it and the meaning and the glory.

The sacred word: EGO”

Buat saya, Anthem nya Ayn Rand lebih cenderung berada di genre Philosophy yang disampaikan melalui cerita bergaya Dystopia. Let me explain why..

Penghilangan atribut-atribut individualitas secara ekstrim pada manusia tidak mungkin untuk dilakukan kecuali secara genetic direkayasa seperti dalam buku A Brave New World Aldous Huxley, atau dihadapkan dengan the power of extreme fear seperti dibangun George Orwell dalam 1984.

Diluar dari kondisi ekstrem tersebut, tatanan masyarakat Dystopia yang dibentuk secara fondasi akan sangat lemah dan pastinya akan menimbulkan banyak pemberontakan.

Ayn Rand sengaja mengambil bentuk Dystopia untuk meng-highlight individualitas dan ego manusia yang memang hampir mustahil untuk dihilangkan, kecuali oleh dua hal yang saya sebutkan sebelumnya.

Anthem berlatar di suatu waktu yang tidak spesifik di masa yang akan datang. Pada komunitas tersebut, semua atribut individual telah dicabut manusia. Seluruh anggota masyarakat, berkegiatan dan bekerja solely untuk kepentingan komunitas. Keinginan pribadi adalah dosa.

Profesi anggota masyarakat ditunjuk oleh counsel. Regenerasi dilaksanakan dengan mempertemukan perempuan dan laki-laki yang sudah masuk ke umur produktif secara seksual dipertemukan dalam secara random oleh counsel dalam suatu “mating night”. Bayi-bayi yang lahir kemudian diurus oleh komunitas hingga mereka dewasa untuk kemudian ditunjuk profesinya. Total Collectivism.

Is it possible? Secara Human Nature, No.

Selalu ada individu seperti tokoh Utama kita, Equality 7-2521 yang ditunjuk counsel untuk berprofesi sebagai penyapu jalan. Point of view narasi adalah dari Equality 7-2521. Awal-awalnya saya sempat dibuat bingung dengan narasi Equality 7-2521 yang menyebut I sebagai we. Tidak ada ungkapan sebagai individu. Sejak lahir orang-orang di komunitas tersebut sudah menggantikan I dengan kata We. The word “I”, simply does not exist.

Equality 7-2521 sebenarnya happy2 saja menjalankan perannya sebagai penyapu jalan. Namun ia tidak bisa melawan rasa keingintahuannya terhadap fenomena alam seperti hujan dan petir. Fyi, di komunitas itu, penerangan kembali ke bentuk lilin, tidak ada listrik, tidak ada teknologi whatsoever.

Rasa keingintahuan pribadi seharusnya merupakan dosa besar di komunitas tersebut. Namun anehnya Equality 7-2521 sama sekali tidak merasa itu adalah dosa. Menurutnya, keingintahuan itu adalah sebuah panggilan karena sebenarnya Equality 7-2521 sangat ingin berprofesi sebagai seorang scholar. Alias peneliti atau penemu.

Pada suatu hari, ketika menyapu jalan. Equality 7-2521 menemukan terowongan bawah tanah peninggalan peradaban yang sudah lama hancur. Agaknya, terowongan bawah tanah itu adalah eks terowongan kereta api peradaban modern yang pada saat ini sedang kita jalani.

Equality 7-2521 terkesima melihat terowongan tersebut. Ubin2nya halus dan putih, logam2 yang berjajar rapi (most likely rel kereta). Menurut peraturan, Equality 7-2521 seharusnya melaporkan temuannya tersebut. Namun ia ingin menyimpan rahasianya tersebut untuk dirinya sendiri. Equality 7-2521 tidak bisa membendung rasa ingin tahunya dan memutuskan untuk mengeskplorasi terowongan tersebut.

Pada waktu yang hampir bersamaan, Equality 7-2521 secara tidak sengaja bertemu dengan seorang wanita dengan kode nama Liberty 5-3000. Pria dan wanita secara aturan dilarang untuk saling memperhatikan. Namun Equality 7-2521 pada kenyataannya selalu mencari alasan untuk menyapu jalan di area ia biasanya bisa melihat Liberty 5-3000 bekerja. Suatu hari Equality 7-2521 memberanikan diri untuk berbicara dengan Liberty 5-3000 untuk meminta air. Ia menjuluki Liberty 5-3000 “the golden one” karena rambutnya yang pirang indah.

Equality 7-2521 telah melakukan eksperimen-eksperimen di terowongan bawah tanahnya. Secara tidak sengaja Equality 7-2521 berhasil menemukan listrik. Ia berencana untuk membawa penemuannya ke gedung para penemu agar komuitas mereka dapat menjadi tempat terang benderang yang ia impikan.

Namun apa daya, yang terjadi ketika ia menerobos masuk ke ruangan para scholar dan mendemonstrasikan penemuannya yang terjadi adalah mereka memanggilnya evil wretch dan filthy side sweeper. Para scholar sama sekali tidak mengganggap penemuannya dan meminta petugas keamanan untuk menahan Equality 7-2521.

Equality 7-2521 lalu kemudian kabur keluar batas area komunitas mereka. Ke hutan yang selama ini dilarang untuk diinjak oleh counsel komunitasnya. Pelarian Equality 7-2521 telah menjadi hot news di komunitasnya, Liberty 5-3000 kemudian memutuskan untuk menyusul Equality 7-2521 dan berhasil. Mereka berdua kemudian berjalan bersama mengarungi daerah hutan yang tak tersentuh dan juga berjalan untuk kemudian perlahan memahami konsep individu.

Ketika Equality 7-2521 akhirnya menangkap arti kata “I”, digambarkan oleh Ayn Rand seperti Hellen Keller pertama kali memperoleh pemahaman melaui kata pertamanya, “air”.

“The word “We” is as lime poured over men, which sets and hardens to stone, and crushes all beneath it, and that which is white and that which is black are lost equally in the grey of it.

It is the word by which the depraved steal the virtue of the good, by which the weak steal the might of the strong, by which the fools steal the wisdom of the sages. What is my joy if all hands, even the unclean, can reach into it? What is my wisdom, if even the fools can dictate to me? What is my freedom, if all creatures, even the botched and impotent, are my masters? What is my life, if I am but to bow, to agree and to obey?

But I am done with this creed of corruption. I am done with the monster of “We,” the word of serfdom, of plunder, of misery, falsehood and shame.

And now I see the face of god, and I raise this god over the earth, this god whom men have sought since men came into being, this god who will grant them joy and peace and pride.

This god, this one word: “I.”

5 dari 5 bintang untuk Ayn Rand atas penegasannya atas konsep alamiah individu dan ego yang memang adalah hal tersulit untuk disingkirkan dari fitrah seorang manusia.

We By Yevgeny Zamyatin

20130930-084504.jpg
Saya baru tau keberadaan novel ini setelah seorang pembaca review A Brave New World saya merekomendasikannya. Dan setelah selesai membaca We ini, sulit bagi saya untuk mengendapkan kenyataan bahwa buku ini ditulis sebelum dua dedengkot buku dystopian favorit saya yaitu 1984-George Orwell dan A Brave New World-Aldous Huxley.

Yevgeny Zamyatin menulis buku ini pada tahun 1920-an, sedangkan di Rusia sendiri (tempat buku ini ditulis) buku ini baru bisa dibaca dengan bebas pada tahun 1980-an. Naskahnya terlebih dahulu bisa masuk ke luar Rusia dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.

Agak menggelitik bahwa George Orwell pernah menulis A Brave New World-nya Aldous Huxley terinspirasi dari buku ini, sedangkan banyak pihak yang juga menganalisis kalau sebenarnya 1984-nya George Orwell juga memiliki plot yang sama dengan We. In a way saya dapat melihat cikal bakal kedua buku kesukaan saya dalam We ini. Buku ini adalah pionernya, Aldous Huxley dan George Orwell menyempurnakannya dengan menuliskan dua jenis buku dystopia dengan basis yang berbeda, yaitu rekayasa genetis+subconscious dan the power of fear.

Kembali ke buku utama yang sedang dibahas, secara singkat di dalam dunia di buku ini setiap manusia yang hidup tidak memiliki kebebasan individu. Mereka tidak memiliki nama dan hanya diidentifikasikan melalui nomor yang diberikan oleh Negara. Tidak ada konsep keluarga, setiap orang hidup di flat kaca tembus pandang hingga seluruh kegiatan dapat dilihat oleh para penghuni lain dan para penegak hukum.

Satu-satunya kesempatan untuk menurunkan tirai kaca adalah ketika setiap penduduk mendapatkan jatah “tiket pink”, yaitu kesempatan untuk melaksanakan proses reproduksi manusia dimana bayi yang lahir akan diasuh dan dibesarkan oleh Negara.

It’s natural that once Hunger had been vanquished (which is algebraically the equivalent of attaining the summit of material well-being), OneState mounted an attack on that other ruler of the world, Love. Finally, this element was also conquered, i.e., organized, mathematicized, and our Lex sexualis was promulgated about 300 years ago: “Any Number has the right of access to any other Number as sexual product.”

The rest is a purely technical matter. They give you a careful going-over in the Sexual Bureau labs and determine the exact content of the sexual hormones in your blood and work out your correct Table of Sex Days. Then you fill out a declaration that on your days you’d like to make use of Number (or Numbers) so-and-so and they hand you the corresponding book of tickets (pink). And that’s it.

Semua aspek dalam hidup telah disimplifikasi melalui hitungan matematika sehingga segala sesuatu berjalan sesuai dengan prediksi dan penuh dengan keteraturan. Pemimpin mereka adalah The Benefactor yang memiliki kekuasaan mutlak akan segala hal. Setiap perbuatan makar akan mendapatkan ganjaran hukuman mengerikan yaitu di-disintegrasikan hingga ke level atom di depan umum. The Benefactor menekan tombol mesin, dan “puff” manusia di dalamnya pun meleleh kemudian menjadi butiran debu.

Narator cerita ini diidentifikasi dengan nomor D-503, seorang pria yang berprofesi sebagai mathematicians dan sedang melaksanakan proyek pembangunan pesawat luar angkasa pertama mereka, The Integral.

Just this morning I was at the hangar where the INTEGRAL is being built—and suddenly I caught sight of the equipment: the regulator globes, their eyes closed, oblivious, were twirling round; the cranks were glistening and bending to the left and right; the balance beam was proudly heaving its shoulders; the bit of the router was squatting athletically to the beat of some unheard music. I suddenly saw the whole beauty of this grandiose mechanical ballet, flooded with the light of the lovely blue-eyed sun.

But why—my thoughts continued—why beautiful? Why is the dance beautiful? Answer: because it is nonfree movement, because all the fundamental significance of the dance lies precisely in its aesthetic subjection, its ideal nonfreedom. And if it is true that our ancestors gave themselves over to dancing at the most inspired moments of their lives (religious mysteries, military parades), that can mean only one thing: that from time immemorial the instinct of nonfreedom has been an organic part of man, and that we, in our present-day life, are only deliberately …

Quote di atas merepresetasikan bagaimana narrator kita D-503 begitu mencintai presisi yang tercipta dalam dunianya. Sampai suatu saat ia bertemu dengan seorang wanita, I-330. Sederhananya, D-503 jatuh cinta dan di dalam dunianya, sesuatu yang tidak dapat diprediksi seperti halnya jatuh cinta, tidak ada bedanya dengan kegilaan (Aldous Huxley menyempurnakan kemungkinan itu dalam dunia dystopia versinya).

I-330 ternyata bagian dari sebuah pergerakan geriliya untuk menentang kekuasaan The Benefactor. Dengan jatuh cinta kepada I-330, D-503 tidak dapat mengelak untuk terlibat dalam perkumpulan berbahaya tersebut.

Sementara itu para penguasa yang telah dapat membaca bahwa sesuatu sedang terjadi mengumumkan bahwa telah terjadi pandemi penyakit yang menurut mereka disebabkan oleh bagian dalam otak manusia yang memicu imajinasi. Mereka menawarkan operasi penyembuhan dengan menyingkirkan bagian otak bermasalah tersebut sehingga manusia bisa hidup dalam damai.

Dan semua hal kembali ke D-503, apakah ia akan memilih untuk dive to the unknown atau kembali ke dunia sebelumnya yang penuh dengan presisi? Well.. Read it for yourself, I won’t spoiled this masterpiece.. Hehe.. A highly recommended classics pioneer dystopia!

Fahrenheit 451 By Ray Bradbury

20130530-172304.jpg

There’s nothing magical about books at all. The magic is only in what books say, how the stiched the patches into one garment of us.

I’ve been wondering for quite a long time.. What is it that so special about books that makes me can’t get enough of them? The more I read the more I want to read. Does that even make sense?

Saat pertanyaan yang serupa dilontarkan oleh seorang tokoh tidak signifikan dalam buku ini, “Apa yang membuat buku begitu spesial hingga seseorang rela membahayakan dirinya untuk benda itu?

Can you answer it?

Mungkin salah satu jawaban yang sebenarnya adalah dalam quote di atas. Bukan apa isi dari buku itu sendiri yang ajaib, tetapi efek yang disebabkan kepada pembacanya itu sendiri yang luar biasa. Dan satu buku dapat memberikan efek yang berbeda dan unik antara satu orang dengan orang lainnya.

Makanya, never undermine anyone because of what they’re read and what they perceived by their reading experience.

Hal itu akan memicu perdebatan yang tidak ada ujungnya karena pengalaman membaca dan persepsi yang disebabkan oleh pengalaman membaca tersebut tidak akan ada yang persis serupa antara setiap orang yang satu dengan yang lainnya.

Back to the story, jadi apa itu Fahrenheit 451? Itu adalah suhu dimana kertas/buku mulai terbakar. Kenapa hal itu signifikan? Karena di dunia ini tugas utama seorang pemadam kebakaran adalah membumi hanguskan buku-buku berikut rumah dimana buku-buku tersebut ditemukan.

Tokoh utama kita, Guy Montag adalah seorang pemadam kebakaran. Ia tadinya menikmati pekerjaannya, melihat api menjilat-jilat menghanguskan benda-benda terlarang itu adalah suatu pemandangan yang teramat indah menurutnya.

Sampai suatu saat sepulang kerja ia bertemu dengan seorang tetangga baru, remaja perempuan bernama Clarrise. Dalam dunia itu, Clarisse adalah anak yang “berbeda” karena ia suka berbicara, berfikir dan mempertanyakan banyak hal yang membuatnya di cap bermasalah.

Dalam suatu percakapan dengan Guy Montag, Clarrise memprotes kenapa dirinya di cap sebagai orang yang tidak dapat bersosialisasi. Bagi Clarrise bersosialisasi adalah kegiatan mengobrol seperti yang saat itu mereka lalukan, bukan semata-mata sekumpulan orang yang didudukan di dalam satu ruangan yang sama dan dibuat menyaksikan suatu rekaman video pelajaran dalam diam.

Percakapan sepulang kerja dengan Clarrise akhirnya menjadi rutinitas yang menyenangkan bagi Guy Montag. Bak rubah dan sang pangeran kecil dalam buku cerita The Little Prince. Clarrise akan menunggunya di ujung jalan dan mereka bercakap-cakap hingga masing-masing sampai di depan rumah mereka yang bersebelahan.

Setelah itu Guy pulang ke Mildred, istrinya. Istrinya dan tayangan-tayangan televisi kesayangan yang diibaratkan sebagai keluarga. Istrinya yang kadang Guy pun merasa asing melihatnya.

Hingga pada suatu saat Guy tidak pernah melihat Clarrise lagi. Seminggu berlalu, ia mendapat kabar bahwa Clarrise mengalami kecelakaan, gadis itu tertabrak oleh mobil yang ngebut dan keluarganya pindah segera setelah peristiwa tersebut.

Ide-ide Clarrise dan pernyataan2nya tentang dunia meninggalkan jejak dalam diri Guy. Sebuah perasaan langka di dunianya yang bernama kehilangan.

Pada suatu malam alarm pemadam kebakaran berbunyi nyaring di markas mereka. Guy dan timnya pergi untuk melaksanakan tugas. Dalam prosedur normal, sebuah rumah bersama buku2 yang ada di dalamnya hanya akan dibakar ketika semua penghuni sudah keluar.

Di malam itu Guy merasa terguncang karena menemukan penghuni rumah yang memilih mati terbakar bersama buku-bukunya. Apa yang membuat orang itu begitu mencintai buku-buku?

Guy kehilangan minat bekerja. Ia tidak sanggup kembali ke markas pemadam kebakaran.

Guy sebenarnya menyimpan rahasia, ia menyimpan suvenir dari pekerjaannya. Dan saat ia mulai bertanya-tanya apa keistimewaan dari suvenir2 yang ia kumpulkan yang tidak lain adalah buku2, disaat itulah sang pemburu berbalik menjadi seseorang yang diburu.

Sejujurnya endingnya agak nanggung buat saya. But for the sake of the love of reading! For the good that books brought to us! With pleasure I gave 5 stars for this book.

PS : Review ini juga ditulis dalam rangka posting bareng Blogger Buku Indonesia (BBI) bulan Mei untuk kategori Klasik Kontemporer 🙂

Divergent By Veronica Roth

20130525-104404.jpgPenerbit : Katherine Tegen Books

Tebal : 487 Halaman

Our dependents are now sixteen. They stand on the precipice of adulthood, and it is up to them to decide what kind of people they will be. Decades ago our ancestor realized that it is not political ideology, religious belief, race, or nationalism that is to blame for a warring world. Rather, they determined that it was the fault of human personality-of humankind’s inclination toward evil, in whatever form that is. They divided into factions that sought to eradicate those qualities they believed responsible for the world’s disarray.

Those who blamed aggressions formed Amity.

Those who blamed ignorance became the Erudite.

Those who blamed duplicity created Candor.

Those who blamed selfishness made Abnegation.

And those who blamed cowardice were the Dauntless.

For me, to start reading an unfinished series always create an agony. Especially dystopian series like this one, in which by the time you close the last page, your hand will itch to get the next book. 🙂

Saya baca langsung dari buku satunya ini ke buku selanjutnya yang judulnya Insurgent. Itu juga begitu beres gemes bukan alang kepalang karena penasaran. Berhubung buku penutup dari seri ini (Allegiant) bakalan terbit di 2013 dan saya baru aja Pre Order (yes, I am that sick ;p) jadi yuk mari saya cerita sedikit soal buku satunya dulu, Divergent.

Seperti yang dijelaskan di quote awal, masyarakat di dunia Beatrice Prior, sang heroine kita dibagi kedalam lima kelompok. Amity, Erudite, Candor, Abnegation dan Dauntless. Penentuan dilaksanakan ketika anak2 mencapai umur 16 tahun.

Sebelum upacara penentuan, setiap anak diassessment kecenderungan sikapnya melalui suatu simulasi. Dari petugas simulasinya Beatrice menerima sebuah rahasia bahwa dirinya berbeda, hasil simulasinya tidak bisa disimpulkan.

Ia bisa memilih diantara tiga kelompok Abnegation, Dauntless dan Erudite. Orang2 seperti itu dinilai memiliki kecenderungan berbahaya karena tidak terkendali, karena itulah Beatrice tidak diperkenankan menceritakan hasil aptitude test nya kepada siapa pun. Orang2 dengan hasil seperti Beatrice, mereka disebut dengan istilah Divergent.

Dalam upacara penentuan, para anak remaja dipersilahkan untuk memilih kelompok yang sesuai dengan hasil aptitude test dan juga prinsip/ keinginan mereka, pilihan itu dinyatakan dengan meneteskan darah mereka ke salah satu simbol dari lima kelompok yang ada.

Setelah memilih, anak2 tersebut akan di didik menurut cara masing2 kelompok. Anak yang memilih kelompok yang sama dimana ia dibesarkan akan masih dapat bertemu dengan keluarganya. Namun anak yang memilih kelompok yang berbeda dari tempat ia dibesarkan harus meninggalkan keluarganya dan setia pada kelompok yang dipilih. Faction before blood. Begitulah motto yang dianut.

Working together, these five factions have lived in peace for many years, each contributing to a different sector of society. Abnegation has fulfilled our need for selfless leaders in government; Candor has provided us with trustworthy and sound leaders in law; Erudite has supplied us with intelligent teachers and researchers; Amity has given us understanding counselors and caretakers; and Dauntless provides us with protection from threats both within and without. In our factions, we find meaning, we find purpose, we find life.

Lalu apa yang terjadi dengan Beatrice di upacara pemilihan. Setelah cukup tercengang dengan kakaknya yang memilih Erudite alih2 kelompok asal mereka Abnegation, Beatrice ternyata melakukan hal yang sama dengan memilih Dauntless. Hari itu kedua orang tua mereka harus merelakan kedua anaknya mempunyai keluarga baru.

Those who want power and get it live in terror of losing it. That’s why we have to give power to those who do not want it.

Singkat kata, anak muda Dauntless adalah sekelompok daredevil yang dengan berbagai cara mencoba menguji “keberanian” para anak baru dengan tantangan yang penuh bahaya. Selain itu mereka juga berlatih kemampuan fisik dengan pertarungan satu lawan satu, menggunakan senapan, melempar pisau dan juga berlatih untuk menghadapi hal yang paling ditakuti melalui sebuah simulasi psikologis.

Persaingan pun sengaja diciptakan antara para anak baru. Setiap latihan memiliki skor sendiri untuk setiap anak.
Needless to say that from that point on the competition tends to get dirty.

Human reaction can excuse any evil; that is why it’s so important that we don’t rely on it.

Perlahan-lahan, Tris (panggilan Beatrice semenjak bergabung dengan Dauntless) menyadari bahwa kelompok2 yang sekarang ini ada sudah banyak menyimpang dari tujuan awal mereka dibentuk. Dari dalam kelompok Dauntless ia menyaksikan sendiri hal itu. Dauntless yang didirikan dengan prinsip “We believe in ordinary acts of bravery, in the courage that drives one person to stand up for another”, telah sedikit banyak mengabaikan idealisme mereka.

Ujian paling menantang dari inisiasi para Dauntless muda justru adalah ujian psikologis. Setiap anak disutik oleh suatu serum, lalu mereka masuk ke suatu ruangan. Serum tersebut akan memancing setiap anak untuk berhadapan dengan hal yang paling ditakutinya. Apa yang dilihat oleh setiap anak dapat dilihat dari tim penilai melalui layar, dan disitulah setiap anak dinilai dalam menghadapi ketakutan terbesarnya.

Dari ujian itu pula Tris mengetahui bahwa dirinya bisa memanipulasi jalannya simulasi. Serum simulasi tersebut tidak mempan padanya. Tris mampu menyadarkan dirinya bahwa itu adalah simulasi dan menenangkan dirinya sendiri. Situasi itu menyebabkan Tris menjadi menonjol diantara initiates lainnya. Tris dapat melalui simulasi tersebut dengan waktu tersingkat.

It’s when you’re acting selflessly that you are at your bravest.

Tris menjadi salah satu initiates dalam peringkat teratas. Sepanjang masa pendidikannya Tris menjalin kedekatan dengan seorang senior yang dijuluki Four. Four yang merupakan rival salah satu pemimpin muda Dauntless yang keji bernama Eric.

Bersama-sama dengan Four, kejadian demi kejadian menunjukkan bahwa fakta bahwa dirinya adalah seorang Divergent adalah kenyataan yang membahayakan. Banyak orang memberikan Tris peringatan. Sesuatu sedang terjadi diluar, ketegangan antar kelompok terasa hingga kalangan initiates.

Apa yang terjadi sebenarnya? Mengapa para Divergent berada dalam bahaya? Dijamin begitu nutup buku ini, anda pasti grabak grubuk mencari buku berikutnya. Hehehe.

I love Dystopians genre!! 5 dari 5 bintang untuk Divergent!!

Brave New World By Aldous Huxley

Penerbit : Harperperennial Modern Classics

Tebal : 340 Halaman

“Because our world is not the same as Othello’s world. You can’t make flivvers without steel-and you can’t make tragedies without social instability. The world’s stable now. People are happy; they get what they want, and they never want what they can’t get. They’re well off; they’re safe; they’re never ill; they’re not afraid of death; they’re blissfully ignorant of passion and old age; they’re plagued with no mothers and fathers; they’ve got no wives, or children, or lovers to feel strongly about; they’re so conditioned that they practically can’t help behaving as they ought to behave.”

Itulah Brave New World nya Aldous Huxley. Dunia dimana manusia dibuat dalam botol di pabrik besar dari telur & sperma terpilih. Tidak ada lagi ikatan keluarga, Ibu, Ayah, Saudara, Pacar. Tidak ada satu orang pun yang terikat pada orang lain. Tidak ada individu, semua manusia adalah bagian dari sistem, semua manusia merasa happy dengan dunia dan peran yang dijalaninya.

Sejak dalam botol setiap calon manusia sudah dikondisikan agar compatible untuk stratanya masing2. Alpha adalah para ras yang memiliki privilege sebagai ras unggul dan hanya diproduksi satu untuk setiap individu. Beta adalah para parempuan yang nantinya akan menjadi donor sel telur untuk para alpha.

Gamma, Delta, dan Epsilon adalah ras para pekerja yang sejak dalam botol, bayi dan balita sudah dikondisikan untuk pekerjaan yang harus dilakukannya di masa depan.  Ras simple minded yang merasa bahagia dengan hidupnya. Yang lebih gila lagi, untuk Gamma, Delta dan Epsilon dari satu embrio kemudian dilakukan penggandaan melalui proses yang dinamakan Bokanovsky sehingga satu embrio saja bisa menghasilkan lebih dari sepuluh individu. Cara edan untuk menghemat sel telur.

Pengkondisian setelah individu terbentuk dilakukan sejak bayi & balita melalui intersepsi alam bawah sadar. Dalam tidurnya setiap bayi & balita dicekoki propaganda strata masing2 melalui bantal berbunyi yang mensuarakan  dan menanamkan ide2 tersebut ke kepala setiap anak. Jadi ketika dewasa tidak akan ada kecurigaan dan ketidakpuasan antar strata. Setiap individu menerima fitrah stratanya masing2 secara senang hati.

Karena tidak ada lagi ikatan keluarga dan komitmen antar individu, maka setiap laki2 bebas bergaul (secara fisik maupun biologis) dengan perempuan mana saja dan demikian juga sebaliknya. Bebas, tanpa ikatan, tanpa perasaan, kapan saja tergantung agreement waktu dan kesediaan dengan pihak yang diinginkan. Edan eling kan.

Kenapa saya pilih buku ini untuk proyek baca barengnya Blogger Buku Indonesia bulan Agustus ini. Karena saya memang penyuka genre Dystopia, konon Dystopia paling hebat sepanjang masa selain 1984 George Orwell adalah Brave New World nya Aldous Huxley ini, plus bukunya memang udah lama pengen dibaca sudah ada di rak timbunan sejak kapan hari. Hehe. Setelah baca? Memang layak dikasi bintang lima buku ini.

Kalau dalam dunia 1984 masyarakat diatur dan digerakkan dengan ketakutan, maka buku ini lebih advanced mereka-reka sehingga masyarakat bisa diatur dengan manipulasi. Tepatnya manipulasi alam bawah sadar. Dengan demikian tidak akan ada perlawanan, setiap manusia merasa content dengan hidupnya dan melaksanakan peran yang sebenarnya merupakan hasil manipulasi dari tahap embrio. Mereka menjalankan apa yang para rulers ingin mereka untuk jalankan, and they’re perfectly happy with that, not even a glimpse of recessment ever crossed their minds. What can more be ideal that that?? Crazy Aldous Huxley. And I love his craziness.

“Actual happiness always look pretty squalid in comparison with the overcompensations of misery. And, of course, stability isn’t nearly so spectacular as instability. And being contended has none of the glamour of a good fight against misfortune, none of the picturesqueness of a struggle with temptation, or a fatal overthrow by passion or doubt. Happiness is never grand.”

Namun pada akhirnya karena ketidaksempurnaan dalam pembentukan, selalu saja ada individu yang nyeleneh, yang menurut pandangan general tidak sesuai dengan kualitas yang distandardkan alias non conformity. Hehe. Salah satunya tokoh utama kita Bernard Marx yang menurut semua orang terlalu individual dan bertindak di luar tatanan seharusnya.

Perjalanan Bernard Marx selanjutnya akan membuat kita sangat tergelitik (setidaknya saya). Are happiness really equal to contentment and stability? Are struggle, drama, love only led to desctruction and not worth the trouble?

Akkhhh… Buku gila ini sungguh menanamkan ide-ide (yang belum tentu baik) di kepala saya. Plus di edisi revisited yang saya baca ini ada review ulang dari Aldous Huxley sendiri pada tahun 1950-an tentang bukunya yang pertama terbit pada tahun 1931 ini. Pada intinya om Aldous terkejut dengan realitas bahwa hanya beberapa tahun setelah khayalannya dibukukan kejadian demi kejadian menunjukkan bahwa bukan tidak mungkin dunia yang ia khayalkan akan menjadi kenyataan lebih cepat dari yang ia sendiri bayangkan.

Tapi uraian nya memang masuk akal dan membuat saya merasa sedikit gelisah. Semua mungkin terjadi dan ada ilmunya. Tinggal menunggu terjadinya Chaos yang memojokkan manusia untuk mau tidak mau menciptakan tatanan baru. And I do feel that this world we live in is on the edge of Chaos. Frightening!!  He who holds the knowledge, holds the power.

“But I don’t want comfort. I want God, I want poetry, I want real danger, I  want freedom, I want goodness, I want sin.”

“In fact.” Said Mustapha Mond, “you’re claiming the right to be unhappy.”

“All right then, I’m claiming the right to be unhappy!”

Pandemonium By Lauren Oliver

Penerbit : HarperCollins Publisher

Tebal : 375 Halaman

“Grief is like sinking, like being buried. I am in water the tawny color of kicked-up dirt. Every breath is full of choking. There is nothing to hold on to, no sides, no way to claw myself up. There is nothing to do but let go.

Let go. Feel the weight all around you, feel the squeezing of your lungs, the slow, low pressure. Let yourself go deeper. There is nothing but bottom. There is nothing but the taste of metal, and the echoes of old things, and days that look like darkness.”

Lauren Oliver emang jago merangkai kata2 ya. Kalimat di atas sangat mengingatkan saya pada sesuatu. Anyway.. Baru aja saya ngakak2 baca review buku ini di goodreads, banyak banget yang mengutuk2. Jangan salah, bukan karena ceritanya ngga asik, tapi karena endingnya yang mencengangkan jiwa. Yang mengutuk2 itu malah rata2 ngasih bintang lima.

Saya sendiri waktu baca halaman terakhir sampe ngga sengaja semi teriak “Apaaa!! Terus gimana ini!!!” hehe. Untung si buku ngga terus dilempar ke tembok (pasti banyak yang mau nangkep kan, hihihi). Lagi-lagi bukan berarti saya ngga suka buku ini loh, cuma aduh ya mba Lauren ini kok ya bikin penasaran banget. Mana masih ditulis lagi buku ketiganya, kan lama nunggunya, hihihi.

Di buku ini ngga ada lagi tuh manis2an macem di Delirium. Ngga ada lagi kalimat2 tentang cinta yang bikin meleleh leleh. Di Pandemonium Lena sudah bertransformasi menjadi sosok yang lain. Sosok yang sudah mencicipi bagaimana rasanya merasa kehilangan sampe2 tidak merasa sama sekali. Berada di kondisi antara hidup dan mati. Lena yang sekarang penuh kegetiran dan dendam pada kelompok manusia yang telah membunuhnya.

Lena berhasil melarikan diri ke daerah “Wilds” di luar pagar masyarakat eksklusif di dunianya yang dulu yang menganggap cinta adalah sebuah penyakit. Oleh karena itu setelah berumur 18 tahun setiap warga harus melewati prosedur medis untuk menyingkirkan bagian otak yang memungkinkan manusia untuk merasakan cinta dan sayang. Dunia zombie.

“This is the world we live in, a world of safety and happiness and order, a world without love.

A world where children crack their heads on stone fireplaces and nearly gnaw off their tongues and the parents are concerned. Not heartbroken, frantic, desperate. Concerned, as they are when you fail mathematics, as they are when they are late to pay their taxes.”

Namun yang namanya hati mana bisa diatur sih. Lena sudah mengalami Amor Deliria Nervosa dan untuk Lena there’s no going back.

Setelah beberapa hari terlunta-lunta di Wilds, Lena akhirnya diselamatkan oleh sekelompok orang yang mirip dengan dirinya. The Uncured alias Invalids, begitulah dunianya yang dulu menamai kelompok itu. Cerita lalu beralih silih berganti antara masa dimana Lena baru saja bergabung dengan The Invalids dan baru menyesuaikan diri dengan masa dimana Lena sedang menjalani misi penyamaran rahasia dan bergabung kembali bersama kelompok manusia anti cinta yang sudah ditinggalkannya.

Raven, sang pemimpin Invalids menugaskannya untuk bergabung dengan kelompok DFA (Deliria-Free America) dan memusatkan perhatian pada Julian Fineman, sang maskot dari DFA yang juga anak lelaki dari ketua organisasi tersebut, Thomas Fineman.

Di masa yang satu kita dibawa melihat betapa kerasnya kehidupan para Invalids dan sangat kontras dengan masyarakat yang hidup di sisi pagar lainnya. Kita juga dibawa melihat Lena yang berusaha keras mengusir bayang-bayang Alex, Lena yang penuh dengan kemarahan dan determinasi untuk bertahan hidup demi satu motivasi. Dendam.

“This is what hatred is. It will feed you and at the same time turn you to rot.”

Di masa yang lain kita dibawa melihat bagaimana karena suatu insiden, Lena yang diberi tugas untuk menguntit Julian berakhir menjadi tahanan para Scavengers (kelompok yang juga belum disembuhkan namun bersifat anarkis dan hanya mempunyai tujuan membuat kekacauan) berikut dengan Julian. Mereka berdua ditahan di sebuah ruang bawah tanah untuk tujuan yang Lena belum bisa mengerti.

Lena terpaksa harus tetap berpura2 karena berada di ruangan yang sama dengan Julian sang pembeci Deliria. Lalu apa yang terjadi. Sebuah pelajaran jangan pernah menilai seseorang hanya berdasarkan dari kelompok mana orang itu berasal. Manusia itu unik, you never know

Lena yang sekarang sudah menjadi Heroine yang bisa menyisihkan rasa takutnya dan bertarung untuk bertahan hidup. Namun pada akhirnya luka yang ia tutupi akhirnya terkuak juga. Dan apakah Lena akan memberikan sang penyakit mematikan Amor Deliria Nervosa satu lagi kesempatan? What do you think? Hehe.. Yang jelas endingnya bikin penasaran banget!

Ayo dong sekuelnya cepet selesai ditulis dan terbit! (inilah mengapa kadang saya bilang racun buku berseri itu susah dicari penawarnya, hehe)

People themselves are full of tunnels: winding, dark spaces and caverns; impossible to know all the places inside of them. Impossible even to imagine.”

Mockingjay By Suzanne Collins

Penerbit : Scholastic

Tebal : 455 Halaman

“It takes ten times as long to put yourself back together as it does to fall apart.”

“I drag myself out of nightmares each morning and find there’s no relief in waking.”

Katniss is only a human, and after one human suffered that much, things will never be the same. This goes not only for Katniss, but also Peeta, Gale and other characters that seems to be changed to be a completely different person in this Hunger Games third series. I love Suzanne Collins for her bravery to take the risk by putting a taste of bitterness, despair and sadness of real life in her story.

There is no such thing as a superhuman, superhero or a happy ever after in real life. The best that we can do is hold on to that tiny little pieces of sanity that we still possess to live another day. And you cannot put back together broken pieces, it is damaged forever. That’s what happened. So it is too much for readers to hope that Katniss will always be that brave girl we encounter in book one.

For me, the transformation of the characters is so real, and I felt them. Things happened, people changed, our self changed, and there is no going back to who we used to be. It’s irreversible.

Kyaaahh, emosi saya bener2 terkuras membaca buku ketiga ini. Banyak ironi yang bikin sesek nafas dan intrik politik yang bikin saya pengen ngelempar karakter2 yang super nyebelin itu ke lobang buaya. But over all I am happy with how the story ends. That’s why I gave 5 stars to this book in Goodreads.

Apa yang akan kamu lakukan jika kamu baru saja menyadari kalau kamu begitu mencintai seseorang melebihi hidupmu sendiri dan di titik kesadaran itu ternyata orang yang kamu cintai lepas dari jangkauan dan ditahan oleh orang paling jahat di dunia yang akan menyiksanya perlahan-lahan untuk membuatmu menjadi patah dan gila.  Plus ternyata rumahmu, daerah asalmu telah diratakan dengan tanah, dihancurkan tanpa ampun berikut mayoritas penduduknya. Semua hancur. Tidak ada lagi District 12. I say we kill him.

Motivasi itulah yang menurut saya membuat Katniss bertahan. Sebegitu rusak dirinya, begitu teringat akan amarahnya pada President Snow maka ia akan bertahan untuk melalui hari2 berikutnya. Sampai dia bisa membunuh sang enemy number one.

Maka dari itu Katniss tidak peduli bagaimana ia lagi2 “hanya dijadikan alat” oleh para pemimpin kaum pemberontak di District 13 (ya, district 13 ternyata masih ada, selama ini mereka hidup dengan peralatan super canggih di bawah tanah, dipimpin oleh seorang wanita paruh baya super dingin bernama Coin, menunggu momen untuk menghancurkan Capitol). Terlempar dari kepentingan satu ke kepentingan lainnya. Kekuasaan satu ke kekuasaan lainnya. Menjadi boneka simbol pemberontakan, sang Mockingjay.

Most of the times Katniss terasa seperti hantu, seperti bayang2. Apalagi setelah mengetahui bahwa President Snow telah melakukan sesuatu yang lebih buruk dari membunuh Peeta. Mereka telah mencuci otak Peeta,  mengubah memorinya, membuat Peeta berpikir bahwa Katniss adalah Mutt (mahluk dengan rekayasa genetika buatan Capitol), dan me-reprogram Peeta untuk membunuhnya. Setelah itu tidak ada lagi yang berarti. Everything is lost. Except her own hunger to kill President Snow.

Jadilah Katniss melatih keras dirinya untuk menjadi seorang prajurit, dengan janji akan diikutsertakan dalam penyerangan langsung ke Capitol. Katniss berhasil mengumpulkan seluruh will power nya dan lulus menjadi seorang prajurit untuk mendapati bahwa dirinya masih dianggap sebagai lelucon oleh Coin. Ia beserta Gale dan Finnick memang ikut dalam penyerangan ke Capitol, namun hanya untuk kepentingan pengambilan gambar another propaganda. Such a joke.

Ketika segala sesuatu yang diskenariokan berjalan salah. Katniss memutuskan untuk melaksanakan niatnya semula. Masuk ke sarang musuh dan membunuhnya.

Saya bisa mengerti kenapa banyak pembaca tidak terlalu menyukai buku ketiga ini. Terlalu banyak tokoh yang terlanjur kita saya sayangi pada akhirnya mati. Sedangkan sang tokoh utama maju mundur berjuang untuk tetap waras while the others die for her cause. Sangat menyedihkan. But when that one flicker moments when finally Katniss come to her senses and have a clear view how to end the vicious circle and actually doing it. Pfiuuuhh what a relief. Rasanya sangat puas. At last there is hope for a better future. Tidak ada lagi ulterior motive karena rasa haus akan kekuasaan.

Dan tentang perasaan Katniss. Ah, kita juga tau dari buku kedua kepada siapa sebenarnya hati Katniss berlabuh. Karakter yang pada akhirnya paling saya sukai adalah Haymitch Abernathy, bagaimana pada akhirnya dia menjadi sosok yang paling mengerti Katniss dan berperan sebagai figur bapak (walau agak urakan) untuk Katniss dan Peeta. Cinna sang cool & brilliant stylist yang tidak banyak omong tapi menolak untuk disetir President Snow. Juga Finnick, sang don juan yang ternyata hanya punya satu cinta sejati dalam hidupnya. Dan pada akhirnya Katniss. Of course Katniss. She who despite in what condition, survive it all. What a book! What a story!

“What I need is the dandelion in the spring. The bright yellow that means rebirth instead of destruction. The promise that life can go on, no matter how bad our losses. That it can be good again. And only Peeta can give me that.”

“You love me. Real or not real?”
I tell him, “Real.”

Catching Fire By Suzanne Collins

Penerbit : Scholastic

Tebal : 472 Halaman

“In that one slight motion, I see the end of hope, beginning of destruction of everything I hold dear in the world. I can’t guess what form my punishment will take, how wide the net will be cast, but when it is finished,  there most likely be nothing left. So you would think that at this moment, I would be in utter despair . Here’s what’s strange. The main thing I feel is a sense of relief. That I can give up this game.”

Sempat berburuk sangka dalam 1/3 halaman pertama bahwa jalan cerita seri kedua The Hunger Games ini akan dibawa ke arah cinta segitiga yang nyebelin. Setelah menutup halaman terakhir bersyukur banget kalo prasangka saya salah besar. Hehe. Semakin kesini saya semakin suka arah jalan cerita yang lebih kaya intrik politik dan tokoh2nya yang semakin lovable (menurut saya). Plus munculnya enemy number one versi karakter buku, siapa lagi kalo bukan President Snow.

Dari awal ya? Di akhir buku pertama untuk menghindari kenyataan bahwa mereka harus saling membunuh Katniss mengeluarkan buah berry beracun, dan Peeta mengerti maksud Katniss. It is better if the both die. Tepat di saat mereka berdua memasukan buah berry beracun ke mulut masing2 para Gamemakers secara tiba2 merubah keputusan dan mengumumkan bahwa mereka berdua menang.

Di titik itu Katniss belum sepenuhnya menyadari akibat dari tindakannya. Dalam momen2 berikutnya ia baru menyadari bahwa tindakannya mengeluarkan buah berry tersebut dipandang sebagai bentuk perlawanan terhadap peraturan yang telah dibuat Capitol, therefore apa yang diperbuatnya sama dengan sebuah wujud pemberontakan. Untuk menyelamatkan mereka berdua Haysmith memerintahkan Katniss untuk berlaku seakan2 tindakannya dimotivasi oleh cinta buta dalam wawancara penutupan mereka.

Wawancara penutupan sukses. Penduduk Capitol dibuat termehek2 dengan kisah cinta Katniss dan Peeta. Dalam perjalanan pulang Peeta terkejut ketika Katniss bercerita tentang pengarahan Haysmith, Peeta sama sekali tidak mengetahuinya dan baru tersadar bahwa motivasi Katniss selama ini adalah hanya “how to survive the game” sedangkan Peeta benar2 tulus mencintai Katniss. Kaget dan terluka, semenjak saat itu Peeta dan Katniss menjaga jarak. Imho, saya ngga yakin motivasi Katniss 100% hanya untuk survival, hanya saja si neneng memang too numb to notice.

Setelah pulang ke District 12 mereka pindah ke Victors Village. Perumahan khusus tempat para pemenang The Hunger Games dari District 12 tinggal. Hanya 3 rumah yang terisi, milik Haysmith, milik Katniss dan milik Peeta. Semenjak saat itu Katniss dan Peeta tidak pernah kekurangan sesuatu apa pun.

Diantara Hunger Games yang sudah lewat dan Hunger Games berikutnya, pemenang diwajibkan untuk melaksanaan tour dari satu district ke district lainnya. Motivasi Capitol sebenarnya sangat jelas, agar warga district tidak sempat melupakan teror yang menunggu. I slightly admire how they manage their citizens by pure fear, di titik ini ceritanya hampir condong ke 1984 nya Orwell dan bukan lagi cerita young adults alias remaja.

Katniss sangat terkejut ketika suatu hari pulang ke rumah ada seorang tamu istimewa menunggunya. Tak lain dan tak bukan adalah penguasa Panem, sang diktator, President Snow yang membawa wewangian mawar campur darah ke setiap sudut ruang yang ditempatinya.

Ternyata sang Presiden sangat membenci tindakan Katniss dan bisa membaca bahwa motivasi “cinta buta” itu hanya sandiwara. Tindakan Katniss dianggap sebagai contoh pemberontakan untuk warga lainnya dan dapat memicu perlawanan dari District2, karena pada akhirnya Katniss menang, karena di saat2 terakhir pimpinan Gamemakers memutuskan untuk menyelamatkannya. Sang Presiden sendiri berpendapat bahwa sang pimpinan Gamemakers terlalu sentimentil dan menginformasikan kepada Katniss kalo ybs telah dihukum mati karena perbuatannya itu.

Presiden Snow juga telah mengetahui bahwa semenjak kembali ke District 12 hubungan Katniss dan Peeta berjarak, belum lagi komplikasi dari keberadaan Gale, sahabat Katniss yang ternyata menaruh perasaan terhadapnya. Sang Presiden tahu segalanya. Singkat kata sang Presiden memberikan peringatan kepada Katniss, bahwa ia harus tetap bersandiwara sebagai sepasang kekasih yang dimabuk cinta dengan Peeta, jika tidak maka taruhannya adalah seluruh nyawa keluarga mereka berdua.

Tour pun dimulai. Pada beberapa situasi spontanitas Katniss justru membawa efek yang berlawanan dengan yang diinginkan Presiden Snow, dan Katniss juga mulai melihat kenyataan bahwa mungkin memang betul pemberontakan telah dimulai. Saat tour berakhir di Capitol, Katniss menerima verdict nya dari Presiden Snow. Sandiwara yang telah dilakukannya tidak berhasil. Mimpi2 buruk Katniss pun dimulai. Di saat2 seperti ini Peeta selalu ada di samping Katniss, menemani Katniss tidur, menenangkannya ketika mimpi buruk datang. Oh sweet Peeta..

“Peeta, how come I never know when you’re having a nightmare?” I say.

“I don’t know. I don’t think I cry out or thrash around or anything. I just come to, paralyzed with terror,” he says.

“You should wake me,” I say, thinking about how I can interrupt his sleep two or three times on a bad night. About how long it can take to calm me down.

“It’s not necessary. My nightmares are usually about losing you,” he says. “I’m okay once I realize you’re here.”

Aaaawwwww.. Jitak Katniss lagi..

Hukuman datang melalui perayaan Quartel Quell. Setiap 25 tahun pelaksanaan Hunger Games, para panitia sakit jiwa di Capitol merayakannya dengan event khusus yang dinamakan Quarter Quell. Pada perayaan Quarter Quell biasanya peserta The Hunger Games ditentukan dua kali lebih banyak. Dalam arti setiap District harus mengrimkan dua pasang anak laki2 & perempuan.

Sesuatu yang berbeda terjadi tahun ini. Presiden Snow mengumumkannya lewat siaran langsung. Untuk perayaan 75 tahun The Hunger Games alias Quarter Quell tahun ini, peserta diambil dari para pemenang Hunger Games yang telah lewat. Setiap Distric harus mengirimkan sepasang pemenang. Artinya ? Artinya adalah Katniss is back in the game. Dan kali ini Katniss dan Haysmith sepakat bahwa mereka harus menyelamatkan Peeta. They owe him that dan Katniss merasa bahwa semua ini diskenariokan untuk memastikan ia mati, jadi lebih baik menjadikan kematiannya berguna dengan menyelamatkan Peeta.

“I have a mission. No, it’s more than a mission. It’s my dying wish. Keep Peeta alive.”

Oh ya ampyun saya sangat menyukai arah jalan cerita buku ini. Sungguh susah untuk berhenti baca. Di buku kedua ini juga kita akan berkenalan dengan karakter2 baru yang menarik, terutama para pemenang Hunger Games di masa lalu yang ikutan kembali ke arena, diantaranya ada Finnick, Johanna, Beete, Mags. Di buku kedua ini juga kita mulai bisa membaca apa yang terjadi termasuk Katniss dan Peeta. Ending yang mengagetkan bakalan membuat pembaca gigit jari dan yakin banget akan segera grabak grubuk nyari dan baca buku ketiganya.

“All I want to do is collapse on my metal plate. But I can hardly do that after what I just witnessed. I must be strong. I owe it to Cinna, who risked everything by undermining President Snow and turning my bridal silk into mockingjay Plumage. And I owe it to the rebels, emboldened by Cinna’s example, might be fighting to bring down the Capitol at this moment. My refusal to play the Games on the Capitol’s terms is to be my last act of rebellion. So I grit my teeth and will myself to be a player.”

“At some point, you have to stop running and turn around and face whoever wants you dead.The hard thing is finding the courage to do it.”

“You know, you could live a thousand lifetimes and not deserve him.”

The Hunger Games By Suzanne Collins

Penerbit : Scholastic

Tebal : 454 Halaman

“Panem, the country that rose up out of the ashes of a place that was once called North America. A shining capitol ringed by thirteen districts, which brought  peace and prosperity to its citizens. Then came the dark days, the uprising of the districts against the capitol. Twelve were deveated, the thirteenth obliterated. “

Begitulah sejarah Panem, negara ex Amerika Utara yang kini menjadi tempat tinggal seorang anak perempuan berumur 16 tahun bernama Katniss Everdeen. Tepatnya, Katniss tinggal di District 12, tempat para penambang batu bara.

Untuk senantiasa memperingati sekaligus menghukum warganya atas peristiwa pemberontakan tersebut, para penguasa di Capitol menciptakan permainan yang disebut The Hunger Games. Setiap distrik harus mengikutsertakan sepasang anak perempuan dan laki-laki berumur antara 12-18 tahun. Ke 24 anak tersebut dikumpulkan di Capitol untuk menjadi peserta The Hunger Games.

Apa itu The Hunger Games? Para penguasa (yang teramat sangat sakit jiwa menurut saya) setiap tahunnya menciptakan area buatan tertutup yang sangat luas, dimana 24 anak tersebut akan ditempatkan disana untuk saling membunuh. Ya, saling membunuh sampai hanya tersisa satu anak sebagai pemenangnya. Gilanya lagi, seluruh pergerakan anak2 tersebut direkam layaknya reality show disiarkan di TV dan menjadi tontonan wajib seluruh warga. Dengan kata lain para orang tua dipaksa melihat anaknya membunuh atau dibunuh. How sick is that?

Back to Katniss. Si neneng tinggal bersama Ibunya dan seorang adik perempuan berumur 12 tahun yang bernama Prim. Ayah Katniss meninggal ketika Katniss berumur 11 tahun dalam suatu ledakan di tambang batu bara. Setelah Ayahnya meninggal, Ibu Katniss menderita depresi berat sehingga sama sekali tidak bisa merawat Katniss dan Prim. Untuk melindungi adiknya Katniss pun mengambil peran sebagai kepala keluarga. District 12 adalah daerah miskin dimana kebanyakan warga harus berjuang untuk bisa makan.

Katniss melakukan segala cara. Termasuk melakukan kegiatan ilegal seperti berburu hewan liar di luar batas district untuk kemudian dijual dagingnya. Melalui kegiatan perburuan tersebut Katniss bertemu dengan Gale yang dua tahun lebih tua darinya. Katniss dan Gale menjadi sahabat sekaligus partner berburu. Berkat kegiatan berburu itu pula Katniss menjadi pemanah yang handal.

Setiap anak dari seluruh 12 district ketika berumur 12 tahun akan secara otomatis didaftarkan menjadi peserta The Hunger Games. Siapa yang akan menjadi peserta dari setiap district akan ditentukan melalui mekanisme undian. Anak yang terdaftar akan mendapatkan jatah rutin makanan (sangat seadanya) untuk satu orang sepanjang tahun. Anak yang berasal dari keluarga kurang mampu dapat mendaftarkan namanya lebih dari 1 kali (dengan probabilitas terpilih yang otomatis bertambah) untuk mendapatkan jatah makanan lebih bagi anggota keluarga lainnya.

Itulah yang dilakukan Katniss. Pada umur 12 ia mendaftarkan namanya empat kali. Di tahun-tahun berikutnya banyaknya nama yang dimasukan akan otomatis berlipat,  jadi diumur 16 Katniss terdaftar sebanyak 20 kali. Tahun ini untuk pertama kalinya juga adiknya Prim secara otomatis terdaftar. Katniss bertekad agar Prim jangan sampai harus mendaftarkan namanya lebih dari satu seperti yang telah Katniss lakukan.

Katniss adalah anak perempuan yang karena keadaan terbentuk menjadi pribadi yang dingin, keras, pragmatis dan sangat protektif terhadap keluarganya.

Saat pengundian perserta, setiap warga diwajibkan untuk menggunakan pakaian terbaiknya dan berkumpul di alun-alun. Saat kertas undi dibuka dan terbaca nama Prim Everdeen, tidak butuh waktu berpikir lama bagi Katniss untuk lari ke depan mimbar dan secara sukarela mendaftarkan diri untuk menggantikan adik tersayangnya. Penduduk district 12 tercenung, mereka telah mengenal Katniss dan Prim sepanjang hidupnya.

“Instead of acknowledging applause, I stand there unmoving while they take part in the boldest form of dissent they can manage. Silence. Which says we do not agree. We do not condone. All of this is wrong.

Then something unexpected happens. At least, I don’t expect it because I don’t think of District 12 as a place that care about me. But a shift has occurred since I stepped up to take Prim’s place, and now it seems I have become someone precious. At first one, then another, then almost every member of the crowd touches the three middle fingers of their left hand to their lips and holds it out to me. It is an old gesture of our district, occasionaly seen at funerals. It means thanks, it means admiration, it means goodbye to someone you love.”

Katniss berusaha keras menahan air matanya (I love her when she does this, bravo you strong girl, don’t ever let them see your tears). Satu lagi nama yang dibacakan jatuh pada Peeta Mellark, anak seorang pemilik toko roti yang di masa lalu pernah secara tidak terduga menolong Katniss ketika ia sedang kelaparan mencari makanan untuk ia dan keluarganya.

Katniss dan Peeta diberikan kesempatan untuk bertemu dengan orang2 terdekat mereka (untuk terakhir kalinya?) dan kemudian dibawa ke Ibukota Panem, Capitol yang penuh dengan cahaya, gedung2 tinggi dan kemewahan.

Katniss pun dipertemukan dengan orang2 yang nantinya akan berperan dalam posisinya dalam The Hunger Games, mentornya Haysmith dan Effie, penata gayanya Cinna, para gamemakers yang against all odds terkesan dengan “pemberontakan kecil” Katniss, Rue gadis kecil dari district 11 yang juga menjadi peserta Hunger Games. Katniss pun selanjutnya dikenal sebagai The Girl who was on Fire.

Aiiiiiyaaaa.. Gemes banget belum2 aja nonton filmnya, huuuuu.. Saya seneng banget sama karakternya Katniss. Contoh bagus buat anak2 muda jaman sekarang yang kebanyakan ngeliat tokoh cewe model Bella di Twilight (no hard feeling buat penggemar twilight ya). Katniss yang pragmatis, tenang, pejuang keras yang pantang menye2. Hehe. Tapi harus diakui when it comes to Peeta, Katniss sangat clueless sampe2 saya dibuat gemes, hehe. Tapi harus diakui itulah side effect yang mungkin muncul dari seseorang yang bersikap terlalu keras pada dirinya sendiri. Sisi lain yang berkaitan dengan urusan emosi bisa menjadi agak tumpul. Poor Peeta.. Hehe..

Apa yang terjadi dengan Katniss and Peeta? Iiiisshhh rugi banget kalo sampe belum baca buku ini. Baca deh! Young adult dystopian yang terseru yang pernah saya baca sampe sekarang.

“Only I keep wishing I could think of a way…to show the capitol they don’t own me. That I’m more than a piece in their games.”