Wuthering Heights By Emily Brontë

“Catherine Earnshaw, may you not rest as long as I am living. You said I killed you–haunt me then. The murdered do haunt their murderers. I believe–I know that ghosts have wandered the earth. Be with me always–take any form–drive me mad. Only do not leave me in this abyss, where I cannot find you! Oh, God! It is unutterable! I cannot live without my life! I cannot live without my soul!”

6712426Maybe something really bad happened to Emily Brontë ? Hmmm..

Kalo baca buku yang cerita dan tokoh-tokohnya ajaib seperti ini saya selalu penasaran dan jadi berhayal-hayal sendiri tentang bagaimana latar belakang sang penulis sehingga bisa melahirkan buku seperti ini. Hehehe. Ditambah lagi ini merupakan satu-satunya buku yang dihasilkan oleh Emily Brontë. Maybe something really bad did happened to her.. I highly suspect so..

Kenapa saya berpikiran seperti itu? Karena ya ampyuuuun saya ngga paham dengan tindakan dan keputusan yang diambil oleh tokoh-tokohnya. Memang betul sih untuk novel klasik yang ditulis lebih dari 100 tahunan yang lalu rata-rata kurang bisa saya pahami dari cara hidup maupun cara berpikir tokoh-tokohnya (seperti novel-novel Jane Austen yang suka bikin saya emeeeeeesh ;p).

Buku ini sama sekali bukan bercerita tentang romantisme, buku ini bercerita tentang rasa iri, obsesi dan dendam kesumat. It is not love, it is hate and vengeance.

Seorang pria bernama Mr Lockwood menyewa sebuah rumah di daerah terpencil di utara Inggris bernama Thrushcross Grange. Tidak lama setelah kedatangannya Mr Lockwood mulai mengeksplorasi lingkungan di sekitar Thrushcross Grange. Setelah beberapa lama berjalan kaki Mr Lockwood sampai ke sebuah rumah bernama Wuthering Heights dimana tidak lama kemudian ia bertemu dengan tuan rumahnya yang bernama Mr Heathcliff. Ada sesuatu yang sangat aneh dan kasar dengan Mr Heathcliff.

Di rumah itu ia bertemu dengan seorang wanita muda yang menarik namun ketus yang ternyata merupakan menantu Mr Heathcliff dan seorang pria muda yang tampak seperti pelayan namun ternyata bagian dari keluarga.

Malam itu badai salju datang dan Mr Lockwood pun terjebak di Wuthering Heights bersama tuan rumah yang tidak segan-segan mengekspresikan keberatannya atas keberadaan Mr Lockwood. Oleh seorang pelayan Mr Lockwood pun diantar ke sebuah kamar yang sudah lama tidak terpakai. Di kamar itu iya banyak melihat coretan Catherine di dinding dan dihantui oleh mimpi buruk (tentang arwah yang mencoba masuk dari jendela) yang membuatnya terbangun berteriak.

Pengalaman menginap satu malam di Wuthering Heights membuat Mr Lockwood sedikit banyak penasaran dengan latar belakang para penghuninya. Sekembalinya ke Thrushcross Grange Mr Lockwood pun bertanya pada seorang pelayan wanita disana yang bernama Ellen Dean. Ellen Dean ternyata pernah bekerja di Wuthering Heights dan dari kesaksian Ellen lah mengalir cerita tragis para penghuni Wuthering Heights.

Heathcliff adalah anak angkat pemilik Wuthering Heights, Mr Earnshaw yang ditemukan olehnya terlunta-lunta di pinggir jalan. Merasa terenyuh, Mr Earnshaw kemudian membawanya pulang dengan niatan membesarkan Heathcliff secara layak. Mr Earnshaw sendiri sudah memiliki dua anak, seorang anak laki-laki bernama Hindley dan adik perempuannya Catherine.

Heathcliff dan Catherine segera menjadi akrab dan melakukan segala sesuatu bersama. Lain halnya dengan Hindley yang membenci Heathcliff karena menganggap Heathcliff telah merebut kasih sayang Ayahnya.

Hindley kemudian keluar dari Wuthering Heights untuk belajar. Tahun demi tahun berlalu, Hindley kembali ke Wuthering Heights bersama istrinya. Di saat itu Mr Earnshaw telah berada dalam kondisi sakit-sakitan kemudian meninggal. Sepeninggal Mr Earnshaw, Hindley menjadi tuan rumah di Wuthering Heights. Karena dendam lamanya Hindley pun mengembalikan posisi Heathcliff menjadi pelayan biasa dan bukan anggota keluarga. This is the root of the fiasco in that family.

Antara Heathcliff dan Catherine yang beranjak remaja mulai muncul perasaan yang lebih dari sekedar teman bermain. Suatu insiden dalam petualangan Heathcliff dan Catherine menyebabkan Catherine terluka di dekat area tetangga terdekat mereka Thrushcross Grange dan menyebabkan Catherine selama beberapa minggu harus tinggal disana.

Sekembalinya dari Thrushcross Grange Heathcliff merasa Catherine menjadi berbeda dan lebih feminim, bukan lagi Catherine tomboy yang senang bermain dan bertualang berama Heathclif. Ditambah lagi Catherine menjadi dekat dengan Edgar Linton anak tuan rumah Thrushcross Grange.

Dua tahun kemudian Edgar Linton melamar Catherine. Heathcliff mencuri dengar pembicaraan Catherine dengan Ellen bahwa ia sebenarnya tidak mencintai Edgar melainkan Heathcliff, namun ia tidak bisa menikahi Heathcliff karena status dan pendidikan Heathcliff.

Merasa tersinggung dan direndahkan, malam itu Heathcliff meninggalkan Wuthering Heights. Tiga tahun kemudian Catherine dan Edgar resmi menikah, Catherine pindah ke Thrushcross Grange dengan membawa serta Ellen. Enam bulan setelah pernikahan Catherine dan Edgar Heathcliff kembali ke Wuthering Heights dan malapetaka pun dimulai.

Saya dengan keras menolak menggolongkan Heathcliff kedalam misunderstood romantic character. Apa yang membuat Heathcliff melakukan apa yang dia lakukan adalah bukan cinta yang berubah menjadi benci tetapi harga diri yang tersinggung, obsesi yang gelap, egoisme, dan sumur dendam yang tidak ada dasarnya.

Hindley dan Catherine telah menyinggung dan menyakiti orang yang salah dan mereka dipaksa membayar keputusan-keputusan yang mereka ambil oleh orang paling pendendam di dunia yang bernama Heathcliff.

Membaca buku ini betul-betul bikin makan hati.

Heathcliff yang kamu lakukan ke saya itu JAHAT! (bayangkan cinta di AADC 2 yang mengucapkan kalimat ini) ;p

Hehehe..

Tadinya mau ngasih 4 bintang karena buku ini bagaimanapun sudah membuat saya esmosi jiwa dan pengen baca terus, tapi semakin dipikirin saya semakin sebel sama Heathcliff dan tokoh-tokoh lainnya jadi saya turunin ke 3 bintang saja. Hahaha.

Untung Emily Brontë ngga pernah ketemu dengan George R. R. Martin, they will make a perfect couple, hehe.. (apaaaaaaa sih cha)

Anthem By Ayn Rand

Anthem By Ayn Rand

2114“And here, over the portals of my fort, I shall cut in the stone the word which is to be my beacon and my banner. The word which will not die should we all perish in battle. The word which can never die on this earth, for it is the heart of it and the meaning and the glory.

The sacred word: EGO”

Buat saya, Anthem nya Ayn Rand lebih cenderung berada di genre Philosophy yang disampaikan melalui cerita bergaya Dystopia. Let me explain why..

Penghilangan atribut-atribut individualitas secara ekstrim pada manusia tidak mungkin untuk dilakukan kecuali secara genetic direkayasa seperti dalam buku A Brave New World Aldous Huxley, atau dihadapkan dengan the power of extreme fear seperti dibangun George Orwell dalam 1984.

Diluar dari kondisi ekstrem tersebut, tatanan masyarakat Dystopia yang dibentuk secara fondasi akan sangat lemah dan pastinya akan menimbulkan banyak pemberontakan.

Ayn Rand sengaja mengambil bentuk Dystopia untuk meng-highlight individualitas dan ego manusia yang memang hampir mustahil untuk dihilangkan, kecuali oleh dua hal yang saya sebutkan sebelumnya.

Anthem berlatar di suatu waktu yang tidak spesifik di masa yang akan datang. Pada komunitas tersebut, semua atribut individual telah dicabut manusia. Seluruh anggota masyarakat, berkegiatan dan bekerja solely untuk kepentingan komunitas. Keinginan pribadi adalah dosa.

Profesi anggota masyarakat ditunjuk oleh counsel. Regenerasi dilaksanakan dengan mempertemukan perempuan dan laki-laki yang sudah masuk ke umur produktif secara seksual dipertemukan dalam secara random oleh counsel dalam suatu “mating night”. Bayi-bayi yang lahir kemudian diurus oleh komunitas hingga mereka dewasa untuk kemudian ditunjuk profesinya. Total Collectivism.

Is it possible? Secara Human Nature, No.

Selalu ada individu seperti tokoh Utama kita, Equality 7-2521 yang ditunjuk counsel untuk berprofesi sebagai penyapu jalan. Point of view narasi adalah dari Equality 7-2521. Awal-awalnya saya sempat dibuat bingung dengan narasi Equality 7-2521 yang menyebut I sebagai we. Tidak ada ungkapan sebagai individu. Sejak lahir orang-orang di komunitas tersebut sudah menggantikan I dengan kata We. The word “I”, simply does not exist.

Equality 7-2521 sebenarnya happy2 saja menjalankan perannya sebagai penyapu jalan. Namun ia tidak bisa melawan rasa keingintahuannya terhadap fenomena alam seperti hujan dan petir. Fyi, di komunitas itu, penerangan kembali ke bentuk lilin, tidak ada listrik, tidak ada teknologi whatsoever.

Rasa keingintahuan pribadi seharusnya merupakan dosa besar di komunitas tersebut. Namun anehnya Equality 7-2521 sama sekali tidak merasa itu adalah dosa. Menurutnya, keingintahuan itu adalah sebuah panggilan karena sebenarnya Equality 7-2521 sangat ingin berprofesi sebagai seorang scholar. Alias peneliti atau penemu.

Pada suatu hari, ketika menyapu jalan. Equality 7-2521 menemukan terowongan bawah tanah peninggalan peradaban yang sudah lama hancur. Agaknya, terowongan bawah tanah itu adalah eks terowongan kereta api peradaban modern yang pada saat ini sedang kita jalani.

Equality 7-2521 terkesima melihat terowongan tersebut. Ubin2nya halus dan putih, logam2 yang berjajar rapi (most likely rel kereta). Menurut peraturan, Equality 7-2521 seharusnya melaporkan temuannya tersebut. Namun ia ingin menyimpan rahasianya tersebut untuk dirinya sendiri. Equality 7-2521 tidak bisa membendung rasa ingin tahunya dan memutuskan untuk mengeskplorasi terowongan tersebut.

Pada waktu yang hampir bersamaan, Equality 7-2521 secara tidak sengaja bertemu dengan seorang wanita dengan kode nama Liberty 5-3000. Pria dan wanita secara aturan dilarang untuk saling memperhatikan. Namun Equality 7-2521 pada kenyataannya selalu mencari alasan untuk menyapu jalan di area ia biasanya bisa melihat Liberty 5-3000 bekerja. Suatu hari Equality 7-2521 memberanikan diri untuk berbicara dengan Liberty 5-3000 untuk meminta air. Ia menjuluki Liberty 5-3000 “the golden one” karena rambutnya yang pirang indah.

Equality 7-2521 telah melakukan eksperimen-eksperimen di terowongan bawah tanahnya. Secara tidak sengaja Equality 7-2521 berhasil menemukan listrik. Ia berencana untuk membawa penemuannya ke gedung para penemu agar komuitas mereka dapat menjadi tempat terang benderang yang ia impikan.

Namun apa daya, yang terjadi ketika ia menerobos masuk ke ruangan para scholar dan mendemonstrasikan penemuannya yang terjadi adalah mereka memanggilnya evil wretch dan filthy side sweeper. Para scholar sama sekali tidak mengganggap penemuannya dan meminta petugas keamanan untuk menahan Equality 7-2521.

Equality 7-2521 lalu kemudian kabur keluar batas area komunitas mereka. Ke hutan yang selama ini dilarang untuk diinjak oleh counsel komunitasnya. Pelarian Equality 7-2521 telah menjadi hot news di komunitasnya, Liberty 5-3000 kemudian memutuskan untuk menyusul Equality 7-2521 dan berhasil. Mereka berdua kemudian berjalan bersama mengarungi daerah hutan yang tak tersentuh dan juga berjalan untuk kemudian perlahan memahami konsep individu.

Ketika Equality 7-2521 akhirnya menangkap arti kata “I”, digambarkan oleh Ayn Rand seperti Hellen Keller pertama kali memperoleh pemahaman melaui kata pertamanya, “air”.

“The word “We” is as lime poured over men, which sets and hardens to stone, and crushes all beneath it, and that which is white and that which is black are lost equally in the grey of it.

It is the word by which the depraved steal the virtue of the good, by which the weak steal the might of the strong, by which the fools steal the wisdom of the sages. What is my joy if all hands, even the unclean, can reach into it? What is my wisdom, if even the fools can dictate to me? What is my freedom, if all creatures, even the botched and impotent, are my masters? What is my life, if I am but to bow, to agree and to obey?

But I am done with this creed of corruption. I am done with the monster of “We,” the word of serfdom, of plunder, of misery, falsehood and shame.

And now I see the face of god, and I raise this god over the earth, this god whom men have sought since men came into being, this god who will grant them joy and peace and pride.

This god, this one word: “I.”

5 dari 5 bintang untuk Ayn Rand atas penegasannya atas konsep alamiah individu dan ego yang memang adalah hal tersulit untuk disingkirkan dari fitrah seorang manusia.

Dracula By Bram Stoker

17238Format : librivox.org Audiobook

Adalah Jonathan Harker, seorang penasehat hukum, yang pada suatu waktu menerima perintah dari Biro Hukumnya untuk pergi ke tempat seorang klien bernama Count Dracula yang tinggal di suatu tempat bernama Transylvania.

Jonathan Harker mengganggap penugasan tersebut sebagai petualangan dan cukup bersemangat untuk menyelesaikannya. Sepanjang perjalanan, Jonathan selalu menulis jurnal tentang pengalamannya dari hari ke hari, dan juga menulis surat kepada kekasihnya Wilhelmina Murray.

Melalui jurnal dan surat-surat tersebutlah kita memperoleh narasi tentang pengalaman Jonathan Harker di Transylvania.

Fyi, gaya penulisan novel ini memang memiliki format epistolary, yaitu penceritaan berdasarkan jurnal dan juga surat dari tokoh-tokoh utamanya, dan juga dokumen-dokumen tertulis lain seperti Log Book kapal atau berita di surat kabar.

Gaya penceritaan model ini, menambah unsur misteri di keseluruhan jalan cerita dan juga memberikan kesempatan kepada pembaca untuk melihat suatu kejadian dari berbagai sudut pandang tokoh utamanya.

Kembali ke cerita. Dalam perjalanan menuju kastil Count Dracula, Jonathan mulai menemui hal-hal misterius. Diantaranya adalah nyaris diserang oleh sekumpulan Serigala, dan ketika singgah di suatu tempat istirahat menuju kastil tersebut, setelah bercerita tentang tempat tujuannya, oleh pemilik tempat istirahat Jonathan dibekali salib untuk dikalungkan. Untuk melindungi Jonathan, ujar si pemilik tempat istirahat. Weird.

Sesampainya di Kastil, Jonathan bercerita tentang aura misterius tempat tersebut, dan juga tentang Count Dracula yang dingin, tidak pernah sekalipun terlihat makan, dan juga memilih waktu-waktu yang ganjil untuk berkonsultasi kepada Jonathan tentang prosedur pembelian rumah di London serta permasalahan hukum lainnya.

Count Dracula sangat tertarik dengan London. Itu kesan kuat yang didapatkan oleh Jonathan.

Setelah beberapa hari Jonathan menyadari bahwa ia tidak pernah melihat siapapun di dalam kastil tersebut. Hanya ia dan Count Dracula. Jonathan pun perlahan sadar kalo sebenarnya ia adalah seorang tahanan di Kastil tersebut.

Pada suatu malam ketika nyenyak tertidur, Jonathan mendengar suara-suara di kamarnya. Mengintip melalui kelopak matanya yang tertutup, Jonathan melihat tiga wanita yang cantiknya tidak manusiawi sedang memandangi Jonathan yang tertidur. Ia menjuluki mereka the tree sisters. Ketika salah satu dari perempuan itu merundukkan mukanya ke arah Jonathan, ia diselamatkan oleh Count Dracula yang segera mengusir perempuan-perempuan itu.

Yang membuat Jonathan ketakutan adalah bahwa ketika Count Dracula tiba-tiba muncul, ia membawa sebuah karung. Dan apa yang Nampak merupakan isi dari karung tersebut, Jonathan menduga, adalah tubuh seorang anak kecil.

Jonathan pun mulai menyelidiki kastil tersebut. Ia menyaksikan Count Dracula mampu merayap di dinding kastil. Dan juga menemukan tempat istirahat dari Count Dracula yang tidak lain berupa sebuah peti mati.

Jonathan takut setakut2nya.

Narasi kemudian beralih ke log book sebuah kapal yang tiba di London dalam keadaan kosong dan hanya menyisakan kapten kapal. Semua kru kapal hilang di perjalanan. Melalui jurnal sang kapten kita mempelajari bahwa ia beberapa kali melihat seorang laki-laki tinggi kurus asing berkeliaran di kpalnya. Dan juga muatan aneh berupa 50 peti mati yang konon berisi tanah dari Trasylvania. Setibanya di pelabuhan London, sang kapten melihat seekor serigala besar melompat dari kapalnya.

Dari sini cerita beralih ke tunangan Jonathan, Wilhelmina Murray. Melalui jurnal Mina, begitu ia biasanya dipanggil, dan juga surat-surat Mina kepada sahabat karibnya Lucy Westenra, pembaca bisa menduga-duga apa yang terjadi.

Setelah beberapa waktu Mina mengkhawatirkan tunangannya yang hilang tanpa kabar, ia akhirnya berhasil menemukan Jonathan yang ternyata jatuh sakit dan menderita demam otak. Tidak ada yang tahu kapan dan bagaimana Jonathan kabur dari kastil di Trasylvania.

Jonathan yang baru sembuh akhirnya meminta Mina untuk menikahinya. Namun sebelumnya menyerahkan jurnalnya kepada Mina, untuk ia baca dan setelah itu untuk baru memberikan keputusan apakah ia mau menikahi Jonathan.

Mina bersedia untuk menyimpan jurnal tersebut, namun menolak untuk membacanya karena ia percaya sepenuhnya pada Jonathan. Mereka pun menikah dengan bahagia.

Sementara itu di tempat lain, sahabat Mina, Lucy Westenra tiba-tiba menderita sakit berat. Tubuhnya tampak pucat dan tidak berdaya. Tunangan Lucy, Arthur Holmwood kemudian meminta bantuan temannya, seorang dokter bernama John Seward.

Karena penyakit Lucy yang hanya aneh dan hanya bisa disembuhkan dengan transfusi darah, John Seward pun akhirnya meminta bantuan kolega nya Abraham Van Helsing.

Legenda Vampir, sesungguhnya telah ada untuk waktu yang sangat lama. Abraham Van Helsing, ternyata adalah salah satu orang yang familiar dengan legenda-legenda tersebut. Penyakit Lucy, membuat Van Helsing memiliki dugaan tertentu. Van

Helsing kemudian mencoba melidungi Lucy dengan barang-barang yang menurut mitos dapat menangkal Vampir. Namun demikian Lucy terus menerus memerlukan transfuse darah. Arthur Holmwood, John Seward dan juga Van Helsing telah menyumbangkan darah mereka untuk Lucy.

Ketika Lucy masih membutuhkan darah, mereka pun mencari orang lain yang dapat melakukannya. Bertemulah ketiga orang tersebut dengan pemuda yang bernama Quincy Jones, yang ternyata pernah melamar Lucy namun ditolak olehnya (John Seward juga pernah melamar Lucy namun ditolak juga).

Ketiga pemuda yang sama-sama mencintai Lucy, dan juga Van Helsing telah berusaha sebisa mereka untuk menyelamatkannya. Namun apa daya, Lucy Westenra akhirnya meninggal. Anehnya, setelah meninggal tubuh Lucy secara fisik terlihat lebih sehat dan lebih hidup serta jauh lebih cantik, daripada sebelumnya. Ketiga pemuda itu pun berduka.

Dan Van Helsing tau bahwa permasalahannya tidak akan berakhir disini.

Beberapa hari kemudian, sebuah berita di surat kabar memberitakan tentang sebuah fenomena aneh. Dalam beberapa hari terakhir kerap terjadi kejadian “anak hilang”. Anak2 tersebut selalu hilang menjelang malam, dan pada pagi harinya ditemukan kembali di tempat-tempat umum. Anak-anak yang ditemukan tersebut selalu memiliki dua bekas gigitan kecil di lehernya.

Mereka mengaku dibawa oleh seorang bloofer lady (beautiful lady). Menarik kan?

Abraham Van Helsing, Athur Holmwood, John Seward, dan Quincy Jones akhirnya berkorespondsi dan bertemu dengan Jonathan dan Mina Harker. Mereka berenam pun mengakurkan cerita mereka. Akhirnya mereka membentuk persekutuan untuk memburu mahluk bernama Count Dracula. Dan disinilah cerita menjadi amat sangat seru dan membuat penasaran.

Dan jangan salah, Count Dracula pun tidak akan menyerah tanpa perlawanan.

Seruuuuuuuuuuuuuuuu deh!!

Yang jelas buku Dracula nya Bram Stoker ini menjadi cerita gothic yang menjadi trendsetter vampirisms. Buku klasik yang harus dibaca… Itu juga kalo kamu berani! Hihihi..

The Age of Innocence By Edith Warton

IMG_3465

“It was the old New York way.. The way people who dreaded scandal more than disease, who placed decency above courage, and who considered that nothing was more ill bred than “scenes”, except those who gave rise to them”

Baru kali ini saya menikmati buku dengan cara mendengarkan audiobook. Alkisah karena jalanan Jakarta yang macet, dan sayang rasanya waktu yang dihabiskan buat bermacet2, saya Iseng2 menginstal aplikasi Audiobook dari Librivox di Apple Store yang ternyata enak dan mudah buat di dengar.

Dan sekarang tidak ada lagi waktu yang terbuang. Di mobil saya masih bisa menikmati buku. Hehe.

Back to the book..
The Age of Innocence-nya Edith Warton berlatar belakang di New York pada tahun 1870-an. Adegan dibuka dengan sang tokoh utama, seorang pemuda bernama Newland Archer yang sedang menghadiri opera, bersama masyarakat terpadang kota New York lainnya.

New York dimasa itu masih berwujud komunitas kecil dimana terdapat tata krama masyarakat setempat yang jika tidak dipatuhi, maka akan menyebabkan skandal. Juga terdapat keluarga2 besar yang berpengaruh dan menjadi penentu apa yang pantas dan apa yang tidak. Newland Archer telah bertunangan dengan seorang gadis dari keluarga Mingotts yang merupakan salah satu keluarga paling berpengaruh di New York di kala itu.

Di opera, Newland sedang memandangi tunangannya, May Welland yang duduk di box khusus untuk keluarga Mingotts. Saat itu, Newland melihat seorang wanita masuk ke box keluarga Mingotts di tengah2 opera berlangsung. Newland mengenali wanita itu, ia adalah Ellen Olenska, sepupu May. Seketika itu Newland merasa terganggu.

Kenapa ?

Karena di momen itu Newland Archer adalah sosok pemuda yang taat pada nilai2 dan tata krama masyarakat. Newland merasa terganggu karena Ellen Olenska adalah tokoh yang kontroversial. Ia dikabarkan telah meninggalkan suaminya Count Ollenski di Eropa. Newland merasa khawatir akan gossip yang akan menerpa calon keluarganya.

Untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari Countess Olenska, Newland dan May memutuskan untuk mengumumkan pertunangan mereka di malam itu, di pesta keluarga Beaufort.

Beberapa hari kemudian, Newland Archer yang berprofesi sebagai pengacara mendapatkan berita dari atasannya, Mr. Letterblair, bahwa Ellen Olenska berniat untuk menggugat cerai suaminya. Mr. Letterblair meminta bantuan Newland (atas permintaan keluarga Mingotts) untuk membujuk Ellen Olenksa untuk mengurungkan niatnya.

Perceraian, di kala itu, merupakan skandal besar dan seluruh keluarga besar akan terkena dampak dari perhatian dan gossip yang beredar karena skandal tersebut.

Newland, sebagai calon anggota keluarga Mingotts sepantasnya ikut khawatir akan prosepek skandal tersebut, dan harus pula turut mengerahkan upaya untuk mencegah terjadinya skandal yang ditakutkan.

Atas pertimbangan yang diuraikan Mr. Letterblair, Newland setuju untuk mencoba berbicara dengan Ellen Olenska. Newland Archer pun berkunjung ke kediaman sang Countess.

Pada kunjungannya akhirnya Newland bisa melihat Ellen Olenska yang sebenarnya, dan bukan hanya dari skandal yang disebabkan oleh kedatangannya. Ellen Olenska ternyata adalah wanita yang cerdas, pemberani, dan kritis. Singkatnya, Ellen Olenska berbeda dari wanita lain yang Newland pernah kenal, termasuk tunangannya May.

Newland Archer mulai jatuh cinta pada sang Countess.

Apa yang harus dilakukan Newland ? Ellen Olenska masih berstatus istri orang, dan seluruh komunitas telah mengetahui pertunangannya dengan May. Lebih parah lagi, Ellen adalah sepupu May dan hubungan mereka dekat.

Cerita selanjutnya baca sendiri ya.. Hehe..

Apakah Newland Archer akan melakukan apa yang benar  atau apa yang pantas? Apakah Ellen Olenska akan pada akhirnya tunduk pada standar2 yang ditetapkan masyarakat? dan apakah May Welland pada akhirnya bisa melihat kenyataan yang sebenarnya?

“But marriage is a long sacrifice..”

Buku ini adalah kesedihan yang indah. 50% pertama dari cerita saya kesal karena Newland yang ngga jelas. Namun 50% terakhir benar-benar membuat saya penasaran akan apa jalan yang akan ditempuh tokoh2 tersebut. Fyi, Newland yang jatuh cinta dengan Olenska lalu malah mempercepat pernikahannya dengan May. Dan mereka akhirnya menikah, namun Newland terus mencintai Ellen dan berniat kabur dengannya.

Menurut saya, malah Ellen dan May adalah tokoh kuatnya. Merekalah yang pada akhirnya menentukan sikap dan mengambil pilihan.

Hidup memang isinya penuh dengan pilihan. Dan pernikahan itu memang lebih dari sekedar cinta2an. Pernikahan itu penuh dengan tanggung jawab dan kompromi.

Percaya deh, buku ini bukan sekedar romantisme yang klise. Buku ini mengajarkan kedewasaan. Mengajarkan pengorbanan. Dan terlepas dari masyarakatnya yang lebay, kaku dan penuh dengan prasangka, cinta itu memang bukan segalanya.

“The real loneliness is living among all these kind people who only ask to pretend.”

“I can’t love you, unless I give you up.”

5 dari 5 bintang untuk buku ini.

 

 

 

The Phantom Tollbooth By Norton Juster

phantomtollboothIt’s much harder to tell whether you are lost than whether you were lost, for, on many occasions, where you’re going is exactly where you are. On the other hand, you often find that where you’ve been is not at all where you should have gone, and, since it’s much more difficult to find your way back from someplace you’ve never left, I suggest you go there immediately and then decide.

Pada awalnya saya merasa sulit untuk dapat memengerti tokoh utama dalam buku ini. Seorang anak laki-laki bernama Milo. Di paragraf pertama dari buku, deskripsi tentang Milo sudah membuat saya sediki antipati dengan anak lelaki yang tidak tau apa maunya ini.

When he was in school he longed to be out, and when he was out he longed to be in. On the way he thought of coming home, and coming home he thought about going. Wherever he was he wished he were somewhere else, and when he got there he wondered why he’d bothered. Nothing really interested him – least of all the things that should have.

See what I mean?

Lalu hidup bagaikan sebuah lelucon sarkastis menempatkan saya di kondisi persis seperti Milo. Ngga tau maunya apa. Tidak ada yang dapat menarik perhatian dan dapat mengangkat semangat. Tidak ada yang menarik. Semuanya statis. Membosankan. Seperti hidup segan mati tak mau.

Bahkan saya kehilangan minat menulis review.

Satu-satunya comfort place buat saya adalah ketika saya berada diantara lembaran buku.

Kembali ke cerita Milo. Anak itu beruntung karena pada suatu hari yang membosankan ia menemukan sebuah paket besar di kamarnya yang berisi sebuah Phantom Tollbooth, lengkap dengan mobil-mobilan kecil, peta dan rule book permainan. Karena Milo tidak memiliki hal lain untuk dikerjakan dan kebetulan merasa sangat bosan, ia pun memutuskan untuk mencoba naik ke mobil-mobilan dan memilih suatu destinasi yang  tercatum di Peta. Dictionopolis, itu nama tempatnya.

Milo mulai melaju ke arah tollbooth tersebut, memasukkan koin dan melewatinya. Tiba-tiba Milo berada di tempat yang tidak ia kenal. Sebuah daerah bernama Expectations yang berada di garis luar Kingdom of Wisdom. Secara tidak sengaja di (kerajaan) Dictionopolis, Milo masuk ke petualangan dimana ia terjebak harus menyelamatkan dua putri bernama Rhyme dan Reason yang ditahan di sebuat tempat bernama Castle in the Air.

Untuk sampai ke tempat itu Milo harus melewati Digitopolis dan Mountain of Ignorance, dan untuk menjalankan misinya Milo ditemani oleh seekor anjing bernama Tock, dan seekor mahluk bernama Humbug (omong kosong).

Dan seperti layaknya sebuah petualangan, makna dan hikmahnya terletak pada perjalanan yang dilalui. Bukan pada titik akhir.

You must never feel badly about making mistakes. As long as you take the trouble to learn from them. For you often learn more by being wrong for the right reasons than you do by being right for the wrong reasons.

Pada akhir petualangan Milo telah menjadi anak yang berbeda. Milo kini bisa menikmati keadaan.

Menikmati langit biru, hijaunya dedaunan..

Outside the window, there was so much to see, and hear, and touch-walks to take, hills to climb. There were voices to hear and conversations to listen to in wonder, and the special smell of each day. And, in the very room in which he sat, there were books that could take you anywhere, and things to invent. His thoughts darted eagerly about as everything looked new-and worth trying.

See what I mean when I say Milo is lucky.

I too want that kind of experience. That kind of adventure. To find purpose, to find reason, to feel that things are worth to fight for.

I too want to find that Phantom Tollbooth.

5 stars for this book. Bravo Norton Juster.

 

We By Yevgeny Zamyatin

20130930-084504.jpg
Saya baru tau keberadaan novel ini setelah seorang pembaca review A Brave New World saya merekomendasikannya. Dan setelah selesai membaca We ini, sulit bagi saya untuk mengendapkan kenyataan bahwa buku ini ditulis sebelum dua dedengkot buku dystopian favorit saya yaitu 1984-George Orwell dan A Brave New World-Aldous Huxley.

Yevgeny Zamyatin menulis buku ini pada tahun 1920-an, sedangkan di Rusia sendiri (tempat buku ini ditulis) buku ini baru bisa dibaca dengan bebas pada tahun 1980-an. Naskahnya terlebih dahulu bisa masuk ke luar Rusia dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.

Agak menggelitik bahwa George Orwell pernah menulis A Brave New World-nya Aldous Huxley terinspirasi dari buku ini, sedangkan banyak pihak yang juga menganalisis kalau sebenarnya 1984-nya George Orwell juga memiliki plot yang sama dengan We. In a way saya dapat melihat cikal bakal kedua buku kesukaan saya dalam We ini. Buku ini adalah pionernya, Aldous Huxley dan George Orwell menyempurnakannya dengan menuliskan dua jenis buku dystopia dengan basis yang berbeda, yaitu rekayasa genetis+subconscious dan the power of fear.

Kembali ke buku utama yang sedang dibahas, secara singkat di dalam dunia di buku ini setiap manusia yang hidup tidak memiliki kebebasan individu. Mereka tidak memiliki nama dan hanya diidentifikasikan melalui nomor yang diberikan oleh Negara. Tidak ada konsep keluarga, setiap orang hidup di flat kaca tembus pandang hingga seluruh kegiatan dapat dilihat oleh para penghuni lain dan para penegak hukum.

Satu-satunya kesempatan untuk menurunkan tirai kaca adalah ketika setiap penduduk mendapatkan jatah “tiket pink”, yaitu kesempatan untuk melaksanakan proses reproduksi manusia dimana bayi yang lahir akan diasuh dan dibesarkan oleh Negara.

It’s natural that once Hunger had been vanquished (which is algebraically the equivalent of attaining the summit of material well-being), OneState mounted an attack on that other ruler of the world, Love. Finally, this element was also conquered, i.e., organized, mathematicized, and our Lex sexualis was promulgated about 300 years ago: “Any Number has the right of access to any other Number as sexual product.”

The rest is a purely technical matter. They give you a careful going-over in the Sexual Bureau labs and determine the exact content of the sexual hormones in your blood and work out your correct Table of Sex Days. Then you fill out a declaration that on your days you’d like to make use of Number (or Numbers) so-and-so and they hand you the corresponding book of tickets (pink). And that’s it.

Semua aspek dalam hidup telah disimplifikasi melalui hitungan matematika sehingga segala sesuatu berjalan sesuai dengan prediksi dan penuh dengan keteraturan. Pemimpin mereka adalah The Benefactor yang memiliki kekuasaan mutlak akan segala hal. Setiap perbuatan makar akan mendapatkan ganjaran hukuman mengerikan yaitu di-disintegrasikan hingga ke level atom di depan umum. The Benefactor menekan tombol mesin, dan “puff” manusia di dalamnya pun meleleh kemudian menjadi butiran debu.

Narator cerita ini diidentifikasi dengan nomor D-503, seorang pria yang berprofesi sebagai mathematicians dan sedang melaksanakan proyek pembangunan pesawat luar angkasa pertama mereka, The Integral.

Just this morning I was at the hangar where the INTEGRAL is being built—and suddenly I caught sight of the equipment: the regulator globes, their eyes closed, oblivious, were twirling round; the cranks were glistening and bending to the left and right; the balance beam was proudly heaving its shoulders; the bit of the router was squatting athletically to the beat of some unheard music. I suddenly saw the whole beauty of this grandiose mechanical ballet, flooded with the light of the lovely blue-eyed sun.

But why—my thoughts continued—why beautiful? Why is the dance beautiful? Answer: because it is nonfree movement, because all the fundamental significance of the dance lies precisely in its aesthetic subjection, its ideal nonfreedom. And if it is true that our ancestors gave themselves over to dancing at the most inspired moments of their lives (religious mysteries, military parades), that can mean only one thing: that from time immemorial the instinct of nonfreedom has been an organic part of man, and that we, in our present-day life, are only deliberately …

Quote di atas merepresetasikan bagaimana narrator kita D-503 begitu mencintai presisi yang tercipta dalam dunianya. Sampai suatu saat ia bertemu dengan seorang wanita, I-330. Sederhananya, D-503 jatuh cinta dan di dalam dunianya, sesuatu yang tidak dapat diprediksi seperti halnya jatuh cinta, tidak ada bedanya dengan kegilaan (Aldous Huxley menyempurnakan kemungkinan itu dalam dunia dystopia versinya).

I-330 ternyata bagian dari sebuah pergerakan geriliya untuk menentang kekuasaan The Benefactor. Dengan jatuh cinta kepada I-330, D-503 tidak dapat mengelak untuk terlibat dalam perkumpulan berbahaya tersebut.

Sementara itu para penguasa yang telah dapat membaca bahwa sesuatu sedang terjadi mengumumkan bahwa telah terjadi pandemi penyakit yang menurut mereka disebabkan oleh bagian dalam otak manusia yang memicu imajinasi. Mereka menawarkan operasi penyembuhan dengan menyingkirkan bagian otak bermasalah tersebut sehingga manusia bisa hidup dalam damai.

Dan semua hal kembali ke D-503, apakah ia akan memilih untuk dive to the unknown atau kembali ke dunia sebelumnya yang penuh dengan presisi? Well.. Read it for yourself, I won’t spoiled this masterpiece.. Hehe.. A highly recommended classics pioneer dystopia!

Les Misérables By Victor Hugo

33175“But it is an error to suppose that we can ever exhaust Fate or reach the end of everything? What is the riddle of these countless scattered destinies, whither are they bound, why are they as they are? He who knows the answer to this knows all things. He is alone. His name is God.”

Akhirnya.. Selesai juga baca buku ini..

Jangan salah, bukan karena saya kurang suka atau males baca buku maha tebal model begini, tapi karena memang sejatinya Les Misérables ini butuh dicerna pelan2. Di suatu waktu saya memaksakan marathon baca, hasilnya adalah overload pemikiran yang sayang kalo tidak diendapkan satu persatu.

Buku ini penuh dengan pemaparan nilai2 yang menohok sampai2 selesai baca buku membuat saya geleng2 kepala sendiri. Kondisi sosial politik, sejarah, agama dan nilai2 kemanusiaan secara umum, sarat ditawarkan kepada pembaca di setiap halamannya.

Bahkan pemikiran dan analisa sosial yang dituliskan oleh Victor Hugo saya rasa masih relevan sampai detik ini. Apalagi di Indonesia negeri tercinta kita. Ada banyak kemiripan antara kondisi tempat Jean Valjean ditempa dan kondisi Indonesia saat ini, khususnya di Ibukota Jakarta. Gap social yang begitu lebar antara orang2 yang hartanya berlimpah dengan  orang2 yang masih tidak tau hari ini harus makan apa begitu kentara terlihat.

Di belakang apartemen2 mewah dan mall2 terdapat bedeng2 kecil yang bisa ditinggali hingga lima jiwa. Banyak orang yang sanggup membeli mobil atau rumah yang berharga milyaran rupiah dan banyak juga yang hingga akhir hayatnya berpasrah mengontrak. Dimana karena perkara uang 100 ribu nyawa bisa melayang. Ah.. Dunia tempat kita tinggali ini semakin menakutkan memang.

Berawal dari kebaikan dan kemurnian hati seorang Bishop Myriel yang memperlakukan orang lain bukan berdasarkan cap yang diberikan masyarakat kepada seseorang, tetapi lebih kepada keyakinan bahwa setiap manusia pada dasarnya memiliki banyak kebaikan. Perlakuannya kepada seorang napi dalam perlarian mampu mengetuk hari nurani yang masih tersisa dan menyababkan napi tersebut bertekad untuk hanya berada di jalan kebaikan selama sisa hidup. Jean Valjean namanya.

Jean Valjean sesungguhnya melakukan kejahatan pencurian kecil karena terdorong oleh kondisi ekonomi dan ia harus menghadapi terror pengejaran dari inspektur Javert, seorang polisi yang tidak akan pernah melepaskan satu buronan pun dari tangannya. Tidak peduli apakan orang tersebut menjadi terdakwa karena betul2 salah atau tidak. Tidak peduli apakah orang tersebut telah kembali ke jalan yang benar dan sebagai penebusan atas kejahatan kecilnya, telah berubah menjadi seseorang yang sukses dan berbuat banyak untuk masyarakat, baginya seorang penjahat tetaplah seorang penjahat.

Dunia bagi inspektur Javert adalah hitam putih, dimana sekali seseorang masuk ke dunia hitam. Maka tidak ada jalan baginya untuk kembali. Dan Jean Valjean adalah salah satu dari sekian banyak Les Misérables, orang-orang yang selalu ditempa penderitaan dan ketidakadilan hampir seumur hidupnya.

“And there comes a point, moreover, where the unfortunate and the infamous are grouped together, merged in a single, fateful word. They are Les Misérables – the outcasts, the underdogs.”

Lalu adapula Fantine yang melambangkan kenaifan. Naif bahwa kekasihnya akan bertanggung jawab. Naif bahwa keluarga Thenadier akan merawat anaknya Cossette dengan baik sementara ia mencari nafkah dengan menjual jiwanya. Sedangkan keluarga Thenadier datang dari dunia yang sama sekali berbeda. Dunia yang penuh dengan tipu daya, pengambilan keuntungan dan kejahatan2 lain yang dalam pandangan keluarga itu, sudah hampir seperti jalan hidup yang diambil.

And when all is lost, the future still remains..

Harapan adalah sesuatu yang penting untuk dimiliki. Bahwa hidup ini seperti roda yang berputar, dan harapan harus selalu ada untuk membimbing kita ke bagian atas roda. Bagi saya Cossette dan Marius melambangkan harapan. Harapan dari kesemerawutan dan kegelapan yang melatar belakangi kehidupan keduanya, kebaikan pada akhirnya akan selalu ada.

Tapi buku ini bukan sekedar tokoh2nya. Buku ini adalah pemikiran luar biasa yang digambarkan melalui benang merah jalan hidup tokoh2nya. Victor Hugo adalah tokoh utamanya, dan untuk kali ini, saya menaruh penghargaan tertinggi untuk sang pengarang yang mewariskan nilai2 untuk dianut sepanjang masa.

“It is ourselves we have to dear. Prejudice is the real robber, and vice the real murderer. Why should we be troubled by a threat to our person or our pocket? What we have to beware if is the threat to our souls.”

Fahrenheit 451 By Ray Bradbury

20130530-172304.jpg

There’s nothing magical about books at all. The magic is only in what books say, how the stiched the patches into one garment of us.

I’ve been wondering for quite a long time.. What is it that so special about books that makes me can’t get enough of them? The more I read the more I want to read. Does that even make sense?

Saat pertanyaan yang serupa dilontarkan oleh seorang tokoh tidak signifikan dalam buku ini, “Apa yang membuat buku begitu spesial hingga seseorang rela membahayakan dirinya untuk benda itu?

Can you answer it?

Mungkin salah satu jawaban yang sebenarnya adalah dalam quote di atas. Bukan apa isi dari buku itu sendiri yang ajaib, tetapi efek yang disebabkan kepada pembacanya itu sendiri yang luar biasa. Dan satu buku dapat memberikan efek yang berbeda dan unik antara satu orang dengan orang lainnya.

Makanya, never undermine anyone because of what they’re read and what they perceived by their reading experience.

Hal itu akan memicu perdebatan yang tidak ada ujungnya karena pengalaman membaca dan persepsi yang disebabkan oleh pengalaman membaca tersebut tidak akan ada yang persis serupa antara setiap orang yang satu dengan yang lainnya.

Back to the story, jadi apa itu Fahrenheit 451? Itu adalah suhu dimana kertas/buku mulai terbakar. Kenapa hal itu signifikan? Karena di dunia ini tugas utama seorang pemadam kebakaran adalah membumi hanguskan buku-buku berikut rumah dimana buku-buku tersebut ditemukan.

Tokoh utama kita, Guy Montag adalah seorang pemadam kebakaran. Ia tadinya menikmati pekerjaannya, melihat api menjilat-jilat menghanguskan benda-benda terlarang itu adalah suatu pemandangan yang teramat indah menurutnya.

Sampai suatu saat sepulang kerja ia bertemu dengan seorang tetangga baru, remaja perempuan bernama Clarrise. Dalam dunia itu, Clarisse adalah anak yang “berbeda” karena ia suka berbicara, berfikir dan mempertanyakan banyak hal yang membuatnya di cap bermasalah.

Dalam suatu percakapan dengan Guy Montag, Clarrise memprotes kenapa dirinya di cap sebagai orang yang tidak dapat bersosialisasi. Bagi Clarrise bersosialisasi adalah kegiatan mengobrol seperti yang saat itu mereka lalukan, bukan semata-mata sekumpulan orang yang didudukan di dalam satu ruangan yang sama dan dibuat menyaksikan suatu rekaman video pelajaran dalam diam.

Percakapan sepulang kerja dengan Clarrise akhirnya menjadi rutinitas yang menyenangkan bagi Guy Montag. Bak rubah dan sang pangeran kecil dalam buku cerita The Little Prince. Clarrise akan menunggunya di ujung jalan dan mereka bercakap-cakap hingga masing-masing sampai di depan rumah mereka yang bersebelahan.

Setelah itu Guy pulang ke Mildred, istrinya. Istrinya dan tayangan-tayangan televisi kesayangan yang diibaratkan sebagai keluarga. Istrinya yang kadang Guy pun merasa asing melihatnya.

Hingga pada suatu saat Guy tidak pernah melihat Clarrise lagi. Seminggu berlalu, ia mendapat kabar bahwa Clarrise mengalami kecelakaan, gadis itu tertabrak oleh mobil yang ngebut dan keluarganya pindah segera setelah peristiwa tersebut.

Ide-ide Clarrise dan pernyataan2nya tentang dunia meninggalkan jejak dalam diri Guy. Sebuah perasaan langka di dunianya yang bernama kehilangan.

Pada suatu malam alarm pemadam kebakaran berbunyi nyaring di markas mereka. Guy dan timnya pergi untuk melaksanakan tugas. Dalam prosedur normal, sebuah rumah bersama buku2 yang ada di dalamnya hanya akan dibakar ketika semua penghuni sudah keluar.

Di malam itu Guy merasa terguncang karena menemukan penghuni rumah yang memilih mati terbakar bersama buku-bukunya. Apa yang membuat orang itu begitu mencintai buku-buku?

Guy kehilangan minat bekerja. Ia tidak sanggup kembali ke markas pemadam kebakaran.

Guy sebenarnya menyimpan rahasia, ia menyimpan suvenir dari pekerjaannya. Dan saat ia mulai bertanya-tanya apa keistimewaan dari suvenir2 yang ia kumpulkan yang tidak lain adalah buku2, disaat itulah sang pemburu berbalik menjadi seseorang yang diburu.

Sejujurnya endingnya agak nanggung buat saya. But for the sake of the love of reading! For the good that books brought to us! With pleasure I gave 5 stars for this book.

PS : Review ini juga ditulis dalam rangka posting bareng Blogger Buku Indonesia (BBI) bulan Mei untuk kategori Klasik Kontemporer 🙂

The Giving Tree By Shel Silverstein

370493

Penerbit   : Harper Collins Publisher

“Once there was a tree.. And she love the little boy..”

Buat saya cerita ini sepertinya rasanya terlalu menyakitkan kalo dimasukkan dalam kategori cerita anak2. Bagaimana ya menggambarkannya? Mmm.. Selesai membaca cerita ini yang saya rasakan adalah sedih sekaligus marah.. Dua rasa yang maknyus dicampur menjadi sesuatu yang menyakitkan..

Let me tell you something about the tree..

The ability to love is a gift.. Ada tipe orang yang jika ia mencintai, maka ia akan mencintai dengan sepenuh jiwa raganya. Apapun akan dia berikan demi melihat orang yang dicintainya bahagia. Kebahagiaannya sendiri menjadi sesuatu yang tidak relevan. Banyak wanita yang mencintai seorang pria dengan cara seperti ini, atau contoh yang lebih konkrit sebagian besar rasa cinta seorang Ibu kepada anaknya adalah seperti ini.

And the most unfortunate fate are if this kind of tree come to love this kind of little boy.

Let me tell you something about the little boy..

A concrete typical type of human. Kadang kita manusia ini memang terlalu rakus. Alih2 memberi, kita lebih suka mengambil dan terus mengambil. Pun dalam urusan cinta. Kadang kita lupa menghargai orang2 yang mencintai kita dengan sedemikian besarnya. Kita memperlakukan mereka seakan2 sudah kewajiban mereka untuk memberikan kita cinta, kasih sayang dan apapun yang dapat membuat kita bahagia. Padahal itu adalah pilihan. Pilihan orang2 yang menempatkan kebahagiaan orang lain diatas kebahagiaannya sendiri.

Kita sanggup untuk bermanis2 di depan orang yang kita kenal selewat saja, namun kadang dihadapan orang yang mencintai kita, kita lupa untuk menjaga perasaannya dan tidak sungkan untuk bersikap ketus dan seenaknya. Padahal itu menyakitkan. Mereka yang betul mencintai kita pasti akan memaafkan, namun sebelum itu sungguh mereka akan tersakiti hatinya.

Dan kita kadang tidak tahu kapan harus berhenti. Kapan sebetulnya cukup adalah cukup. Kapan kita sebaiknya balas memberi alih-alih terus terlalu nyaman menerima.

Let me tell you something about the tree and the little boy..

I wish with all my heart and soul the tree love another boy who could appreciate her more and make her happy.

I wish with all my heart and soul that the boy understand what kind of privilege he’s been taking advantage of. To have someone loving him with such a sincerity.

Alas my wishful thinking, the tree love that particular little boy and no other. So she give and give and give. The boy take and take and take.

Life is never fair. Never has, never will.

The Sound and The Fury By William Faulkner

Penerbit : Modern Library College Editions

Tebal : 427 Halaman

“Because no battle is ever won he said. They are not even fought. The field only reveals to man his own folly and despair, and victory is an illusion of philosophers and fools.”

Hhhmm. Saya kira akan agak sulit menyelesaikan buku ini mengingat karya para pemenang nobel biasanya memang butuh untuk dipahami. Dan buku ini memang ternyata memang sangat butuh untuk dipahami, namun di sisi lain sulit untuk berhenti dibaca karena sepanjang cerita kita dibuat bertanya-tanya dan penasaran karena satu jawaban menimbulkan pertanyaan yang lain.

Dan sampai pada titik terakhir pun banyak pertanyaan yang tetap jadi misteri. Tragedi tanpa penjelasan. Kata orang buku ini adalah salah satu pembuktian betapa jeniusnya William Faulkner. Yang saya pahami adalah sebegitu dalamnya seorang William Faulkner memahami arti tragedi dan akibatnya. Dalam berbagai hal yang tidak dijelaskan oleh sang penulis itulah cerita ini tidak terasa sebagai “cerita”. Sebagaimana hidup, buku ini berlalu dibaca dengan meninggalkan banyak misteri. Kenapa seseorang melalukan yang dia lakukan, selamanya akan menjadi rahasianya sendiri.

Terentang antara tahun 1910-1930an, buku ini bercerita tentang keluarga Compson yang konon termasuk ke dalam salah satu keluarga Aristokrat di daerah Selatan Amerika.

Bagian pertama dinarasikan oleh Benjamin alias Benjy. Dalam dua halaman pertama kita akan bisa menangkap kalo ada sesuatu yang berbeda dari Benjy. Benjy terlahir dengan keterbelakangan mental dan narasi yang ia ceritakan adalah potongan-potongan percakapan dan adegan yang tidak memiliki waktu berurutan. Alur maju mundur dengan liarnya. Narasi pun seringkali beralih dari potongan yang penting ke potongan yang tidak signifikan (karena perhatian Benjy teralihkan) sehingga membuat saya gemes dan ingin memaksa Benjy kembali menceritakan potongan yang penting itu.

Benjy sangat menyayangi kakak perempuannya Caddy. Ibu mereka adalah seorang yang menjadikan sakit yang ia derita sebagai alasan untuk memaksa semua orang memahami betapa ia adalah seorang korban dari segala yang terjadi, bahkan dari anak2nya. Yes, their mother was a drama queen. Caddy hamil, menikah dan meninggalkan Benjy. Salah satu anggota keluarganya melakukan sesuatu yang ekstrim pada Benjy sehingga Benjy benci melihat dirinya sendiri di kaca.

Terus terang ini bagian paling berat dan membingungkan dari buku ini karena sungguh maha sulit mengikuti narasi Benjy. Dan masuk ke bagian kedua antrian pertanyaan sudah mengular mencari jawaban.

Bagian kedua diceritakan oleh Quentin, anak laki2 keluarga Compson yang telah menjalani tahun pertamanya di Harvard. Narasi oleh Quentin terasa jauh lebih melegakan karena deskripsinya cukup jelas dan menjawab beberapa keingintahuan yang ditimbulkan oleh cerita Benjy.

Quentin juga sangat menyayangi saudara perempuannya Caddy. Mereka berdua sama2 tidak terlalu menyukai adik lelaki mereka Jason. Lalu kita mengetahui bahwa rasa sayang Quentin berkembang menjadi tidak sehat alias obsesi. Ditambah dengan kenyataan bahwa Caddy yang beranjak remaja ternyata memilki banyak pacar dan tidur dengan banyak orang. Hingga di suatu waktu Caddy hamil oleh seorang pria dan bertungan dengan pria yang lain, Quentin sampai ke titik gilanya sendiri. Orangtuanya lalu menjual sebagian tanah harta mereka untuk mengirim Quentin sekolah ke Harvard.

Setelah satu tahun berjalan ia kembali ke kampung halamannya. Di saat itu Caddy telah diceraikan oleh suaminya karena kenyataan bahwa anak yang dilahirkan Caddy bukan anaknya terbongkar. Entah karena angin apa Caddy menamai anak perempuannya Quentin juga, meninggalkan bayi itu di rumah Ibunya dan pergi menghilang entah kemana. Di akhir narasi kita mendapatkan kesan bahwa Quentin akan bunuh diri yang nantinya akan dikonfirmasi oleh narasi ketiga yang diceritakan Jason.

Terus terang Jason adalah tokoh yang menurut saya paling menyebalkan di buku ini. Jason (karena alasan yang menurut saya ga masuk akal) sangat membenci keponakan perempuannya Quentin dan (menurut saya) seluruh anggota keluarganya. Jason yang megalomania, rakus dan kasar pada akhirnya harus menerima kalo ia kalah pintar dari Quentin sang keponakan perempuan. Sebagai pembalasan, segera setelah Ibunya meninggal dunia ia memasukkan Benjy ke rumah sakit jiwa, menyingkirkan semua pelayannya dan menjual seluruh aset tanah dan rumah milik keluarga mereka.

Bagian keempat menceritakan tentang Dilsey, pelayan kulit hitam keluarga Compson. Dilsey yang menyaksikan betapa kegilaan demi kegilaan berjangkit di keluarga yang ia sayangi, akhirnya di suatu titik menangisi ketidakpahamannya pada kenyataan. Kenyataan bahwa ia menyaksikan dari awal sampai akhir orang2 yang seumur hidup ia rawat dan sayangi terjerat dalam tragedi yang mereka buat sendiri. Bagaimana semua itu bisa terjadi? Dilsey menangis sedih.

Sedangkan pusat dari tragedi ini, the beautiful Candance alias Caddy tidak pernah menceritakan versinya. Tidak pernah menguraikan pembelaannya. Sampai halaman terakhir Caddy tetap bagaikan mitos yang memiliki banyak versi. Misterius.

Over all ini salah satu buku paling suram yang pernah saya baca. Getir, ironis, haunting dan seperti kehidupan, meninggalkan kita dengan banyak misteri yang tidak terungkap.

“Tomorrow and tomorrow and tomorrow,
Creeps in this petty pace from day to day
To the last syllable of recorded time,
And all our yesterdays have lighted fools
The way to dusty death. Out, out, brief candle!
Life’s but a walking shadow, a poor player
That struts and frets his hour upon the stage
And then is heard no more: it is a tale
Told by an idiot, full of sound and fury,
Signifying nothing.

(Macbeth-William Shakespare)

PS : Diposting dalam rangka baca bareng Blogger Buku Indonesia Oktober 2012