Mata Air Kumari By Yudhi Herwibowo

20130530-122227.jpg

Penerbit : Bukukatta
Tebal : 136 Halaman

Peringatan : Kalo anda gampang gentar jangan coba-coba membaca cerpen ini malam-malam sendirian, hehe. Nanti nasibnya seperti saya yang merinding sendiri di dalam gerbong kereta sepi malam hari begitu sampai ke cerita tentang Ana Bakka! Hiiiiiii.

Kayaknya baru kali ini deh saya memberi 5 bintang pada buku kumpulan cerpen. Terlebih lagi kumpulan cerpen Indonesia. Mungkin memang cerita-cerita pendek di buku ini selera saya banget. Yang jelas begitu nutup buku langsung tertegun saking dibuat merindingnya oleh beberapa cerita di buku ini.

Secara keseluruhan terdapat 14 kisah dalam kumpulan cerpen ini. Genre setiap cerpen adalah campuran misteri, horror, dan magic realisme. Beberapa subjek cerita sudah kita jumpai dalam beberapa buku Yudhi Herwibowo yang lain seperti cerita tentang Kitta Kadafaru dan cerita tentang para Tiku (gerombolan perampok).

Ada beberapa cerita yang ingin saya highlight dari koleksi ini. Beberapa cerita yang menurut saya paling istimewa dan nendang banget, hehe. Berikut top five stories dari keempatbelas koleksi yang ada:

5. Bayi Baboa
Kisah ini adalah tentang seorang dokter wanita bernama Linda Dethan yang berpraktek di sebuah kota kecil bernama Rimolaka, sekitar 50 km sebelah utara kota Ende, Nusa Tenggara Timur.

Suatu ketika selesai praktek di kliniknya, dalam perjalanan pulang Linda di hentikan oleh seorang wanita yang menduga anaknya digigit ular. Ia pun segera mengikuti wanita yang ternyata bernama Magdalena itu.

Bayinya ternyata tidak apa-apa. Magdalena rupanya panik karena melihat dengan mata kepala sendiri ada ular baboa di dalam tempat tidur bayinya. Setelah ia berteriak ular itu pun pergi ke arah jendela dan Magdalena pergi mencari dokter.

Selang beberapa hari berlalu, Magdalena tiba-tiba datang ke tempat praktek Linda. Ia terlihat galau karena ular baboa itu muncul lagi di samping bayinya. Magdalena galau justru karena ular itu tidak mengigit bayinya. Dia khawatir bahwa bayinya adalah jelmaan setang (setan)!

Rupanya terdapat kepercayaan bahwa bila bayi baru lahir didatangi ular baboa, ia akan menjadi anak yang jahat dan durhaka pada orang tua. Ini bukan kejadian pertama, dan kejadian-kejadian sebelumnya selalu berakhir dengan Sang Ibu dengan tega membuang bayinya sendiri.

Sebagai dokter bagaimana Linda akan bersikap? Adakah itu hanya cerita karangan masyarakat setempat saja?

4. Dua Mata Perak
Dua mata perak adalah cerita tentang seorang wanita tuna susila yang tinggal berdua bersama anak perempuannya yang berumur 6 tahun, Aritha.

Aritha terlahir terlahir dengan dua mata perak yang membuatnya tidak dapat melihat. Terlepas dari hal itu, Aritha tumbuh menjadi anak yang kuat.

Namun ntah kenapa perempuan itu merasa Aritha belakangan ini banyak melakukan perlawanan diam terhadap dirinya. Aritha yang tadinya tidak pernah keberatan pada kenyataan ia banyak membawa lelaki ke rumah akhir2 ini menghatuinya dengan kedua mata perak itu.

Perempuan itu merasa takut kepada pandangan mata anaknya. Di kedua mata perak itu ia seolah-olah melihat bayangan kematian.

3. Anak Nemang Kawi
Cerita ini berlatar belakang di papua. Dengan tokoh seorang anak lelaki berumur 12 tahun yang mencoba membuktikan kepada teman-temannya bahwa ia juga adalah seorang anak yang pemberani, walaupun dengan perbuatannya itu ia telah melanggar larangan Ibunya.

Apa bentuk tantangan yang harus ia lalui itu?

Ia hanya harus mendaki bukit bernama Anak Nemang Kawi. Pada ajakan pertama ia menolak teman2nya karena ingat pada peringatan sang Ibu : Anak Nemang Kawi adalah tempat yang berbahaya, banyak orang jahat disana. Anak Nemang Kawi menurut Ibunya adalah tempat orang-orang mati.

Penolakan atas tantangan teman-temannya membuat ia diejek-ejek sebagai anak penakut dan pengecut. Oleh karena itu ia sekarang akan membuktikan keberaniannya dengan mendaki bukit itu sendirian, walaupun hati kecilnya tetap memperingati bahwa tindakannya salah. Ia bukan seorang pengecut.

2. Keris Kyai Setan Kober
Pernahkah terpikir oleh anda bahwa sebuah keris bisa memiliki ambisi?

Ya, ia adalah sebuah keris yang diciptakan seorang empu sakti dengan kemampuan terakhirnya. Ia ditempa dengan mantra-mantra sakti, ditemani dengan bayang-bayang gelap dan suara-suara bisikan dan gelak tawa yang licik.

Terbentuk sempurna dengan wilah 13 lekukan, sang keris pun tercipta sempurna dengan dilingkupi oleh bayang-bayang gelap dan dingin.

Lama terlupakan, keris itu haus akan petualangan. Ambisi untuk membuktikan kehebatannya semakin memuncak karena ejekan-ejekan dari bayang-bayang gelap yang menyelimutinya. Ia marah, dan mencari tuan yang layak untuk memilikinya.

1. Ana Bakka
Rombongan dokter muda dari Dinas Kesehatan Provinsi mendapatkan tugas untuk mengunjungi Desa Mafat-to, tiga jam dari Kota Kupang.

Salah satu dari rombongan itu adalah seorang dokter perempuan bernama Winda. Mereka memilki misi untuk melaksanakan survey perihal busung lapar.

Di tengah pelaksanaan survey Winda terhenyak melihat seorang anak perempuan yang terduduk di tanah. Kaki anak itu dipasung dengan kayu besar dari pohon kelapa.

Tanpa memperdulikan peringatan dari warga bahwa anak perempuan itu gila, Winda nekat mendekatinya. Ana Bakka, anak perempuan itu terlihat tak berdaya dan mengenaskan.

Terlepas dari cerita absurd penduduk desa bahwa Ana telah membunuh Ibunya sendiri, bahwa fam Bakka adalah fam jahat dan semua leluhurnya merupakan orang tidak baik. Winda bertekad harus menyelamatkan anak perempuan malang itu, Ana Bakka.

PS : Postingan juga dibuat dalam rangka posting bareng Blogger Buku Indonesia edisi bulan Mei 2013 untuk kategori kumpulan cerita 🙂

Advertisements

Berjuta Rasanya By Tere Liye

Penerbit : Mahaka Publishing

Tebal : 204 Halaman

“Seseorang yang mencintaimu karena fisik, maka suatu hari ia juga akan pergi karena alasan fisik tersebut. Seseorang yang menyukaimu karena materi, maka suatu hari ia juga akan pergi karena materi. Tetapi seseorang yang mencintaimu karena hati, maka ia tidak akan pernah pergi! Karena hati tidak pernah mengajarkan tentang ukuran relatif lebih baik atau lebih buruk.”

Agak beda dari biasanya, kali ini Tere Liye mengeluarkan karya berupa kumpulan cerita pendek. Temanya? Cinta.. Tapi jangan salah, 15 cerita ini sungguh bukan kisah cinta biasa. Bang Tere Liye berhasil merangkai 15 kisah cinta yang menggelitik peresepsi kita sendiri tentang apa itu cinta dan segala pernak perniknya.

Tentang kesalahan sudut pandang wanita (dan mungkin juga laki2) tentang definisi kecantikan diceritakan dalam Bila Semua Wanita Cantik. Cerita ini sungguh lucu dan sangat menyentil para perempuan, salah satu cerita favorit saya.

Lalu ada juga kisah luar biasa tentang suatu kota yang dipenuhi oleh para penemu. Kota tersebut punya masalah kependudukan yaitu jumlah bayi yang semakin berkurang. Hal itu disebabkan karena kurangnya keberanian para anak muda di kota tersebut untuk menyatakan cinta. Maka para tetua di kota tersebut menciptakan sebuah alat yang bernama cintanometer. Alat tersebut dipasang di dekat telinga dan dapat mendeteksi jika ada seseorang yang jatuh cinta pada pemakainya. Lama2 penduduk kota mulai lupa akan perasaan seperti apa cinta itu. Ada atau tidaknya hanya ditentukan oleh sinyal dari alat pendeteksi. Unik kan?

Nasib yang terkadang kejam digambarkan dalam cerita Pandangan Pertama Zalaiva. Kalau ternyata cinta jatuh pada orang yang salah lalu bagaimana? Siapa yang harus disalahkan, nasib kah? Hhhhmm…

Dan kisah favorit saya yang judulnya Kupu-Kupu Monarch. Kisah getir yang mempertanyakan apa itu cinta sejati. Saat satu pihak sudah bersedia berkorban jiwa dan raga, pihak yang lain dapat dengan mudah menyepelekan semuanya dan berujar “tidak cinta lagi”. Lalu apa itu cinta?

Pada intinya kalo anda bosan dengan kisah2 cinta yang standar, 15 cerita ini bisa menyediakan alternatif yang unik dan menyegarkan.

“Nak, apakah ada yang pernah berpikir hidup ini bukan soal pilihan? Karena jika hidup hanya sebatas soal pilihan, bagaimana caranya kau akan melanjutkan hidupmu, jika ternyata kau adalah pilihan kedua atau berikutnya bagi orang pilihan pertamamu?”

“Cinta sejati adalah perjalanan, Sayang. Cinta sejati tidak pernah memiliki tujuan.”

Madre By Dee

Penerbit : Bentang Pustaka

Tebal : 162 Halaman

Sudah cukup lama saya menunggu karya baru Dee. Senang rasanya buku barunya yang berjudul Madre ini sudah ditangan dan saya lalap habis kurang dari satu jam. Hehe. Buku ini ternyata adalah kumpulan 13 campuran cerpen dan puisinya Dee antara tahun 2006 – 2011.

Secara overall saya merasa jauh lebih dahsyat Rectoverso daripada Madre. Di Rectoverso hampir di setiap kisah saya merasa terseret masuk ke dalam dunia ciptaan Dee. Namun Madre ini cukup mengobati rasa kangen saya terhadap karya-karyanya.

Diantara puisi-puisi yang ada dalam buku ini, saya paling terkesan dengan Percakapan di Sebuah Jembatan :

Berdua kami melintasi jembatan sejarah

Tahun-tahun yang berhiaskan putih harapan dan merah darah

Dan aku bertanya : apakah yang sanggup mengubah gumpal luka menjadi intan

Yang membekukan air mata menjadi kristal garam?

Sahabatku menjawab : Waktu

Hanya waktu yang mampu”

Sedangkan untuk Cerpennya saya sangat kesengsem (bahasa apa pula ini) sama Madre. Kisah singkat ini kocak sekaligus menyentuh. Alkisah seorang pria keturunan India bernama Tansen yang hidup bebas di Bali sebagai freelancer tiba-tiba mendapat warisan dari seseorang pria tua beretnis Cina yang bernama  Tan Sin Gie.

Tansen pun berangkat ke Jakarta untuk mengobati penasarannya. “Siapa dia?, Kenapa Aku?” Pikir Tansen. Di pemakaman orang tua tersebut Tansen bertemu dengan seorang pengacara keluarga. Warisan Tansen adalah sebuah amplop yang berisi sebuah alamat. Tansen pun diantar oleh pengacara tersebut ke alamat yang dimaksud.

Ternyata alamat tersebut adalah alamat sebuah gedung tua yang kondisi luarnya sudah memprihatinkan. Disana ia bertemu dengan orang tua bernama Pak Hadi yang menjaga gedung tersebut. Dari Pak Hadi ia mengetahui asal muasal keluarganya yang sebenarnya dan bahwa ternyata warisannya adalah setoples adonan biang roti berumur 70 tahun yang diperlakukan sebagai manusia dan diberi nama Madre. Mau tidak mau saya dibuat tertawa terkekeh-kekeh membaca cerita ini.

Tawaku menyembur. Akhirnya kutemukan kelucuan dari semua ini. Telah kusebrangi lautan, menemui orang-orang asing yang tiba-tiba mengobrak-abrik garis hidupku, menguak sejarah orang-orang mati yang tak mungkin bangkit lagi, dan satu-satunya yang tersisa dari rangkaian drama itu adalah satu toples adonan roti?

Banyak dialog-dialog lucu antara Tansen dan Pak Hadi. Dee menggambarkan perbedaan generasi dan kebudayaan dengan menghibur. Pak Hadi yang tidak bisa membedakan antara Warnet dengan Wartel ataupun Pak  Hadi yang tidak bisa mengerti bagaimana caranya internet bisa menghubungkan orang-orang versus Tansen yang rutin menulis di sebuah blog. Sungguh membuat senyum-senyum sendiri. Di tangan Dee perbedaan generasi dan budaya menjadi potensi untuk saling melengkapi. Apa yang akan Tansen lakukan dengan si Madre? Baca aja sendiri yaaaa.. Dijamin seru deh, hehe.. Cerpen lain yang cukup berkesan untuk saya mungkin yang berjudul Semangkok Acar Untuk Cinta dan Tuhan. Walaupun cuman empat halaman, cerpen yang ini mungkin yang paling “menggigit” diantara yang lainnya.

Oiya, satu lagi self dialogue menarik Tansen ketika bertemu dengan seorang perempuan bernama Mei yang ia kenal lewat blog :

Sejauh ini Mei sesuai dengan gambaran yang kusimpulkan saat membaca pesannya di blog dan berbicara dengannya di telpon. Seperti banyak orang Jakarta yang kutemui, ia pun dijangkiti semacam keresahan yang khas, yang membuatnya berbicara cepat, bergerak cepat, dan saat duduk pun kakinya bergoyang-goyang seperti diatas pedal mesin jahit. Orang-orang Jakarta ini, mereka seperti selalu overdosis kafein.

Hehehe.