Jakarta Sebelum Pagi By Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

“Ini alasan kenapa dongeng dan happy ever after cuma terjadi di zaman dahulu kala : masa kini ngga memberi tempat bagi mereka untuk terjadi. Ini masalah orang-orang jaman sekarang-ngga terbatas, tapi terutama orang-orang yang tinggal di ibukota dan sudah belajar untuk bersikap skeptis dan always keep their guards up. They always keep their guards up.”

I love absurdities. And this book is full of absurd conversation. Bikin cekikikan sendiri deh.

34311766Rasanya pengen banget ketemu dan menjadi teman tokoh-tokoh di buku Jakarta Sebelum Pagi ini, my kind of people, hehe. Tokoh utamanya adalah seorang perempuan muda berumur 20-an bernama Emina (tapi kalo bertemu dengan orang arab Emina akan memperkenalkan dirinya sebagai Aminah, konon ;p)

Here’s some things I love about Emina, kalo di buku-buku Indonesia kebanyakan, tokoh perempuan usia 20-an 30-an digambarkan sebagai karakter yang trendi, smart, sophisticated dan sukses. Makan atau traveling ke tempat-tempat keren, memakai barang-barang keren itu kayaknya hal yang biasa banget. Those books or characters are not my cup of tea, not real enough. I couldn’t relate to their lives. Beda dengan Emina.

  • Emina ini adalah everyday people, common people yang mungkin aja berada dalam satu bis transjakarta dengan saya ;p
  • Emina masih meniti karir, merasa dirinya sebagai kacung kantoran (dimana sebagian besar dari kita adalah betul merupakan kacung kantoran) yang pekerjaannya ngga banget.
  • Emina memang tinggal di apartemen, tetapi dia tinggal disana karena kedua orang tuanya telah meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Kedua orang tua Emina mewariskan sebuah rumah yang kemudian ia tukar dengan apartemen tempatnya tinggal sekarang.
  • Emina masih mempunyai sepasang nenek kakek plus adik perempuan kakeknya yang tinggal bersama di satu rumah yang ia beri julukan Rumah Para Jompo.
  • Emina is a very quirky person. Gokil kalo istilah generasi 90-an mungkin yah.

Para jomponya Emina mempunyai seorang tetangga (kakek-kakek yang juga jompo) bule yang mereka panggil Pak Meneer. Jika berkunjung ke rumah para jompo Emina biasanya mampir ke rumah Pak Meneer untuk sekedar mengobrol atau meminjam buku koleksi Pak Meneer (bahkan kadang dipaksa meminjam buku oleh Pak Meneer ;p).

Pak Meneer adalah kakek-kakek bule kece. Nin (adik perempuan kakeknya Emina) naksir berat kepadanya. Dan aku mendukung kisah cinta Nin karena satu alasan : kalau mereka kawin beneran, Nin akan dipanggil Nyonya Meneer ;p”

Cerita bermulai ketika Emina menemukan sebuah balon perak dengan sebatang bunga Hyacinth terikat di talinya di balkon apartemen. Di batang bunga tersebut tertulis namanya, Emina.

Emina kemudian menceritakan penemuannya kepada Nissa, seorang teman(kerja)nya, perempuan yang suka mengibaskan jilbab dan meninggalkan noda lipstick di giginya sendiri.

Emina memiliki hipotesa kalo balon itu diterbangkan oleh orang yang tinggal di unit satu lantai di bawah unit apartemennya. Emina ingin mencaritau siapa orang tersebut.

Ketika di weekend selanjutnya Emina mengunjungi rumah para jompo dan mampir ke rumah Pak Meneer, Emina melihat Bunga Hyacinth menghiasi rumah Pak Meneer. Bunga Hyacinth bukan merupakan bunga yang secara alami tumbuh di Indonesia. Emina pun menjadi curiga. Ketika Emina bertanya, Pak Meneer menjawab bahwa bunga itu adalah pemberian cucunya. Pak Meneer memang mempunyai seorang cucu laki-laki, Emina pernah sekali melihat cucu Pak Meneer dari jendela ketika ia masih kecil. Apakah mungkin cucu Pak Meneer yang mengirimkan ia bunga?

Emina memulai penyelidikan(amatir)nya dengan mendatangi toko bunga di apartemennya, siapa tau ada yang membeli bibit bunga Hyacinth akhir-akhir ini. Dari kunjungan itu Emina berkenalan dengan seorang anak perempuan nyeleneh nyrempet creepy yang memiliki rambut bak iklan shampo, Suki namanya. Dari Suki Emina berkenalan dengan Abel, cucu Pak Meneer (ternyata hipotesis Emina benar) yang memiliki phobia (yang parah) terhadap suara dan sentuhan.

“Aku menggigit bibir dan merasa malu. Suki dan Nisa memang benar. Kalau ini Silence of the Lambs, aku adalah mbak-mbak kurang cerdas yang dengan sukarela turun ke sumur.”

Emina lagi-lagi menerima sebuah balon perak berikut bunga Hyacinth lagi di balkon apartemennya. Kali ini kiriman balon dilengkapi dengan sebuah surat cinta.

Surat yang dikirimkan Abel (sang tersangka stalker) ternyata berasal dari potongan halaman kosong dari buku2 milik Pak Meneer. Di awal surat-surat tersebut (Abel memiliki banyak sampel surat-surat yang ia sobek dari buku2 kakeknya) selalu ada tulisan BAR sebagai misteri tambahan. Siapakah penulis surat-surat tersebut? Siapakah BAR? Dari surat-surat tersebut Emina dan Abel yang mempunyai chemistry bak wi-fi super kenceng kemudian menelusuri tempat-tempat di Jakarta untuk mencari hubungan antara masa lalu dan masa kini sambil berusaha melompati tembok mereka masing-masing.

jsp1Waktu pertama kali buku ini terbit saya mengurungkan niat untuk membelinya karena design cover yang terlalu mirip dengan I’ll give you the Sun nya Jandy Nelson, jadi ilfeel aja. Hehe. Untungnya dicetak ulang dengan cover baru dan ternyata bukunya baguus, karakternya juara, terutama Emina dan Suki. Plus buku ini dilengkapi dengan ilustrasi2 keren dan sedikit banyak bikin saya penasaran dengan sejarah spot-spot tertentu di Jakarta.

I love this book. Dibaca kedua kalinya pun sama sekali ngga bikin bosen. Percakapannya yang hiperbolis dan kental dengan sarkasme tapi bisa bikin cengar cengir sendiri di depan umum (saya literary ketawa sendiri di antrian Transjakarta ;p). Menghibur banget bisa baca cerita yang berbeda seperti Jakarta Sebelum Pagi. 5 bintang dari saya.

Here’s some of my favorites quotes from this book :

 “Bottom line, life goes on, aku menyimpulkan, dan dia mengangguk. Untuk menghancurkan suasana, aku menambahkan, What doesn’t kill you, makes you Darth Vader ;p”

“Bukannya aku tahu mau bekerja dimana, dan sebagai apa. Aku melanjutkan sekolah, masuk kuliah dan diburu-buru kerja. Setelah masuk kerja, merasa tersesat karena ini bukan pekerjaan yang kuinginkan. Tapi, kalau aku mau berhenti sebentar untuk memikirkan apa yang kuinginkan, orang-orang akan berlari melewatiku dan bersikap meremehkan. Ngga menyadari bahwa mereka hanya anggota dari kelompok orang-orang yang ngga berpikir.

Ditambah lagi, begitu masuk kerja, kita sadar kalau uang itu sulit didapat dan kita membutuhkannya; dan berhenti untuk berpikir akan membuat kita kehilangan kesempatan untuk mendapatkannya. Jadi kita terus bekerja di tempat yang sama.

Kurasa ini masalah yang umum dihadapi, tapi agak menakutkan menyadari bahwa aku juga harus menghadapinya. Semua orang takut miskin dan takut dipandang rendah. Tapi, kurasa, melihat Suki yang menekuni teh dengan begitu semangat, kurasa aku lebih takut jadi orang yang ngga tau apa yang disukai. Lebih takut jadi bagian dari orang-orang yang bahkan ngga memikirkan apa yang membuat mereka bahagia.”

“Kami berjalan berdampingan, tapi aku menjaga jarak setengah lencang kanan supaya terhindar dari accidental homicide terhadap penderita sentuhanfobia.”

“Semua orang mengalami tragedi dalam hidupnya. Nggak semuanya besar menurut orang, tapi semuanya besar bagi yang mengalami.”

“You’re damaged too. But that’s what makes you special. Some things are better damaged.”

“Pak Meneer berdehem dan menunduk sekilas sebelum memandangku lagi. Kumisnya bergerak-gerak, mengacaukan konsentrasiku. Kumisnya agak mirip ikan tongkol ;p”

Advertisements

Di Tanah Lada By Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

27213435Ya Gustiii.. Ini cerita sedih banget yak! Dan kenapa pula saya suka sama cerita-cerita sedih macem gini.

Maaf reviewnya dibuka seperti ini karena saya sesungguhnya masih baper.

Kenyataan memang seringkali jauh dari indahnya cerita dalam dongeng. Namun di mata seorang anak 6 tahun seperti Ava, anak perempuan yang menjadi tokoh utama dalam cerita ini, bisa jadi kepahitan dan kegetiran tersebut diceritakan sebagai kondisi biasa. Hal itulah yang membuat membaca buku ini membawa efek geram.

Ava memiliki sepasang Papa dan Mama. Papanya suka marah-marah dan memukul Mamanya. Bagi Ava, Papanya itu menakutkan seperti hantu. Ava berasumsi semua Papa itu jahat. Asumsi Ava bertambah kuat ketika ia bersama orang tuanya harus pindah ke sebuah Rusun bersama Rusun Nero. Papanya membawa mereka pindah kesana karena baru menerima warisan dan ingin tinggal lebih dekat ke tempat perjudian.

Di sana Ava bertemu dengan seorang anak lelaki berumur 10 tahun yang bernama P (iya namanya hanya huruf P) yang juga tinggal di Rusun Nero. Pertemuan mereka terjadi di warung makan, Ava-seorang anak berumur 6 tahun diberi uang dan disuruh mencari makan sendiri di luar oleh Papanya. Ava yang memesan ayam goreng kebingungan karena ia belum bisa makan ayam goreng sendiri. Di saat itulah P yang juga sedang ada di warung makan membantu dengan menyuapi Ava makan.

P lalu mengantar Ava kembali ke unitnya, apa cerita unitnya terkunci, Papa dan Mamanya pergi keluar tanpa membawa atau mencari Ava dan menguncinya di luar. Mulai geram? Saya sih di bagian ini sudah mulai geram. Dari narasi-narasi Ava & P berikutnya kita jadi tahu kalo ternyata Papa P juga jahat dan sering memukulnya. Ava dan P lalu menyimpulkan bahwa semua Papa di dunia ini jahat. Beruntung P mempunyai teman di Rusun yaitu Mas Alri dan Kak Suri.

Bagaimana dengan Mama Ava? Mama Ava sesungguhnya bukan orang yang jahat. Mama Ava hanya teramat sangat takut kepada Papa Ava. Mama Ava, ketika sibuk dengan perasaannya sendiri kadang melupakan keberadaan Ava. Menurut P sih mamanya Ava juga jahat, namun jahat yang berbeda dengan Papa Ava. Bagaimana menurut saya? Menurut saya Mamanya Ava bisa berusaha lebih baik kalau dia mau. Tapi dia tidak berusaha, dan disitulah letak permasalahannya. Disitulah Ava menerima collateral damage dari kekacauan kedua orang tuanya.

P tidak punya Mama. Mama P meninggalkan P dengan papanya ketika ia masih bayi. P dibesarkan oleh Papanya. Di usia yang 10 ini Papa P juga sudah tidak ambil pusing akan keberadaan P, bahkan cenderung marah besar yang berujung pada kekerasan jika ia melihat P. P tidak punya kasur, ia tidur di dalam kotak kardus besar di dalam unit Papanya.

Sudah geram? Di bagian ini saya sudah mulai ingin menangis, tapi saya tidak bisa berhenti membaca buku ini. Saya khawatir dengan Ava dan P.

Alur cerita berakselerasi ketika Papa dan Mama Ava bertengkar dan Papa Ava mencoba mengurung Ava di dalam koper besar, terjadi keributan hebat di unit Rusun mereka, para tetangga akhirnya ikut campur, Mama Ava membawa Ava kabur dan menginap di Hotel. Tapi kondisi tersebut tidak menghalangi Ava dan P untuk bermain bersama.

Suatu ketika Ibu Ava ketiduran dan tidak awas akan keberadaan Ava. Ava berakhir di Rusun lagi karena ia sangat suka bermain dengan P. Namun sialnya ketika Ava dan P sedang bermain di Unit P, Papa P datang. Ava yang sedang menengok kardus tempat P tidur ketakutan. P mencoba melindungi Ava dengan menyembunyikannya dalam kardus, Ava yang mendengar suara pukulan2 mengerikan akhirnya berteriak keluar dari kardus sambil memukul Papa P dengan gitar. Ternyata P dipukul di bagian tangan oleh Ayahnya dengan menggunakan setrika panas.

Dari titik inilah kisah pelarian Ava dan P bermulai. Dari titik ini kita bisa melihat upaya setengah-setengah orang dewasa untuk membantu sepasang anak berusia 6 dan 10 tahun dan dibuat geram karenanya.

Ava adalah seorang anak perempuan pintar yang selalu membawa kamus kemana-mana untuk melihat arti kata-kata yang ia dengar. P adalah seorang anak laki-laki yang kuat namun lembut hatinya walaupun kehidupannya sangat sulit.  Mereka berdua percaya bahwa hanya melalui reinkarnasi mereka bisa hidup bahagia walaupun mereka hanya punya ide samar-samar tentang bahagia. Ava ingin menjadi penguin di kehidupan selanjutnya. P ingin menjadi badak bercula satu.

Mereka tidak sepantasnya menjalani semua yang mereka jalani.

Mereka seharusnya mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Mereka seharusnya bisa percaya bahwa di kehidupan ini mereka bisa bahagia.

Mereka seharusnya tahu bahwa tidak semua Papa jahat dan tidak semua Mama tidak berdaya.

Para orang dewasa seharusnya bisa berbuat lebih dari ini.

Hidup ini tidak adil. Saya benci bahwa terkadang hidup ini tidak adil bahkan terhadap anak kecil sekalipun.

Suatu waktu saya pergi ke pusat perbelanjaan Grosir di Jakarta, di bilik kamar mandi saya mendengar kemarahan seorang Ibu kepada anak perempuannya hanya karena anak perempuannya secara tidak sengaja menyiram baju Ibunya dengan air. Kata-kata kasar Ibunya masih terngiang2 dengan jelas di ingatan saya “Anjing kamu! Baju Mama jadi basah, dasar anak ngga ada guna, Anjing!” lalu saya mendengar suara pukulan, kemudian suara anak perempuan menangis.

Darah saya mengalir cepat ke kepala, tangan saya terasa dingin, saya buru-buru membereskan baju dan keluar bilik kamar mandi, ketika saya keluar bilik sang Ibu sudah bergerak menyeret tangan anaknya keluar dengan terburu-buru. Anak itu menoleh ke belakang, matanya yang menangis menatap mata saya.

Mereka bertemu seorang laki-laki yang mungkin ayahnya lalu berjalan menjauh. Saya mematung, tangan saya masih terasa beku.

Saya bersalah karena tidak bisa melakukan apa-apa. Saya seharusnya bisa berbuat lebih baik dari sekedar mematung.

Buku ini terasa seperti momen itu.

Hidup ini tidak adil.

5 dari 5 bintang dari saya untuk buku ini.

Harry Potter and the Cursed Child By Jack Thorne

Caution, my reviews contains spoiler.

Act Three Scene Nine

Snape

“Tell Albus – tell Albus Severus – I’m proud he carries my name. Now go. Go!

29056083I’m in tears when I read that part. I can imagine this scene clear as a day. Severus Snape will do it all over again for his love for Lily. Did I mention that Severus Snape is probably my favorite fictional character of all time? ;p

When I read this script (not book), the scene where Severus Snape was there may very be the main reason that I am grateful that I bought this script.

Ok back to business..

Buku ini sebenarnya adalah naskah sebuah drama teater yang ditulis oleh Jack Thorne, tentu saja berkolaborasi dengan J. K. Rowling. Naskah ini terbagi menjadi 2 Part dan IV Act (saya juga termasuk salah satu orang yang tidak familiar dengan struktur naskah drama, so pardon me if I make mistakes reviewing this script).

A walk down a memory lane..

Cerita dimulai dengan adegan penutup buku Harry Potter and the Deathly Hallows, 19 tahun setelah Battle of Hogwarts,  dimana Harry & Ginny yang sudah dewasa sedang mengantar anak kedua mereka Albus Severus berangkat untuk pertama kalinya dengan Hogwart Express.

Do you remember?

Albus bertanya pada ayahnya bagaimana jika nanti Sorting Hat menempatkannya di Slytherin, and this is how Harry respond :

“Albus Severus,” Harry said quietly, so that nobody but Ginny could hear, and she was tactful enough to pretend to be waving to Rose, who was now on the train, “you were named for two headmasters of Hogwarts. One of them was a Slytherin and he was probably the bravest man I ever knew.”

That is definitely an aaaaaaawww moments and I am freaked out by how well I remember passages from Harry Potter books ;p

The story continues..

Berangkatlah Albus dengan Hogwarts Express, di kereta ia memulai pertemanan dengan Scorpius Malfoy, anak dari Draco Malfoy. Sesampainya di Hogwarts Albus dan Scorpius dua2nya ditempatkan oleh Sorting Hat di asrama Slytherin.

Albus dan Scorpius merasa memiliki banyak kesamaan, mereka berdua mempunyai ayah yang terkenal walaupun terkenal karena dua hal yang berbeda. Albus merasa tertekan karena nama besar ayahnya, dan bagaimana dirinya selalu dibandingkan dengan ayahnya, sedangkan scorpius tertekan dengan ejekan orang-orang kepada ayahnya, dimana sempat tersebar rumor bahwa ia sebenarnya adalah anak dari Voldemort yang melalukan perjalanan waktu.

Mereka berdua pun menjadi bersahabat sebagaimana dulu Harry bersahabat dengan Ron dan Hermione.

Tiga tahun kemudian Harry Potter telah menjabat sebagai kepala Magical Law Enforcement di Ministry of Magic dan Hermione menjabat sebagai Minister of Magic (couldn’t be more appropriate if I may say). Debacle ini bermula dari ditemukannya barang sihir terlarang, sebuah Time Turner, alat untuk kembali ke masa lalu.

Dalam 3 tahun ini pun hubungan Harry dan Albus semakin memburuk, Albus merasa tidak dipahami oleh ayahnya dan merasa bahwa ayahnya tidak bangga kepada dirinya. Harry merasa bahwa Albus semakin menjauh dan semakin tidak mengenali anaknya.

Pada suatu hari Albus mencuri dengar pembicaraan antara Amos (ayah Cedric Digory) yang sekarang sudah sangat sepuh dengan ayahnya di rumah mereka. Amos datang ke rumah Harry untuk meminta Harry menggunakan Time Turner untuk menyelamatkan Cedric Digory.

Harry menolak dengan alasan bahwa kembali ke masa lalu dan merubah sesuatu adalah hal yang berbahaya. Di kesempatan itu pula Albus berkenalan dengan Delphi, keponakan sekaligus perawat Amos yang juga ikut mencuri dengar percakapan antara Harry dan Amos.

Albus pun kembali ke Hogwarts untuk menjalani tahun keempatnya, Rose (anak dari Ron dan Hermione yang masuk ke asrama Gryffindor) dalam upayanya untuk kembali berteman dengan Albus (mereka berteman sewaktu belum memulai bersekolah di Hogwarts, setelah Hogwarts pertemanan mereka tidak lagi seperti dulu bahkan mungkin bisa dibilang tidak lagi berteman) menginformasikan bahwa keberadaan Time Turner itu benar dan sekarang Time Turner itu berada di Ministry of Magic.

Albus, dalam upaya untuk membuktikan bahwa ayahnya tidak sempurna dan membuat banyak kesalahan, mengemukakan ide kepada Scorpius untuk bersama2 mencuri Time Turner itu, kembali ke masa lalu dan mencegah adegan dimana Cedric Digory terbunuh.

How harmless it can be, they think..

Nothing will go wrong they think..

Untuk misi ini Albus dan Scorpius meminta bantuan dari Delphi.. Bertiga mereka meminum Polyjuice Potion dan menyamar sebagai Harry, Ron dan Hermione, masuk ke Ministry of Magic dan mencuri Time Turner-nya.

They did it and after that everything goes haywire..

Selesai membaca naskah ini, saya pada awalnya memberikan rating 5 di goodreads, kemudian saya turunkan jadi 4, kemudian besoknya saya turunkan lagi jadi 3.

Sekangen2nya saya dengan dunia Harry Potter, plot twist di akhir naskah dimana Voldemort memiliki anak dari seseorang tampak terlalu mustahil and doesn’t fit the profile at all, I can not phantom a Harry Potter world where Voldemort manage to produce a child and refuse to accept that. Period. Hehe.

Pada awal-awal mendalami karakter Harry di naskah ini,  saya sempat sebal dengan miskomunikasi antara Harry dan dan Albus, namun dipikir2 Harry grows up without James, so I’ll give him a pass. The alternate universe dimana Ron dan Hermoine tidak menikah itu agak-agak menyakitkan, seeing how miserable they’ve become.

I absolutely love Scorpius! And Draco Malfoy. But anyway by the end of Harry Potter and the Deathly Hallows the Malfoys are already forgiven and deserved a second chance.

In the end, bagaimanapun juga, mengunjungi kembali dunia Harry Potter bersama tokoh2nya tetap merupakan sesuatu yang menyenangkan dan akan selalu dirindukan. It’s a privilege.

14910578_10154056189573379_8182615881656500421_nDan Severus Snape.. ah Severus Snape..

“SCORPIUS: The world changes and we change with it. I am better off in this world. But the world is not better. And I don’t want that.”

“It is exceptionally lonely, being Draco Malfoy. I will always be suspected. There is no escaping the past.”

“How to distract Scorpius from difficult emotional issues. Take him to a library.”

Reconstructing Amelia By Kimberly McCreight

15820136The worst thing that could happen to a mother is losing her child..

Itu kali ya yang bikin buku ini haunting buat saya, karena dari awal kita sudah diberitahu hasil akhirnya. Amelia, seorang anak remaja perempuan, meninggal lompat dari gedung sekolahnya.

Pada suatu pagi Kate Baron, seorang pengacara yang cukup sukses mendapat telepon dari sekolah anaknya bahwa anaknya diskors karena menyerahkan tugas yang ternyata merupakan karya plagiat. Kate dipanggil ke sekolah. Kate lalu meninggalkan pekerjaannya dan bergegas naik kereta menuju ke sekolah anaknya.

Sesampainya di sekolah Kate melihat ambulans dan mobil polisi. Lalu ia melihat mayat seorang anak tergeletak di rumput dan tertutupi, bagian badan yang terlihat hanya sepatunya. Kate lalu mengingat-ingat sepatu apa yang digunakan Amelia tadi pagi, dan kesal pada dirinya sendiri karena tidak bisa mengingat apa yang anaknya pakai ke sekolah. The dread, the guilt. Can you imagine?

Anak yang tergeletak di rumput itu ternyata betul adalah Amelia. Polisi mengatakan Amelia bunuh diri karena malu telah membuat karya plagiat, Amelia menulis “sorry” di dinding yang terletak di atap sekolahnya sebelum ia melompat.

Kate sempat menyangsikan bahwa anaknya membuat karya plagiat karena Amelia merupakan anak yang cerdas dan tidak pernah bermasalah dari sisi akademik. Kate menyekolahkan Amelia di private school di daerah Brooklyn karena menginginkan anaknya mendapatkan pendidikan yang terbaik.

Ketika mengetahui dirinya hamil Amelia, Kate telah memutuskan untuk menjadi single parent. Dan dia telah bekerja keras untuk menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan Amelia. Kate tidak menyangkal bahwa karena pekerjaan yang harus ia lakukan ia menjadi jarang di rumah dan sering meninggalkan Amelia.

Namun bagaimanapun Kate adalah orang tua yang penuh kasih sayang, walaupun ia hanya menghabiskan waktu yang terbatas bersama anaknya, Amelia tumbuh menjadi remaja yang sempurna dimata Kate (dan remaja idaman menurut saya), pintar, cerdas, tidak macam-macam, pengertian dan tidak seemosional remaja-remaja lain pada umumnya.

Namun polisi menyimpulkan bahwa Amelia bunuh diri. Dan tidak ada yang bisa Kate lakukan kecuali tenggelam dalam duka. Membayangkan seorang Ibu yang harus memakamkan anaknya sendiri sudah cukup membuat saya sakit perut dan ngilu sendiri.

Lalu kemudian Kate memperoleh sms anonim bahwa Amelia tidak membunuh dirinya sendiri. Dari situlah obsesi Kate dimulai untuk mencari tau apa yang sebenarnya terjadi pada Amelia, Kate menggeledah barang-barang Amelia, membaca file-file dalam laptop, handphone dan juga status-status di media sosial Amelia. Kate juga somehow berhasil membuat penyelidikan terhadap kasus Amelia dibuka kembali.

POV cerita berganti-ganti antara Kate dimasa kini dan Amelia beberapa waktu sebelum kematiannya. Beberapa narasi berupa status facebook dan newsletter tidak resmi di sekolah Amelia (semacam film seri Gossip Girl) dan saya jadi sukaaaa banget sama kepribadian Amelia yang bookish.

Di awal-awal narasi Amelia saya juga menyangsikan bahwa ia bisa menjadi seputus asa itu dan lompat dari atap sekolahnya. Lalu dari cerita yang disuguhkan saya dibuat ragu sendiri dan geram karena cerita berkembang ke arah dimana Amelia menjadi terpojok dan mungkin saja menjadi putus asa. Dan lalu saya disuguhkan ending yang bikin ternganga dan pengen mewek sendiri.

Why do bad things happen to good people.. Why?

Lalu saya jadi ngeri sendiri dengan kehidupan remaja di masa sekarang, bullying, cyberbullying, dan dibuat gelisah dan ngga bisa tidur. Apa saya bisa menemani anak saya sendiri dengan selamat melewati masa-masa rawan itu?

Saya sedih karena Kate tidak sempat mengetahui apa yang terjadi di kehidupan anaknya sampai semuanya menjadi terlambat dan bertanya-tanya sendiri seperti apa sih sebenarnya kehidupan remaja-remaja jaman sekarang. Walaupun saya masih punya cukup waktu untuk mempersiapkan diri I’m still feel clueless and afraid.

Beberapa hari yang lalu saya membaca berita tentang anak remaja di amerika yang membunuh dirinya sendiri karena cyberbullying yang memang amat sangat parah.

Walaupun ada beberapa kelemahan dalam jalan cerita Reconstructing Amelia, menurut saya isi buku ini masih sangat direkomendasikan untuk dibaca sebagai sentilan untuk para orangtua untuk melakukan evaluasi dari waktu ke waktu. Apakah komunikasi dengan anak berjalan dengan lancar? Kapan terakhir kali betul-betul menyediakan waktu untuk mendengarkan cerita tentang kehidupan anaknya? Apa kita betul-betul tahu apa yang terjadi dalam kehidupan anak kita?

Kalo buat saya buku ini recomended banget, bikin sesak nafas, inti serta jalannya ceritanya bagus, tema dan pesan yang disampaikan juga penting. Jadi 4 dari 5 bintang dari saya untuk buku ini.

Wuthering Heights By Emily Brontë

“Catherine Earnshaw, may you not rest as long as I am living. You said I killed you–haunt me then. The murdered do haunt their murderers. I believe–I know that ghosts have wandered the earth. Be with me always–take any form–drive me mad. Only do not leave me in this abyss, where I cannot find you! Oh, God! It is unutterable! I cannot live without my life! I cannot live without my soul!”

6712426Maybe something really bad happened to Emily Brontë ? Hmmm..

Kalo baca buku yang cerita dan tokoh-tokohnya ajaib seperti ini saya selalu penasaran dan jadi berhayal-hayal sendiri tentang bagaimana latar belakang sang penulis sehingga bisa melahirkan buku seperti ini. Hehehe. Ditambah lagi ini merupakan satu-satunya buku yang dihasilkan oleh Emily Brontë. Maybe something really bad did happened to her.. I highly suspect so..

Kenapa saya berpikiran seperti itu? Karena ya ampyuuuun saya ngga paham dengan tindakan dan keputusan yang diambil oleh tokoh-tokohnya. Memang betul sih untuk novel klasik yang ditulis lebih dari 100 tahunan yang lalu rata-rata kurang bisa saya pahami dari cara hidup maupun cara berpikir tokoh-tokohnya (seperti novel-novel Jane Austen yang suka bikin saya emeeeeeesh ;p).

Buku ini sama sekali bukan bercerita tentang romantisme, buku ini bercerita tentang rasa iri, obsesi dan dendam kesumat. It is not love, it is hate and vengeance.

Seorang pria bernama Mr Lockwood menyewa sebuah rumah di daerah terpencil di utara Inggris bernama Thrushcross Grange. Tidak lama setelah kedatangannya Mr Lockwood mulai mengeksplorasi lingkungan di sekitar Thrushcross Grange. Setelah beberapa lama berjalan kaki Mr Lockwood sampai ke sebuah rumah bernama Wuthering Heights dimana tidak lama kemudian ia bertemu dengan tuan rumahnya yang bernama Mr Heathcliff. Ada sesuatu yang sangat aneh dan kasar dengan Mr Heathcliff.

Di rumah itu ia bertemu dengan seorang wanita muda yang menarik namun ketus yang ternyata merupakan menantu Mr Heathcliff dan seorang pria muda yang tampak seperti pelayan namun ternyata bagian dari keluarga.

Malam itu badai salju datang dan Mr Lockwood pun terjebak di Wuthering Heights bersama tuan rumah yang tidak segan-segan mengekspresikan keberatannya atas keberadaan Mr Lockwood. Oleh seorang pelayan Mr Lockwood pun diantar ke sebuah kamar yang sudah lama tidak terpakai. Di kamar itu iya banyak melihat coretan Catherine di dinding dan dihantui oleh mimpi buruk (tentang arwah yang mencoba masuk dari jendela) yang membuatnya terbangun berteriak.

Pengalaman menginap satu malam di Wuthering Heights membuat Mr Lockwood sedikit banyak penasaran dengan latar belakang para penghuninya. Sekembalinya ke Thrushcross Grange Mr Lockwood pun bertanya pada seorang pelayan wanita disana yang bernama Ellen Dean. Ellen Dean ternyata pernah bekerja di Wuthering Heights dan dari kesaksian Ellen lah mengalir cerita tragis para penghuni Wuthering Heights.

Heathcliff adalah anak angkat pemilik Wuthering Heights, Mr Earnshaw yang ditemukan olehnya terlunta-lunta di pinggir jalan. Merasa terenyuh, Mr Earnshaw kemudian membawanya pulang dengan niatan membesarkan Heathcliff secara layak. Mr Earnshaw sendiri sudah memiliki dua anak, seorang anak laki-laki bernama Hindley dan adik perempuannya Catherine.

Heathcliff dan Catherine segera menjadi akrab dan melakukan segala sesuatu bersama. Lain halnya dengan Hindley yang membenci Heathcliff karena menganggap Heathcliff telah merebut kasih sayang Ayahnya.

Hindley kemudian keluar dari Wuthering Heights untuk belajar. Tahun demi tahun berlalu, Hindley kembali ke Wuthering Heights bersama istrinya. Di saat itu Mr Earnshaw telah berada dalam kondisi sakit-sakitan kemudian meninggal. Sepeninggal Mr Earnshaw, Hindley menjadi tuan rumah di Wuthering Heights. Karena dendam lamanya Hindley pun mengembalikan posisi Heathcliff menjadi pelayan biasa dan bukan anggota keluarga. This is the root of the fiasco in that family.

Antara Heathcliff dan Catherine yang beranjak remaja mulai muncul perasaan yang lebih dari sekedar teman bermain. Suatu insiden dalam petualangan Heathcliff dan Catherine menyebabkan Catherine terluka di dekat area tetangga terdekat mereka Thrushcross Grange dan menyebabkan Catherine selama beberapa minggu harus tinggal disana.

Sekembalinya dari Thrushcross Grange Heathcliff merasa Catherine menjadi berbeda dan lebih feminim, bukan lagi Catherine tomboy yang senang bermain dan bertualang berama Heathclif. Ditambah lagi Catherine menjadi dekat dengan Edgar Linton anak tuan rumah Thrushcross Grange.

Dua tahun kemudian Edgar Linton melamar Catherine. Heathcliff mencuri dengar pembicaraan Catherine dengan Ellen bahwa ia sebenarnya tidak mencintai Edgar melainkan Heathcliff, namun ia tidak bisa menikahi Heathcliff karena status dan pendidikan Heathcliff.

Merasa tersinggung dan direndahkan, malam itu Heathcliff meninggalkan Wuthering Heights. Tiga tahun kemudian Catherine dan Edgar resmi menikah, Catherine pindah ke Thrushcross Grange dengan membawa serta Ellen. Enam bulan setelah pernikahan Catherine dan Edgar Heathcliff kembali ke Wuthering Heights dan malapetaka pun dimulai.

Saya dengan keras menolak menggolongkan Heathcliff kedalam misunderstood romantic character. Apa yang membuat Heathcliff melakukan apa yang dia lakukan adalah bukan cinta yang berubah menjadi benci tetapi harga diri yang tersinggung, obsesi yang gelap, egoisme, dan sumur dendam yang tidak ada dasarnya.

Hindley dan Catherine telah menyinggung dan menyakiti orang yang salah dan mereka dipaksa membayar keputusan-keputusan yang mereka ambil oleh orang paling pendendam di dunia yang bernama Heathcliff.

Membaca buku ini betul-betul bikin makan hati.

Heathcliff yang kamu lakukan ke saya itu JAHAT! (bayangkan cinta di AADC 2 yang mengucapkan kalimat ini) ;p

Hehehe..

Tadinya mau ngasih 4 bintang karena buku ini bagaimanapun sudah membuat saya esmosi jiwa dan pengen baca terus, tapi semakin dipikirin saya semakin sebel sama Heathcliff dan tokoh-tokoh lainnya jadi saya turunin ke 3 bintang saja. Hahaha.

Untung Emily Brontë ngga pernah ketemu dengan George R. R. Martin, they will make a perfect couple, hehe.. (apaaaaaaa sih cha)

The Girl on the Train By Paula Hawkins

“I have never understood how people can blithely disregard the damage they do by following their hearts”

22557272Saya membaca buku ini lebih dari setahun yang lalu. Hiatus menulis review sempat membuat saya dapat melupakan betapa menyebalkannya Rachel, sang tokoh utama dalam buku ini. Kasihan sekaligus sebal sebenarnya sih. Hehehe.

Tapi setiap kali saya membaca buku lain yang tokoh utamanya menggemaskan (akhir-akhir ini saya baca buku Luckiest Girl Alive-nya Jessica Knoll) saya selalu teringat kembali kepada neng Rachel.

Jadi begini kurang lebih ceritanya..

Alkisah princess Rachel menikah dengan prince charming Tom. Mereka pun pindah ke rumah idaman dimana keluarga mereka akan dibangun. Rachel dan Tom tentu saja berharap hidup mereka akan bahagia selama-lamanya. Happily ever after bak cerita dalam dongeng.

Lalu kemudian Rachel tidak kunjung mengandung. Mereka berdua mulai mencoba segala cara untuk kemudian menghadapi kegagalan demi kegagalan. Rachel kemudian mulai stress dan merasa gagal sebagai wanita. Ia tidak bisa bangkit dan malah menjerumuskan dirinya sendiri kedalam kebiasaan minum minuman keras.

Waktu terus berjalan, kebiasaan minum-minum Rachel menjadi semakin buruk, pada waktu-waktu tertentu ia mabuk parah hingga mengalami black out. Sama sekali tidak dapat mengingat hal-hal terakhir yang ia lakukan.

Seperti bisa ditebak, Tom merasa terabaikan. Alih-alih mendampingi Rachel melalui depresinya, prince charming Tom malah selingkuh dengan seorang wanita yang jauh lebih muda dari Rachel yang bernama Anna.

Rachel dan Tom bercerai. Rachel pun keluar dari istananya untuk kemudian menghadapi kenyataan bahwa Tom sang former prince charming menikahi sang selingkuhan dan memboyongnya masuk ke rumah yang dulu mereka tinggali. Tidak lama kemudian Anna hamil dan mengkaruniai Tom seorang putri cilik yang cantik.

Jleb.. Jleb.. Jleb..

Rachel sekarang tinggal di apartemen temannya yang bernama Cathy. Ia masih belum bisa melepaskan kebiasaan mabuk-mabukannya. Ketika Rachel sedang mabuk berat ia seringkali menelepon  Tom dan merecokinya dengan racauan-racauan. Ini membuat Anna membenci Rachel yang terus-terusan mengusik rumah tangganya (which in my opinion she has no right to object since she’s the homewrecker in the first place).

Seperti bisa ditebak, Rachel pun tidak bisa mempertahankan pekerjaannya. Namun demi mengelabui teman seapartemennya bahwa ia masih bekerja (dan tidak akan diminta pindah dari apartemen Cathy), Rachel pun setiap hari masing melakukan commuting dari apartemen ke tengah kota dengan menggunakan kereta, hanya untuk mabuk di tempat lain dan pulang lagi ke apartemen.

Kereta yang Rachel naiki setiap hari selalu melalui perhentian dimana pemandangan yang ia lihat di luar jendela adalah daerah rumah lamanya. Ada satu rumah yang selalu Rachel amati, di dalamnya ia dapat melihat bahwa rumah itu ditinggali sepasang suami istri muda yang cantik dan ganteng. Pasangan ideal. Setiap hari pun Rachel selalu mengamati kegiatan pasangan muda itu. Rachel bahkan menamai mereka Jess dan Jason.

Pada suatu pagi Rachel melihat pemandangan yang membuat ia terkaget-kaget, ia melihat Jess di beranda memeluk dan mencium pria yang bukan Jason. Di hari itu Rachel mabuk berat, ia terbangun di apartemennya dengan keadaan berantakan, terluka dan berdarah. Rachel sama sekali tidak dapat mengingat apa yang terakhir kali ia lakukan.

Tidak lama setelah itu Rachel melihat bahwa seorang wanita muda bernama Megan dilaporkan hilang, Megan tak lain adalah Jess yang setiap hari Rachel lihat dalam perjalanan keretanya. Yakin bahwa pemandangan yang ia lihat (Jess/Megan mencium pria lain) ada kaitannya dengan hilangnya Megan, Rachel memutuskan untuk melaporkan ke polisi tentang apa yang ia lihat.

Bagaimanapun Rachel adalah saksi mata yang tidak credible, seorang pemabuk yang tidak dapat mengingat apa yang ia sendiri terakhir kali lakukan. Ditambah lagi sang mistress Anna melaporkan juga kepada polisi bahwa di malam kejadian ia melihat Rachel berkeliaran di daerah sekitar perumahan mereka. Jadilah Rachel semakin terjerumus kedalam penyelidikan hilangnya Megan.

Dan layer demi layer cerita membuat kita jadi tau bahwa segala sesuatu tidak seindah apa yang terlihat dan membuat kita semakin penasaran apa yang sebenarnya terjadi dengan Megan. Dan akankah neng Rachel eling and straighten out herself?

Point of view dalam buku ini sebenarnya berganti-ganti antara Rachel, Megan dan Anna. Dari cerita masing-masing tokoh itu kita jadi tau bahwa masing-masing tokoh memiliki kekurangan dan kesalahan masing-masing. Yang paling bikin gemes tentu saja point of view Rachel karena ancur-ancuran banget, menyedihkan dan bikin kasihan sekaligus sebel.

Tapi saya bisa mengerti sih obsesi Rachel terhadap Jess & Jason. Kalo mengamati orang di kendaraan umum atau di lift, saya juga sering mengarang-ngarang tentang kehidupan mereka seperti apa dan berfikir bahwa they seem very happy with their life. Hehe.

Buat yang suka genre mistery, thriller & suspense, buku ini seru juga buat dibaca dan susah loh berhenti bacanya. Hehehe.

3.5 bintang dari saya untuk buku ini.

“I have lost control over everything, even the places in my head.”

“When did you become so weak?” I don’t know. I don’t know where that strength went, I don’t remember losing it. I think that over time it got chipped away, bit by bit, by life, by the living of it.”

A Little Life By Hanya Yanagihara

Fairness is for happy people, for people who have been lucky enough to have lived a life defined more by certainties than by ambiguities. Right and wrong, however, are for—well, not unhappy people, maybe, but scarred people; scared people.

27250648Pernah ngga nonton film horor dimana ada adegan yang takut kita lihat, tapi penasaran, jadi kita mencoba menutup mata pake jari tapi sambil mengintip-intip? Itu persisnya apa yang saya rasakan saat membaca 2/3 terakhir buku ini. Penasaran sekaligus ngga sanggup ngebaca apa yang terjadi di halaman-halaman berikutnya.

Buku ini betul-betul memberikan efek roller coaster esmosi jiwa buat pembacanya (setidak-tidaknya buat saya :D).

Saya selesai membaca buku ini di kantor (curi-curi saking penasarannya), menutup halaman terakhir saya nangis bombay sendiri bak orang aneh dan butuh waktu beberapa saat untuk memulihkan diri sendiri kembali ke dunia nyata ;p

Buku ini bercerita tentang 4 sahabat, Willem, Jude, JB dan Malcom yang berkenalan di awal masa perkuliahan mereka, dimulai di waktu mereka berempat telah lulus kuliah dan baru saja memulai meniti karir masing-masing.

Willem yang ketika itu baru memulai karir sebagai aktor sambil menyambi menjadi pelayan sebuah restoran, JB yang baru saja memulai project-nya sebagai seniman, Malcom yang baru saja bergabung dengan biro arsitek yang sebenarnya tidak sesuai dengan idealismenya dan Jude yang baru saja memulai karirnya di bidang hukum.

Narasi di awal-awal banyak diceritakan dari point of view Malcom dan JB. Dari cerita keduanya pembaca dapat memperoleh perspektif dasar tentang persahabatan empat sekawan ini dan karakter dari masing-masing personilnya. JB sang seniman nyetrik yang gay, Malcom yang thoughtful tapi sulit mengambil keputusan dan enggan memiliki konflik dengan orang lain, Willem yang merupakan definisi dari pria baik-baik dan Jude yang sangat cerdas, santun, namun misterius dan tertutup.

Lalu cerita berkembang dan berputar di sekitar kehidupan Jude. Ketiga sahabatnya telah mengerti batasan mana yang boleh dan tidak boleh dilanggar dalam kehidupan Jude. Ditambah lagi Jude punya kekurangan fisik yaitu sakit kronis di bagian tulang belakang  sehingga ketiga sahabat Jude cenderung sedikit protektif terhadapnya.

Di awal-awal cerita ketiga sahabatnya tersebut cukup nyaman dengan segala kemisteriusan latar belakang kehidupan Jude dan memiliki gambaran buram bahwa Jude memiliki masalah, namun cukup menghormati privasi Jude untuk tidak banyak bertanya macam-macam. Jude mengawali masa “dewasa”nya setelah lulus kuliah dengan menyewa flat berdua dengan Willem, dengan begitu mereka dapat hidup dengan lebih ekonomis dan Willem sekaligus dapat menjaga Jude.

Lalu kita sebagai pembaca mengetahui bahwa ternyata Jude memiliki rahasia gelap yaitu kebiasaan menyakiti diri sendiri dengan menggoreskan silet di lengannya. Damn! This is not going well, kata saya dalam hati ;p

Jude sendiri sangaaaaat tertutup dengan apa yang sedang ia rasakan, ditambah dengan Willem yang terlalu santun untuk menodong Jude apa masalahnya sebenarnya membuat saya merasa semakin tersiksa sebagai pembaca karena merasa helpless melihat penderitaan terpendam Jude.

Memasuki usia 30-an empat sekawan itu mulai sukses di bidangnya masing-masing. Harold adalah salah satu tokoh favorit saya yang diceritakan sebagai profesor Jude di masa kuliah dan terus memiliki hubungan dekat dengan Jude, Harold merasa bahwa Jude adalah pengganti anak lelakinya yang meninggal dunia sehingga di usia Jude yang ke-30, Harold dan Istrinya Julia memutuskan untuk resmi mengadopsi Jude (yang memang yatim piatu) sebagai anak lelaki mereka.

Mendekati usia 40 an Jude dan Willem telah memiliki apartemen masing-masing dan tinggal sendiri-sendiri, sempat terjadi perselisihan diantara Jude dan JB sehingga hubungan keempat sekawan itu menjadi renggang. Di usia 40-an Jude belum juga memiliki hubungan romantis dengan siapapun sehingga membuat orang-orang terdekatnya bertanya-tanya.

Lalu Jude bertemu dengan Caleb, dan darisana cerita menjadi semakin buruk dan kelam. Di beberapa titik saya sampai merasa tidak punya cukup keberanian untuk membuka halaman berikutnya, di beberapa titik saya ingin melemparkan buku ini ke tembok dan di beberapa titik saya ingin terjun ke dalam buku dan menguncang2 badan orang-orang terdekat Jude sambil berteriak “Why won’t you do someting! Do something!”

Tapi apa daya saya cuma seorang pembaca yang emosinya berhasil diobrak-abrik oleh Hanya Yanagihara. Saya hanya bisa membuka halaman demi halaman sambil menelan berbagai macam esmosi jiwa yang saya yakini merupakan efek samping dari buku ini terhadap semua pembacanya ;p

Ketika saya telah sampai ke bagian dimana seluruh chapter mengerikan telah terbuka dan masa lalu Jude terungkap saya sempat bernafas lega karena mungkin pada akhirnya Jude akan menemukan kebahagiaan. Maybe the worst part is over. Jude memang akhirnya menemukan kebahagiaan. Namun hidup memang parodi ironis, termasuk kehidupan di dunia fiksi dalam buku ini sehingga di akhir cerita, seperti yang sudah saya ceritakan di atas, saya hanya bisa menangis dan merasa emotionally wounded.

Namun untuk bisa membawa efek maha dahsyat sedemikian rupa terhadap pembaca merupakan cerminan dari keberhasilan penceritaan suatu buku, sehingga saya tidak ragu untuk memberikan buku ini lima bintang. Walaupun ceritanya kelam, menyebalkan dan sama sekali bukan untuk ditiru, membaca buku ini merupakan suatu privilage dan pengalaman yang sangat berkesan.

Menurut pendapat pribadi saya buku ini lebih pantas untuk menang Goodreads Choice Award tahun 2015 dibandingkan denga Go Set A Watchman nya Harper Lee.

Oh ya satu hal lagi yang harus saya sampaikan setelah membaca buku ini adalah tentang mental ilness awareness. Orang-orang di Indonesia masih sangat enggan untuk mengakui bahwa mental ilness itu ada dan nyata, dan juga belum sepenuhnya menyadari bawa people with depression or who is mentally troubled can’t help themself. Adalah orang-orang terdekat yang sebaiknya mendampingi dan menyarankan bahwa they need help, and should insist that they should get one. Leaving them alone won’t lead to better result. Just please do something and stand by their side.

“Sometimes he wakes so far from himself that he can’t even remember who he is. “Where am I?” he asks, desperate, and then, “Who am I? Who am I?”

And then he hears, so close to his ear that it is as if the voice is originating inside his own head, Willem’s whispered incantation.

“You’re Jude St. Francis. You are my oldest, dearest friend. You’re the son of Harold Stein and Julia Altman. You’re the friend of Malcolm Irvine, of Jean-Baptiste Marion, of Richard Goldfarb, of Andy Contractor, of Lucien Voigt, of Citizen van Straaten, of Rhodes Arrowsmith, of Elijah Kozma, of Phaedra de los Santos, of the Henry Youngs.

“You’re a New Yorker. You live in SoHo. You volunteer for an arts organization; you volunteer for a food kitchen.

“You’re a swimmer. You’re a baker. You’re a cook. You’re a reader. You have a beautiful voice, though you never sing anymore. You’re an excellent pianist. You’re an art collector. You write me lovely messages when I’m away. You’re patient. You’re generous. You’re the best listener I know. You’re the smartest person I know, in every way. You’re the bravest person I know, in every way.

“You’re a lawyer. You’re the chair of the litigation department at Rosen Pritchard and Klein. You love your job; you work hard at it.

“You’re a mathematician. You’re a logician. You’ve tried to teach me, again and again.

“You were treated horribly. You came out on the other end. You were always you.”