Brave New World By Aldous Huxley

Penerbit : Harperperennial Modern Classics

Tebal : 340 Halaman

“Because our world is not the same as Othello’s world. You can’t make flivvers without steel-and you can’t make tragedies without social instability. The world’s stable now. People are happy; they get what they want, and they never want what they can’t get. They’re well off; they’re safe; they’re never ill; they’re not afraid of death; they’re blissfully ignorant of passion and old age; they’re plagued with no mothers and fathers; they’ve got no wives, or children, or lovers to feel strongly about; they’re so conditioned that they practically can’t help behaving as they ought to behave.”

Itulah Brave New World nya Aldous Huxley. Dunia dimana manusia dibuat dalam botol di pabrik besar dari telur & sperma terpilih. Tidak ada lagi ikatan keluarga, Ibu, Ayah, Saudara, Pacar. Tidak ada satu orang pun yang terikat pada orang lain. Tidak ada individu, semua manusia adalah bagian dari sistem, semua manusia merasa happy dengan dunia dan peran yang dijalaninya.

Sejak dalam botol setiap calon manusia sudah dikondisikan agar compatible untuk stratanya masing2. Alpha adalah para ras yang memiliki privilege sebagai ras unggul dan hanya diproduksi satu untuk setiap individu. Beta adalah para parempuan yang nantinya akan menjadi donor sel telur untuk para alpha.

Gamma, Delta, dan Epsilon adalah ras para pekerja yang sejak dalam botol, bayi dan balita sudah dikondisikan untuk pekerjaan yang harus dilakukannya di masa depan.  Ras simple minded yang merasa bahagia dengan hidupnya. Yang lebih gila lagi, untuk Gamma, Delta dan Epsilon dari satu embrio kemudian dilakukan penggandaan melalui proses yang dinamakan Bokanovsky sehingga satu embrio saja bisa menghasilkan lebih dari sepuluh individu. Cara edan untuk menghemat sel telur.

Pengkondisian setelah individu terbentuk dilakukan sejak bayi & balita melalui intersepsi alam bawah sadar. Dalam tidurnya setiap bayi & balita dicekoki propaganda strata masing2 melalui bantal berbunyi yang mensuarakan  dan menanamkan ide2 tersebut ke kepala setiap anak. Jadi ketika dewasa tidak akan ada kecurigaan dan ketidakpuasan antar strata. Setiap individu menerima fitrah stratanya masing2 secara senang hati.

Karena tidak ada lagi ikatan keluarga dan komitmen antar individu, maka setiap laki2 bebas bergaul (secara fisik maupun biologis) dengan perempuan mana saja dan demikian juga sebaliknya. Bebas, tanpa ikatan, tanpa perasaan, kapan saja tergantung agreement waktu dan kesediaan dengan pihak yang diinginkan. Edan eling kan.

Kenapa saya pilih buku ini untuk proyek baca barengnya Blogger Buku Indonesia bulan Agustus ini. Karena saya memang penyuka genre Dystopia, konon Dystopia paling hebat sepanjang masa selain 1984 George Orwell adalah Brave New World nya Aldous Huxley ini, plus bukunya memang udah lama pengen dibaca sudah ada di rak timbunan sejak kapan hari. Hehe. Setelah baca? Memang layak dikasi bintang lima buku ini.

Kalau dalam dunia 1984 masyarakat diatur dan digerakkan dengan ketakutan, maka buku ini lebih advanced mereka-reka sehingga masyarakat bisa diatur dengan manipulasi. Tepatnya manipulasi alam bawah sadar. Dengan demikian tidak akan ada perlawanan, setiap manusia merasa content dengan hidupnya dan melaksanakan peran yang sebenarnya merupakan hasil manipulasi dari tahap embrio. Mereka menjalankan apa yang para rulers ingin mereka untuk jalankan, and they’re perfectly happy with that, not even a glimpse of recessment ever crossed their minds. What can more be ideal that that?? Crazy Aldous Huxley. And I love his craziness.

“Actual happiness always look pretty squalid in comparison with the overcompensations of misery. And, of course, stability isn’t nearly so spectacular as instability. And being contended has none of the glamour of a good fight against misfortune, none of the picturesqueness of a struggle with temptation, or a fatal overthrow by passion or doubt. Happiness is never grand.”

Namun pada akhirnya karena ketidaksempurnaan dalam pembentukan, selalu saja ada individu yang nyeleneh, yang menurut pandangan general tidak sesuai dengan kualitas yang distandardkan alias non conformity. Hehe. Salah satunya tokoh utama kita Bernard Marx yang menurut semua orang terlalu individual dan bertindak di luar tatanan seharusnya.

Perjalanan Bernard Marx selanjutnya akan membuat kita sangat tergelitik (setidaknya saya). Are happiness really equal to contentment and stability? Are struggle, drama, love only led to desctruction and not worth the trouble?

Akkhhh… Buku gila ini sungguh menanamkan ide-ide (yang belum tentu baik) di kepala saya. Plus di edisi revisited yang saya baca ini ada review ulang dari Aldous Huxley sendiri pada tahun 1950-an tentang bukunya yang pertama terbit pada tahun 1931 ini. Pada intinya om Aldous terkejut dengan realitas bahwa hanya beberapa tahun setelah khayalannya dibukukan kejadian demi kejadian menunjukkan bahwa bukan tidak mungkin dunia yang ia khayalkan akan menjadi kenyataan lebih cepat dari yang ia sendiri bayangkan.

Tapi uraian nya memang masuk akal dan membuat saya merasa sedikit gelisah. Semua mungkin terjadi dan ada ilmunya. Tinggal menunggu terjadinya Chaos yang memojokkan manusia untuk mau tidak mau menciptakan tatanan baru. And I do feel that this world we live in is on the edge of Chaos. Frightening!!  He who holds the knowledge, holds the power.

“But I don’t want comfort. I want God, I want poetry, I want real danger, I  want freedom, I want goodness, I want sin.”

“In fact.” Said Mustapha Mond, “you’re claiming the right to be unhappy.”

“All right then, I’m claiming the right to be unhappy!”

The Serpent’s Shadow (Kane Chronicles #3) By Rick Riordan

Penerbit : Hyperion Books

Tebal : 406 Halaman

“Sadie Kane here.

If you’re listening to this, congratulations! You survived doomsday.

I’d like to apologize straightaway for any inconvinience the end of the world may caused you. The earthquakes, rebellions, riots, tornadoes, floods, tsunamis, and of course the giant snake who swallowed the sun. I’m afraid most of that was our fault. Carter and I decided we should at least explain how it happened.”

Haha, typical Sadie banget. Miss them (Sadie & Carter)? I do. Dan akhirnya kita sampai kepada buku ketiga dari Kane Chronicles. Setelah The Red Pyramyd & The Throne of Fire, buku ketiga ini berjudul The Serpent’s Shadow yang secara garis besar udah mewakili isi cerita.

Buat yang ketinggalan seri ini, secara garis besar ceritanya dewa dewi mesir adalah nyata dan mereka sampai saat ini masi berkeliaran di muka bumi. Adalah Sadie & Carter Kane, kakak beradik yang ternyata merupakan titisan Isis dan Horus yang menjadi ujung tombak keselamatan dunia dari doomsday.

Doomsday? Iya, sang lord of chaos alias aphopis yang seringkali digambarkan dengan wujud ular raksasa (serpent) sedang merencanakan untuk mengembalikan kondisi dunia yang kita tinggali ini ke nothingness alias “kegelapan”. Caranya adalah dengan menelan matahari.

Dalam The Throne of Fire Sadie dan Carter menaruh harapan pada Ra. Sang dewa matahari yang tertolong dewa tertua dalam mitologi mesir. Pada akhirnya mereka super duper kecewa karena menemukan Ra telah menjadi orang tua (banget) yang sudah kembali ke mental anak-anak dan lupa akan segala kedewaannya. Di masa jayanya Ra tidak berhenti melakukan perjalanan dari langit hingga dunia bawah untuk memastikan matahari tetap terbit dan dunia berjalan seperti biasa. Ra dulu adalah dewa dari segala dewa.

Sekarang beban mereka bertambah dengan keharusan untuk mengasuh Ra (yang kelakuannya balik seperti balita) dan memastikan Ra tetap aman karena aphopis mengincarnya. Tugas mengasuh Ra jatuh ke tangan Zia,  salah seorang remaja perempuan magicians yang ditaksir oleh Carter.

Markas Sadie & Carter bernama Brooklyn House, disana mereka mengumpulkan para magicians muda untuk berlatih. Fyi, dunia para magicians sekarang terbelah menjadi dua kubu. Salah satunya adalah kubu para pemberontak yang berambisi menghancurkan perkumpulan, termasuk Brooklyn House dan Kane bersaudara. Jadi para penyihir mudah tersebut harus berlatih untuk membela diri.

Ketika harapan mereka habis setelah melihat kondisi Ra. Alternatif lain untuk menghancurkan aphopis muncul, yaitu dengan menemukan bayangannya. Dalam mitologi mesir ada tiga bagian penting dari suatu individu. Jasad fisik, jiwa dan bayangan. Jika suatu individu mati, maka jasad fisiknya akan hancur dan jiwanya pergi ke alam bawah. Namun jika individu tersebut ketika hidup berkesempatan untuk menyembunyikan bayangannya, maka suatu hari ia masih dapat dibangkitkan dengan memanggil bayangannya. Ini juga berlaku untuk para dewa dewi mesir.

Aphopis pernah menyembunyikan bayangannya. Dengan menghancurkan bayangannya maka mereka juga akan menghancurkan aphopis. Namun segalan catatan tentang dimana aphopis menyembunyikan bayangannya telah dihancurkan. Satu2nya yang mengetahuinya adalah penulis catatan2 tersebut. Seseorang super duper licik yang kini telah menjadi hantu, Setne namanya. Bahkan para dewa dewi pun telah berkali2 terperdaya oleh tipuan Setne.

Namun ini adalah pilihan terakhir. Mereka harus meminta tolong Setne atau dunia akan kiamat. Walaupun kemungkinan besar yang bersangkutan akan menusuk mereka dari belakang.

Buku Rick Riordan memang ngga pernah ngebosenin. Walaupun tipical plot serial fantasy gini sang jagoan pada akhirnya akan menang tapi tetep aja bikin penasaran ngga ngebosenin. Ending cerita ini juga memungkinkan buat munculnya seri lain dari cerita Kane bersaudara seperti halnya dengan The Heroes of Olympus nya Percy Jackson series.

Saya suka banget dengan buku2 Rick Riordan. Ending buku ini pun masuk dalam kategori memuaskan. Tinggal nunggu buku ketiga dari The Heroes of Olympus, Mark of Athena. Bikin penasaran banget!!

Wintergirls By Laurie Halse Anderson

Penerbit : Penguin Books

Tebal : 278 Halaman

“Dr. Parker and all my parents live in a papier mache world. They patch up problems with strips of newspaper and little glue. I live in the borderlands. The word ghost sounds like memory. The word therapy mean exorcism. My visions echo and multiply. I don’t know how to figure out what they mean. I can’t tell where they start or if they will end.

But I know this. If they shrink my head anymore, or float me away on an ocean of pills, I will never return.”

Saya ngga nyaranin buat orang-orang yang baru aja atau sedang menjalani terapi psikologis/ kejiwaan untuk membaca cerita di buku ini. The story is pretty depressive, so no! Please look for a happier story. Hehe.

Aiiissshh. Dalam beberapa bagian buku saya sampai merasa harus merasa berhenti baca karena merasa “kegelapan” cerita merambat keluar buku dan hinggap di diri saya. Ya, sejagoan itulah Laurie Halse Anderson berkisah di buku ini. The story will haunts you. And I say bravo to Laurie Halse Anderson for be able to conjure that kind of effect for the readers!

Tokoh utamanya adalah seorang anak remaja bernama Lia. Kedua orang tuanya sudah berpisah. Lia kini tinggal bersama Ayah, Ibu tiri dan adik tirinya Emma. Lia adalah seorang remaja pengidap anorexia nervosa.

Kelainan pola makan dimana seseorang paranoid atau sangat takut berat badannya bertambah sehingga dengan sengaja membuat dirinya lapar. Pengidap anorexia nervosa biasanya memiliki penilaian body image yang negatif terhadap dirinya sendiri sehingga tetap merasa berat badannya berlebih meskipun pada kenyataannya sudah masuk ke kategori extremely underweight.

Saya pernah nonton di BBC Knowledge tentang banyaknya remaja perempuan pengidap anorexia nervosa di Amerika. Jumlahnya cukup mencengangkan. Bahkan mereka memiliki website sendiri dimana mereka dapat saling menyemangati untuk mengurangi berat badan. And It’s more related to psychological than eating disorder.

Back to the story. Lia dulu memiliki seorang teman bernama Cassie yang juga seorang pengidap anorexia. Karena satu dan lain hal mereka berhenti berteman. Sampai di suatu malam Lia mendapati telepon selulernya berbunyi dengan nama Cassie di layar. Lia memutuskan untuk mengabaikan telepon Cassie dan tidur. Keesokan paginya Lia menerima kabar bahwa Cassie ditemukan meninggal di sebuah kamar motel.

Cassie malam itu puluhan kali mencoba menelepon Lia. Sebelum ia mati. Kenyataan itu mengguncang Lia. Semenjak hari itu hantu Cassie menguntitnya. Ada di ujung tempat tidurnya. Ada di kaca ketika Lia bercermin. Ada dimana-mana. Lia berpura2 pada keluarganya bahwa ia masih menjalani terapi anorexia nya, padahal setiap hari ia membuat dirinya lapar dan menargetkan penurunan berat badan.

Sampai batas mana Lia bertahan antara hantu Cassie dan kepura2annya. Fiuh. Kalo saya boleh tebak pasti reaksi orang ketika membaca cerita ini antara ngga suka banget karena terlalu depresif dan yang mengagumi gimana sang penulis bisa mendalami “pemikiran tidak logis” dari seorang pengidap anorexia. Saya termasuk ke dalam kategori yang kedua. Buku ini berhasil menghantui saya.

Kadang, untuk tiba ke titik balik dimana seseorang akhirnya mau sadar (dalam hal ini atas apapun, bukan hanya konteks cerita), orang tersebut harus berada di kondisi benar-benar tidak berdaya terlebih dahulu. Istilah saya, harus dibuat seperti ikan yang dilempar ke darat dulu, menggelepar-gelepar berusaha bertahan hidup. Hanya ada dua pilihan, hancur atau hidup. Di titik ekstrim itu kesadaran untuk orang-orang yang “ndableg” baru akan mengena sepenuhnya. Dan setelah itu baru akan mengakui bahwa mereka bermasalah dan memang butuh pertolongan.

Been there, done that, thanks God!

“There is no magic cure, no making it all go away forever. There are only small steps upward; an easier day, unexpected laugh, a mirror that doesn’t matter anymore. I am thawing.”

“I am learning how to be angry and sad and lonely and joyful and excited and afraid and happy. I am learning how to taste everything.”

Where She Went By Gayle Foreman

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Alih Bahasa : Poppy D. Chusfani

Tebal : 231 Halaman

“I’ve blamed her for all of this, for leaving, for ruining me. And maybe that was the seed of it, but from that one little seed grew this tumor of a flowering plant. And I’m the one who nurtures it. I water it. I care for it. I nibble from its poison berries. I let it wrap around my neck, choking the air right out of me. I’ve done that. All by myself. All to myself.”

Tiga tahun setelah peristiwa kecelakaan mobil yang menewaskan seluruh anggota keluarga Mia Hall, ia telah berhasil membuktikan dirinya mampu untuk sukses di sekolah musik Juliard dan menjadi salah satu pemain Cello muda berbakat yang diakui di dunianya. Mia kini meneruskan hidupnya di New York.

Adam yang tiga tahun lalu bersumpah akan melakukan apa saja, temasuk meninggalkan Mia,  jika saja Mia bersedia bangun dari kondisi komanya, kini telah menjadi gitaris dari salah satu band ternama Shooting Stars. Album perdana mereka Collateral Damage menjadi hits di seluruh dunia. Adam tinggal di Los Angeles bersama kekasihnya yang berprofesi sebagai seorang artis, Bryn.

Keduanya telah jauh meninggalkan Oregon. Tempat asal mereka berdua.

Melalui narasi Adam kita mengetahui bahwa setelah Mia akhirnya mulai keluar dari kondisi koma dengan menggerakkan jarinya, empat hari kemudian Mia terbangun. Mia kemudian menjalani rehabilitasi dengan senantiasa didampingi oleh Adam. Mia menolak penangguhan beasiswanya untuk bersekolah di Juliard dan bersikeras untuk pergi. Pada awalnya komunikasi berjalan lancar diantara Mia dan Adam, sampai suatu saat Mia memutuskan komunikasi begitu saja.

Mia menolak segala pesan dan telepon dari Adam. Meninggalkan Adam tanpa penjelasan begitu saja (menurut Adam karena buku kedua ini diceritakan dari sudut pandangnya). Adam patah hati dan depresi. Setelah beberapa waktu berada dalam “masa2 mengkhawatirkan”, suatu hari Adam beranjak dan menulis lagu. Seluruh lagunya menjadi bahan di album Collateral Damage dan Album itu menjadi hits di seluruh dunia.

Kini tiga tahun kemudian Adam tengah berada di New York. Ditengah2 tour band Shooting Star. Malam itu Mia akan menggelar konser solo di Carniege Hall. Adam yang tengah gusar karena sebuah wawancara melihat posternya dan segera membeli tiketnya. Tiga tahun kemudian Adam tersihir ulang oleh permainan Cello Mia. Dan semua kenangan, kemarahan, pertanyaan mengalir kembali tanpa mampu dibendung.

Melalui narasinya kita bisa merasakan betapa patah hatinya Adam. Betapa sebenarnya ia tidak rela ditinggalkan begitu saja tanpa penjelasan. Betapa bagaimanapun marahnya, Adam masih mencintai Mia.

Let me tell you this! Dalam suatu hubungan (apapun itu), asumsi adalah suatu hal yang sangat berbahaya yang jika dibiarkan dapat menggiring kepada kehancuran. Yang saya lihat dalam cerita ini adalah Adam terlalu banyak berasumsi. Ketika Mia meninggalkannya Adam menjadi egosentris dan menganggap dirinya orang paling menderita sedunia. Lupa kalau Mia sedang menghadapi kehilangan yang lebih besar, Ayah, Ibu dan adik lelakinya dalam seketika meninggalkkannya di dunia. Hanya Mia yang tersisa hidup. Dan luka seperti itu tidak akan bisa sembuh dalam hitungan bulan. Butuh tahunan, bahkan mungkin seumur hidup akan menjadi lubang yang menganga.

Walau Adam pada akhirnya bangkit dan berhasil membuat dirinya sukses. Ketidakrelaan itu terbaca jelas di narasinya. Dan gumpalan perasaan yang terpendam itu telah merubah Adam menjadi granat berjalan. Salah sedikit maka semua orang akan terkena akibatnya.

Lupakah ia bahwa dirinya pernah mengucap janji bahwa ia rela meninggalkan Mia jika Mia berhasil bangun dari koma dan menemukan bahwa tetap bersama dengannya terlalu berat (karena semua kenangan akan keluarganya). Pada kenyataannya Adam belum bisa merelakan Mia. Dan memang jika dia tidak rela dan masih sangat mencintai Mia maka kejarlah! bertanyalah! bersikaplah lebih berani sedikit dan hampiri Mia! Bantu Mia menghadapi peperangannya..

Di buku kedua ini saya malah jauh lebih bisa merasakan simpati kepada Mia dibandingkan dengan buku pertama.

Dan ketika dia akhir2 cerita terdapat adegan dimana Adam menemukan bahwa yang membeli gitar akustiknya yang ia lelang beberapa tahun yang lalu dengan harga sangat mahal adalah Mia, ingin rasanya saya melompat ke dalam buku, merebut gitar akustik itu dari tangan Adam dan memukulkan gitar tersebut ke kepala Adam. You fool!! 😀 Dasar laki-laki.. hehehe..

“You?’ is all I can manage to choke out.

‘Always me,’ she replies softly, bashfully. ‘Who else?”

If I Stay By Gayle Foreman

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Alih Bahasa : Poppy D. Chusfani

Tebal : 195 Halaman

“Sometimes you make choices in life and sometimes choices make you.”

Awal tahun ini inget banget temen2 di komunitas Blogger Buku Indonesia banyak yang menominasikan tokoh Adam di buku ini sebagai ‘My Number 1 Book Boyfriend’. Saya timbunlah buku ini beserta sequelnya Where She Went selama berbulan2 dan baru dibaca kemarin2. Hehe.

Huuumm. Sepertinya saya akan lebih dapet feelnya kalo baca yang versi aslinya. Atau memang waktu baca lagi kurang sensitif aja kali ya jadi buku ini ngga bikin saya terharu biru seperti yang banyak dialamin temen2 yang sudah baca duluan.

Dalam buku ini tokoh utamanya adalah seorang remaja perempuan yang bernama Mia Hall. Mia adalah seorang pemain Cello yang cukup berbakat. Mia terlahir di keluarga yang mencintai musik, namun saja Ayah dan Ibunya lebih ke aliran musik band dan berbeda dengan Mia yang menyukai musik klasik. Mia juga memiliki seorang adik laki2. Secara sekilas kehidupan Mia lengkap, ia punya keluarga kecil yang bahagia dengan kehidupan mereka. Ia punya kegiatan yang sangat dicintainya yaitu bermain Cello. Dan Mia punya Adam.

Adam, kekasihnya yang termasuk ke dalam kategori ‘cowo keren’ di sekolahnya. Adam yang gitaris sebuah band yang karirnya mulai beranjak naik. Adam yang memiliki banyak penggemar wanita.

Mia yang selalu merasa berbeda dari anggota keluarganya yang lain ini seringkali heran mengapa Adam tertarik kepadanya. Namun dengan mulusnya Adam masuk ke dalam kehidupan Mia, termasuk juga ke dalam kehidupan anggota keluarganya. Adam sudah nyaris seperti anak ketiga dalam keluarganya. Bahkan Adam lebih nyambung dengan Ayah dan adik lelakinya dibandingkan dengan Mia sendiri.

Di suatu hari yang bersalju di daerah Oregon. Sekolah2 memutuskan untuk meliburkan murid2 mereka. Ayah Mia yang seorang guru juga diliburkan. Akhirnya keluarga itu memutuskan untuk pergi bersama mengunjungi kakek dan nenek Mia.

Hal terakhir yang diingat Mia adalah Cello Sonata No.3 Beethoven. Setelah itu tiba2 Mia berada di luar mobil. Mobil yang mereka kendarai hancur berantakan. Mia dapat melihat jasad Ayah dan Ibunya yang tidak utuh lagi. Mia juga melihat ada sosok yang terlempar ke parit, Mia mengira itu Teddy adik laki2nya. Setelah dihampiri ternyata ia melihat tubuh fisik dirinya sendiri terbaring di parit. Darah merembes dari bajunya.

Selanjutnya Mia menyaksikan regu penolong dan ambulans mulai berdatangan. Ia juga melihat tubuhnya diangkut ke dalam helikopter untuk diterbangkan ke rumah sakit terdekat. Ia menyaksikan upaya para tenaga medis untuk menyelamatkan nyawanya. Bahkan kemudian setibanya di rumah sakit Mia menyaksikan sendiri operasi yang dilakukan untuk menjaga dirinya tetap hidup. Mia melihat tubuhnya yang carut marut penuh dengan luka. Ia nyaris tidak mengenali dirinya sendiri.

Lalu para penjenguk mulai berdatangan. Kakeknya, neneknya, sahabatnya Kim, dan Adam. Melalui pembicaraan para tenaga medis Mia mengetahui bahwa adiknya Teddy telah meninggal dunia di rumah sakit yang lain. Dalam satu hari Mia kehilangan seluruh anggotanya. Dalam satu kedipan mata ia tertinggal sendirian. Mia tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya hidup tanpa anggota keluarganya.

“I realize now that dying is easy. Living is hard.”

“I’m not sure this is a world I belong in anymore. I’m not sure that I want to wake up.”

Mia menyaksikan neneknya, kakeknya dan Adam berbicara pada tubuhnya yang terbaring dipenuhi dengan selang2 yang berfungsi menjaga dirinya tetap hidup. Ia menyaksikan kakeknya berbicara bahwa ia merelakan Mia pergi jika memang sakit yang Mia pikul tidak tertahankan. Ia juga melihat Adam memohon agar dirinya tetap hidup apapun resikonya. Ia melihat Kim sahabatnya menangis tersedu2. Namun Mia merasa takut. Sanggupkah ia hidup dengan menahan semua kesedihan akan kehilangan seluruh anggota keluarganya.

Mia merasa letih dan menyerah. Ia menunggu kemana nasib akan membawanya.

Ending buku ini begitu membuat penasaran hingga saya menyarankan untuk tidak jauh2 menaruh buku sequelnya yang berjudul Where She Went. Di buku pertama ini, cerita diambil dari sudut pandang Mia, karakter Adam belum terlalu terlihat dengan jelas hingga saya belum bisa memutuskan pendapat saya terhadap Adam. Dan setelah membaca buku keduanya baru saya mengenal siapakah Adam ini.

Mia adalah tipe remaja perempuan yang tidak mencolok namun mudah untuk disukai karena kesederhanaannya. Mia adalah remaja perempuan luar biasa yang merasa dirinya biasa-biasa saja. Dan itulah yang membuatnya menjadi menarik.

Over all buku pertama ini terasa seperti introduction alias kata pengantar untuk buku keduanya yang ternyata menurut saya lebih mempunyai jiwa. Tapiiii ntar aja saya ceritanya di review buku yang kedua yaa. Kali ini saya kurang sependapat dengan groupiesnya Adam di komunitas Blogger Buku Indonesia. Semoga nanti saya ngga ditimpukin rame2 oleh para penggemarnya Adam waktu menayangkan review buku Where She Went besok2. Hehehe.

““It’s okay,’ he tells me. ‘If you want to go. Everyone wants you to stay. I want you to stay more than I’ve ever wanted anything in my life.’ His voice cracks with emotion. He stops, clears his throat, takes a breath, and continues. ‘But that’s what I want and I could see why it might not be what you want. So I just wanted to tell you that I understand if you go. It’s okay if you have to leave us. It’s okay if you want to stop fighting.'”

“If you stay, I’ll do whatever you want. I’ll quit the band, go with you to New York. But if you need me to go away, I’ll do that, too. I was talking to Liz and she said maybe coming back to your old life would be too painful, that maybe it’d be easier for you to erase us. And that would suck, but I’d do it. I can lose you like that if I don’t lose you today. I’ll let you go. If you stay.”

The Lovers Dictionary By David Levithan

Penerbit : Farrar, Straus and Giroux

Tebal : 224 Halaman

Reservation, noun.

There are times when I worry that I’ve already lost myself. That is, that myself is so inseparable from being with you that if we were to separate, I would no longer be. I save this thought for when I feel the darkest discontent. I never meant to depend so much on someone else.

Yearning, noun. And adjective.

At the core of this desire is the belief that everything can be perfect.”

Hmmm.. Ini adalah salah satu buku yang saya merasa sulit sekali untuk membuat reviewnya.

Beberapa halaman pertama waktu baca buku ini agak sedikit membingungkan. Isinya seperti kamus. Di setiap alfabet a sampai z, sang pencerita (pria) memilih satu atau beberapa kata untuk diuraikan berdasarkan memori dari hubungannya dengan pasangannya yang ia punya atas kata-kata itu. Seperti contoh quotes yang saya tulis di atas.

Sedikit demi sedikit pembaca akan mulai bisa merangkai kepingan puzzle dan menangkap apa yang sebenarnya terjadi antara pasangan itu. Dari mulai kencan pertama, jatuh cinta, tinggal bersama, pertengkaran2 kecil, terciptanya jarak, pengkhianatan, pengakuan dan selamat tinggal.

Uraian dari setiap kata kadang sangat manis dan puitis dan kadang getir, bahkan sarat kemarahan. Sampai saat terakhir siapa identitas kedua pasangan ini tidak  terungkap. Begitu pula dengan apa yang terjadi pada keduanya. Apakah mereka tetap bersama atau akhirnya berpisah.

Yang jelas sang pria lah yang menuliskan kisah cinta berbentuk kamus ini. Untuk diberikan kepada pasangannya. Menurut saya ceritanya agak mengenaskan. Tidak disarankan untuk dibaca buat orang2 yang baru saja membina hubungan. Bisa memberikan efek pesimis soalnya.

Tapi itulah realitas. Dalam pernikahan, yang namanya jatuh cinta berbunga-bunga pada suatu waktu akan padam sendiri. Semua belang2 akan terlihat. Dan di saat itu suatu hubungan baru benar-benar diuji. Yang tertinggal adalah seberapa besar komitmen untuk menjalani segalanya bersama. Untuk saling melengkapi, saling memaklumi, memaafkan, dan menerima kekurangan dan kelebihan masing2 alih2 mencoba untuk merubah sifat pasangan.

Ada kalanya di titik stagnan salah satu akan berpaling karena melihat orang yang lebih segala2nya dari pasangannya. Let me tell you this! That is non sense! Setiap orang pasti punya kelebihan dan kekurangan. Tidak ada manusia yang sempurna. Dan pasangan yang ditinggalkan akan merasa dirinya tidak berdaya, tidak berharga. Tinggal bersama dengan manusia yang bagai kemasan kosong yang isinya ntah sudah terbang kemana. And after all of that happened there is no going back.

Jadi adek2 yang baik there is no such thing as Pangeran Berkuda Putih, Putri Cantik Jelita atau Hidup Bahagia Selamanya. Sorry to say, but that’s the fact. The ugly and bitter truth of this so called life.

Jika ingin segera menikah atau bahkan akan segera menikah. Janganlah terlalu heboh merancang pesta atau resepsi sekali seumur hidup yang membuat pengantinnya seperti raja & ratu satu malam. Jangan dilaksanakan karena tekanan sosial atau keluarga yang selalu memburu2. Atau jangan pula karena banyak temen2 yang sudah menikah jadi tertular ingin mensegerakan dan itu dijadikan motivasi. Yang lebih diperlukan adalah persiapan mental, ketenangan jiwa untuk menerima apapun yang terjadi, dan kehidupan setelahnya akan seperti apa. Ini yang penting dibicarakan sebelum memutuskan untuk membuat resepsi.

Kehidupan baru akan dimulai setelahnya. Dan keduanya harus cukup dewasa untuk menghadapi segala kemungkinan yang terjadi.

Lover, noun.

Oh, how I hated this word. So pretentious, like it was always being translated from the French. The tint and taint of illicit, illegitimate affections. Dictionary meaning: a person having a love affair. Impermanent. Unfamilial. Inextricably linked to sex.

I have never wanted a lover. In order to have a lover, I must go back to the root of the word. For I have never wanted a lover, but I have always wanted lover, and to be loved.

There is no word for the recipient of the love. There is only a word for the giver. There is the assumption that lovers come in pairs.

When I say, Be my lover, I don’t mean, Let’s have an affair. I don’t mean Sleep with me. I don’t mean, Be my secret.

I want us to go back to that root.

I want you to be the one who loves me.

I want to be the one who loves you.”

I hope I didn’t sound to preachy. But trust me, I know this Lovers Dictionary story like the back of my own hand. In real life situation like this does happen. Learn from other people mistakes, don’t ever let it happen to yourself. It just to painful to cope with. It will break you. And you can not put back together broken pieces. It’s damaged forever.

“I spent all this time building a relationship. Then one night I left the window open, and it started to rust.”

“The mistake is thinking there can be an antidote to the uncertainity.”