I, Claudius By Robert Graves

Penerbit : Vintage Books

Tebal : 432 Halaman

“I, Tiberius Claudius Drusus Nero Germanicus This-that-and-the-other (for I shall not trouble you yet with all my titles) who was once, and not so long ago either, known to my friends and relatives and associates as “Claudius the Idiot,” or “That Claudius,” or “Claudius the Stammerer” or “Clau-Clau-Claudius” or at best as “Poor Uncle Claudius,” am now about to write this strange history of my life; starting from my earliest childhood and continuing year by year until I reach the fateful point of change where some eight years ago, at the age of fifty-one, I suddenly found myself caught in what I may call the “golden predicament” from which I have never since become disentangled.”

Saya nemu harta karun ini di toko buku bhs inggris second di Bandung yang namanya Readinglights. Dan setelah dibaca langsung masuk ke daftar ‘My Best Books of All Times’. Robert Graves menuliskan buku ini seolah2 betulan dinarasikan oleh Roman Emperor Claudius yang pada masa kecil hingga dewasa selalu dianggap remeh karena cara bicaranya yang gagap dan kakinya yang pincang.

Tidak banyak yang mengetahui kalau dibalik penampilan fisiknya yang lemah Claudius menyimpan akal sehat yang mungkin melebihi akal sehat seluruh anggota Roman Empire bahkan jika seluruhnya digabungkan sekalipun. Tidak ada seorang anggota kekaisaran pun yang merasa terancam dengan keberadaan Claudius the Idiot. Sementara anggota kekaisaran yang lain sibuk berkonspirasi dan saling menusuk dari belakang, Claudius lolos dari seluruh intrik politik tersebut dan menjadi saksi mata seluruh peristiwa, dari mulai zaman kekaisaran Augustus hingga keponakan sakit jiwanya Caligula.

Claudius yang pada mulanya bukan siapa2 dan memposisikan dirinya hanya sebagai pengamat, tiba2 terjerat dalam event politik yang menyebabkan namanya tercatat sebagai salah satu Kaisar Romawi. Dan dari apa yang saya baca, he was a great one too. Banyak bangunan untuk kepentingan umum yang berhasil diselesaikannya, ia juga melakukan terobosan untuk mengefektifkan sistem hukum kekaisaran, dan dalam masa pemerintahannya, untuk pertama kalinya kekaisaran Romawi berhasil melaksanakan ekspansi hingga wilayah Britain.

Claudius menceritakan kembali semua peristiwa yang ia saksikan dengan gaya seorang Historian, namun tentu saja dengan dibumbui emosi dan motif2 tersembunyi dari setiap tokohnya. Cara berceritanya membuat kisah Claudius ini tidak kalah seru dari serial Beverly Hills 90210 yang penuh intrik dan sensasi namun tentu saja dengan detail2 sejarah yang akurat.

Selesai membaca buku ini saya merasa perlu mencari tau lebih jauh tentang sejarah Roman Empire untuk memisahkan yang mana fakta dan yang mana fiksi. Ternyata sebagian besar isi dari buku ini adalah fakta sejarah, namun Robert Graves menghidupkan kembali tokoh2 sejarah tersebut dengan memberikan mereka karakter yang kuat dan terasa sangat nyata, seolah2 memang seperti itulah adanya sifat2 dari para pelaku sejarah tersebut. This is definitely a fun way to learn about Roman History.

Diantara banyak tokoh kekaisaran Romawi yang berseliweran, yang paling notable buat daya adalah karakter Livia Drusilla. Istri dari Kaisar Augustus, nenek dari Claudius. Karakternya yang digambarkan sebagai tokoh paling berpengaruh di kekaisaran Romawi, bahkan melebihi Kaisar Augustus sendiri, menjadikannya menjadi salah satu tokoh antagonis yang paling berkesan buat saya. Plotting, scheming, poisoning people who stands in her way, semua atas nama kebaikan dan utuhnya kekaisaran Romawi. She’s the ultimate mastermind wicked character in this whole story. Tanpa Livia kisah ini akan seperti makanan tanpa garam. Livia dengan segala tindak tanduknya adalah jiwa dari cerita.

I, Claudius sangat layak berada di dalam daftar 100 Times Greatest Novels. Buku ini beserta buku sequelnya, Claudius the God sudah dijadikan serial TV oleh BBC. Sayangnya saya belum nemu2 DVD nya, padahal seru tuh kayaknya.

Walaupun sejarah Romawi keliatannya berat dan rumit buat dipelajari, namun buku ini sama sekali tidak berat untuk dibaca. Ya itu dia, karena dinarasikan ala serial TV penuh intrik, buku ini jadi sama sekali tidak membosankan, seru,  dan memberikan kita gambaran yang cukup nyata tentang gaya hidup anggota Kekaisaran Romawi yang memang kadang nyeleneh, bikin kening berkerut, tidak masuk akal dan tentunya bertaburan drama. They were all crazy in their own way.

Ngga ngerti deh kenapa belum diterjemahin ke Bahasa Indonesia. Padahal menurut saya ini buku wajib baca setidaknya sekali seumur hidup. Saya baca kedua kalinya aja ngga bosen2 ;D

“Triumphs, by the way, have been a curse to Rome. How many unnecessary wars have been fought because generals wanted the glory of riding crowned through the streets of Rome with enemy captives led in chained behind them.”