I, Claudius By Robert Graves

Penerbit : Vintage Books

Tebal : 432 Halaman

“I, Tiberius Claudius Drusus Nero Germanicus This-that-and-the-other (for I shall not trouble you yet with all my titles) who was once, and not so long ago either, known to my friends and relatives and associates as “Claudius the Idiot,” or “That Claudius,” or “Claudius the Stammerer” or “Clau-Clau-Claudius” or at best as “Poor Uncle Claudius,” am now about to write this strange history of my life; starting from my earliest childhood and continuing year by year until I reach the fateful point of change where some eight years ago, at the age of fifty-one, I suddenly found myself caught in what I may call the “golden predicament” from which I have never since become disentangled.”

Saya nemu harta karun ini di toko buku bhs inggris second di Bandung yang namanya Readinglights. Dan setelah dibaca langsung masuk ke daftar ‘My Best Books of All Times’. Robert Graves menuliskan buku ini seolah2 betulan dinarasikan oleh Roman Emperor Claudius yang pada masa kecil hingga dewasa selalu dianggap remeh karena cara bicaranya yang gagap dan kakinya yang pincang.

Tidak banyak yang mengetahui kalau dibalik penampilan fisiknya yang lemah Claudius menyimpan akal sehat yang mungkin melebihi akal sehat seluruh anggota Roman Empire bahkan jika seluruhnya digabungkan sekalipun. Tidak ada seorang anggota kekaisaran pun yang merasa terancam dengan keberadaan Claudius the Idiot. Sementara anggota kekaisaran yang lain sibuk berkonspirasi dan saling menusuk dari belakang, Claudius lolos dari seluruh intrik politik tersebut dan menjadi saksi mata seluruh peristiwa, dari mulai zaman kekaisaran Augustus hingga keponakan sakit jiwanya Caligula.

Claudius yang pada mulanya bukan siapa2 dan memposisikan dirinya hanya sebagai pengamat, tiba2 terjerat dalam event politik yang menyebabkan namanya tercatat sebagai salah satu Kaisar Romawi. Dan dari apa yang saya baca, he was a great one too. Banyak bangunan untuk kepentingan umum yang berhasil diselesaikannya, ia juga melakukan terobosan untuk mengefektifkan sistem hukum kekaisaran, dan dalam masa pemerintahannya, untuk pertama kalinya kekaisaran Romawi berhasil melaksanakan ekspansi hingga wilayah Britain.

Claudius menceritakan kembali semua peristiwa yang ia saksikan dengan gaya seorang Historian, namun tentu saja dengan dibumbui emosi dan motif2 tersembunyi dari setiap tokohnya. Cara berceritanya membuat kisah Claudius ini tidak kalah seru dari serial Beverly Hills 90210 yang penuh intrik dan sensasi namun tentu saja dengan detail2 sejarah yang akurat.

Selesai membaca buku ini saya merasa perlu mencari tau lebih jauh tentang sejarah Roman Empire untuk memisahkan yang mana fakta dan yang mana fiksi. Ternyata sebagian besar isi dari buku ini adalah fakta sejarah, namun Robert Graves menghidupkan kembali tokoh2 sejarah tersebut dengan memberikan mereka karakter yang kuat dan terasa sangat nyata, seolah2 memang seperti itulah adanya sifat2 dari para pelaku sejarah tersebut. This is definitely a fun way to learn about Roman History.

Diantara banyak tokoh kekaisaran Romawi yang berseliweran, yang paling notable buat daya adalah karakter Livia Drusilla. Istri dari Kaisar Augustus, nenek dari Claudius. Karakternya yang digambarkan sebagai tokoh paling berpengaruh di kekaisaran Romawi, bahkan melebihi Kaisar Augustus sendiri, menjadikannya menjadi salah satu tokoh antagonis yang paling berkesan buat saya. Plotting, scheming, poisoning people who stands in her way, semua atas nama kebaikan dan utuhnya kekaisaran Romawi. She’s the ultimate mastermind wicked character in this whole story. Tanpa Livia kisah ini akan seperti makanan tanpa garam. Livia dengan segala tindak tanduknya adalah jiwa dari cerita.

I, Claudius sangat layak berada di dalam daftar 100 Times Greatest Novels. Buku ini beserta buku sequelnya, Claudius the God sudah dijadikan serial TV oleh BBC. Sayangnya saya belum nemu2 DVD nya, padahal seru tuh kayaknya.

Walaupun sejarah Romawi keliatannya berat dan rumit buat dipelajari, namun buku ini sama sekali tidak berat untuk dibaca. Ya itu dia, karena dinarasikan ala serial TV penuh intrik, buku ini jadi sama sekali tidak membosankan, seru,  dan memberikan kita gambaran yang cukup nyata tentang gaya hidup anggota Kekaisaran Romawi yang memang kadang nyeleneh, bikin kening berkerut, tidak masuk akal dan tentunya bertaburan drama. They were all crazy in their own way.

Ngga ngerti deh kenapa belum diterjemahin ke Bahasa Indonesia. Padahal menurut saya ini buku wajib baca setidaknya sekali seumur hidup. Saya baca kedua kalinya aja ngga bosen2 ;D

“Triumphs, by the way, have been a curse to Rome. How many unnecessary wars have been fought because generals wanted the glory of riding crowned through the streets of Rome with enemy captives led in chained behind them.”

Pandemonium By Lauren Oliver

Penerbit : HarperCollins Publisher

Tebal : 375 Halaman

“Grief is like sinking, like being buried. I am in water the tawny color of kicked-up dirt. Every breath is full of choking. There is nothing to hold on to, no sides, no way to claw myself up. There is nothing to do but let go.

Let go. Feel the weight all around you, feel the squeezing of your lungs, the slow, low pressure. Let yourself go deeper. There is nothing but bottom. There is nothing but the taste of metal, and the echoes of old things, and days that look like darkness.”

Lauren Oliver emang jago merangkai kata2 ya. Kalimat di atas sangat mengingatkan saya pada sesuatu. Anyway.. Baru aja saya ngakak2 baca review buku ini di goodreads, banyak banget yang mengutuk2. Jangan salah, bukan karena ceritanya ngga asik, tapi karena endingnya yang mencengangkan jiwa. Yang mengutuk2 itu malah rata2 ngasih bintang lima.

Saya sendiri waktu baca halaman terakhir sampe ngga sengaja semi teriak “Apaaa!! Terus gimana ini!!!” hehe. Untung si buku ngga terus dilempar ke tembok (pasti banyak yang mau nangkep kan, hihihi). Lagi-lagi bukan berarti saya ngga suka buku ini loh, cuma aduh ya mba Lauren ini kok ya bikin penasaran banget. Mana masih ditulis lagi buku ketiganya, kan lama nunggunya, hihihi.

Di buku ini ngga ada lagi tuh manis2an macem di Delirium. Ngga ada lagi kalimat2 tentang cinta yang bikin meleleh leleh. Di Pandemonium Lena sudah bertransformasi menjadi sosok yang lain. Sosok yang sudah mencicipi bagaimana rasanya merasa kehilangan sampe2 tidak merasa sama sekali. Berada di kondisi antara hidup dan mati. Lena yang sekarang penuh kegetiran dan dendam pada kelompok manusia yang telah membunuhnya.

Lena berhasil melarikan diri ke daerah “Wilds” di luar pagar masyarakat eksklusif di dunianya yang dulu yang menganggap cinta adalah sebuah penyakit. Oleh karena itu setelah berumur 18 tahun setiap warga harus melewati prosedur medis untuk menyingkirkan bagian otak yang memungkinkan manusia untuk merasakan cinta dan sayang. Dunia zombie.

“This is the world we live in, a world of safety and happiness and order, a world without love.

A world where children crack their heads on stone fireplaces and nearly gnaw off their tongues and the parents are concerned. Not heartbroken, frantic, desperate. Concerned, as they are when you fail mathematics, as they are when they are late to pay their taxes.”

Namun yang namanya hati mana bisa diatur sih. Lena sudah mengalami Amor Deliria Nervosa dan untuk Lena there’s no going back.

Setelah beberapa hari terlunta-lunta di Wilds, Lena akhirnya diselamatkan oleh sekelompok orang yang mirip dengan dirinya. The Uncured alias Invalids, begitulah dunianya yang dulu menamai kelompok itu. Cerita lalu beralih silih berganti antara masa dimana Lena baru saja bergabung dengan The Invalids dan baru menyesuaikan diri dengan masa dimana Lena sedang menjalani misi penyamaran rahasia dan bergabung kembali bersama kelompok manusia anti cinta yang sudah ditinggalkannya.

Raven, sang pemimpin Invalids menugaskannya untuk bergabung dengan kelompok DFA (Deliria-Free America) dan memusatkan perhatian pada Julian Fineman, sang maskot dari DFA yang juga anak lelaki dari ketua organisasi tersebut, Thomas Fineman.

Di masa yang satu kita dibawa melihat betapa kerasnya kehidupan para Invalids dan sangat kontras dengan masyarakat yang hidup di sisi pagar lainnya. Kita juga dibawa melihat Lena yang berusaha keras mengusir bayang-bayang Alex, Lena yang penuh dengan kemarahan dan determinasi untuk bertahan hidup demi satu motivasi. Dendam.

“This is what hatred is. It will feed you and at the same time turn you to rot.”

Di masa yang lain kita dibawa melihat bagaimana karena suatu insiden, Lena yang diberi tugas untuk menguntit Julian berakhir menjadi tahanan para Scavengers (kelompok yang juga belum disembuhkan namun bersifat anarkis dan hanya mempunyai tujuan membuat kekacauan) berikut dengan Julian. Mereka berdua ditahan di sebuah ruang bawah tanah untuk tujuan yang Lena belum bisa mengerti.

Lena terpaksa harus tetap berpura2 karena berada di ruangan yang sama dengan Julian sang pembeci Deliria. Lalu apa yang terjadi. Sebuah pelajaran jangan pernah menilai seseorang hanya berdasarkan dari kelompok mana orang itu berasal. Manusia itu unik, you never know

Lena yang sekarang sudah menjadi Heroine yang bisa menyisihkan rasa takutnya dan bertarung untuk bertahan hidup. Namun pada akhirnya luka yang ia tutupi akhirnya terkuak juga. Dan apakah Lena akan memberikan sang penyakit mematikan Amor Deliria Nervosa satu lagi kesempatan? What do you think? Hehe.. Yang jelas endingnya bikin penasaran banget!

Ayo dong sekuelnya cepet selesai ditulis dan terbit! (inilah mengapa kadang saya bilang racun buku berseri itu susah dicari penawarnya, hehe)

People themselves are full of tunnels: winding, dark spaces and caverns; impossible to know all the places inside of them. Impossible even to imagine.”

Life is but A Dream By Brian James

Penerbit : Feiwel and Friends

Tebal : 239 Halaman

Rasanya saya pernah denger ungkapan kalo satu orang normal ada di antara sekumpulan orang kurang waras. Maka dimata mayoritas (orang kurang waras), satu orang itulah yang akan terlihat ganjil. To be frank I do feel a little bit crazy sometimes. Being who I am does make me feel a little bit out of place at some point. Makanya jatuh hati banget waktu liat sinopsis buku ini di goodreads plus taglinenya :

“I am not crazy. At least.. I don’t think I am, anyway.”

Sabrina, seorang anak perempuan berusia 15 tahun didiagnosa menderita schizophrenia dan dititipkan ke suatu pusat rehabilitasi jiwa oleh orangtuanya. Semenjak kecil Sabrina selalu melihat dunia yang berbeda dari dunia yang dilihat orang kebanyakan. Dimata Sabrina awan memiliki warna warni yang indah, angin memiliki suara dan tekstur serta bergerak bagai ombak menembus tubuhnya, bebatuan tertentu memancarkan cahaya dan Sabrina gemar mengoleksinya.

Sabrina seringkali menuangkan dunia yang dilihatnya lewat gambar. Ketika ia kecil kedua orang tuanya menganggap Sabrina adalah anak yang penuh dengan imajinasi dan mendukungnya. Namun seiring bertambahnya usia Sabrina, kedua orang tuanya mulai merasa tidak sabar dan memberitahunya untuk bersikap lebih dewasa dan berhenti terlalu banyak berhayal.

Di pusat rehabilitasi jiwa para dokter memberikan Sabrina obat2an dan juga berbagai macam terapi. Suatu ketika Sabrina menemukan seseorang yang ia kira selama ini hanya hidup dalam mimpinya, seorang remaja laki2 yang memancarkan sinar terang putih dari seluruh tubuhnya.

Alec, nama remaja laki2 itu, baru saja bergabung di pusat rehabilitasi jiwa. Beberapa kesempatan berbicara membuat Sabrina merasa nyaman karena Alec mempercayai apa yang ia lihat di dunianya. Bukan sekedar pura2 percaya seperti orang2 kebanyakan, ia dapat merasa Alec betul2 mempercayainya. Alec pun merasa tertarik dengan sudut pandang Sabrina. Alec yang muak dengan dunia yang menganggap semua orang harus bertindak wajar dan selaras menurut satu tata nilai tertentu, menemukan bahwa Sabrina unik.

Alec membuat Sabrina mempercayai bahwa tidak ada yang salah dengan dirinya. Dunia luar lah yang salah menetapkan standar “normal” dan mencoba membuat semua manusia menjadi robot yang seragam. Orang yang memiliki sedikit perbedaan akan dianggap sakit dan harus disembuhkan. Alec membuat Sabrina merasa istimewa.

“Having something to look forward to, no matter how insignificant, is still something.”

Diam-diam Sabrina menjadi takut bahwa obat2an yang diberikan oleh para dokter akan membuatnya menjadi sama seperti orang lain. Dalam hatinya Sabrina tidak mau “keistimewaannya” hilang. Dan dia pun berhenti mengkonsumsi obat2an yang diharuskan oleh dokternya. Lalu apakah Alec ternyata benar? Apakah kita yang dicap sebagai orang2 normal sebenarnya hanya sekelompok robot yang manut pada “standar hidup wajar” yang ditetapkan. Sekolah, kuliah, lulus, bekerja, menikah, punya anak, punya anak lagi, menikahkan anak, punya cucu, meninggal. Jika tidak mengikuti sequence itu seseorang dianggap menjalani sesuatu yang tidak normal. Apa hanya sebatas itukah hidup kita sebagai manusia?

Membaca buku ini membuat saya merasa dibawa turut melayang-layang di dunianya Sabrina. Di mata saya, dunia Sabrina indah. Namun sayangnya manusia ini terkadang suka merasa angkuh dan lebih jika melihat seseorang yang berbeda, lalu menganggap wajar jika memperlakukan seseorang yang berbeda dengan tidak baik. Di titik itu manusia menjadi jahat dan kehilangan “kemanusiaannya”, tidak ada bedanya dengan hewan. Yang kuat dialah yang menang. Oleh karena itu Sabrina dengan dunianya memang rentan untuk menjadi korban.

Menutup buku ini saya jadi bertanya-tanya. Apakah kita memang harus mengikuti apa yang orang lain harapkan dari kita? Hhhhmmmmm…

“I don’t care. I like the world in my dreams. It’s a happier place than here.”

The Book Thief By Markus Zusak

Terakhir kali saya baca buku yang dinarasikan sama malaikat maut itu bukunya Neil Gaiman sama Tery Prachett yang judulnya Good Omens. Kalo ngga salah buku itu saya kasih lima bintang. Begitu pula dengan The Book Thief ini, yang cerita adalah sang malaikat maut dan lima bintang juga saya anugerahkan dengan senang hati untuk buku ini.

Buku dibuka dengan kalimat perkenalan dari sang malaikat maut :

“HERE IS A SMALL FACT

You are going to die.”

Hehe. Selanjutnya kita dibawa ke kisah singkat tentang pekerjaan sang malaikat maut yang mana ternyata menurutnya bukan pekerjaan yang menyenangkan (even death complains about his job! Haha).

“A SMALL PIECE OF TRUTH
I do not carry a sickle or scythe.
I only wear a hooded black robe when it’s cold.
And I don’t have those skull-like facial features you seem to enjoy pinning on me from a distance. You want to know what I truly look like? I’ll help you out. Find yourself a mirror while I continue.”

Haha. Death feel missunderstood, how cute is that. Salah satu hal tidak menyenangkan menurut sang malaikat maut dalam pekerjaannya adalah justru melihat para survivors. Survivors yang seringkali hidup dalam kondisi menyedihkan.

Namun dalam beberapa kejadian luar biasa, sang malaikat maut dapat bertemu dengan survivors yang sama lebih dari satu kali, yang kemudian menggiring kita ke cerita inti yang ingin diuraikan sang malaikat maut. The Book Thief alias sang pencuri buku, begitu sang malaikat maut menjulukinya. Ia berselisih jalan dengan sang pencuri buku sebanyak tiga kali dalam tugasnya. Dan melalui tiga pertemuan yang membekas itu, sang malaikat maut menyimak kehidupan Liesel Meminger, anak perempuan itu, sang pencuri buku.

“It was a year for the ages, like 79, like 1346, to name just a few. Forget the scythe, Goddamn it, I needed a broom or a mop. And I needed a vacation. ”

Pertemuan pertamanya dengan Liesel adalah pada tahun 1939. Saat itu sang malaikat maut sedang bertugas mengambil jiwa adik laki2 Liesel. Dan setelah pertemuan pertama itu pula Liesel mencuri buku pertamanya. Tidak istimewa memang buku itu, judulnya The Graves Digger Handbook. Ia mengambil buku itu di dekat makam adiknya.

Liesel lalu dititipkan oleh Ibu kandungnya ke sepasang orangtua angkat. Hans dan Rosa Hubermann yang tinggal di Himmel Street, Molching (kota fiktif), German. Rosa adalah seorang perempuan keras yang hobby mengkritik dan membicarakan kejelekan orang2 yang menggunakan jasanya untuk mencuci baju. Rosa memperlakukan Liesel dengan cukup baik, namun penuh dengan kedisiplinan. Lain halnya dengan Hans. Hans adalah figur kebapakan yang selalu menemani Liesel ketika terbangun karena mimpi buruk (adegan dimana ia menyaksikan adik laki2nya mati di gerbong kereta).

Liesel menjadi sangat dekat dengan Hans. Ketika Hans menemukan bahwa Liesel membawa sebuah buku, ia pun mengajari Liesel membaca. Lebih tepatnya, Hans lah yang membuka pintu menuju dunia yang dicintai Liesel. Buku, kisah, kata-kata.

Sekolah tidak dilaluinya dengan mudah karena Liesel termasuk anak yang telat belajar. Beruntungnya ia menemukan seorang teman, sahabat dan nantinya (mungkin) lebih dari dua definisi itu. Rudy, nama sang anak lelaki itu. Mereka banyak menghabiskan waktu bersama sepulang sekolah karena Liesel, walaupun seorang anak perempuan, sangat gemar bergabung bermain bola dengan para anak lelaki di Himmel Street.

Cerita mulai berkembang bersamaan dengan meluasnya jaring-jaring kekuasaan Hitler di Jerman. Singkat kata, Liesel telah jatuh cinta dengan kisah dalam buku2. Baik yang diberikan oleh Hans, maupun yang ia dapatkan sendiri (dengan mencuri). Sebuah pertemuan mengenalkan Liesel pada seorang wanita kaya yang depresif yang menggunakan jasa Ibunya, Rosa untuk mencuci baju. Ilsa Hermann yang secara tidak sengaja mengetahui affair Liesel dengan buku. Ilsa ternyata memiliki sebuah perpustakaan besar di rumahnya, dan ia mengizinkan Liesel untuk menjadikan perpustakaan itu taman bermainnya.

Cerita mulai seru ketika Hans dan Rosa memutuskan untuk membantu seorang pemuda yahudi bernama Max. Hans berhutang nyawa pada ayah Max di perang dunia pertama. Dan yang mengejutkan buat Liesel. Rosa yang keras hati dan galak ternyata mendukung Hans 100%. Jadilah ditengah genosida Hitler terhadap Yahudi, keluarga kecil itu berhasil menyelamatkan seorang pemuda dengan menyembunyikannya di basement mereka.

Banyak adegan menyentuh hati yang membuat kita lebih mengenal karakter2 dalam cerita ini dengan cukup dalam. Yang mengejutkan buat Liesel (dan juga saya) adalah Rosa. Rosa yang ternyata menyimpan kebaikan hati malaikat di belakang topeng galaknya.

“What shocked Liesel most was the change in her mama. Whether it was the calculated way in which she divided the food, or the considerable muzzling of her notorious mouth, or even the gentler expression on her cardboard face, one thing was becoming clear.

AN ATTRIBUTE OF ROSA HUBERMANN

She was a good woman for a crisis.”

Di tengah carut marut situasi Jerman pada saat itu. Buku adalah senjata rahasia Liesel. Benteng pribadinya yang tidak seorang pun bisa menyentuhnya. Bahkan ketika latihan keadaan darurat bom mulai dilaksanakan secara teratur dan penduduk Himmel Street harus berlari ke ruang perlindungan bawah tanah ketika alarm berbunyi, Liesel membantu para tetangganya dengan membacakan buku ketika mereka menunggu alarm tanda aman berbunyi.

Di titik ini cerita ini tampak familiar buat saya. Book does bring a comforting feeling. And just like Liesel, my personal fortress is also build by books. It’s my way of resistance against all the last year chaotic events. Tidak perduli sebagaimanapun kacaunya hidup saya tahun lalu, atau bahkan dari bertahun2 yang lalu sekalipun, satu hal yang tidak pernah berhenti saya lakukan adalah membaca buku.

Lalu bagaimana kisah Liesel, Hans, Rosa, Rudy dan Max di tengah-tengah kiamat kecil yang didalangi oleh sesosok manusia bernama Hitler. Ah, bahkan malaikat maut pun tersentuh karenanya. Even death has a heart, sang malaikat maut berucap. Cerita semacam ini (dan juga seperti Schindler’s List) yang selalu membawa harapan buat saya, karena saya tidak pernah mengerti bagaimana suatu bangsa bisa terhipnotis ke dalam dogma tidak masuk akal yang dijadikan pembenaran untuk membunuh ratusan ribu nyawa. Bahkan di masa itu sang malaikat maut merasa muak dengan pekerjaannya.

There will always people with conscience.. Even in the middle of a completely senseless events, they will always be there.. There might be only a few, but they always bring hope to humanity..

5 bintang dari saya buat buku ini. Untuk keberanian ceritanya. Untuk pesannya tentang buku sebagai priceless treasure. Untuk harapan di tengah2 kekacauan. Untuk air mata di akhir buku yang diperuntukkan untuk seorang anak perempuan tegar bernama Liesel Meminger yang bahkan malaikat maut pun terenyuh oleh kisahnya.

“It amazes me what humans can do, even when streams are flowing down their faces and they stagger on, coughing and searching, and finding.”

“I saw him hip-deep in some icy water, chasing a book, and I saw a boy lying in bed, imagining how a kiss would taste from his glorious next-door neighbor. He does something to me, that boy. Every time. It’s his only detriment. He steps on my heart. He makes me cry.”

“Yes, I have seen a great many things in this world. I attend the greatest disasters and work for the greatest villains.

But then there are other moments. There’s a multitude of stories (a mere handful, as I have previously suggested) that I allow to distract me as I work, just as the colors do. I pick them up in the unluckiest, unlikeliest places and I make sure to remember them as I go about my work. The Book Thief is one such story.”

Evidence of Things Unseen By Marianne Wiggins

Penerbit : Simon & Schuster

Tebal : 383 Halaman

“I know that every atom of life in all this universe is bound up together. I know that pebble cannot be thrown into the ocean without distrubing every drop of water in the sea. I know that every life is inextricably mixed and woven with every other life. I know that every influence, conscious and unconscious, acts and reacts on every living organism, and that no one can fix the blame.

I know that all life is a series of infinite chances, which sometimes result one way and sometimes another. I have not the infinite wisdom that can fathom it, neither has any other human brain. But I do know that in back of it is a power that made it, that power alone can tell, and if there is no power, then it is an infinite chance which man cannot solve.”

Terakhir kali saya baca buku yang saya randomly beli tanpa tau apa2 tentang buku itu dan ternyata pada akhirnya saya kasih lima bintang itu The Thirteen Tale. Udah lama juga yah? Tapi setiap “menemukan” buku lima bintang secara ngga sengaja itu rasanya puas banget.

Buku ini judulnya eye catching, waktu beli saya kira ada unsur2 misterinya gitu. Ternyata setelah dibaca meleset banget dugaan saya. ¼ bagian pertama buku, saya masih menyesuaikan dengan bahasanya Marianne Wiggins yang puitis banget. Dibaca pelan2 dan seksama baru mudeng. Lama-lama untungnya bahasanya me-ringan atau ntah ceritanya tambah rame karena muncul tokoh Opal.

Eh dari awal ya. Mulanya buku ini bercerita tentang Ray Foster alias Fos, seorang pemuda yang sangat menaruh minat pada science. Khususnya cahaya2 yang secara natural terdapat di alam. Phosphorenscence, kunang-kunang, bintang jatuh, hati ikan yang dapat menjadi tinta yang menyala dalam gelap, cahaya dari unsur radioaktif, x-ray, you name it. Fos sangat tertarik pada hal tersebut.

Selamat dari perang dunia pertama, Fos diajak teman seperjuangannya Flash untuk membuat sebuah studio foto. Fos menyambut baik ide itu karena dekat dengan minatnya pada cahaya alami. Dalam waktu-waktu tertentu Fos selalu bepergian untuk melihat peristiwa bintang jatuh. Dalam suatu kesempatan, nasib membawanya untuk terdampar di rumah seorang  glassblower (ini kurang lebih artinya pengrajin kaca kali ya, orang yang bikin hiasan kayak vas atau yang cth lainnya dari bahan kaca).

Dari bayangan terbalik yang ia lihat di kaca leleh yang sedang ditiup Fos pertama kali melihat Opal. Tidak seperti Flash yang bermental Don Juan. Fos ini bisa dibilang sangat polos dan sama sekali kurang berminat mencari pasangan. Namun di saat itu ada sesuatu dalam diri Opal yang membuatnya tertarik. Fos pun mengajak Opal ikut serta dalam acara berburu bintang jatuhnya. Di malam yang romantis itu Fos yakin bahwa ia dan Opal meant to be each other. Fos melamar Opal. Opal yang merasakan hal yang sama pun nekat menerima. Tanpa persiapan heboh2 mereka pun menikah dengan restu ayahnya Opal, sang glassblower. Fos lalu membawa serta Opal pulang ke Knoxville tempat ia hidup dari studio fotonya dan Flash.

Opal boleh dibilang adalah nyawa dari cerita ini (menurut saya loh). Tipe perempuan yang ngga ribet, secara alami cerdas dan memang sepertinya diciptakan untuk memahami Fos yang kadang2 keterlaluan polosnya. Untuk beberapa waktu, mereka bertiga, Fos, Opal dan Flash menghabiskan berbagai pengalaman yang cukup menyenangkan bersama.

“The sight of Fos and Opal coming down the street together absolutely tickled him. The idea of two such strangely unremarkable yet lovable people could have found and met each other reaffirmed his waning faith in anything remotely optimistic about mankind and seemed to be a more convincing proof than all the gospel shit flown from the pulpits of Knox County that life could, in fact, distribute happy endings.”

Suatu keputusan yang diambil sepihak oleh Flash atas hidupnya sendiri membawa akibat kepada kehidupan Fos dan Opal. Mereka berdua harus tercerabut dari zona amannya dan terpaksa hidup di desa dengan bertani. Fos merasa hidup telah berbuat licik padanya. Kenyataan bahwa ia tidak mengira Flash akan melakukan yang ia lakukan membuat Fos merasa tertipu oleh sahabatnya tersebut.

“It makes you wonder. How much you can know about a thing, a person. If you can know anything at all. Maybe no one’s who we think they are. No one. Makes you doubt yourself, wonder if you even know yourself orif you’ve been lyin, too, along with everybody else.”

Kehidupan keras di pedesaan tidak cocok untuk Fos yang bermental scientist. Semua menjadi salah. Sebagai akibatnya antara Fos dan Opal tercipta jarak yang ditandai dengan hening. Ditambah dengan Opal yang merasa kecewa kepada dirinya sendiri yang tidak kunjung mengandung.

Roda nasib bergerak, ketika mereka mendengar berita bahwa Ayah Opal meninggal dunia, mereka pun segera kembali ke kampung halaman Opal. Disana mereka bertemu dengan keluarga pengelana yang memiliki banyak anak, sang istri tampak akan melahirkan. Mereka beristirahat sejenak di rumah Ayah Opal yang telah kosong. Pasangan itu pun mengizinkannya dan memutuskan menginap di hotel.

Ketika kembali ke rumah itu mereka menemukan seorang bayi baru lahir yang memang dengan sengaja ditinggalkan disana. Fos dan Opal saling berpandangan, bayi itu adalah hadiah yang dibawakan nasib untuk mereka. Lightfoot mereka memanggilnya.

Lalu sebuah proyek rahasia dari pemerintah membutuhkan keahlian Fos dalam bidang fotografi. Ia pun masuk ke dalam proyek itu, membawa serta Opal dan LightFoot ke sebuah perumahan khusus untuk para pekerja proyek. Dari sana cerita bergulir ke arah yang membuat kita bertanya-tanya apakah memang benar kita sebagai manusia tidak punya kendali sama sekali akan kemana hidup akan membawa kita. Apa yang penting dan apa yang tidak penting dalam hidup. Dan apa memang benar cinta sejati itu ada.

Pada akhirnya saya menyukai bahasa Marianne Wiggins. Terbukti dari quotes2 di bawah yang ngga bisa ngga saya masukin dalam review ini. Hehe. Lima bintang untuk kisah cinta Fos dan Opal yang amat sangat bikin ngiri.

 “Wherever love comes from, whatever is its genesis, it isn’t like a quantity of gold or diamonds, even water in the earth-a fixed quantity, Fos thought. You can’t use up love, deplete it at its source. Love exists beyond fixed limits. Beyond what you can see or count.”

“You build a tower then you also build the chance it will fall. To think of life as a foolproof is a fallacy of fools, he thought. Things happen, he believed, and there’s nothing you can do to keep them from occurring.”

“I think what you can’t see is always what you should be frightened of.”

“Because way back before you were even born there was this girl you see. And I fell in love with her. It was something that I wanted-love-not because it was expected of me, but because I found it out my self-that happiness of wanting to be with that other person.”

“The future is the one thing you can count on not abandoning you, kid, he’d said. The future will always finds you. Stand still, and it will find you. The way the land just has run to sea.”

Memori By Windry Ramadhina

Penerbit : Gagasmedia

Tebal : 312 Halaman

Ah, Mae, dunia tidak sekelam yang kau perlihatkan kepadaku

Baru kali ini baca bukunya Windry Ramadhina. Aaakkhhhh buku ini mengingatkan saya tentang betapa pentingnya “kewarasan” orang tua dalam membentuk kepribadian anak. Anak-anak tidak bisa memilih ingin dilahirkan di keluarga mana. Orangtua lah yang harus bertanggungjawab terhadap pilihan mereka. Terhadap kehidupan manusia lain yang sudah dititipkan oleh Tuhan.

Kenapa saya jadi membahas tentang ini? Karena Mahoni, sang perempuan mudah tokoh utama dalam buku ini adalah bentuk konsekuensi dari betapa egois sang Ibu dalam mangatasi permasalahan hidupnya.

Mahoni kecil sering sekali menyaksikan Ayah dan Ibunya bertengkar. Mahoni yang sangat mengidolakan Ayahnya sangat terkejut ketika suatu hari ditodong untuk ikut Ibunya pergi dari rumah. Ibunya, Mae, adalah tipe drama queen yang selalu merasa dirinya adalah korban dengan nasib paling naas di dunia. Mahoni dibesarkan dengan hawa negatif yang menyudutkan sang Ayah yang kemudian menikah lagi dengan seorang perempuan bernama Grace. Ya, Mahoni pun tumbuh besar membenci Ayahnya.

Mahoni tumbuh menjadi perempuan muda yang keras dan engga membagi perasaannya. Kuliah di jurusan arsitektur membuatnya dekat dengan si jenius berandal Simon. Tidak bisa disangkal bahwa Mahoni dan Simon menyimpan perasaan satu sama lain. Namun di saat kelulusan, ketika Simon akan memintanya untuk selangkah lebih serius, Mahoni takut benteng yang sudah dibangunnya runtuh. Ia pun lari dan memilih untuk menyisihkan perasaannya.

Mahoni pun hijrah ke Virginia, bekerja di suatu biro arsitek disana dan cukup sukses dalam karirnya. Mahoni seolah ingin melupakan kehidupannya yang dulu. Ayahnya yang telah berhianat, Ibunya yang telah mengukung dirinya dalam drama pribadinya.

Ketika sebuah pesan telepon memberitahukan bahwa Ayahnya dan Grace telah meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Mahoni pun tidak punya pilihan lain, ia harus pulang dan menghadapi kehampaannya mendengar bahwa Ayahnya telah meninggal dunia.

Di Jakarta ia mendapati kenyataan bahwa ia harus bertanggungjawab atas adik lelaki tirinya, Sigi yang masih duduk di kelas satu sma. Mahoni tiba2 saja harus melepas kehidupannya di Virgina. Rela? Tentu tidak, pada awalnya Mahoni menjalani semua tanpa niat. Sikap Sigi lah yang kemudian meluluhkan keras hati Mahoni.

Di sisi lain, Mahoni kembali bertemu dengan Simon. Bahkan ikut membantu sebagai arsitek free lance di perusahaan Simon. Namun kali ini di sisi Simon sudah ada seorang perempuan cantik bernama Sofia. Mereka kuliah bersama dan kemudian mendirikan perusahaan bersama pula. Mahoni tidak bisa menyangkal bahwa masih tersisa rasa untuk Simon, namun sanggupkah Mahoni menjadi sosok yang sangat ia benci. Grace yang telah merebut papanya.

Baca cerita ini saya jadi pengen punya rumah sendiri yang dindingnya dipenuhi sama rak buku. Windry menggambarkan detail arsitektur sebuah bangunan dengan sangat baik hingga seolah-olah kita bisa melihatnya. Bahasanya juga ringan mengalir, tidak berat dan tidak ada adegan yang terlalu dramatis.

Pasti para cewe2 akan kesengsem sama sosok Sigi yang manis dan cool. Hehe. Saya ngebayanginnya kayak cowo2 di film korea yang ngga banyak omong tapi sweet. Kalo Simon mah kayak cowo2 di film Indonesia yang agak2 jutek gimana tapi tetep aja bikin cewe2 suka.

Buku simple yang ringan dan enak buat dibaca!!