Frankenstein By Mary Shelley

Penerbit : Penguin Popular Classics

Tebal : 215 Halaman

“When falsehood can look so like the truth, who can assure themselves of certain happiness?”

Saya merinding baca kata pengantar dari pengarang di edisi buku yang ini. Bayangkan, Mary Shelley menuliskan kata pengantar tersebut tahun 1831. Sekarang 180 tahun kemudian kita masih bisa baca pesan langsung dari sang pengarang ke pembacanya. Amazing bagaimana suatu karya tulis dapat bertahan di tengah gempuran waktu. Ngga seperti manusianya yang akan kembali ke tanah, karya tulis seperti ini akan terus bertahan dari generasi ke generasi. Perasaan merinding yang sering muncul setiap kali saya baca buku klasik.

By the way. Salah kaprah kalo digambarkan di media bahwa Frankenstein itu monster. Frankenstein itu nama manusia pinter keblinger hingga nekat “Playing God’ menciptakan mahluk tambal sulam dan memberinya kehidupan (ntah bagaimana caranya). Victor Frankenstein menamai mahluk ciptaannya itu sebagai daemon (setan/iblis/jin)nya.

Kisah ini dibuka oleh surat2 dari Captain Robert Walton kepada saudara perempuannya. Dalam suatu ekspedisi ke Kutub Utara Captain Robert Walton berhasil menyelamatkan seorang pria yang nyaris mati beku. Pria tersebut adalah Victor Frankenstein. Dan melalui narasinya Frankenstein menceritakan sebab musabab ia berkelana hingga ke Kutub Utara.

Frankenstein terlahir di keluarga yang bahagia dan sangat berada di Geneva, Swiss. Ia tumbuh besar dengan rasa cinta kepada ilmu pengetahuan dan sedikit terobsesi pada ilmu pengetahuan kuno tentang bagaimana caranya manusia bisa menciptakan kehidupan.

Ketika beranjak dewasa Frankenstein menuntut ilmu di kota London, Inggris. Disana keingintahuannya tentang pengetahuan kuno tersebut terpuaskan sampai di suatu titik ia merasa bahwa dengan hanya membaca saja tidak akan cukup. Ia harus melalukan percobaan.

Maka kegiatan gila itu pun di mulai. Frankenstein mengumpulkan organ2 tubuh dari mayat2 dan menambal sulamnya menjadi mahluk (yang ia pikir) cukup mirip manusia. Pada akhirnya ia berhasilkan menghidupkan mahluk tersebut (dengan tidak diperinci bagaimana caranya, pintar memang Jeng Mary Shelley ini).

Ketika akhirnya mahluk itu bangkit. Frankenstein tercekam oleh ketakutannya sendiri dan lari meninggalkan mahluk tersebut di tempat tinggalnya. Ketika ia kembali, mahluk itu telah hilang dari tempat tinggalnya. Frankenstein pun menenangkan dirinya dengan berpura-pura bahwa peristiwa tersebut tidak pernah terjadi (timpuk Frankenstein pake pompa). Namun akhirnya ia jatuh sakit berkepanjangan. Di saat itu sahabat masa kecilnya Henry datang dan menemani Frankenstein menuju ke kesembuhan.

Setelah sembuh dari sakit Frankenstein menerima kabar duka bahwa adik lelakinya William telah meninggal karena dibunuh. Ia dan Henry lalu kembali ke Geneva. Frankenstein memendam kecurigaan dalam dirinya. Kecurigaan itu semakin menjadi ketika ia melihat luka cekikan hitam di leher adiknya dan dibulatkan ketika pada suatu hari ia melihat daemon nya. Mahluk yang ia ciptakan telah membunuh adiknya.

Dihantui oleh rasa bersalah Victor Frankenstein menjadi murung dan penyendiri. Ketika ia sedang melamun di suatu puncak perbukitan, mahluk itu mendatanginya. Reaksi pertama Frankenstein adalah histeris dan berusaha menyerang mahluk tersebut. Menyadari bahwa mahluk yang ia ciptakan memiliki kekuatan dan kecepatan melebihi manusia biasa, maka ia pun berhenti melawan.

Ternyata sang daemon menuntut sesuatu dari penciptanya. Namun sebelum menyebutkan tuntutannya, ia pun berkisah dari saat dirinya hidup hingga ia bisa sampai di Geneva.

Pada awal kehidupannya sang daemon adalah mahluk yang sangat mengagumi kehidupan. Cahaya matahari, kicauan burung, wanginya udara pagi dan keajaiban alam lainnya. Ia pergi dari tempat tinggal Frankesntein dan kemudian berkelana ke alam bebas. Pertemuannya dengan manusia selalu menimbulkan ketakutan dan histeria dari manusia yang ia temui dan penyerangan terhadap dirinya. Padahal di saat itu sang daemon tidak memiliki niat jahat sekalipun.

Saat kabur ke wilayah hutan ia menemukan sebuah pondok kecil yang dihuni oleh tiga orang manusia, seorang kakek yang buta dan sepasang cucu laki2 dan perempuan yang senantiasa merawatnya. Ia mengamati keluarga kecil itu dari jauh selama berbulan2. Dari keluarga itulah ia belajar mendefinisikan perasaan. Kasih sayang, kebaikan, kesedihan, kemarahan.

Ia mencoba membantu keluarga tersebut secara diam2 dengan mencarikan persediaan kayu bakar untuk mereka. Perlahan sang daemon mencoba mengartikulasikan bahasanya, dan melalui suatu proses akhirnya dia secara otodidak belajar untuk membaca. Suatu hari salah seorang diantara keluarga kecil tersebut meninggalkan tiga buah buku di luar. Sang daemon merasa itu ditujukan untuknya dan melalui buku2 tersebut ia belajar tentang peradaban manusia.

Singkat kata, ia jatuh hati pada keluarga kecil tersebut dan ingin berteman dengan mereka. Ya, mahluk itu hanya mendambakan memiliki teman. Rencana telah ia susun baik2 tentang bagaimana caranya ia memperkenalkan diri kepada keluarga tersebut. Ia telah melihat bayangannya sendiri di air ketika bulan purnama dan membenci penciptanya karena telah membuat ia begitu mengerikan dan buruk rupa.

Apa boleh dikata, rencana yang telah ia susun baik2 pun berantakan. Keluarga tersebut berbalik histeris dan menyerangnya. Sang daemon merasa marah dan terluka. Terkikis habislah kepercayaannya pada kebaikan manusia. Baginya, manusia hanya mahluk yang penuh dengan prasangka karena menilainya hanya dari penampilannya saja. Ia pun murka kepada Frankenstein. Dari jubah yang ia ambil dari tempat tinggal Frankenstein ia memperoleh jurnal penciptaannya. Ia ingat betapa Frankenstein memandangnya dengan mata jijik bercampur takut ketika ia pertama kali hidup. Ia pun berniat untuk mencari Frankenstein dan menuntut keadilan.

Keadilan yang ia tuntut adalah agar Frankenstein menciptakan mahluk lain untuk menjadi temannya. Jika Frankenstein bersedia maka ia tidak akan menampakkan dirinya di depan manusia lagi. Jika tidak ia akan membunuh keluarga Frankenstein satu demi satu dan tidak akan berhenti menyebabkan penderitaan di hidup Frankenstein.

Lalu apakah sang maha pintar akan mengabulkan permintaannya? Haha tebaklah.. Yang jelas menurut saya di buku ini monsternya bukan sang daemon. Melainkan Victor Frankenstein yang ingin bermain sebagai Tuhan. Setelah menyadari apa yang diperbuatnya ia malah lari kesana kemari dan menye2. Ah, saya benci sekali pada tokoh ini.

Sentilan yang baik juga untuk para manusia modern di zaman ini yang ekstrim mendewakan science. Kita ini cuma manusia. Kesempurnaan hanya milik Tuhan. Jika kita mengira bisa menciptakan sesuatu yang sempurna, then we are making a big mistake.

Berjuta Rasanya By Tere Liye

Penerbit : Mahaka Publishing

Tebal : 204 Halaman

“Seseorang yang mencintaimu karena fisik, maka suatu hari ia juga akan pergi karena alasan fisik tersebut. Seseorang yang menyukaimu karena materi, maka suatu hari ia juga akan pergi karena materi. Tetapi seseorang yang mencintaimu karena hati, maka ia tidak akan pernah pergi! Karena hati tidak pernah mengajarkan tentang ukuran relatif lebih baik atau lebih buruk.”

Agak beda dari biasanya, kali ini Tere Liye mengeluarkan karya berupa kumpulan cerita pendek. Temanya? Cinta.. Tapi jangan salah, 15 cerita ini sungguh bukan kisah cinta biasa. Bang Tere Liye berhasil merangkai 15 kisah cinta yang menggelitik peresepsi kita sendiri tentang apa itu cinta dan segala pernak perniknya.

Tentang kesalahan sudut pandang wanita (dan mungkin juga laki2) tentang definisi kecantikan diceritakan dalam Bila Semua Wanita Cantik. Cerita ini sungguh lucu dan sangat menyentil para perempuan, salah satu cerita favorit saya.

Lalu ada juga kisah luar biasa tentang suatu kota yang dipenuhi oleh para penemu. Kota tersebut punya masalah kependudukan yaitu jumlah bayi yang semakin berkurang. Hal itu disebabkan karena kurangnya keberanian para anak muda di kota tersebut untuk menyatakan cinta. Maka para tetua di kota tersebut menciptakan sebuah alat yang bernama cintanometer. Alat tersebut dipasang di dekat telinga dan dapat mendeteksi jika ada seseorang yang jatuh cinta pada pemakainya. Lama2 penduduk kota mulai lupa akan perasaan seperti apa cinta itu. Ada atau tidaknya hanya ditentukan oleh sinyal dari alat pendeteksi. Unik kan?

Nasib yang terkadang kejam digambarkan dalam cerita Pandangan Pertama Zalaiva. Kalau ternyata cinta jatuh pada orang yang salah lalu bagaimana? Siapa yang harus disalahkan, nasib kah? Hhhhmm…

Dan kisah favorit saya yang judulnya Kupu-Kupu Monarch. Kisah getir yang mempertanyakan apa itu cinta sejati. Saat satu pihak sudah bersedia berkorban jiwa dan raga, pihak yang lain dapat dengan mudah menyepelekan semuanya dan berujar “tidak cinta lagi”. Lalu apa itu cinta?

Pada intinya kalo anda bosan dengan kisah2 cinta yang standar, 15 cerita ini bisa menyediakan alternatif yang unik dan menyegarkan.

“Nak, apakah ada yang pernah berpikir hidup ini bukan soal pilihan? Karena jika hidup hanya sebatas soal pilihan, bagaimana caranya kau akan melanjutkan hidupmu, jika ternyata kau adalah pilihan kedua atau berikutnya bagi orang pilihan pertamamu?”

“Cinta sejati adalah perjalanan, Sayang. Cinta sejati tidak pernah memiliki tujuan.”

Brida By Paulo Cuelho

“We know that mystery won’t ever go away and so we learn to accept it. I think the same things happens in many situations in life. It isn’t explanations that carry us forward, it’s our desire to go on.”

Hhhmm. Dalam mencoba menangkap isi buku ini saya memilih untuk mengesampingkan cerita dimana Brida, sang tokoh utama menjalani semua yang dia jalani untuk mempelajari sihir. Mungkin lebih enak proses pembelajaran sebagai penyihir tersebut dipandang sebagai pencarian jawaban atas berbagai pertanyaan hidup yang menggelitik. Some of us are borne restless.

Juga tentang Soulmate yang diceritakan dalam buku ini, seringkali merupakan cinta pada pandangan pertama. Maklum, saya termasuk orang yang memiliki keyakinan bahwa cinta pada pandangan pertama adalah non sense. Apalagi bicara Soulmate. You have to know the person deeply, being through hardship together and still love each other after, he/she completes you. Aaah but that’s just me. The truth is I know nothing at all. Hehe.

Ceritanya bersetting di Irlandia. Brida yang sangat ingin mempelajari sihir mencari seorang Magus yang seringkali terlihat bermeditasi di hutan (btw nama Magus nya Santiago, apa ini Santiago yang sama dengan yang kita temui di The Alchemist?). Brida berhasil menemukan sang Magus, sang Magus seketika dapat melihat bahwa Brida adalah Soulmate nya, tapi Brida sendiri tidak menyadari hal itu.

Ada dua jalan yang bisa ditempuh dalam mempelajari sihir. Satu adalah The Tradition of The Sun yang mengajarkan kebijaksanaan melalui ruang dan dunia yang ada di sekitar kita. Kedua The Tradition of The Moon yang mengajarkan kebijaksanaan melalui pengetahuan yang tersimpan dalam waktu.

Melalui pertemuan tersebut Brida menemukan jawaban bahwa dia harus mencari jalannya sendiri. Setelah itu baru dia akan kembali untuk menemui sang Magus.

Brida berhasil menemukan seorang guru lain, kali ini seorang wanita bernama Wicca. Pada akhirnya melalui Wicca lah dia menemukan bahwa jalannya adalah tradisi bulan dan dengan perjalanan waktu menyadari bahwa dirinya dalam berbagai kehidupan sebelumnya, adalah seorang penyihir.

Ah, agak sulit ternyata mereview buku ini. Walaupun ceritanya tentang mencari jalan untuk memahami sihir. Namun saya menemukan bahwa inti dari cerita terangkum dalam quotes ini :

“Right now, while we’re eating, ninety-nine percent of the people on this planet are, in their own way, struggling with that very question. Why are we here? Many think they’ve found the answer in religion or materialism. Others despair and spend their lives and their money trying to grasp the meaning of it all. A few let the question unanswered and live for the moment, regardless of the results or the consequences. Only the brave are aware that the only possible answer to the question is I DON’T KNOW.”

Banyak pertanyaan dalam hidup yang tidak terjawab. Termasuk hal-hal yang dipertanyakan oleh Brida dalam buku ini. Jalan hidup, pilihan, nasib, takdir. Dan bahwa pada akhirnya cinta sejati, bahkan kepada seorang Soulmate pun dapat berarti tidak memiliki cukup menohok buat saya.

Dan beberapa quotes di bawah mungkin bisa menggambarkan isi buku lebih baik daripada cerita saya. Anyway, tiga bintang saya berikan untuk Brida.

“Sometimes we set off down a path simply because we don’t believe in it. It’s easy enough. All we have to do then is prove that it isn’t the right path for us. However, when things start to happen, and the path does reveal itself to us, we become afraid of carrying on.”

“Learning something means coming contact with a world of wich you know nothing. In order to learn you must be humble.”

“The best way to destroy the bridge between the visible and the invisible is by trying to explain your emotions.”

“She feared pain, loss and separation. This things were inevitable in love, and the only way to avoiding them was by deciding not to take the path at all.”

“No one could make a choice without being afraid.”

“Perhaps the times when it goes wrong are teaching you something.”

Daisyflo By Yennie Hardiwidjaja

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 254 Halaman

“Semakin dalam kamu mencintai seseorang, semakin dalam kamu akan terluka. Tapi itulah cinta. Jika kamu berani mencintai seseorang kamu pun harus berani terluka karenanya.”

Buku pinjaman lain dari Mia nih. Penasaran banget karena banyak temen2 BBI yang ngasih 4 sampe 5 bintang. Setengah buku pertama buku ini ngebuat saya kesal bukan alang kepalang. Baru di setengah terakhir saya menangkap istimewanya buku ini. To tell you the truth this is the first book by Indonesian writer that had a twist of story that startle me. Two thumbs up for the twist.

Dibuka dengan adegan upaya pembunuh terhadap seorang pria bernama Tora. Sang calon pembunuh adalah Tara, yang merasa akan mati dalam kubangan dendam jika manusia yang bernama Tora masih bernafas. Lelaki itu telah menghancurkan hidupnya dan juga mataharinya, Junot. Tora akhirnya tertabrak oleh mobil, namun pelakunya bukan Tara, melainkan Alexander, seorang pria yang bersedia melakukan kejahatan untuk menyelamatkan Tara dari tindakan nekatnya.

Lalu kita akan dibawa ke berbagai adegan flash back yang bab demi bab melengkapi puzzle cerita. Tora dan Tara ternyata pernah menjadi sepasang kekasih semasa kuliah di Jakarta. Namun dari penggambaran cerita tidak dapat dimengerti apa yang membuat Tara bertahan. Belum lagi Tara sendiri yang mengakui bahwa lelaki impiannya sebenarnya adalah Junot. Pangeran impiannya yang jauh bumi dari langitnya dengan Tora.

Sedikit demi sedikit semua keganjilan terjelaskan. Cinta segitiga menyedihkan yang berakhir sangat pahit. Meninggalkan Tara menjadi perempuan muda yang memendam kemarahan, secara kejiwaan terganggu dan juga mengkonsumsi obat-obatan terlarang.

Tara pindah kota. Melanjutkan hidup tanpa Tora dan Junot. Namun kepribadiannya tetap bermasalah. As I once tweeted, you can not put back together broken pieces, it is damage forever.

Sampai Tara bertemu dengan Alexander, seorang psikolog yang banting setir ke dalam dunia bisnis. Melalui Alexander Tara merasa mungkin harapan itu masih ada. Alexander yang sangat sabar menghadapinya sedikit demi sedikit membimbing Tara menemukan dirinya kembali.

Semua berjalan lancar. Everybody is moving on with their life. Sampai saat Tara dan Alexander kembali ke Jakarta. Secara tidak sengaja Tara bertemu dengan Junot di sebuah Mall. Ia sedang menggandeng tangan sahabatnya semasa kuliah Muli, dan Junot seperti tidak mengenalinya sama sekali.

Melalui pertemuan antara Tara dengan Muli semua rahasia terbongkar. Namun pembaca tidak akan bisa menduga apa yang sebenar-benarnya terjadi hingga bab2 terakhir. As I said, two thumbs up for the twist.

Walaupun twistnya keren dan ngga bisa disangkal kalo cerita ini punya jiwa, dramatisasi ala sinetron masih terendus and it bothers me a lot. Terutama endingnya.

Jadi, bravo for the twist and the soul of the story. Tiga setengah bintang untuk buku ini.

“Cinta tidak seharusnya dimulai dengan keinginan untuk mengubah seseorang demi mencapai kebahagiaan, tetapi keinginan untuk tetap bahagia walau dia tidak bisa berubah.”

The Wednesday Letter By Jason F. Wright

Penerbit : Gagas Media

Alih Bahasa : Maggie Tiojakin

Tebal  : 332 Halaman

Terimakasih buat Mia yang udah minjemin buku ini!! Saya selesein baca waktu kebangun tengah malem dan ngga kerasa beres dua jam aja. Huumm..

Komentar pertama adalah tentang pengemasan bukunya yang unik. Bentuknya yang unik, kayak amplop bikin saya agak mikir waktu mau nyampulinnya (Oh iya mia, bukunya aku sampulin gapapa ya, ga bisa baca buku kalo belum disampul, takut kekotorin, hehe).

Terus di dalemnya ada amplop beneran yang didalemnya berisi surat. Surat dari siapa untuk siapa meningan dibaca sendiri aja yah. Pokoknya bukan dari Jack untuk Laurel, pasangan yang menjadi latar belakang cerita dalam buku ini.

Jack dan Laurel yang telah menikah selama 39 tahun diberikan berkah oleh Tuhan hingga dapat meninggalkan dunia ini hanya berselang beberapa menit dalam kondisi berpelukan. Bayangkan sepasang nenek dan kakek yang ditemukan meninggal dunia dalam kondisi berpelukan dengan wajah super damai. What a romantic way to die..

Jack dan Laurel di mengelola sebuah penginapan di daerah sepi Woodstock, Virginia. Anak2 mereka, Mathew, Malcom dan Samantha telah lama meninggalkan mereka untuk menjalani kehidupannya masing2. Ketika mendengar bahwa kedua orang tuanya telah meninggal dunia, kakak beradik itupun segera berangkat ke tempat mereka dibesarkan.

Mathew telah menikah bertahun2 namun belum dikaruniai keturunan. Samantha adalah seorang polisi yang kini menjadi orang tua tunggal seorang gadis kecil. Malcom adalah sang beradalan dalam keluarga yang telah lama menghabiskan waktunya di Brazil dalam rangka kabur dari jeratan hukum dan juga dari cinta sejatinya Rain.

Ketika berkumpul di penginapan orang tua mereka, secara mengejutkan ditemukan puluhan kardus di gudang yang berisi surat2. Ntah bagaimana awalnya, ternyata Ayah mereka Jack, selalu menulis surat untuk Laurel setiap hari rabu di setiap minggunya.

Surat-surat tersebut menjelaskan banyak hal tentang Ayah dan Ibu mereka. Dan juga membawa mereka kepada rahasia besar yang cukup menggemparkan keluarga. Rahasia yang menyebabkan mereka merasa sedih dan kemudian kagum atas kemampuan Ayah dan Ibu mereka untuk bertahan dan juga memaafkan.

Tadinya saya mau memberikan empat bintang. Setelah dipikirkan saya jauh lebih tertarik pada isi surat2 Jack terhadap Laurel dibandingkan narasi tentang anak2 mereka. Ya saya pikir narasi tentang Mathew, Samantha dan Malcom biasa2 saja, bahkan di beberapa bagian terasa terlalu kekanakan. Bagian paling baik dari buku ini justru surat2 Jack kepada Laurel.

Mungkin akan lebih baik kalo 80% isinya surat2 Jack kepada Laurel saja. Dan tidak usah diceritakan tentang reaksi anak2nya. Hehe. Jack dan Laurel telah menghadapi berbagai macam badai dalam rumah tangga bersama. Dan tetap saling mencintai hingga maut menjemput mereka berdua. Tentu apa yang mereka hadapi bersama selama 39 tahun sama sekali tidak mudah.

Saya jauh lebih penasaran terhadap cara mereka mengarungi hidup bersama, saling menguatkan, saling memaafkan dan sepertinya ide untuk menuliskan perasaan melalui surat sangat brilian karena dapat menjelaskan banyak hal kepada pasangan. Perasaan yang tidak terungkapkan itu dapat menimbulkan asumsi. Dan asumsi dapat bergeser menjadi prasangka yang menjadi biang kesalahpahaman dan hanya manambah runyam kehidupan.

16 Juni 1948

Teruntuk Ny. Cooper

Percayakah kau bahwa akhirnya kita menikah juga? Kita sudah menikah! Betapa indahnya hari ini. Sekarang pkl 11:50 malam dan di seberang ruangan kau sedang terlelap dalam tidur. Apa kautahu bahwa malaikat juga bisa mendengkur? Aku baru tahu kalau ternyata mereka bisa mendengkur. Aku mengetahui ini karena kau juga mendengkur. Dan kau adalah malaikatku.

13 April 1988

Laurel tersayang

Laurel. Pernikahan kita memang tidak sempurna. Kita telah melalui banyak cobaan. Kita telah diuji dengan hal-hal yang lebih berat dari yang pernah kita bayangkan saat kita setuju untuk mengarungi bahtera ini. Tapi perjalanan ini sungguh mulia. Aku telah diangkat olehmu. Dan kau telah melakukan lebih dari itu. Kau telah menepati janjimu. Terima kasih karena telah mempercayai rencana besar Tuhan sebelum aku siap menerimanya.

Give me more letters please!! 🙂 hehe..

 

The Fault In Our Star By John Green

Penerbit : Dutton Books

Tebal : 313 Halaman

“I can’t talk about our love story, so I will talk about math. I am not a mathematician, but I know this: There are infinite numbers between 0 and 1. There’s 0.1 and 0.12 and 0.112 and an infinite collection of others. Of course, there is a bigger infinite set of numbers between 0 and 2, or between 0 and a million. Some infinities are bigger than other infinities. A writer we used to like thaught us that.

There are days, many of them, when I resent the size of my unbounded set. I want more numbers than I’m likely to get, and God, I want more numbers for Augustus Waters than he got. But, Gus, my love, I cannot tell you how thankful I am for our little infinity. I wouldn’t trade it for the world. You gave me a forever within the numbered days, and I’m grateful.”

Saya menutup buku ini dengan perasaan sesak yang ngga bisa dijelaskan. Mengawang2 sebentar,membaca halaman terakhir sekali lagi, lalu menangis terisak2. Ah.. Hidup ini kadang memang terlalu menyakitkan.

Hazel Grace adalah seorang remaja perempuan berumur 17 tahun yang telah cukup lama menderita kanker paru2. Dokternya menyarankan Hazel untuk mengikuti support group untuk anak2 remaja penderita kanker untuk mengurangi depresi (yang menurut dokternya) diderita Hazel.

Tidak butuh waktu lama bagi Hazel untuk menyimpulkan bahwa support group ini tidak memberikan dampak positif. Malah cenderung membuat mood nya semakin buruk karena aroma kematian tercium dimana-mana. Sampai suatu waktu ia bertemu dengan orang baru di support group tersebut. Seorang anak laki2 (yang cukup keren) yang terus menatapnya semenjak Hazel menginjakkan kaki di ruangan.

Namanya ternyata Augustus Waters, mantan penderita osteosarcoma yang telah pulih. Ia bergabung dengan support group atas permintaan sahabatnya Isaac, seorang anak penderita kanker mata. Melalui beberapa pembicaraan kita dapat membaca kalo Augustus dan Hazel are meant for each other. Mereka berdua sama2 memiliki pemikiran tidak biasa alias out of the box tentang kehidupan. Jika memang soulmate itu nyata, maka Augustus dan Hazel adalah manusia beruntung yang saling dipertemukan.

Namun demikian, Hazel ngotot untuk menjaga jarak. Augustus ternyata memiliki seorang mantan pacar yang meninggal karena kanker otak. Hazel tidak sampai hati membuatnya melalui semua itu lagi. Ia ingin meminimalisir dampak yang ditimbulkan jika esok lusa ia harus meninggalkan hidup.

“Much of my life had been devoted to trying not to cry in front of people who loved me, so I knew what Augustus was doing. You clench your teeth. You look up. You tell yourself if they see you cry, it will hurt them, and you will be nothing but A Sadness in their lives, and you must not become a mere sadness, so you will not cry, and you say all of this to yourself while looking up at the ceiling and then you swallow even though your throat does not want to close and you look at the person who loves you and smile.”

Hazel adalah seorang maniak baca yang memiliki obsesi kepada sebuah buku yang berjudul An Imperial Affliction karya seorang pengarang bernama Peter Van Houten. Obsesi itu muncul karena ending buku yang sangat menggantung, diakhiri oleh kalimat yang tidak terselesaikan tanpa keterangan apa yang terjadi pada tokoh2 dalam buku itu selanjutnya. Dan Peter Van Houten tidak pernah menulis sequelnya. Hazel sudah berkali2 menulis surat pada sang pengarang tanpa satupun jawaban.

Hazel dan Augustus saling lebih mengenal dengan bertukar buku fav mereka. Hazel pun bercerita pada Augustus tentang obsesinya. Augustus akhirnya berhasil menemukan alamat dimana Peter Van Houten tinggal. Ternyata Peter tinggal di Amsterdaam dan Augustus berhasil berkorespondensi dengan asisten Peter via email.

Hazel girang luar biasa berhasil menemukan cara untuk menemukan jawabannya. Ternyata Peter adalah seorang pria yang cukup keras kepala yang tidak mau menceritakan apa yang terjadi selanjutnya pada tokoh2 dalam An Imperial Affliction. Alih2 Peter malah mengundang Hazel untuk datang ke rumahnya di Amsterdaam, Peter berujar bahwa ia hanya akan menceritakan kelanjutannya melalui pertemuan langsung.

Apparently anak2 penderita kanker disana diberikan kesempatan untuk dikabulkan satu permintaannya, apapun itu (oleh pemerintah? oleh departemen kesehatan?). Hazel telah menggunakan permintaannya untuk pergi ke Disney World. Tapi Augustus belum, dan ia memutuskan bahwa ia akan menghadiahkan keinginannya untuk Hazel. Mereka akan pergi ke Amsterdaam untuk bertemu langsung dengan Peter.

Kisah selanjutnya harus dibaca sendiri. Sepertinya saya masih cukup terhipnotis dengan efek post reading buku ini dan belum bisa banyak mengeluarkan komentar pribadi selain buku ini BAGUS BANGET BANGET!! Highly recomended untuk dibaca. Genre contemporary young adult romance yang indah dalam sedih dan meninggalkan kesan yang susah dihapus.

For my own reason, this book has earned it place in my best book of all times shelf. Lima bintang dari saya untuk buku ini.

And by the way Augustus Waters manage to beat Peeta from hunger games in my number one “prince of my dreams” book character ^_^

‘“That’s the thing about pain,” Augustus said, and then glanced back at me.”It demands to be felt.”’

‘”Sometimes people don’t understand the promises they’re making when they make them,” I said. Isaac shot me a look. “Right, of course. But you keep the promise anyway. That’s what love is. Love is keeping the promise anyway.”

 

Little Bee By Chris Cleave

Penerbit : Gagasmedia

Tebal : 381 Halaman

“Kenapa Daddy-ku mati?”

Aku memikirkan hal itu.

“Orang jahat membuatnya mati, Charlie, tapi mereka bukan orang jahat yang bisa dilawan Batman. Mereka orang jahat yang harus ayahmu lawan dengan hatinya dan aku juga harus melawan mereka dengan hatiku. Mereka adalah orang jahat yang ada di dalam diri kita.”

Charlie mengangguk. “Mereka banyak?”

“Siapa?”

“Orang jahat dalam diri kita?”

Aku memandangi terowongan-terowongan yang gelap itu, mengigil.

“Semua orang punya mereka,” ujarku.

Hhhhh… Buku ini buat saya memberikan efek ngeri dan mencekam.. Sedih.. Jenis kesedihan yang seringkali membuat saya mual, kesedihan yang bertitik pangkal dari ketidakadilan hidup dan keserakahan manusia..

Little Bee, yang menjadi judul buku ini adalah nama seorang gadis remaja imigran illegal asal Nigeria. Little Bee telah selama dua tahun mendekam di pusat tahanan imigrasi dekat dengan kota London. Suatu hari karena usaha (pdkt) salah satu rekan sesama tahanannya Yvette, nama Little Bee masuk ke daftar orang-orang yang sudah bisa dibebaskan bersama satu orang gadis imigran bersari kuning dan satu gadis lagi yang tidak mau bicara apapun.

Little Bee hanya punya satu nama dan satu tempat untuk dituju di kota London. Andrew dan istrinya Sarah. Pasangan kulit putih yang dipertemukan oleh nasib dengan Little Bee dan kakaknya dua tahun yang lalu, di suatu pantai di Nigeria. Sesaat sebelum horror mencengkram diri Little Bee untuk waktu yang lama.

Pada saat yang sama Sarah baru saja kehilangan suaminya Andrew. Peristiwa yang terjadi dua tahun yang lalu tidak pernah bisa dilaluinya dan menyebabkan Andrew tenggelam ke dalam depresi yang sangat dalam. Andrew akhirnya memutuskan untuk lari dari hidup.

Sarah yang telah kehilangan satu jari telunjuknya dalam “kejadian dua tahun yang lalu” itu sedang tidak bisa merasakan apapun, bahkan kesedihan. Mati rasa. Sarah dan Andrew mempunyai Putra laki-laki berumur 4 tahun yang bernama Charlie. Charlie yang dalam waktu yang sangat lama, tidak mau melepaskan kostum Batman nya sama sekali. Di dunia Charlie, ia adalah Batman yang harus senantiasa melawan para penjahat khayalan yang bisa muncul dari semak2 kapan saja.

Sarah sudah lama tidak mencintai Andrew. Merasa menikah dengan orang yang salah, Sarah merasa menemukan apa yang ia cari dalam sosok seorang Lawrence. Andrew akhirnya tahu. Dua tahun yang lalu mereka berlibur ke Nigeria untuk memperbaiki pernikahan mereka yang retak. Tak disangka peristiwa itu malah memisahkan mereka lebih jauh lagi. Tidak bisa diperbaiki, Andrew pulang dari Nigeria sebagai manusia yang rusak.

Sesaat sebelum pemakaman seseorang mengetuk pintu rumahnya. Little Bee, gadis kecil yang dijumpainya di sebuah pantai di Nigeria dua tahun yang lalu. Little Bee yang dikiranya sudah mati. Dalam kondisi tidak bisa berfikir jernih akhirnya Sarah mengajak Little Bee ke pemakaman sambil merenung, mengapa ia harus muncul sekarang. Hantu masa lalu yang mati2an ingin disingkirkan oleh Sarah. Hantu masa lalu yang telah mengambil Andrew.

“Kami terlihat seperti digabungkan secara asal dengan menggunakan Photoshop, bertiga, berjalan ke pemakaman suamiku. Seorang Ibu berkulit putih kelas menengah, seorang gadis pelarian berkulit hitam yang kurus, dan seorang Kesatria Kegelapan dari Gotham City.”

Cerita ini diceritakan dari dua sudut pandang. Little Bee dan Sarah. Semua berpusat di “kejadian dua tahun yang lalu”. Terus terang saya lebih menyukai cerita dari sudut Little Bee yang haunting, gelap, sedih dan misterius. Apa yang terjadi pada kampung halaman nya yang damai di Nigeria adalah sesuatu yang tidak bisa diterima oleh nalar, saking mengerikannya. Dan berpotensi untuk digali menjadi cerita yang dalam.

Saya tidak terlalu bersimpati pada tokoh Sarah. Kurang berkarakter alias ngga jelas. Juga Andrew yang pengecut, Lawrence yang sok tahu apa yang terbaik. Cuma Charlie sang Batman yang layak mendapatkan simpati.

Saya memberikan empat bintang di goodreads karena kemampuan buku ini dalam membuat saya merasa tercekam sepanjang isi cerita. Dan juga penasaran akan apa sebenarnya yang terjadi dua tahun yang lalu.

Jika saja penulis bisa memberikan ending yang twistnya lebih mengigit di akhir cerita mungkin saya tidak akan ragu memberikannya 5 bintang. None off the less, this is a good book!! Direkomendasikan buat pembaca yang tahan dengan kisah yang “gelap”.

“Bila wajah kalian bengkak karena baru saja dipukuli dengan keras oleh hidup ini, tersenyumlah dan berpura-puralah menjadi orang gemuk.”

-Pepatah Nigeria-

Of Human Bondage By W. Somerset Maugham

Penerbit : Pocket Books Inc

Tebal : 373 Halaman

“He asked himself dully whether whenever you got your way, you wish afterwards that you hadn’t.”

Kenapa ya dari dua buku W. Somerset Maugham yang udah saya baca tokoh utamanya selalu bikin kesel. Apakah karena memang realitasnya mayoritas manusia seperti itu? Kalo di The Painted Veil saya dibikin kesel sama Kitty, di buku ini saya berulang kali pengen jitak Philip Carrey si tokoh utama pake palu.

Tapi udah gitu selalu di titik tertentu jatuhnya jadi kasihan. Baik sama Kitty maupun sama Philip. Itulah jagonya W. Somerset Maugham kalo kata saya. Kita dibikin sangat terlibat dengan kehidupan dan emosi sang tokoh utama karena saking keselnya liat kelakuannya. Lalu tanpa sadar di akhir2 kita jadi kasihan karena pada akhirnya, semua pilihan dan keputusan yang salah itu menjerumuskan sang tokoh utama itu sendiri. Tapi untungnya ending di buku ini ngga semenyebalkan The Painted Veil.

Philip Carey ditinggal meninggal kedua orang tuanya semenjak kecil. Ia yang juga menderita deformitas (clubfoot) pada sebelah kakinya lalu dibesarkan oleh Paman dan Bibinya di areal biara di sebuah daerah kecil bernama Blackstabble tidak jauh dari kota London. Rrrrr.. Kepribadian Philip sangat dipengaruhi oleh rasa rendah diri terpendamnya (baik karena yatim piatu maupun deformitasnya), ia tumbuh menjadi remaja yang mmm.. defensif, negative thingking dan sedikit pemimpi (dalam artian yang ngga begitu bagus).

Orang tuanya meninggalkan Philip dengan warisan yang pas jumlahnya hingga diperkirakan Philip dapat menghidupi dirinya sendiri. Oleh karena itu Pamannya selalu berhati-hati dalam mengatur pengeluaran Philip. Namun sang pemuda menganggap Paman nya terlalu banyak mengatur dan ingin segera pergi dari pengawasan paman dan bibinya.

Philip lalu berpindah kesana kemari dan berganti2 profesi ini itu hanya untuk berhenti di tengah dan merasa semuanya tidak ada gunanya. Terlalu banyak mengeluh memang mas Philip ini, plus lagi tampaknya memang ybs sedikit labil dan ngga tau maunya diri sendiri apa (tuh kan saya malah ngomelin tokoh utamanya).

Philip kemudian memutuskan untuk menjadi seorang Dokter. Semuanya kondisinya diperburuk waktu Philip jatuh cinta pada seorang wanita super nyebelin bernama Mildred. Ya ampun.. Mas Philip ini yah, udah diperlakukan luar biasa buruknya oleh Mildred, dikhianatin, ditikam dari belakang, dimanfaatin dsb dsb tetep aja ngga berdaya kalo Mildred minta tolong dan selalu dengan segala daya upaya ngebantu jeng satu yang keterlaluan itu. C’mon man, she’s not worthed at all *sini saya sadarin pake palu*

Segitu keselnya sama kebodohan Philip sampai pada titik tertentu jadi kasihan. Dan biarpun kesel ngga bisa berhenti  buat baca karena pengen tau apa yang kemudian terjadi pada Philip.

Pada titik terendah di hidupnya Philip menemukan bahwa pride dan ego yang selama ini ia pelihara sebenarnya tidak ada artinya. Beruntung di antara hari2 superfisial yang ia jalani Philip sempat dipertemukan dengan orang2 tulus yang tanpa berpikir dua kali mengulurkan tangan ketika semua orang sudah berpaling.

Dari titik terendah itu saya dibawa untuk melihat Philip yang perlahan-lahan menjadi dewasa. Dan ketika Philip akhirnya mengerti apa itu bahagia, saya rasanya pengen memberikan standing ovation karena terlalu lama dibikin mengkel oleh mas Philip.

“Why did you look at the sunset?’

Philip answered with his mouth full:

Because I was happy.”

Endingnya mungkin bukan sesuatu yang indah meledak2. Namun untuk seorang tokoh seperti Philip, semua itu cukup luar biasa (saya kira dia akan menderita selamanya). Pelajaran bahwa kadang mungkin seseorang harus dibuat nyaris mati untuk menemukan titik balik, namun tidak pernah ada kata terlambat. Dan kalo kita memang mau berhenti meratap dan memandang diri sebagai korban, second chance mungkin memang selalu ada. Dan dari sana setiap orang bisa membangun lagi hidupnya.

Ah.. Philip, ikut lega karena akhirnya dia mengerti juga.. Tepuk tangan untuk W. Somerset Maugham yang udah bikin saya esmosi jiwa sekaligus ngga bisa berhenti buka halaman demi halaman. Disitulah jagonya sang pengarang ini.

“Life wouldn’t be worth living if I worried over the future as well as the present. When things are at their worst I find something always happens.”

Maryam By Okky Madasari

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 275 Halaman

Tadinya  review ini mau diposting bareng Blogger Buku Indonesia kemaren, apa daya saya mesti merecharge diri yang sedang tepar dulu  😉 (makanya jangan suka nunda2 bikin review! Hehe). Agak sulit buat saya untuk membuat review buku ini. Kenapa? Karena temanya yang menyentil membuat saya merasa harus belajar banyak dulu sebelum menulis . Salah satunya adalah dengan membaca buku Memahami Negativitas yang sudah saya review duluan.

Di karya ketiganya Okky Mandasari (dengan cukup berani) mengambil tema tentang secuil kisah hidup kaum Ahmadiyah di Indonesia. Tokoh utamanya, Maryam adalah seoarang perempuan yang terlahir di keluarga Ahmadiyah dan tumbuh besar di daerah Gerupuk, Pesisir Selatan Lombok.

Sejak kecil Maryam sudah sadar kalo praktek agama yang dijalani nya sedikit berbeda dengan para tetangga dan teman2 sekolahnya. Mereka sholat di mesjid yang berbeda dan punya kelompok pengajian tersendiri. Beranjak dewasa mulailah Maryam menerima wejangan2 dari kedua orang tuanya agar jangan sampai menjalin hubungan dengan orang di luar kelompok mereka. Kebetulan Maryam pada saat itu sedang dijodoh2kan dengan pemuda sepengajian yang bernama Gamal, Maryam merasa tidak bermasalah dengan wejangan tersebut.

Sampai suatu ketika Gamal harus pergi ke luar daerah untuk waktu yang cukup lama untuk menyusun skripsi. Tiba2 Gamal menghilang, Maryam tidak pernah mendengar kabar darinya lagi. Usut punya usut Gamal telah hengkang dari keluarganya dan menyatakan diri tidak akan pernah kembali. Gamal menyebut segala sesuatu yang orang tuanya yakini adalah sesat. Maryam patah hati.

Setelah lulus Maryam bekerja di Jakarta. Di sana Maryam memperoleh karir yang cukup sukses dan jatuh cinta pada seorang pria bernama Alam yang bukan seorang Ahmadiyah. Maryam mendapatkan tentangan dari kedua orang tuanya. Namun Maryam yang sedang “buta” akhirnya memilih untuk tidak lagi menghubungi anggota keluarganya. Keluarga Alam pun keberatan dengan kenyataan bahwa Maryam adalah seorang Ahmadiyah. Namun Ibunda Alam akhirnya mengizinkan dengan syarat Maryam meninggalkan kepercayaannya. Dengan seorang Wali Nikah akhirnya Maryam dinikahkan dengan Alam.

Kisah bahagia yang diharapkan ternyata tidak terjadi. Maryam tidak pernah sepenuhnya diterima di keluarga Alam. Belum lagi desakan untuk segera memiliki anak yang membuat Maryam tertekan. Ketika suatu ketika terucap perkataan dari Ibu Mertua Maryam bahwa ia tidak juga dikaruniai anak karena masa lalunya yang sesat. Di titik itu Maryam menyerah untuk berjuang, ia merasa Alam telah meninggalkannya sendiri. Maryam pun angkat kaki. Ia dan Alam akhirnya bercerai.

Dengan perasaan gundah Maryam kembali ke kampung halamannya. Apa yang ia temukan? Kenyataan bahwa keluarganya telah terusir dari rumahnya sendiri. Maryam dipenuhi rasa bersalah. Ia segera mencari keberadaan orang tuanya. Ketika mereka berkumpul dan Maryam mulai menyecap kebahagiaan, akankah sejarah terulang? Sampai kapan mereka akan terus terusir?

Dari review yang saya baca, banyak yang menganggap bahwa ceritanya kurang dalam membahas tentang penyebab terusirnya keluarga Maryam. Menurut saya pribadi bukan itu intinya. Buku ini memang tidak membahas tentang perbedaan keyakinan atau yang mana agama yang benar yang mana yang salah. Buku ini membahas tentang ketidakberdayaan kaum minoritas di hadapan kelompok yang lebih besar, lebih kuat dan mentasbihkan bahwa dirinya yang paling benar. Buku ini membahas tentang ketidakberdayaan Hukum Indonesia jika dihadapkan dengan praktek premanisme kelompok yang lebih kuat.

Janganlah Ahmadiyah, kerusuhan antar etnis di banyak daerah, kekerasan terhadap etnis tionghoa tahun 1998, bahkan ribut2 tidak perlu tentang konser Lady Gaga akhir2 ini adalah sebuah bukti nyata bahwa di negara kita tercinta ini hukum masih lemah jika dihadapkan dengan ancaman preman. Tepat adanya Okky Madasari tidak memasuki lahan debat kusir tentang yang mana yang paling benar. Yang disorotinya adalah tunduknya banyak pihak (termasuk aparat hukum dan pemerintahan) pada negativitas kelompok.

Dua jempol untuk pemilihan temanya. Jadi pengen baca bukunya Okky Madasari yang laen 🙂

Who we are to judge? It’s the negativities that we should eradicate.