Memahami Negativitas By F. Budi Hardiman

Penerbit : Kompas

Tebal : 222 Halaman

“Memutuskan dan bertanggung jawab sebagai individu menimbulkan rasa sepi, maka ego cenderung menghindar.”

Saya teringat pada buku ini setelah selesai membaca buku Maryam nya Okky Madasari yang jadi proyek baca bareng nya Blogger Buku Indonesia untuk bulan Mei (Buku2 terbitan Gramedia). Maryam membahas tentang nasib pemeluk Ahmadiyah yang sering terusir.  Selengkapnya tentang buku Maryam saya publish 31 Mei nanti.

Saya selalu heran jika melihat, mendengar atau membaca tentang negativitas kolektif di media. Sebenernya semua bermula dari kerusuhan Mei 1998 yang sempat membuat saya seminggu lebih bermimpi buruk. Walau di Bandung sendiri aman jaya. Namun melihat dan mendengar berita kota2 lain di tv membuat saya tercengang. Bagaimana bisa terjadi? Dimana monster2 kejam tersebut selama ini bersembunyi? Kemana hati nuraninya?

Sayangnya setelah itu, banyak kejadian lain yang menyusul. Kerusuhan antar etnis, antar agama, antar suporter fanatik, peristiwa main hakim sendiri dan mungkin yang belum lama ini kita lihat tentang pengusiran pemeluk ahmadiyah yang menelan korban.

Saya membeli buku ini sekitar tahun 2006. Baru dibaca sekarang ck ck ck. Isinya sedikit banyak membuka pemahaman saya tentang mekanisme bagaimana suatu negativitas kolektif bisa terbentuk. Namun memang bahasa nya yang sangat ngelmu membuat saya dalam beberapa bagian harus mengulang2 apa yang dibaca.

“Dan mereka yang takut akan dirinya sendiri cenderung melihat yang lain sebagai ancaman survivalnya, sebagai penyerang. Rasa takut adalah sumber utama takhayul dan salah satu sumber kekejaman.”

Pada intinya, manusia memiliki insting untuk lari dari tanggungjawab sebagai individu, karena konsekuensi berdiri tegak sebagai suatu individu adalah rasa sepi (that I agree). Ditambah dengan kekecewaan, krisis kepercayaan, perasaan tertekan dan tersisihkan dan aneka ketidakpastian di negeri ini cenderung membuat banyak manusia sangat ingin menjadi bagian dari sesuatu at some point they’re willing to believe in anything even in the most senseless and outrageus things.

Suatu negativitas kolektif bermanifestasi menjadi tindakan nyata sebenarnya sangat dipengaruhi oleh banyak faktor luar yang pada titik probabilitas tertentu memiliki komposisi yang tepat dan terjadilah peristiwa2 yang membuat rasa mual muncul tersebut.

Individu yang terseret dalam negativitas kolektif karena sugesti absurd yang ditelan demi menjadi bagian dari sesuatu melihat manusia lain yang disakitinya bukan sebagai manusia. Tetapi sebagai musuh yang mengancam eksistensinya. Oleh karena itu mereka mempercayai tindakan menyakiti manusia lain yang mereka lakukan adalah sesuatu yang benar.

“Massa adalah kuasa di tangan para provokatornya. Individu2 melebur dan tak menyadari diri telah diperalat sebagai meriam-meriam dari darah dan daging untuk membidik kekuasaan lawan2 politik. Manusia2 tanpa wajah itulah korban kuasa.”

Untuk hal2 yang diuraikan di atas buku ini memberi saya jawaban. Namun masih banyak pertanyaan saya yang lebih ke bagaimana mekanisme psikologis & neurologis suatu individu dapat mengabaikan akal sehatnya. Mungkin harus mencari referensi lain untuk pertanyaan ini.

“Sebuah masyarakat yang tidak mempersoalkan kekerasan sudah kehilangan keberadabannya.”

The Neverending Story By Michael Ende

Kok iya bisa saya baru baca buku ini sekarang. Itu juga karena kemaren2 liat sekilas film nya di HBO dan baru inget kalo sebenernya saya punya buku ini walau dalam format ebook. Mulailah saya baca dan nyesel abis baru baca sekarang. Huuuww.

Cerita dibuka dengan kisah seorang anak yang merasa dirinya tidak istimewa, Bastian Balthazar Bux. Bastian yang chubby sering menjadi objek gangguan teman2nya. Ibu nya telah meninggal dunia dan semenjak itu Ayahnya jadi menjaga jarak pada Bastian. Ayahnya tidak pernah sembuh dari rasa sakit kehilangan. Walaupun Bastian bisa memperoleh apa pun yang ia inginkan, ia tetap merasa tidak bahagia karena merasa telah kehilangan Ibu dan Ayahnya sekaligus.

“If you have never spent whole afternoons with burning ears and rumpled hair, forgetting the world around you over a book, forgetting cold and hunger–
If you have never read secretly under the bedclothes with a flashlight, because your father or mother or some other well-meaning person has switched off the lamp on the plausible ground that it was time to sleep because you had to get up so early–
If you have never wept bitter tears because a wonderful story has come to an end and you must take your leave of the characters with whom you have shared so many adventures, whom you have loved and admired, for whom you have hoped and feared, and without whose company life seems empty and meaningless–
If such things have not been part of your own experience, you probably won’t understand what Bastian did next.”

Suatu hari Bastian merasakan dorongan aneh yang membuatnya ingin masuk ke suatu toko buku. Setelah berada di dalam mata Bastian terpaku pada buku yang sedang dipegang sang pemilik toko. Mr. Coreander. Ketika Mr.Coreander beranjak sejenak untuk mengangkat telepon, Bastian tanpa pikir panjang menyambar buku itu dan berlari keluar.

Bastian membawa buku itu ke loteng sekolahnya dan langsung membacanya disana. Buku itu berjudul The Neverending Story. Ceritanya adalah tentang sebuah dunia yang bernama Fantastica. Tak terhitung berapa negeri yang ada dalam Fantastica. Cerita yang Bastian baca bermula dari dikirimnya perwakilan para negeri untuk menemui seseorang yang menjadi pusat seluruh Fantastica, The Childlike Empress.

“The Childlike Empress – as her title indicates – was looked upon as the ruler over all the inumerable provinces of the Fantastican Empire, but in reality she was far more than a ruler; she was something entirely different.

She didn’t rule, she had never used force or made use of her power. She never issued commands and she never judged anyone. She never interfered with anyone and never had to defend herself against any assailant; for no one would have thought of rebelling against her or of harming her in any way. In her eyes all her subjects were equal.

She was simply there in a special way. She was the center of all life in fantastica.”

Terdapat gejala aneh di seluruh pelosok Fantastica. Sedikit demi sedikit daerah tertelan ke dalam sesuatu yang mereka namakan Ketiadaan. Ketiadaan itu menyebar dan menyebabkan daerah yang dilewatinya menjadi hilang tak berbekas.

Ternyata di istananya The Childlike Empress telah berkumpul berbagai jenis mahluk Fantastica yang merupakan perwakilan dari masing2 negerinya. The Childlike Empress sedang sakit berat, tidak ada tabib yang dapat menyembuhkannya. Jika tidak disembuhkan maka seluruh Fantastica akan ikut hilang bersama dengan wafatnya The Childlike Empress.

Satu-satunya cara adalah mengirimkan seorang perwakilan seluruh Fantastica dalam sebuah misi. Yaitu mencari seorang manusia yang dapat memberikan nama baru untuk The Childlike Empress. Perwakilan tersebut akan dipersenjatai dengan jimat yang bernama Auryn. Jimat tersebut merupakan personifikasi dari The Childlike Empress sehingga siapapun yang menggunakannya akan dianggap sebagai sang Empress sendiri, tidak ada satu mahluk pun di Fantastica yang akan menghalangi.

Tugas itu jatuh ke tangan Atreyu, seorang bocah pemburu yang handal. Atreyu kemudian bertemu dengan satu mahluk dari species luckdragon bernama Falkor yang menjadi teman setianya.

Bastian membaca kisah tersebut dengan khidmat, untuk kemudian menemukan bahwa manusia yang dicari Atreyu adalah dirinya.

Aaaaahhh.. Cerita fantasy yang super keren. Daya khayalnya Michael Ende hebat banget, beliau bisa menciptakan beragam mahluk yang tidak pernah ada di cerita lain dan luar biasa uniknya. Dalam cerita fantasy ini juga tersirat berbagai pesan moral yang everlasting.

Tentang sifat serakah manusia, kehausan atas kekuasaan dan pengakuan. Tentang bagaimana kebutuhan untuk dicintai yang tidak terpenuhi bisa membuat seorang anak kesepian. Tentang free will. Tentang menggali ke dalam diri apa yang sebenarnya paling berarti. Dan yang membuat saya menangis di akhir cerita.. Tentang redemption.. Pengampunan.. Kesempatan kedua..

““I did everything wrong.” he said. “I missunderstood everything. Moon Child gave me so much, and all I did with it was harm, harm to myself and harm to Fantastica.”

Dame Eyola gave him a long look.

“No,” she said. “I don’t believe so. You went the way of wishes, and that is never straight. You went the long way around, but that was your way. And do you know why? Because you are one of those who can’t go back until they have found the fountain from wich springs the Water of Life. And that’s the most secret place in Fantastica. There’s no simple way of getting there.”

After a short silence she added: “But every way that leads there is the right one.”

Suddenly Bastian began to cry. He didn’t know why. He felt as if a knot in his heart had come open and dissolved in to tears.”

Ya, tentang kesempatan kedua yang memang kadang datang melalui jalan berliku yang menyakitkan. Berkali-kali terhempas dan berkali-kali merasa putus asa. Merasa semua jalan yang dipilih adalah salah dan terjebak di dalamnya, tidak tahu bagaimana cara memperbaiki semuanya. Tapi seperti yang Dame Eyola bilang,

“Every way that leads there is the right one”

Dan saya pun menangis termehek-mehek. Good for you dear Bastian. Hardship makes you unbreakable. Heartache makes you realize how important love is. And second chance makes you respect every moments that life gave to you.

Bravo deh buku ini!!

 “If you stop to think about it, you’ll have to admit that all the stories in the world consist essentially of twenty-six letters. The letters are always the same, only the arrangement varies. From letters words are formed, from words sentences, from sentences chapters, and from chapters stories.”