Dunsa By Vinca Callista

Penerbit : Atria

Tebal : 453 Halaman

Sayang sungguh sayang. Sebuah cerita fantasy yang sungguh punya potensi dikembangkan menjadi sesuatu yang luar biasa namun tidak begitu dimanfaatkan dengan maksimal. Di mata saya Prutopian adalah sebuah dunia yang indah dan otentik berasal dari daya khayal pengarangnya. Bukan dari adaptasi cerita2 fantasy yang sekarang sudah menjamur.

Ada empat negara besar di Prutopian, Naraniscala, Delmorania, Ciracindaga dan Fatacetta. Tokoh utama kita adalah seorang remaja perempuan bernama Merphilia Dunsa. Ia tinggal di sebuah daerah nan sepi bernama Tirai Banir dekat Ibu Kota Naraniscala bersama Bibinya yang bernama Bruzila. Seumur hidup Merphilia, atau biasa dipanggil Phi, belum pernah keluar dari daerah tersebut.

Semenjak kecil Bruzila telah melatih Phi dengan berbagai macam kemampuan beladiri. Hasilnya Phi tumbuh menjadi gadis yang tangguh (dan digambarkan secara fisik sangat cantik). Ketika akhirnya Phi diizinkan untuk ikut bibinya ke ibu kota Naraniscala, disanalah ia pertama kali mendengar tentang Ratu Merah.

Tak lama kemudian secara mengejutkan rumah mereka yang terpencil didatangi oleh seorang Zauberei (semacam kaum sakti Prutopian). Dan Phi lebih terkejut lagi ketika tahu bahwa bibinya mengenal Zauberei yang bernama Hewit tersebut. Ada sesuatu kondisi yang teramat penting sehingga mereka harus ikut ke tempat tinggal para Zauberei di Pegunungan Isaura.

Disana Phi menemukan kenyataan aneh bahwa semua orang memanggilnya Putri Cleorinda. Melalui pimpinan kaum Zauberei ia memperoleh informasi bahwa di masa lalu pernah ada seorang penyihir jahat yang mencoba untuk menguasai seisi Prutopian. Penyihir tersebut bernama Ratu Veruna, masyarakat umum memanggilnya Ratu Merah karena warna rambut dan mata nya berwarna merah menyala. Di masa itu Ratu Merah menggunakan bermacam bala tentara dan sebagian besarnya merupakan monster-monster mengerikan yang berasal dari berbagai zaman yang berhasil ia bangkitkan. Masa-masa pemberontakan tersebut dinamai Masa Merah.

Ratu Merah kemudian berhasil dibunuh oleh Jendral Alanisador, yang kini telah menjadi Ratu Alanisador. Pemimpin negeri Naraniscala. Alangkah terkejutnya Phi ketika mendengan bahwa Ratu Merah kini telah bangkit kembali, Ratu Merah tidak pernah benar2 mati, ia menyimpan jiwanya dalam danda merah nya untuk suatu saat dibangkitkan. Dan kali ini ada seseorang yang telah membangkitkan Ratu Merah, jiwanya merasuk pada manusia lain yang belum diketahui identitasnya.

Setelah tiba di istana dan bertemu keluarga kerajaan, Phi lebih terkejut lagi ketika menerima informasi bahwa Ratu Merah hanya dapat dihancurkan oleh sesuatu yang berasal darinya, yang diartikan sebagai keturunannya. Dan anak dari Ratu Merah atau Ratu Veruna adalah Putri Cleorinda alias Merphilia Dunsa.

Phi harus membunuh Ibunya demi seisi Prutopian.

The great side dari buku ini adalah dunianya Prutopian yang indah dengan segala mahluk eksotik dan anehnya yang original berasal dari daya khayal sang pengarang. Gambaran empat negara besar Prutopian juga sangat khas dan unik dan rasa2nya saya belum pernah menemukannya dimana pun. Sangat luar biasa, untuk itu saya acungkan jempol buat pengarang.

Beberapa hal to improve. Pertama karakter Phi, pada awalnya cukup menjanjikan karena ia digambarkan sebagai tough girl. Saya mulai terganggu ketika Skadar masuk ke dalam cerita dan di titik itu karakter Phi kehilangan gregetnya. Romantismenya agak over dan nyinetron, apalagi ketika udah menginjak ke cinta segitiga. Hadeeuuuh. Karakter Phi jadinya ngga berkesan. Dan begitu pula dengan beberapa tokoh lainnya. Yang paling ganggu buat saya adalah Jendral Adelarda yang hobinya marah-marah ngga jelas. Terlalu kekanakan.

Kedua, plot dan alur yang klise. Garis besar atau kerangka dari cerita ini udah keren. Kalo diolah dengan benar bahan bakunya, cerita ini bisa jadi buku berseri yang mengandung kisah yang masuk ke dalam kategori epic. Sayang, sayaaaaang banget deh. Semuanya dibikin selesei secara rusuh dan jatuhnya jadi ngga dalem. Ceritanya jadi ngga punya jiwa.

Ketiga adalah mantra2 dan bahasa native nya yang ngga terkonsep dengan baik. The simpler the better kalo buat mantra sedangkan untuk bahasa native akan lebih baik kalo diberi footnote arti dari kalimat-kalimat tersebut.

Ah sayang deh (udah keberapa kali nih nulis begini). Definitely great material, but unfortunately lack in execution. Maap beribu maap kalo agak nyelekit reviewnya, bukan2 kenapa2, tapi bener2 saya cuma ngerasa lebar pisan (sayang banget.red). This book could be the first Fenomenal Indonesian Epic Fantasy.

Advertisements

10 thoughts on “Dunsa By Vinca Callista

  1. @alvina13 says:

    aku ngga suka pilihan namanya yang belibet. dan mantranya yang kalau dibaca dari belakang berubah jadi bahasa Indonesia itu, terlalu susah ngucapinnya.. –“

  2. Duh, paling males kalo ada cerita fantasi pake bahasa-bahasa native. Udahlah, nggak usah niru-niru Tolkien. Kalo ceritanya memang bagus, ya bagus walaupun tanpa embel-embel gibberish.

  3. cerita fantasy emang favorir aku
    tapi kalo bumbu2 romantis ngalahin ke”fantasy”annya, jadi agak nggak ngeh aku
    mantra2 seh lumayan
    itu penulisnya orang indonesia ya, mbak?
    alurnya keren, tapi sinetron banget
    hehehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s