Memahami Negativitas By F. Budi Hardiman

Penerbit : Kompas

Tebal : 222 Halaman

“Memutuskan dan bertanggung jawab sebagai individu menimbulkan rasa sepi, maka ego cenderung menghindar.”

Saya teringat pada buku ini setelah selesai membaca buku Maryam nya Okky Madasari yang jadi proyek baca bareng nya Blogger Buku Indonesia untuk bulan Mei (Buku2 terbitan Gramedia). Maryam membahas tentang nasib pemeluk Ahmadiyah yang sering terusir.  Selengkapnya tentang buku Maryam saya publish 31 Mei nanti.

Saya selalu heran jika melihat, mendengar atau membaca tentang negativitas kolektif di media. Sebenernya semua bermula dari kerusuhan Mei 1998 yang sempat membuat saya seminggu lebih bermimpi buruk. Walau di Bandung sendiri aman jaya. Namun melihat dan mendengar berita kota2 lain di tv membuat saya tercengang. Bagaimana bisa terjadi? Dimana monster2 kejam tersebut selama ini bersembunyi? Kemana hati nuraninya?

Sayangnya setelah itu, banyak kejadian lain yang menyusul. Kerusuhan antar etnis, antar agama, antar suporter fanatik, peristiwa main hakim sendiri dan mungkin yang belum lama ini kita lihat tentang pengusiran pemeluk ahmadiyah yang menelan korban.

Saya membeli buku ini sekitar tahun 2006. Baru dibaca sekarang ck ck ck. Isinya sedikit banyak membuka pemahaman saya tentang mekanisme bagaimana suatu negativitas kolektif bisa terbentuk. Namun memang bahasa nya yang sangat ngelmu membuat saya dalam beberapa bagian harus mengulang2 apa yang dibaca.

“Dan mereka yang takut akan dirinya sendiri cenderung melihat yang lain sebagai ancaman survivalnya, sebagai penyerang. Rasa takut adalah sumber utama takhayul dan salah satu sumber kekejaman.”

Pada intinya, manusia memiliki insting untuk lari dari tanggungjawab sebagai individu, karena konsekuensi berdiri tegak sebagai suatu individu adalah rasa sepi (that I agree). Ditambah dengan kekecewaan, krisis kepercayaan, perasaan tertekan dan tersisihkan dan aneka ketidakpastian di negeri ini cenderung membuat banyak manusia sangat ingin menjadi bagian dari sesuatu at some point they’re willing to believe in anything even in the most senseless and outrageus things.

Suatu negativitas kolektif bermanifestasi menjadi tindakan nyata sebenarnya sangat dipengaruhi oleh banyak faktor luar yang pada titik probabilitas tertentu memiliki komposisi yang tepat dan terjadilah peristiwa2 yang membuat rasa mual muncul tersebut.

Individu yang terseret dalam negativitas kolektif karena sugesti absurd yang ditelan demi menjadi bagian dari sesuatu melihat manusia lain yang disakitinya bukan sebagai manusia. Tetapi sebagai musuh yang mengancam eksistensinya. Oleh karena itu mereka mempercayai tindakan menyakiti manusia lain yang mereka lakukan adalah sesuatu yang benar.

“Massa adalah kuasa di tangan para provokatornya. Individu2 melebur dan tak menyadari diri telah diperalat sebagai meriam-meriam dari darah dan daging untuk membidik kekuasaan lawan2 politik. Manusia2 tanpa wajah itulah korban kuasa.”

Untuk hal2 yang diuraikan di atas buku ini memberi saya jawaban. Namun masih banyak pertanyaan saya yang lebih ke bagaimana mekanisme psikologis & neurologis suatu individu dapat mengabaikan akal sehatnya. Mungkin harus mencari referensi lain untuk pertanyaan ini.

“Sebuah masyarakat yang tidak mempersoalkan kekerasan sudah kehilangan keberadabannya.”

The Neverending Story By Michael Ende

Kok iya bisa saya baru baca buku ini sekarang. Itu juga karena kemaren2 liat sekilas film nya di HBO dan baru inget kalo sebenernya saya punya buku ini walau dalam format ebook. Mulailah saya baca dan nyesel abis baru baca sekarang. Huuuww.

Cerita dibuka dengan kisah seorang anak yang merasa dirinya tidak istimewa, Bastian Balthazar Bux. Bastian yang chubby sering menjadi objek gangguan teman2nya. Ibu nya telah meninggal dunia dan semenjak itu Ayahnya jadi menjaga jarak pada Bastian. Ayahnya tidak pernah sembuh dari rasa sakit kehilangan. Walaupun Bastian bisa memperoleh apa pun yang ia inginkan, ia tetap merasa tidak bahagia karena merasa telah kehilangan Ibu dan Ayahnya sekaligus.

“If you have never spent whole afternoons with burning ears and rumpled hair, forgetting the world around you over a book, forgetting cold and hunger–
If you have never read secretly under the bedclothes with a flashlight, because your father or mother or some other well-meaning person has switched off the lamp on the plausible ground that it was time to sleep because you had to get up so early–
If you have never wept bitter tears because a wonderful story has come to an end and you must take your leave of the characters with whom you have shared so many adventures, whom you have loved and admired, for whom you have hoped and feared, and without whose company life seems empty and meaningless–
If such things have not been part of your own experience, you probably won’t understand what Bastian did next.”

Suatu hari Bastian merasakan dorongan aneh yang membuatnya ingin masuk ke suatu toko buku. Setelah berada di dalam mata Bastian terpaku pada buku yang sedang dipegang sang pemilik toko. Mr. Coreander. Ketika Mr.Coreander beranjak sejenak untuk mengangkat telepon, Bastian tanpa pikir panjang menyambar buku itu dan berlari keluar.

Bastian membawa buku itu ke loteng sekolahnya dan langsung membacanya disana. Buku itu berjudul The Neverending Story. Ceritanya adalah tentang sebuah dunia yang bernama Fantastica. Tak terhitung berapa negeri yang ada dalam Fantastica. Cerita yang Bastian baca bermula dari dikirimnya perwakilan para negeri untuk menemui seseorang yang menjadi pusat seluruh Fantastica, The Childlike Empress.

“The Childlike Empress – as her title indicates – was looked upon as the ruler over all the inumerable provinces of the Fantastican Empire, but in reality she was far more than a ruler; she was something entirely different.

She didn’t rule, she had never used force or made use of her power. She never issued commands and she never judged anyone. She never interfered with anyone and never had to defend herself against any assailant; for no one would have thought of rebelling against her or of harming her in any way. In her eyes all her subjects were equal.

She was simply there in a special way. She was the center of all life in fantastica.”

Terdapat gejala aneh di seluruh pelosok Fantastica. Sedikit demi sedikit daerah tertelan ke dalam sesuatu yang mereka namakan Ketiadaan. Ketiadaan itu menyebar dan menyebabkan daerah yang dilewatinya menjadi hilang tak berbekas.

Ternyata di istananya The Childlike Empress telah berkumpul berbagai jenis mahluk Fantastica yang merupakan perwakilan dari masing2 negerinya. The Childlike Empress sedang sakit berat, tidak ada tabib yang dapat menyembuhkannya. Jika tidak disembuhkan maka seluruh Fantastica akan ikut hilang bersama dengan wafatnya The Childlike Empress.

Satu-satunya cara adalah mengirimkan seorang perwakilan seluruh Fantastica dalam sebuah misi. Yaitu mencari seorang manusia yang dapat memberikan nama baru untuk The Childlike Empress. Perwakilan tersebut akan dipersenjatai dengan jimat yang bernama Auryn. Jimat tersebut merupakan personifikasi dari The Childlike Empress sehingga siapapun yang menggunakannya akan dianggap sebagai sang Empress sendiri, tidak ada satu mahluk pun di Fantastica yang akan menghalangi.

Tugas itu jatuh ke tangan Atreyu, seorang bocah pemburu yang handal. Atreyu kemudian bertemu dengan satu mahluk dari species luckdragon bernama Falkor yang menjadi teman setianya.

Bastian membaca kisah tersebut dengan khidmat, untuk kemudian menemukan bahwa manusia yang dicari Atreyu adalah dirinya.

Aaaaahhh.. Cerita fantasy yang super keren. Daya khayalnya Michael Ende hebat banget, beliau bisa menciptakan beragam mahluk yang tidak pernah ada di cerita lain dan luar biasa uniknya. Dalam cerita fantasy ini juga tersirat berbagai pesan moral yang everlasting.

Tentang sifat serakah manusia, kehausan atas kekuasaan dan pengakuan. Tentang bagaimana kebutuhan untuk dicintai yang tidak terpenuhi bisa membuat seorang anak kesepian. Tentang free will. Tentang menggali ke dalam diri apa yang sebenarnya paling berarti. Dan yang membuat saya menangis di akhir cerita.. Tentang redemption.. Pengampunan.. Kesempatan kedua..

““I did everything wrong.” he said. “I missunderstood everything. Moon Child gave me so much, and all I did with it was harm, harm to myself and harm to Fantastica.”

Dame Eyola gave him a long look.

“No,” she said. “I don’t believe so. You went the way of wishes, and that is never straight. You went the long way around, but that was your way. And do you know why? Because you are one of those who can’t go back until they have found the fountain from wich springs the Water of Life. And that’s the most secret place in Fantastica. There’s no simple way of getting there.”

After a short silence she added: “But every way that leads there is the right one.”

Suddenly Bastian began to cry. He didn’t know why. He felt as if a knot in his heart had come open and dissolved in to tears.”

Ya, tentang kesempatan kedua yang memang kadang datang melalui jalan berliku yang menyakitkan. Berkali-kali terhempas dan berkali-kali merasa putus asa. Merasa semua jalan yang dipilih adalah salah dan terjebak di dalamnya, tidak tahu bagaimana cara memperbaiki semuanya. Tapi seperti yang Dame Eyola bilang,

“Every way that leads there is the right one”

Dan saya pun menangis termehek-mehek. Good for you dear Bastian. Hardship makes you unbreakable. Heartache makes you realize how important love is. And second chance makes you respect every moments that life gave to you.

Bravo deh buku ini!!

 “If you stop to think about it, you’ll have to admit that all the stories in the world consist essentially of twenty-six letters. The letters are always the same, only the arrangement varies. From letters words are formed, from words sentences, from sentences chapters, and from chapters stories.”

Supernova – Partikel By Dee

Penerbit : Bentang Pustaka

Tebal : 486 Halaman

“Problemku terbesar adalah mempercayai spesies Homo Sapiens. Termasuk diriku sendiri. Padahal, manusia terlahir ke dunia dibungkus rasa percaya. Tak ada yang lebih tahu kita ketimbang plasenta. Tak ada rumah yang lebih aman dibanding rahim Ibu. Namun, di detik pertama kita meluncur keluar, perjudian hidup dimulai. Taruhanmu adalah rasa percayamu yang kau lego satu per satu demi sesuatu bernama cinta. Aku penjudi yang buruk. Aku tak tahu kapan harus berhenti dan menahan diri. Ketika cinta bersinar gemilang menyilaukan mata, kalang kabut aku serahkan semua yang kumiliki. Kepingan rasa percaya bertaburan di atas meja taruhanku. Dan aku pulang tak pernah membawa apa-apa.”

Kind of remind me of me.. 🙂 hehe.. Homo Sapiens memang spesies paling tidak bisa dipercaya.. Yang berujar seperti diatas adalah Zarah, tokoh utama kita. Cerita dimulai ketika Zarah kecil. Ia besar di pinggir Kota Bogor, dekat kampung yang bernama Batu Luhur, Ayahnya Firas adalah seorang dosen di IPB. Mereka adalah keluarga yang termasuk disegani di Batu Luhur karena Abah (kakek) dan Ayah Zarah yang sangat membantu dalam mengembangkan perekonomian masyarakat Batu Luhur.

Firas adalah orang yang sedikit nyentrik. Ia melarang Zarah untuk belajar di sekolah formal dan memilih untuk mengajar Zarah sendiri. Firas adalah orang yang sangat mencintai alam dan memiliki obsesi luar biasa pada spesies jamur. Lama kelamaan obsesinya mulai terlihat tidak sehat. Firas mulai terobsesi pada suatu hutan bernama Bukit Jambul di desa Batu Luhur. Hutan itu terkenal angker dan konon tidak bisa dan dilarang oleh warga untuk dimasuki manusia.

Firas mulai sering menghilang. Kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan mengandungnya Ibu Zarah. Anak ketiga setelah Zarah dan Hara. Perubahan Firas semakin kentara terlihat, semua orang memperhatikan. Warga Batu Luhur, Kakek Nenek Zarah, Ibu Zarah. Semua menghawatirkan Firas telah terseret kepada sesuatu yang bersifat “sesat”. Apalagi setelah diketahui Firas telah diberhentikan dari kegiatan mengajar karena terlalu sering melalaikan tugas.

Puncaknya terjadi ketika Ibu Zarah terpaksa melahirkan tanpa didampingi Firas. Bayi nya ternyata mengidap kelainan gen Harlequin Ichtyosis. Tidak ada yang mengerti tentang kelainan itu. Semua orang menyalahkan Firas yang telah melanggar “aturan desa”. Firas datang terlambat, tidak lama kemudian sang bayi menghembuskan nafas terakhir.

Zarah adalah anak Ayah. Walaupun tidak menempuh jalur sekolah formil, Ayahnya telah mengajarkan semuanya. Zarah menjadi jauh lebih cerdas dan pintar dari anak2 sebayanya. Buat Zarah, Ayah adalah dewa, dan dunia Zarah berotasi di sekitar sang dewa. Ketika suatu hari Ayahnya menghilang tanpa pesan, dunia Zarah terguncang. Dewa nya pergi entah kemana dan hanya meninggalkan jurnal2 yang serupa teka teki. Zarah merasa kehilangannya yang pertama.

Zarah menjadi anak aneh yang terasingkan. Pola pikir tidak biasa yang diajarkan Ayahnya menyebabkan Zarah banyak dihakimi dan salah dimengerti oleh masyarakat umum. Apalagi ketika akhirnya Zarah masuk sekolah. Ia di cap ateis, komunis, anak aneh penyembah alam yang pintar tapi tidak disukai.

Di umur 17 tahun seseorang mengirimkan kamera untuknya. Satu2nya orang yang pernah berjanji akan hal itu adalah Ayah. Namun barang tersebut dikirim tanpa nama. Zarah tidak bisa melacaknya.

Zarah akhirnya mempelajari fotografi. Suatu ketika hasil bidikannya, dengan cara yang tidak bisa dijelaskan, membawa Zarah memenangkan sebuah perlombaan yang berhadiah kunjungan ke tempat konservasi Orang Utan di daerah Tanjung Puting, Kalimantan. Darisana bola nasib bergulir. Zarah memperoleh keyakinan akan apa yang dicarinya dan memutuskan tidak pulang lagi ke Bogor. Ia memilih menjadi relawan di tempat konservasi orang utan. Di sana Zarah semakin jatuh cinta dengan keajaiban alam. Betapa manusia ini begitu kecil di tengah misteri alam semesta.

“Manusia perlu konfirmasi berulang dalam hubungan antar sesama, entah itu pasangan, sahabat, atau keluarga. Kita gemar menguji cinta. Orangutan tidak. Ikatan orangutan terjadi sekali dan bertahan selamanya.”

“Kita berbagi 97% gen yang sama dengan orangutan. Namun, sisa 3% itu telah menjadikan manusia pemusnah spesiesnya. Manusia menjadi predator nomor satu di planet ini karena segelintir saja gen berbeda.”

Zarah menjadi Ibu angkat untuk seorang bayi orangutan yang dinamai Sarah. Ketika jalan hidup akhirnya membawanya pergi dari tempat itu ke petualangan baru yang sebelumnya sama sekali tidak terpikirkan, Zarah akhirnya harus merasakan kehilangannya yang kedua. Berpisah dari “anaknya” Sarah.

“Akhirnya aku mengerti betapa rumitnya konstruksi batin manusia. Betapa sukarnya manusia meninggalkan bias, menarik batas antara masa lalu dan masa sekarang. Aku kini percaya, manusia dirancang untuk terluka.”

Hidup terus berjalan. Zarah mencicipi kebahagiaan untuk kemudian kehilangan lagi dengan cara yang paling menyakitkan. Setelah semua peristiwa yang membuatnya jatuh terpuruk, akhirnya Zarah memutuskan untuk kembali ke tujuan awal, mencari Ayah.

Cerita ini jauh beda dari tiga Supernova sebelumnya. Muatan filosofisnya tersembunyi dalam balutan fantasy yang kental dan sedikit quirky. Tapi saya suka, cita rasanya beda banget. Belum lagi endingnya yang bikin amit2 penasarannya. Terus gimana ini dong… Hehehe…

Oiya, ada sedikit misteri Etra yang terkuak di akhir cerita. Tapi setelahnya muncul berjuta pertanyaan akan apa yang akan terjadi selanjutnya.. Etra, Bodhi, Zarah.. Still no words from Diva though..

The Dee I like is back! Satu2nya alasan saya kasih bintang empat dan bukan lima adalah karena rasa penasaran yang menggila akan apa yang terjadi selanjutnya.

Teteh Dee please jangan membuat kami menunggu lama2 lagi. Hehehe…

“Menjadi kuat bukan berarti kamu tahu segalanya. Bukan berarti kamu tidak bisa hancur. Kekuatanmu ada pada kemampuanmu bangkit lagi ketika berkali-kali jatuh. Jangan pikirkan kamu akan sampai dimana dan kapan. Tidak ada yang tahu. Your strength is simply your will to go on.”

Supernova – Petir By Dee

Penerbit : Truedee Books

Tebal : 225 Halaman

“Maaf, siapa namanya tadi kak?

Elektra.

Elektra-jarang ada yang tahu alasan sebenarnya. Ayahku seorang tukang listrik, atau-eh-ahli elektronik, bernama Wijaya. Tertuliskan besar-besar di plang depan rumah kami dulu : Wijaya Elektronik – Servis dan Reparasi.

Kalau namaku Elektra dan ayahku tukang listrik, bisakah kalian tebak siapa nama kakakku? Watti. Ya, dengan dua t.”

Bwahaha.. Begitulah cara tokoh utama kita bernarasi, Elektra atau akrab dipanggil Etra.. Yang sebenarnya berharap nama kakakknya bukan Watti tapi Voltasia atau Sri Sekering supaya adil, hehe.. Etra yang enggan meninggalkan Bandung karena di kota2 lain yang pernah ia datangi dengan Ayahnya, Etra tidak pernah menemukan cilok (aci dicolok), jajanan khas Bandung yang sangat digemari Etra. That’s how quirky and amusing she is. Saking suksesnya neng Etra, di halaman sepuluh saja saya sudah dibuat tertawa terbahak-bahak.

Semenjak kecil,  Etra tinggal hanya bersama kakaknya yang Drama Queen dan Ayahnya yang hemat bicara. Salah satu persamaan Etra dan Ayahnya adalah mereka berdua pernah tersetrum listrik. Jika setelah peristiwa tersetrum Ayahnya seperti bersahabat dengan listrik (test pen pun akan menyala jika ditempelkan ke badan Ayahnya), maka Etra menjadi penyuka petir. Jika hujan petir datang Etra kecil akan berlari keluar dengan tidak menggubris derasnya guyuran hujan demi melihat kilat menyambar2 menyapa bumi. Kejadian itu membuat kakaknya ngeri dan akhirnya memutuskan untuk mengurung Etra di kamar jika hujan datang.

Tidak lama setelah lulus kuliah, Ayah Etra meninggal dunia karena penyakit jantung. Lalu Watti kakaknya menikah dan mengikuti suaminya pindah ke Tembaga Pura. Tanggungjawab untuk memelihara rumah bergaya belanda mereka (sejak dulu diberi nama Elanor) pun jatuh ke tangan Etra. Faktanya adalah walau tergolong besar, Elanor sama sekali tidak terawat dan dipenuhi oleh barang rongsokan.

Etra dewasa itu orangnya bagaimana ya.. Mmmmm.. Kalo kata orang sunda mah agak2 eweuh kahayang alias tampak seperti tidak ada keinginan. Tapi di sisi lain menyenangkan, polos dan lucu. Etra tidak juga memperoleh pekerjaan (atau tepatnya kurang usaha mencari kali ya) sampai2 Watti gemas dan entah karena tulus bermaksud baik atau iseng kebangetan sempat bermaksud menjodohkan Etra dengan teman suaminya. Tebak namanya ? Napoleon Bonaparte Hutajulu. Bayangkan sebuah undangan pernikahan  berwarna pink yang nama mempelainya Elektra Wijaya & Napoleon Bonaparte Hutajulu. Sampai di sini saya ketawa2 sampe pengen guling2.

Suatu hari datang sebuah amplop berisi undangan untuk menjadi asisten dosen di STIGAN. Apa singkatannya? Sekolah Tinggi Ilmu Gaib Nasional aja dong sodara2. Untuk bergabung Etra harus meninggalkan CV beserta aneka barang2 klenik yang dipersyaratkan di kuburan. Etra yang di suatu titik merasa terpojok, akhirnya dengan putus asanya mencoba memenuhi persyaratan tersebut, apalagi setelah kejadian secara tidak sengaja menyetrum Ni Asih, seorang dukun setempat. Mungkin dirinya memang pantas bergabung di sekolah gaib, pikir Etra.

Keputusan tersebut membawa Etra bertemu Ibu Sati. Sosok teduh keibuan yang berhasil memancing potensi terpendam yang ada dalam diri Etra.

“Ada sedetik mata kami berdua bertemu. Dalam waktu yang sedemikian singkat, aku merasakan banyak. Aku merasa akan bertemu dengannya lagi. Aku merasa hari ini sesuatu yang besar terjadi dalam hidupku. Sebuah perasaan halus serupa bisikan peri dalam mimpi, tapi aku mendengarnya. Jelas.”

Siapa sangka dari sosok yang benar-benar (merasa dirinya) ngga ada istimewa2 nya tersimpan sesuatu yang luar biasa. Etra lalu bertemu dengan Kewoy, Mpret, Mi’un dan Pak Yono yang menyaksikan seorang Etra bertransformasi ke Manusia Super Milenium dan menjadi keluarga tidak sedarahnya. Lengkapnya lebih seru kalo baca sendiri. Hehe.

Ya ampun saya suka banget buku ini. Dibuat ngekek2 sendiri sekaligus geleng2 kepala membaca culun dan polosnya neng Etra. Plus terdapat banyak kalimat bodoran Sunda yang bikin saya tambah seseurian (ketawa2.red) sampe pegel pipi. Buku ini sebenarnya tentang apa ya, ada pencarian diri, ada juga pencarian tujuan hidup dan mungkin yang lebih penting adalah tentang mengambil keputusan untuk percaya sama diri kita sendiri and actually do something.

Tokoh yang paling saya suka selain Elektra tentu saja Kewoy. Sosok Kewoy membuat setengah buku terakhir menjadi lebih seru dengan kelakuannya yang heboh. Sebenernya sih buku ini pantes dapet 5 bintang di goodreads, cuma karena akhirnya yang gantung dan bikin saya ngahuleng (berpikir semi ngelamun.red) apa maksudnya, dengan menyesal saya diskon jadi 4 bintang sajah mengingat lebih dari 5 taun saya menunggu Supernova berikutnya. Hihihi.

Lanjut baca Supernova Partikel sekarang.. Yuk mari..

“Setiap orang punya potensi dalam dirinya Elektra. Setiap orang sudah memilih peran uniknya masing-masing sebelum mereka terlahirkan ke dunia. Tapi, setiap orang dibuat lupa terlebih dahulu. Itulah rahasia besar hidup. Nah, alangkah indahnya kalau kita bisa mengingat pilihan kita secepat mungkin, lalu hidup bagai hujan. Turun, menguap, ada. Tanpa beban apa-apa.”

“Percayalah, setiap pertemuan memiliki maksud yang sempurna. Untuk kamu, saya ada. Dan untuk saya, kamu ada. Kita hadir untuk menyempurnakan satu sama lain.”

Jatuh Cinta By Jevo Jett

Penerbit : Gagas Media

Tebal : 301 Halaman

“Cinta memang tanpa mata. Tak mengenal waktu. Siapapun bisa terkena demamnya. Siapapun bisa saling jatuh cinta. Soal perbedaan usia, status dan lain-lain, itu B.O.H.O.N.G.”

Lucunya, saya cukup menikmati buku ini. Padahal ceritanya remaja banget, wong nyeritain anak SMA. But I have to admit this story is sweet. Terutama saya menyukai karakter utamanya. Seorang cowo kelas tiga sma yang dalam banyak hal tindakannya sangat masuk akal, walau tidak dipungkiri terkadang nakal. Wajar untuk ukuran seorang remaja pria. Membaca cerita tentang Veryd rasanya seperti menyelam langsung ke pemikiran remaja cowo. Hehe.

Ryd, begitu dia biasa dipanggil, tinggal dengan seorang ayah super funky yang dipanggilnya Ebes dan seorang adik perempuan yang baru masuk smp yang bernama Dinda. Ibunya meninggal ketika Dinda masih bayi kecil. Ryd sangat menyayangi adiknya yang besar tanpa seorang sosok Ibu yang mendampingi.

Seperti mayoritas remaja lainnya. Ryd menghadapi pelajaran di sekolah sekedarnya. Ia lebih senang bermain musik plus mendalami kegiatan menggambar yang juga telah menjadi sumber uang jajan tambahannya. Untuk ukuran seorang cowo yang lumayan populer seperti Ryd (dicerita ini digambarkan banyak “dikejar2 cewe soalnya), duduk di kelas tiga sma dan hanya mempunyai satu mantan itu merupakan suatu rekor tersendiri. Tentang hal itu ia pernah berujar dalam hati :

“Kalau mau sekedar buat nakal-nakalan doang sih bisa aja banyak list-nya, tapi saya bukan tipe cowo kayak gitu, saya takut sama karma. Saya juga punya adik perempuan soalnya, dan ngga mau kalau adik saya ada yang nakalin juga.”

Jujur dan masuk akal. Laki-laki yang punya Ibu, adik atau kakak perempuan, dan benar2 menyayanginya akan punya hati nurani yang protes ketika ia mulai mengambil langkah yang dapat menghancurkan hati perempuan. Ryd tidak pernah menyangkal kalo ia sangat tertarik kalo melihat cewe cantik lewat di depan matanya, sesekali bahkan menyuarakan suitan nakal atau teriakan dengan tujuan menggoda. Tapi ya cuma sebatas itu. Ia tidak melakukan tindakan yang lebih lagi karena memang tidak mau bermain-main dan tidak mau mempermainkan orang lain.

Ryd hanya punya satu mantan, Elvera yang menjadi pacarnya selama dua tahun. Ketika masuk sma, Elvera berpindah domisili ke Batam (Ryd tinggal di Malang) dan mereka sepakat untuk berpisah.

Di saat2 terakhir liburan kenaikan kelas Ryd memutuskan secara spontan untuk ber backpacking ria ke Yogyakarta. Saat akan memberi tiket pulang, Ryd baru sadar atm nya patah dan ia tidak punya cukup uang untuk pulang ke Malang. Di saat “kepepet” itu terbersitlah sebuah wajah yang dapat membantu dirinya yang terdampar. Sasa, teman SD nya, idola masa kecilnya yang tinggal Yogya.

Berkunjunglah Ryd ke rumah Sasa. Dan tanpa disangka-sangka timbul suatu perasaan aneh di hati Ryd ketika harus kembali ke Malang dan meninggalkan Sasa. Di saat yang bersamaan ternyata sang mantan, Elvera telah pindah kembali ke Malang dan mencari Ryd. Mencari CLBK, alias Cinta Lama Bersemi Kembali. Hari demi hari Ryd makin menggali ke dalam hatinya. Masih cinta kah ia pada Elvera, atau sekarang arah matahari sudah berpindah ke Sasa?  Dan diceritakan secara wajar, masuk akal. Ngga lebay dan untuk itu saya cukup menikmati cerita ini.

Yang agak kurang mungkin karakter cewe2 nya ya. Kayaknya kok hanya jadi penghias bin pemanis dalam cerita. Antara yang satu dan lainnya kurang kentara perbedaannya. Hehe. Other than that cerita ini manis dan cukup menghibur. Khas dunia remaja.

“Jalan memang masih panjang, namun sepenggal waktu tadi, kelak akan mereka kenang sebagai sebuah kisah klasik manis yang tak terlupakan, dan pohon-pohon akasia yang menaungi bangku taman itu, menjadi saksi bisu sebuah jalinan cerita cinta, menyatunya dua perasaan dalam satu hati, berdua satu tujuan.”

Dunsa By Vinca Callista

Penerbit : Atria

Tebal : 453 Halaman

Sayang sungguh sayang. Sebuah cerita fantasy yang sungguh punya potensi dikembangkan menjadi sesuatu yang luar biasa namun tidak begitu dimanfaatkan dengan maksimal. Di mata saya Prutopian adalah sebuah dunia yang indah dan otentik berasal dari daya khayal pengarangnya. Bukan dari adaptasi cerita2 fantasy yang sekarang sudah menjamur.

Ada empat negara besar di Prutopian, Naraniscala, Delmorania, Ciracindaga dan Fatacetta. Tokoh utama kita adalah seorang remaja perempuan bernama Merphilia Dunsa. Ia tinggal di sebuah daerah nan sepi bernama Tirai Banir dekat Ibu Kota Naraniscala bersama Bibinya yang bernama Bruzila. Seumur hidup Merphilia, atau biasa dipanggil Phi, belum pernah keluar dari daerah tersebut.

Semenjak kecil Bruzila telah melatih Phi dengan berbagai macam kemampuan beladiri. Hasilnya Phi tumbuh menjadi gadis yang tangguh (dan digambarkan secara fisik sangat cantik). Ketika akhirnya Phi diizinkan untuk ikut bibinya ke ibu kota Naraniscala, disanalah ia pertama kali mendengar tentang Ratu Merah.

Tak lama kemudian secara mengejutkan rumah mereka yang terpencil didatangi oleh seorang Zauberei (semacam kaum sakti Prutopian). Dan Phi lebih terkejut lagi ketika tahu bahwa bibinya mengenal Zauberei yang bernama Hewit tersebut. Ada sesuatu kondisi yang teramat penting sehingga mereka harus ikut ke tempat tinggal para Zauberei di Pegunungan Isaura.

Disana Phi menemukan kenyataan aneh bahwa semua orang memanggilnya Putri Cleorinda. Melalui pimpinan kaum Zauberei ia memperoleh informasi bahwa di masa lalu pernah ada seorang penyihir jahat yang mencoba untuk menguasai seisi Prutopian. Penyihir tersebut bernama Ratu Veruna, masyarakat umum memanggilnya Ratu Merah karena warna rambut dan mata nya berwarna merah menyala. Di masa itu Ratu Merah menggunakan bermacam bala tentara dan sebagian besarnya merupakan monster-monster mengerikan yang berasal dari berbagai zaman yang berhasil ia bangkitkan. Masa-masa pemberontakan tersebut dinamai Masa Merah.

Ratu Merah kemudian berhasil dibunuh oleh Jendral Alanisador, yang kini telah menjadi Ratu Alanisador. Pemimpin negeri Naraniscala. Alangkah terkejutnya Phi ketika mendengan bahwa Ratu Merah kini telah bangkit kembali, Ratu Merah tidak pernah benar2 mati, ia menyimpan jiwanya dalam danda merah nya untuk suatu saat dibangkitkan. Dan kali ini ada seseorang yang telah membangkitkan Ratu Merah, jiwanya merasuk pada manusia lain yang belum diketahui identitasnya.

Setelah tiba di istana dan bertemu keluarga kerajaan, Phi lebih terkejut lagi ketika menerima informasi bahwa Ratu Merah hanya dapat dihancurkan oleh sesuatu yang berasal darinya, yang diartikan sebagai keturunannya. Dan anak dari Ratu Merah atau Ratu Veruna adalah Putri Cleorinda alias Merphilia Dunsa.

Phi harus membunuh Ibunya demi seisi Prutopian.

The great side dari buku ini adalah dunianya Prutopian yang indah dengan segala mahluk eksotik dan anehnya yang original berasal dari daya khayal sang pengarang. Gambaran empat negara besar Prutopian juga sangat khas dan unik dan rasa2nya saya belum pernah menemukannya dimana pun. Sangat luar biasa, untuk itu saya acungkan jempol buat pengarang.

Beberapa hal to improve. Pertama karakter Phi, pada awalnya cukup menjanjikan karena ia digambarkan sebagai tough girl. Saya mulai terganggu ketika Skadar masuk ke dalam cerita dan di titik itu karakter Phi kehilangan gregetnya. Romantismenya agak over dan nyinetron, apalagi ketika udah menginjak ke cinta segitiga. Hadeeuuuh. Karakter Phi jadinya ngga berkesan. Dan begitu pula dengan beberapa tokoh lainnya. Yang paling ganggu buat saya adalah Jendral Adelarda yang hobinya marah-marah ngga jelas. Terlalu kekanakan.

Kedua, plot dan alur yang klise. Garis besar atau kerangka dari cerita ini udah keren. Kalo diolah dengan benar bahan bakunya, cerita ini bisa jadi buku berseri yang mengandung kisah yang masuk ke dalam kategori epic. Sayang, sayaaaaang banget deh. Semuanya dibikin selesei secara rusuh dan jatuhnya jadi ngga dalem. Ceritanya jadi ngga punya jiwa.

Ketiga adalah mantra2 dan bahasa native nya yang ngga terkonsep dengan baik. The simpler the better kalo buat mantra sedangkan untuk bahasa native akan lebih baik kalo diberi footnote arti dari kalimat-kalimat tersebut.

Ah sayang deh (udah keberapa kali nih nulis begini). Definitely great material, but unfortunately lack in execution. Maap beribu maap kalo agak nyelekit reviewnya, bukan2 kenapa2, tapi bener2 saya cuma ngerasa lebar pisan (sayang banget.red). This book could be the first Fenomenal Indonesian Epic Fantasy.