Mockingjay By Suzanne Collins

Penerbit : Scholastic

Tebal : 455 Halaman

“It takes ten times as long to put yourself back together as it does to fall apart.”

“I drag myself out of nightmares each morning and find there’s no relief in waking.”

Katniss is only a human, and after one human suffered that much, things will never be the same. This goes not only for Katniss, but also Peeta, Gale and other characters that seems to be changed to be a completely different person in this Hunger Games third series. I love Suzanne Collins for her bravery to take the risk by putting a taste of bitterness, despair and sadness of real life in her story.

There is no such thing as a superhuman, superhero or a happy ever after in real life. The best that we can do is hold on to that tiny little pieces of sanity that we still possess to live another day. And you cannot put back together broken pieces, it is damaged forever. That’s what happened. So it is too much for readers to hope that Katniss will always be that brave girl we encounter in book one.

For me, the transformation of the characters is so real, and I felt them. Things happened, people changed, our self changed, and there is no going back to who we used to be. It’s irreversible.

Kyaaahh, emosi saya bener2 terkuras membaca buku ketiga ini. Banyak ironi yang bikin sesek nafas dan intrik politik yang bikin saya pengen ngelempar karakter2 yang super nyebelin itu ke lobang buaya. But over all I am happy with how the story ends. That’s why I gave 5 stars to this book in Goodreads.

Apa yang akan kamu lakukan jika kamu baru saja menyadari kalau kamu begitu mencintai seseorang melebihi hidupmu sendiri dan di titik kesadaran itu ternyata orang yang kamu cintai lepas dari jangkauan dan ditahan oleh orang paling jahat di dunia yang akan menyiksanya perlahan-lahan untuk membuatmu menjadi patah dan gila.  Plus ternyata rumahmu, daerah asalmu telah diratakan dengan tanah, dihancurkan tanpa ampun berikut mayoritas penduduknya. Semua hancur. Tidak ada lagi District 12. I say we kill him.

Motivasi itulah yang menurut saya membuat Katniss bertahan. Sebegitu rusak dirinya, begitu teringat akan amarahnya pada President Snow maka ia akan bertahan untuk melalui hari2 berikutnya. Sampai dia bisa membunuh sang enemy number one.

Maka dari itu Katniss tidak peduli bagaimana ia lagi2 “hanya dijadikan alat” oleh para pemimpin kaum pemberontak di District 13 (ya, district 13 ternyata masih ada, selama ini mereka hidup dengan peralatan super canggih di bawah tanah, dipimpin oleh seorang wanita paruh baya super dingin bernama Coin, menunggu momen untuk menghancurkan Capitol). Terlempar dari kepentingan satu ke kepentingan lainnya. Kekuasaan satu ke kekuasaan lainnya. Menjadi boneka simbol pemberontakan, sang Mockingjay.

Most of the times Katniss terasa seperti hantu, seperti bayang2. Apalagi setelah mengetahui bahwa President Snow telah melakukan sesuatu yang lebih buruk dari membunuh Peeta. Mereka telah mencuci otak Peeta,  mengubah memorinya, membuat Peeta berpikir bahwa Katniss adalah Mutt (mahluk dengan rekayasa genetika buatan Capitol), dan me-reprogram Peeta untuk membunuhnya. Setelah itu tidak ada lagi yang berarti. Everything is lost. Except her own hunger to kill President Snow.

Jadilah Katniss melatih keras dirinya untuk menjadi seorang prajurit, dengan janji akan diikutsertakan dalam penyerangan langsung ke Capitol. Katniss berhasil mengumpulkan seluruh will power nya dan lulus menjadi seorang prajurit untuk mendapati bahwa dirinya masih dianggap sebagai lelucon oleh Coin. Ia beserta Gale dan Finnick memang ikut dalam penyerangan ke Capitol, namun hanya untuk kepentingan pengambilan gambar another propaganda. Such a joke.

Ketika segala sesuatu yang diskenariokan berjalan salah. Katniss memutuskan untuk melaksanakan niatnya semula. Masuk ke sarang musuh dan membunuhnya.

Saya bisa mengerti kenapa banyak pembaca tidak terlalu menyukai buku ketiga ini. Terlalu banyak tokoh yang terlanjur kita saya sayangi pada akhirnya mati. Sedangkan sang tokoh utama maju mundur berjuang untuk tetap waras while the others die for her cause. Sangat menyedihkan. But when that one flicker moments when finally Katniss come to her senses and have a clear view how to end the vicious circle and actually doing it. Pfiuuuhh what a relief. Rasanya sangat puas. At last there is hope for a better future. Tidak ada lagi ulterior motive karena rasa haus akan kekuasaan.

Dan tentang perasaan Katniss. Ah, kita juga tau dari buku kedua kepada siapa sebenarnya hati Katniss berlabuh. Karakter yang pada akhirnya paling saya sukai adalah Haymitch Abernathy, bagaimana pada akhirnya dia menjadi sosok yang paling mengerti Katniss dan berperan sebagai figur bapak (walau agak urakan) untuk Katniss dan Peeta. Cinna sang cool & brilliant stylist yang tidak banyak omong tapi menolak untuk disetir President Snow. Juga Finnick, sang don juan yang ternyata hanya punya satu cinta sejati dalam hidupnya. Dan pada akhirnya Katniss. Of course Katniss. She who despite in what condition, survive it all. What a book! What a story!

“What I need is the dandelion in the spring. The bright yellow that means rebirth instead of destruction. The promise that life can go on, no matter how bad our losses. That it can be good again. And only Peeta can give me that.”

“You love me. Real or not real?”
I tell him, “Real.”

Luka dan Api Kehidupan By Salman Rushdie

Penerbit : Serambi

Tebal : 294 Halaman

Alih Bahasa : Yuliani Liputo

Pertama-tama sodara-sodara, Luka ini adalah nama seorang anak laki-laki. Kedua, ternyata ceritanya masih nyambung sama Harun dan Samudera Dongeng yang udah lamaaaa banget saya punya dan baca. Buku Harun itu lumayan berkesan soalnya waktu itu genre fantasi belum booming kayak sekarang-sekarang. Dan kalo ditilik-tilik (dilihat secara teliti.red) Harun & Samudera Dongeng dan Luka & Api Kehidupan ini agak2 condong ke magic realism juga.

Luka ternyata adalah adik Harun yang terpisah lahir 18 tahun. Bersama orang tuanya Rashid Khalifa & Soraya, mereka tinggal di Kota Kahani, bagian dari sebuah negeri (ajaib) yang bernama Alif Bay. Ayahnya Luka berprofesi sebagai pendongeng. Luka telah familiar dengan petualangan kakaknya Harun di negeri dongeng, ketika Harun masih seumur Luka. Diam-diam luka merasa sedikit iri dengan petualangan Harun dan sangat mendambakan petualangannya sendiri.

Suatu waktu ketika Luka berumur dua belas tahun, rombongan sirkus datang ke Kahani. Rombongan sirkus yang bernama Great Rings of Fire tersebut sangat terkenal di seluruh pelosok negeri Alif Bay. Luka sangat ingin menyaksikan rombongan tersebut lewat, namun Ayahnya tidak berniat pergi. Luka baru mengatahui dari Ayahnya bahwa sekarang sirkus tersebut dipimpin oleh seorang Ringmaster bernama Kapten Aag yang sangat kejam terhadap seluruh binatang.

Esok harinya ketika pulang sekolah Luka melihat rombongan sirkus tersebut lewat. Seketika luka jatuh kasihan pada hewan-hewan yang tampak kurus, tak terawat dan menderita. Luka merasa marah, dan ketika Kapten Aag berada tepat di depannya Luka berteriak sekuatnya, “Semoga semua binatangmu berhenti mematuhi perintahmu dan cincin apimu melalap habis tenda jelekmu.”

“Dan dalam keheningan magis itu suara Luka melengking sejelas bunyi tembakan, kata-katanya membahana hingga memenuhi langit, dan mungkin bahkan menemukan jalan ke rumah Takdir yang tak terlihat, yang menurut beberapa orang menguasai seluruh dunia.”

Malam harinya kata-kata yang dilontarkan Luka menjadi kenyataan. Hewan-hewan sirkus memberontak, tenda sirkus terbakar. Keesokan paginya, seekor anjing dengan lencana di ikatan lehernya bertuliskan “Beruang” dan seekor beruang dengan lencana di ikatan lehernya bertuliskan “Anjing” muncul di pintu rumah Luka. Mereka adalah hewan sirkus yang telah melarikan diri dan entah bagaimana caranya menemukan jalan ke rumah Luka.

Di hari-hari berikutnya anjing dan beruang tersebut menjadi sahabat terbaik Luka. Satu bulan lebih satu hari setelah kedatangan kedua hewan tersebut, galaksi tiba-tiba menyala dengan terang di malam hari. Dan pada malam hari itu Rasyid Khalifa, pendongeng legendaris Kahani, jatuh tertidur dengan senyum di wajahnya, dan tidak bangun lagi keesokan paginya. Dia terus tertidur, tidak ada seorang pun yang bisa membangunkannya. Para dokter pun tidak mengetahui apa yang harus di lakukan.

Hari demi hari berlalu. Di suatu malam Luka berhasil mengetahui bahwa semua ini adalah ulah Kapten Aag yang mendendam. Kejadian-kejadian berikutnya memberikan petunjuk pada Luka bahwa ia harus berpetualang ke Negeri Dongeng, dengan ditemani kedua hewan kesayangannya. Untuk membuat Ayahnya bangun, Luka harus mencuri api kehidupan di negeri dongeng. And the journey begin..

Hhhmm.. Inget banget dulu bagaimana kisah Harun sangat berkesan buat saya. Bahkan saya lebih suka Harun dan Samudera Dongeng daripada Midnight’s Children dan Satanic Verses. Hehe. Tapi entah deh, mungkin karena sekarang sudah terlalu banyak cerita fantasi yang bagus, cerita Luka dan Api Kehidupan ini tampak average saja kadar serunya. Maybe I’ll be able to understand the english version of this book better than the translated one. Banyak kata yang tricky untuk diterjemahkan sepertinya. Hehe.

Catching Fire By Suzanne Collins

Penerbit : Scholastic

Tebal : 472 Halaman

“In that one slight motion, I see the end of hope, beginning of destruction of everything I hold dear in the world. I can’t guess what form my punishment will take, how wide the net will be cast, but when it is finished,  there most likely be nothing left. So you would think that at this moment, I would be in utter despair . Here’s what’s strange. The main thing I feel is a sense of relief. That I can give up this game.”

Sempat berburuk sangka dalam 1/3 halaman pertama bahwa jalan cerita seri kedua The Hunger Games ini akan dibawa ke arah cinta segitiga yang nyebelin. Setelah menutup halaman terakhir bersyukur banget kalo prasangka saya salah besar. Hehe. Semakin kesini saya semakin suka arah jalan cerita yang lebih kaya intrik politik dan tokoh2nya yang semakin lovable (menurut saya). Plus munculnya enemy number one versi karakter buku, siapa lagi kalo bukan President Snow.

Dari awal ya? Di akhir buku pertama untuk menghindari kenyataan bahwa mereka harus saling membunuh Katniss mengeluarkan buah berry beracun, dan Peeta mengerti maksud Katniss. It is better if the both die. Tepat di saat mereka berdua memasukan buah berry beracun ke mulut masing2 para Gamemakers secara tiba2 merubah keputusan dan mengumumkan bahwa mereka berdua menang.

Di titik itu Katniss belum sepenuhnya menyadari akibat dari tindakannya. Dalam momen2 berikutnya ia baru menyadari bahwa tindakannya mengeluarkan buah berry tersebut dipandang sebagai bentuk perlawanan terhadap peraturan yang telah dibuat Capitol, therefore apa yang diperbuatnya sama dengan sebuah wujud pemberontakan. Untuk menyelamatkan mereka berdua Haysmith memerintahkan Katniss untuk berlaku seakan2 tindakannya dimotivasi oleh cinta buta dalam wawancara penutupan mereka.

Wawancara penutupan sukses. Penduduk Capitol dibuat termehek2 dengan kisah cinta Katniss dan Peeta. Dalam perjalanan pulang Peeta terkejut ketika Katniss bercerita tentang pengarahan Haysmith, Peeta sama sekali tidak mengetahuinya dan baru tersadar bahwa motivasi Katniss selama ini adalah hanya “how to survive the game” sedangkan Peeta benar2 tulus mencintai Katniss. Kaget dan terluka, semenjak saat itu Peeta dan Katniss menjaga jarak. Imho, saya ngga yakin motivasi Katniss 100% hanya untuk survival, hanya saja si neneng memang too numb to notice.

Setelah pulang ke District 12 mereka pindah ke Victors Village. Perumahan khusus tempat para pemenang The Hunger Games dari District 12 tinggal. Hanya 3 rumah yang terisi, milik Haysmith, milik Katniss dan milik Peeta. Semenjak saat itu Katniss dan Peeta tidak pernah kekurangan sesuatu apa pun.

Diantara Hunger Games yang sudah lewat dan Hunger Games berikutnya, pemenang diwajibkan untuk melaksanaan tour dari satu district ke district lainnya. Motivasi Capitol sebenarnya sangat jelas, agar warga district tidak sempat melupakan teror yang menunggu. I slightly admire how they manage their citizens by pure fear, di titik ini ceritanya hampir condong ke 1984 nya Orwell dan bukan lagi cerita young adults alias remaja.

Katniss sangat terkejut ketika suatu hari pulang ke rumah ada seorang tamu istimewa menunggunya. Tak lain dan tak bukan adalah penguasa Panem, sang diktator, President Snow yang membawa wewangian mawar campur darah ke setiap sudut ruang yang ditempatinya.

Ternyata sang Presiden sangat membenci tindakan Katniss dan bisa membaca bahwa motivasi “cinta buta” itu hanya sandiwara. Tindakan Katniss dianggap sebagai contoh pemberontakan untuk warga lainnya dan dapat memicu perlawanan dari District2, karena pada akhirnya Katniss menang, karena di saat2 terakhir pimpinan Gamemakers memutuskan untuk menyelamatkannya. Sang Presiden sendiri berpendapat bahwa sang pimpinan Gamemakers terlalu sentimentil dan menginformasikan kepada Katniss kalo ybs telah dihukum mati karena perbuatannya itu.

Presiden Snow juga telah mengetahui bahwa semenjak kembali ke District 12 hubungan Katniss dan Peeta berjarak, belum lagi komplikasi dari keberadaan Gale, sahabat Katniss yang ternyata menaruh perasaan terhadapnya. Sang Presiden tahu segalanya. Singkat kata sang Presiden memberikan peringatan kepada Katniss, bahwa ia harus tetap bersandiwara sebagai sepasang kekasih yang dimabuk cinta dengan Peeta, jika tidak maka taruhannya adalah seluruh nyawa keluarga mereka berdua.

Tour pun dimulai. Pada beberapa situasi spontanitas Katniss justru membawa efek yang berlawanan dengan yang diinginkan Presiden Snow, dan Katniss juga mulai melihat kenyataan bahwa mungkin memang betul pemberontakan telah dimulai. Saat tour berakhir di Capitol, Katniss menerima verdict nya dari Presiden Snow. Sandiwara yang telah dilakukannya tidak berhasil. Mimpi2 buruk Katniss pun dimulai. Di saat2 seperti ini Peeta selalu ada di samping Katniss, menemani Katniss tidur, menenangkannya ketika mimpi buruk datang. Oh sweet Peeta..

“Peeta, how come I never know when you’re having a nightmare?” I say.

“I don’t know. I don’t think I cry out or thrash around or anything. I just come to, paralyzed with terror,” he says.

“You should wake me,” I say, thinking about how I can interrupt his sleep two or three times on a bad night. About how long it can take to calm me down.

“It’s not necessary. My nightmares are usually about losing you,” he says. “I’m okay once I realize you’re here.”

Aaaawwwww.. Jitak Katniss lagi..

Hukuman datang melalui perayaan Quartel Quell. Setiap 25 tahun pelaksanaan Hunger Games, para panitia sakit jiwa di Capitol merayakannya dengan event khusus yang dinamakan Quarter Quell. Pada perayaan Quarter Quell biasanya peserta The Hunger Games ditentukan dua kali lebih banyak. Dalam arti setiap District harus mengrimkan dua pasang anak laki2 & perempuan.

Sesuatu yang berbeda terjadi tahun ini. Presiden Snow mengumumkannya lewat siaran langsung. Untuk perayaan 75 tahun The Hunger Games alias Quarter Quell tahun ini, peserta diambil dari para pemenang Hunger Games yang telah lewat. Setiap Distric harus mengirimkan sepasang pemenang. Artinya ? Artinya adalah Katniss is back in the game. Dan kali ini Katniss dan Haysmith sepakat bahwa mereka harus menyelamatkan Peeta. They owe him that dan Katniss merasa bahwa semua ini diskenariokan untuk memastikan ia mati, jadi lebih baik menjadikan kematiannya berguna dengan menyelamatkan Peeta.

“I have a mission. No, it’s more than a mission. It’s my dying wish. Keep Peeta alive.”

Oh ya ampyun saya sangat menyukai arah jalan cerita buku ini. Sungguh susah untuk berhenti baca. Di buku kedua ini juga kita akan berkenalan dengan karakter2 baru yang menarik, terutama para pemenang Hunger Games di masa lalu yang ikutan kembali ke arena, diantaranya ada Finnick, Johanna, Beete, Mags. Di buku kedua ini juga kita mulai bisa membaca apa yang terjadi termasuk Katniss dan Peeta. Ending yang mengagetkan bakalan membuat pembaca gigit jari dan yakin banget akan segera grabak grubuk nyari dan baca buku ketiganya.

“All I want to do is collapse on my metal plate. But I can hardly do that after what I just witnessed. I must be strong. I owe it to Cinna, who risked everything by undermining President Snow and turning my bridal silk into mockingjay Plumage. And I owe it to the rebels, emboldened by Cinna’s example, might be fighting to bring down the Capitol at this moment. My refusal to play the Games on the Capitol’s terms is to be my last act of rebellion. So I grit my teeth and will myself to be a player.”

“At some point, you have to stop running and turn around and face whoever wants you dead.The hard thing is finding the courage to do it.”

“You know, you could live a thousand lifetimes and not deserve him.”

The Hunger Games By Suzanne Collins

Penerbit : Scholastic

Tebal : 454 Halaman

“Panem, the country that rose up out of the ashes of a place that was once called North America. A shining capitol ringed by thirteen districts, which brought  peace and prosperity to its citizens. Then came the dark days, the uprising of the districts against the capitol. Twelve were deveated, the thirteenth obliterated. “

Begitulah sejarah Panem, negara ex Amerika Utara yang kini menjadi tempat tinggal seorang anak perempuan berumur 16 tahun bernama Katniss Everdeen. Tepatnya, Katniss tinggal di District 12, tempat para penambang batu bara.

Untuk senantiasa memperingati sekaligus menghukum warganya atas peristiwa pemberontakan tersebut, para penguasa di Capitol menciptakan permainan yang disebut The Hunger Games. Setiap distrik harus mengikutsertakan sepasang anak perempuan dan laki-laki berumur antara 12-18 tahun. Ke 24 anak tersebut dikumpulkan di Capitol untuk menjadi peserta The Hunger Games.

Apa itu The Hunger Games? Para penguasa (yang teramat sangat sakit jiwa menurut saya) setiap tahunnya menciptakan area buatan tertutup yang sangat luas, dimana 24 anak tersebut akan ditempatkan disana untuk saling membunuh. Ya, saling membunuh sampai hanya tersisa satu anak sebagai pemenangnya. Gilanya lagi, seluruh pergerakan anak2 tersebut direkam layaknya reality show disiarkan di TV dan menjadi tontonan wajib seluruh warga. Dengan kata lain para orang tua dipaksa melihat anaknya membunuh atau dibunuh. How sick is that?

Back to Katniss. Si neneng tinggal bersama Ibunya dan seorang adik perempuan berumur 12 tahun yang bernama Prim. Ayah Katniss meninggal ketika Katniss berumur 11 tahun dalam suatu ledakan di tambang batu bara. Setelah Ayahnya meninggal, Ibu Katniss menderita depresi berat sehingga sama sekali tidak bisa merawat Katniss dan Prim. Untuk melindungi adiknya Katniss pun mengambil peran sebagai kepala keluarga. District 12 adalah daerah miskin dimana kebanyakan warga harus berjuang untuk bisa makan.

Katniss melakukan segala cara. Termasuk melakukan kegiatan ilegal seperti berburu hewan liar di luar batas district untuk kemudian dijual dagingnya. Melalui kegiatan perburuan tersebut Katniss bertemu dengan Gale yang dua tahun lebih tua darinya. Katniss dan Gale menjadi sahabat sekaligus partner berburu. Berkat kegiatan berburu itu pula Katniss menjadi pemanah yang handal.

Setiap anak dari seluruh 12 district ketika berumur 12 tahun akan secara otomatis didaftarkan menjadi peserta The Hunger Games. Siapa yang akan menjadi peserta dari setiap district akan ditentukan melalui mekanisme undian. Anak yang terdaftar akan mendapatkan jatah rutin makanan (sangat seadanya) untuk satu orang sepanjang tahun. Anak yang berasal dari keluarga kurang mampu dapat mendaftarkan namanya lebih dari 1 kali (dengan probabilitas terpilih yang otomatis bertambah) untuk mendapatkan jatah makanan lebih bagi anggota keluarga lainnya.

Itulah yang dilakukan Katniss. Pada umur 12 ia mendaftarkan namanya empat kali. Di tahun-tahun berikutnya banyaknya nama yang dimasukan akan otomatis berlipat,  jadi diumur 16 Katniss terdaftar sebanyak 20 kali. Tahun ini untuk pertama kalinya juga adiknya Prim secara otomatis terdaftar. Katniss bertekad agar Prim jangan sampai harus mendaftarkan namanya lebih dari satu seperti yang telah Katniss lakukan.

Katniss adalah anak perempuan yang karena keadaan terbentuk menjadi pribadi yang dingin, keras, pragmatis dan sangat protektif terhadap keluarganya.

Saat pengundian perserta, setiap warga diwajibkan untuk menggunakan pakaian terbaiknya dan berkumpul di alun-alun. Saat kertas undi dibuka dan terbaca nama Prim Everdeen, tidak butuh waktu berpikir lama bagi Katniss untuk lari ke depan mimbar dan secara sukarela mendaftarkan diri untuk menggantikan adik tersayangnya. Penduduk district 12 tercenung, mereka telah mengenal Katniss dan Prim sepanjang hidupnya.

“Instead of acknowledging applause, I stand there unmoving while they take part in the boldest form of dissent they can manage. Silence. Which says we do not agree. We do not condone. All of this is wrong.

Then something unexpected happens. At least, I don’t expect it because I don’t think of District 12 as a place that care about me. But a shift has occurred since I stepped up to take Prim’s place, and now it seems I have become someone precious. At first one, then another, then almost every member of the crowd touches the three middle fingers of their left hand to their lips and holds it out to me. It is an old gesture of our district, occasionaly seen at funerals. It means thanks, it means admiration, it means goodbye to someone you love.”

Katniss berusaha keras menahan air matanya (I love her when she does this, bravo you strong girl, don’t ever let them see your tears). Satu lagi nama yang dibacakan jatuh pada Peeta Mellark, anak seorang pemilik toko roti yang di masa lalu pernah secara tidak terduga menolong Katniss ketika ia sedang kelaparan mencari makanan untuk ia dan keluarganya.

Katniss dan Peeta diberikan kesempatan untuk bertemu dengan orang2 terdekat mereka (untuk terakhir kalinya?) dan kemudian dibawa ke Ibukota Panem, Capitol yang penuh dengan cahaya, gedung2 tinggi dan kemewahan.

Katniss pun dipertemukan dengan orang2 yang nantinya akan berperan dalam posisinya dalam The Hunger Games, mentornya Haysmith dan Effie, penata gayanya Cinna, para gamemakers yang against all odds terkesan dengan “pemberontakan kecil” Katniss, Rue gadis kecil dari district 11 yang juga menjadi peserta Hunger Games. Katniss pun selanjutnya dikenal sebagai The Girl who was on Fire.

Aiiiiiyaaaa.. Gemes banget belum2 aja nonton filmnya, huuuuu.. Saya seneng banget sama karakternya Katniss. Contoh bagus buat anak2 muda jaman sekarang yang kebanyakan ngeliat tokoh cewe model Bella di Twilight (no hard feeling buat penggemar twilight ya). Katniss yang pragmatis, tenang, pejuang keras yang pantang menye2. Hehe. Tapi harus diakui when it comes to Peeta, Katniss sangat clueless sampe2 saya dibuat gemes, hehe. Tapi harus diakui itulah side effect yang mungkin muncul dari seseorang yang bersikap terlalu keras pada dirinya sendiri. Sisi lain yang berkaitan dengan urusan emosi bisa menjadi agak tumpul. Poor Peeta.. Hehe..

Apa yang terjadi dengan Katniss and Peeta? Iiiisshhh rugi banget kalo sampe belum baca buku ini. Baca deh! Young adult dystopian yang terseru yang pernah saya baca sampe sekarang.

“Only I keep wishing I could think of a way…to show the capitol they don’t own me. That I’m more than a piece in their games.”

Hujan dan Teduh By Wulan Dewantra

Penerbit : Gagasmedia

Tebal : 248 Halaman

Beli buku ini karena tertarik sama cap di cover depannya “Juara Pertama Kompetisi Menulis 100% Roman Asli Indonesia”, covernya yang manis and sinopsis di belakang bukunya ..

“Kepadamu, aku menyimpan cemburu dalam harapan yang tertumpuk oleh sesak dipenuhi ragu.

Terlalu banyak ruang yang tak bisa aku buka. Dan, kebersamaan cuma memperbanyak ruang tertutup.

Mungkin, jalan kita tidak bersimpangan. Ya, jalanmu dan jalanku. Meski, diam-diam, aku masih saja menatapmu dengan cinta yang malu-malu.

Aku dan kamu, seperti hujan dan teduh. Pernahkah kau mendengar kisah mereka? Hujan dan teduh ditakdirkan bertemu, tetapi tidak bersama dalam perjalanan. Seperti itulah cinta kita. Seperti menebak langit abu-abu.

Mungkin, jalan kita tidak bersimpangan….

Seems promising kan.. Dan saya yang sedang bertekad memperluas preferensi genre pun akhirnya mengantongi buku ini pulang..

Dan hasilnya.. Mmmm.. Not my cup of tea sepertinya ya.. Someone once said that trust is like a mirror, if it is broken you can never put back the pieces together, the cracks will always be there. It will never be the same. So.. Miss Bintang in this story must be daydreaming..

Kembali ke buku ah. Jadi.. Tokoh utama dalam cerita ini adalah seorang perempuan bernama Bintang. Ceritanya ditampilkan bolak balik antara flashback masa sma nya Bintang, masa kuliahnya Bintang dan masa kini.

Di cerita flashback tentang masa sma saya dibawa ke kisah miris Bintang dan Kaila. Bagaimana prasangka dan penilaian dari orang lain bisa lebih kejam daripada vonis yang dijatuhkan hakim, bahkan Tuhan, dan menghancurkan orang hingga tidak bersisa.

Di cerita flashback masa kuliah saya dibawa ke kisah bodoh Bintang dan Noval. Kenapa saya sebut kisah bodoh, saya tidak semerta-merta menghakimi. Tapi saya mengenali kebodohan itu. I’ve been there. Rasa terperangkap dalam ruangan tertutup, tahu bahwa harus keluar dari ruangan tersebut, bahkan pintunya juga tidak dikunci tapi somehow tidak bisa membuat kaki berusaha untuk keluar bahkan satu langkah pun.

Di masa kini Bintang dihadapkan dengan pilihan yang dilematis. Jerat tali nasib tidak akan sepenuhnya melepaskan seseorang. Ada sebab pasti ada akibat. Setiap pilihan selalu memiliki konsekuensi.

Ah saya kurang sreg dengan endingnya. Atau memang saya nya aja yang ngga bisa menilai buku ini secara objektif. Sama sekali tidak percaya kesempatan kedua yang diberikan Bintang akan berakhir bahagia. What do you expect girl? Haven’t you been hurt deep enough? Ah sudahlah..

The Girl Who Kicked The Hornets’ Nest By Stieg Larsson

Penerbit : Quercus

Tebal : 743 Halaman

Dear God.. Sesunggunya lebih dari sekedar sarang lebah (hornets’s nest) yang terusik oleh sepak terjang Lisbeth Salander, our heroine di buku ketiga dari Millenium trilogi ini. Sangat senang di buku kedua dan buku ketiga ini Stieg Larsson memutar fokus cerita kepada Lisbeth.

“My name is Lisbeth Salander. I was born on 30 April 1978. My mother was Agneta Sofia Salander. She was seventeen when I was born. My father was a psychopath, a killer and wife beater whose name was Alexander Zalachenko. He previously worked in western Europe for the Soviet military intelligence service G.R.U…”

Itu adalah sepenggal paragraf yang Lisbeth tulis dalam autobiografi yang akan digunakan sebagai material pembelaan dalam sidang yang akan dia hadapi. Sidang ? Ya, terakhir kali kita bertemu Lisbeth ybs sedang berada dalam kondisi sekarat karena tertembak di kepala.

Lisbeth ditemukan oleh Mikael Blomkvist, seorang jurnalis dari majalah Millenium yang juga merupakan ex co workers/ ex lovers/ ex best friend nya Lisbeth. Di buku kedua diceritakan bahwa Lisbeth sedang menghindari Mikael karena menyadari kalo dirinya merasakan sesuatu yang seharusnya tidak dirasakan dan she’s simply couldn’t handle those kind of feeling so she avoid him instead.

Tapi dasar nasib bagaimanapun juga dihindari ternyata kehidupan mereka terus saling berkaitan sampai akhirnya Mikael berhasil menemukan Lisbeth, walau nyaris terlambat. Lisbeth lalu dilarikan ke rumah sakit dan secara luar biasa berhasil diselamatkan. Walaupun demikian Lisbeth tetap terkena dakwaan atas upaya pembunuhan.

Setelah itu kita akan digiring untuk menemui fakta demi fakta bahwa kehidupan Lisbeth memang sedari kecil sudah diacak-acak karena kepentingan suatu kelompok kecil di dalam Swedish Intelegent yang berusaha melindungi mantan agen Rusia yang telah diberi suaka oleh mereka dengan kompensasi informasi2 yang dibutuhkan oleh Swedia. Orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Alexander Zalachenko, ayah dari Lisbeth Salander.

Lisbeth ternyata adalah korban dari konspirasi besar yang melibatkan suatu kelompok rahasia dalam badan intelegen Swedia. Dan pada kesempatan ini mereka sekali lagi berusaha untuk menjebloskan Lisbeth ke dalam rumah sakit jiwa, kali ini untuk selamanya. Beruntung Lisbeth memiliki beberapa pendukung setia yang betul2 mengetahui siapa dirinya yang berusaha keras untuk mengungkap fakta yang sebenarnya.

Blomkovist beserta kru Millenium, Dragan Armanksky mantan bos nya di Milton sekuriti, Palmgren, Bublanski dan yang terpenting komunitas hackers dimana Lisbeth adalah salah satu anggota pentingnya. Bersama mereka membentuk kelompok The Knight of the Idiotic Table untuk satu tujuan bersama, membantu Lisbeth Salander selamat dari konspirasi jahat yang memojokkannya dan juga membongkar seluruh konspirasi tersebut.

Can they do it against all odds? Waaaa super duper rame deh. Buku ketiga ini sungguh penuh dengan konspirasi besar yang melibatkan tokoh-tokoh penting Swedia. Stieg Larsson betul-betul memperluas skala konfliknya. Walaupun edisi bhs inggrisnya ini lumayan tebel, 743 halaman, sama sekali ngga kerasa bacanya saking seru dan bikin penasarannya cerita di buku ini. Ini pun udah kepotong dua hari puasa baca gara2 audit mendadak.

Sedih ngga bisa membaca tentang Lisbeth Salander lagi (krn Stieg Larsson nya sudah almarhum). Lisbeth Salander bener-bener salah satu karakter buku favorit saya sepanjang masa. Jadi pengen nonton filmnya. Tapi tetep ah Daniel Craig to handsome to be Don Juan Mikael Blomkvist. Hehe.

Sweetness at the Bottom of the Pie By Alan Bradley

Penerbit : Bantam Books

Tebal : 373 Halaman

“As I stood outside in Cow Lane, it occurred to me that Heaven must be a place where the library is open twenty-four hours a day, seven days a week.

No … eight days a week.”

Perkenalkan detektif cilik kita, namanya Flavia de Luce. Seorang anak perempuan quirky berumur 11 tahun yang hobi berkutat di laboratorium kimia pribadinya dan hobi membaca buku-buku yang berhubungan dengan science.

Flavia punya dua orang kakak perempuan yang bernama Ophelia dan Daphney. Flavia dan kedua kakaknya jarang sekali akur dan lebih sering balas membalas iseng. Mereka tinggal bersama seorang Ayah yang pendiam dan menjaga jarak.

Hhhhmm.. Flavia ini sedikit berbeda dari anak-anak perempuan kebanyakan.. Selain karena dia sangat “gila ilmu” dan hobi melakukan percobaan2 (yang cukup berbahaya), Flavia juga punya rasa ingin tau yang kebangetan (menurut ukuran saya) sampe kadang-kadang gemes sendiri baca ceritanya..

Suatu malam Flavia mendapati Ayahnya sedang berbicara dengan nada agak keras dengan seorang pria berambut merah yang tidak ia kenali. Pagi berikutnya Flavia mendapati pria tersebut tergeletak di kebun, ketika didekati ternyata kemudian ia menghembuskan nafas terakhirnya sambil mengucap satu kata terakhir “Valle”..

Di sinilah segala sesuatu bermulai. Flavia dengan tingkat curiosity yang super duper tidak bisa menahan dirinya untuk mencari tahu dan step by step menemukan fakta demi fakta atas kematian si pria misterius.. Luckly Flavia adalah tipe manusia yang tahu kemana harus mencari, modal dasar untuk menjadi seorang detektif.

Semuanya berkaitan dengan masa remaja ayahnya. Dimana pada saat itu di sekolah ayahnya terjadi kematian seorang guru yang cukup tragis, ia melompat dari menara. Konon guru tersebut memutuskan untuk bunuh diri karena insiden hilangnya selembar prangko langka, satu-satunya di seantero Inggris. Pencarian yang  ternyata membahayakan jiwa namun along the way membuat Flavia lebih mengenal kepribadian ayahnya.

Cerita ini british banget, hehe. Saya sebenernya menyukai karakter Flavia yang quirky dan kadang sok tau, tapi dalam beberapa titik memang anak itu kebangetan karena hobi banget menyerempet2 bahaya. Selain dari itu karakter kedua kakaknya yang drama queen banget juga cukup menarik karena kontras banget dengan Flavia.

Yang saya ngga ngerti adalah why would anybody killed each other over a stamp? Hehe.. Ntahlah mungkin saya aja yang kurang paham. Mudah-mudahan di buku berikutnya Flavia dihadapkan dengan misteri yang lebih “mengigit” deh! Dan bagaimanapun saya tetap akan membaca buku berikutnya 😉

Thanks to mia yang udah minjemin buku ini!! Tengkyuuu yaaa..

Ronggeng Dukuh Paruk By Ahmad Tohari

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 404 Halaman

Hyaaaahh menyesal baru membaca salah satu novel fenomenal Indonesia ini sekarang. Dari jaman kuliah saya udah berkali-kali megang2 terbitan lama buku ini. Terus keingetan lagi waktu kemaren2 heboh tentang film sang penari. Baru “ngeh” kalo film itu diangkat dari novel Ronggeng Dukuh Paruk. Dan ternyata di toko2 buku terbitan lama udah ngga ada dan diganti dengan terbitan barunya dengan gambar cover para pemain filmnya. Ngga begitu suka dengan cover barunya ini. Agak2 missleading. Mengesankan roman menye2 padahal intinya sama sekali bukan tentang itu.

Positifnya adalah ternyata terbitan baru ini memasukkan kembali bagian2 yang di sensor di terbitan lama pada zaman orde baru dan merupakan penyatuan dari trilogi yang masing2 ditulis oleh Ahmad Tohari pada tahun 1982 (Ronggeng Dukuh Paruk), 1985 (Lintang Kemukus Dini Hari) dan 1986 (Jantera Bianglala).

Alkisah sebuah daerah terpencil di pulau Jawa yang bernama Dusun Dukuh Paruk. Dusun tersebut dapat dikatakan memiliki budaya dan nilai tersendiri yang terisolasi dari nilai-nilai yang berlaku pada umumnya. Konon, semua warga Dukuh Paruk berasal dari satu keturunan, yaitu dari sesepuh pendiri Dusun Dukuh Paruk yang bernama Ki Sacamenggala.

Membaca buku ini anda harus terlebih dahulu melepaskan diri dari prasangka dan kaca mata kuda nilai2, etika atau tata krama yang berlaku secara umum. Budaya adalah budaya. Pola pikir dan prilaku warga Dukuh Paruk adalah manifestasi dari budaya yang telah mengakar dan sudah diterima sebagai fitrah atau aturan hidup yang memang berlaku disana. Jangan dinilai benar atau salahnya.

Warga Dukuh Paruk memuja arwah Ki Sacamenggala dan senantiasa memohon petunjuk atas segala pertanda hidup dengan persembahan dan sesaji di makam sang leluhur tersebut. Satu-satunya hal yang cukup terkenal dari Dukuh Paruk adalah budaya Ronggeng nya. Untuk warga dukuh paruk, Ronggeng adalah perlambang kehidupan dan kebanggaan dari dusun tersebut.

Sudah lama Dukuh Paruk tidak memiliki seorang Ronggeng. Untuk menjadi seorang Ronggeng sejati, seorang perempuan Dukuh Paruk harus dirasuki/ditinggali oleh Indang Ronggeng (saya ngga menemukan padanan bahasanya) terlebih dahulu. Sampai suatu ketika salah seorang tokoh yang dituakan di Dukuh Paruk, Sancaya namanya, melihat cucu perempuannya Srintil, ketika itu berumur 11 tahun menari dan menyanyi. Seketika itu Sancaya yakin bahwa Srintil telah dihinggapi oleh Indang Ronggeng.

Kartareja, seorang tetua yang berpengalaman dalam hal membina seorang Ronggeng memastikan hal tersebut. Melalui suatu ritual upacara di makam Ki Sacamenggala dipastikan bahwa Srintil adalah generasi baru Ronggeng dari Dukuh Paruk. Srintil kemudian dititipkan kepada Kartareja dan istrinya untuk dibina menjadi seorang Ronggeng.

Srintil, cucu Sancaya adalah seorang anak yatim piatu. Ayah dan Ibu nya meninggal dalam suatu insiden keracunan tempe bongkrek ketika Srintil masih bayi. Selain orang tua Srintil, insiden tersebut juga menelan nyawa belasan orang dewasa dan juga anak-anak. Termasuk orang tua teman sebaya Srintil yang bernama Rasus.

Srintil dan Rasus adalah teman dekat. Semenjak Srintil menjadi Ronggeng Rasus mengalami sebuah perasaan aneh. Cemburu, karena Srintil sekarang adalah milik seluruh warga Dukuh Paruk. Para wanita selalu mengawal Srintil kemana-mana. Memandikannya, mencucikan bajunya, menyediakan makanan. Singkat kata Srintil adalah pujaan semua orang, baik pria maupun wanita.

Adalah suatu bagian dari kebudayaan pula bahwa seorang Ronggeng, sebagai perlambang wanita sempurna selain menari dan menyanyi juga dapat “menerima tamu” tentu dengan bayaran yang tidak sedikit. Pahamilah ini sebagai suatu bagian dari kebudayaan Dukuh Paruk, dimana para istri justru saling menyombongkan diri apabila suaminya berhasil meniduri Srintil.

Dukuh Paruk, seperti dikemukakan di atas adalah suatu daerah yang memiliki tata nilainya sendiri, dimana jika seorang suami menangkap basah istrinya di tempat tidur dengan laki-laki lain. Maka urusan dapat diselesaikan dengan mudah, sang suami tinggal balas meniduri istri laki-laki tersebut, selesai perkara.

Nilai-nilai itulah yang mengganggu Rasus, diawali dengan ketidakrelaannya tentang Srintil yang menjadi seorang Ronggeng. Akhirnya Rasus meninggalkan Dukuh Paruk ke daerah terdekat, Dawuan. Disana nasib membawanya menjadi kacung tentara. Sampai karena kerja kerasnya akhirnya Rasus berhasil masuk ketentaraan.

Pertemuan, perpisahan, pertemuan, perpisahan, pertemuan, perpisahan. Tahun demi tahun berlalu. Sangat terasa perubahan kepribadian Srintil yang semula begitu bangga dan menikmati kehidupan mewah ala Ronggeng mulai berkembang menjadi kepribadian yang bersahaja dan disegani. Srintil tidak lagi mau menerima tamu. Ia hanya menyanyi dan menari.

Karena keluguan orang-orang Dukuh Paruk, pada tahun 1965 an kelompok Ronggeng nya dimanfaatkan oleh pihak komunis sebagai alat propaganda. Setelah peristiwa G30S Dukuh Paruk pun tidak selamat dari nasib buruk. Srintil dan kelompok Ronggengnya ditahan. Dusun Dukuh Paruk dibakar. Setelah momen itu tatanan hidup mereka diguncang oleh perubahan zaman. Srintil mengalami masa tergelap dalam sejarah hidupnya.

Bertahankan Srintil? Bahagiakah ia pada akhirnya? Akankah Rasus pada akhirnya kembali ke dusun kelahirannya? Rasus yang membenci sekaligus mencintai Dukuh Paruk. Rasus dan Srintil, akankah akhirnya bertemu di sebuah titik? Aaaaaahhhh.. tergoda menceritakan spoiler.. Srintil yang malang dan Rasus yang sungguh hararese (kalo kata orang sunda mah).

Yang jelas saya memberi 5 bintang untuk novel ini. Sejarah, budaya, bumbu romantisme, pertanyaan tentang eksistensi, gender, perkembangan watak, bahasa, jalan cerita sampai endingnya disampaikan sebagai suatu keselarasan sempurna. Takdir, Nasib, Siklus Hidup. Tidak ada seorang manusia pun yang dapat menebak.

Kenapa saya bilang covernya missleading, karena inti cerita ini bukan sekedar romantisme. It was way much more than that. Lebih ke budaya dan perkembangan pola pikir serta kepribadian tokoh-tokohnya di tengah perubahan zaman. Kebeneran saya belon nonton filmnya. Mudah2an tidak kalah berkualitas dari bukunya. Denger2 sih filmnya juga bagus.

“Malam  telah sempurna gelap sebelum Nyai Sakarya dan Srintil mencapai Dukuh Paruk. Bulan tua baru akan muncul tengah malam sehingga cahaya bintang leluasa mendaulat langit. Kilatan cahaya bintang beralih memberi kesan hidup pada rentang langit. Tetapi bila kilatan cahaya itu berlangsung beberapa detik lamanya, dia menimbulkan rasa inferior; betapa kecilnya manusia di tengah keperkasaan alam. Di bawah lengkung langit yang megah Nyai Sakarya beserta cucunya merasa menjadi semut kecil yang merayap-rayap di permukaan bumi, tanpa kuasa dan tanpa arti sedikit pun.”

Dear You By Moammar Emka

Penerbit : Gagas Media

Tebal : 392 Halaman

“Hidup itu bukan tentang menunggu badai berlalu, tapi tentang bagaimana belajar menari dalam hujan.”

Quotes yang paling saya sukai dari buku ini justru yang ngga ada kata-kata cintanya. Hehe. Coba berikan buku ini pada saya tahun lalu, mungkin hanya kuat baca 10 halaman terus mulai memecahkan gelas-gelas dan barang pecah belah lainnya.

Tapi di saat ini, after all I’ve been through. Rasanya urusan hati dan perasaan memang susah diatur. Variabel bebas hidup yang memang bisa datang dan pergi kapan saja.

Back to the book, duh.. gimana ya menggambarkan buku ini.. Bentuknya bukan kisah atau cerita, Intinya buku ini berisi  potongan kalimat/ paragraf yang menggambarkan siklus cinta.. Dari mulai jatuh cinta, rindu, patah hati, perpisahan sampe kenangan-kenangan akan kisah cinta..

Untuk manusia seperti saya yang anti gombalisme picisan, buku ini termasuk ke dalam kategori lulus sensor. Bahasanya poetic, ini sungguh nilai tambah karena susah menuliskan kata-kata poetic dalam Bahasa Indonesia, salah-salah kepeleset jadi gombal.

Tapi emang sih sebaiknya buku ini jangan dibaca sekali habis, sedikit-sedikit aja, apalagi kalo lagi ada “apa-apa” dengan perasaan, bisa-bisa jadi pusing kepala sendiri, hehe. Jadi penasaran apa yang menjadi inspirasi sang penulis sampe-sampe bisa mengeluarkan kata-kata tentang cinta segini banyaknya.

Saya belum pernah baca bukunya Moammar Emka soalnya. Ini pertama kalinya karena dulu2 keburu menilai kalo buku2 genre ini “not my cup of tea”. Berhubung  sedang melaksanakan perluasan genre jadi dicobalah, dan ternyata untuk buku ini cukup worthed kok.

Oiya, yang lagi patah hati sebaiknya menunggu tingkat emosional stabil dulu. Dari pada galau dan melamun mengawang-ngawang lagi karena kata-kata dalam buku ini. Hehe.

Berikut adalah beberapa paragraf yang saya suka :

“Tentangmu yang tak mampu kutepikan apalagi kulupakan. Tentangmu yang setia kujaga dan kusimpan rapi di sudut hati terdalam. Inilah kuasa pilihanku. Inilah yang tertulis dihatiku : aku mencintaimu.”

“Kadang cuma butuh satu helaan napas panjang buat menyudahi penat hari ini sambil membayangkan sepotong senyumanmu.”

“Aku ingin mencintaimu tanpa batas waktu. Tidak kini, dulu, apalagi nanti. Aku ingin mencintaimu saja untuk selamanya.”

“Rumah. Sejauh manapun aku melangkah dan berlari, kepadanya juga aku kembali. Karena disanalah hati begitu nyaman berdiam. Ada rindu yang terus bernyawa. Membawa inginku selalu kembali kepadanya.
Rumah itu kamu. Semesta nyaman yang menjalar dan teduh yang berjajar. Menguar rindu yang tak terbilang. Mengeja cinta – tanpa tanda tanya, berulang-ulang. Rumah itu hatimu.”