Rumah di Seribu Ombak By Erwin Arnada

Penerbit : Gagas Media

Tebal : 387 Halaman

Awalnya saya kira buku ini bergenre romance, ternyata oh ternyata bukan. Hehe. Terus terang naksir buku ini karena judulnya, cover depannya dan sinopsis di belakangnya yang menggoda buat baca lebih lanjut. Ternyata cukup worthed untuk dibaca. Saya selalu suka buku yang bercerita tentang persahabatan. Those kind of story never failed to bring a warm feeling to my heart.

Alkisah kedua bocah yang tinggal di daerah Pantai Lovina, Singaraja, Kabupaten Buleleng Bali. Yang satu bernama Samihi, ayahnya berasal dari Sumatra dan telah dua puluh tahun lebih tinggal di Singaraja. Singaraja adalah salah satu daerah di Bali dimana kebanyakan penduduk muslim bermukim. Kakak laki-laki Samihi tewas tenggelam di laut, oleh karena itu Ibundanya melarang Samihi untuk mendekati laut. Tidak lama kemudian Ibunda Samihi pun meninggal dunia. Meninggalkan ia, ayahnya dan adik perempuannya Syamimi.

Bocah yang satu bernama Wayan Manik atau seringkali dipanggil Yanik. Yanik beberapa tahun lebih tua dari Samihi. Ia menjadi putus sekolah karena Ibunya telah sakit2an dan tidak mampu lagi membiayai. Ayah Yanik bekerja di Legian, sudah menikah lagi dan menetap disana. Meninggalkan Yanik dan Ibunya menghadapi hidup berdua. Yanik membiayai hidup mereka berdua dengan menjadi tour guide untuk turis2 asing yang berminat snorkling dan menonton lumba2 yang memang sekali2 terlihat di Pantai Lovina. Itulah mengapa sebabnya Yanik sangat mencintai lautan dan terobsesi pada ikan lumba-lumba. Hehe.

Samihi bertemu Yanik karena suatu hari Yanik membelanya dari bocah-bocah berandalan yang bermaksud merebut sepeda Samihi. Semenjak saat itu mereka berdua seringkali menghabiskan waktu bermain bersama. Perbedaan agama sama sekali tidak menghalangi mereka untuk menjalin persabatan. Bahkan dengan kondisi seperti itu mereka belajar untuk saling mentoleransi  satu sama lain. Sebagaimana umumnya masyarakat Hindu dan Muslim di Singaraja hidup berdampingan dalam kondisi yang rukun.

Suatu ketika Samihi memiliki keinginan untuk mengikuti perlombaan mengaji. Ketika menunjukkan kebolehannya kepada Yanik yang Samihi dapatkan adalah cemoohan. Namun Yanik tidak semata-mata mengejek, ia pun kemudian membantu Samihi untuk  memperindah kemampuan mengajinya dengan mendorong Samihi untuk mempelajari kesenian bernyanyi khas Bali yang bernama Merkidung.

Bersamaan dengan proses belajar Samihi, ternyata Yanik selama ini menyimpan rahasia gelap yang membuat dirinya luar biasa terbebani.

“Ketika hari ini Yanik membuka rahasianya padaku, yang terlintas dikepalaku adalah ia sudah terlalu lelah menyimpan rahasia. Terlalu banyak kesedihan yang ia rasakan. Saat ini, ia membutuhkan rasa lega dengan membiarkan rahasia itu terbuka kepadaku.”

Terungkapnya rahasia Yanik yang cukup menggemparkan masyarakat berlangsung bersamaan dengan kejadian bom bali di Legian. Keharmonisan toleransi antar agama di Singaraja pun mulai sedikit terganggu. Samihi merasa bersalah karena ketakutannya pada air menyebabkan Yanik tertimpa bencana lebih lanjut.

“Tuhan tengah menguji kami dengan takdirnya yang tak bisa diterka.”

Pada saat itu, berkat bantuan Yanik, Samihi terpilih untuk mewakili Singaraja untuk mengikuti lomba Sekabupaten Buleleng. Telah 3 bulan Samihi tidak bertemu dengan Yanik. Seketika sebelum mengikuti lomba tiba2 Samihi meragukan kemampuannya sendiri. Di saat itu, seperti sudah meramalkan suasana hati Samihi, Yanik tiba-tiba muncul untuk memberinya semangat.

“Suatu saat aku pasti melihat kau mengalahkan laut. Berselancar, snorkeling, seperti anak-anak Singaraja lain. Samihi jangan pernah takut lagi, karena Tuhan akan menjaga dan melindungi orang-orang yang selalu berdoa.”

Samihi bahagia sekaligus sedih luar biasa. Bahagia karena memenangkan lomba. Sedih luar biasa karena melalui kalimat di atas Yanik mengucapkan kata perpisahannya. Itu adalah pertemuan terakhir Samihi dengan Yanik.

Demi Yanik, Samihi berusaha sekuat tenaga untuk melawan ketakutannya hingga ia berada di posisi yang ia sendiri tidak pernah impikan. Semua karena Yanik. Jika bukan karena dorongan Yanik, Samihi tidak akan berani mengambil langkah pertamanya. Langkah pertama yang kelak akan membawanya menuju jalan hidup yang tak terbayangkan.

“Rasa takut adalah belukar yang siap membelit siapa saja yang membiarkan dirinya dicekam perasaan itu.”

Akankah Samihi dapat mengucapkan terimakasihnya kepada Yanik. Huaaaa. Walaupun saya sangat menyukai tema persahabatan, ending buku ini  sangat menyakitkan sehingga saya mendiskon bintang buku ini di goodreads dari 4 bintang jadi 3 bintang saja. Terlalu menyedihkan ah karena sebenarnya selalu ada kemungkinan. Intinya, for me the ending is not acceptable. Fighters never give up.

“Tak ada yang lebih berat dan rumit selain menyembunyikan rasa sayang di depan orang yang dicintai. Menahan diri mengungkapkan isi hati, terkadang merupakan kemustahilan yang menyakitkan.”

The Mysterious Mr. Quin By Agatha Christie

Penerbit : Harper Collins

Tebal : 396 Halaman

“You say your life is your own. But can you dare to ignore the chance that you are taking part in a gigantic drama under the orders of a divine Producers? Your cue may not come till the end of the play – it may be totally unimportant, a mere walking on part, but upon it may hang the issues of the play if you do not give the cue to another players. The whole edifice may crumple. You as you, may not matter to anyone in the world, but you as a person in particular place may matter unimaginably.”

Love the quotes..

Agatha Christie boleh dibilang adalah biang keladi pertama yang menyebabkan saya jatuh cinta pada buku. Saya mulai membaca karya2 Agatha dari kelas 4 SD saat komik2 terasa begitu cepat habis terbaca. Jika temen2 yang lain pergi ke sekolah dengan membawa komik2 serial cantik, yang ada di tas saya adalah karya2 Agatha. Agak-agak creepy sepertinya ya, hehe. Di kelas 6 saya sudah menyapu semua koleksi Agatha yang ada di Taman Bacaan Hendra, Bandung.

Di masa2 SMP dan SMA baru banyak lagi karyanya Agatha yang diterbitkan ulang. Dan saya pun mulai menyicil mengoleksi satu demi satu sambil membaca ulang. Ngga kehitung berapa kali saya berharap bisa melompat ke dunianya Hercule Poirot dan Miss Marple. I completely idolized them at that time.

Buku The Mysterious Mr. Quin ini adalah salah satu karya non Hercule Poirot & Miss Marple yang saya sukai. Tentu saja selain  And Then There Were None (Sepuluh anak Negro), The Croocked House (Buku Catatan Yosephine) dan  Death Comes At The End (Ledakan Dendam). Buku ini, The Mysterious Mr. Quin baru saya temukan, beli (versi bhs inggris) dan baca agak belakangan, sekitar masa2 kuliah lah.

Suka banget sama tokoh utamanya, Mr. Satterthwaithe dan Mr. Harley Quin. Berikut merupakan penggambaran tentang Mr. Satterthwaithe paling pas yang saya comot dari bukunya :

“Mr. Satterthwaithe was sixty two – a little bent, dried-up man with a peering face oddly elflike, and an intense and inordinate interest in other people’s lives. All his life so to speak, he had sat in the front row of all the stalls watching various dramas of human nature unfold before him.”

Saya membayangkan Mr. Satterwaithe itu penampakannya kayak Bilbo Baggins, uncle nya Frodo di trilogi Lord of The Rings. Agak2 seperti Miss Marple versi laki-laki. Hehe. Yang jelas beliau semasa hidupnya selalu menganggap hidup adalah sebuah panggung drama dan beliau adalah penontonnya.

Sampai suatu saat ketika menghadiri acara di kediaman seorang kenalan Mr. Satterthwaithe akhirnya bertemu Mr. Quin. Sejak pertemuan pertama Mr. Satterthwaithe sudah merasa kalo Mr. Quin ini bisa sedemikian rupa berperan sebagai pemicu terkuaknya misteri2 yang selama ini tidak bisa dilihat oleh orang lain.

“The longer the time that has elapsed, the more things fall into proportion. One sees them in their true relationship to one another.”

Semenjak saat itu mereka sering secara tidak sengaja (atau disengaja oleh Mr. Quin) bertemu di berbagai tempat dan kesempatan, dan bagi Mr. Satterthwaithe, kemunculan dan kepergian Mr. Quin yang tidak bisa ditebak adalah pertanda “sesuatu” yang penting akan terjadi.

“I have a certain friend – his name is Mr. Quin, and he can best described in the terms of catalysis. His presence is a sign that things are going to happen, because when he is there, strange revelations come to light, discoveries are made. And yet – he himself takes no part in the proceedings.”

Cerita dalam buku ini sebenarnya bentuknya cerita2 pendek. Berbagai bentuk misteri (ngga selalu masalah pembunuhan loh) dimana Mr. Quin melempar umpan2 dan Mr. Satterthwaithe akhirnya menemukan pemecahannya. Seringkali semuanya berakhir dengan sama sekali tidak terduga. Khas Agatha, hehe.

Lama kelamaan Mr. Satterthwaithe mulai merasa bahwa dirinya berubah. Dan perubahan itu terasa juga oleh Mr. Quin (karena mungkin dia juga sebenarnya biang keladinya ;p).Yang jelas saya suka banget sama duo ini.

Mr. Quin yang misterius dan kadang2 agak2 berbau supranatural sosoknya (layaknya Harlequin, salah satu tokoh dalam pementasan drama yang sama misteriusnya) dan Mr. Satterthwaithe yang plain dan seringkali berakhir menjadi tempat curhat berbagai macam manusia.

Cara keduanya berinteraksi beda dari pasangan2 detektif lain (Hercule Poirot dan Kapten Hastings, Sherlock Holmes dan Watson), karena pada akhirnya Mr. Quin pun banyak membawa perubahan dalam kepribadian  dan cara pandang Mr. Satterthwaithe (dan saya rasa memang itu salah satu misinya). Mereka kontras banget tapi cocok dan membawa efek seru!

“’You have changed since I first knew you,’ said Mr.Quin.

‘In what way?’

‘You were content then to look on at the drama that life offered. Now you want to take part – to act.’”

Sampai saat2 terakhir saya masih ngga yakin Mr. Quin ini manusia atau bukan. Dan Agatha pun hanya memberikan petunjuk samar2. Hehehe. Tapi entah kenapa hal itu tidak menjadi sesuatu yang mengganggu karena bisa mempertahankan efek “misterius” yang khas dari buku ini.

Ngga terlalu tau buku Agatha yang ini ada terjemahannya ato ngga. Harusnya sih udah ya. Paling belum dicetak ulang jadinya agak2 susah dicari. Yg jelas buku ini termasuk salah satu karya Agatha fav saya. Keren banget deh Agatha Christie ini.

 “’Life is lived very much the same everywhere,’ he said wearily. ‘It wears different clothes – that’s all.’”

Tak Putus Dirundung Malang By S. Takdir Alisjahbana

Penerbit : Dian Rakyat

Tebal : 177 Halaman

Huaaa.. Betapa saya ingin lebih terbiasa membaca bahasa indonesia klasik seperti dalam novel ini. Dan jadi teringat betapa sulitnya mencari novel2 klasik indonesia ketika sedang butuh2nya di jaman SMP. Di pelajaran bahasa indonesia kan sering disebut2 tuh novel2 klasik Indonesia. Sebagai bookaholic (ya dari jaman smp juga saya udah menderita sindrom bookaholic) rasanya ngga mantep kalo ngga baca buku2 tenar itu. Tapi kemana pun dicari di toko2 buku di Bandung ketika itu, wujudnya ngga pernah saya temuin.

Kalo sekarang sih udah banyak yang diterbitin ulang dan beredar di toko2 buku umum. Koleksi novel klasik saya kebanyakan dibeli di satu-satunya toko buku yang ada di kota Indramayu, beberapa tahun yang lalu waktu saya tinggal disana.

Tentang isi buku Tak Putus Dirundung Malang ini sendiri. Duh, isinya betul2 cocok dengan judulnya. Alkisah seorang bapak dua anak bernama Syahbuddin pada saat itu tinggal di hulu sungai Ketahun dalam keadaan yang memprihatinkan. Beberapa waktu sebelumnya Syahbuddin adalah seseorang yang memiliki hidup yang termasuk lengkap. Beliau memiliki rumah di Negeri Ketahun, beliau memiliki keluarga kecil yang bahagia dengan istri dan dua orang anaknya.

Sampai suatu saat api melalap rumah Syahbuddin. Setelah itu cobaan demi cobaan datang bergantian menimpa keluarganya. Istri Syahbuddin meninggal, kemudian mereka jatuh bangkrut dan harus pindah ke sebuah daerah sepi di hulu sungai Ketahun. Disana Syahbuddin bekerja keras mengerjakan apa saja demi menghidupi kedua anaknya, Mansur si anak sulung dan adiknya Laminah.

Karena bekerja terlalu keras akhirnya Syahbuddin jatuh sakit. Hari demi hari semakin parah, dan pada suatu malam Syahbuddin menghembuskan nafas terakhirnya. Meninggalkan Mansur dan Laminah menjadi sepasang anak yatim piatu.

Dan siapa yang ngga akan kagum dengan bahasa indah S. Takdir Alisjahbana seperti ini :

“Waktu adalah sebagai raksasa yang besar, yang tak kunjung-kunjung berhenti berjalan, masuk rimba keluar rimba, masuk padang keluar padang. Disini menyeberang lautan, disana mendaki gunung menuruni lurah, tak pernah payah, tak dapat diusik, ditahan atau diganggu.

Pekertinya tak tentu; ada kalanya ia ganas; kejam; bersalah tak bersalah dirusaknya, dihancurkannya. Tapi ada pula masanya ia pengasih pengiba, halus dan lembut sebagai seorang Ibu. Apa yang dengan kejam dihancurkannya diribanya denan tangannya yang besar itu sehingga sempurna kembali.

Sungguh, isi dunia ini semua permainannya, disepakragakannya sekehendak hati; sebentar dihembuskannya ke udara dan seketika lagi dihempaskannya pula ke bumi.”

Mansur dan Laminah dititipkan pada bibi (adik perempuan Syabuddin) dan pamannya, Jepisah dan Madang. Pada mulanya Madang memperlakukan Mansur dan Laminah dengan baik. Namun periode itu berlangsung hanya sekejap. Madang kemudian memperlakukan Mansur dan Laminah dengan teramat buruk. Memaksa mereka berdua bekerja keras, bahkan tak jarang Madang memukul Laminah.

Sampai suatu hari Laminah secara tidak sengaja menyebabkan anak Jepisah dan Madang, Marzuki terluka karena menginjak pisau yang secara tidak sengaja diletakkan Laminah. Madang murka dan memukul Laminah di kepala hingga pingsan. Beruntung Mansur pulang tepat waktu dan segera mengungsikan Laminah ke tempat tetangga.

Laminah akhirnya tersadar. Lalu kedua kakak beradik itu memutuskan untuk pergi ke Bengkulu mengadu nasib. Tidak ada lagi yang dapat membuat mereka bertahan di Ketahun. Tiba di Bengkulu beruntung mereka menemukan pekerjaan dengan majikan yang baik di sebuah toko roti. Kakak adik itu akhirnya merasakan sepenggal hidup yang stabil. Namun akankah nasib berbaik hati pada mereka berdua. Ataukah mereka hanya diberikan waktu istirahat sesaat sebelum menghadapi kesusahan lainnya?

Huhu, saya gemas membaca betapa tidak berdaya nya Mansur dan Laminah menghadapi nasib. Ingin rasanya mengirimkan bala bantuan ke dalam buku untuk mencegah Mansur dan Laminah masuk dari satu kemalangan ke kemalangan lainnya. Dan saya bertambah gemas sama endingnya. Kenapa harus menyerah pada nasib? Kenapa tidak bangkit dan melawan?

“Apakah gunanya kita menyusah-nyusahkan hati. Asal sabut terapung, asal batu tenggelam. Takkan nasib itu diubah dengan air mata.”

Jleb.

Naaah who am I to judge something that I have no experience with? What I am saying is that there’s always a choice when fate knock us down.Either we give up or we rise and give ourself another try. Even though that the second option is not the easiest way. Once again, the choice is ours.

“Dunia terus berputar pada sumbunya. Sedikitpun tiada terasa olehnya kehilangan yang kecil, yang ‘tak sebesar tuma’.”

We are just a speck of dust in the desert..

Delirium By Lauren Oliver

Penerbit : Hodder

Tebal : 393 Halaman

“Amor deliria nervosa. The deadliest of all deadly things.”

Haha. Lucu deh. Kalo saya baca buku ini sekitar 4 bulan yang lalu mungkin saya akan dengan sukarela masuk ke dunianya Lena. Sang tokoh utama dalam buku ini. Di dunia Lena, Cinta adalah sebuah penyakit yang mereka namai Amor deliria nervosa. Haha.

Di usia yang ke 18 setiap warga negara diharuskan mengikuti suatu prosedur untuk menghilangkan bagian dari otak dan sistem saraf yang menyebabkan seorang manusia dapat merasakan cinta. Dengan kata lain mereka memutilasi bagian dari manusia yang bernama perasaan.

4 months ago I will consider this a briliant and woderful idea ;p logikanya nyambung banget dengan logika saya (di masa itu) yang menyamakan jatuh cinta dengan sakit jiwa (karena memang secara scientific hormon yang bekerja ketika kita jatuh cinta dan sakit jiwa itu sama).

Beginilah ciri-ciri dari penyakit Amor Deliria Nervosa :

PHASE ONE:

  • preoccupation; difficulty focusing
  • dry mouth
  • perspiration, sweaty palms
  • fits of dizziness and disorientation
  • reduced mental awareness; racing thoughts; impaired reasoning skills

PHASE TWO:

  • periods of euphoria; hysterical laughter and heightened energy
  • periods of despair; lethargy
  • changes in appetite; rapid weight loss or weight gain
  • fixation; loss of other interests
  • compromised reasoning skills; distortion of reality
  • disruption of sleep patterns; insomnia or constant fatigue
  • obsessive thoughts and actions
  • paranoia; insecurity

PHASE THREE (CRITICAL):

  • difficulty breathing
  • pain in the chest, throat or stomach
  • complete breakdown of rational faculties; erratic behavior; violent thoughts and fantasies; hallucinations and delusions

PHASE FOUR (FATAL):

  • emotional or physical paralysis (partial or total),
  • death

This is so amusing. Hehe. Orang-orang yang telah melewati prosedur digambarkan akan mengalami perubahan – perubahan seperti berikut :

“They seem peaceful now, mature and somehow remote, like they’re encased in a thin layer of ice.”

Kind’a remind me of my old self.

Magdalena Ella Halloway atau dipanggil Lena. Our heroine is. Pada awalnya karakter Lena digambarkan tidak terlalu istimewa dibandingkan teman dekatnya Hana yang tampak pemberani dan rebelious.  Diceritakan bahwa ayah Lena meninggal di suatu peperangan, meninggalkan ia, Ibunya dan kakak perempuannya Rachel.

Yang seharusnya terjadi dalam dunia Lena jika salah satu pasangan meninggal, yang lain meneruskan hidup dengan biasa-biasa saja karena toh perasaan mereka sudah dimatikan. Namun tidak demikian yang terjadi dengan Ibunda Lena. Tiga kali prosedur tidak juga menyembuhkan perasaan cinta dan kasih sayang dari dalam dirinya. Sampai akhirnya di malam ketika Ibundanya bunuh diri, pesan terakhirnya kepada Lena adalah,

 “I love you, remember that, they can not take it.”

Hubungan Ibu dan anak yang wajar adalah berjarak. Tidak wajar bagi seorang Ibu untuk menyanyikan lagu untuk anaknya dan bahkan seorang Ibu yang tertangkap basah tertawa-tawa dengan anaknya akan dilaporkan sebagai pemberontak dan bisa jadi ditahan

Mati karena cinta adalah suatu dosa besar dalam dunia itu. Karena peristiwa tersebut nama baik keluarga Lena sedikit ternoda, dan Lena berjuang keras untuk mengikuti segala aturan dan menelan bulat-bulat apa yang diperintahkan. Lena pada awalnya adalah orang yang seperti itu. Orang yang go with the flow. Mengikuti arus.

Sampai Lena akhirnya bertemu dengan apa yang namanya perasaan. Perasaan yang memang terkadang irasional dan tidak beralasan sama sekali. Lena bertemu dengan Cintanya. Lena bertemu dengan Alex.

Sedikit demi sedikit karakter Lena berkembang menjadi hidup. Lena sendiri sepertinya baru merasakan hidup. Perubahan itu tergambarkan dengan baik sehingga pada akhirnya kita akan mengagumi bagaimana kepribadian Lena berkembang.

“Everything looks beautiful. The book of Shhh says that deliria alters your perception, disables your ability to reason clearly, impairs you from making sound judgements. But it does not tell you this : that love will turn the whole world into something greater than itself.”

Will they survive against the odds?? Hmm saya jauh lebih menyukai buku ini daripada Before I Fall. Dari pada Matched yang juga bergenre Young Adult Dystopian pun saya lebih menyukai Delirium ini. Konfliknya lebih dalam dan terasa peralihan dari dunia remaja ke dunia dewasa yang penuh dengan konflik dan pilihan. Dan endingnya.. Ah endingnya.. Hidup memang tidak selalu indah ya..

Anyway, bravo to Lauren Oliver. I love the idea. I love the heroine. I love the bittersweet effect of the story.

“I run for I don’t know how long. Hours, maybe, or days. Alex told me to run. So I run. You have to understand. I am no one special. I am just a single girl. I am five feet two inches tall and I am in-between in every way. But I have a secret. You can build walls all the way to the sky and I will find a way to fly above them. You can try to pin me down with a hundred thousand arms, but I will find a way to resist. And there are many of us out there, more than you think. People who refuse to stop believing. People who refuse to come to earth. People who love in a world without walls, people who love into hate, into refusal, against hope,and without fear. I love you. Remember. They cannot take it.”

The Hours By Michael Cunningham

Penerbit : Jalasutra

Tebal : 222 Halaman

Alih Bahasa : Saphira Tanka Zoelfikar

“Dear Leonard. To look life in the face. Always to look life in the face and to know it for what it is. At last to know it. To love it for what it is, and then, to put it away. Leonard. Always the years between us. Always the years. Always the love. Always the hours.”

Tidak bisa menyingkirkan pemikiran kalo saya akan lebih bisa memahami novel ini jika saya membaca dalam bahasa aslinya dan bukan terjemahan. Karena sepertinya cerita ini lebih menitikberatkan pada keindahan bahasa dalam mencapai tujuan yang ingin disampaikan.

Dan saya bisa membayangkan betapa sulitnya mempertahankan efek ritme kata demi kata, frasa dan pemenggalan-pemenggalan kalimat dalam proses penerjemahan ke bahasa Indonesia. Sulit mencari padanannya sepertinya. Hehe.

Hasilnya saya jadi kurang paham apa sebenarnya yang dikejar dari cerita ini. Yang bisa saya tangkap adalah rasa kegelisahan yang sangat kentara dari ketiga tokoh utamanya.

Ya, ada tiga tokoh utama dalam cerita ini. Yang pertama adalah Virginia Wolf yang hidup di tahun 1920 an, sang pengarang buku Mrs. Dalloway dan To The Lighthouse yang akhir hidupnya cukup dramatis. Chapter yang diceritakan dalam kehidupan Virginia Wolf adalah ketika beliau sedang dalam proses penulisan buku Mrs. Dalloway. Virginia Wolf adalah seorang wanita yang memiliki sejenis kelainan jiwa (fakta) sehingga selalu dirundung kegelisahan dan aneka ria paranoia lainnya. Dalam cerita ini kita diajak untuk menyelam ke pemikiran-pemikiran “tidak biasa” dari seorang Virginia Wolf.

Yang kedua adalah Laura Brown. Seorang Ibu rumah tangga di tahun 1940 an yang gemar membaca dan sedang mengandung anak keduanya. Diceritakan bahwa di pagi hari itu Laura sedang membaca buku Mrs. Dalloway, hari itu adalah hari ulang tahun suaminya. Laura berencana untuk membuat kue ulang tahun buat suaminya. Namun ketika ternyata kue yang ia buat tidak sebagus kue dalam bayangannya, Laura tiba-tiba diserang rasa putus asa. Cerita tentang Laura ini buat saya sangat menggambarkan perasaan seperti tikus yang terjebak dalam kotak.

Yang ketiga adalah tentang Clarissa Vaughan (2001) yang sedang merencanakan pesta penghargaan untuk mantan kekasihnya Richard yang juga penderita AIDS.  Belasan tahun yang lalu mereka pernah nyaris menjadi sepasang kekasih. Richard selalu memanggil Clarissa dengan panggilan Mrs. Dalloway seperti Clarissa Dalloway, tokoh dalam buku karangan Virginia Wolf.  Sambil mempersiapkan pesta untuk Richard, ingatan Clarissa berkelana, mencoba menapaki langkah demi langkah hidupnya, dan merenungi di titik mana ia benar-benar merasakan bahagia.

“Semua itu terkesan seperti awal kebahagiaan, dan Clarissa terkadang masih tercengang, bahkan hingga kini tiga puluh tahun kemudian, setiap menyadari bahwa saat itu memang kebahagiaan. Bahwa seluruh pengalaman itu terletak pada ciuman dan jalan-jalan, pengharapan akan makan malam dan sebuah buku. Kini ia tahu, itulah momen tersebut, saat itu juga. Tidak ada momen lain.”

Saya belum pernah membaca buku Mrs. Dalloway nya Virginia Wolf. Mungkin jika sudah saya akan lebih memahami peranan buku itu dalam cerita ini. Hmm.. Sayangnya saya kurang bisa menikmati bahasa terjemahannya.. Jadi penasaran pengen baca bhs inggrisnya *lirik timbunan buku, jitak diri sendiri* hehehe..

9 Summers 10 Autumns By Iwan Setyawan

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 211 Halaman

You may think this is weird. But reading some of the paragraphs in this book is like reading my own thoughts. I get the feeling. This guy also value solitude.

Tentang keramaian..

“Aku selalu berperang dengan diriku, selalu berat memilih antara kesendirian atau hiruk pikuk kehidupan. Aku telah terbiasa sendiri dalam hidupku, belasan tahun.”

“Hanya beberapa kali dalam setahun ke Hard Rock Cafe atau tempat hiburan malam lainnya. Aku tidak terlalu menikmatinya. Di tengah keramaian itu aku sering merasa asing, sepi, sendiri.”

Tentang ulang tahun…

“Dan hanya di malam panjang inilah aku bisa berdamai dengan rahasia-rahasia hidupku, melepaskannya, karena menyimpan rahasia sendiri hanya membuat nafasku tersengal. Aku ingin mengerti mereka dan memberi ruang yang lapang di hatiku.”

Tentang hal-hal yang hanya bisa disampaikan melalui tatapan..

“Some of you might know how it feels when eyes talk to you.”

I do know. Dalam dunia sempit saya yang nyaris berjalan selama 29 tahun, menemukan orang yang berada dalam chanel ini mungkin bisa dihitung jari.

Anyway. I love this book. I love the story. Untuk beberapa saat saya kira saya sempat bosan dengan buku bertema life struggle seperti ini. Tapi ternyata kita memang tidak akan pernah berhenti belajar. Jangan pernah mau berhenti belajar. Pengetahuan tentang hidup tidak ada batasnya.

Iwan tumbuh besar di daerah Batu, Malang. Di tengah keluarga yang memiliki berbagai keterbatasan namun justru memiliki kehangatan tidak terbatas yang tidak dapat dibeli dengan kekayaan. Kehangatan dan perjuangan bersama sebagai satu keluarga itulah yang saya rasa membuat jiwanya terasah. Kepekaan terhadap indahnya kehidupan, determinasi untuk melakukan hanya yang terbaik, kesabaran dan keihklasan dalam mencapai tujuan. Semua berawal dari kehangatan di sebuah rumah mungil di Batu, Malang.

Iwan menceritakan kisahnya ketika ia tengah bekerja di New York City. Ia tiba2 bertemu dengan anak kecil berseragam merah putih yang obviously adalah bagian dirinya sendiri. I get this, for I also sometimes talk to the child inside of me too. We do need to do that. Momen-momen untuk mengingatkan diri sendiri agar tidak menjadi daun kering yang ditiup angin kesana kemari.

Melalui dialog dengan anak tersebutlah Iwan menceritakan kisah hidupnya. Masa kecilnya, keluarganya, rumahnya, kapal layarnya hingga ia tiba di tempatnya sekarang. Kenapa anak itu muncul secara tiba-tiba di kehidupan Iwan, apa yang Iwan sendiri simpulkan melalui kisahnya sendiri. That’s the part I can not tell.

Yang jelas setelah menutup buku saya merasakan sedikit rasa panas di hati. This guy has been living my perfect version of “human soul” journey, and in the end he made the perfect choice.

Rasa panas di hati. Is it envy? Kalau pun iya, rasa panas ini sehat karena membuat saya ingin merasakan semua. Membuat saya bertanya pada diri sendiri sebenarnya apa yang saya inginkan dan beranikah saya untuk menetapkan keinginan. Tidak penting untuk dibahas disini, my personal story tentang hal itu bisa dibaca disini.

Apa yang membuat buku ini istimewa buat saya mungkin karena saya merasa personally connected with his point of view.

There’s no such thing as a perfect life. Everybody has their own issues. The difference is how we choose to make the best of this imperfect life. The choice is always ours.

“Kita selalu bisa kembali ke masa lalu. Kenangan itu, betapapun pahitnya, selalu bisa dikenang dan ditempatkan kembali di ruang yang tepat di hati kita. Dan, biarlah memori beristirahat disana. Biarlah kita kunjungi suatu saat.”

Ibuku Adalah… By Jazim Naira Chandra, dkk

Penerbit : Leutika

Tebal : 119 Halaman

Terus terang saya beli buku ini karena tergoda sama judulnya. Ternyata isinya adalah antologi curhat dari 37 penulis tentang apa arti sosok seorang Ibu buat mereka. Ada yang menulis dalam bentuk puisi, ada yang menulis dalam bentuk prosa.

Betapa beruntungnya karena sebagian besar penulis yang kisahnya saya baca ini memiliki sosok Ibu yang sungguh luar biasa. Sebagian besar memandang Ibu sebagai sosok panutan hidup yang memang pantang menyerah dan ikhlas melakukan segala sesuatu untuk keluarga. Mereka menuliskan dengan gaya masing-masing tentang betapa luar biasanya sosok Ibu. Saya paham betul. I adore my Mother too..

Namun dari output tulisan pada beberapa bagian saya menjadi bosan karena rata-rata penulis menceritakan hal yang sama. Indah sih. Tapi tidak ada kisah yang berbeda. Atau saya saja yang terlalu banyak berharap ya. Hehe.

Begini pasalnya, tidak semua orang dianugrahi Yang Di Atas sosok seorang Ibu penuh cinta yang bagaikan malaikat. Para Ibu adalah manusia dengan berbagai macam sifat dan tingkah polah pula. Tidak ada kisah yang berbeda misal, anak yang Ibunya pergi meninggalkan keluarga, atau anak yang Ibunya bersifat ignorance , atau anak yang Ibunya memiliki kelainan jiwa, atau anak yang Ibunya bukan Ibu sebenarnya. Kondisi-kondisi tidak ideal tersebut betul-betul ada dan deep down inside saya penasaran bagaimana sang anak akan berpendapat tentang Ibunya.

Ya, para Ibu juga manusia loh. Tugas fitrah seorang anak untuk menyayangi Ibu yang telah mengantarkan sang anak ke dunia. Jika seseorang diberi suatu kondisi luar biasa, bagaimanakah dia akan bersikap atau memandang Ibunya? Hehe.. Terlalu banyak permintaan ya! Atau sebaiknya saya baca antologi curhat para Ibu tentang anak-anaknya aja ya ;p atau mungkin tulis aja buku sendiri, kok banyak protes, kekekek….

Anyway, yang paling ngena di hati saya mungkin tulisannya Endang Ssn. Bahasanya sederhana tetapi menyentuh. Berikut quote tulisan beliau :

Tak ada lautan cinta seabadi milik Ibu, betapapun kita sebagai anak berusaha mengingkarinya. Cintanya selalu hadir dalam bait-bait doa yang lamat dilantunkannya setiap waktu. Pada semua itu aku belajar bahwa cinta tak selamanya butuh balasan. Cinta tulus akan selalu menemukan arahnya sendiri, bahkan justru akan membawanya kembali pulang kala ia berusaha menjauh. Cinta yang menempati hakikatnya sebagai cinta, itulah yang selalu nyata pada cinta yang Ibu tawarkan.

Ada beberapa paragraf dari penulis lain yang membuat saya nyengir dan bergumam ini bener banget nih. Diantaranya tulisan Fauziah Harsyah berikut :

Hebatnya, Ibuku selalu tahu jika aku merasa kesepian, entah sinyal mana yang menyampaikan rasaku padanya hingga ia menelepon menanyakan keadaanku. Ternyata sinyal nurani Ibu lebih kuat daripada sinyal operator.

Atau tulisan semi ceplas ceplos nya Mieny Angel yang cukup berbeda dan menghibur karena memang tidak semua orang bisa ekspresif menggambarkan rasa kasih sayang :

Mak, mereka semua bilang sayang dan membanggakan Mamak masing-masing. Aku suka kalau Mamak tidak iri dengan mereka. Kalau Mamak iri aku yang susah, hehehe, pasalnya aku orang yang malu mengakui atau berucap ‘Aku sayang Mamak’. Bukan gengsi, tapi entah rasanya gimana gitu. Yang jelas Mamak itu di hatiku. Kalau tidak ada Mamak, maka tak hadir seorang aku.

Hayo, kalo anda ditugaskan untuk meneruskan kalimat “Ibuku adalah…….” Apa yang akan anda tulis?? 😀