Matched By Ally Condie

Penerbit : Penguin Books

Tebal : 366 Halaman

Hadiah dari Santa ku yang baik untuk Secret Santa Project nya Blogger Buku Indonesia adalah buku Matched nya Ally Condie ini. Buku ini udah sering banget dipegang2 kalo lagi main ke Periplus yang di Setiabudhi Supermarket Bandung, tapi selalu nda ada edisi Paperback nya, jadi ngga dibeli2 deh. Makanya jingkrak2 banget pas buka kado dari Secret Santaku. Makasiiiii yaaaaa *memasang senyum semanis madu* hehe. Dan bulan Januari ini para Blogger Buku janjian buat mereview buku dari Secret Santanya masing-masing.

Dan Secret Santa ku yang baik adalaaahhh.. Jeng Jeng.. Adek Sekar Wulandari yang super keren.. Walaupun masi muda banget, adek ndari ini bacaannya keren-keren dan kebeneran satu selera sama saya 🙂 Makasih banyak ya dek atas kado bukunya..

Cassia Maria Reyes. Nama yang keren ya?

Di dunianya Cassia, yang sepertinya bersetting beratus tahun atau beribu tahun dari dunia sekarang ini. Kehidupan diatur secara ketat oleh para officials (pemerintah). Di umur 17 tahun warga yang layak (secara genetis) untuk menikah dan memiliki keturunan akan diperkenalkan dengan calon pasangannya yang ditentukan oleh para officials melalui seleksi kecocokan secara genetis dan psikologis agar bisa menghasilkan keturunan yang ideal.

Warga yang dinilai tidak layak berkeluarga akan diklasifikasikan sebagai kelompok Singles. Selain daripada itu terdapat juga warga yang tidak diperbolehkan untuk berkeluarga yaitu warga dengan klasifikasi Abberation (ybs atau keluarganya pernah melakukan pelanggaran peraturan) dan Anomalies (tebakan saya warga dengan klasifikasi penyakit jiwa atau kelainan lainnya).

Makanan setiap warga diproduksi secara terpusat oleh para officials yang nutrisinya disesuaikan dengan kondisi tubuh masing-masing. Semua kegiatan harian setiap warga sudah dijadwal ketat oleh para officials.

Dengan pengaturan yang ketat tersebut mereka berhasil menciptakan masyarakat ideal yang sehat dan nyaris tidak pernah dihinggapi penyakit apapun. Bahkan mereka berhasil membuat pengaturan bahwa warganya dipastikan meninggal pada umur 80 tahun sehingga setiap orang akan mengetahui kapan hari terakhirnya.

Pada intinya dengan siapa seseorang menikah, dimana ia sebaiknya bekerja, dimana ia tinggal bahkan sampai kapan seseorang meninggal pun sudah diatur dan terjadwal dengan baik oleh para officials.

Cassia baru saja menginjak usia 17 tahun. Malam itu ia dijadwalkan untuk menghadiri acara perkenalan resmi dengan calon suaminya. Tidak hanya Cassia yang dijadwalkan untuk dipertemukan dengan calon pasangannya malam itu, tetapi juga beberapa anak remaja lain yang berdekatan ulang tahunnya dengan Cassia. Salah satunya adalah teman  sepermainan Cassia, Xander. Mereka tinggal dalam satu lingkungan dan otomatis satu sekolah.

Alangkah terkejutnya ketika para officials mengumumkan bahwa calon suami yang telah ditentukan untuk Cassia adalah Xander. Hal ini jarang terjadi karena biasanya para calon pasangan berasal dari provinsi yang berbeda dan hampir semuanya tidak mengenal satu sama lain.

If you always known how to look at someone, it’s strange when that directive changes. Xander has always been someone I could not have, and I have been the same for him. Now everything is different.

Setelah pengumuman calon pasangan masing-masing setiap anak akan diberikan micro card yang berisikan seluruh informasi mengenai calon pasangannya masing-masing, beberapa aturan main dan draft marriage contract yang akan mereka jalani ketika berumur 21 tahun.

Ketika Cassia melihat isi dari micro card yang diberikan kepadanya di rumah, setelah seluruh informasi mengenai Xander selesai ia lihat, ternyata muncul satu wajah lain yang juga ia kenal, Ky Markham.

Beberapa hari kemudian seorang officials mendatanginya untuk menukar micro card Cassia. Ia menginformasikan bahwa telah terjadi kesalahan yang sebenarnya secara probabilitas tidak mungkin terjadi. Dan ia juga menginformasikan bahwa tidak mungkin Ky Markham adalah pasangannya karena Ky sebenarnya adalah anak adopsi dari keluarga Markham dan masuk ke dalam klasifikasi Abberation yang tidak mungkin dibiarkan berkeluarga. Pasangan Cassia adalah Xander.

Cassia tidak menduga bahwa Ky adalah salah seorang yang masuk ke dalam kategori Abberation. Cassia tumbuh besar di satu lingkungan yang sama dengan Ky. Ia juga mengenal Ky dari kecil.

Semenjak saat itu Cassia lebih memperhatikan Ky. Apalagi mereka berdua secara tidak sengaja terjadwal di suatu kegiatan yang sama yaitu hiking. Cassia menemukan bahwa Ky sangat berbeda. Cassia tahu bahwa lama kelamaan ia merasakan apa yang seharusnya ia tidak boleh rasakan. Tidak boleh karena memang Cassia dan semua orang dari awal tidak mempunyai hak untuk menentukan pilihan.

Apa yang terjadi selanjutnya? Baca sendiri yaaaa… kekekek..

Buat saya cerita ini young adult banget ya. Pada beberapa bagian pengen rasanya berucap “aaaawww.. so sweet” hehe. Dan memang kisah ini walaupun bergenre young adult menyimpan rasa manis yang cukup berbobot lah (ngomong apa sih) hehe. Susah dijelaskan ;p

Yang jelas bikin saya penasaran untuk membaca buku selanjutnya yang berjudul Crossed. Apa yang selanjutnya terjadi pada Cassia. Will she survive against all odds? Tunggulah saya membeli buku selanjutnya dulu 😉

So in the middle of all the noise, I point to the sky. I hope he understands what I mean, because I mean so many things: My heart will always fly his name. I won’t go gentle. I’ll find a way to soar like the angles in the stories and I will find him.

And I know he understands as he looks straight at me,  deep into my eyes. His lips move silently, and I know what he says: the words of a poem that only two people in the world know.

Tears well up but i blink them away. Because if there is one moment in my life that I want to see clearly, this is it.

Aaaaawwww.. So sweeet.. (tuh kan!)

Cut Nyak Din, Kisah Ratu Perang Aceh By Madelon Szekely-Lulofs

Penerbit : Komunitas Bambu

Tebal : 367 Halaman

Alih Bahasa : Tim Penerjemah Komunitas Bambu

Di tempat itu arwah Umar akan menyertai kita! Dari sana jugalah kita akan memenuhi tugas-tugas kegerilyaan kita seperti yang biasa dilakukan oleh Umar. Kita akan memenuhi perintah Tuhan untuk memerangi orang kafir, Pang La’ot! Selama aku masih hidup kita masih memiliki kekuatan, perang geriliya ini akan kita teruskan! Demi Allah! Polim masih hidup! Bait hidup! Imam Longbata hidup! Sultan Daud hidup! Tuanku Hasyim hidup! Menantuku, Teuku Majet di Tiro masih hidup! Anakku Cut Gambang masih hidup! Ulama Tanah Abee hidup! Pang La’ot hidup! Kita semua masih hidup! Belum ada yang kalah! Umar memang telah Syahid! Marilah kita meneruskan pekerjaannya! Untuk Agama! Untuk kemerdekaan bangsa kita! Untuk Aceh! Allahu Akbar!

Waaaahhh.. Baca kalimat diatas bikin saya merinding! Dalam buku ini Cut Nyak Din mengucapkan kalimat di atas setelah menerima kabar bahwa suaminya Teuku Umar telah gugur di medan perang. Beliau berhasil meneguhkan hati karena menyadari bahwa sekarang dirinya harus menjadi kuat demi cita-cita perjuangan yang telah mengugurkan banyak nyawa. Maka Cut Nyak Din menyisihkan perasaan sedihnya karena kehilangan suami yang dicintainya. Merinding.

Cut Nyak Din adalah putri keluarga terkemuka di Aceh, Ayahnya Nanta Setia adalah seorang Ulubalang di wilayah 6 mukim (mukim: desa yang terdiri atas kampung-kampung masjid,  6 mukim berarti wilayah tersebut terdiri dari 6 desa). Pada tahun 1858 beliau dinikahkan dengan Teuku Ibrahim pada waktu berumur 10 tahun.

Cut Nyak Din dan Teuku Ibrahim adalah anak Aceh yang mencintai bangsa dan tanah airnya, teristimewa, Agamanya.

Sebagaimana ditulis dalam buku, dinyatakan bahwa walaupun dijodohkan. Mereka belajar bersama arti berumah tangga sehingga lama kelamaan timbul rasa saling mengasihi.

Tanggal 8 April 1873 bala tentara Belanda mendarat di Tanah Aceh. Teuku Ibrahim adalah salah satu pemimpin perlawanan terhadap Belanda yang sangat dihormati rakyat. Ketika peperangan memasuki wilayah 6 mukim, Teuku Ibrahim berada sebagai pemimpin barisan, diikuti oleh para pemuda dengan semangat berkobar untuk melawan tentara Belanda. Cut Nyak Din, para wanita dan anak-anak mengungsi dari Lampadang, kampung tempat mereka tinggal.

Di pengungsian Cut Nyak Din menerima berita bahwa suaminya gugur. Di tengah perasaan bingung dan kehilangan pegangan karena gugurnya Teuku Ibrahim, munculah sepupunya Teuku Umar yang tangkas dan berani menawarkan bantuan untuk membela wilayah 6 mukim. Din mencari tokoh yang dapat menggantikan kepemimpinan perlawanan. Di mata beliau pada saat itu tidak ada seorang pun yang cukup mumpuni untuk menggantikan Teuku Ibrahim. Munculnya Umar adalah jawaban bagi Cut Nyak Din.

Tak disangka-sangka dalam kalbu Din tersedia tempat untuk Umar. Saudara sepupunya itu dianggap cukup memiliki sifat-sifat satria dalam dirinya. Pilihan hati Din pun jatuh pada Umar. Umar itulah yang diharapkan dapat dijadikan kawan seperjuangan di masa-masa yang akan datang. Umar diharapkan menjadi pengganti kawan seperjuangan yang hilang.

Menikahlah Cut Nyak Din dengan Teuku Umar. Walaupun berstatus sebagai istri ketiga namun berbagai pihak mengakui bahwa Cut Nyak Din lah orang yang paling berpengaruh dalam perkembangan Umar selanjutnya.

Teuku Umar sendiri merupakan tokoh yang kontroversial. Banyak asumsi dan prasangka seputar diri Teuku Umar. Karena siasat menyerah pada pihak Belanda timbul banyak sekali pendapat mengenai Umar. Ada yang percaya bahwa Umar betul-betul berpura-pura menyerah dan ada yang berpendapat bahwa Umar seorang oportunis yang bertindak sesuai dengan keadaan.

Apapun motivasi Teuku Umar untuk menyerah dan bekerjasama dengan Belanda, pada akhirnya Teuku Umar menghianati pihak Belanda dengan membawa serta persediaan persenjataan dan amunisi yang tidak sedikit jumlahnya kepada pihak Aceh. Dan semenjak saat itu Teuku Umar menjadi pejuang paling berani yang memimpin perlawanan Aceh terhadap Belanda. Kiprah Teuku Umar membuat pihak Belanda menganggap bahwa untuk meredam perlawanan orang nomor satu yang harus mereka bunuh adalah Teuku Umar.

Selang beberapa waktu, Syahid pula lah Teuku Umar. Dan Cut Nyak Din menyatakan akan memimpin dan meneruskan perjuangan suaminya, sebagaimana dikutip pada awal review ini. Enam tahun setelah mempimpin geriliya Cut Nyak Din telah berada dalam kondisi tidak sehat. Matanya telah buta dan penyakit encok telah melemahkan gerak anggota tubuhnya. Seorang pengikutnya yang paling setia Pang La’ot akhirnya tidak sampai hati melihat kondisi Cut Nyak Din. Dan di saat itu hampir seluruh pejuang, bahkan Polim pun telah tunduk pada Belanda. Dengan motivasi ingin menyelamatkan Cut Nyak Din dari penderitaan akhirnya Pang La’ot mengadakan perundingan dengan Belanda.

Mereka akan menyerah asalkan Cut Nyak Din diperlakukan secara terhormat, dirawat dan diobati segala penyakit-penyakitnya. Belanda setuju, Cut Nyak Din, walaupun dengan sumpah serapah akhirnya dibawa oleh Belanda. Tadinya Cut Nyak Din akan dibiarkan tinggal di Aceh, namun melihat animo masyarakat yang tidak berhenti menjenguk pemerintah Belanda merasa khawatir akan keberadaan Cut Nyak Din. Khawatir keberadaan tokoh yang amat sangat disegani itu dapat kembali mengobarkan api perlawanan rakyat Aceh.

Akhirnya Cut Nyak Din dibuang ke Sumedang Jawa Barat. Di tanah asing itulah Cut Nyak Din menghembuskan nafas terakhirnya. Dan sampai saat terakhir masyarakat Sumedang tidak mengetahui jati diri wanita tua penuh kharisma yang mereka panggil Ibu Perbu.

Membaca buku ini serasa memanggil nama-nama dalam ingatan yang dihafal ketika masa sekolah dulu. Dan membuat saya mengerti mengapa semangat pantang menyerah itu bisa muncul.Mengerti  apa yang dibela para pejuang yang mempertaruhkan nyawanya. Dan mensyukuri detik ini saya bisa menikmati apa yang bisa saya nikmati.

Selain semangat perjuangan kita juga bisa mempelajari banyak tokoh dengan karakter yang sampai detik ini dan sampai kapan pun akan selalu ada. Manusia oportunis, manusia hipokrit, quitter, bermuka dua dan aneka ria jenis lainnya.

Saya berharap lebih banyak cerita ketika Cut Nyak Din selama enam tahun memimpin gerilya. Atau ketika beliau berada dalam pengasingan di Sumedang. Namun memang tidak banyak catatan sejarah tentang masa-masa itu.

Dan tentang Cut Nyak Din sendiri. Wanita luar biasa dengan hati seteguh karang dalam mempertahankan kebenaran. Wanita yang dengan berani membuang semua atributnya dan ikut langsung memimpin perlawanan demi tanah airnya, demi Agamanya. What more can I say? She’s simply a bright star.

Menurut orang Belanda, perang telah berakhir. Akan tetapi bagi orang Aceh yang pantang tunduk, perang masih jauh dari selesai.

Sunset Bersama Rosie By Tere Liye

Penerbit : Mahaka Publisher

Tebal : 425 Halaman

Besok adalah pembacaan vonis bagi terdakwa pelaku pengeboman Jimbaran. Anak-anak harus datang. Mereka harus menyaksikan. Mereka harus tahu indahnya proses berdamai dengan masa lalu. Memaafkan siapapun yang pernah menyakiti kita. Memahami indahnya menerima, memaafkan, tapi tidak melupakan.”

5 dari 5 bintang untuk buku Sunset Bersama Rosie. Wow! Novel karya pengarang Indonesia pertama yang paling banyak membuat saya meneteskan air mata. Bahkan saat menutup halaman terakhir saya sampai menangis sesenggukan. Bukan karena sad ending, sama sekali bukan. Tapi karena ceritanya yang indah. Cerita yang indah hampir di setiap bab dan membuat saya bertanya-tanya sendiri tentang banyak hal.

Setelah buku ini sepertinya Tere Liye berhasil melesat ke tiga teratas pengarang Indonesia Favorit saya.

Tegar dan Rosie adalah teman semenjak kecil. Mereka tumbuh besar di daerah Gili Trawangan, Lombok. Keluarga Rosie adalah salah satu pemilik Resort yang ada di sana. Mereka berdua lalu kuliah di Bandung.

Di Bandung, Tegar bertemu dengan Nathan yang ternyata berasal dari Gili Meno, tidak jauh dari tempat Tegar dan Rosie tumbuh besar. Tegar kemudian mengenalkan Nathan kepada Rosie.

Tegar dan Rosie memiliki kebiasaan mendaki Gunung Rinjani bersama pada masa liburan kuliah. Dua bulan setelah Tegar mengenalkan Nathan kepada Rosie, Tegar mengajaknya untuk ikut serta mendaki Gunung Rinjani, sesaat sebelum wisuda. Rencananya Tegar akan menyatakan perasaan yang telah ia pendam selama dua puluh tahun kepada Rosie. Tegar mengajak Nathan agar situasi tidak berubah menjadi ganjil jika ternyata Rosie menolaknya.

Sesaat sebelum mencapai puncak Gunung Rinjani, Tegar menyuruh Nathan dan Rosie untuk naik duluan karena ia akan mengisi persediaan minum terlebih dahulu. Ketika Tegar akhirnya menyusul sampai ke puncak, ia menyaksikan Nathan dan Rosie sedang duduk bersama di sebuah batu besar menghadap ke arah Sunset. Nathan sedang menyatakan perasaannya pada Rosie. Dua puluh tahun Tegar setara dengan dua bulan Nathan.

Tidak sanggup menyaksikan lebih lanjut, Tegar tersuruk-suruk turun gunung sendirian. Semenjak saat itu Tegar menghilang dari kehidupan Nathan dan Rosie tanpa kabar sama sekali. Tegar hanya mendengar bahwa Nathan dan Rosie kemudian menikah. Tegar pindah ke Jakarta, diterima di perusahaan sekuritas, kemudian bekerja seperti orang kesetanan. Berusaha sekuat tenaga mengusir bayang-bayang Rosie.

Lima tahun kemudian Tegar telah menjadi pekerja yang sukses. Suatu ketika bel pintu apartemen Tegar berbunyi. Yang datang adalah Nathan, Rosie bersama dua anak perempuan mereka Anggrek dan Sakura. Dua anak itu memperlakukan Tegar seolah telah mengenalnya seumur hidup. Melihat kedua anak tersebut, Tegar akhirnya menemukan kedamaian. Tegar pun menjadi sahabat keluarga tersebut. Paman paling hebat dari anak-anak Nathan dan Rosie.

Delapan tahun kemudian Nathan dan Rosie telah memiliki empat orang anak perempuan. Anggrek, Sakura, Jasmine dan Lili. Nathan dan Rosie akan merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang ketiga belas bersama anak-anak di suatu restoran di daerah Jimbaran, Bali. Keluarga itu ber tele confrence dengan Tegar yang ada di Jakarta. Mereka mengajak Tegar untuk turut serta menyaksikan Sunset Jimbaran melalui layar Laptop. Saat itu Tegar pun telah menemukan perempuan baik-baik bernama Sekar. Mereka akan bertunangan esok hari.

Lewat layar laptopnya Tegar mendengarkan anak-anak mengoceh. Lewat layar laptopnya juga Tegar menyaksikan secara langsung bom meledak di Jimbaran, tepat di restoran dimana keluarga Rosie berada.  Tanpa pikir panjang Tegar melesat ke Bandara, mencari pesawat tercepat ke Bali, tanpa ingat lagi bahwa esoknya ia seharusnya bertunangan.

Hanya dalam waktu tiga jam Tegar tiba di tempat kejadian. Hatinya teriris melihat kehancuran yang terjadi. Mendengar banyaknya korban yang jatuh. Di rumah sakit Tegar menemukan bahwa Nathan telah meninggal dunia, Rosie baik-baik saja namun tidak mau melepaskan tubuh Nathan yang sudah dingin. Anggrek, Jasmine dan Lili baik-baik saja, hanya Sakura yang terluka tangannya kirinya patah dan harus di gips, beberapa jarinya tidak akan bisa berfungsi seperti dulu.

Tegar kemudian mengurus pemakaman Nathan dan membawa Rosie beserta anak-anak kembali ke Gili Trawangan. Rosie bersikap seperti mayat hidup, hanya menatap kosong. Tegar mengambil tanggung jawab menghibur dan membesarkan hati anak-anak, juga mengurus resort. Rosie kemudian mencoba bunuh diri dan gagal. Beberapa hari kemudian Rosie tiba-tiba berteriak-teriak sendiri seperti orang kesurupan dan menyakiti siapa pun yang mendekatinya, termasuk anak-anak.

Rosie menderita depresi akut dan harus dirawat di sebuah shelter pemulihan jiwa di Bali. Satu tahun yang lalu mungkin saya akan menganggap reaksi Rosie berlebihan. Namun sekarang saya tau dengan pasti bahwa hal-hal semacam itu memang terjadi. Depresi akut membuat anda gila, depresi kronis membuat anda menjadi zombie.

Tegar lalu memutuskan mengurus anak-anak dan resort sementara Rosie dalam pengobatan, walau sebagai konsekuensinya Tegar harus menunda janji kehidupan yang sudah ia lontarkan pada Sekar. Perempuan sabar yang teramat mencintainya. Kisah selanjutnya harus dibaca sendiri. Yang jelas halaman demi halaman akan membuat kita mempertanyakan arti nasib, takdir, pilihan dan kesempatan.

Kalau saya yang menceritakan, jalan ceritanya mungkin terdengar biasa-biasa saja ya. Tapi cara Tere Liye menceritakan dalamnya perasaan dan betapa emosionalnya suatu peristiwa sungguh teramat sangat indah. Bravo! There were more than five times I actually weep reading this book. Akhirnya ada yang bisa menggambarkan perasaan cinta/kasih sayang dalam derajat yang lebih tinggi dari sekedar romantisme biasa.

Biasanya saya lebih menyukai kisah dengan ending yang biasa-biasa saja atau bahkan ending yang sedih karena lebih realistis untuk terjadi. Life isn’t a fairy tale. Tapi indahnya kisah jatuh bangun  tokoh-tokoh dalam buku ini, walaupun memang mungkin too good to be true, buat saya tetap seperti sebatang lilin dalam gelap. Masih adakah kesempatan itu?

Ada banyak cara menikmati sepotong kehidupan saat kalian sedang tertikam belati sedih. Salah-satunya dengan menerjemahkan banyak hal yang menghiasi dunia dengan cara tak lazim. Saat melihat gumpalan awan di angkasa. Saat menyimak wajah-wajah lelah pulang kerja. Saat menyimak tampias air yang membuat bekas di langit-langit kamar. Dengan pemahaman secara berbeda maka kalian akan merasakan sesuatu yang berbeda pula. Memberikan kebahagiaan yang utuh – yang jarang disadari – atas makna detik demi detik kehidupan.”

1984 By George Orwell

Penerbit : Penguin Books

Tebal : 311 Halaman

There were four ministries the government was divided. The Ministry of Thruth concerned itself with news, entertainment, education and fine arts. The Ministry of Peace concerned itself with war. The Ministry of Love, which maintain law and order. And the Ministry of Plenty, which was responsible for economic affairs. Their names, in Newspeak : Minitrue, Minipax, Miniluv and Miniplenty.

For me, this book is an epic. An absolute masterpiece. A book that accurately translate collective human nature greediness over power. Nomor satu di daftar my best book of all time.

Tokoh utama kita, Winston Smith bekerja di Ministry of Truth alias Minitrue. Winston tinggal di kota yang dulunya bernama London, dan kini disebut Airstrip One di suatu negara yang bernama Oceania. Di tahun 1984 di masa Winston hidup, kekuatan Dunia terbagi menjadi tiga bagian. Oceania, Eurostasia dan Eastasia yang terus menerus berperang satu sama lain.

Ocenia dipimpin oleh suatu figur maha besar bernama “Big Brother”. Poster wajah Big Brother tertempel dimana-mana di seluruh tempat umum, dengan slogan khasnya “Big Brother is watching you”. Secara harfiah memang di dunia Winston pergerakan setiap orang terpantau melalui telescreen dan hidden microphone yang tersembunyi di mana-mana. Bahkan ketika anda berada di WC pun pergerakan anda terpantau telescreen. Privacy is a mere fantasy.

Struktur masyarakat terbagi menjadi tiga bagian rigid. Inner Party adalah masyarakat dengan kekuatan paling atas yang menentukan kebijakan dan aturan. Outer Party adalah common people seperti Winston, para pekerja. Dan satu lagi adalah The Proles, masyarakat kumuh yang derajatnya nyaris disamakan dengan binatang. The Proles are inhuman.

Setiap pemikiran untuk menghianati kebijakan Big Brother termasuk dalam kategori kejahatan. Cara bergerak, mimik wajah bahkan igauan dalam tidur pun bisa dijadikan bukti kejahatan terhadap negara. Catatan sejarah telah seluruhnya ditulis ulang sesuai dengan kepentingan partai dan dapat terus menerus diganti dan ditulis ulang jika dibutuhkan. Anak dididik untuk mematai orang tuanya dan menyerahkan orang tuanya ke partai sebagai penghianat jika melakukan tindak tanduk yang mencurigakan.

Suatu hari ketika berjalan di sekitar daerah kumuh, Winston secara spontan membeli sebuah buku harian kosong. Buku harian tersebut memancing pemikiran-pemikiran yang selama ini terendap di kepala Winston. Semua doktrin dari Big Brother adalah suatu kebohongan. Apakah hanya ia yang memiliki ingatan akan hal ini? Maka Winston pun memutuskan untuk menulis di buku harian tersebut untuk mendokumentasikan pemikirannya. Winston pun menulis..

To the future or to the past, to a time when thought is free, when men are different from one another and do not live alone-to a time when truth exists and what is done cannot be undone.

From the age of uniformity, from the age of solitude, from the age of Big Brother, from the age of doublethink-greetings!

Sebuah langkah yang sangat berani mengingat pada saat itu sekedar “pemikiran” dapat dianggap sebagai sebuah kejahatan besar. Semakin banyak Winston berfikir dan menulis, semakin ia merasa gelisah. Satu orang tidak mungkin melawan seisi dunia.

Kemudian Winston bertemu dengan Julia, anggota Outer Party yang tadinya Winston kira adalah seorang mata-mata alias Thought Police yang sedang berusaha untuk menangkapnya. Sampai suatu ketika dengan usaha yang hati-hati Julia berhasil menyelipkan secuil kertas yang bertuliskan “I Love You”.

Bagaikan permainan Cat and Mouse mereka berdua berusaha keras menciptakan pertemuan-pertemuan di tempat-tempat tersembunyi. Pertemuan dengan Julia menimbulkan pemikiran-pemikiran baru dalam kepala Winston. Bahwa dahulu, di suatu masa, personal loyalty adalah sesuatu yang berharga. Rasa sayang dan ingin melindungi antara satu manusia dengan manusia yang lain adalah nyata. Di suatu saat di masa lalu. Sebelum diganti oleh idiologi Big Brother dimana kesetiaan dan cinta hanya boleh didedikasikan pada Big Brother. Winston menyadari bahwa anggota partai lah yang bukan manusia. The Proles dengan kebebasannya jauh lebih “manusia” daripada mereka.

Being a minority, even a minority of one, did not make you mad. There was truth and there was untruth, and if you clung to the truth even against the whole world, you were not mad.

Winston dan Julia kemudian bertemu dengan O’Brien. Seseorang yang mereka kira adalah seorang sekutu. Apakah mereka akan berakhir bahagia? Of course not. Winston dan Julia akhirnya  tertangkap dan mengalami penyiksaan demi penyiksaan. U see, seorang yang tertangkap karena pemikirannya tidak serta merta dihukum mati, mereka harus melalui serangkaian cuci otak untuk mengubah 180 derajat pemikiran mereka sehingga segaris dengan partai, baru kemudian dibunuh atau dilepaskan sesuai dengan kepentingan. Lalu apa akhir bagi Winston dan Julia? Hhhhh.. Cukup getir.. After all this Big Brother society is too well-constructed to break apart in the face of one man’s resistance..

And the people under the sky were also very much the same-everywhere, all over the world, hundreds of thousands of millions of people just like this, people ignorant of one another existence, held apart by walls of hatred and lies, and yet almost exactly the same-people who had never learned to think but who were storing up in their hearts and bellies and muscles the power that would one day overturn the world.

Before I Fall By Lauren Oliver

Penerbit :Hodder

Tebal : 339 Halaman

It amazes me how easy it is for things to change, how easy it is to start off down the same road you always take and wind up somewhere new. Just one false step, one pause, one detour, and you end up with new friends or a bad reputation or a boyfriend or a breakup. It’s never occurred to me before; I’ve never been able to see it. And it makes me feel, weirdly, like maybe all of these different possibilities exist at the same time, like each moment we live has a thousand other moments layered underneath it that look different.

Samantha Kingston harus mengulang2 hari kematiannya untuk pada akhirnya menemukan apa yang benar untuk dilakukan. Agak gemesin memang, but hey, everybody deserve a second chance right?

Samantha and the gang, Lindsay, Ally dan Elody adalah geng anak-anak paling populer di sekolah mereka yang notabene memberikan mereka hak untuk melakukan apa saja, membully siapa saja yang mereka tidak sukai dan melakukan hal-hal terlarang lainnya and they get to got away with it.

Hari itu adalah Cupid Day dimana setiap murid boleh saling mengirimkan bunga mawar via messenger yang memakai kostum cupid. Murid yang mendapatkan mawar terbanyak tentu saja menasbihkan posisinya sebagai murid paling populer.

Samantha bangun sedikit terlambat, ia dijemput ke sekolah oleh Lindsay untuk kemudian bergabung dengan Ally dan Elody. Mereka memulai hari seperti biasa, seakan-akan mereka akan hidup selamanya.

Di hari itu Sam menjalani hari yang standar, menyontek ketika kuis, flirting dengan guru matematika, mengabaikan teman masa kecilnya Kent yang mengirimkannya mawar, bertemu dengan gengnya ketika makan siang plus pacarnya Rob_cowo kecengan sejuta umat di sekolah, membully Juliet Sykes_cewe yang mereka juluki psycho di jam istirahat, bolos jam pelajaran untuk makan yoghurt bersama Lindsay. Standar.

Setelah jam sekolah selesai mereka pergi ke rumah Ally. Pada malam itu, Kent ternyata akan mengadakan pesta di rumahnya dan tentu saja mereka harus bersiap-siap. Setibanya di tempat Kent ternyata telah cukup banyak teman2 mereka yang datang, keempat gadis itu segera berpencar untuk mencari pasangan masing dan “sibuk sendiri”.

Ketika akhirnya mereka berempat berkumpul lagi, mereka dikejutkan dengan kedatangan Juliet Skykes. Tanpa tendeng aling-aling Juliet mendatangi Lindsay dan mengatakan sesuatu yang telah lama ingin ia katakan “You’re a bitch!!”. Tidak mau kehilangan muka, Lindsay membalasnya dengan berkata “I rather be a bitch than a psycho!” lalu Lindsay mengomando teman-temannya untuk berteriak Psycho berulang-ulang sambil mendorong tubuh Juliet kesana kemari, mereka juga bergantian menumpahkan minuman di tubuh Juliet dan ditutup dengan Sam yang mendorongnya sekuat tenaga ke sebuah lemari buku sebelum akhirnya Juliet keluar dari rumah tersebut. Sam merasa sedikit bersalah namun mengabaikannya.

Mereka pulang dari pesta bersama-sama. Lindsay yang menyetir. Di suatu tikungan tiba-tiba mereka melihat cahaya yang terang, mobil terbalik, dan di saat itu kenangan2 aneh menghampiri Sam di momen kematiannya.

Alarm berbunyi. Sam terbangun dengan penuh keringat. Ia terbangun di hari kemarin. Cupid day, hari dimana Sam menemui akhir. How come?

Needless to say that this book is all about making amends. Pada awalnya saya merasa sangat kesal dengan Sam, i don’t like her at all. Namun di hari-hari berikutnya Sam mendapatkan pencerahan dan menyadari bahwa things could be different. Setiap langkah adalah pilihan dan dapat berujung pada sesuatu yang sama sekali berbeda. Sam mencoba membuat perbedaan, dan saya jatuh kasihan setiap kali ia harus mengulang kematian. Lalu apakah Sam akan mendapatkan kesempatan kedua? Itukah mengapa ia bangun di hari kematiannya berulang2? Banyak twist yang membuat buku ini cukup menarik dan harus dibaca sendiri.

Namun bagaimanapun saya berharap tidak banyak anak remaja sekarang yang harus mati berulang-ulang hanyak untuk menyadari apa yang benar untuk dilakukan dan apa yang tidak. Hehehe.

I guess that’s what saying good-bye is always like–like jumping off an edge. The worst part is making the choice to do it. Once you’re in the air, there’s nothing you can do but let go.

I think of all the thousands of billions of steps and missteps and chances and coincidences that have brought me here. Brought you here, and it feels like the biggest miracle in the world.