Momo By Michael Ende

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 320 Halaman

Alih Bahasa : Hendarto Setiadi

Those who still think that listening isn’t an art should see if they can do it half as well.”

Tadi pagi kebangunan jam 2 dan tiba-tiba pengen baca ulang salah satu my best book of all time, Momo by Michael Ende. Udah lama banget punya buku ini dan sampai sekarang ceritanya masih berkesan. Kenapa saya pengen baca ulang buku ini? Mungkin karena memang akhir-akhir ini susah sekali mencari orang yang mau mendengar, betul-betul mendengar apa yang kita ceritakan. Everyone is to bussy with their own life they seldom notice that their friend/relatives need to be listened to.

Momo adalah seorang anak perempuan kecil misterius yang tiba-tiba saja muncul di amphiteater kota. Tidak butuh waktu lama bagi Momo untuk menjadi kesayangan seluruh penduduk kota. Mengapa bisa demikian? Karena Momo adalah seorang pendengar yang baik. Momo betul-betul mendengarkan dengan sabar dan penuh perhatian cerita setiap orang. Setelah bercerita pada Momo, setiap orang selalu merasa lebih baik dan seringkali menemukan sendiri solusi atas permasalahannya. Sekarang, setiap kali ada penduduk kota yang sedang merasa bermasalah, ungkapan “Ayo coba cari Momo!” menjadi sesuatu yang biasa di kota tesebut.

Sampai suatu ketika keadaan mulai berubah ketika para laki-laki berstelan abu-abu mulai berkeliaran di seluruh penjuru kota. Mereka menawarkan kepada para penduduk untuk menyimpan waktu di bank. As absurd as it may sound, banyak penduduk kota yang termakan oleh bujukan para tuan abu-abu. Setelah itu suasana kota yang hangat mulai berubah karena setiap orang jadi tidak memiliki waktu untuk orang lain dan sibuk dengan dirinya sendiri. Alih-alih mendengarkan cerita anak-anak mereka, para orang tua membelikan mereka mainan-mainan mahal agar bisa menghemat waktu mereka.

Momo memperhatikan perubahan tersebut dan merasa sedih karenanya. Orang-orang kota mulai bertindak seperti robot dan tidak lagi menikmati hidup. Ketika pengaruh para tuan abu-abu sudah mengenai sahabat-sahabat terdekat Momo, ia memutuskan untuk menghentikan upaya para tuan abu-abu dengan bantuan seekor kura-kura bernama Cassiopeia. Berdua mereka mencoba menemui seorang Profesor Waktu yang bernama Hora. Berhasilkah Momo? What do you think?

Uniknya, cerita ini ditulis Michael Ende pada tahun 1973. Dan di ujung tahun 2011 ini saya merasa dunia sudah dipenuhi para tuan abu-abu dengan konsep hemat waktu nya. Waktu terasa cepat banget berlalu dan seperti yang digambarkan dalam cerita, setiap orang sibuk dengan kehidupan dan kegiatan nya masing-masing. Kapan terakhir kali kita meluangkan waktu untuk betul-betul mendengarkan cerita seorang sahabat ?? (bukan lewat text messages, bbm atau chat media lainnya)

Seringkali saya melihat sekumpulan orang di tempat umum/restoran/cafe yang ceritanya sedang berkumpul tapi setiap orang sibuk dengan HP masing-masing. Agak geli sebenarnya. Apakah interaksi lewat social media bisa menggantikan tatap muka langsung? Sebegitu sibuknya kah kita?

Banyak hal yang tidak bisa tergambarkan lewat kata-kata. Words can lie tapi tatapan mata, gesture atau nada suara tidak. Hati tidak bisa hanya bicara lewat kata-kata, tapi juga dengan keberadaan. I don’t want to be one of those people corrupted by The Men In Grey. I want to able to cherish the beauty of the event and all the little things that pass in time and that include “being there” for people i care about. People i go a thousand miles for.

Life holds one great but quite commonplace mystery. Though shared by each of us and known to all, seldom rates a second thought. That mystery, which most of us take for granted and never think twice about, is time.

Calendars and clocks exist to measure time, but that signifies little because we all know that an hour can seem as eternity or pass in a flash, according to how we spend it.

Time is life itself, and life resides in the human heart.

Advertisements