Of Mice and Men By John Steinbeck

Penerbit : Penguin Books

Tebal : 107 Halaman

Setelah ditimbun dari kapan tahun akhirnya kebaca juga buku tipis ini. Buku yang bikin saya kaget dan sedih dengan endingnya. Ngga nyangka kalo buku setipis ini bisa menyebabkan efek sebegitunya. John Steinbeck ternyata ahli membangun emosi dan “panggung” dari ending yang sudah dia siapkan.

Tema besar dari buku kecil ini (menurut saya) adalah rasa kesepian dan persahabatan. Persahabatan antara Lennie, seorang pria berbadan dan bertenaga besar namun bermental seperti anak-anak dan George, seorang pria kecil yang (lumayan) pintar. Rasanya dalam buku tidak ditulis secara eksplisit tentang tahun latar cerita ini. Namun dari sumber-sumber yang saya baca cerita dalam buku ini berlatar ketika Amerika mengalami krisis ekonomi pada tahun 1920an.

George dan Lennie berpindah-pindah kerja dari suatu tempat kerja ke tempat kerja lainnya. Kebanyakan penyebab mereka harus berpindah adalah Lennie yang  (secara tidak sengaja) menimbulkan masalah. Lennie adalah lelaki besar bermental anak-anak yang sangat suka mengelus2 hewan peliharaan atau apapun yang menarik minatnya.

Kali terakhir mereka bekerja, mereka harus melarikan diri karena Lennie ingin memegang baju dari seorang perempuan yang menurut Lennie kainnya bagus dan menarik. Perempuan tersebut ketakutan dan menjerit-jerit, karena panik Lennie tidak sengaja memegang tangan perempuan tersebut keras-keras. Lennie pun dituduh berbuat tidak senonoh dan mereka berdua harus kabur untuk menyelamatkan jiwa Lennie dari aksi “main hakim sendiri”.

Cerita dibuka dengan adegan dimana George dan Lennie sedang beristirahat di tepi danau dekat tempat baru dimana mereka akan bekerja. George memaksa Lennie untuk menyerahkan benda yang ada dalam sakunya yang ternyata adalah sebuah tikus mati. Lennie tidak bermaksud untuk membunuh tikus itu, bahkan dia ingin memeliharanya. Namun karena tenaganya yang terlalu kuat, Lennie tidak sengaja membuat tikus tersebut mati.

George marah dengan kelakuan Lennie. Namun pada akhirnya hatinya luluh. Dan saya terharu ketika dengan polos seperti anak kecil Lennie minta George untuk menceritakan ulang mimpi mereka berdua. Mereka berdua bermimpi memiliki sepetak lahan dan rumah lengkap dengan kebun kecil. Mereka juga ingin memelihara binatang seperti sapi, ayam dan spesial pesanan Lennie, mereka harus memelihara kelinci. Lennie sangat ingin memelihara kelinci sampai bisa dibilang nyaris terobsesi.

Sepanjang awal cerita saya terus-terusan mencari ulterior motif kenapa George mau bersusah payah mengurusi dan menjaga Lennie. Memastikan bahwa Lennie tetap aman dan tidak mendapatkan masalah. Tidak ada pertalian darah antara mereka. Mereka dua orang yang simply menjalani hidup berdua. Awalnya pikiran skeptis saya menduga pasti ada penyebab lain, hutang budi atau latar belakang sejarah lain yang menyebabkan Lennie sangat menghormati dan menyayangi George dan George juga sangat perduli dengan Lennie, walau terkadang tidak dipungkiri George pun merasa terbebani. Jawabannya ada dalam quotes ini yang dilontarkan oleh seorang tokoh di ¾ terakhir buku.

A guy goes nuts if he ain’t got nobody. Don’t make no difference who the guy is, long’s he’s with you.”

Mereka bersabahat, pure bersahabat karena memiliki seseorang jauh lebih baik dari kesepian sendirian. Tidak perduli seperti apa dan siapa orang itu, jika mereka sudah saling membantu dalam waktu yang begitu lama mereka akan begitu terbiasa satu sama lain dan menerima apa adanya.

Mengingatkan saya teori karangan saya sendiri tentang kaos bekas. Kaos yang sudah lama kita pakai di rumah semakin lama akan semakin nyaman, tidak perduli warnanya semakin pudar atau ada bolong kecil di sana sini, kita akan semakin nyaman memakai kaos tersebut karena sudah sangat terbiasa dengannya. Dan tidak mungkin kita dengan mudahnya membuang rasa nyaman tersebut. Metafora yang saya ciptakan sendiri tentang suatu bentuk hubungan yang ideal.

Anyway, George dan Lennie akhirnya tiba di tempat kerja mereka yang baru. Disana mereka bertemu dengan tokoh-tokoh tambahan yang juga sarat dengan rasa kesepian. Candy, Slim, Curley, Istri Curley dan Crooks.

Saya tidak akan menceritakan kelanjutannya ah. Nanti jadi spoiler. Yang jelas, saya berharap cerita ini memiliki ending yang berbeda. Karena ketika menutup buku saya dilingkupi dengan perasaan sedih dan muram. Seperti menonton film dengan ending yang menyesakkan.

Another great classics story yang simpel, sarat makna dan menurut saya wajib dibaca.

Posting review terakhir di tahun 2011. Mudah-mudahan di tahun 2012 lebih rajin baca dari pada rajin beli buku *lirik timbunan* hehehe..

Cecilia dan Malaikat Ariel By Jostein Gaarder

Penerbit : Mizan

Tebal : 210 Halaman

Alih Bahasa : Andityas Prabantoro

Semua bintang suatu saat akan jatuh. Tapi, sebuah bintang hanyalah sepercik kecil bunga api dari mercusuar agung di langit sana.”

Buat saya, mungkin buku ini adalah salah satu buku Jostein Gaarder yang paling mudah dipahami. Masih kental dengan filosofi, namun gagasan yang diungkapkan sederhana dan menohok.

Dikisahkan seorang anak perempuan bernama Cecilia Skotbu yang berada dalam kondisi amat sakit menjelang hari natal. Seisi keluarga berusaha sekeras mungkin untuk membuat Cecilia senang. Mungkin karena telah berada dalam kondisi sakit yang lumayan lama, Cecilia adalah anak perempuan yang pada awalnya (menurut saya) sedikit bitter dan pemaksa.

Suatu saat tiba-tiba saja muncul suatu sosok yang mirip dengan anak laki-laki berambut panjang di kamar Cecilia. Sosok tersebut memperkenalkan dirinya sebagai Malaikat dengan nama Ariel.

Semenjak saat itu ketika tidak ada seorang pun di kamar Cecilia Malaikat Ariel selalu menemaninya. Mereka saling ingin mengetahui tentang dunia masing-masing. Cecilia ingin tahu bagaimana rasanya menjadi malaikat yang hidup abadi sepanjang masa. Malaikat Ariel ingin tahu bagaimana rasanya menjadi manusia yang terbuat dari darah dan daging.

Pembicaraan mereka seringkali lucu dan menyentil. Bagaimana ternyata para malaikat tidak bisa merasa, tidak bisa mencium bebauan dan tidak bisa merasa sakit. Bahkan malaikat tidak merasakan apa-apa ketika mencubit tangannya sendiri. Dan bagi para malaikat, otak manusia dengan kemampuan berpikir, mengingat dan bermimpi adalah ciptaan yang paling luar biasa misterius.

Bagaimana rasanya di dalam kepalamu saat kau sedang ingat sesuatu? Apa yang terjadi dengan semua atom dan molekul di dalam otakmu? Apa menurutmu, mereka mendadak berlompatan dan menempati posisi yang tepat sama seperti saat kau mengalami apa yang sedang kau pikirkan?”

Karena saat kalian, manusia, bermimpi, kalian menjadi aktor sekaligus penonton. Bukankah itu sangat misterius?

Atau pemikiran geram Cecilia ketika Malaikat Ariel bercerita bahwa melalui matanya yang hidup dalam keabadian, manusia hanya datang dan pergi begitu saja dengan singkat. Pernyataan itu sedikit membuat Cecilia kesal karena merasa bagaikan bola sabun yang dipermainkan oleh Tuhan. Dan terpananya Cecilia ketika Malaikat Ariel bercerita bahwa ketika ingin menyendiri Malaikat bermain-main di antara asteroid bahkan kadang turut menumpang di atas meteor yang konon rasanya seperti bermain Rollercoaster.

The simple truth is, manusia memang tidak akan bisa memahami sepenuhnya tentang kehidupan. Di waktu kunjungan kita yang terbatas ini kita hanya bisa mempelajari sepotong-sepotong kecil pengetahuan hidup. Just be grateful for what we’re able to learn, little pieces puzzle of this universe.

Kita melihat segala sesuatu dalam cermin, samar-samar. Kadang-kadang, pandangan kita bisa menembus kaca dan melihat sekilas apa yang ada di balik cermin. Jika kita menggosok cermin itu sebersih-bersihnya, kita akan bisa melihat lebih banyak lagi. Tapi kita tidak bisa lagi melihat diri kita sendiri.

The Painted Veil By W. Somerset Maugham

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal :299 Halaman

Alih Bahasa : Tanti Lesmana dan Rosi L. Simamora

Saya menonton film The Painted Veil ini beberapa tahun yang lalu. Filmnya membuat saya terpikat pada Edward Norton yang memerankan Walter Fane. Edward Norton dan tatapan sendunya. Luckly dalam film kita tidak bisa membaca apa yang si tokoh pikirkan. Jika ia mungkin saya akan membenci sosok Kitty dari dulu. Such a shallow minded woman. Dan ending dalam filmnya pun dipermanis.

Kitty tumbuh besar di masa dimana seorang anak perempuan dibesarkan hanya untuk “menangkap” calon suami potensial. Kitty tergolong kepada perempuan muda yang cantik dan ceria dan diharapkan dapat menjaring calon2 potensial. Namun ketika mencapai umur 25 tahun dan belum juga menikah, seluruh keluarga, terutama ibunya mulai merasa gelisah (oh please!!).

Ditambah dengan kenyataan bahwa adik perempuan Kitty, Doris yang selama ini tidak terlalu diunggulkan ternyata lebih dahulu memiliki calon suami dan akan segera menikah. Kitty berada dalam posisi terpojok.

Pada saat itu hanya tersisa satu orang pemuda yang masih mendekatinya. Seorang dokter sekaligus ahli bakteri bernama Walter Fane. Kitty sebenarnya menganggap Walter sebagai orang yang terlalu serius dan membosankan. Namun ia tidak memiliki pilihan lain, Kitty pun menerima lamaran Walter dan mereka segera melangsungkan pernikahan.

Setelah menikah, Walter membawa Kitty ke Hongkong, tempatnya ditugaskan. Tidak butuh waktu lama bagi Kitty untuk menjalin affair dengan seorang pria tampan tapi (menurut saya) sama bodoh, egois dan dangkalnya dengan Kitty yang juga merupakan salah satu pejabat terkemuka di koloni tersebut. Pria itu bernama Charles Towsend dan ia juga sudah menikah.

Suatu ketika Walter mengetahui affair tersebut. Sebagai penyelesaian Walter menawarkan dua alternatif pada Kitty. Yang pertama adalah Kitty ikut dengannya ke suatu daerah terpencil dimana wabah kolera sedang merajalela. Kedua, Walter akan menceraikan Kitty dengan syarat Charles harus menandatangani perjanjian secara tertulis yang menyatakan bahwa dirinya juga akan  menceraikan istrinya dan menikahi Kitty seminggu setelah Walter menceraikan Kitty.

Kitty yang pemikirannya dipenuhi oleh khayalan2 yang tidak masuk akal tentu saja memilih untuk mencoba alternatif kedua terlebih dahulu. Ternyata oh ternyata Charles tentu saja menolak untuk menceraikan istrinya demi menikahi Kitty. Charles tidak mau jabatannya terancam karena skandal tersebut. Charles bahkan menyarankan Kitty untuk ikut dengan Walter. Kitty yang malang pun merasa tertipu dan dipermainkan.

Walter dan Kitty pun pindah ke suatu daerah terpencil bernama Mei tan fu. Walter akan membaktikan dirinya untuk mengatasi wabah kolera disana. Sedangkan Kitty dari awal sudah merasa bahwa ini adalah misi bunuh diri dan merasa pasrah akan apa yang terjadi. Apakah pada akhirnya Walter akan memaafkan Kitty? Apakah Kitty pada akhirnya akan menjadi manusia yang lebih baik? Saya lebih menyukai versi filmnya dari pada cerita aslinya walaupun ending di versi filmnya lebih klise. Dan oh oh oh sepanjang isi buku terbayang2 tatapan kecewa dan sedihnya Edward Norton. Ini quote yang membuat saya merasa ikut sedih akan nasib Walter, tapi saya lebih menyukai quote versi bhs inggrisnya yang saya catut dari goodreads.

I had no illusions about you,’ he said. ‘I knew you were silly and frivolous and empty-headed. But I loved you. I knew that your aims and ideals were vulgar and commonplace. But I loved you. I knew that you were second-rate. But I loved you. It’s comic when I think how hard I tried to be amused by the things that amused you and how anxious I was to hide from you that I wasn’t ignorant and vulgar and scandal-mongering and stupid. I knew how frightened you were of intelligence and I did everything I could to make you think me as big a fool as the rest of the men you knew. I knew that you’d only married me for convenience. I loved you so much, I didn’t care. Most people, as far as I can see, when they’re in love with someone and the love isn’t returned feel that they have a grievance. They grow angry and bitter. I wasn’t like that. I never expected you to love me, I didn’t see any reason that you should. I never thought myself very lovable. I was thankful to be allowed to love you and I was enraptured when now and then I thought you were pleased with me or when I noticed in your eyes a gleam of good-humored affection. I tried not to bore you with my love; I knew I couldn’t afford to do that and I was always on the lookout for the first sign that you were impatient with my affection. What most husbands expect as a right I was prepared to receive as a favor.”

Poor fella!! How come you love her so much..

The Girl Who Played With Fire By Stieg Larsson

Penerbit : Quercus

Tebal : 649 Halaman

There are no innocents. There are, however, different degrees of responsibility.”

Akhirnya kebaca juga buku kedua dari millenium trilogi ini. Over all saya lebih menyukai buku kedua ini karena kadar kesadisan nya ngga separah yang pertama dan lebih banyak bercerita tentang tokoh kesukaan saya Lisbeth Salander dari pada sang Don Juan Mikael Blomkvist :).

Setelah huru hara yang terjadi di buku pertama, Lisbeth Salander berhasil “mengamankan” sejumlah kekayaan yang membuat dia tidak perlu pusing-pusing lagi bekerja di masa yang akan datang. Setelah mengakhiri hubungan singkatnya dengan Mikael, Salander memutuskan untuk travelling keliling dunia.

Sementara itu kantor  Millenium yang saat ini tengah mengalami kebangkitan dari kondisi sebelumnya akan menerbitkan sebuah buku yang mengungkap tentang seluk beluk dunia “sex trade” yang terjadi di Swedia. Termasuk aktor-aktor yang terlibat di dalamnya. Buku ini diprediksi akan menyebabkan kehebohan karena banyak aparat hukum, termasuk dari kepolisian yang terlibat dalam dunia tersebut yang akan terungkap dalam buku.

Ketika Salander kembali dari tour nya, ia mencoba untuk mencari tahu apa yang akhir-akhir ini dikerjakan oleh Mikael. Alangkah terkejutnya Salander ketika membaca material buku dan menemukan nama Zala di dalamnya. Sebuah nama dari masa lalu ketika peristiwa yang dia sebut “All The Evil” belum terjadi.

Lalu suatu malam pengarang dari buku yang akan diterbitkan oleh kantor Millenium, Dag Svensson dan pacarnya Mia Johansson ditemukan terbunuh di apartemen mereka.  Senjata api yang dipergunakan untuk membunuh teregister milik Nils Erik Bjurman, tokoh dari buku pertama yang kita ketahui merupakan legal guardian dari Salander yang dengan semena-mena menyalahgunakan posisinya. Tidak lama kemudian diketahui pula ternyata Bjurman pun sudah tertembak mati di apartemennya sendiri.

Pada senjata yang digunakan untuk ketiga pembunuhan tersebut ditemukan sidik jari Lisbeth Salander. Tidak butuh waktu lama bagi media untuk mencium berita tersebut, dan Lisbeth Salander pun menjadi buronan nomor satu di Swedia. Ditambah dengan fakta bahwa Salander dimasukan ke rumah sakit jiwa pada umur 12 tahun dan dinyatakan legally incompetent membuat dirinya semakin menjadi bulan2an media.

Sebuah tim di kepolisian dibentuk untuk menyelidiki pembunuhan tersebut. Di awal penyelidikan misi mereka sangat jelas, memburu secepat mungkin Lisbeth Salander. Di sisi lain, beberapa orang yang mengenal baik Salander pun berusaha mencari fakta yang sebenarnya terjadi untuk membebaskan Salander dari tuduhan.

My oh my. Saya semakin menyukai karakter Lisbeth Salander. Di buku kedua ini masa lalu Salander terbongkar, termasuk salah satu episode dalam hidupnya yang selama ini hanya disebut-sebut sebagai “All The Evil”. Masa lalunya memang mengerikan. Dan saya dapat merasakan betapa selama ini Lisbeth Salander salah dimengerti oleh semua pihak dan kesal setengah mati pada orang-orang yang berkonspirasi sehingga ia dicitrakan sebagai perempuan muda yang sakit jiwa.

Sekali lagi Stieg Larsson berhasil menyajikan mistery thriller yang bikin betah untuk dibaca sampai akhir dan menutupnya dengan ending yang dramatis dan tidak terduga. Mari baca buku ketiganya !!

“I am what I am,” Salander said. “I ran away from everything and everybody.”

The Phantom of The Opera By Gaston Leroux

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 376

Alih Bahasa : Stefanny Irawan

Gaston Leroux membuka novel ini dengan gaya seorang detektif yang menuliskan kata pengantar untuk hasil penyelidikan panjangnya untuk membuktikan bahwa mitos hantu opera di Gedung Opera kota Paris betul-betul ada. Beliau menghubungkan keberadaan si hantu opera dengan kejadian yang cukup menghebohkan di kota Paris ketika itu, yaitu penculikan penyanyi opera cantik Christine Daae, menghilangnya Vicomte de Chagny alias Raoul serta kematian kakaknya Count Philippe.

Raoul dan Christine adalah teman masa kecil. Ketika itu mereka berdua seringkali bersama-sama mendengar dongeng anak dari ayah Christine. Salah satu dongeng yang paling sering diceritakan oleh ayah Christine adalah tentang Sang Malaikat Musik. Kebetulan Christine adalah anak perempuan dengan bakat menyanyi yang cukup menonjol. Beberapa waktu yang mereka habiskan bersama membuat Raoul dan Christine saling menyimpan perasaan satu sama lain. Karena satu dan lain hal pada saat itu mereka harus berpisah jalan.

Raoul meneruskan pendidikan dan jalur hidup bangsawannya. Sesaat sebelum Ayah Christine meninggal, ia berpesan bahwa jika ia telah meninggal dunia, suatu saat ia akan mengirimkan Sang Malaikat Musik dari surga untuk Christine. Semenjak ayahnya meninggal, Christine kehilangan minat untuk mengekplorasi bakatnya dan menyanyi seadanya. Mereka berdua pun beranjak dewasa di jalan yang berbeda.

Christine kemudian diterima sebagai bagian dari pertunjukkan opera Paris sebagai pemeran figuran. Suatu ketika di ruang gantinya Christine mendengar suara nyanyian yang luar biasa indah seolah berasal dari surga. Lama kelamaan suara itu mulai berbicara pada Christine dan memperkenalkan dirinya sebagai sang malaikat musik. Sang malaikat musik memberikan tawaran pada Christine untuk mengajarinya bernyanyi, dan Christine pun menerimanya.

Di saat yang bersamaan di gedung opera sedang heboh-hebohnya beredar rumor tentang si Hantu Opera. Banyak orang telah menyaksikan si Hantu Opera berkeliaran. Hantu tersebut selalu muncul dengan gaya yang khas, stelan jas dan topeng yang menutupi wajahnya dan menonton jalannya pertunjukkan dari boks nomor lima. Rumor memanas setelah ditemukannya Joseph Baquet seorang petugas opera mati tergantung di ruang bawah tanah. Bahkan para manajer opera yang baru pun mendapatkan surat dari Si Hantu Opera.

Sebenarnya telah beberapa lama Raoul mengetahui bahwa Christine sekarang bagian dari pertunjukkan opera. Raoul telah beberapa kali menyaksikan Christine sebagai salah satu pemeran figuran. Ketika suatu saat sang pemeran utama wanita berhalangan untuk tampil, Christine ditunjuk sebagai penggantinya. Alangkah terkejutnya semua orang ketika mendapati bahwa ternyata Christine dapat bernyanyi dengan begitu indah dan bahkan jauh lebih bagus dari Carlotta sang pemeran utama wanita. Christine bernyanyi dengan sepenuh hati hingga membuatnya pingsan di akhir pertunjukkan.

Raoul tidak dapat menahan diri lagi untuk menemui Christine yang jatuh pingsan. Ketika siuman, Raoul terkejut ketika Christine berpura-pura tidak mengenalinya. Raoul menguntit Christine ke ruang gantinya. Dari balik pintu Raoul mendengar Christine sedang bertengkar dengan seorang pria, Christine kemudian keluar dari ruang ganti. Raoul bersembunyi untuk kemudian masuk ke ruang ganti Christine karena penasaran dengan siapa Christine tadi berbicara. Ternyata ruang ganti Christine kosong. Dengan siapa kah ia berbicara tadi? Apakah sebenarnya si Hantu Opera? Benarkan Christine sudah melupakan Raoul? Misteri tersebut akan terurai satu demi satu di lembar demi lembar buku ini.

Pada awalnya saya hanya mengetahui bahwa The Phantom of The Opera ini adalah salah satu drama musikal terkenal karya Andrew Llyod Webber. Ternyata drama musikal tersebut diangkat dari novel Gaston Leroux yang dipublikasikan pada tahun 1911. Sudah seratus tahun tahun berlalu.

Novel ghotic mistery klasik ini sama sekali tidak membosankan karena ditulis dengan gaya penyelidikan seorang detektif (dengan Gaston Leroux sebagai detektifnya) dan memuat unsur kejutan yang lumayan mengigit ketika identitas sang Hantu Opera akhirnya berhasil ditemukan. Endingnya cukup menghapus efek gelap yang dipaparkan di sepanjang isi buku.

Kesepian dan keterasingan bisa membuat seorang manusia memanifestasikan seluruh potensi jahatnya, namun ketika berhasil menemukan rasa cinta sejati yang tanpa pamrih maka seburuk-buruknya manusia pun masih bisa mengesampingkan rasa egois untuk memiliki dan melakukan pengorbanan terakhir bagi orang yang dicintainya.

Salah satu novel klasik yang masuk dalam kategori seru!!

Momo By Michael Ende

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 320 Halaman

Alih Bahasa : Hendarto Setiadi

Those who still think that listening isn’t an art should see if they can do it half as well.”

Tadi pagi kebangunan jam 2 dan tiba-tiba pengen baca ulang salah satu my best book of all time, Momo by Michael Ende. Udah lama banget punya buku ini dan sampai sekarang ceritanya masih berkesan. Kenapa saya pengen baca ulang buku ini? Mungkin karena memang akhir-akhir ini susah sekali mencari orang yang mau mendengar, betul-betul mendengar apa yang kita ceritakan. Everyone is to bussy with their own life they seldom notice that their friend/relatives need to be listened to.

Momo adalah seorang anak perempuan kecil misterius yang tiba-tiba saja muncul di amphiteater kota. Tidak butuh waktu lama bagi Momo untuk menjadi kesayangan seluruh penduduk kota. Mengapa bisa demikian? Karena Momo adalah seorang pendengar yang baik. Momo betul-betul mendengarkan dengan sabar dan penuh perhatian cerita setiap orang. Setelah bercerita pada Momo, setiap orang selalu merasa lebih baik dan seringkali menemukan sendiri solusi atas permasalahannya. Sekarang, setiap kali ada penduduk kota yang sedang merasa bermasalah, ungkapan “Ayo coba cari Momo!” menjadi sesuatu yang biasa di kota tesebut.

Sampai suatu ketika keadaan mulai berubah ketika para laki-laki berstelan abu-abu mulai berkeliaran di seluruh penjuru kota. Mereka menawarkan kepada para penduduk untuk menyimpan waktu di bank. As absurd as it may sound, banyak penduduk kota yang termakan oleh bujukan para tuan abu-abu. Setelah itu suasana kota yang hangat mulai berubah karena setiap orang jadi tidak memiliki waktu untuk orang lain dan sibuk dengan dirinya sendiri. Alih-alih mendengarkan cerita anak-anak mereka, para orang tua membelikan mereka mainan-mainan mahal agar bisa menghemat waktu mereka.

Momo memperhatikan perubahan tersebut dan merasa sedih karenanya. Orang-orang kota mulai bertindak seperti robot dan tidak lagi menikmati hidup. Ketika pengaruh para tuan abu-abu sudah mengenai sahabat-sahabat terdekat Momo, ia memutuskan untuk menghentikan upaya para tuan abu-abu dengan bantuan seekor kura-kura bernama Cassiopeia. Berdua mereka mencoba menemui seorang Profesor Waktu yang bernama Hora. Berhasilkah Momo? What do you think?

Uniknya, cerita ini ditulis Michael Ende pada tahun 1973. Dan di ujung tahun 2011 ini saya merasa dunia sudah dipenuhi para tuan abu-abu dengan konsep hemat waktu nya. Waktu terasa cepat banget berlalu dan seperti yang digambarkan dalam cerita, setiap orang sibuk dengan kehidupan dan kegiatan nya masing-masing. Kapan terakhir kali kita meluangkan waktu untuk betul-betul mendengarkan cerita seorang sahabat ?? (bukan lewat text messages, bbm atau chat media lainnya)

Seringkali saya melihat sekumpulan orang di tempat umum/restoran/cafe yang ceritanya sedang berkumpul tapi setiap orang sibuk dengan HP masing-masing. Agak geli sebenarnya. Apakah interaksi lewat social media bisa menggantikan tatap muka langsung? Sebegitu sibuknya kah kita?

Banyak hal yang tidak bisa tergambarkan lewat kata-kata. Words can lie tapi tatapan mata, gesture atau nada suara tidak. Hati tidak bisa hanya bicara lewat kata-kata, tapi juga dengan keberadaan. I don’t want to be one of those people corrupted by The Men In Grey. I want to able to cherish the beauty of the event and all the little things that pass in time and that include “being there” for people i care about. People i go a thousand miles for.

Life holds one great but quite commonplace mystery. Though shared by each of us and known to all, seldom rates a second thought. That mystery, which most of us take for granted and never think twice about, is time.

Calendars and clocks exist to measure time, but that signifies little because we all know that an hour can seem as eternity or pass in a flash, according to how we spend it.

Time is life itself, and life resides in the human heart.

Inheritance By Christopher Paolini

Penerbit : Knopf

Tebal : 860 Halaman

Sejujurnya saya khawatir waktu mau baca buku ini karena lupa cerita sebelumnya udah sampe mana. Untungnya mas Christopher berbaik hati untuk menceritakan resume buku satu sampai tiga di awal cerita. Agaknya beliau juga ngerti kalo jarak antara Brisingr (buku 3) dan Inheritance cukup jauh dan ada kemungkinan para pembaca (khususnya yang punya short term memory seperti saya) akan lupa.

Walaupun agak kecewa dengan buku ketiga Brisingr yang menurut saya agak terlalu bertele-tele (ntah terjemahannya yang bikin bosen), biar bagaimanapun penasaran juga dengan bagaimana akhir dari kisah Saphira dan Eragon.

Terakhir kali kita meninggalkan Saphira dengan Eragon, mereka sedang bergerak bersama kaum Varden untuk satu persatu menguasai kota-kota yang berada dalam kekuasaan Galbatorix untuk kemudian bergerak menghadapi Galbatorix dan naganya hitamnya Shruikan di Uru’baen.

Satu demi satu kita disuguhi adegan perebutan kota. Banyak juga diceritakan tentang kiprah Roran, kakak Eragon yang sekarang telah menjadi salah satu pahlawan diantara kaum Varden. Sampai setengah lebih buku Eragon dan Saphira masih sama sekali tidak menyakinkan untuk dapat mengalahkan pasangan maha hebat Galbatorix dan Shruikan.

Sampai suatu ketika Eragon teringat pada ramalan Solembum sang kucing jadi-jadian.

Then when all seems lost and your power is insufficient, go to The Rock of Kuthian and speak your name to open the Vault of Souls.”

Ditengah keputus asaan yang terjadi karena Nasuada, pimpinan kaum Varden berhasil diculik oleh Murtagh dan Thorn. Eragon yang saat itu ditunjuk menjadi pengganti Nasuada merasa bahwa ramalan itu adalah satu-satunya jalan untuk bisa mengalahkan Galbatorix. Eragon dan Saphira pun melaksanakan ekspedisi untuk mencari kebenaran dalam ramalan tersebut. Di saat yang bersamaan kaum Varden mulai bergerak ke arah Uru’baen, menuju pusat dari segala kegelapan.

Walaupun plot cerita ini similar dengan seri Lord of The Rings, harus diakui bahwa Christopher Paolini memiliki kemampuan yang sangat mendetail dalam menciptakan dunianya, Alagesia. Hey, dia berhasil menulis buku satu Eragon ketika masih berusia 15 tahun aja dong.

Dan saya selalu suka pada hubungan naga dan ridernya, Saphira dan Eragon yang bisa saling merasakan dan tau pikiran masing-masing tanpa berkata-kata. Plus kepribadian Saphira sang naga betina yang sassy, ada suatu adegan dimana Saphira sibuk berkaca di danau setelah pertarungan karena khawatir sisiknya yang tercabut tidak akan tumbuh lagi. Sementara Eragon sibuk meyakinkan bahwa Saphira tampak baik-baik saja. Very amusing.

However, tidak sulit untuk membayangkan bahwa sebenarnya buku Brisingr dan Inheritance dapat disatukan menjadi satu buku dengan memangkas beberapa adegan tidak signifikan di sana sini.

Tentang hubungan Eragon dengan Arya sang Elf. Saya sangat lega tidak dikembangkan menjadi roman biasa. Eragon dan Arya memilih jalan yang harus dipilih dan tetap menjadi star crossed lover, they know they were ment to be each other but they choose to do what is right and happy enough to feel what they feel and not being selfish about it.

Saya mengharapkan suatu adegan pertarungan yang Grande antara Eragon-Saphira dengan Galbatrorix-Shruikan. Sayangnya tidak ada. Namun cukup puas dengan endingnya. Another story about beating the impossible.

If we are to tempt fate, then let us not be cowards about it