Sarah’s Key By Tatiana De Rosnay

Penerbit : Elex Media Komputindo

Tebal : 329 Halaman

Alih Bahasa : Lily Endang Joeliani

Holocaust. Saya tidak pernah bisa mengerti peristiwa itu. Bagaimana suatu negara tunduk kepada mass madness. Bagaimana suatu ras percaya betul bahwa dirinya lebih unggul daripada ras lain. Berkali-kali saya menonton film tentang kejadian tersebut, membaca dan menonton biografi Hitler. It still didn’t make sense to me. Then again, there are no sense in genocide.

Buku ini juga menambah pengetahuan saya tentang posisi Perancis pada tahun-tahun itu terutama tentang operasi Vel d’Hiv yang terjadi pada tahun 1942 di Paris.

Sarah bersama Ayah, Ibu dan adik laki-lakinya yang berumur 4 tahun pada saat itu tinggal di kota Paris. Sarah tidak mengerti mengapa belakangan ini kehidupan mereka berubah. Tidak boleh pergi ke kolam renang umum, teman-teman yang tiba-tiba menjauhi mereka, jam malam, dan mengapa di baju mereka harus disematkan tanda bintang.

Suatu malam polisi perancis mengetuk pintu apartemen keluarga Sarah dan memerintahkan mereka untuk pergi bersama para polisi. Sarah memutuskan untuk menyembunyikan adiknya dalam lemari kayu karena mengira mereka tidak akan pergi dalam jangka waktu yang lama. Sarah mengunci lemari tersebut dan berjanji pada adiknya bahwa dia akan segera kembali.

Alangkah terkejutnya Sarah ketika mendapati kenyataan bahwa dia bersama ribuan orang lainnya ternyata dikumpulkan di suatu stadiun tertutup tanpa supply makanan, air minum, sarana dan fasilitas yang layak. Hari demi hari berganti dengan penuh penderitaan. Sarah menyaksikan orang-orang yang mulai kehilangan akal, tangisan, kemarahan, keputusasaan. Sarah teringat akan janjinya pada adiknya. Ia telah ingkar janji. Bagaimana dengan nasib adiknya. Masih hidupkah adiknya?

Lalu cerita beralih ke tahun 2002, kepada seorang perempuan amerika bernama Julia Jarmond yang telah lama menetap dan berkeluarga di Paris. Julia adalah seorang jurnalis untuk majalah amerika yang terbit di Paris. Suatu saat Julia diberi penugasan untuk meliput peringatan 60 tahun peristiwa Vel d’Hiv.

Alangkah terkejutnya Julia ketika mengetahui bahwa tidak banyak masyarakat Paris yang mengetahui tentang peristiwa ini. Dimana lebih dari 10.000 orang Yahudi di Paris dikumpulkan oleh polisi-polisi Perancis, atas perintah Jerman untuk kemudian dikirimkan bagai ternak ke kamp Auschwitz dan kemudian dimusnahkan disana. Ketika mengetahui bahwa masa lalu keluarga suaminya terkait, maka Julia bertekad untuk menyelidikinya hingga tuntas.

Narasi yang bergantian antara Sarah dan Julia membuat buku ini mengasyikan untuk dibaca dan ceritanya terasa mengalir. Cerita tentang Sarah begitu mencekam. Transformasi Sarah dari seorang anak perempuan innocence berumur 10 tahun ke anak yang terlalu cepat dewasa karena mengalami penderitaan berat tergambarkan dengan sangat baik. Sarah yang pada awalnya digambarkan sebagai seorang anak yang positive thinking, pada akhirnya menjadi bitter dan penuh dengan kemarahan yang tertahan.

Sebenarnya saya berharap buku ini lebih banyak menceritakan tentang Sarah. Agak kecewa ketika di pertengahan buku cerita tentang Sarah tiba-tiba berhenti dan beralih full kepada Julia. Julia ini agak sedikit self centered menurut saya. Walaupun maksudnya baik, mencari kebenaran, tetapi caranya agak kurang pertimbangan akan apa dampak yang mungkin diakibatkan pada orang-orang yang terkait. Saya lebih menyukai karakter anak perempuannya Julia, Zoe yang terlihat lebih wise daripada Ibunya.

Anyway, buku ini definitely worth to read! Banyak pengetahuan baru dan memang, sejarah kelam itu tidak seharusnya diabaikan dan ditutup tutupi. Tepuk tangan untuk Tatiana De Rosnay.

Advertisements

Nguping Jakarta

Penerbit : B First

Tebal : 215 Halaman

Ya ampun buku ini sukses membuat saya ketawa cekikikan ala kunti sendiri tengah malem. Hehehe. Jadi, buku ini isinya adalah potongan-potongan pembicaraan yang absurd dari penghuni Ibukotajakartarayamegapolitan yang ngga sengaja didengar orang lain dan dilaporkan kepada makelar, si kuping kiri dan si kuping kanan.

Awalnya mereka menulis isi pembicaraan2 tersebut dalam situs ngupingjakarta.blogspot.com sebelum akhirnya diterbitkan dalam format buku seperti sekarang. Blog ini suka saya buka di  kantor kalo lagi suntuk dan biasanya sukses ngebuat saya ketawa cekakakan sendiri di ruangan.

Potongan-potongan pembicaraan dikelompokkan ke dalam enam bagian : Cerahnya dunia pendidikan kita, Saat kecepatan suara lebih tinggi dari kecepatan pikiran, Gagap (ngomong) teknologi, Tepuk jidat berjamaah, Cerita keluarga tanpa rencana dan Diantara Kantor, klien dan tenggat.

Pokoknya buku ini cocok banget buat yang lagi ingin menghibur diri dan ngga keberatan dilirikin orang-orang gara-gara ketawa-ketawa sendiri wkwkwk.

Berikut beberapa contoh isi pembicaraan absurd tersebut :

Cerahnya dunia pendidikan kita

Awas Kalo Dia Sampai Bersin-bersin Kedinginan

Mahasiwa : Woi, mana flashdisk lo, mau presentasi nih… (…) Mana tutupnya? Nanti kena virus loh!”

Fakultas ilmu komputer di Depok, di dengar oleh dosen yang kehilangan harapan.

Saat Kecepatan Suara Lebih Tinggi daripada Kecepatan Pikiran

Yang Pasti Ponsel Gak Bakalan Low Batt

Cewek : “Grup yang kemarin ke Pulau Seribu itu memang beda kelas sama kita. Kalo mereka, kan, golongan genset, jadi maunya semua serbanyaman dan enak.”

Warung bakso di Jakarta, didengar oleh semua teman yang langsung memesan solar supaya dibilang elit.

Gagap (Ngomong) Teknologi

Sekarang Semua Bisa Di-Google

Wartawan : “Lalu, apa yang membuat Mbak yakin mencalonkan diri?”

Artis : “Gue memang nol di politik, tapi gue baca buku dan internet, kok.”

Didengar oleh pemirsa televisi yang langsung berniat Golput seumur hidupnya.

Tepuk Jidat Berjamaah

Memang Lebih Pintar Dari Pemiliknya

Pramugari “Pak, tolong HP nya dimatikan.”

Penumpang : “Mbak, gak tahu ya? Ini bukan HP, ini BlackBerry.”

Didengar penumpang lain yang ingin mengunci si penumpang dalam bagasi.

Cerita Keluarga Tanpa Rencana

Dan Jangan Belajar, Nyontek Aja.

Sepupu : “Kamu suka pelajaran Fisika, gak?”

Anak : “Gak suka, abis bosenin. Kalo lagi bosen, biasanya aku tidur di kelas.”

Ayah : “oh, masih mending. Dulu waktu Ayah sekolah, kalo lagi bosen, Ayah bolos aja.”

Didengar oleh Ibu yang memutuskan untuk menjauhkan si anak dari ayahnya.. setidaknya sampe si anak lulus kuliah.

Di Antara Kantor, Klien, dan Tenggat

Lain Kali Ajak Nonton Film 2012

Marcomm Manager : “Eh, nonton Fantastic Four yang baru, yuk, ntar malem?”

Project Manager : “Aduh mau banget. Tapi gue belum nonton yang 1 sampai 3 nih, takutnya ngga ngerti.”

Di sebuah ruangan kantor bank asing di Jakarta, didengarkan oleh tetangga-tetangga kubikelnya sambil cekikikan.

When God Was a Rabbit By Sarah Winman

Penerbit : Bentang Pustaka

Tebal : 363 Halaman

Alih Bahasa : Rini Nurul Badariah

Nothing can compare the feeling when you just finished reading a good book… I am completely mesmerized…

Kubagi kehidupan menjadi dua. Bukan benar-benar Sebelum dan Sesudah, lebih menyerupai pembatas buku, menyatukan tahun-tahun lembut lamunan kosong, tahun-tahun penghujung masa remaja atau usia dua puluhan yang masih kelihatan kurang dewasa. Tahun-tahun mengambang yang bagiku membuang waktu jika dikenang.”

Begitulah Elanour Maud, atau Elly menceritakan kisahnya. Satu bagian ketika ia kecil hingga menjelang masa remaja dan satu bagian lagi ketika ia telah menginjak usia dua puluh tujuh tahun. Karena di kedua periode itulah kisah hidupnya yang hilang saling bertautan kembali. Saling menemukan dan melanjutkan apa yang pernah menjadi bagian cerita masa kecilnya.

Pada bagian pertama Elly menceritakan tentang masa kecilnya. Saat Elly berumur dua tahun, kakek nenek dari pihak ibunya meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. Kejadian tersebut membuat Ibunya shock dan untuk sementara waktu mengambil jarak dengan Elly dan hidup di alamnya sendiri. Saat itulah datang uluran tangan dari kakak laki-lakinya Joe. Elly dan Joe menjadi sangat dekat, tipe hubungan kakak adik yang bikin saya sirik, hehe. Hanya Joe yang benar-benar mengetahui relung-relung terdalam pemikiran Elly begitu pula sebaliknya, termasuk sesuatu yang “gelap” yang terjadi pada masa kecil Elly. Joe bersumpah untuk selalu menjaga Elly.

Elly ini termasuk quirky kid, pemikiran dan pembicaraannya jauh melebihi umurnya. Karena itulah Elly sulit menemukan teman. Suatu ketika Joe memberi Elly hadiah seekor kelinci, Elly menamai kelincinya God. Pada suatu hari Elly menceritakan tentang binatang peliharaannya itu di depan kelas, dan saat Elly mengungkapkan bahwa ia menamai kelinci peliharaannya God, kejadian tersebut menyebabkan gurunya marah besar. Hanya ada satu anak perempuan yang mendukung Elly, Jenny Penny.

Elly lalu bersahabat dekat dengan Jenny Penny. Jenny Penny yang seorang anak dari ibu tunggal yang agak berantakan segera merasa menemukan keluarga keduanya di rumah Elly. Banyak hal membuat Jenny Penny berharap bahwa dirinya benar-benar merupakan bagian dari keluarga Elly.

“Aku pernah punya kelinci,” Jenny Penny bercerita.”Sewaktu aku masih sangat kecil, waktu kami tinggal di karavan.”

“Apa yang terjadi padanya?” aku bertanya, sudah merasakan keanehan yang tak terelakkan.

“Mereka memakannya,” ia menjawab, lalu sebutir air mata mengalir menuruni pipi berlumpur ke sisi mulutnya.

Ketika ayah dan ibunya memutuskan untuk pindah rumah tanpak berdiskusi dengan Elly dan Joe, mereka berdua memutuskan untuk sepenuhnya mempercayai kedua orang tua mereka dan pergi. Pergi dengan perasaan terlepas dari kehidupan lama menuju sesuatu yang mereka sama sekali tidak tahu. Sebelum pergi mereka berdua memutuskan untuk mengubur kaleng di halaman rumah lama mereka, satu untuk sendiri-sendiri, Elly mengisi kalengnya dengan foto, Joe merahasiakan apa isi kalengnya.

Jenny Penny marah, kecewa, namun akhirnya menerima dan ikut melepas kepergian sahabatnya. Elly merasa tidak berdaya meninggalkan Jenny Penny.

“Kurasa kita tidak akan pernah bertemu lagi,” kata Jenny Penny, mendongak kepadaku, wajahnya merah dan sembap.

“Tentu saja kita akan bertemu,” sanggahku, merangkulnya dan menghirup bau keripik yang familier dari rambut sahabatku. “Kita terhubung,” tambahku. “Terhubung secara tak kasat mata.”

Dan aku benar. Kami bertemu lagi, tetapi hanya sekali waktu-pada masa kanak-kanak-sebelum kehidupan kami bersimpang bagai sungai yang bercabang dan mengalir ke dataran lain.

Banyak peristiwa yang terjadi dalam buku ini, ketragisan, kematian, tawa, tangis, ironi. Semuanya digambarkan melalui pandangan Elly yang tidak biasa. Ketika Elly dan Joe dewasa menemukan secara mengejutkan bahwa jalinan cerita masa lalu mereka menyambung kembali, akankah kehidupan berbaik hati dan memberikan mereka kedamaian?

Apa yang saya sukai dari buku ini hingga menganugrahi 5 bintang di goodreads. Keseluruhan ceritanya, dimana hal-hal buruk memang terjadi di dunia ini. Aura gelap dan sedikit absurd yang sama sekali tidak mengurangi pesan penting yang ingin disampaikan. Hubungan kekeluargaan dan persahabatan yang begitu erat sehingga semua hal buruk yang terjadi sepertinya biasa-biasa saja. Bagaimana mereka saling menguatkan diri masing-masing. Dan semua keunikan pada masing-masing tokoh yang tidak dipusingkan dan diterima secara wajar.

Tokoh Elly dan Joe yang selalu merasa tua dan hidup dalam balon sabun mereka sendiri, para outsiders yang merasa nyaman di dalam dunia mereka. Terutama dengan Elly, saya merasa memiliki banyak kesamaan dengan Elly yang selalu menyimpan segala sesuatunya sendiri.

Bahkan saya sangat menyukai tokoh-tokoh lainnya seperti bibi Nancy, Arthur dan Ginger, Alan, Charlie. Setiap tokoh rasanya memiliki karakter yang kuat, memiliki rasa masing-masing yang menambah warna dari keseluruhan cerita.

Dan yang terakhir adalah bahasanya yang indah. Kehampaan, kekosongan, kekhawatiran akan hidup digambarkan dengan gaya bahasa yang indah sehingga terasa less hurtful. Tidak cengeng tidak berlebih-lebihan. Indah. I love this book. Sarah Winman is definitely my new fav author.

Kenangan, sekecil atau sesederhana apapun, adalah halaman-halaman yang menjelaskan siapa kita.”

Hector and the Search for Happiness By Francois Lelord

Penerbit : Penguin Books

Tebal : 163 Halaman

Questions : Is happiness simply a chemical reaction in the brain?

Sukaaaa.. Banget sama buku kecil ini.. Kalo The Alchemist nya Paulo Cuelho membuat kita mempertanyakan tujuan hidup dan merenung dalam, maka buku tentang pencarian arti kebahagiaan ini akan membuat kita tersenyum simpul dan berucap “Oh iya ya..”.. Simpel tapi bener banget.

Bercerita tentang Hector, seorang pshychiatrist di sebuah negara yang makmur dan aman dimana penduduknya rata-rata berkecukupan, namun memiliki banyak sekali pshychiatrist seperti Hector. Hector adalah seorang pshychiatrist yang sukses karena dia benar-benar mendengarkan cerita pasien-pasiennya. Hector betul-betul tertarik mempelajari manusia dan berusaha untuk memberikan solusi-solusi yang terbaik untuk klien-kliennya.

Suatu ketika Hector merasa cukup heran karena semakin banyak kliennya yang berkecukupan dan tampak memiliki segalanya, tapi selalu bertanya-tanya apakah mereka telah memilih profesi yang tepat, apakah mereka telah memilih pasangan hidup yang tepat atau apakah mereka seharusnya sekarang berada di kehidupan yang berbeda dengan yang sekarang mereka jalani.

Di suatu titik Hector merasa jenuh. Dan dia memutuskan untuk berlibur sekaligus mencari penyebab apa yang kira-kira membuat seorang manusia merasa bahagia. Pertama-tama Hector berangkat ke China. Di pesawat Hector mengobrol dengan seorang bussiness man yang memiliki pabrik mainan di China, dan Hector mendapatkan pelajaran pertamanya sebagai berikut :

Lesson no.1 : Making comparisons can spoil your happiness.

Di China, Hector bertemu dengan seorang teman lamanya, Edouard, diperkenalkan lalu jatuh hati dengan seorang wanita bernama Ying Li dan bertemu dengan seorang biarawan yang menyuruhnya untuk kembali jika telah selesai melakukan pencarian atas penyebab kebahagiaan. Banyak pelajaran-pelajaran sederhana tentang kebahagiaan yang Hector temukan di China. Namun belum cukup untuk mengerti tentang keseluruhan arti kebahagiaan.

Dari sana Hector berangkat ke Africa. Di Africa, Hector mengalami petualangan dan “near death experience” yang membuatnya mengerti lebih dalam tentang arti kebahagiaan. Untuk membuktikan hipotesis-hipotesisnya, Hector pun pergi ke seorang Professor of Happiness yang tinggal di negara yang paling makmur memiliki kelebihan di segala bidang (i’m guessing it’s USA). Apa kesimpulan terakhir Hector atas penyebab kebahagiaan? A simple truth that will makes us feel a pang in our conscience, but you have to read it yourself ^_^

Bener-bener deh buku ini, keren. Karena kadang manusia mencari kebahagiaan sampe ke ujung-ujung dunia tanpa menyadari kalo sebenarnya kebahagiaan itu harus dicari di dalam diri sendiri. Satu pelajaran tentang kebahagiaan yang mungkin terlewat oleh Hector, menurut saya kebahagiaan adalah ketika kita mampu untuk bersyukur.

Pelajaran-pelajaran dan simple truth tentang kebahagiaan yang paling saya sukai dari buku ini :

Lesson no.3 : Many people see happiness only in their future.

Lesson no.5 : Sometimes happiness is not knowing the whole story.

Lesson no.7 : It’s a mistake to think that happiness is the goal.

Lesson no.14 : Happiness is to be loved for exactly who you are.

Lesson no.20 : Happiness is a certain way of seeing things.

Lorien Legacies 2, The Power Of Six By Pittacus Lore

Penerbit : Harper Collins Publisher

Tebal : 406 Halaman

Jebakan buku berseri adalah kalo udah baca seri 1 nya pasti gatel kalo liat seri 2 nya udah terbit, hehe. Buku ini adalah seri ke-2 dari kisah Lorien Legacies. Buku pertamanya I am Number Four sudah di filmkan dan bukunya juga sudah diterjemahkan ke bahasa indonesia.

Pengarangnya, Pittacus Lore adalah nama samaran. Pittacus Lore ini juga adalah salah satu tokoh tetua di planet Lorien, jadi seolah-olah buku ini ditulis oleh salah satu tokoh dalam cerita itu sendiri, sebagaimana ditulis di belakang buku tentang informasi pengarang :

Pittacus Lore is Lorien’s ruling elder. He has been on Earth for the last twelve years, preparing for the war that will decide earth’s fate. His whereabouts are unknown.

So, what is this book all about?

Kilas balik sedikit, dulu ada sebuah planet bernama Lorien. Planet tersebut mirip dengan bumi kita dan penduduknya juga berwujud sama seperti manusia, namun mereka dilengkapi dengan berbagai super power.

Suatu ketika planet Lorien diserang oleh mahluk dari planet Mogodorians. Untuk menyelamatkan ras mereka, sembilan anak yang telah diwarisi kekuatan hebat oleh para tetua diungsikan ke bumi. Masing-masing anak hanya didampingi oleh satu penjaga.

Kekuatan para anak tersebut akan muncul pada saat mereka beranjak remaja. Untuk menjaga agar anak-anak tersebut dapat selamat dari perburuan kaum mogodrians hingga kekuatan mereka muncul, maka para tetua menetapkan mantra pelindung.

Para anak tersebut harus disebar ke berbagai lokasi berbeda, mereka diberi nomor urut satu sampai sembilan, dan mereka hanya bisa dibunuh berdasarkan urutan tersebut. Selama no.1 masih hidup, maka anak no.2 tidak akan bisa dibunuh, dan upaya untuk menyakiti no.2 akan berbalik kepada pelaku yang berusaha menyakitinya dan begitu seterusnya. Jadi para mogodorians akan cukup kerepotan karena mereka tidak tahu urutan nomor anak-anak tersebut.

Di buku sebelumnya diceritakan tentang no.4 alias John Smith yang telah beranjak remaja dan baru menyadari siapa dirinya. Di akhir buku satu, John Smith harus hidup dalam pelarian bersama sahabatnya Sam dan seorang remaja perempuan Lorien, si nomor enam.

Di buku kedua ini selain bercerita tentang pelarian seru mereka bertiga, juga diceritakan tentang anak Lorien lainnya, nomor tujuh alias Marina yang kini tinggal di sebuah biara di Spanyol. Kisah mereka diceritakan secara bergantian hingga suatu saat mereka mendapatkan penglihatan tentang keberadaan masing-masing.

Di buku kedua ini juga kita akan bertemu dengan dua anak Lorien lain. Ternyata mantra bahwa mereka harus dibunuh berurutan telah hilang  karena kekuatan anak-anak tersebut sudah mulai muncul. Sekarang mereka harus berusaha saling mencari untuk melawan kaum mogodorians, melindungi bumi dan juga menyelamatkan apa yang tersisa dari planet mereka sendiri, Lorien.

Buku ini adalah tipe buku yang bikin ngga kerasa membuka halaman demi halaman. Paket komplit di genre young adults. Ada petualangan seru, ada super power, ada persahabatan dan ada bumbu-bumbu romance.

Being in love is a very strange thing. Your thoughts constantly drift towards this other person, no matter what you’re doing. You could be reaching for a glass in the cupboard or brushing your teeth or listening to someone tell a story, and your mind will just start drifting toward their face. And on top of the constant dream state you’re in, your stomach feels like it’s connected to a bungee cord, and it bounces and bounces around hours until it finally lodge it self to your heart.

Aaaawwww.. Jadi merasa tua.. Wkwkwkwk…

Supernova, Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh By Dee

Penerbit : Trudee Pustaka Sejati

Tebal : 251 Halaman

Dulu, pertama kali saya baca buku ini, saya pinjem dari Taman Bacaan Hendra yang ada di jalan Cihapit, Bandung. Ngga ada sebulan yang lalu saya liat terbitan barunya di Togamas, covernya keren dan langsung disamber.

Saya baca ulang buku ini karena kangen pada sosok si bintang jatuh. Kepribadiannya membekas. Diva si bintang jatuh. Pertama kali baca buku ini, bahasan tentang chaos dan order, teori waktu dan teori-teori fisika quantum lainnya yang dikemukakan oleh Dee melalui dua tokoh utamanya Ruben dan Dhimas masih terlalu mengawang-ngawang buat saya.

Sekarang saya lebih bisa menerima kerumitan tersebut dan menangkap apa yang sebenarnya ingin dipertanyakan. Eksistensi manusia, eksistensi alam, pencarian tujuan hidup manusia.

Berkisah tentang sepasang gay, Ruben dan Dhimas yang bertekad untuk membuat suatu cerita masterpiece dalam rangka ulang tahun hari jadi mereka yang kesepuluh. Mereka menamai kisah yang akan mereka buat Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh.Cerita di dalam cerita, unik memang idenya.

Selanjutnya narasi berpindah antara Ruben & Dhimas, sang ksatria, sang putri dan tentu saja sang bintang jatuh. Sang ksatria, Ferre, jatuh cinta pada putri yang salah, Rana, seorang wanita yang sudah menikah. Ferre bertetangga dengan Diva sang bintang jatuh. Pertarungan antara hati dan logika, moral dan egoisme pun dimulai.

Banyak twist dalam plot cerita buku ini. Dan untungnya kisah cinta yang dikisahkan tidak berkembang menjadi kisah klise yang menjual mimpi.

Saya setengah berharap bahwa setelah pertemanan yang hangat terbentuk antara Ferre dan Diva hubungan mereka akan berkembang. Namun saya sangat suka bagaimana Dee tidak menyederhanakan endingnya seperti itu. Kehidupan dan realitas memang jauh lebih kompleks dari itu.

Kisah ini memiliki banyak benang merah dengan filosofi yang saya baca dalam buku-buku Jostein Gaarder. Eksistensi manusia, eksistensi alam, pencarian tujuan hidup manusia.

Semakin kesini tulisan Dee semakin membumi dan lebih dekat ke hati. Terasa benar setelah membaca buku Supernova yang ketiga, Petir, dengan tokohnya Elektra yang fenomenal. Sangat suka bagaimana Dee menyelipkan humor dalam kisah Elektra. Namun demikian, buku ini merupakan batu pertama dari karya-karya Dee berikutnya.

Berhentilah merasa hampa. Berhentilah minta tolong untuk dilengkapi. Berhentilah berteriak-teriak ke sesuatu di luar sana. Berhentilah bersikap seperti ikan di dalam kolam yang malah mencari-cari air. Tidak ada seorang pun mampu melengkapi apa yang sudah utuh.

Pak Harto The Untold Stories By Donna Sita Indria, Anita Dewi Ambarsari

Penerbit :  PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal  : 603 Halaman

Pada akhirnya, sejarah akan menilai Soeharto secara adil. Beliau harus diberi tempat yang terhormat dalam sejarah Indonesia.” – Lee Kuan Yew

Apa yang terjadi di benak seorang saya ketika menonton Pak Harto mengundurkan diri? Saat itu saya baru saja masuk SMA. Bahkan ketika itu saya bisa merasakan para brutus, orang-orang Asal Bapak Senang (ABS), menusuk dari belakang. Mereka adalah orang-orang yang membuat saya mual hanya dengan memikirkannya. Setelah sebelumnya dengan mulut penuh madu mengatakan “Rakyat masih menginginkan bapak untuk memimpin Indonesia” dalam sekejap mereka bisa berbalik dan melemparkan semua kesalahan. What a looser. But that’s politic and that’s why i loathe it.

Melihat hujatan yang kejam dan euforia yang berlebihan, saya ketika itu berfikir, that’s not how you treat your former president. Very disrespectful. Sebagaimana tidak ada manusia yang sempurna, seorang pemimpin pun tidak ada yang sempurna.

Dari helicopter view agaknya dapat kita pahami bahwa perencaanaan dan eksekusi yang Pak Harto lakukan melalui Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) dan Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) belum ada yang bisa menyamai. Beliau merencanakan dan beliau melaksanakan rencana itu.

Agak sulit mencari pemimpin yang bisa melaksanakan implementasi secara jitu dan tepat sasaran. Lebih banyak pemimpin yang sibuk menstabilkan kekuasaan daripada menstabilkan bangsa dan negara. Pembangunan infrastruktur, swasembada pangan, pengendalian penduduk melalui program KB, PKK dan Posyandu, diperhitungkannya Indonesia dalam percaturan Asia bahkan dunia, and i always wonder why we always win at Sea Games at Pak Harto era?

Buku ini sungguh akan membantu orang-orang untuk memahami, memahami Pak Harto dari sisi yang sama sekali lain dan mungkin tidak pernah terekspos kepada media. 113 tulisan dari 113 orang yang berbeda betul-betul berkisah tentang Pak Harto sebagai manusia biasa. Memang ada beberapa tulisan yang memang hanya menceritakan diri atau keberhasilan mereka sendiri, namun lebih banyak tulisan yang betul-betul menyentuh dan menceritakan Pak Harto sebagai pribadi.

Ketika hujatan dan fitnah berdatangan, beliau hadapi semuanya dengan tabah dan sabar karena beliau yakin kepada Yang Maha Kuasa, ‘Gusti Allah mboten sare (Tuhan tidak tidur), sing becik ketitik, sing olo ketoro (yang baik akhirnya akan tampak, yang buruk akan terlihat)’, itu yang selalu beliau katakan.” – Siti Hutami Endang Adiningsih

Harus dipahami bahwa kadang sebagai seorang pemimpin, kita harus mengambil keputusan yang tepat untuk jangka panjang. Dan terkadang keputusan-keputusan tersebut bukan keputusan populer yang diinginkan oleh orang banyak. Dari apa yang saya pahami dari buku ini Pak Harto selalu berani untuk menempatkan dirinya di dalam posisi yang tidak populer demi kestabilan negara yang memang pondasi dari pelaksanaan pembangunan. Kalo negara terus-terusan tidak stabil, bagaimana pembangunan bisa dilaksanakan?

Ada beberapa tulisan yang sangat berkesan buat saya, salah satunya adalah tulisan Emil Salim tentang bagaimana pada suatu waktu Pak Harto memberikan perintah larangan menembak kawanan gajah di Palembang, Pak Harto malah memerintahkan para tentara untuk mengawal kawanan gajah kembali ke habitatnya dengan perangkat bunyi-bunyian.

Tidak pernah sekalipun Pak Harto melemparkan kesalahan pada orang lain. Hanya orang besar yang dapat melakukan hal itu. Ketika jabatan Presiden RI tidak lagi beliau sandang, hujatan dan caci maki semakin ramai dan nyaring diteriakkan. Pak Harto diam dan tidak berusaha membela diri. Seluruh beban dipikulnya sendiri.” – Anindyati Sulasikin Murpratomo

Setelah upacara selesai, saya mengantarkan Pak Harto ke mobil. Saya bilang, ‘Bapak kan masih dalam pemulihan kesehatan, tetapi kuat melalui seluruh acara tadi. Saya jadi ingin tahu dimana rahasianya. Apa jamunya Pak?’. Pak Harto berhenti sebelum masuk mobil. Disalaminya tangan saya dan ditatapnya wajah saya. Sejurus kemudian beliau berkata.’Tidak ada apa-apa. Rahasianya Cuma satu, ikhlas. Apapun yang kita hadapi, kita harus hadapi dengan ikhlas.”-Muhammad Alwi Dahlan.

Tulisan Fadli Zon memberikan pemahaman bahwa krisis moneter kala itu terjadi karena Global Capital Movement, dan sama sekali tidak bisa dihindari. Belum lagi karena diagnosis dan obat yang salah dari IMF. Sebenarnya ketika itu jika saja Pak Harto mau mempertahankan kekuasaannya dan mengadakan perlawanan, tentu ia sangat mampu. Namun sebagaimana yang beliau sampaikan kepada anak-anaknya di malam sebelum pengunduran diri, ketika empat belas menteri pilihannya mengundurkan diri dari kabinet :

“Karena keadaan sudah semakin kacau dan saya tidak mau terjadi pertumpahan darah antar sesama rakyat Indonesia, saya sudah memutuskan untuk mengundurkan diri dan berhenti dari jabatan saya sebagai presiden. Biarlah nanti sejarah yang akan membuktikan apa yang sudah Bapak dan Ibumu lakukan untuk negara dan bangsa ini.”

Ada satu kisah yang membuat saya sesenggukan. Kisah Munari Ari yang dulu adalah pengamen di jalanan yang setiap hari Pak Harto lewati di Jakarta. Alkisah Munari muda dan beberapa teman pengamennya ingin memberi hormat kepada iring-iringan mobil yang lewat. Kali pertama mereka berhasil melakukannya dengan mengecoh petugas pengamanan, walau akhirnya diusir. Namun setiap hari mereka melakukannya hingga lama kelamaan setiap melewati jalan itu iring-iringan kendaraan selalu memperlambat kecepatan. Suatu saat kaca hitam jendela belakang mobil RI 1 turun dan munculah senyuman khas Pak Harto.

Betapa kagetnya ketika suatu hari Munari Ari dkk dipanggil untuk menyanyi di acara ulang tahun pernikahan Pak Harto dan Ibu Tien. Dari sana pintu rejeki terbuka untuknya.

Terserah orang bilang apa saja mengenai Pak Harto. Bagi saya, budi baik Pak Harto tak terbalaskan. Saya adalah bukti nyata bahwa Pak Harto adalah pemimpin yang sangat memerhatikan rakyatnya dan suka mengangkat nasib orang kecil seperti saya.”-Munari Ari

Belum lagi kisah para saksi mata tentang bagaimana saling mencintainya Pak Harto dan Ibu Tien. Pasangan hebat yang membumi dan saling melengkapi. Dan betapa amat sangat kehilangannya Pak Harto ketika Ibu Tien meninggal dunia.

Buku ini sebaiknya dibaca oleh generasi muda saat ini. Agar dapat lebih menghargai sisi positif dari tokoh yang memang sudah banyak melakukan banyak tindakan nyata dalam membagun Indonesia. Agar dapat lebih memahami betapa sulit dan peliknya menjaga persatuan negara kita yang secara geografis dan budaya sangat beragam.

Dendam politis tidak akan membawa kita ke tempat yang lebih baik. Terlepas dari kekurangan yang banyak terjadi. Seperti yang dikemukakan Lee Kuan Yew, hendaknya kita menilai sejarah secara adil. Bukan hanya dari kacamata pemenang.

Jika kamu memberi sesuatu, tulislah itu di pasir agak dapat terhapus, tetapi jika kamu diberi sesuatu pahatlah dibatu, agar selalu teringat.”- (alm) HM Soeharto