Letters to Sam By Daniel Gotlib

Penerbit : Gagas Media

Tebal : 217 Halaman

Alih Bahasa : Windy Ariestanty

Terkadang, keadaan memaksa kita untuk berpura-pura kuat dan berani, padahal sebenarnya kita merasakan sebaliknya. Pada umumnya, akan lebih baik kalo kita tidak usah berpura-pura kuat ketika sedang merasa lemah, atau berpura-pura berani padahal merasa takut. Aku percaya, dunia akan menjadi tempat yang lebih aman kalau setiap orang yang merasa lemah menggunakan flasher dan berkata ‘Aku punya masalah. Aku lemah dan sedang berusaha semaksimal mungkin.’”

Benarkah seperti itu?

Thanks to Ally dan Melisa yang sudah merekomendasikan buku ini. Baru selesai saya baca hari ini jam 5 pagi dan ini ngebut bikin reviewnya di kantor. Buku ini akan menjadi salah satu buku kontempelasi buat saya. Sampe nangis-nangis bacanya. Dan jadi tergoda untuk menulis surat juga buat anak saya untuk dibaca ketika dia sudah dewasa. Hehe.

Cerita dalam buku ini dikisahkan melalui surat-surat seorang kakek kepada cucunya, Sam. Sang kakek telah berpuluh tahun mengalami kelumpuhan. Dan ketika mengatahui bahwa cucunya terdiagnosis autisme somehow sang kakek merasa bahwa mereka berdua memiliki banyak kemiripan dalam menghadapi hidup. Kondisi mereka berbeda dari kebanyakan orang, dan mereka harus belajar menjalani dan menerima hidup dengan kondisi tersebut.

Melalui surat-suratnya sang kakek bercerita mengenai pengalaman hidupnya. Mengenai masa lalunya. Melalui surat tersebut sang kakek mengisahkan tentang bagaimana dirinya harus menghadapi kenyataan setelah mengalami kecelakaan mobil dirinya tidak akan pernah bisa berjalan kembali. Bagaimana ternyata kondisinya malah membawa banyak pemahaman baru tentang kehidupan. Pada akhirnya hidup dengan kursi roda memberinya sudut pandang yang sama sekali berbeda dari sebelumnya.

Huaaa. Pengen banget punya kakek sepertinya kakeknya Sam. Orang dengan kondisi autisme melihat dunia dengan caranya sendiri.. Dan melalui surat-suratnya sang kakek mengajarkan agar cucunya kelak tidak terpengaruh oleh pandangan dan label yang diberikan orang lain.

Membaca buku ini membuat saya tersentil bahwa sebagai manusia, kadang kita lupa untuk bersyukur. Lupa bahwa diatas langit masih ada langit.

Bagaimanapun rasa sakit hanyalah sebuah emosi. Tak ada satu pun emosi yang abadi.

Banyak sekali  kalimat penyembuh  bertebaran dalam buku yang sangat saya butuhkan di titik ini. Somehow saya merasa surat itu tidak hanya ditujukan pada Sam. Tapi pada semua orang di dunia yang sedang bertarung di medan perangnya masing-masing. Kesedihan, kebingungan, ketakutan menghadapi hidup adalah sesuatu yang pasti dirasakan oleh setiap orang dan akan berlalu seiring berlalunya waktu. I do hope so…

Ketika kau terluka, dekatkanlah dirimu dengan orang yang bisa mentoleransi rasa sakitmu tanpa melontarkan penilaian atau memberimu saran. Seiring dengan waktu yang berlalu, kau tidak akan terlalu merindukan apa yang dulu kau miliki dan bisa lebih menjalani apa yang kau hadapi hari ini.

The Unvanquished By William Faulkner

Penerbit : Signet Classic

Tebal : 192 Halaman

The Unvanquished artinya undefeated or unbeaten. Setelah saya baca bukunya sampai selesai baru saya ngёh what this is all about. Saya dapet buku signet classic terbitan tahun 1960 ini dari Readinglights seharga 25 ribu sajah ^_^ ohohohohoho…

Latar belakang buku ini sejaman dengan Gone With The Wind, tahun 1860 an dimana terjadi perang saudara antara kubu Union (Utara Amerika) dan Confederate (Selatan Amerika) yang berujung pada pembebasan para budak afrika di area perkebunan selatan amerika.

Dilihat dari judulnya dan latar belakangnya, saya kira buku ini akan menceritakan tentang perang tersebut. Ternyata isinya lebih ke what moral grounds you stand for and i like it!! Dan undefeated disini lebih condong ke kontradiksi dalam diri si tokoh utama. Apakah dia memilih apa yang orang lain harapkan dari dirinya atau apakah dia akan memilih apa yang benar.

Bercerita tentang seorang anak berumur 12 tahun bernama Bayard Sartoris, saat itu perang saudara sudah dimulai dan Ayah Bayard, John Sartoris adalah seorang petinggi di kalangan confederacy yang langsung turut memimpin peperangan melawan union. Saat itu Bayard memiliki seorang sahabat bernama Ringo yang merupakan anak dari budak afrikanya. Saat itu Bayard dan Ringo sama sekali tidak aware akan perbedaan mereka dan tidak paham ketika mendengar isu tentang pembebasan budak.

Ringo and I had been born in the same month and had both fed at the same breast and had sleep together and eat together for so long that Ringo called Granny ‘Granny’ just like I did, until maybe he wasn’t a nigger anymore or maybe I wasn’t a white boy anymore, the two of us neither, not even people any longer..

Ketika ayahnya pergi berperang, Bayard diawasi oleh neneknya Rosa. Dari apa yang saya mengerti dari buku ini, pada saat itu kalangan confederate memiliki nilai-nilai rigid tertentu yang mati-matian mereka pertahankan dan yang mencolok ditonjolkan dalam buku ini adalah tentang pembalasan dendam.

Saat Bayard berumur 15 tahun tragedi pertama terjadi pada anggota keluarganya. Saat itu ayahnya masih ada di medan perang. Seperti hal nya yang diharapkan oleh masyarakat sekitarnya Bayard pun melakukan aksi balas dendam terhadap pihak yang menyakiti keluarganya.

I could have held her, turned the wagon, driven away, holding her in it. I was just fifteen, and for most of my life her face had been the first thing I saw in the morning and the last thing I saw in the night, but I could have stopped her, and I didn’t. I sat there in the wagon in the cold rain and let her walk on into the wet twilight and never come out of it again.

Waktu berlalu dan Bayard belajar banyak hal. Ketika Bayard berumur 24 tahun dan sedang kuliah di bidang hukum Ringo datang menyusulnya untuk pulang karena tragedi lain telah menimpa keluarganya. Ketika ia pulang sebagaimana anak yang baik dirinya diharapkan untuk melaksanakan pembalasan dendam untuk keluarganya. Namun kali ini Bayard telah menyaksikan dan belajar banyak hal dari hidup. Apakah ia akan tetap menerapkan prinsip an eye for an eye atau apakah ia memilih jalan yang lain? That’s the main question in this book. Such a great story, such a great theme.

Tentu saja selain cerita tentang Bayard ada beberapa tokoh kuat lain yang perannya sangat saya sukai dalam buku ini, antara lain tokoh Rosa, nenek Bayard yang keras hati dan akan melakukan apapun untuk melindungi keluarganya dan juga Drusilla sepupu Bayard yang merupakan anomali dari perempuan kebanyakan pada zaman itu.

Sangat senang akhirnya sempat membaca novel ini ^_^

At least this will be my chance to find out if I am what I think I am or if I just hope; if I am going to do what I have thaught myself is right or if I am just going to wish I were.

Pergilah Ke Mana Hati Membawamu By Susanna Tamaro

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 215 Halaman

Alih Bahasa : Antonius Sudiarja, SJ

Dan kelak, di saat begitu banyak jalan terbentang di hadapanmu

Dan kau tak tahu jalan mana yang harus kau ambil,

Janganlah memilihnya dengan asal saja,

Tetapi duduklah dan tunggulah sesaat.

Tariklah nafas dalam-dalam, dengan penuh kepercayaan,

Seperti saat kau bernafas di hari pertamamu di dunia ini.

Jangan biarkan apa pun mengalihkan perhatianmu,

Tunggulah dan tunggulah lebih lama lagi.

Berdiam dirilah, tetap hening, dan dengarkanlah hatimu.

Lalu ketika hati itu bicara, beranjaklah,

Dan pergilah kemana hati membawamu…

Membaca ulang buku ini adalah misi pribadi buat saya. Pertama, karena kesimpulan saya beberapa tahun terakhir ini, keputusan yang hanya diambil dengan menggunakan hati seringkali mengarahkan pada kekacauan. Hati dan nalar memang dua kutub yang harus diperlakukan secara seimbang. Jadi saya ingin menguji diri dengan membaca ulang.

Kedua, karena biasanya setelah membaca buku untuk keberapa kalinya selalu ada hal baru yang bisa diambil, terutama dari buku yang sarat makna seperti buku Pergilah Ke Mana Hati Membawamu ini. Dan memang, pada akhirnya saya menemukan sesuatu yang sebelumnya mungkin saya tidak perhatikan. Yaitu people have reasons to do what they do…

“Belum lama ini aku membaca peribahasa Indian yang mengatakan ‘Sebelum menghakimi orang, berjalanlah selama tiga bulan dengan menggunakan sepatunya’. Aku sangat menyukai peribahasa itu, sampai-sampai aku menyalinnya di notes dekat telepon agar aku tidak lupa. Dilihat dari luar, banyak kehidupan tampaknya keliru, irasional, gila. Bila kita memandang dari luar, begitu mudahnya orang menyalahpahami orang lain, hubungan-hubungan mereka. Hanya dengan melihatnya lebih dalam, hanya dengan berjalan tiga bulan dengan menggunakan sepatu mereka, kita dapat memahami motivasi, perasaan, serta apa yang menggerakan seseorang melakukan sesuatu dan bukan yang lainnya. Pemahaman ini lahir dari kerendahan hati, bukan dari kesombongan dan pengetahuan.

Pemahaman yang lahir dari kerendahan hati ini yang sedang saya cari, agar saya bisa berhenti menyombongkan diri sebagai korban, agar saya bisa belajar memahami, agar pada akhirnya saya bisa ikhlas menerima keadaan dan melanjutkan hidup. Again.. Setiap orang punya alasan untuk melakukan apa yang mereka lakukan. Dan saya tidak memiliki hak setitik pun untuk menghakimi karena kita tidak pernah tahu sepenuhnya seseorang.

Disisi lain saya juga berdoa agar suatu saat saya bisa dipahami. Oleh orang-orang yang selama ini misunderstood me bahwa saya juga memiliki alasan dan sejarah tersendiri untuk melakukan yang saya lakukan. Please don’t judge me.

Gosh.. This is more like a personal blog content than a book reviews. Buku ini bercerita tentang tiga generasi wanita. Nenek, anak perempuan dan cucu perempuan. Olga, Ilaria dan Martha dimana di dalam kehidupan mereka begitu banyak kesalahpahaman satu sama lain yang tidak terselesaikan. Sang anak perempuan meninggal karena kecelakaan mobil sehingga meninggalkan sang nenek untuk membesarkan cucu perempuannya.

Ketika cucu perempuannya beranjak remaja begitu banyak kesalahpahaman dan komunikasi yang tidak tersampaikan diantara mereka berdua sehingga sang cucu perempuan memutuskan untuk meninggalkan rumah. Beberapa saat kemudian sang nenek mengetahui bahwa umurnya tidak lama lagi dan alih-alih memberitahukan cucunya secara langsung, sang nenek memutuskan untuk menuliskan surat untuk cucu perempuannya.

Dalam suratnya itulah sang nenek menceritakan kisah hidupnya, kisah hidup anak perempuannya dengan harapan agar sedikit lebih dipahami. Dan ia tidak ingin meninggalkan cucu perempuannya dengan tanda tanya besar dan penyesalan sehingga melalui surat-surat tersebut pula ia meminta penerimaan dan keikhlasan dari cucunya.

Secara keseluruhan saya sangat menyukai buku ini. Ketika lebih muda karena pesannya tentang kata hati. Sekarang karena pesannya tentang penerimaan. Isi buku ini lebih bersifat filosofis dari drama. Mungkin akan banyak yang menemukan bahwa buku ini sedikit sulit untuk dibaca. Namun bagi saya buku ini adalah teman hidup. Pada suatu masa saya adalah Martha, pada suatu masa saya adalah Ilaria dan pada suatu masa saya adalah Olga.

The Help By Kathryn Stocket

Penerbit : Berkley Books

Tebal : 453 Halaman

My oh my, akhirnya bertemu lagi dengan sebuah cerita yang membuat saya terseret masuk ke dalam dunianya. Ikut merasakan sedihnya, getirnya dan semangatnya tokoh2 dalam cerita ini yang semuanya adalah wanita-wanita yang masing-masing berjuang untuk survive dalam kehidupannya.

Pada tahun 1960 an di Jackson, Mississippi, kondisi memang tidak mendukung bagi warga kulit hitam karena paham rasialis yang masih dipegang erat oleh masyarakatnya. Bagi mereka colored people adalah semi subhuman yang tidak berhak untuk menikmati segala privileges yang bisa dinikmati warga kulit putih.

Aibileen adalah seorang wanita kulit hitam yang telah bertahun-tahun bekerja di keluarga kulit putih. Merawat anak-anak mereka, membersihkan rumah dan segala urusan rumah tangga lainnya. Aibileen sendiri kehilangan putranya yang masih berumur 24 tahun karena kecelakaan di tempat kerja. Aibileen adalah wanita yang cerdas, keibuan dan menerima keadaan. Namun semenjak kematian putranya sesuatu dalam dirinya berubah dan ia bukan orang yang sama lagi.

Five months after the funeral, I lifted myself out of bed. I put on my white uniform and put my little gold cross back around my neck and I went to wait on Miss Leefolt cause she just have her baby girl. But it weren’t too long before I seen something in me had change. A bitter seed was planted inside me. And I just didn’t feel so accepting anymore.

Minny juga seorang wanita kulit hitam yang bekerja di keluarga kulit putih. Majikan Minny bernama Hilly Holbrook yang (menurut saya) bagaikan Hitler versi perempuan. Minny tidak sekalem Aibileen, seringkali Minny tidak bisa tinggal diam atas perkataan para majikan kulit putih dan membalas perkataan mereka. Bagi orang luar Minny terlihat sebagai wanita kuat yang pemberontak, namun sebenarnya Minny harus menanggung bebannya sendiri karena bersuamikan seorang pria pemabuk dan pemukul. Minny bekerja pada Hilly bagaikan bom waktu yang tinggal menunggu waktu untuk meledak.

Hilly Holbrook memiliki dua sahabat dekat semenjak masa sekolah yaitu Elizabeth Leefolt dan Euginia “Skeeter” Phelan, satu-satunya perempuan di trio tersebut yang belum menikah dan tinggal bersama orang tuanya. Hilly boleh dikatakan adalah pemimpin dari para wanita kulit putih di daerah tersebut dan mendominasi di semua perkumpulan. Jika Hilly memerintahkan sesuatu, maka wanita-wanita yang lain akan mengikutinya. Suatu ketika mereka bertiga berkumpul di rumah Elizabeth untuk minum teh, Hilly mengusulkan kepada Elizabeth untuk membangun kamar mandi terpisah di luar rumah untuk Aibileen karena menurutnya menggunakan kamar mandi yang sama dengan orang kulit hitam membuat mereka beresiko tertular penyakit. Elizabeth manut akan titah Hilly tersebut dan memutuskan untuk membangun kamar mandi terpisah untuk Aibileen.

Kejadian tersebut membuat Skeeter merasa terusik karena Skeeter sendiri dibesarkan oleh seorang asisten rumah tangga kulit hitam bernama Constantine yang menghilang secara misterius ketika Skeeter kembali setelah menyelesaikan kuliahnya. Sketeer sangat menyayangi Constantine dan membenci cara teman-temannya memperlalukan para pelayan wanita mereka.

Secara kebetulan Skeeter yang sedang mencari pekerjaan di bidang jurnalistik mendapat kesempatan untuk menulis sebuah buku dari salah satu penerbit di New York. Tapi tulisannya harus “tidak biasa” alias unik sehingga cukup layak untuk dipublikasikan. Sebuah ide menggantung di kepala Skeeter. Sesuatu yang ingin dia tuliskan adalah bagaimana kehidupan para wanita kulit hitam yang bekerja di keluarga kulit putih. Dengan tulisan tersebut Skeeter berharap bisa sedikit membawa perubahan. Untuk dipublikasikan dia membutuhkan setidaknya 12 responden wanita kulit hitam.

Sketeer lalu meminta bantuan pada Aibileen dan Aibileen meminta bantuan pada Minny. Bertiga mereka menempuh risiko yang cukup berbahaya untuk menuliskan buku tersebut. Risiko bahwa persekutuan mereka akan terbongkar dan menerima kemarahan dari para wanita kulit putih yang mereka ceritakan dalam buku. Bertiga mereka dengan berani terjun ke dalam petualangan yang berbahaya karena mereka sama-sama menginginkan perubahan.

Buku ini jempol banget !! Keren !! Buat saya, semua emosi yang berusaha digambarkan dalam buku disampaikan dengan baik dan menghanyutkan. Di saat mereka merasa terpojok saya bisa ikut merasakan ketakutan mereka. Saat mereka memutuskan untuk melawan saya ingin ikut menceburkan diri untuk membantu mereka. Ceritanya juga sedikit personal buat saya karena saya juga tumbuh besar dengan didampingi para Helper.

Benar-benar melibatkan perasaan buku ini. Dan saya menutup buku dengan perasaan kagum dan sedikit lebih berani. Bahwa sebagaimanapun kerasnya hidup, para wanita ternyata punya endurance yang cukup besar untuk fight dan berjuang melaluinya. Bravo! Bravo! Bravo!

I watch Lou Anne slip away in the parking lot, thinking, There is so much you don’t know about a person. I wonder if I could’ve made her days a little bit easier, if I’d tried. If I’d treated her a little nicer. Wasn’t that the point of the book? For women to realize, We are just two people. Not that much separates us. Not nearly as much as I’d thought.

Bumped By Megan McCafferty

Tebal : 240 Halaman on ebook

Buku ini berkisah tentang dunia di masa depan dimana umat manusia terinfeksi virus yang menyebabkan mereka tidak dapat bereproduksi setelah melewati umur 18 tahun. Untuk mengatasi masalah penurunan populasi penduduk maka gadis-gadis remaja sangat dianjurkan untuk hamil. Baik secara amatir (dengan siapa saja yang mereka suka) atau secara pro melalui seorang Reproductive Representative yang akan memilih siapa donornya dan mereka mendapat imbalan uang atau beasiswa melanjutkan kuliah atas jasanya melahirkan seorang bayi. Alat kontrasepsi adalah barang yang terlarang untuk diedarkan.

Fyi setelah bayi2 tersebut dilahirkan mereka akan langsung diantarkan pada agen adopsi kepada orang tua yang memesan bayi tersebut. Jika seorang amatir melahirkan maka jika bayinya mendapat nilai bagus, bayi tersebut juga dapat dilelang kepada penawar tertinggi sehingga si Ibu bisa mendapat imbalan uang.

Dunia yang absurd memang. Pada beberapa bagian membuat kening saya berkerut. Namun endingnya sangat bikin penasaran karena ternyata buku ini beseri.

Alkisah tentang dua orang gadis remaja kembar yang dipisahkan sejak lahir. Melody dan Harmony. Melody diadopsi oleh pasangan scientist (atau pengajar ya? Agak lupa) yang sudah mempersiapkan Melody untuk menjadi seorang Pro sejak kecil. Melody diasah IQ maupun EQ nya dengan berbagai kegiatan untuk menjadi “donor gen” yang menjual. Walhasil di umur 16 tahun Melody sudah memiliki seorang Reproductive Representative bernama Lib yang sedang menyeleksi calon “donor gen” lain yang tepat untuk Melody sehingga dapat menghasilkan keturunan yang “sempurna” dan mendapat imbalan jasa 15% atas apa yang Melody dapat.

Harmony diadopsi oleh kaum Puritan yang tinggal di sebuah daerah yang bernama Goodside. Nasib Harmony tidak lebih baik karena di daerah tempat tinggalnya para Gadis ditunangkan dan menikah semenjak berumur 13 tahun sehingga dapat berkeluarga dan menghasilkan keturunan.

Suatu saat tanpa diduga Harmony muncul di depan pintu rumah Melody. Kedua saudara yang pada awalnya asing akan kehidupan satu sama lain ini mulai terikat dalam suatu kisah complicated yang membuat mereka sama-sama mempertanyakan apa yang selama ini mereka percayai.

Overall buku ini masuk dalam kategori “fun to read”. Walau digadang-gadang bergenre dystopian tapi saya lebih suka memasukkannya dalam science fiction saja, karena setelah membaca 1984 nya George Orwell atau The Handmaid’s Tale nya Margaret Atwood yang notabene dedengkot nya dystopian rasanya buku ini belum terlalu “kuat” untuk masuk ke dalam kategori tersebut.

Bahasa dalam buku ini mungkin sengaja dibuat girlie sekali sehingga kadang saya geli sendiri membacanya. Duet Melody Harmony juga seru karena walaupun mereka dibesarkan dalam dua lingkungan yang berbeda ternyata they share the same core thoughts about the world they live in. Merka berdua adalah dua gadis remaja yang memiliki pemikiran sedikit berbeda dengan teman-teman sebayanya. Ide tentang dunia mereka juga cukup segar walaupun saya tidak menyarankan untuk dibaca young adults karena cukup kontroversial.

Kehidupan Melody dan Harmony menggambarkan bahwa sebagaimanapun rigidnya dunia tempat kita tinggal, pada dasarnya kita masing-masing mempunyai pilihan untuk menjalankan kehidupan seperti apa. Dan kita harus berani menghadapi konsekuensi dari pilihan yang kita buat. Tidak ada keharusan bagi kita untuk mengikuti suatu arus tertentu hanya karena hal itulah yang dilakukan orang-orang lain.

I dream of a life where girls don’t hide behind veils. And they can dress as they want to and cut their hair or keep it long if that’s what they like. And they can study The Bible, really study it by asking questions and having them answered, and also read other unbiblical books too. Where red is the color of strawberries, cardinals, and morning glories, not shame, shunning, and sin.

A life where girls are free to fall in love..

Even if that love proves to be something else entirely.

-Harmony-