Queen of Dreams By Chitra Banerjee Divakaruni

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 396 Halaman

Alih Bahasa : Gita Yuliani K.

Cara terbaik untuk mencintai orang adalah dengan tidak membutuhkan mereka. Itulah cinta yang paling murni.”

Itulah yang diajarkan oleh Ibunya kepada Rakhi. Dan cinta seperti itulah yang dipraktekkan ibunya kepada dia dan ayahnya. Bagi Rakhi, Ibunya yang seorang penafsir mimpi selalu tampak seperti mahluk yang berasal dari dunia lain. Selalu menjaga jarak dan mengelilingi dirinya dengan benteng yang tidak terlihat.

Ayah dan Ibu Rakhi pergi ke Amerika dari India ketika Rakhi belum lahir. Konon selain karena Ayahnya akan melanjutkan kuliah di Amerika, perkawinan antara Ayah dan Ibu Rakhi juga tidak disetujui oleh keluarga sehingga mereka memilih untuk meninggalkan tanah tempat kelahiran mereka.

Rakhi tumbuh menjadi anak perempuan kecil yang sangat penasaran dengan asal muasalnya. Namun baik Ayah maupun Ibunya tidak bersedia untuk memberikan kisah-kisah tentang India. Rakhi cukup terobsesi dengan Ibunya dan Ibunya selalu menarik garis sampai mana Rakhi diizinkan untuk mendekat. Ibunya adalah misteri yang sulit untuk dipecahkan.

Ketika setelah dewasa Rakhi mengalami kegagalan dalam perkawinannya. Maka untuk menghidupi anaknya, Jona dan dirinya sendiri Rakhi membuka sebuah cafe bernama Chai House bersama seorang sahabatnya yang juga beretnis India, Belle. Selain dari itu Rakhi juga merupakan seorang pelukis yang akan melaksanakan pameran pertamanya.

Suatu saat dibuka sebuah cafe baru bernama Java di dekat tempat mereka. Pelanggan Chai House segera beralih ke Java dan bisnis mereka terancam tutup. Di saat yang bersamaan tepat di malam ketika Rakhi menyelenggarakan pameran pertamanya, Ibu dan Ayahnya mengalami kecelakaan. Ibunya meninggal, Ayahnya mengalami luka parah sehingga Rakhi harus tinggal bersamanya. Rakhi pun terpaksa menitipkan Jona kepada Sonny, mantan suaminya.

Rakhi dan Ayahnya tidak pernah dekat. Ibunya selalu menjadi penengah dan penerus komunikasi diantara mereka berdua. Bagi Rakhi Ayahnya hanyalah seorang pria India biasa yang rutin mabuk-mabukan setiap Jum’at malam. Dan terkadang dia menyalahkan Ibunya atas kondisi tersebut. Mungkin Ayahnya sama frustasinya dalam menghadapi Ibunya.

Di rumah orang tua mereka secara tidak sengaja Rakhi menemukan jurnal yang ditulis oleh Ibunya dalam bahasa Benggali. Dengan terpaksa Rahki meminta tolong Ayahnya untuk menerjemahkan jurnal tersebut. Melalui kegiatan itulah mata Rakhi mulai terbuka tentang siapa sebenarnya Ayahnya. Kedekatan mulai terbentuk diantara mereka dan ternyata, Ayahnya adalah seorang pria hangat yang penuh dengan kisah-kisah menakjubkan tentang India. Melalui jurnal tersebut pula Rakhi mulai mengetahui kebenaran demi kebenaran yang dipendam Ibunya selama bertahun-tahun.

Dengan bantuan Ayahnya Rakhi dan Belle mulai membangun bisnisnya kembali. Sonny juga mulai mendekat kembali ke dalam dunianya melalui Jona. Ketika World Trade Center di hancurkan oleh teroris, kehidupan mereka mulai berubah. Ketika tragedi menyentuh kehidupan mereka. Hal-hal kecil mengganggu yang sebelumnya tampak krusial kini menjadi tidak penting sama sekali.

Dalam ¾ buku ini saya tidak begitu menyukai karakter Rakhi. Rakhi tampak seperti wanita yang mudah kesal dengan hal-hal kecil dan terlalu banyak mengeluh. Sedangkan karakter Ibu Rakhi sedikit banyak berafiliasi dengan diri saya sendiri. Menjaga jarak dan membentengi diri. Namun pada akhirnya saya senang karena ternyata in the end Rakhi tercerahkan akan apa yang sebenarnya dicarinya, siapa Ibunya, siapa Ayahnya dan pada akhirnya Rakhi bisa menjalani kehidupan dengan lebih bijak.

Overall buku ini menceritakan tentang struggle nya para wanita dalam kehidupan. Sebuah tema yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari yang saya jalani. Ada suatu adegan ketika Rakhi sedang merasa sangat kesepian yang mungkin sering dirasakan oleh para perempuan :

Ketika memperhatikan mereka, aku merasa bahagia sekaligus kesepian. Bukan kesepian karena tidak mempunyai pasangan, tetapi sesuatu yang lebih mendasar. Seakan-akan aku satu-satunya mahluk yang tertinggal di sisi kaca sebelah sini, sementara dunia selebihnya-bahagia, acuh tak acuh- menjalani kehidupannya di sisi sebelah sana. Mereka tahu kehadiranku, mereka bahkan kadang-kadang melambai kepadaku sesekali, seperti yang dilakukan Belle, tetapi mereka tidak tahu bagaimana rasanya menengok kedalam, balas melambai, tidak bisa menyeberang kesana.

Again, well done Chitra Banerjee Divakaruni!!

2 By Donny Dhirgantoro

Penerbit : Grasindo

Tebal : 418 Halaman

Mungkin semuanya menjadi berbeda saat kamu melangkah dan menginjak tanah tempat kamu berdiri, mungkin kadang manusia harus kembali menjejakkan kakinya diatas tanah tempat ia berdiri sekadar untuk menghitung jejak dan langkah kakinya, sejauh mana ia telah berjalan dengan langkahnya. Sejauh mana masa lalu ada untuknya, sejauh mana ia akan meninggalkan masa lalunya untuk melangkah maju, melangkah lebih cepat lagi dalam hidupnya? Setiap manusia akan menjalani takdir baiknya, setiap manusia akan selalu mempunyai kekuatan untuk bangkit kembali setelah ia jatuh. Tetapi pertanyaannya, seberapa cepat ia bangkit lagi dari jatuhnya? Seberapa cepat ia melangkah lagi.. Ia pasti bangkit, tetapi seberapa cepat ia bangkit??

Kalimat Gusni ketika mempertanyakan dirinya dalam buku ini sangat mewakili pertanyaan yang terngiang-ngiang di telinga saya beberapa bulan terakhir ini. Hmmm.

Anyway.. Sudah lama banget nih saya menunggu buku barunya Donny Dhirgantoro setelah 5 cm. Saya cukup suka dengan 5 cm namun menurut pendapat saya “2” ini lebih keren. Pertama karena ceritanyanya unik tapi idenya sederhana, Donny Dhirgantoro meramunya secara pas sehingga beberapa bagian yang di kehidupan nyata mungkin too good to be true tergambar secara wajar dan “ngga sinetron”. Kedua karena cara penggambarannya yang komikal tetapi dibeberapa bagian puitis juga sehingga sama sekali ngga bikin bosen. Kadang kita dibuat tertawa, kadang kita dibuat berkaca-kaca dan bahkan di beberapa bagian membakar semangat.

Jangan coba-coba bekerja keras tapi tanpa impian, tanpa impian yang membakar diri dan benak kamu setiap hari, berkeringat, lelah, tapi tanpa makna.. Melangkah tapi tanpa tujuan, bangun di pagi hari menyesali apa yang kamu lakukan. Bekerja keras tanpa impian, buat saya kamu hanyalah pembual nomor satu bagi dunia.”

*Jleb, Jleb, Jleb*

Bercerita tentang anak perempuan kedua dari sebuah keluarga kecil yang bahagia. Anak perempuan itu bernama Gusni. Gusni terlahir dengan berat badan 6 kg, Gusni terlahir besar. Papa dan Mana Gusni telah mengetahui alasan mengapa Gusni terlahir begitu besar, namun mereka memutuskan untuk memberitahunya kelak, ketika Gusni telah cukup dewasa.

Maka Gusni menerima kekurangan sebagai kelebihannya secara alami. Gusni tumbuh menjadi anak periang yang suka sekali dengan onde-onde ^_^. Sewaktu kelas 6 SD, Gusni menemui “lawan yang setimpal”, seorang anak laki-laki bernama Harry yang juga berbadan besar namun memiliki senyum yang hangat. Akibat pertemuan pertama mereka yang melibatkan Onde-onde dan Choki-Choki (Saya juga suka banget snack ini waktu zaman SD!!) , maka mereka saling memanggil Gusni-Gusni dan Harry-Harry dan menjadi sahabat yang sangat baik.

Saat terjadi kerusuhan pada tahun 1998, Warung Bakmi Nusantara milik keluarga Harry ikut terbakar. Harry dan keluarganya terpaksa pindah.  Harry dan Gusni pun terpisah tanpa saling memberi kabar lagi.

Gusni memutuskan untuk mengejar cita-citanya menjadi seorang pemain bulutangkis. Sesuatu yang bisa dianggap mustahil untuk seorang remaja seberat 125 kg. Kakaknya Gita, telah terlebih dahulu menjadi atlet bulutangkis nasional. Ketika berumur 17 tahun, nasib mempertemukan kembali Gusni dan Harry. Gusni pun merasakan manisnya cinta pertama. Namun tidak lama kemudian Gusni akhirnya mengetahui mengapa semenjak lahir beratnya tidak pernah turun dan selalu beranjak naik dan apa konsekuensi yang harus dihadapinya kelak.

Gusni tentu saja merasa sangat kaget dan sedih. Namun ia akhirnya memutuskan untuk bangki dan melawan. Bangkit dan melawan takdir yang harus ia hadapi dengan mengejar cita-citanya. Menjadi seorang pemain bulutangkis.

Mungkin untuk pembaca lain kisah utama dari cerita ini adalah tentang bulutangkis Indonesia. Namun buat saya cerita ini adalah cerita Gusni yang super pemberani dalam menjalani hidupnya. Dan satu lagi yang saya sangat suka dari buku ini adalah relasi yang terbentuk antara anggota keluarga Gusni.

Pandangan Papa Gusni atas Mama Gusni

Mama, yang seperti kebanyakan perempuan Indonesia, ada ketabahan dan kekuatan di raut wajah mama. Ketabahan dan kekuatan yang sampai saat ini tidak pernah hilang dalam pandangan Papa. Tabah dan kuat, bukan pasrah, bukan pula lemah.

Atau ketika berulang kali Mama Gusni membangkitkan semangatnya ketika Gusni diejek oleh anak-anak lain.

Gus, ingat kamu perempuan, kalau kamu mau nangis, nangis saja.. Tapi kamu harus punya alasan kuat untuk itu, banyak perempuan yang menangis untuk sesuatu yang sia-sia, kamu perempuan Gus, kalau kamu mau nangis, nangis aja.. Tapi menangislah untuk sesuatu yang baik, bukan sesuatu yang sia-sia..

Pokoknya buku ini Top Markotop deh. Sangat saya rekomendasikan untuk dibaca. Buku yang bisa menggambarkan harapan dan membangkitkan semangat pembacanya.

Jangan pernah meremehkan kekuatan seorang manusia karena Tuhan sedikitpun tidak pernah!

The Castle in the Pyrenees By Jostein Gaarder

Penerbit : Phoenix

Tebal : 250 Halaman

Buku ini khas Jostein Gaarder banget, namun kali ini diwarnai dengan sedikit romance antara sepasang manusia yang bertemu kembali setelah 30 tahun terpisah dan tidak saling berhubungan. Solrun dan Stein.

Solrun dan Stein yang tinggal di Norwegia bertemu pada saat kuliah dan hidup bersama sejak berumur 19 tahun. Mereka adalah dua orang yang sangat berbeda namun saling melengkapi. Solrun dan Stein sangat suka travelling, bahkan pada suatu waktu mereka memutuskan untuk hidup di suatu daerah terpencil di pegunungan tanpa bantuan teknologi apapun. Mereka ingin merasakan hidup bagai “orang-orang gua” di masa lampau.

Lima tahun setelah tinggal bersama ketika mereka sedang berlibur di Lake Eldrevatnet, mereka mengalami suatu peristiwa yang secara paksa memisahkan mereka. Solrun meninggalkan Stein.

Neither of us said a word the whole time. About that i mean… We couldn’t even say goodnight to each other. I remember spending that last night on the sofa.. I moved out the next day, and we’d not seen each other since, not for more than thirty years. It’s unbelievable.

Tiga puluh tahun kemudian keduanya telah sama-sama berkeluarga. Suatu hari secara tidak sengaja mereka bertemu kembali di hotel tempat tiga puluh tahun lalu mereka menginap. Stein mengatakan itu hanya kebetulan. Solrun menyebutnya Fate.

The world isn’t a mosaic of coincidences, Steinn. It’s all interconnected.

Obviously they still had feeling for each other. Semenjak pertemuan di hotel itu mereka memutuskan berkomunikasi dengan saling mengirimkan email. Tetapi email yang dikirimkan harus dihapus segera setelah dibaca.

Melalui rangkaian email tersebutlah kisah ini diceritakan. Setelah tiga puluh tahun berlalu Stein telah menjadi seorang scientist murni yang tidak percaya pada Tuhan dan kehidupan setelah mati. Sedangkan Solrun adalah seorang spritualis yang percaya bahwa jasad kita mungkin membusuk tapi jiwa kita tidak.

Itulah yang mereka bicarakan dalam rangkaian email mereka, kenapa mereka sekarang bertemu, apa itu kehidupan, apa itu kematian, apakah jiwa benar-benar ada, apakah itu kebetulan. Namun pada akhirnya pembicaraan menyeret mereka kembali ke peristiwa yang terjadi tiga puluh tahun lalu. Dan pada akhirnya apa yang selama ini mereka pendam dan berpura-pura bahwa tidak terjadi terbicarakan juga.

Harus saya akui bahwa ending buku ini mengejutkan. Dua per tiga dari awal buku cukup sulit untuk saya lalui karena mungkin timingnya tidak tepat buat saya. Pembicaraan tentang nasib, takdir dan kenapa suatu peristiwa harus terjadi. Pembicaraan antara Solrun dan Stein membuat saya meragukan kehidupan saya sendiri sehingga pada beberapa titik saya memutuskan untuk menutup buku terlebih dahulu.

Seperti halnya buku-buku Jostein Gaarder yang lain, buku ini juga membuat saya ingin meng quote seluruh isi buku ^_^. Untuk para penggemar Jostein Gaarder, buku ini akan sangat membantu untuk lebih jauh untuk mempelajari filosofi kehidupan.

Untung Surapati By Yudhi Herwibowo

Penerbit : Metamind

Tebal : 648 Halaman

Menurut saya seharusnya diterbitkan lebih banyak buku dengan genre historical fiction Indonesia seperti Untung Surapati ini. Terbayang begitu banyak riset yang haru dilakukan sang penulis sebelum merampungkan buku ini.

Melenceng sedikit dari review buku, sewaktu masa-masa sekolah terus terang mata pelajaran sejarah bukan merupakan favorit saya. Mungkin karena penekanan titik berat sejarah yang salah, dimana yang wajib diingat kala itu adalah tanggal/tahun suatu peristiwa dan deretan nama tokoh yang tidak ada habisnya. Bukan pada kenapa dan bagaimana suatu rangkaian sejarah itu bisa terjadi. Jatuhnya pelajaran sejarah menjadi hafalan yang membosankan. Padahal terdapat segudang lesson learned sebelum suatu peristiwa penting terjadi.

Back to the book. Secara garis besar buku ini menggambarkan perjalanan hidup Untung Surapati dari masa kecilnya hingga beliau wafat. Buku dibagi menjadi tiga bagian berdasar pada tempat dimana Untung Surapati berkiprah. Ketiga bagian tersebut adalah Batavia, Kartasura dan Pasuruan.

Bagian pertama, Batavia, menceritakan tentang Untung kecil yang kala itu adalah seorang budak. Untung bersama Pande temannya dihadiahkan pada seorang pedagang Belanda sukses bernama Minjheer Moor. Minjheer Moor mempunyai seorang anak perempuan kecil bernama Suzanne. Untung, Pande dan Suzanne segera menjadi teman baik.

Minjheer Moor memperlakukan Untung dan Pande dengan sangat baik. Suatu hari Pande berkeras untuk kabur untuk memperbaiki nasibnya. Pande mengajak Untung untuk ikut serta namun Untung memilih untuk tinggal. Semenjak itu hanya ada Untung dan Suzanne.

Suatu hari Untung menyaksikan seorang pendekar berjalan di atas air. Pendekar tersebut bernama Ki Tembang Jara Driya. Atas seizin Minjheer Moor, Untung berguru pada Ki Tembang.

Tahun demi tahun berlalu Untung telah menjadi seorang pemuda yang tangguh. Tanpa disadari tumbuh “perasaan lebih” antara Untung dan Suzanne. Minjheer Moor murka ketika mengetahui hubungan tersebut. Untung segera dipenjarakan dan disiksa. Minjheer Moor bermaksud untuk menghukum mati Untung, namun di malam sebelum eksekusi tersebut dijalankan, Suzanne menyelamatkan Untung dengan menyelundupkan kunci dari seluruh ruangan penjara.

Untung kemudian memimpin semua narapidana yang ada di penjara untuk kabur. Mereka kemudian melarikan diri ke hutan. Untung lalu memutuskan untuk kembali ke tempat Minjheer Moor untuk membawa kabur Suzanne. Sepasang manusia itu lalu pergi ke tempat Ki Tembang Jara Driya untuk meminta dinikahkan.

Ki Tembang memenuhi permintaan tersebut, namun akhirnya beliau menasihati Untung bahwa membawa serta Suzanne bukan merupakan pilihan yang bijak. Ki Tembang menasihati Untung untuk tidak bertindak egois dan  melepaskan Suzanne. Untung menuruti nasihat Ki Tembang dan kembali ke hutan tempat pelarian.

Ternyata narapidana yang lain masih ada disana menunggu Untung. Mereka meminta Untung untuk memimpin. Semenjak saat itulah Untung menjadi pimpinan kaum pemberontak yang senantiasa melakukan perlawanan terhadap pihak Belanda. Bagian satu diakhiri dengan pertempuran pasukan Untung dengan pihak Belanda di tepi Sungai Cikalong dalam rangka membantu Pangeran Purbaya. Setelah pertempuran tersebut Untung memutuskan untuk membawa pasukannya ke daerah Kartasura.

Dalam perjalanan menuju Kartasura atas jasanya membantu Kesultanan Cirebon. Untung diberi gelar Surapati oleh Sultan Cirebon. Semenjak itulah Untung dikenal dengan nama Untung Surapati.

Perjalanan Untung Surapati terus berlanjut, pengikutnya pun semakin banyak. Pasukan Untung menjadi “pasukan bergerak” yang disegani dan diburu oleh pihak Belanda. Halaman demi halaman kita akan diberikan gambaran mengenai situasi politik di zaman tersebut. Selalu ada orang-orang yang berani melawan dan lebih banyak lagi orang bermuka dua yang hanya ingin mempertahankan kekuasaannya sendiri.

Peperangan, kematian dan penghianatan mewarnai perjalanan Untung Surapati. Untung yang tadinya hanya seorang budak, berhasil bertransformasi menjadi sosok yang ditakuti pihak Belanda. Dalam beberapa titik memang Untung sempat meragukan dirinya sendiri, Untung juga sempat berada dalam posisi dilematis untuk memilih apakah akan mendampingi keluarganya dan hidup tenang ataukah terus berjuang. Penggambaran yang sangat manusiawi dan menambah nilai plus pada karakter tokoh Untung. Siapa sih manusia yang tidak pernah meragukan dirinya sendiri?

Walaupun sebagaimana tertulis dalam sejarah bahwa pada akhirnya pemberontakan Untung Surapati berhasil dipadamkan pihak Belanda. Namun kisah ini berhasil memperbesar rasa hormat kita pada tokoh-tokoh stand out Indonesia di masa lalu yang tidak pernah berhenti melawan, tidak pernah tunduk.

Sepertinya kisah seperti ini bagus untuk difilmkan. Asal jatuhnya jangan seperti trilogi film Merah Putih yang absurd itu. Wkwkwkw.

Dan banyak yang dapat diresapi. Karena sampai detik ini kita masih dibayangi oleh penjajahan terselubung. Right now our biggest enemy is ourself. Seperti kita saksikan di kehidupan sehari-hari, pemberitaan tentang kondisi Indonesia saat ini seperti sebuah parodi yang memuakkan. Semuanya tidak masuk logika dan absurd. Tidak ada sama sekali tokoh yang bisa diteladani.

Fight dan struggle kita mungkin jauh berbeda dari tokoh-tokoh di masa lampau. Namun seharusnya nilai yang kita pegang tetap sama. Integritas dan kekuatan hati untuk tidak tunduk pada godaan uang dan kekuasaan.

The Book With No Name By Anonymous (Bourbon Kid #1)

Penerbit : Kantera

Tebal : 493 halaman

Alih Bahasa : M. Baihaqqi ST

Welcome to Santa Mondega! Sebuah kota dimana anda bisa menemukan berbagai jenis perampok, penipu, pembunuh bayaran dan aneka ria jenis penjahat lainnya. Di Santa Mondega secara rutin lima tahun sekali terjadi gerhana bulan total sehingga seluruh kota berada dalam kegelapan. Gerhana bulan tersebut dirayakan oleh warga kota, mereka menamainya festival bulan. Pada saat festival bulan seluruh warga kota bebas menggunakan berbagai macam kostum sebagai bagian dari perayaan. Santa Mondega adalah kota yang misterius.

Kenyataannya, Santa Mondega adalah sebuah kota yang oleh warga dunia lain dianggap tidak pernah ada. Kota itu tidak akan ditemukan di peta manapun, dan tidak ada cerita yang terjadi di kota itu yang pernah diberitakan oleh stasiun berita diluar batas kota.

Warga dunia tidak mengetahui bahwa lima tahun lalu, pada saat festival bulan, terjadi pembunuhan besar-besaran di Santa Mondega oleh seseorang bernama Bocah Bourbon. Pembunuh itu dapat menghabisi puluhan orang dalam waktu singkat setelah menegak segelas borboun. Konon, pembantaian tersebut dipicu oleh perebutan sebuah batu berharga yang disebut mata rembulan.

Satu-satunya manusia yang selamat dari pembantaian Bocah Bourbon adalah seorang perempuan bernama Jessica. Jessica ditemukan dalam keadaan koma oleh  Sanchez, seorang pemilik bar bernama Tapioca. Lima tahun kemudian Jessica baru tersadar dari koma panjangnya. Lima tahun kemudian pula serangkaian pembunuhan mulai terjadi lagi di Santa Mondega, bersamaan dengan hilangnya mata rembulan dari tempatnya.

Orang-orang yang ditemukan telah terbunuh secara kejam memiliki sebuah persamaan. Mereka pernah meminjam sebuah buku dari perpustakaan setempat. Sebuah “buku tanpa judul” dari pengarang yang anonim.

Detektif Jensen dan Sommers ditugaskan untuk menyelidiki pembunuhan-pembunuhan tersebut dan menemukan pelakunya. Apakah benar si Bocah Bourbon telah kembali ke Santa Mondega? Apakah peranan dari mata rembulan? Mengapa Jessica bisa selamat dari maut? Apa isi “buku tanpa judul”? Apakah rahasia yang tersimpan di Santa Mondega?

This book is a whole fun of mystery. Saya tidak menyangka kalau pada akhirnya saya bisa menyukai buku ini. Cerita misteri yang mengandung banyak unsur kesadisan, tapi cara menggambarkannya komikal sekali. Jika anda merasa tidak nyaman dengan adegan seperti mata dicungkil, lidah dicabut, isi perut terburai dan cairan otak yang tercecer kemana-mana maka sebaiknya anda menyiapkan nyali sebelum membaca buku ini ^_^

Walaupun demikian misteri di buku ini sangat menarik dan membuat penasaran hingga halaman terakhir. Santa Mondega benar-benar sebuah tempat yang absurd dan misterius. Endingnya mengejutkan sekaligus menambah kadar  penasaran karena konon buku ini berseri. Tapi buat saya tetep unsur yang paling unik dari buku ini adalah pengarangnya yang anonim. Ide cerdas untuk membuat sebuah buku terlihat stand out dan membikin orang yang meraihnya dari rak di toko buku tertarik.

Tokoh-tokoh favorit saya adalah para pembunuh bayaran yang karakternya fenomenal dan komikal, Elvis, Jefe, Rodeo Rex. Yang mau membaca buku ini ayo pasang kuda-kuda! Siap-siap untuk berkelana ke dunia gelap nan absurd bernama Santa Mondega ^_^

The Throne Of Fire By Rick Riordan

Tebal : 271 hal on ebook

Chaos is impatient. It’s random. And above all it’s selfish. It tears down everything just for the sake of change, feeding on itself in constant hunger.

Ya, Aphopis sang lord of chaos dalam ancient egypt myth akan bangkit dari penjaranya di dalam Duat (underworld versi egypt) dalam waktu lima hari. Selama itu juga Sadie dan Carter harus mencari cara untuk membangkitkan satu-satunya lawan yang ditakuti oleh Aphopis, Ra (Dewa matahari, raja dari semua dewa dalam mitologi mesir). Namun cara untuk membangkitkan Ra dipisah dalam tiga perkamen yang berbeda yang diletakkan di berbagai tempat yang berbeda pula. Sadie dan Carter harus mempertaruhkan nyawa untuk satu-satunya cara yang mereka percayai bisa melawan Aphopis.

Haha, membaca karya-karya Rick Riordan selalu menghibur dan bikin penasaran. Salah satu young adult fantasy yang selalu saya cari-cari. Dari mulai Percy Jackson Series, The Heroes of Olympus dan Kane Khronicles ini. Red Pyramid udah saya baca awal tahun ini, sayang waktu itu saya belum rutin bikin review jadi reviewnya langsung lompat ke seri kedua ^_^.

Buku ini (dan buku sebelumnya) diceritakan dari sudut pandang orang pertama. Sadie dan Carter bergantian menceritakan pengalaman mereka ke dalam sebuah recorder untuk disebarkan dan diharapkan bisa mengajak penyihir-penyihir lain untuk bergabung dengan mereka.

Flashback sedikit ya. Sadie dan Carter adalah dua saudara yang dibesarkan secara terpisah semenjak Ibu mereka meninggal dunia. Sadie dibesarkan oleh nenek kakeknya di London, sedangkan Carter dibesarkan oleh ayah mereka Julius Kane yang juga seorang arkeolog.

Setelah berbagai peristiwa yang terjadi di buku Red Pyramid. Sadie dan Carter mendapati bahwa mereka merupakan keturunan langsung dari dewa dewi mesir. Mereka memiliki kemampuan sihir dan mempunyai potensi  untuk menjadi host bagi dewa dewi mesir. Carter dan Horus. Sadie dan Isis. Namun mereka memilih untuk tetap mengandalkan kemampuan sihir sendiri dan tidak menyatu dengan Horus dan Isis.

If you didn’t listen to our first recording, well…pleased to meet you: the Egyptian gods are running around loose in the modern world; a bunch of magicians called the House of Life is trying to stop them; everyone hates Sadie and me; and a big snake is about to swallow the sun and destroy the world.

Suatu ketika Horus memberikan berita kepada Carter (ya, Carter dan Sadie punya channel langsung untuk bicara dengan Horus dan Isis) perkamen petunjuk pertama untuk membangkitkan Ra ada di Brooklyn Museum, Aphopis akan bangkit dalam waktu lima hari, pada saat equinox yang hanya terjadi dua kali dalam satu tahun. Jadi mereka berdua (Carter dan Sadie) ditemani dua penyihir remaja lain Jazz, Walts dan additional Khufu (yang merupakan seekor baboon) membuka cerita dengan penerobosan ke Brooklyn Museum yang berakhir dengan sedikit kekacauan untuk warga Brooklyn.

Kali ini mereka memiliki lumayan tenaga bantuan karena dari rekaman Red Pyramid yang mereka sebarkan, beberapa remaja yang juga memiliki kemampuan sihir datang ke rumah paman mereka Amos di Brooklyn untuk bergabung dengan misi Carter dan Sadie. Selain itu sekolah resmi The House Of Life yang diperuntukkan untuk para keturunan Godlings seperti mereka yang dipimpin oleh seorang Lector bernama Desjardins masih berambisi untuk menangkap Carter dan Sadie karena menurut aturan The House Of Life kegiatan kedua anak itu ilegal dan harus dihentikan.

Para remaja itu praktis hanya dibantu oleh dua orang dewasa, paman mereka Amos dan seorang Dewi Kucing bernama Bast. Melalui mimpinya Sadie mendapat petunjuk dimana mendapat Perkamen kedua sekaligus mendapatkan bocoran bahwa The House Of Life akan menyerang markas mereka di Brooklyn. Oleh karena itu mereka harus membagi tugas, Carter dan Sadie mencari perkamen kedua, Bast menengok kemajuan kebangkitan Aphopis di penjaranya, Amos dan yang lainnya mempertahankan markas brooklyn. Dalam misinya Carter dan Sadie ditemani oleh Bes (dewa para kurcaci). Berhasilkah Carter dan Sadie membangkitkan Ra ? Apakah Ra mampu melawan Aphopis? Baca sendiri yaaa.. ^_^

Seru sekali menyimak perjalanan Carter dan Sadie. Dari mulai pertengkaran dan saling ejek khas antara kakak beradik sampai kisah cinta monyet khas para remaja antara Sadie dan Anubis (ya, Anubis digambarkan sebagai remaja laki-laki super keren) serta Carter dan Zia. Rick Riordan emang jago mencampur antara kehidupan modern dan mitologi. Dialog-dialognya lucu dan sangat menghibur, tepat sekali untuk menjadi bacaan dikala weekend. Plus sedikit menambah pengetahuan mengenai ancient egypt dengan cara yang menyenangkan !!