Room By Emma Donoghue

Penerbit : Back Bay Books

Tebal : 361 Halaman

Seorang remaja perempuan diculik ketika berumur 19 tahun. Pria penculik tersebut mengurung dirinya di sebuah kamar yang berada di ruangan bawah tanah. Kamar tersebut dilengkapi dengan pintu yang hanya bisa dibuka dengan password sang penculik.

Sang penculik telah merencanakan segalanya, kamar tersebut telah didesain sebagai “rumah” nya untuk waktu yang lama. Di tahun kedua penahanannya perampuan tersebut melahirkan anak, di ruangan bawah tanah tersebut, sendirian. Anak itu dinamainya Jack.

Lima tahun kemudian melalui mata Jack lah cerita ini dinarasikan. Dalam dunia Jack hanya ada dirinya dan Ma. Jack sama sekali tidak mengetahui apapun di luar dunia yang mereka namakan Room. Walaupun Room dilengkapi dengan TV namun Ma mengatakan bahwa segala sesuatu yang mereka lihat di TV hanyalah gambar dan tidak nyata. Di luar Room hanya ada Outerspace.

Ma berusaha membesarkan Jack sebaik-baiknya. Ma mengajarinya membaca, menulis, berlatih fisik, membacakan cerita untuknya dan menciptakan permainan-permainan menarik untuk mengisi aktivitas mereka sehari-hari. Ketika malam hari tiba Jack tidur dalam lemari karena pada waktu itulah sang pria yang mereka sebut “Old Nick” datang. Jack tidak boleh memandang atau menyentuh Old Nick karena kata Ma dia akan kesakitan.

Selama 5 tahun Ma telah menciptakan dunia untuk Jack, namun Ma juga menyadari bahwa keadaan tersebut tidak dapat berlangsung selamanya. Suatu saat Jack mulai menyadari bahwa gambar yang ia lihat di dalam TV adalah nyata dan akhirnya Ma mengungkapkan bahwa ada dunia diluar Room dan mengakui bahwa selama ini Ma telah berbohong. Kenyataan ini membingungkan bagi Jack karena baginya dunia hanya Room, Ma dan dirinya.

Outside has everything. Whenever i think of a thing now like skis or fireworks or islands or elevators or yo yos, I have to remember they’re real, they’re actually happening in Outside all together. It makes my head tired. And people too, firefighters, teachers, burglars, babies, saints, soccer players and all sorts, they’re really in Outside. I’m not there, though, me and Ma, we’re the only ones not there. Are we still real?”

Suatu hari Old Nick marah dan memutuskan aliran listrik selama 2 hari. Ma mulai mencari ide untuk melarikan diri. Ma harus menyelamatkan Jack.

Yang istimewa dari buku ini adalah bagaimana Emma Donoghue menceritakannya dari sudut pandang seorang anak berusia 5 tahun. Jack yang lovable. Narasinya begitu nyata dan khas anak kecil. Seperti ketika Jack mempertanyakan kenapa Ma harus membuat rencana melarikan diri, tidakkah Ma merasa senang bersama dirinya didalam Room. Buat Jack, Karpet, Meja, Lemari, Dinding, semua adalah temannya semenjak lahir dan Jack tidak ingin meninggalkan mereka. Dan saya bisa mengerti bagaimana Ma berusaha keras untuk membuat Jack mengerti bahwa mereka harus melarikan diri.

Sampai halaman terakhir nama asli Ma tidak pernah disebut. Ma hanya Ma dan Jack hanya Jack. Namun di halaman terakhir Jack berhasil membuat saya menangis karena perkembangan emosional yang Jack tunjukan dengan mengucapkan selamat tinggal pada dunianya yang dulu.

Dan dibalik tangis Ma, depresi Ma. Ma adalah seorang pejuang hebat yang bisa membesarkan Jack dengan baik di suatu situasi yang mustahil. Makes me wonder whether i could do the same.

Jangan salah, kisah seperti ini terjadi di dunia nyata. Tahun lalu saya membaca sebuah buku yang berjudul Monster. Buku itu menceritakan kisah kriminal nyata tentang seorang ayah (Josef Fritzl) yang mengurung anaknya dalam suatu ruang bawah tanah rahasia selama 24 tahun sehingga anak perempuannya melahirkan 7 orang anak di ruang bawah tanah tersebut. Kasus tersebut ketika terungkap menjadi kasus yang mencengangkan dunia dan membuat kita merasa sedikit tidak nyaman karena “Monster” ternyata betul-betul nyata dan berkeliaran diantara kita.

Bravo for Emma Donoghue. This is a great book, although you might feel uneasy reading this kind of story, I totally recommended it!

Prophecy Of The Sister By Michelle Zink

Penerbit : Matahati

Tebal : 354 Halaman

Alih Bahasa : Ida Wajdi

Problem dengan genre fantasy adalah sudah banyak sekali novel dengan kategori 10 dari 10 bintang sehingga mau tidak mau standar untuk masuk ke dalam kategori bagus cukup tinggi. Itulah yang terjadi pada novel ini. Sebenarnya ceritanya OK, namun mungkin tidak sesuai ekspektasi.

Bercerita tentang remaja perempuan kembar, Lia dan Allice Milthrope yang baru saja kehilangan ayahnya. Ibu Lia dan Alice meninggal karena bunuh diri sewaktu mereka kecil dengan melompat dari suatu tebing. Lia dan Alice tinggal bersama adik ibu mereka Bibi Virgina dan seorang adik laki-laki yang lumpuh bernama Henry.

Setelah pemakaman ayahnya, muncul tanda aneh di pergelangan tangan Lia yang menyerupai gelang ular. Lalu pada suatu malam Lia menangkap basah saudara kembarnya sedang melakukan suatu ritual mistis di kamar mendiang ibu mereka.

Kekasih Lia, James yang ayahnya diberi tugas untuk mengorganisir perpustakaan keluarga Milthrope menemukan sebuah buku kuno dengan judul Book Of Chaos. Dalam buku tersebut terdapat ramalan mengenai hari kiamat yang melibatkan saudara kembar. Yang satu bertindak sebagai Gerbang para roh tersesat dan setan masuk ke dunia dan yang satu lagi berperan sebagai Garda untuk menjaga kedamaian dan menjaga agar para roh tersesat tidak masuk ke dunia.

Semakin lama Lia merasa perangai Alice semakin aneh, untungnya Lia menemukan sekutu dalam memecahkan misteri ramalan kuno tersebut. Sonia Sorennsen dan Luisa Alcot yang ternyata memiliki tanda yang mirip dengan tanda di pergelangan tangan Lia. Bertiga mereka mencoba mengurai ramalan kuno  tersebut dan mencari tahu apa peranan mereka di dalamnya.

Terus terang saya tidak familiar tentang mitos Samael sehingga sepanjang buku ini saya mengalami kesulitan memahami konsep ramalan tersebut. Kenapa Samael menjadi setan, bagaimana peran para saudari dan isi ramalan itu sendiri belum begitu dapat saya mengerti.

Saya merasa karakter dari tokoh-tokohnya digambarkan dengan kurang kuat. Lia kurang mengigit dan Alice terlalu jahat. Bahkan dalam beberapa titik saya merasa sang penulis tidak adil karena kurang menggali karakter Alice. Dia hanya digambarkan sebagai Alice si jahat.

Dalam buku ini juga intentsitas alurnya kurang memuaskan. Tidak ada puncaknya. Alur dari awal sampai akhir datar-datar saja dan banyak misteri yang belum terselesaikan. Mungkin di seri berikutnya akan lebih banyak konflik karena ternyata buku ini berseri.

Walaupun hanya masuk kedalam kategori Ok buat saya, karena kalo udah baca buku berseri saya ngga bisa berhenti dan kemarin di Periplus nemu serial keduanya Guardian of The Gate didiskon jadi 49 ribu jadilah saya beli dan masuk dalam antrian bacaan. Jadi.. Nantikanlah review buku yang kedua, mudah-mudahan lebih bagus dari buku pertamanya.