Galaksi Kinanthi By Tasaro GK

Penerbit : Salamadani

Tebal : 432 Halaman

Suatu saat mencintai adalah memutar hari tanpa seseorang yang engkau cintai. Sebab, dengan atau tanpa seseorang yang kamu kasihi, hidup harus tetap dijalani.

Saya baca kalimat ini ketika macet panjang lampu merah menuju perjalanan rumah. Rasanya seperti disengat lebah dan tidak bisa menahan diri untuk tidak meneteskan air mata. Salah satu yang membuat buku ini istimewa adalah walau memang dalam beberapa titik jalan cerita tidak saya sukai, namun Tasaro GK berhasil menulis banyak kalimat-kalimat  sangat indah.

Berkisah tentang seorang Gadis bernama Kinanthi yang tinggal di sebuah desa di Gunung Kidul. Kinanthi adalah anak dari seorang wanita yang telah berkali-kali menikah namun suaminya selalu meninggal, karena itu warga desa menganggap Ibu Kinanthi membawa sial. Kinanthi juga memiliki beberapa orang kakak perempuan dan laki-laki yang telah merantau ke kota lain dan digosipkan menjadi berandalan. Bapak Kinanthi terkenal suka berjudi dan mempraktekan hal-hal yang berbau klenik. Plus keluarga mereka termasuk golongan sangat miskin di Desa tersebut. Atas semua hal diatas Kinanthi kecil yang berumur 10-11 tahun dijauhi oleh teman-temannya.

Satu-satunya orang yang menjaga Kinanthi adalah Ajuj, teman laki-lakinya yang berumur 12-13 tahun. Ajuj adalah anak seorang pemuka agama/rois di desa mereka. Orang tua Ajuj melarangnya untuk berteman dengan Kinanthi karena Kinanthi adalah anak dari keluarga yang berantakan dan tidak jelas. Namun Ajuj tidak memperdulikan perkataan orang tuanya karena Ajuj merasa nyaman berteman dengan Kinanthi.

Suatu saat Kinanthi mendapatkan kabar buruk bahwa dirinya akan dibawa oleh kerabat bapaknya yang bernama Pak Edi untuk disekolahkan di kota. Sebagai imbalannya orang tua Kinanthi diberikan 50 kg beras. Kinanthi sangat terkejut. Saat Pak Edi datang untuk menjemput Kinanthi berusaha berlari untuk meminta pertolongan pada Ajuj, namun bapaknya memaksa untuk masuk ke mobil Pak Edi. Ajuj berusaha mengejar, mereka saling meneriakkan nama sekerasnya, namun tetap terpisahkan.

Kinanthi lalu dibawa ke Bandung. Namun melalui serangkaian tragedi Kinanthi mengetahui bahwa dirinya dibawa ke Bandung hanya untuk dibesarkan sebentar sehingga cukup pantas untuk dipalsukan menjadi berusia 17 tahun dan dikirim ke arab untuk menjadi TKW.

Kinanthi menjadi bagian dari kisah klasik para TKW Indonesia, dipukuli, nyaris diperkosa. Kabur ke KBRI, mempunyai majikan baru, kabur lagi. Kinanthi harus melewati banyak penderitaan hingga dibawa kabur ke Mesir, lalu berhasil lagi melarikan diri ke KBRI. Ketika ia menyangka telah menemuka majikan yang baik Kinanthi merasa harapannya mulai tumbuh, ia dibawa oleh keluarga itu ke Amerika hanya untuk menemukan bahwa siklusnya berulang. Dipukuli dan dijadikan objek kreatifitas penyiksaan majikannya.

Ketika akhirnya berhasil melarikan diri ke sebuah masjid. Kinanthi menemukan malaikatnya, seorang wanita Indonesia bernama Miranda yang menampung Kinanthi dan membantunya menjalani proses peradilan. Kinanthi akhirnya dinyatakan secara hukum resmi menjadi warga Amerika.

Belasan tahun kemudian Kinanthi telah menjadi seorang penulis hebat, Kinanthi Hope sang Queen Of New York. Namun masih ada kegelisahan di hatinya. Ajuj. Sebuah nama yang pernah menunjukkan kepadanya dimana letak Galaksi Cinta. Ketika Kinanthi akhirnya memutuskan untuk menulis sebuah novel berdasarkan kisah pribadinya. Kinanthi merasa nama Ajuj makin menghantuinya dan apa yang terjadi diantara mereka perlu diselesaikan.

Human Trafficking memang adalah suatu kepahitan yang masih harus diselesaikan di Indonesia. Kisah anak-anak perempuan yang dijual oleh orang tuanya sendiri untuk harga yang tidak seberapa juga merupakan kisah nyata dari beribu perempuan di Indonesia. Cobalah googling mengenai isu ini dan anda akan menemukan kenyataan pahit itu tersebar dimana-mana. TKW yang menjadi korban penyiksaan majikannya di negara lain juga merupakan kenyataan yang harus segera dicari solusinya. Bahkan baru kemarin saya membaca berita bahwa seorang TKW asal Indonesia karena penyiksaan di negeri orang. PR besar untuk kita, untuk Indonesia. Saya pribadi sangat setuju Tasaro mengangkat isu ini.

Namun transformasi Kinanthi menjadi seorang Queen of New York mungkin agak berlebihan dan mengurangi nilai nyata dari keseluruhan cerita. Seandainya Kinanthi setelah menjadi warga Amerika menjadi average independen woman yang juga seorang pengarang mungkin akan mengurangi kadar “kesinetronan” yang sedikit mengganggu ini.

Namun secara keseluruhan buku ini adalah buku yang cukup bagus dengan taburan kalimat-kalimat menyentuh. Walau kesan terakhir yang saya dapat adalah sama dengan yang saya yakini, bahwa mencintai itu melelahkan. Untuk pembaca yang percaya cinta (i don’t) maka saya merekomendasikan buku ini untuk dibaca.

The Day Of The Jackal By Frederick Forsyth

Penerbit : Serambi

Tebal : 607 Halaman

Alih Bahasa : Ranina B. Kunto

Buku ini bener-bener mengandung movie material yang sangat kental. Setelah selesai baca bukunya jadi kepikiran kalo nonton filmnya pasti asik. Buku ini terbagi ke dalam tiga bagian yaitu Anatomi Sebuah Perencanaan, Anatomi Perburuan Manusia dan Anatomi Pembunuhan.

Bagian satu, anatomi sebuah perencanaan dibuka dengan upaya pembunuhan terhadap Presiden Perancis Charles de Gaulle yang dipimpin oleh Jean Marie Bastien Thirty. Upaya pembunuhan tersebut gagal karena Bastien Thirty melewatkan suatu detail penting dan akhirnya harus menghadapi hukuman mati. Bastien Thirty adalah anggota dari OAS (Organisation L’Armēe Secretē), sebuah organisasi rahasia di Perancis yang menentang kebijakan Presiden Charles de Gaulle.

Karena upaya yang gagal tersebut salah satu petinggi OAS, Marc Rodin  memutuskan untuk secara rahasia menyewa pembunuh bayaran profesional untuk sekali lagi melaksanakan upaya pembunuhan terhadap de Gaulle.

Marc Rodin dan kedua rekannya akhirnya bertemu sang pembunuh bayaran dan membuat kesepakatan untuk memanggil sang pembunuh bayaran dengan nama sandi The Jackal.  Lalu sisa bagian pertama menggambarkan dengan sangat detil perencanaan dan persiapan The Jackal dalam melaksanakan tugas tersebut. Terus terang saya terkagum-kagum dengan betapa detilnya Forsyth menggambarkan senjata dan metode yang akan digunakan dalam pembunuhan. Hampir seperti manual “How To Assassinate An Important Person”, hehe. Detil-detil tersebut tampaknya akan lebih asik jika divisualisasikan dalam film.

Cerita mulai menarik bagi saya ketika pengawal Marc Rodin, Victor Kowalski berhasil ditangkap dan diinterogasi secara kejam oleh organisasi intelegen Perancis. Akhirnya rencana Rodin dan kedua rekannya diketahui, namun yang mereka ketahui hanya sebatas Rodin Cs telah menyewa seorang pembunuh bayaran profesional dengan sandi The Jackal untuk membunuh de Gaulle. Mengenai siapa The Jackal dan bagaimana ia akan melaksanakan pembunuhan tersebut organisasi intelegen Perancis sama sekali tidak mengetahui apa-apa.

Presiden Charles de Gaulle, setelah diinformasikan mengenai rencana pembunuhan tersebut  menolak untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk pengamanannya sendiri. Perburuan terhadap The Jackal harus dilaksanakan secara rahasia.  Sang Presiden tidak mau terlihat sembunyi karena takut terhadap sang pembunuh bayaran.

Maka tugas perburuan rahasia yang sulit terhadap The Jackal ini dimulai. Untuk memimpin penyelidikan ditunjuk Wakil Komisaris Polisi Claude Lebel, detektif terbaik di Perancis.

Lalu buku bergerak ke bagian kedua, anatomi perburuan manusia. Dari bagian kedua sampai halaman terakhir buku ini sangat mengasyikan karena menceritakan Upaya Lebel untuk melaksanakan Mission Impossible mencari The Jackal. Di bagian lain juga diceritakan tentang upaya tangan dingin The Jackal dalam  menyelesaikan misinya.

Dengan bantuan polisi-polisi dari beberapa negara besar, Lebel akhirnya memperoleh gambaran tentang siapa yang ia cari. The Jackal melalui informannya juga mengetahui sampai dimana kemajuan Lebel, bahwa identitas dirinya telah bocor dan sedang dilaksanakan pengejaran. Namun sang Jackal ini tetap bisa melaksanakan misinya dengan kepala dingin dan siasat yang luar biasa.

Di awal buku Forysth sudah menginformasikan bahwa pada akhirnya Presiden Charles de Gaulle meninggal secara alami. Jadi pembaca juga dari awal sudah mengetahui pada upaya The Jackal pada akhirnya akan gagal. Namun informasi tersebut tidak mengurangi keasyikan kita untuk mengikuti adegan kejar-kejaran antara Lebel dan Jackal. Lebel, seorang detektif cerdas dan intuitif versus The Jackal, sang pembunuh misterius yang bertangan dingin. I like them both ;p

Ternyata organisasi OAS memang benar ada dan upaya pembunuhan Bastien Thirty terhadap Presiden Charles de Gaulle pun merupakan kisah nyata. Sisa ceritanya adalah rekaan sang pengarang. Konon, buku ini diisukan menginspirasi beberapa pembunuhan terhadap tokoh penting ;p

Membaca buku ini, adegan demi adegan tergambarkan bagai menonton action movie di dalam kepala sendiri. Hehe. Untuk para pembaca buku ini walaupun 100 atau 200 halaman pertama sulit untuk dilalui, teruslah berjuang karena setelah selesai membaca anda akan merasa seolah-olah mendapatkan dua pengalaman sekaligus. Membaca buku dan menonton film sekaligus. Oleh karena itu buku ini saya rekomendasikan untuk dibaca!! Action Thriller yang sangat seru.

The Great Gatsby By F. Scott Fitzgerarld

Penerbit : Penguin Books

Tebal : 188 Halaman

Sampai halaman 100 saya belum mengerti kenapa buku ini disebut-sebut sebagai salah satu novel klasik amerika terbaik kecuali karena sebuah quotation di halaman pertama :

’Where ever you feel like criticizing anyone.’ He told me. ‘Just remember that all the people in this world haven’t had the advantages that you’ve had.’

Selesai menutup buku di halaman 188 saya sempat tercenung selama beberapa menit memikirkan apa yang baru saja saya baca. Wow! Buku ini memang betul-betul karya yang keren!! Pikiran saya kembali ke quotation di atas. Seperti halnya Nick Carraway, sang narator dalam cerita ini. Saya pun tidak bisa menahan diri untuk mengkritik beberapa tokoh egois dalam buku ini.

Cerita ini dikisahkan dari sudut pandang seorang pengamat, narator kita, seorang pemuda bernama Nick Carraway yang telah menyelesaikan kuliahnya di Yale dan berpartisipasi dalam Perang Dunia I. Nick memutuskan untuk pindah ke New York, tepatnya Long Island di suatu wilayah bernama West Egg (daerah West Egg dan East Egg di Long Island saling berhadapan dengan hanya dipisahkan sebuah teluk). Di West Egg Nick menyewa sebuah rumah yang bertetangga dengan sebuah mansion mewah milik seorang pria bernama Gatsby.

Pada suatu hari Nick diundang makan oleh sepupunya Daisy Buchanan bersama suaminya Tom. Pasangan tersebut tinggal di wilayah East Egg. Tepat berseberangan (dibatasi teluk)  dengan mansion Gatsby di West Egg. Dalam acara makan tersebut Nick mendapat rumor dari seorang gadis (teman Daisy yang juga diundang) bahwa Tom memiliki seorang wanita simpanan.

Di lain kesempatan Tom dengan vulgarnya mengajak Nick untuk bertemu dengan wanita simpanannya yang bernama Myrtle Wilson (yang juga sudah menikah dengan seorang pria bernama George).

Suatu saat Nick mendapatkan undangan dari tetangganya Gatsby untuk menghadiri pesta di Mansionnya pada suatu malam minggu. Di kali pertama Nick hanya mendengar rumor dari para tamu bahwa Gatsby adalah seorang pria kaya yang misterius, ia tidak berkesempatan bertemu dengan sang tuan rumah karena begitu ramainya pesta. Di kali lain Nick bertemu dengan Gatsby dan mereka pun berteman.

Pada suatu hari Gatsby meminta Nick untuk mempertemukannya dengan sepupu Nick, Daisy. Ternyata Gatsby dan Daisy pernah saling mengenal dan di titik itulah drama dimulai. Drama yang berakhir dengan menyesakkan. Tepat sekali pendapat Nick bahwa orang-orang seperti Tom dan Daisy adalah orang-orang yang pada akhirnya hanya memikirkan diri sendiri.

They were careless people, Tom and Daisy, they smashed up things and creatures and then retreated back into their money or their vast carelessness, or whatever it was that kept them together, and let other people clean up the mess they had made.

Dan buku ini membuat saya tercenung tentang betapa supervisialnya pertemanan yang hanya didasarkan pada “happy happy bersama”. Betapa bisa begitu banyaknya orang di sekitar kita, yet mereka sama sekali tidak tahu (dan tidak berminat mengetahui) siapa kita sebenarnya. Dan bahwa jatuh cinta itu hanyalah ilusi hormon.

Setidaknya saya berharap bahwa perkataan Nick tentang Gatsby dan teorinya tentang kehidupan ini tidak benar.

Gatsby believed in the orgiastic future that year by year recedes before us. It elevated us then, but that’s no matter. Tomorrow we will run faster, stretch out our arms further.. And one fine morning – So we beat on, boats against the current, borne back ceaselessly into the past.

Satu lagi novel klasik keren yang saya rekomendasikan. Btw udah diterjemahin ke bahasa indo blm ya?

The Girl With The Dragon Tatoo By Stieg Larsson

Penerbit : Quercus

Tebal : 554 Halaman

Buku ini punya efek yang sama dengan ketika saya pertama kali baca The Da Vinci Code nya Dan Brown. Saya ngga nyangka kalo ternyata buku ini seru banget !! Ramuan antara crime, mystery, thriller yang bikin saya susah banget untuk berenti baca. Buku ini adalah buku pertama dari Millenium Trilogy yang diterbitkan setelah sang pengarang Stieg Larsson meninggal pada tahun 2004. By the way readers, jangan baca ulasan di wikipedia tentang buku ini ya! Total spoiler, untung saya baca sewaktu selesai baca bukunya or else it will ruin all the fun.

Berlatar belakang di swedia, setiap bagian dari buku ini ( empat bagian plus prolog dan epilog) dibuka dengan informasi-informasi seperti berikut :

18% of the women in Sweden have at one time been threatened by a man” atau

46% of the women in Sweden have been subjected to violence by a man”

Statistik tersebut sangat berhubungan dengan isi dari buku yang pada banyak bagian menggambarkan kekerasan atau kejahatan yang terjadi pada kaum perempuan di Swedia. Judul asli dari buku ini “Man who hate Woman” sebenarnya lebih menggambarkan isi buku daripada The Girl With The Dragon Tatoo” walau pastinya saya akan malas membeli buku yang judulnya “Man who hate Woman”

Buku ini bercerita tentang seorang pria tua bernama Henrik Vanger, seorang mantan CEO dari perusahaan keluarga Vanger Coorporation yang ingin melakukan upaya terakhir dalam memecahkan misteri hilangnya Harriet Vanger, keponakannya, 40 tahun yang lalu ketika Harriet masih berusia 16 tahun.  Ia lalu mempekerjakan seorang jurnalis yang juga pemilik dari majalah Millenium bernama Mikael Blomkvist untuk mengungkap misteri tersebut.

Mikael sendiri baru saja didakwa dan dijatuhi hukuman atas artikel terakhirnya yang menyerang sebuah perusahaan besar bernama Wennerström Coorporation. Henrik memberikan tawaran untuk bekerja padanya selama 1 tahun penuh dengan samaran membuat biografi dari keluarga Vanger dengan jumlah bayaran yang sangat menggoda, selain dari itu Henrik juga menawarkan bukti-bukti baru yang dapat menjatuhkan Wennerström Coorporation. Tawaran yang sulit ditolak untuk Mikael.

Mikael akhirnya mundur untuk sementara dari majalah Millenium untuk pindah ke salah satu villa di kediaman Hendrik Vanger dan keluarga di suatu pulau bernama Hedeby. Sewaktu Harriet masih hidup, setiap hari ulang tahun Hendrik pada tanggal 1 November Harriet selalu memberinya hadiah berupa bunga yang telah diawetkan dan diletakkan dalam sebuah figura. Setelah menghilangnya Harriet, setiap tanggal 1 November Hendrik menerima melalui pos hadiah yang sama. Hendrik menduga bahwa sang pembunuh sedang mengejeknya, berulang-ulang, selama 40 tahun. Hendrik sendiri mencurigai bahwa salah satu anggota keluarganyalah yang telah membunuh dan menyembunyikan mayat Harriet.

Mikael, you can ask questions later, but I want you to take my word when I say that I detest most of the members of my family. They are for the most part thieves, misers, bullies and incompetents.

Sebelum Hendrik mempekerjakan Mikael, ia telah memerintahkan terlebih dahulu kepada pengacara sekaligus sahabatnya Dirch Frode untuk menyelidiki latar belakang Mikael. Tugas jatuh kepada seorang wanita muda bernama Lisbeth Salander. Penyelidik profesional yang antisosial, memiliki photographic memori, cerdas dan tidak beremosi. Lisbeth lah The Girl With The Dragon Tatto yang dimaksud dalam judul buku.

Setelah berusaha untuk membuat biografi keluarga dan berusaha untuk menemukan fakta baru dalam setumpuk dokumen penyelidikan hilangnya Harriet, Mikael menemukan bahwa keluarga Vanger adalah keluarga unik dimana banyak sekali “kegilaan” di dalamnya. Mikael akhirnya memutuskan bahwa dirinya membutuhkan bantuan seorang penyelidik profesional. Dirch Frode secara tidak sengaja merekomendasikan Lisbeth Salander. Mikael dan Lisbeth akhirnya bekerja sama untuk mengungkap misteri 40 tahun yang lalu dan menemukan bahwa yang terjadi adalah jauh lebih besar dari yang mereka duga.

Saya sangat suka karakter Lisbeth Salander yang digambarkan sebagai perempuan yang memiliki temperamen nyaris nol. Lisbeth selalu menimbang konsekuensi dari setiap tindakannya dengan kepala dingin. Sama sekali tidak menye-menye atas kekerasan yang telah menderanya semenjak kecil. Saya ingin segera membaca buku ini karena penasaran dengan nasib Lisbeth Salander yang telah tertipu dengan ilusi bernama “Love” ;p

Untuk penggemar thriller maupun bukan, saya sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca !! You’ll never guess what will happen in the end of this book. Pengalaman yang seru ! I’ll definitely read the second sequel.

Madre By Dee

Penerbit : Bentang Pustaka

Tebal : 162 Halaman

Sudah cukup lama saya menunggu karya baru Dee. Senang rasanya buku barunya yang berjudul Madre ini sudah ditangan dan saya lalap habis kurang dari satu jam. Hehe. Buku ini ternyata adalah kumpulan 13 campuran cerpen dan puisinya Dee antara tahun 2006 – 2011.

Secara overall saya merasa jauh lebih dahsyat Rectoverso daripada Madre. Di Rectoverso hampir di setiap kisah saya merasa terseret masuk ke dalam dunia ciptaan Dee. Namun Madre ini cukup mengobati rasa kangen saya terhadap karya-karyanya.

Diantara puisi-puisi yang ada dalam buku ini, saya paling terkesan dengan Percakapan di Sebuah Jembatan :

Berdua kami melintasi jembatan sejarah

Tahun-tahun yang berhiaskan putih harapan dan merah darah

Dan aku bertanya : apakah yang sanggup mengubah gumpal luka menjadi intan

Yang membekukan air mata menjadi kristal garam?

Sahabatku menjawab : Waktu

Hanya waktu yang mampu”

Sedangkan untuk Cerpennya saya sangat kesengsem (bahasa apa pula ini) sama Madre. Kisah singkat ini kocak sekaligus menyentuh. Alkisah seorang pria keturunan India bernama Tansen yang hidup bebas di Bali sebagai freelancer tiba-tiba mendapat warisan dari seseorang pria tua beretnis Cina yang bernama  Tan Sin Gie.

Tansen pun berangkat ke Jakarta untuk mengobati penasarannya. “Siapa dia?, Kenapa Aku?” Pikir Tansen. Di pemakaman orang tua tersebut Tansen bertemu dengan seorang pengacara keluarga. Warisan Tansen adalah sebuah amplop yang berisi sebuah alamat. Tansen pun diantar oleh pengacara tersebut ke alamat yang dimaksud.

Ternyata alamat tersebut adalah alamat sebuah gedung tua yang kondisi luarnya sudah memprihatinkan. Disana ia bertemu dengan orang tua bernama Pak Hadi yang menjaga gedung tersebut. Dari Pak Hadi ia mengetahui asal muasal keluarganya yang sebenarnya dan bahwa ternyata warisannya adalah setoples adonan biang roti berumur 70 tahun yang diperlakukan sebagai manusia dan diberi nama Madre. Mau tidak mau saya dibuat tertawa terkekeh-kekeh membaca cerita ini.

Tawaku menyembur. Akhirnya kutemukan kelucuan dari semua ini. Telah kusebrangi lautan, menemui orang-orang asing yang tiba-tiba mengobrak-abrik garis hidupku, menguak sejarah orang-orang mati yang tak mungkin bangkit lagi, dan satu-satunya yang tersisa dari rangkaian drama itu adalah satu toples adonan roti?

Banyak dialog-dialog lucu antara Tansen dan Pak Hadi. Dee menggambarkan perbedaan generasi dan kebudayaan dengan menghibur. Pak Hadi yang tidak bisa membedakan antara Warnet dengan Wartel ataupun Pak  Hadi yang tidak bisa mengerti bagaimana caranya internet bisa menghubungkan orang-orang versus Tansen yang rutin menulis di sebuah blog. Sungguh membuat senyum-senyum sendiri. Di tangan Dee perbedaan generasi dan budaya menjadi potensi untuk saling melengkapi. Apa yang akan Tansen lakukan dengan si Madre? Baca aja sendiri yaaaa.. Dijamin seru deh, hehe.. Cerpen lain yang cukup berkesan untuk saya mungkin yang berjudul Semangkok Acar Untuk Cinta dan Tuhan. Walaupun cuman empat halaman, cerpen yang ini mungkin yang paling “menggigit” diantara yang lainnya.

Oiya, satu lagi self dialogue menarik Tansen ketika bertemu dengan seorang perempuan bernama Mei yang ia kenal lewat blog :

Sejauh ini Mei sesuai dengan gambaran yang kusimpulkan saat membaca pesannya di blog dan berbicara dengannya di telpon. Seperti banyak orang Jakarta yang kutemui, ia pun dijangkiti semacam keresahan yang khas, yang membuatnya berbicara cepat, bergerak cepat, dan saat duduk pun kakinya bergoyang-goyang seperti diatas pedal mesin jahit. Orang-orang Jakarta ini, mereka seperti selalu overdosis kafein.

Hehehe.

Guardian Of The Gate By Michelle Zink

Penerbit : Little Brown Books

Tebal : 352 Halaman

Dibanding buku kedua ini, Prophecy Of The Sisters tampak seperti prolog yang terlalu panjang. Yes, I like the second sequel better. Di buku ini setidaknya beberapa hal mulai menjadi jelas dan konflik dan suspense nya lebih greget. Walau sepertinya cerita akan memuncak di buku ketiga.

Kilas balik sedikit, Lia dan Alice Milthrope adalah kedua saudara kembar yang diramalkan akan berperan dalam kembalinya atau musnahnya sang iblis Samael. Satu berperan sebagai Gate satu berperan sebagai Guardian. Gate adalah pintu masuk dari para Lost Soul dan Samael sedangkan Guardian adalah penjaga kedamaian yang sebisa mungkin harus menjaga saudari kembarnya sang Gate.

Jika proses kelahiran Lia dan Alice alami maka Alice lah yang akan menjadi Gate dan Lia menjadi Guardian. Namun karena proses kelahiran Lia dan Alice yang tidak normal (caesar dimana Lia dikeluarkan duluan), maka Alice lah yang menjadi Guardian dan Lia menjadi Gate. Alice tidak menerima perannya dan memilih memihak sang iblis. Ternyata Lia bukan hanya sekedar Gate, melainkan The Angel, the chosen one yang bisa menjadi gerbang untuk kebangkitan Samael. Konon kelahiran The Angel ini telah ditunggu selama berabad-abad oleh Samael dan para pengikutnya.

Terakhir kali di Prophecy Of The Sisters kita meninggalkan Lia Milthrope yang sedang menuju ke London bersama Sonia Sorensen, salah satu kunci dari empat yang diramalkan. Setelah tiba di London Lia melatih kekuatannya dengan bimbingan Sonia. Di sisi lain Lia pun merasa kekuatan Alice semakin kuat dan menjadi gentar karenanya. Lia tau dia harus segera pergi ke Altus, negeri para Sisters yang ada di dunia lain untuk dibimbing bibi Abigail dalam mencari halaman-halaman yang hilang dari Book Of Chaos. Dengan halaman yang hilang itu, Lia berharap dapat mengetahui cara mengakhiri ramalan tersebut.

Suatu waktu tanpa diduga-duga Edmund (pelayan setia keluarga Milthrope), Luisa (teman Lia sekaligus salah satu kunci) dan Bibi Virginia tiba di London. Lia sangat senang dengan kedatangan mereka bertiga. Bibi Virginia membawa berita bahwa dirinya tidak bisa lagi menjaga Alice karena Alice telah menolak perannya sebagai Guardian dan menjadi semakin kuat dan menakutkan. Alice bahkan mengabaikan aturan-aturan dunia lain yang dibuat oleh kaum Grigori (semacam aparat hukum di dunia lain).

Bibi Virginia juga memberitau bahwa Lia harus segera berangkat menuju Altus dengan dikawal oleh Edmund. Lia seharusnya melaksanakan perjalanan ini sendiri namun Sonia dan Luisa berkeras untuk ikut, akhirnya perjalanan menuju Altus dilaksanakan berempat Lia, Edmund Sonia dan Luisa.

Dalam perjalanan menuju Altus Lia mengetahui dari Edmund bahwa ternyata Ayahnya adalah seorang Grigori dan James, kekasih yang ia tinggalkan sekarang dekat dengan Alice. Semakin dekat dengan Altus yang berlokasi di dunia lain, perjalanan mereka pun menjadi semakin berbahaya. Suatu saat mereka harus melarikan diri karena dikejar oleh anjing neraka / hell hounds. Saat dalam keadaan terpojok mereka diselamatkan oleh seorang Pria bernama Dimitri. Lia pernah bertemu dengannya di suatu acara makan malam dan sangat heran mengapa bisa bertemu dengan Dimitri di tengah hutan menuju Altus. Ternyata Dimitri dan Edmund sudah saling mengenal, Dimitri adalah anggota Grigori yang bertugas untuk mengawasi perjalanan Lia.

Lia dan Dimitri merasa saling tertarik dan selanjutnya menjadi bumbu romance dalam isi cerita yang malas saya ceritakan ^_^ karena mengingatkan saya pada romance yang terbentuk pada serial twilight. Di perjalanan menuju Altus pula Lia mengetahui bahwa salah satu dari temannya telah dirasuki oleh para Jiwa Tersesat dan berhianat.

Setelah petualangan selesai, pada akhirnya Lia menyadari bahwa perkataan Alice benar. Pada akhirnya salah satu dari mereka akan mati dalam mengakhiri ramalan yang membuat dua saudara tersebut menjadi musuh. Dan untuk mengakhiri ramalan tersebut Lia membutuhkan Alice.

Begitulah. Menurut saya buku kedua ini jauh lebih seru daripada buku pertamanya. Petualangannya lebih menegangkan dan sepertinya akan semakin seru di buku ketiga. Di buku kedua ini Lia menjadi sosok yang terlalu naif menurut saya. Cerita ini berkembang menjadi ramuan fantasi antara Lord of the Ring, Harry Potter dan Twilight Series. Fine with me!

Buku kedua ini juga belum menceritakan banyak tentang Alice. Alice tetap menjadi saudari jahat yang semakin menakutkan. Ntah kenapa saya ingin lebih memahami Alice. Mudah-mudahan di buku ketiga, Circle of Fire diceritakan lebih banyak. Tapi ternyata buku ketiganya baru terbit Agustus 2011 jadi harus bersabar ^_^

Sebelas Patriot By Andrea Hirata

Penerbit : Bentang Pustaka

Tebal : 101 Halaman

Cinta sepak bola adalah cinta buta yang paling menyenangkan” (Hal 88)

Ungkapan ini sungguh membawa saya ke masa-masa dimana saya menjadi penggila bola, saat kelas 1 SMA, setelah piala dunia 1998. Saya dan temen-temen satu geng bahkan masuk ke ekskul bola di sebagai manager recok. Kami mati-matian menjadi suporter tim kelas, walaupun kalah, tapi rasanya tim kelas kami tetap yang terhebat. Cinta sepakbola memang cinta buta.

Back to the book, membaca novel terbaru Andrea Hirata ini membuat saya pada beberapa bagian tertawa geli dan pada beberapa bagian lain sangat terharu. Masih bercerita tentang salah satu chapter dalam kehidupan ikal, kali ini Andrea bercerita tentang bagaimana asal muasalnya ikal pada suatu waktu bercita-cita menjadi seorang pemain sepak bola.

Berawal dari selembar foto kuno yang ditemukan ikal di salah satu album di rumahnya. Ikal kemudian mengetahui bahwa pada suatu masa Ayahnya pernah menjadi penjuang sepak bola yang melegenda di kampungnya. Ketika berumur 13 tahun Ayah ikal dan kedua kakaknya dipaksa untuk bekerja rodi menjadi penambang timah oleh penjajah Belanda.

Para penjajah tersebut selalu mengadakan turnamen olah raga dalam rangka memperingati hari kelahiran Ratu Belanda. Namun dalam setiap cabang olah raga, tim Belanda selalu harus menang. Kecuali pada suatu kesempatan ketika Ayah ikal dan kedua kakaknya melakukan perlawanan lewat sepak bola, walaupun sebagai ganjarannya tempurung lutut kiri Ayah ikal hancur.

Kisah itu menginspirasi ikal untuk menjadi pemain PSSI. Ikal pun bergabung dengan tim sepak bola kampung yang dipimpin oleh Pelatih Toharun. Pelatih legendaris kampung yang hanya menganut dua filosofi sederhana, yaitu filosofi buah-buahan dan kedua, dia percaya bahwa kualitas seorang pemain sepak bola dapat dilihat dari bentuk pantatnya ^_^

Dari novel-novel Andre Hirata sebelum ini, bagian favorit yang selalu membuat saya terharu adalah hubungan Ayah – anak antara ikal dan ayahnya. Masih terbayang-bayang di ingatan saya ketika ikal menceritakan bahwa mereka harus berkeliling kampung memakai baju safari di Sang Pemimpi, atau ketika ayahnya menyetrika baju baik-baik dalam rangka menyambut hari pembagian rapot. Sungguh kisah-kisah yang meninggalkan kesan mendalam.

Ikal selalu menggambarkan Ayahnya sebagai sosok pendiam yang bersahaja. Saya sangat senang di buku ini saya bisa mengetahui lebih banyak tentang Ayah ikal, sosok misterius itu. Novel Andrea Hirata berikutnya konon berjudul “Ayah”, mudah-mudahan bercerita lebih banyak tentang sosok Ayah ikal.

Setelah bercerita tentang mengapa ikal pada suatu masa ingin menjadi seorang pemain PSSI (sebelum berlanjut ke bulutangkis), Andrea juga bercerita tentang hipotesisnya mengapa pada saat ini banyak wanita penggila bola di dunia, termasuk salah satunya Adriana yang ia temui dalam perjalanan backpacking ke eropa.

Kurenungkan sebentar, bahwa cinta bagi perempuan adalah dedikasi dalam waktu yang lama, tuntutan yang tak ada habis-habisnya sepanjang hayat, dan semua pengorbanan itu tak jarang berakhir dengan suatu kekecewaan yang besar. Demikian kesimpulanku atas jawaban Adriana. Bagi perempuan ini, mencintai sepakbola adalah seluruh antitesis dari mencintai manusia. Sungguh mengesankan.”

Hanya satu kekurangan dalam buku ini, ceritanya kurang banyak, hehe. Saat menutup buku membuat saya berfikir, c’mon tell me more!! ^_^

Walaupun memang sebagian besar membicarakan tentang sepak bola, isi buku ini bukan semata-mata tentang sepak bola. Kesan yang saya tangkap dari buku ini adalah cinta dan hubungan ayah dan anak yang indah, membuat terenyuh sekaligus iri. Hehe.

Prestasi tertinggi seseorang, medali emasnya, adalah jiwa besarnya.

Nasihat Ayah ikal kepada ikal saat kalah dalam pertandingan sepak bola.

Invisible Man By Ralph Ellison

Penerbit : Signet Books

Tebal : 503 Halaman

Buku ini kayaknya udah saya “timbun” lebih dari 3 tahun ;p . Beli di sebuah pameran buku seharga 25 ribu saja. Zaman-zaman saya masih terobsesi dengan Times 100 Best Novel. Buku ini masuk ke dalam list itu. Setelah ditelisik ternyata buku yang saya punya ini terbitan tahun 1960. Bahkan belum ada kode ISBN nya J J.

Berlatar di Amerika pada tahun 1930 an, tokoh utama dari buku ini adalah seorang pria afro amerika anonimus. Buku dibuka dengan prolog dari sang tokoh utama yang menamakan dirinya sebagai invisible man. Terus terang paragraf pertama dari buku ini langsung terasa menyengat dan menarik perhatian.

I am an invisible man. No, I am not a spook like those who haunted Edgar Allan Poe; nor am I one of your Hollywood – Movie Ectoplasms. I am man of substance, of flesh and bone, fiber and liquids, and I might even be said to posses a mind. I am invisible, understand simply because people refuse to see me. When they approach me they see only my surrounding, themselves, or figments of their imagination, indeed, everything and anything except me.”

Sang tokoh utama tinggal di sebuah kota kecil di selatan Amerika, saat itu rasisme masih terjadi. Tokoh utama kita adalah seorang pelajar teladan di sekolah tingginya. Suatu saat ia membuat suatu karya tulis tentang perjuangan orang kulit hitam. Karena karya tulisnya tersebut ia mendapatkan kesempatan untuk berpidato di depan para pemuka kulit putih.

Dia sama sekali tidak menyangka bahwa dalam acara tersebut, sebelum diberi kesempatan untuk berpidato, ia dan beberapa anak muda kulit hitam lainnya dijadikan objek practical jokes yang kejam dan menjijikan sebagai hiburan bagi para pemuka kulit putih tersebut. Mereka dikumpulkan di suatu ring, ditutup matanya dan diperintahkan untuk bertarung satu sama lain dengan mata tertutup, setelah itu yang masih bertahan dipertintahkan memunguti koin-koin emas yang ternyata sudah dialiri listrik sementara para pemuka kulit putih tertawa-tawa melihat adegan tersebut. Menjijikan.

Pada akhir acara, setelah babak belur dan dipermalukan, sang tokoh utama akhirnya mendapatkan kesempatan untuk berpidato. Sebagai reward, ia diberikan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke universitas khusus untuk orang kulit hitam. Tokoh utama kita yang naif mengira keterlibatannya dalam practical jokes tersebut adalah sebuah “kesalahan informasi” dan merasa sangat berterimakasih atas beasiswa yang diberikan.

Di tahun pertamanya ia diberi tugas untuk menjadi tour guide bagi seorang penyandang dana universitas, Mr. Norton. Tetapi ia membawa Mr.Norton ke tempat yang menurut pemimpin universitas (Mr.Bledsoe) memalukan dan merendahkan ras kulit hitam sehingga ia dikeluarkan dan diperintahkan untuk pergi ke New York.

Ia pun tiba di Harleem dan secara tidak sengaja terseret kedalam putaran peristiwa. Tokoh utama kita pada awalnya adalah orang yang percaya kepada kebaikan orang kulit putih dan bahwa equality atau persamaan kesempatan antara ras kulit putih dan ras kulit hitam adalah suatu keniscayaan.

Peristiwa demi peristiwa yang terjadi di Harleem membawa ia ke suatu titik kesadaran bahwa selama hidupnya ia selalu melaksanakan apa yang orang lain inginkan dan kerap dimanfaatkan oleh orang-orang yang memiliki motivasi ganda tersebut. Dia menyadari betapa naif dirinya dan bahwa selama ini ia hanya dipergunakan sebagai alat. Ia hanyalah salah satu dari banyak invisible man di dunia ini. Common people. Just another face in the crowd.

Here I had thought they accepted me because they felt that color made no difference, when in reality it made no difference because they didn’t see either color or men. For all they concerned, we were so many names scribble on fake ballots. It was a joke, an absurd joke.”

Saya bisa merasakan pain dan agony dari sang tokoh utama. Perubahannya dari pemuda naif menjadi orang yang cynical pun tergambarkan dengan sangat baik dan beralasan. Namun saya merasa pesan yang disampaikan seharusnya bisa digali lebih dalam. Pada beberapa titik penggambaran situasi begitu berapi-api sehingga dapat memancing emosi pembaca, namun di sisi lain mengaburkan makna.

Bagaimanapun Ralph Ellison menceritakan kisahnya dengan sangat nyata sehingga kebingungan sang tokoh utama dalam mencari “tempatnya” di masyarakat tersampaikan dan membuat saya penasaran dari halaman pertama hingga halaman terakhir.

Neverwhere By Neil Gaiman

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 440 Halaman

Alih Bahasa : Dona Widjajanto

Neverwhere cukup mengobati kekangenan saya pada karya-karya Neil Gaiman walaupun tidak semantap Good Omens dan The Graveyard Book.  Satu lagi pembuktian bahwa Neil Gaiman piawai sekali membuat aneka jenis alternate world. Hehe.

Buku dibuka dengan peta stasiun bawah tanah yang ada di London. Cukup membuat penasaran. Lalu kita diperkenalkan pada tokoh utama dari cerita ini yaitu Richard Mayhew. Richard Mayhew adalah seorang average bachelor. Kerja di perusahaan yang cukup baik, punya kehidupan normal, punya tunangan bersama Jessica.

Suatu hari saat Richard dan Jessica sedang menuju restoran untuk makan malam mereka menemukan seorang gadis berpakaian mirip gelandangan berbaring karena terluka di trotoar jalan. Richard segera menolong gadis tersebut, dia sendiri tidak mengerti apa yang membuatnya melakukannya (itu namanya nurani Mas Richard) walaupun Jessica mengancam akan memutuskan pertunangan mereka jika Richard tetap menolong gadis gelandangan tersebut.

Richard bermaksud untuk membawa gadis tersebut, yang kemudian diketahuinya bernama Door (kependekan dari Dooren) ke rumah sakit. Namun Door menolak dan meminta dibawa ke tempat yang aman. Akhirnya Richard membawa Door ke apartemennya dan mengobatinya disana.

Ketika pagi hari Door terbangun dirinya menemukan bahwa dia berada di London Atas. London atas??. Ternyata selain kehidupan hiruk-pikuk di permukaan kota London, ada sebentuk peradaban lain yang berkembang di gorong-gorong kota London. London Bawah, mereka menyebutnya. Dan ternyata memang banyak gorong-gorong di bahwa kota London. Baik untuk gorong-gorong saluran air maupun stasiun bawah tanah.

Orang-orang yang tinggal di London Bawah tidak eksis dan tidak relevan bagi orang-orang London Atas. Jika orang London Bawah berkeliaran di London Atas maka orang-orang London atas tidak akan memperhatikan keberadaan mereka dan tidak sadar bahwa mereka ada disana. Dan sesorang tidak bisa eksis di kedua dunia sekaligus, jika orang London Atas berinteraksi dan pergi ke dunia orang London Bawah maka eksistensi mereka akan hilang dari London Atas.

Itulah yang terjadi pada Richard, setelah sadar Door meminta pertolongan kepada Richard untuk mencari seseorang bernama Marquis de Carabas untuk melindunginya. Untuk mencari Marquis, Richard secara tidak sadar masuk dan bersinggungan dengan dunia London Bawah. Setelah berhasil mempertemukan Door dan Marquis mereka berdua hilang begitu saja dari pandangan Richard.

Alangkah terkejutnya ketika keesokan harinya Richard mendapati bahwa keberadaan dirinya “hilang” dari dunia. Orang-orang tidak ada yang sadar bahwa dirinya ada, taksi-taksi tidak menanggapi panggilannya, meja kerjanya kosong, Jessica melupakannya dan apartemennya sudah disewakan ke orang lain. Richard tidak lagi eksis di London Atas.

Richard segera teringat pada ekspresi bersalah Door ketika mereka berpisah dan memutuskan untuk mencarinya untuk meminta pertanggungjawaban. Di sebuah stasiun bawah tanah Richard menemukan seseorang yang menyadari keberadaannya, ternyata orang tersebut adalah penduduk London Bawah. Richard lalu diantar ke komunitas Rat Speaker dan disitulah petualangannya di dunia London Bawah dimulai karena ternyata setelah bertemu Door, Richard menemukan bahwa dirinya berada di situasi dimana ia harus menolong Door memecahkan misteri pembunuhan keluarganya dengan dibayangi oleh dua pembunuh bayaran, Mr.Croup dan Mr.Vandemar.

Saya membayangkan bagaimana Neil Gaiman memandangi nama-nama stasiun kereta bahwa tanah London yang memang unik dan mendapatkan ide untuk membuat cerita dari nama-nama tersebut. Simsalabim maka dia pun membuat seorang Earl eksis di stasiun Earl’s Court, begitu pula dengan Angel Islington dan Hammersmith. Imajinasi dan kreatifitas yang luar biasa.

Tokoh favorit saya adalah Mr.Croup dan Mr. Vandemar, pembunuh bayaran yang amat sangat menikmati proses menyakiti mahluk hidup. Karakternya mantap menakutkannya but yet funny. Berikut adalah potongan pembicaraan Mr.Croup & Mr.Vandermar dengan pihak yang menyewa mereka:

Sir. Bolehkan saya dengan segala hormat mengingatkan Anda bahwa Mr.Vandemar dan saya sendiri yang membakar kota Troya. Kami membawa wabah hitam ke Flanders. Kami sudah membunuh lusinan raja, lima paus, lima puluh pahlawan dan dua dewa terakreditasi. Tugas kami sebelum ini adalah menyiksa sampai mati seluruh isi biara di Tuscany abad enam belas. Kami sangat profesional.

Menggelitik kan? Hehe. And i’m happy with the ending. So, another book that i recomend of, if you like alternate world fantasy then you should read Neverwhere.

Pangeran Bahagia By Oscar Wilde

Penerbit : Serambi

Tebal : 104 Halaman

Alih Bahasa : Risyiana Muthia

Saya kesengsem sama karyanya Oscar Wilde semenjak baca The Picture Of Dorian Gray. Dalam karya-karyanya Oscar Wilde selalu menyampaikan kesan/kritiknya tentang tatanan dan kondisi masyarakat di masanya yang anehnya masih relevan dengan kondisi saat ini.

Buku Pangeran Bahagia ini adalah kumpulan cerpen fabel yang terdiri dari lima cerita. Melalui cerita pendek ini Oscar Wilde menyampaikan pesannya tentang kemanusiaan dan sindiran-sindiran atas nilai-nilai artifisial yang dijadikan acuan oleh masyarakat. Di masa itu dan di masa sekarang.

Buku ini diterbitkan pertama kali pada tahun 1888. Walaupun sekilas seperti dongeng untuk anak-anak, namun hampir semuanya berakhir ironis. Yang paling saya suka dari kelima cerpen ini adalah Pangeran Bahagia dan Bunga Mawar&Burung Bulbul. Berikut resume dari masing-masing cerita pendek yang ada di buku ini :

1. Pangeran Bahagia

Dalam cerita ini dikisahkan tentang sebuah patung emas yang menghiasi sebuah kota. Patung Emas tersebut diberi nama Pangeran Bahagia. Pangeran Bahagia adalah patung yang disayangi oleh seluruh warga. Suatu waktu seekor burung walet hinggap di pundak Pangeran Bahagia. Burung walet tersebut terkejut karena melihat pangeran bahagia sedang menangis. Ternyata Pangeran Bahagia sebenarnya sama sekali tidak bahagia. Dia bisa melihat penderitaan warga kotanya dimana-mana. Pangeran Bahagia dan Burung Walet kemudian bekerja sama untuk meringankan penderitaan rakyat miskin yang ada di kota tersebut.

2. Bunga Mawar Dan Burung Bulbul

Seekor Burung Bulbul bersedia untuk membantu seorang pelajar yang cintanya bertepuk sebelah tangan. Kekasih hati sang pelajar tidak mau berdansa dengannya jika ia tidak membawakan sekuntum mawar merah untuknya. Sang Burung Bulbul merasa tersentuh dengan besarnya cinta sang pelajar dan memutuskan untuk membantunya mendapatkan cinta, meskipun dirinya harus berkorban untuk membantu pelajar tersebut.

3. Raksasa Yang Egois

Sang raksasa telah meninggalkan kastilnya selama 7 tahun. Selama itu halaman kastilnya telah menjadi taman bermain bagi anak-anak. Ketika pulang dan mendapati halaman kastilnya dipenuhi anak-anak, raksasa pun marah. Raksasa mengusir anak-anak dan membangun pagar tinggi mengelilingi kastilnya. Keegoisan raksasa membuat musim semi tidak mau datang ke halaman raksasa tersebut. Yang senang dengan kondisi itu hanyalah salju dan es.

4. Teman Yang Setia

Hans bersahabat dengan seorang tukang giling. Tukang giling tersebut memiliki konsep yang egois tentang persahabatan sehingga selalu memanfaatkan dan mengambil keuntungan dari kebaikan Hans. Ketika Hans meninggal si tukang giling masih merasa sebagai sahabat terbaiknya.

5. Roket Yang Luar Biasa

Cerita kelima mengisahkan tentang sebuah roket yang congkak dan egosentris sampai akhir hayatnya. Sang roket selalu memandang rendah benda lain dan hanya senang mendengarkan dirinya sendiri.