The Count Of Monte Cristo By Alexadre Dumas

Penerbit : Bentang Pustaka

Alih Bahasa : Nin Bakdi Soemanto

Tebal : 563 Halaman

Membaca buku ini membuat saya bertanya-tanya pada diri sendiri. Jika saya berada di posisi yang sama dengan Edmond Dantes akankah saya melakukan apa yang ia lakukan? Pembalasan dendam memang manis rasanya, but is it worth it? Sungguh buku yang meninggalkan kesan di hati saya.

Edmond Dantes muda adalah seorang awak kapal di perusahaan kapal milik Monsieur Morrel. Saat kapten kapalnya meninggal Monsieur Morrel ingin mengangkat Dantes sebagai kapten kapal. Edmond Dantes, saat itu berumur 19 tahun menyambut tawaran tersebut dengan suka hati karena ia ingin segera membangun masa depan bersama kekasihnya Mercedes. Pada saat itu Edmond Dantes adalah pemuda penuh energi positif yang punya masa depan dan kehidupan yang baik.

Sayang sekali dunia ini penuh dengan hati picik yang tidak bisa melihat kebahagiaan orang lain. Adalah Danglars, bendahara di kapal yang sama dengan Dantes dan Fernand, pria yang juga tertarik untuk menikahi Mercedes, kedua pria tersebut merasa iri hati dan tidak suka dengan kebahagiaan Edmond Dantes dan menyusun rencana untuk mensabotase masa depannya. Danglars karena perasaan iri atas kemungkinan Dantes menjadi kapten kapal dan Fernand karena dia menginginkan Mercedes untuk dirinya sendiri.

Mereka menyebarkan fitnah atas diri Edmond Dantes yang menyebabkan dirinya ditahan di hari pertunangannya. Kasus Dantes diatasi oleh seorang penuntut umum yang bernama Villefort. Karena konflik kepentingan yang menyangkut ayahnya, fitnah atas diri Dantes mengancam reputasi Villefort sendiri. Untuk menyingkirkan barang bukti dan saksi, maka Villefort mengirimkan Dantes ke sebuah penjara terpencil di suatu pulau.

Di penjara tersebut Dantes merasa amat putus asa, karena tidak kuat menerima kenyataan. Dantes hampir membunuh dirinya sendiri. Lalu Dantes bertemu dengan seorang narapidana tua bernama Faria. Dantes menjadi anak dan murid bagi Faria, Faria adalah seorang Pastor berpendidikan dan ia mengajarkan semuanya kepada Dantes. Mereka menyusun rencana untuk melarikan diri bersama, namun karena kesehatan Faria memburuk, Faria akhirnya memerintahkan  Dantes untuk menyelamatkan dirinya sendiri dan memberitahukan kepada Dantes rahasia terbesar yang ia miliki. Rahasia tentang harta karun di sebuah pulau bernama Monte Cristo. Dantes tidak sampai hati meninggalkan Faria dan bersumpah selama Faria masih hidup ia tidak akan pernah meninggalkannya. Ketika Faria akhirnya meninggal barulah Dantes melarikan diri dengan menggantikan tempat di dalam karung sebagai mayat Faria.

Dantes akhirnya berhasil bebas. Selama 14 tahun dirinya telah dihukum atas kejahatan yang tidak ia lakukan dan kehidupan telah direnggut dari dirinya secara tidak adil. Dan nama-nama itu selalu ada dalam pikirannya, Danglars, Fernand dan Villefort. Dantes lalu mencoba untuk mencari harta karun yang diceritakan Faria di pulau Monte Cristo dan menemukan bahwa segala sesuatunya sesuai dengan petunjuk Faria. Edmond Dantes menemukan harta karun yang tidak ternilai harganya.

Sementara itu setelah 14 tahun berlalu, ketiga musuh Edmond Dantes telah menjadi orang terkemuka di kalangan masyarakat Paris dan kaya raya. Bahkan Mercedes pun telah menikahi Fernand dan menjadi seorang nyonya terhormat di kalangan masyarakat Paris. Tidak ada seorang pun yang curiga dengan seorang Count of Monte Cristo tiba-tiba memperkenalkan dirinya di kalangan masyarakat Paris dengan hartanya yang tidak terbatas. Dan perjalanan Edmond Dantes untuk membalaskan dendamnya pun dimulai.

Buat saya so far ini adalah buku tentang pembalasan dendam yang terbaik. Such a sweet revenge. Walaupun sebenarnya tindakan Edmond Dantes itu salah, tapi saya tidak bisa menahan diri untuk tidak mendukungnya. There it goes the dark side of me ;p. Buku ini juga dibagi dalam bab-bab yang pendek-pendek sehingga ngga cape bacanya dan bikin ngga kerasa kalo udah 563 halaman dibaca!

Ada satu adegan dimana pada suatu titik Edmond Dantes bertanya pada nuraninya akan apa yang ia lakukan. Lagi-lagi pertanyaan itu, is revenge worth it? Begini dialognya :

Aku tidak mempertimbangkan masa lalu dengan betul, pikirnya. Aku tidak mungkin membuat kesalahan seperti itu. Mungkinkah tujuan akhirku selama ini tidak berarti? Mungkinkah selama sepuluh tahun ini aku telah mengikuti suatu jalan yang salah? Aku menolak untuk menerima ide semacam itu-itu akan membuatku kehilangan akal sehatku. Bahwasanya sekarang ini aku merasa ragu adalah karena aku tidak bisa melihat masa lalu dengan jelas. Masa lalu mengabur bersama waktu seperti benda-benda mengabur bersama jarak. Hal yang sama tengah terjadi kepadaku seperti terjadi kepada orang-orang dalam mimpi ketika mereka melihat dan merasakan suatu luka, tetapi tidak bisa mengingat kapan mendapatkan luka itu.”

So, is revenge really worth it people? And what you get when you’re done doing the revenge? Satisfaction? Happiness? No, you’ll end up asking whether you’re doing the right thing or not, and the answer in NO.

A Death In The Family By James Agee

Tebal : 246 pages on ebook

Sama sekali tidak mengherankan kalo buku ini memenangi Pulitzer Prize pada tahun 1958 dan masuk ke dalam Times 100 best novel of all times. Menurut saya, buku ini adalah salah satu buku terbaik dalam menggambarkan emosi dari karakter-karakter yang ada di dalamnya. Jika dibuat filmnya, mungkin akan dibutuhkan aktor/aktris yang sangat jagoan untuk bisa menggambarkan emosi yang ada dalam keheningan. Tapi itulah juaranya written stories, dengan alfabet a sampai z adegan yang mungkin jika digambarkan adalah hanya adegan keheningan bisa dideskripsikan kedalam ratusan halaman.

Dan kenapa pula belum ada yang menterjemahkan ke dalam bahasa indonesia ya? Really somebody should translate this novel.

Cerita dalam novel ini sebenarnya sederhana. Yaitu tentang sebuah keluarga yang kehilangan kepala keluarganya dalam sebuah kecelakaan mobil. Namun dalamnya James Agee menggali dan menggambarkan perasaan dari karakter-karakternya yang membuat buku ini istimewa. Bahkan dalam beberapa bagian perasaan saya ikut sesak dan sedih, larut kedalam perasaan si karakter karena penggambarannya yang indah dan nyaris puitis.

Rufus Follet, seorang bocah berumur enam tahun tinggal di Knoxville, Tennese bersama ayah&ibunya beserta seorang adik perempuan. Pada suatu hari ayahnya (Jay Follet) mendapat telepon dari pamannya yang tinggal di kota lain bahwa kakeknya mengalami serangan jantung. Ayahnya bergegas pergi ke tempat kakeknya dan menemukan bahwa keadaan tidak separah yang ia kira dan sang paman (yang juga seorang pemabuk) hanya melebih-lebihkan. Dalam perjalanan pulang ke Knoxville ayahnya mengalami kecelakaan dan meninggal seketika.

Banyak dialog menggelitik dalam buku ini, diantaranyanya adalah percakapan berikut antara Rufus dan Ibunya (Mary) saat Rufus mempertanyakan konsep “berbuat salah” :

Rufus : “Why does God let us do bad things?”

Mary : “Because He wants us to make up our own minds.”

Rufus : “Even to do bad things, right under His nose?

Mary : “He doesn’t want us to do bad things, but to know good from bad and be good of our own free choice

Dan beberapa dialog menggelitik lainnya seperti ketika Rufus mempertanyakan kemana kucingnya pergi setelah mati. Adegan dimana Mary menunggu kabar tentang suaminya digambarkan dengan sangat baik sehingga saya ikut-ikutan gelisah dan khawatir akan reaksi Mary ketika mendengar kabar tentang kematian suaminya. Dan satu lagi dialog bagus ketika ayah Mary menasihatinya untuk menghadapi kematian sang suami :

You’ve got to bear it in mind that nobody that ever lived is specially privileged; the axe can fall at any moment, on any neck, without warning or any regard for justice. You’ve got to keep your mind off pitying your own rotten luck and setting up any kind of a howl about it. You’ve got to remember that things as bad as this and hell of a lot worse have happened to millions of people before and they came through it and that you will too. You’ll bear it because there isn’t any choice, except to go to pieces.”

Dialog yang sedikit keras namun nyata.

Ternyata tema yang sedikit suram untuk sebuah cerita dapat membuat pembacanya merasa sedikit lebih kuat ketika menutup buku jika digambarkan dengan bahasa yang indah. Buku ini adalah buku tentang kekuatan manusia dan juga kelemahannya. Tentang keberanian ketika hidup membawa kita ke roda yang paling rendah. Life must go on.

Definitely a “must read” book.

When The Mountain Meets The Moon By Grace Lin

Penerbit : Atria

Tebal : 261 Halaman

Alih bahasa : Berliani M. Nugrahani

Kekayaan bukanlan rumah yang dipenuhi emas dan batu giok. Namun sesuatu yang jauh lebih bermakna daripada itu. Sesuatu yang telah dimilikinya dan tidak perlu diubahnya.”

Oh kakek rembulan seandainya saja saya bisa ikut bersama Minli untuk menemuimu. Saya akan bertanya bagaimana caranya membuat orang-orang mengerti atas kebijaksanaan yang telah dirimu ajarkan pada Minli. Rasanya hidup ini pasti akan jauh lebih sederhana.

Buku ini saya juluki “A perfect tale” dimana didalamnya bertaburan nilai-nilai kebaikan dan persahabatan yang dikisahkan secara puitis dan menyentuh. Belum lagi ilustrasi-ilustrasi indah yang turut menghiasi jalan cerita.

Minli adalah seorang gadis kecil yang tinggal disebuah desa miskin di kaki gunung Nirbuah. Setiap hari Minli bekerja keras bertani bersama dengan ayah dan ibunya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.

Ayahnya adalah seorang pendongeng handal yang selalu menceritakan kisah-kisah menakjubkan selepas mereka makan malam. Ibunya, walaupun penyayang telah berubah menjadi getir karena kemiskinan. Sang Ibu hampir setiap hari mengeluh tentang kemiskinan yang harus mereka jalani.

Pada suatu hari seorang penjual ikan mas datang ke desa mereka. Penjual ikan mas itu mengatakan bahwa keberadaan seekor ikan mas di dalam rumah dapat merubah peruntungan suatu keluarga. Teringat akan keluhan ibunya, tanpa pikir panjang Minli pun menggunakan dua koin terakhir mereka untuk membeli ikan mas tersebut. Minli hanya ingin Ibunya bahagia.

Saat mengetahui perbuatan Minli, ibunya sangat kecewa karena Minli telah menyia nyiakan koin terakhir mereka untuk membeli satu mulut lagi yang harus diberi makan. Ketika melihat ayahnya yang telah bekerja keras seharian harus menyisihkan nasinya untuk diberikan pada ikan mas, hati Minli menjadi sedih dan sakit. Alih-alih membawa kebahagiaan, Minli malah membuat ayah dan ibunya semakin susah.

Diantara dongeng-dongeng yang sering dikisahkan ayahnya, terdapat satu dongeng yang sangat menarik hati Minli. Yaitu dongeng mengenai Kakek Rembulan. Kakek Rembulan adalah pemilik dari kitab peruntungan yang memuat rahasia pertalian nasib seluruh alam.

Karena kesedihan hati Minli melihat kemiskinan yang harus dijalani ayah dan ibunya, akhirnya Minli memutuskan untuk mencari Kakek Rembulan di Gunung Tak Berujung. Minli akan meminta Kakek Rembulan untuk mengubah peruntungan keluarga mereka.

Dalam perjalanannya Minli menemukan bahwa terdapat sejarah panjang pada segala suatu peristiwa yang terjadi dalam petualangannya. Di perjalannya pula Minli menemukan persahabatan dan belajar bahwa apa yang sebenarnya ia cari selama ini telah ia miliki.

Sementara itu di rumah, akhirnya Ibunya pun mengerti bahwa segala kegetiran dan keluhannya selama ini tidak ada artinya. Seluruh kekayaan di dunia pun menjadi tidak ada artinya karena harta terbesarnya adalah Minli dan keluarganya.

Membaca buku ini meninggalkan kesan yang sangat mendalam. Kita sebagai orang tua juga harus sangat berhati-hati dalam berkata dan berprilaku di depan anak. Terlalu banyak berkeluh kesah bisa membuat anak-anak merasa bahwa apa yang dirasakan orang tuanya adalah kesalahannya. Anak-anak adalah mahluk murni yang belum memahami kompleksitas hidup. Oleh karena itu tidak boleh dibebani dengan apa yang seharusnya belum ia tanggung.

Buku ini adalah jenis buku yang bisa diwariskan pada anak cucu! Kadang, tidak cukup bagi kita hanya belajar dari pengalaman hidup sendiri. Pengetahuan dan kebijaksanaan bisa kita resapi dari kisah-kisah seperti Where The Mountain Meets The Moon ini.

A Case Of Exploding Mangoes By Mohammed Hanif

Penerbit : Vintage Books

Tebal : 295 Halaman

Saya tertarik beli buku ini pertama karena covernya yang menarik dan yang kedua karena judulnya “A Case of Expoding Mangoes”, unik dan menarik perhatian. Cerita ini diilhami oleh kejadian nyata di Pakistan. Jatuhnya pesawat Hercules C130 yang membawa pemimpin diktator Pakistan General Zia ul Haq pada tanggal 17 Agustus 1988. Konon kejadian tersebut tetap menjadi misteri sampai saat ini. Belum diketahui mengapa pesawat yang dijuluki sebagai Pak One tersebut bisa mengalami kecelakaan yang mengerikan.

Namun Mohammed Hanif tidak membuat cerita ini menjadi suatu cerita konspirasi politik yang intense dan menegangkan. Mohammed Hanif memilih menceritakan probabilitas-probalititas dibalik kejadian ini secara satire dan komikal. Definitely my genre.

Narasi cerita berpindah-pindah antara Ali Shigri seorang anggota military air force dan kehidupan General Zia sendiri. Ali Shigri percaya bahwa bapaknya, Colonel Shigri bunuh diri atas tekanan dari General Zia. Ali Shigri menemukan ayahnya gatung diri di ruang belajar.

Saat masuk akademi militer Shigri bersahabat dengan Obaid yang juga teman sekamarnya. Saat suatu hari Obaid menghilang dengan membawa kabur salah satu pesawat di akademi militer, Shigri dituduh berkonspirasi dengan Obaid untuk suatu alasan yang masih para intelegen selidiki. Shigri pun ditahan dan diintrogasi secara kejam di sebuah benteng. Secara terpaksa Shigri harus berserah pada nasib atas gagalnya upaya pembunuhan atas General Zia yang telah ia rencanakan jauh-jauh hari sebagai pembalasan atas kematian ayahnya. Namun nasib masih memberinya kesempatan, akankan Shigri berhasil pada kesempatan kedua?

Di sisi lain General Zia yang dikenal atas kediktatorannya digambarkan secara komikal dalam cerita ini. General Zia digambarkan sebagai tokoh yang percaya pada pertanda, sangat paranoid dan percaya bahwa dirinya akan dianugrahi hadiah nobel  untuk perdamaian ;p

Oiya, jadi apakah penyebab terbunuhnya General Zia? Inilah pilihan yang tercantum dalam resensi di backcover bukunya :

  1. Mechanical failure
  2. Human Error
  3. The CIA’s impatient
  4. A blind woman’s curse
  5. General not happy with their pensions plan
  6. The Mangoe season

And for me this book provide a very amusing ending hehehehe. Eh, rasanya keseluruhan buku ini menghibur buat saya yang memang suka cerita jenis ini. Satire tentang kondisi politik dan militer Pakistan ini cukup membuat saya senyum-senyum sendiri. Similar dengan Catch-22, Ali Shigri juga agak mirip dengan Yossarian namun secara keseluruhan cerita less complicated.

Kenapa ngga ada yang pernah nulis kayak gini tentang kondisi politik di Indonesia ya? Mungkin karena tanpa dibikin-bikin satire pun kondisi politik di tanah air tercinta kita ini sudah seperti itu adanya 😉

Ternyata buku ini juga termasuk salah satu Longlisted untuk penghargaan Man Booker Prize Tahun 2008. Buat yang suka genre satire buku ini adalah opsi yang menarik.

The guilty commit the crime, the innocent are punished. That’s the world we live in.”

-Page 4-

The Iliad By Homer

Penerbit : Oncor

Tebal : 248 Halaman

Alih  Bahasa : A. Rachmatullah

Luar biasa rasanya bagi saya bisa membaca suatu mahakarya yang ditulis antara 800BC-600BC. Walaui tidak banyak yang dunia ketahui secara pasti tentang pengarangnya, Homer, namun dua karyanya The Iliad dan The Odyssey diakui oleh dunia sebagai suatu mahakarya epic.

Sebagai manusia indonesia yang menjalani masa-masa abg dengan menonton sertial tv Hercules dan Xena The Warrior Princess, saya menjadi sangat berminat pada ancient greek history. Dan kisah The Iliad ini difilmkan berulang-ulang sehingga mau tidak mau walaupun belum membaca bukunya, saya sudah “ngeh” kurang lebih jalannya cerita.

Ternyata di dalam buku The Iliad, cerita tidak dimulai dengan pembajakan Helen oleh Paris dan sisi Menelaus. Kisah dimulai ketika pasukan Yunani sudah berkemah di sekitar perairan Troya. Ketika mereka sudah bersiap untuk melakukan penyerangan terjadi perselisihan antara Achilles dan Agamemnon.

Agememnon ingin memberikan pelajaran kepada Achilles karena menurutnya Achilles terlalu sombong (walau sebenarnya Agamemnon juga tidak kalah tinggi hatinya). Akibat pertengkaran itu Achilles_sang prajurit paling hebat dan manusia setengah dewa menolak untuk membantu Agamemnon menyerang troya.

Akhirnya Agamemnon harus menyerang Troya tanpa prajurit terhebatnya, Achilles. Namun takdir yang sudah ditentukan tidak dapat dihindari. Dengan banyak campur tangan dari para Dewa dan Dewi akhirnya Achilles mau bergabung dengan Agamemnon dengan suatu alasan tersendiri. Achilles ingin membalas dendam karena sahabat baiknya Patroclus telah meninggal dibunuh oleh Hector putra raja Troya.

Membaca buku ini saya tidak bisa menahan perasaan kesal terhadap ulah para Dewa dan Dewi yang menggunakan manusia sebagai pion-pion untuk keegosentrisan mereka sendiri. Saya juga geram karena dengan tindakan bodoh paris-helen, harga diri menelaus dan rasa haus kekuasaan Agamemnon yang begitu besar menyebabkan begitu banyak nyawa menghilang.

Memang begitu banyak kekerasan yang digambarkan dalam buku ini. Kepala yang menggelinding, isi perut yang terburai dan mayat yang diseret oleh kereta kesana kemari digambarkan dengan jelas. Walaupun demikian, isi buku ini juga menggambarkan bahwa ada sisi kemanusiaan dalam perang Troya.

Seperti ketika Diomedes (Yunani) dan Glaucus (Troya) membatalkan diri untuk berduel karena baru mengetahui bahwa ada pertalian persahabatan antara keduanya. Atau ketika kedua pihak sepakat untuk menghentikan perang sementara waktu untuk memberikan kesempatan kepada pihak masing-masing untuk mengumpulkan mayat para prajurit dan memperlakukannya secara layak. Atau ketika Achilles mengembalikan mayat Hector kepada ayahnya Raja Priam dan memutuskan untuk tidak menyerang selama 10 hari untuk memberikan waktu kepada Raja Priam untuk menyelenggarakan upacara pemakaman Hector secara layak.

Adegan paling konyol mungkin ketika Aphrodite mengadu pada Ibunya karena tangannya dilukai oleh Diomedes. Hehe. Dewa Dewi itu senang sekali saling berseteru dan meyabotase pekerjaan  masing-masing. Tokoh yang paling saya tidak sukai tetaplah Agamemnon dan Paris. Sedangkan yang paling mending Hector dan Odysseus kali ya.

Adalah sulit untuk menangkap “rasa asli” dari kisah yang diterjemahkan dari ancient greeks ke bahasa inggris lalu ke bahasa indonesia. Namun dengan membaca buku ini kita bisa mempelajari mahakarya yang ditulis pada zaman yang jauhnya luar biasa dari zaman kita. Kita bisa menyaksikan betapa luarbiasanya kekuatan suatu karya tulis. Karya tulis tidak akan pernah mati, karena itulah kisah The Iliad bisa sampai ke tangan kita pada saat ini.

The Eyre Affair By Jasper Fforde

Tebal : 156 Pages on Ebook

Hahaha. Sumpah ini buku menurut saya lucu. Keren. Latar belakang buku ini adalah alternate Inggris di tahun 1985 dimana kehidupan, tidak seperti di dunia kita yang sangat dipengaruhi politik maupun agama, kehidupan di dunia tersebut sangat dipengaruhi oleh preferensi literatur. Oh yeah, keberadaan literatur teramat sangat penting di dunia tersebut.

Tokoh utamanya adalah seorang Wanita thirty something yang bernama Thursday Next. Berikut paragraf yang bisa sedikit menggambarkan miss Next :

I was born on a Thursday, hence the name. My brother was born on a Monday and they called him Anton-go figure. My mother was called Wednesday but was born on a Sunday – I don’t know why – and my father had no name at all – his identity and exstence had been scrubbed by the Chronoguard after he went rouge. To all intens and purposes he didn’t exist at all. It didn’t matter. He was always Dad to me..

Haha. Thursday Next bekerja di Special Operation Network (SpecOp), tepatnya Divisi Literary Detective/LiteraTecs dengan kode SO-27. Pada suatu saat LiteraTecs dibuat geger oleh pencurian manuskrip asli Martin Chuzzelewit nya Dickens. Dari gaya pencuriannya, kecurigaan segera ditujukan pada Acheron Hades, penjahat literatur yang seharusnya sudah mati bertahun-tahun yang lalu.

Acheron Hades, we know nothing about him. No birth certificate, not even a reliable age or even who his parents were. He just appeared on the scene in ’54 as a petty criminal with literary edge and has work his way steadily upwards to being number three on the planet’s most wanted list.”

Acheron Hades adalah penjahat literatur misterius yang bisa membaca dan mempengaruhi pikiran orang, berjalan menembus tembok, bulletproof dan tidak memiliki bayangan, hah! Imagine that!. Thursday pernah mengenal Hades dan untuk alasan yang belum diketahui Thursday kebal terhadap pengaruh Hades.

Thursday memiliki seorang paman bernama Mycroft, seorang penemu. Penemuan terbarunya adalah portal yang bisa membawa kita masuk ke dunia dalam buku. Buku apapun, halaman berapa pun. Ketika portal tersebut dicuri dan Mycroft turut diculik barulah mereka mendapat gambaran apa yang sedang Hades coba lakukan. Dan ketika seorang tokoh minor dalam buku Martin Chuzzelewit, Mr. Quaverly tiba-tiba menghilang dari cerita di seluruh eksemplar Martin Chuzzelewit kepanikan mulai muncul.

Ternyata Hades menculik Mr. Quaverly dari dalam buku dan membunuhnya di dunia nyata. Jika hal tersebut dilakukan dari manuskrip original buku tersebut. Maka seluruh eksemplar buku yang beredar di dunia akan berubah dengan sendirinya tanpa ada seorang Mr. Quaverly di dalam jalan cerita buku tersebut.

Kepanikan mulai meningkat ketika Hades mencuri Manuskrip original Jane Eyre nya Charlotte Bronte. Hades mengancam akan menculik dan mengeliminir Jane Eyre jika tuntutannya tidak dipenuhi. Dunia pun geger.

Within twenty seconds of Jane’s kidnapping, the first worried member of the public had noticed strage goings-on around the area of page 107 of their deluxe edition of Jane Eyre. Within 30 minutes all the lines into the english museum library were jammed. Within 2 hours every LiteraTecs departement was besieged by calls from worried bronte readers. Within 4 hours the President of The Bronte Federation has seen The Prime Minister.”

Adalah tugas Thursday Next untuk mengagalkan upaya gila tersebut. Berhasilkan dia? Atau seluruh buku Jane Eyre di dunia jalan ceritanya akan berlangsung tanpa Jane Eyre? Ahhh.. Baca sendiri..

Buat saya buku ini seru dan menghibur banget. Jadi bikin senyum-senyum sendiri bacanya. Bayangkan kalo di dunia kita ada penjahat yang mengancam menghilangkan tokoh Harry Potter dari semua eksemplar buku Harry Potter, bakalan heboh ga ya? Dan pada beberapa titik saya jadi pengen masuk ke dunia itu dan berprofesi sebagai detektif literatur juga. Hehe..

Buku ini terdiri dari 4 seri yg judulnya The Eyre Affair, Lost In Good Books, The Well Of Lost Plots, Something Rotten dan First Among Sequels. Recomended banget untuk dibaca terutama untuk para bookworms.

Padang Bulan & Cinta Dalam Gelas – Andrea Hirata

Penerbit : Bentang Pustaka

Ketika menunggu buku keempat Andrea Hirata (Maryamah Karpov), saya sungguh tidak sabaran. Begitu saya dengar bukunya muncul di toko buku, langsung cari untuk beli. Begitu sampai di tangan langsung dilalap tak bersisa.

Sekarang saya tidak bersikap terburu-buru. Cukup sabar sampai buku Padang Bulan & Cinta Dalam Gelas tiba di tangan saya. Cukup sabar untuk menyelesaikan dulu buku yang tengah saya baca. Cukup sabar untuk membaca sedikit-sedikit, menikmati setiap mozaik.

Dan kesimpulan saya : Wahai Andrea Hirata, teruslah menulis dan menghasilkan karya!. Entah apa yang terjadi pada buku keempat Andrea. Yang jelas di buku kelima ini saya menemukan kembali apa yang saya cari, yang tidak saya temukan di buku keempat. Gaya penulisan, pesan yang dalam tentang cinta dalam pengertian yang luas, semangat dan kisah yang membumi seperti dalam buku laskar pelangi dan sang pemimpi (dua buku kesukaan saya).

Buku ini terbagi ke dalam dua bagian. Yang pertama diberi judul “Padang Bulan”. Sebelumnya sempat beredar info bahwa buku kelima Andrea ini bercerita tentang A ling. Ternyata (menurut saya) lebih banyak bercerita tentang Maryamah. Ya, bagian pertama ini menceritakan tentang muasal Maryamah mendapat tambahan nama “Karpov”. Petualangan seru tentang keteguhan hati dan semangat pantang menyerah untuk membela martabat (read it yourself I don’t want to spoil the fun!!)

“Dulu guru mengajiku pernah mengajarkan, bahwa pertemuan dengan seseorang mengandung rahasia Tuhan. Maka, pertemuan sesungguhnya adalah nasib. Orang tak hanya bertemu begitu saja, pasti ada sesuatu di balik itu.” (Cinta Dalam Gelas – Andrea Hirata)

Bagian kedua diberi judul Cinta Dalam Gelas. Menceritakan kisah hidup Maryamah dari kecil hingga dewasa. Mimpinya, kekuatan hatinya, tangisnya dan suatu pelajaran tnteng ikhlas menerima tanggung jawab, tidak pernah menyerah dan memelihara mimpi.

Diceritakan pula tentang Ikal yang patah hati, putus asa dan dalam suatu jalinan nasib yang unik berkesempatan untuk berpapasan dengan Maryamah dalam suatu episode penting hidupnya.

Kalau sebelumnya, saya sempat bertanya-tanya akan seperti apa buku Andrea jika tetralogi laskar pelangi sudah selesai ditulis. Buku kelima ini menepiskan keraguan saya.

Saya akan menunggu novel berikutnya.

Membaca buku ini membuat saya tertawa, membuat saya terharu dan membuat saya merenung mempertanyakan diri sendiri. “Secepat apa engkau berlari, kawan?”(Lintang).

Salah satu bagian tulisan yang paling saya suka :

-Tak Tergenggam-

Cinta, ditaburkan dari langit

Pria dan Wanita menengadahkan tangan

Berebut-rebut menangkapnya

Banyak yang mendapat seangkam

Banyak yang mendapat segenggam

Semakin banyak

Semakin tak tergenggam

PS : Repost dari blog lama dalam rangka menunggu novel 11 Patriot