Catch 22 By Joseph Heller

Reviewed on : December 21st 2010

Butuh waktu yang agak lama buat saya untuk menyelesaikan buku ini. Pertama karena saya membaca versi e book nya di e book reader tersayang. Kedua, bacanya tandeman dengan banyak buku laen yang lebih “ringan”. Ketiga, banyak ke absud an dalam dialog dan jalan ceritanya.

Kenapa pengen baca buku ini ? karena judulnya sendiri sudah menjadi suatu istilah yang sering disebut-sebut di novel-novel lain yang saya baca. “ Catch 22”

Tentu saja selain dari novel ini termasuk ke dalam time 100 best novels.

Tokoh utama dalam catch 22 adalah seseorang bernama Yosarian. Seorang bomber pilots yang tampaknya satu-satunya orang waras dalam cerita tapi semua tokoh lain mengatakan dia tidak waras. Yosarian ingin sekali pergi dari medan perang, tidak peduli berapa misi yang dia jalankan. Keinginannya itu selalu terbentur suatu aturan “Catch 22”

Jadi apa sih catch 22 itu sodara-sodara ? Begini kurang lebih dialog dalam bukunya.

Catch-22. Anyone who wants to get out of combat duty isn’t really crazy. Catch-22 specified that a concern for one’s own safety in the face of dangers that were real and immediate was the process of a rational mind. Someone who was crazy could be grounded. All he had to do was ask; and as soon as he did, he would no longer be crazy and would have to fly more missions. He would be crazy to fly more mission and sane if he didn’t, but if he was sane he had to fly them. If he flew them he was crazy and didn’t have to; but if he didn’t want to he was sane and had to.

Jadi kurang lebih artinya suatu aturan atau kondisi yang bikin seseorang maju kena mundur kena (kok jadi kayak judul film dono).

Bukunya bagus, penuh sarkasme, biasanya saya demen banget buku model gini. Cuma ya itu, saya merasa dialognya banyak yang absurd dan tokohnya banyak banget. Jadi banyak kejadian yang bikin saya ngerasa “tunggu tunggu, tadi cerita awalnya apa ya, kok ujug-ujug sampe sini?”

Hehe. Atau memang saya nya yang kurang konsentrasi aja kali ya. Overall saya belum ngeh seluruhnya isi buku ini. Ntar mungkin kalo dibaca kedua kali baru lebih meresap, ;P

The Picture of Dorian Gray By Oscar Wilde

Reviewed on : November 2nd 2010

Udah lama sebenernya pengen me review buku ini. Baru kesampean sekarang setelah dibaca kedua kalinya. The Picture of Dorian Gray dari Oscar Wilde. Overall buku ini termasuk salah satu novel klasik favorit saya. Plus kisah hidup si pengarang yang ngga kalah sensasional dari bukunya.

Buku ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1891. Zaman dimana seseorang bisa dipenjarakan karena dia adalah seorang homoseksual. Itulah yang terjadi pada Oscar Wilde. Ketika awal penerbitannya buku ini dicap immoral oleh public. Tapi buku ini bertahan, dan sampai saat ini masih relevan dan dibaca banyak orang.

Menurut pendapat saya pribadi, buku ini menggali pemikiran kita sampe ke terowongan-terowongan yang tergelap. A little bit frightening, namun banyak banget kalimat quotable yang bisa bikin mikir.

Ada tiga tokoh sentral. Dorian Gray, yang pada awal cerita digambarkan sebagai pemuda yang teramat cakep, polos dan innocent yang baru saja memulai debutnya di masyarakat. Basil Hallaward, seorang pelukis yang amat memuja Dorian Gray, menganggap Dorian Gray sebagai sumber inspirasi lukisannya. Lord Henry, seorang bangsawan muda yang senang mencari kesenangan hidup dan berkesperimen dengan kepribadian manusia.

Dorian Gray pada awalnya menjadi model untuk Basil Hallaward, hingga pada suatu sore dia bertemu Lord Henry dan dicekoki pemikiran bahwa betapa masa muda dan kemudaan adalah segalanya dan harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk mencari kesenangan. Dorian mulai terpengaruh, dan ketika lukisan potret Basil Hallaward selesai sempat berucap “Aku cemburu pada lukisan ini, sementara aku akan bertambah tua dan keriput, lukisan ini akan tetap muda. Aku berharap aku akan tetap muda, dan lukisan inilah yang bertambah tua!”

Ntah gabungan dari ucapan Dorian, dan pengakuan Basil bahwa dia terlalu banyak mencurahkan jiwanya pada lukisan itu, keinginan Dorian tercapai. Suatu ketika Dorian Gray mengecewakan seorang wanita, dan wanita itu bunuh diri. Ketika dia menatap lukisan dirinya, ada sedikit raut kejam yang tergambar di lukisan itu. Lukisan itu berubah. Setiap perbuatan buruk yang dilakukan Dorian akan tergambar dalam lukisan tersebut, sedangkan Dorian akan tetap awet muda, tampan dan terlihat innocent.

Tahun demi tahun berlalu. Dorian bersahabat baik dengan Lord Henry, dan telah melakukan berbagai macam perbuatan buruk untuk mecari kesenangan hidup. Reputasinya menjadi buruk di mata masyarakat, namun tidak ada seorangpun yang akan percaya jika melihat Dorian secara langsung, karena dirinya tetap terlihat polos, dan seperti tidak mungkin melakukan dosa apa pun.

Sampai suatu saat Basil mendatangi Dorian untuk mengklarifikasi, apakah betul rumor yang sudah dia dengar. Malam itu Dorian kesal dan akhirnya menyalahkan Basil, karena lukisan itulah Dorian menjadi seperti sekarang. Alangkah kagetnya Basil ketika melihat bahwa sosok dalam lukisannya telah menjadi sosok jelek yang terlihat amat jahat dan culas. Dorian gelap mata dan akhirnya membunuh Basil.

Semejak kejadian itu Dorian menjadi tidak tenang, ditambah kenyataan bahwa seseorang tengah memburunya untuk membalas dendam. Akhirnya setelah melalukan sekian banyak dosa Dorian Gray ingin mulai hidup secara baik-baik. Sampai pada suatu malam dia menatap lukisan jeleknya, dan berpikir dia harus menghancurkannya. Lalu dia mengambil pisau dan menikam lukisan itu.

Malam itu para pelayan mendengar teriakan menakutkan. Ketika ditemukan sumber suara mereka menemukan seorang lelaki jelek buruk rupa yang mati tertikam di depan lukisan tampan tuan mereka.

“There’s no such thing as a moral or an immoral book. Books are well written, or badly written. That is all.”
– Oscar Wilde –

Good Omens By Neil Gaiman & Terry Pratchett

Reviewed on : October 26th 2010

Kayaknya saya ketagihan buku Neil Gaiman setelah baca Coraline dan The Graveyard Book. Yang akhir-akhir ini say abaca judulnya Good Omens. Kurang lebih ceritanya gini.

Pada tahun 1655 sedang musim-musimnya perburuan penyihir. Saat penyihir” lain mengeluarkan ramalan yang isinya umum-umum aja dan bisa ditafsirkan banyak versi, seorang penyihir bernama Agnes Nutter menulis ramalan yang isinya sangat terperinci akan datangnya akhir jaman ± 300 tahun yang akan datang. Buku ramalan agnes diwariskan turun temurun kepada keluarganya. Sampai kepada keturunan terakhirnya yang bernama Anathema (bahkan anathema dinamai anathema karena sudah dituliskan di buku ramalan agnes).

11 tahun sebelum akhir jaman. Skenario armagedon telah dimulai, sang antikritus telah lahir dan rencananya akan ditukar dengan bayi seorang politisi sehingga bisa dibesarkan di lingkungan yang berpengaruh. Petugas neraka yang diberi tugas bernama Crowley. Crowley sudah turun ke bumi semenjak Adam diusir dari Surga dan semenjak itu “bergaul” dengan manusia. Crowley berteman dengan seorang petugas Surga yang bernama Aziraphale yang juga berkeliaran di dunia manusia dengan samaran sebagai pemilik toko buku.

Pada saat pertukaran terjadi sebuah kesalahan fatal. Antikristus malah nyasar ditukarkan ke keluarga baik-baik dan biasa-biasa saja. Dia diberi nama Adam dan tinggal di sebuah kota kecil yang bernama Lower Tadfield.

11 tahun kemudian, 4 hari sebelum hari akhir. Menurut scenario, pada hari yang ditentukan ini anjing neraka akan muncul untuk membantu mewujudkan keinginan tuannya. Pihak Surga dan Neraka tidak sabar menunggunya muncul karena kedua belah pihak menginginkan perang. Crowley dan Aziraphale sudah ditugaskan untuk memantau kemunculan anjing neraka di pesta ulang tahun ke-11 anak sang politisi. Sebenarnya baik Crowley maupun Aziraphale merasa enggan akan datangnya armagedon dan perang besar antara Surga dan Neraka. Saat di tempat yang ditentukan anjing neraka tidak juga muncul, sadarlah meraka bahwa suatu kesalahan besar telah terjadi. Crowley disalahkan pihak Neraka dan mereka berdua sibuk mencari dimana sebenarnya sang antikristus berada.

Sementara itu di kota kecil bernama Lower Tadfield, seorang anak bernama Adam juga sedang berulang tahun ke-11. Adam sangat menginginkan seekor anjing peliharaan untuk ulang tahunnya ketika tiba-tiba seekor anjing menghampiri dan mengekornya kemana-mana (anjing neraka menyamar menjadi anjing peliharaan biasa karena tuannya menginginkan seekor anjing peliharaan biasa).

Hari H. Tanda-tanda kehancuran dunia yang sudah diramalkan agnes nutter bermunculan. Benua atlantis muncul kembali ke permukaan, mahluk luar angkasa berdatangan, pohon-pohon aneh muncul, ikan paus hilang dari lautan dan hujan ikan dimana-mana.

Sementara itu sejumlah besar bahan bakar reactor nuklir tiba-tiba menghilang dan tidak dapat dijelaskan hilang kemana. Empat penunggang kuda neraka, Perang, Kelaparan, Polusi dan Kematian telah datang untuk membantu antikristus.

Sementara itu Adam kecil sedang berada dalam posisi dilematis. Akankah dia mendengarkan bisikan dari dalam dirinya untuk menghancurkan dunia ?

Yang saya suka banget dari buku ini adalah tokoh Crowley dan Aziraphale yang tidak terlalu jahat dan juga tidak terlalu baik , ceritanya yang lucu dan sedikit menyentil dan tentu saja endingnya. Dan yang lucu pada halaman 89 : diceritakan tentang seorang penunggang kuda neraka yang bernama Polusi masih menyamar menjadi seorang yang bernama White.

Alkisah White sedang ada di sebuah tangker minyak menuju Tokyo. Dia baru saja menyebabkan tumpahan minyak besar namun seperti biasa tidak ada yang menyadari dan semua pihak sibuk saling tuduh. Disana dituliskan bahwa sementara semua pihak saling tuduh, White sudah ada di suatu kapal uap sewaan yang penuh mengangkut tong logam berisi obat pembasmi ilalang yang amat beracun menuju INDONESIA, hahahahaha….

The Graveyard Book By Neil Gaiman

Reviewed on : July 26th, 2010

His friends in the graveyard named him Nobody Owens. Graveyard ??? Yes he live in the graveyard ever since he was a toddler. He was raised by a ghost couple, Mr & Mrs. Owens and a somewhere in between creature, Silas.

His biological parents was killed when he was a toddler. He was saved by the ghost in the Graveyard. They decided to give the toddler The Freedom Of The Graveyard. Meaning as long as the boy remain within the graveyard, he is safe. People from the outside can not see him. Silas, The Honour Guard Creature swore to protect the boy until he was old enough.

So there it is. A human boy, living among the non living. Nobody Owens, that’s the name they gave him. They call him Bod. As he grow, the ghost invented as system to keep Bod educated. Once, they decide to listed Bod in a public school. But it turned out to be a bad decision, because sooner or later Bod will be noticed.

So, how did Bod survive ? Will the killer finally found Bod ? Read it yourself !! Hehe.

This is a great and adventurous book. Neil Gaiman is e great storyteller, though the story is a little bit “dark” but it was fun. The story is different and original. It was the kind of book that you couldn’t get it out of your head even though you’ve finished it for sometimes.

You should definitely read it !!

Negeri 5 Menara By A.Fuadi

Reviewed on : July 18th 2010

“Ada dua hal yang paling penting dalam mempersiapkan diri untuk sukses, yaitu going the extra miles. Tidak menyerah dengan rata-rata. Kalau orang belajar 2 jam, dia akan belajar 5 jam. Kalau orang berlari 2 kilo, dia akan berlari 3 kilo.

Resep lainnya adalah tidak pernah mengizinkan diri kalian dipengaruhi oleh unsur diluar diri kalian. Oleh siapapun, apapun dan suasana bagaiamana pun. Artinya jangan mau sedih, marah, kecewa dan takut karena ada factor dari luar. Kalianlah yang berkuasa terhadap diri kalian sendiri, jangan serahkan kekuasaan kepada orang lain. Orang boleh menodong senapan, tapi kalian punya pilihan untuk takut atau tetap tegar. Kalian punya pilihan di lapisan diri kalian yang paling dalam, dan itu tidak ada hubungannya dengan pengaruh luar.”

(Negeri 5 Menara)

2 paragraf dari 405 halaman buku ini sudah cukup untuk membuat saya memasukannya dalam kategori Worth To Read.

Eat, Pray, Love By Elizabeth Gilbert

Reviewed on : March 29th 2010

Akhirnya kebaca juga buku ini. Hmm.. Agak mengecewakan ternyata. Buku ini adalah memoir sang pengarang tentang beberapa episode penting dalam hidupnya. Alkisah Liz baru saja mengalami perceraian yang cukup ruwet lalu berturut-turut patah hati karena kisah cinta barunya gagal. Liz mengalami depresi sehingga tenggelam di suatu kondisi yang bernama melancholy.

Setelah mencari pertolongan, beranjak sembuh dan menyelesaikan perceraiannya Liz memutuskan untuk mengunjungi beberapa tempat. Italia (karena dia suka bahasanya), India (karena dia ingin datang ke Ashram untuk mendalami meditasi dan mencari ketenangan diri dan/atau Tuhan), Indonesia (karena undangan sekaligus premonition dari seorang Tabib di Bali)

Dan berkunjunglah dia ke tempat-tempat tersebut dan mengalami warna warni peristiwa. Terlintas di pikiran saya tentang Piramida Maslow saat membaca buku ini. This is a perfect sample (menurut saya loh) dimana seseorang yang physiological, safety, love/belonging dan esteem needs nya sudah terpenuhi akan beranjak ke tahap self actualization. Kenginan untuk mencari Tuhan, mengerti hidup dan mencari ketenangan diri adalah inti yang dicari oleh sang punya cerita. Satu hal penting yang menjadi kesimpulan dan pelajaran dari kisah ini adalah bahwa yang bisa menolong diri kita keluar dari keadaan buruk adalah diri kita sendiri.

Cara penulisannya pada beberapa bagian lumayan lucu. Mirip-mirip novel chicklit kalo menurut saya. Lumayan untuk mengisi waktu luang tapi over all menurut saya sih biasa aja. Buku itu seperti makanan yang enak ngga nya tergantung selera sang penikmat. Sepertinya buku ini bukan selera saya. Maaf penggemar Elizabeth Gilbert !!

The Palace Of Illusion By Chitra Banerjee Divakaruni

Reviewed on : February 1st 2010

Beginilah rasanya kalo membaca buku yang (menurut saya) menghanyutkan.. Begitu membuka halaman demi halaman apa yang terjadi di sekitar mengabur dan seperti terseret ke dalam dunia lain.. Padahal saya pertama kali buka halaman buku ini di atas bis damri menuju Bandung. Hehe.

Untuk yang tidak terlalu familiar dengan kisah Mahabharata, buku ini merupakan suatu adaptasi yang baik untuk memulai karena ceritanya mengalir dengan baik dan tidak se-jelimet kalo baca kitab aslinya.

Terdapat banyak sekali tokoh dalam epic Mahabharata ini, dan sang pengarang memilih untuk bercerita dari sudut pandang seorang perempuan yaitu Dropadi/Drupadi/Panchali. Akibatnya pernyataan, pemikiran dan perasaan yang sampai melalui buku ini “perempuan banget” tapi sama sekali tidak cengeng. Tentang perempuan yang terseret dalam “skenario sang waktu”, bukannya kita semua seperti itu ya.. Walau tidak semaha dasyat kisah Drupadi.

Jadi inget di salah satu postingan dimana saya pernah nulis betapa kita ini hanya setitik debu di padang pasir yang dinamakan nasib dan takdir. Yah yah yah, jadi menyimpang kan ceritanya.

Drupadi adalah seorang perempuan yang unik di zamannya, bukan hanya karena dia terlahir dari api dan diramalkan akan merubah jalannya sejarah tetapi memang karena keingintahuannya, tindakannya dan temperamennya yang cepat panas sehingga membuat dia “stand out” dan berbeda dari perempuan-perempuan lainnya.

Menjelang dewasa ayah drupadi sang puteri kerajaan Panchala mengadakan sayembara untuk para raja. Sang pemenang boleh memboyong sang puteri sebagai istri. Sebenarnya ini adalah suatu taktik untuk mendapatkan sekutu (ah ya banyak pelajaran politik dalam cerita ini).

Drupadi hampir saja diperistri oleh seorang anak kusir kereta yang sekarang menjadi raja Angga yang bernama Karna, namun demi meredam konflik yang nyaris melibatkan kakaknya. Drupadi melontarkan pertanyaan yang membuat Karna mundur, merasa sakit hati dan menaruh dendam pada Drupadi (Ah ya, banyak sekali dendam diumbar dalam cerita ini).

Akhirnya yang menjadi pemenang adalah Arjuna, salah satu dari kelima bersaudara Pandawa. Karena sesuatu pernyataan Sang Bunda Pandawa bersaudara yang tidak bisa ditarik lagi maka Drupadi pun terpaksa harus menjadi istri dari kelima Pandawa bersaudara itu.

Diboyonglah Drupadi ke istana Hastanipura. Karena tidak betah di istana yang dipenuhi dengan para Kurawa yang terdiri dari 100 bersaudara dengan saudara tertuanya Durdoyana (para Pandawa dan Kurawa bersepupu tapi bersaing dalam memperebutkan tahta) akhirnya para Pandawa diberi jatah suatu lahan yang gersang dimana mereka diperkenankan memerintah. Disanalah mereka membangun The Palace Of Illusions yang akhirnya menjadi negeri yang makmur.

Dalam suatu perjamuan Yudhistira, kakak tertua para Pandawa yang paling jujur dan lurus digoda (saya tidak bisa menahan diri untuk memikirkan cerita Nabi Adam yang digoda setan) untuk bermain dadu dengan Durdoyana dan (dengan bodohnya) mempertaruhkan seluruh kerajaannya, saudara-saudaranya bahkan Drupadi. Kejadian itu berakhir dengan dipermalukannya Drupadi di depan umum. Saat itu Drupadi mengucapkan sumpah bahwa dia tidak akan tenang sampai bisa mencuci rambut dengan darah para Kurawa (Ah ya cerita ini penuh dengan sumpah serapah yang selalu terjadi).

Setelah peristiwa pengasingan dan penyamaran terjadilah perang akbar antara para Pandawa dan Kurawa. Tertumpaslah para Kurawa. Namun ntah kenapa saya merasa tidak ada yang menang dalam hal ini karena pada akhirnya para Pandawa yang telah memegang kekuasaan pun dihantui rasa bersalah dan merekapun kehilangan banyak hal. Termasuk Drupadi.

Major Moral of the story menurut saya : dendam tidak akan membawa kita kemanapun_tidak juga ke perasaan damai ketika dendam itu sudah dibalaskan, tahanlah apa yang ingin diucapkan jika sedang marah karena kemungkinan besar kita akan menyesalinya.

Brideshead Revisited By Evelyn Waugh

Reviewed on : January 21th 2010
Buku ini bercerita tentang kenangan masa lalu seorang Charles Ryder, seorang captain di British Army di tahun 1942. Pada suatu malam dia diperintahkan untuk memindahkan pasukannya dengan menggunakan kereta. Ternyata hal itu membawanya ke suatu daerah bernama Brideshead. Sebuah “Enchanted Garden” dimana hantu-hantu masa lalu Charles bermukim. Masa lalu yang dia katakan sebagai “The time of his life”.

Sedih sebenarnya kita kita hanya merasa “hidup” di suatu masa dan sisa waktu yang ada dijalani tanpa spirit. Iya, buku ini sebenarnya agak sedih.

Pada tahun 1923, Charles muda adalah seorang mahasiswa baru di Oxford University. Disana dia berjumpa dengan seorang putra dari keluarga aristocrat yang bernama Sebastian Flyte yang terkenal akan ketampanannya dan tingkah laku yang eksentrik. Sebuah persahabatan atau lebih tepatnya cinta platonic pun terbentuk antara Charles dan Sebastian. Di suatu musim liburan Charles diminta untuk menemani Sebastian yang terluka di Mansion keluarganya yang terletak di suatu daerah bernama Brideshead.

Disanalah Charles merasa bahwa saat-saat itu merupakan saat paling “hidup” sepanjang riwayatnya. Hubungannya dengan Sebastian dan keluarganya, keindahan Birdeshead Mansion, membekas sangat kuat dalam ingatan Charles. Keluarga Sebastian merupakan penganut Katolik, banyak pembicaraan tentang agama yang muncul karena tokoh Charles dalam buku ini merupakan seorang agnostic.

Sebastian merasa tidak nyaman dengan keluarga dan agamanya. Semakin lama Charles semakin menjadi bagian dari keluarganya. Hal itu kemudian membuat hubungan mereka menjauh. Pada akhirnya Sebastian menjadi seorang pemabuk karena merasa tidak ada yang dapat memahaminya termasuk Charles. Sebastian pun memilih untuk “kabur” dan hidup terasing dari keluarganya dan juga Charles.

Hubungan Charles dan keluarga Sebastian pun terputus. Charles menyelesaikan kuliah, menjadi seorang Artistic Painter, menikah dan mengalami berbagai petualangan. Sepuluh tahun kemudian Charles bertemu dengan adik Sebastian yang bernama Julia di sebuah kapal pesiar. Charles sudah menikah, Julia pun sudah menikah. Charles merasakan suatu keterikatan dengan Julia, keterikatan yang bernama masa lalu alias Sebastian. Ketika bersama Julia, Charles juga merasa bersama Sebastian. Akhirnya mereka pun memiliki affair. Affair yang berkembang sampai-sampai Charles menceraikan istrinya dan Julia juga memproses untuk bercerain dengan suaminya.

Julia mencintai Charles. Sedangkan Charles mencintai bayangan Sebastian. Selama hubungan itu berlangsung Julia tak henti-hentinya merasa bersalah akan dosa “berselingkuh” yang dia lakukan. Sebuah peristiwa penting terjadi dan akhirnya Julia merasa dia tidak bisa menghianati agamanya dan hidup dengan dosa setiap hari. Julia pun mengakhiri hubungannya dengan Charles.

Sejak saat itu Charles tidak pernah lagi berhubungan dengan keluarga Flyte maupun Brideshead. Sampai ke suatu hari di tahun 1942 dimana secara tidak sengaja dia datang ke Brideshead dan terseret kembali ke kenangan masa lalunya.

Cerita ini sedih, tapi indah. Indah karena sebenarnya banyak dari kita yang memiliki harta karun bernama “Masa Lalu” yang tidak pernah hilang dan selalu ada dalam diri kita.

Lord Of The Flies By William Golding

Reviewed on : January 7th 2010

Saya baru satu kali ini baca bukunya William Golding. Waktu pertama kali denger judulnya saya ngga ngeh arti judulnya. Setelah selesai baca bukunya pun masih bingung kenapa judulnya ini. Tanya punya tanya sama om google, ternyata originnya dari bahasa Hebrew “Beelzebub” yang bersinonim dengan “Satan”. Barulah saya bisa paham sepenuhnya isi buku ini.

Maaf sedikit melompat-lompat. Buku ini bercerita tentang sekelompok anak asal inggris yang pesawatnya mengalami kecelakaan saat mereka semua akan dievakuasi (Latarnya jaman perang dingin). Akhirnya mereka terdampar di sebuah pulau tidak berpenghuni. Satu bab pertama saya kira ini cerita petualangan kayak Robinson Crusoe. Setelah selesai baca, iya sih menceritakan petualangan anak-anak yang terdampar, tapi bentuk ceritanya lebih ke alegori (majas, retorika) semacam animal farm nya George Orwell (tapi kalo itu kan udah jelas dari awal bentuk ceritanya alegori).

Anak-anak yang terdampar itu akhirnya memutuskan untuk memilih ketua untuk mengatur kehidupan mereka. Ada dua calon kuat Ralph_seorang anak yang civilized dan Jack_anak yang mengasosiasikan dirinya sebagai “hunter”. Ralph terpilih, dan prioritas utamanya adalah agar mereka bahu-membahu membuat api dan menjaga api itu tetap menyala sehingga jika ada kapal yang lewat asapnya bisa terlihat dan mereka bisa terselamatkan.

Seiring dengan berjalannya waktu anak-anak tersebut terpengaruh oleh gaya hidup jack yang lebih mengutamakan berburu dan tidak memperdulikan aturan. Ditambah lagi dengan ketakutan mereka pada monster yang ada di pulau itu yang mereka juluki “The Beast”. Setelah beberapa peristiwa akhirnya mereka semua terseret ke gaya hidup layaknya orang tidak beradab dan meninggalkan Ralph sendirian bahkan menjadikannya sebagai buruan.

Akankah mereka terselamatkan? Bagaimana ceritanya anak-anak dari inggris (yang notabene beradab) itu bisa berubah menjadi manusia tidak beradab? Lebih asik baca sendiri kali ya. I don’t want to spoiled the fun.

Banyak sekali makna dan ironi dalam buku ini. Kalo suka bukunya George Orwell pasti suka juga buku ini. Ngga salah kalo dimasukin ke 100 Best Novel versi Times. Oiya Lord Of The Flies dalam buku ini mewakili sisi buruk dalam diri manusia, bagaimanapun beradapnya kalo aturan, sistem dan peradaban telah gagal manusia akan gampang sekali menyebrang ke sisi hitam. Ingat peristiwa kerusuhan mei 1998? Bagaimana sekelompok orang-orang yang mungkin sehari-hari berlaku biasa dan patuh pada aturan bisa berubah menjadi savages dan melakukan kejahatan masal atas alasan yang sama sekali tidak masuk akal.