One Hundred Years of Solitude By Gabriel Garcia Marquez

Penerbit : PT Bentang Pustaka

Tebal : 548 Halaman

Alih Bahasa : Nin Bakdi Sumanto

Whoa…. Membaca untuk kedua kalinya buku ini saya masih aja terpesona setelah menutup halaman terakhir. Saya pertama kali baca buku ini pinjem di perpustakaan rumah buku di kawasan Hegarmanah, Bandung. Seneng banget ketika pada Mei 2007 menemukan terjemahannya yang diterbitkan Bentang, baru pada tahun 2011 ini dibaca, wkwkwkwk. Parah.

Buku ini masuk kedalam salah satu buku terbaik sepanjang masa versi saya. Gabriel Garcia Marquez menyihir saya masuk ke dunia lain. Ke sebuah kota bernama Macondo yang didirikan oleh Jose Arcadio Buendia dan 20 keluarga lainnya ketika mereka mencari daerah baru. Semenjak saat itu dipaparkanlah kisah unik dan magis lima generasi keturunan Jose Arcadio. Untuk beberapa saat kota Macondo adalah kota yang terasing, satu-satunya kelompok orang yang berhasil datang ke Macondo adalah para gypsi yang dipimpin oleh seorang lelaki berkarisma yang bernama Melaquides yang nantinya akan memegang peran yang cukup penting dalam perjalanan keluarga Buendia.

Istri Jose Arcadio, Ursula hidup hingga umur lebih dari seratus tahun untuk menyaksikan perjalanan keturunannya. Ursula menjadi saksi hidup tentang bagaimana mesin waktu berputar dalam perjalanan keluarganya dan membuat pengulangan-pengulangan sejarah dari satu generasi ke generasi lainnya.

Maka kita akan dibawa ke dalam dunia magis Macondo, mulai dari wabah insomnia yang melanda seluruh kota, wanita tercantik sepanjang masa yang terbang ke surga, tipu muslihat kekuasaan yang menyembunyikan pembantaian 3000 orang, sampai dengan musim hujan yang turun terus menerus selama 4 tahun.

Mungkin pembaca akan sedikit bingung dengan nama Jose arcadio, aureliano, remedios dan amaranta yang berulang-ulang, namun tidak perlu khawatir karena silsilah keluarga buendia ada di halaman depan buku tersebut sehingga ketika kita bingung aureliano mana yang sedang dibicarakan, kita bisa langsung melihat ke silsilah yang ada di halaman depan.

Tokoh favorit saya dalam cerita ini adalah Ursula dan Pilar Tenera. Mereka adalah para wanita  yang kuat dengan caranya masing-masing untuk menghadapi segala peristiwa absurd yang terjadi di Macondo dan hidup hingga usia sangat tua dan menjadi saksi perjalanan sejarah keluarga Buendia.

Acungan empat jempol untuk penerjemah dan penyuntingnya karena suatu karya yang diterjemahkan dan bisa mempertahankan seluruh efek dan kualitas dari suatu cerita yang magis cukup jarang saya temukan.

Berhasilkah keluarga Buendia bertahan dalam perjalanan waktu? Bagaimana nasib kota Macondo? Kayaknya rugi deh kalo ngga baca buku ini, karena anda akan melewatkan kesempatan untuk berpetualang ke suatu kota mythical yang bernama Macondo.

City of Ember By Jeanne DuPrau

Tebal : 171 pages of ebook version.

Bayangkan jika seumur hidup anda langit itu gelap, tidak ada kota lain selain yang ada tinggali dan sumber cahaya hanya berasal dari lampu-lampu yang dihidupkan mulai tepat jam 6 pagi dan dimatikan tepat jam 9 malam. Itulah yang terjadi pada penduduk kota Ember.

Mereka tidak tidak mengetahui bahwa kota yang mereka tinggali adalah kota bawah tanah yang disiapkan oleh Para Pembangun (The Buliders) lebih dari 250 tahun yang lalu. Para Pembangun memperkirakan bahwa dalam kurun waktu tersebut permukaan bumi tidak akan bisa ditinggali karena perang dan bencana. Untuk menyelamatkan ras manusia,  mereka membangun sebuah kota bawah tanah lengkap dengan sumber tenaga (generator), persediaan makanan dan kebutuhan lainnya untuk kurun waktu 200 tahun.

Selain dari itu mereka juga mempersiapkan instruksi yang menjelaskan bagaimana caranya keluar dari Kota Ember. Instruksi tersebut diletakkan disebuah kotak terkunci yang akan terbuka secara otomatis pada tahun ke-200. Kotak tersebut dipindahtangankan dari walikota ke walikota berikutnya. Namun karena suatu intrik politik pada masa kekuasaan walikota ketujuh kotak tersebut tersembunyikan di lemari walikota tersebut. Kotak itu terbuka dengan sendirinya pada tahun ke-200, namun tidak ada yang memperhatikan kotak tersebut.

Di tahun ke-241 Kota Ember sudah berada dalam keadaan sekarat.  Generator sering mati untuk beberapa saat sehingga menyebabkan seluruh Kota Ember gelap gulita. Persediaan makanan dan lampu dan peralatan lainnya sudah sangat berkurang.

Pada umur 12 tahun anak-anak Kota Ember lulus dari sekolah dan mulai mengambil bagiannya dengan penugasan-penugasan tertentu. Lina Mayfleet mendapatkan tugas sebagai pembawa pesan sedangkan Doon Harrow mendapatkan penugasan sebagai pekerja perpipaan.

Suatu hari Lina mendapati adiknya Poppy yang sedang mengunyah sebuah kertas. Kertas tersebut berasal dari sebuah kotak aneh yang berada di lemari baju keluarga mereka. Karena tulisan dalam kertas tersebut bukan tulisan tangan melainkan cetakan, maka Lina menyimpulkan bahwa kertas itu berasal dari Para Pembangun. Lina tidak bisa memecahkan misteri tulisan apa yang tertera di kertas itu karena sudah berupa puzzle (hasil dikunyah Poppy), oleh karena itu ia memperlihatkannya kepada Doon untuk dipecahkan bersama.

Dimulailah petualangan mereka untuk mencari jalan keluar dari Kota Ember yang sekarat. Jika generator mati, maka seluruh kota akan berada dalam kegelapan total, tidak ada cahaya dan tidak ada listrik. Penduduk Kota akan mati secara perlahan-lahan.

Berhasilkan Lina & Doon mencari jalan untuk menyelamatkan penduduk kota mereka? You’ll know if you read it! (well.. unless you watch the movie, hehe).

Cerita ini menurut saya kretif walau ketegangan yang dibangun dalam cerita tidak sebagus filmnya (saya nonton filmnya duluan sih). Kebayang aja kalo di dunia nyata suatu ketika diramalkan akan terjadi bencana besar hingga permukaan bumi tidak mungkin lagi ditinggali. Ada ngga ya sekumpulan orang yang akan bikin tempat seperti Kota Ember? Hmm.. I wonder..

Interworld By Neil Gaiman and Michael Reaves

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 274 Halaman

Alih Bahasa : Tanti Lesmana

Terus terang saya makin suka nih sama karyanya Neil Gaiman. Kali ini Neil Gaiman membuat alam semesta yang terdiri berjuta miliar triliun bumi yang ada di berjuta miliar triliun dimensi yang secara keseluruhan dinamakan Altiverse.

Dalam Altiverse terdapat dua kubu kekuatan yang selalu bersaing dalam memperluas pengaruhnya. Kekuatan yang pertama dinamakan kubu Hex yang berbasis pada ilmu sihir. Hex dipimpin oleh sekumpulan orang yang menamakan dirinya Dewan Tiga Belas. Kekuatan yang kedua disebut Binary yang berbasis pada Ilmu Pengetahuan/Science. Binary dijalankan oleh kecerdasan buatan yang menyebut dirinya 01101. Masing-masing beradu kekuatan untuk mengendalikan Altiverse.

Untuk mencegah salah satu kubu mendapatkan kekuatan yang dominan, dibentuklah suatu organisasi yang dinamakan Interworld. Interworld adalah polisi alam semesta yang berusaha menjaga keseimbangan antara sihir dan science. Interworld beranggotakan sekumpulan pejalan antar dimensi, yaitu manusia yang bisa berpindah dari satu bumi ke bumi lainnya.

Joey Harker adalah salah seorang diantaranya, walau dia juga tidak menyadari kalo dirinya adalah pejalan antar dimensi sampai suatu hari dia secara tidak sengaja berjalan ke bumi yang lain dan mendapatkan kalau rumahnya bukan rumahnya dan di dunia yang lain itu dirinya sudah mati karena kecelakaan di air terjun niagara.

Joey nyaris saja ditangkap oleh kaum binary sebelum diselamatkan oleh seorang petugas Interworld yang bernama Jay. Jay ini adalah Joey yang berasal dari bumi yang lain.

Wait! Wait! Kenapa kaum binary berminat menangkap Joey? Sebenarnya kaum binary maupun hex sangat berminat untuk menangkap para pejalan antar dimensi. Kaum Hex merebus para pelintas dimensi (secara harfiah) dan menggunakan saripati para pejalan antar dimensi sebagai sumber energi perjalanan antar dimensi mereka dalam rangka memperluar wilayah kekuasaan. Kaum Binary membekukan para pelintas antar dimensi dan juga mengambil energinya untuk tujuan yang sama.

Joey Harker ternyata adalah seorang pelintas antar dimensi dengan kekuatan yang besar sehingga menjadi rebutan antara kaum Binary dan kaum Hex. Berhasilkan Joey dan Interworld menjaga keseimbangan di altiverse? Baca sendiri dong, hehe.

Buku ini adalah satu lagi kisah fantasi yang mengasyikan dari Neil Gaiman. Terjemahannya juga mumpuni sehingga kejelimetan dunia altiverse bisa dijelaskan dengan baik. If you love sci fi you should definitely read it.

PS : Kayaknya sebenernya bukunya Neil Gaiman kayak The Graveyard Book, Good Omens dan Interworld ini keren deh kalo dibikin film.

Catch 22 By Joseph Heller

Reviewed on : December 21st 2010

Butuh waktu yang agak lama buat saya untuk menyelesaikan buku ini. Pertama karena saya membaca versi e book nya di e book reader tersayang. Kedua, bacanya tandeman dengan banyak buku laen yang lebih “ringan”. Ketiga, banyak ke absud an dalam dialog dan jalan ceritanya.

Kenapa pengen baca buku ini ? karena judulnya sendiri sudah menjadi suatu istilah yang sering disebut-sebut di novel-novel lain yang saya baca. “ Catch 22”

Tentu saja selain dari novel ini termasuk ke dalam time 100 best novels.

Tokoh utama dalam catch 22 adalah seseorang bernama Yosarian. Seorang bomber pilots yang tampaknya satu-satunya orang waras dalam cerita tapi semua tokoh lain mengatakan dia tidak waras. Yosarian ingin sekali pergi dari medan perang, tidak peduli berapa misi yang dia jalankan. Keinginannya itu selalu terbentur suatu aturan “Catch 22”

Jadi apa sih catch 22 itu sodara-sodara ? Begini kurang lebih dialog dalam bukunya.

Catch-22. Anyone who wants to get out of combat duty isn’t really crazy. Catch-22 specified that a concern for one’s own safety in the face of dangers that were real and immediate was the process of a rational mind. Someone who was crazy could be grounded. All he had to do was ask; and as soon as he did, he would no longer be crazy and would have to fly more missions. He would be crazy to fly more mission and sane if he didn’t, but if he was sane he had to fly them. If he flew them he was crazy and didn’t have to; but if he didn’t want to he was sane and had to.

Jadi kurang lebih artinya suatu aturan atau kondisi yang bikin seseorang maju kena mundur kena (kok jadi kayak judul film dono).

Bukunya bagus, penuh sarkasme, biasanya saya demen banget buku model gini. Cuma ya itu, saya merasa dialognya banyak yang absurd dan tokohnya banyak banget. Jadi banyak kejadian yang bikin saya ngerasa “tunggu tunggu, tadi cerita awalnya apa ya, kok ujug-ujug sampe sini?”

Hehe. Atau memang saya nya yang kurang konsentrasi aja kali ya. Overall saya belum ngeh seluruhnya isi buku ini. Ntar mungkin kalo dibaca kedua kali baru lebih meresap, ;P

The Picture of Dorian Gray By Oscar Wilde

Reviewed on : November 2nd 2010

Udah lama sebenernya pengen me review buku ini. Baru kesampean sekarang setelah dibaca kedua kalinya. The Picture of Dorian Gray dari Oscar Wilde. Overall buku ini termasuk salah satu novel klasik favorit saya. Plus kisah hidup si pengarang yang ngga kalah sensasional dari bukunya.

Buku ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1891. Zaman dimana seseorang bisa dipenjarakan karena dia adalah seorang homoseksual. Itulah yang terjadi pada Oscar Wilde. Ketika awal penerbitannya buku ini dicap immoral oleh public. Tapi buku ini bertahan, dan sampai saat ini masih relevan dan dibaca banyak orang.

Menurut pendapat saya pribadi, buku ini menggali pemikiran kita sampe ke terowongan-terowongan yang tergelap. A little bit frightening, namun banyak banget kalimat quotable yang bisa bikin mikir.

Ada tiga tokoh sentral. Dorian Gray, yang pada awal cerita digambarkan sebagai pemuda yang teramat cakep, polos dan innocent yang baru saja memulai debutnya di masyarakat. Basil Hallaward, seorang pelukis yang amat memuja Dorian Gray, menganggap Dorian Gray sebagai sumber inspirasi lukisannya. Lord Henry, seorang bangsawan muda yang senang mencari kesenangan hidup dan berkesperimen dengan kepribadian manusia.

Dorian Gray pada awalnya menjadi model untuk Basil Hallaward, hingga pada suatu sore dia bertemu Lord Henry dan dicekoki pemikiran bahwa betapa masa muda dan kemudaan adalah segalanya dan harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk mencari kesenangan. Dorian mulai terpengaruh, dan ketika lukisan potret Basil Hallaward selesai sempat berucap “Aku cemburu pada lukisan ini, sementara aku akan bertambah tua dan keriput, lukisan ini akan tetap muda. Aku berharap aku akan tetap muda, dan lukisan inilah yang bertambah tua!”

Ntah gabungan dari ucapan Dorian, dan pengakuan Basil bahwa dia terlalu banyak mencurahkan jiwanya pada lukisan itu, keinginan Dorian tercapai. Suatu ketika Dorian Gray mengecewakan seorang wanita, dan wanita itu bunuh diri. Ketika dia menatap lukisan dirinya, ada sedikit raut kejam yang tergambar di lukisan itu. Lukisan itu berubah. Setiap perbuatan buruk yang dilakukan Dorian akan tergambar dalam lukisan tersebut, sedangkan Dorian akan tetap awet muda, tampan dan terlihat innocent.

Tahun demi tahun berlalu. Dorian bersahabat baik dengan Lord Henry, dan telah melakukan berbagai macam perbuatan buruk untuk mecari kesenangan hidup. Reputasinya menjadi buruk di mata masyarakat, namun tidak ada seorangpun yang akan percaya jika melihat Dorian secara langsung, karena dirinya tetap terlihat polos, dan seperti tidak mungkin melakukan dosa apa pun.

Sampai suatu saat Basil mendatangi Dorian untuk mengklarifikasi, apakah betul rumor yang sudah dia dengar. Malam itu Dorian kesal dan akhirnya menyalahkan Basil, karena lukisan itulah Dorian menjadi seperti sekarang. Alangkah kagetnya Basil ketika melihat bahwa sosok dalam lukisannya telah menjadi sosok jelek yang terlihat amat jahat dan culas. Dorian gelap mata dan akhirnya membunuh Basil.

Semejak kejadian itu Dorian menjadi tidak tenang, ditambah kenyataan bahwa seseorang tengah memburunya untuk membalas dendam. Akhirnya setelah melalukan sekian banyak dosa Dorian Gray ingin mulai hidup secara baik-baik. Sampai pada suatu malam dia menatap lukisan jeleknya, dan berpikir dia harus menghancurkannya. Lalu dia mengambil pisau dan menikam lukisan itu.

Malam itu para pelayan mendengar teriakan menakutkan. Ketika ditemukan sumber suara mereka menemukan seorang lelaki jelek buruk rupa yang mati tertikam di depan lukisan tampan tuan mereka.

“There’s no such thing as a moral or an immoral book. Books are well written, or badly written. That is all.”
– Oscar Wilde –

Good Omens By Neil Gaiman & Terry Pratchett

Reviewed on : October 26th 2010

Kayaknya saya ketagihan buku Neil Gaiman setelah baca Coraline dan The Graveyard Book. Yang akhir-akhir ini say abaca judulnya Good Omens. Kurang lebih ceritanya gini.

Pada tahun 1655 sedang musim-musimnya perburuan penyihir. Saat penyihir” lain mengeluarkan ramalan yang isinya umum-umum aja dan bisa ditafsirkan banyak versi, seorang penyihir bernama Agnes Nutter menulis ramalan yang isinya sangat terperinci akan datangnya akhir jaman ± 300 tahun yang akan datang. Buku ramalan agnes diwariskan turun temurun kepada keluarganya. Sampai kepada keturunan terakhirnya yang bernama Anathema (bahkan anathema dinamai anathema karena sudah dituliskan di buku ramalan agnes).

11 tahun sebelum akhir jaman. Skenario armagedon telah dimulai, sang antikritus telah lahir dan rencananya akan ditukar dengan bayi seorang politisi sehingga bisa dibesarkan di lingkungan yang berpengaruh. Petugas neraka yang diberi tugas bernama Crowley. Crowley sudah turun ke bumi semenjak Adam diusir dari Surga dan semenjak itu “bergaul” dengan manusia. Crowley berteman dengan seorang petugas Surga yang bernama Aziraphale yang juga berkeliaran di dunia manusia dengan samaran sebagai pemilik toko buku.

Pada saat pertukaran terjadi sebuah kesalahan fatal. Antikristus malah nyasar ditukarkan ke keluarga baik-baik dan biasa-biasa saja. Dia diberi nama Adam dan tinggal di sebuah kota kecil yang bernama Lower Tadfield.

11 tahun kemudian, 4 hari sebelum hari akhir. Menurut scenario, pada hari yang ditentukan ini anjing neraka akan muncul untuk membantu mewujudkan keinginan tuannya. Pihak Surga dan Neraka tidak sabar menunggunya muncul karena kedua belah pihak menginginkan perang. Crowley dan Aziraphale sudah ditugaskan untuk memantau kemunculan anjing neraka di pesta ulang tahun ke-11 anak sang politisi. Sebenarnya baik Crowley maupun Aziraphale merasa enggan akan datangnya armagedon dan perang besar antara Surga dan Neraka. Saat di tempat yang ditentukan anjing neraka tidak juga muncul, sadarlah meraka bahwa suatu kesalahan besar telah terjadi. Crowley disalahkan pihak Neraka dan mereka berdua sibuk mencari dimana sebenarnya sang antikristus berada.

Sementara itu di kota kecil bernama Lower Tadfield, seorang anak bernama Adam juga sedang berulang tahun ke-11. Adam sangat menginginkan seekor anjing peliharaan untuk ulang tahunnya ketika tiba-tiba seekor anjing menghampiri dan mengekornya kemana-mana (anjing neraka menyamar menjadi anjing peliharaan biasa karena tuannya menginginkan seekor anjing peliharaan biasa).

Hari H. Tanda-tanda kehancuran dunia yang sudah diramalkan agnes nutter bermunculan. Benua atlantis muncul kembali ke permukaan, mahluk luar angkasa berdatangan, pohon-pohon aneh muncul, ikan paus hilang dari lautan dan hujan ikan dimana-mana.

Sementara itu sejumlah besar bahan bakar reactor nuklir tiba-tiba menghilang dan tidak dapat dijelaskan hilang kemana. Empat penunggang kuda neraka, Perang, Kelaparan, Polusi dan Kematian telah datang untuk membantu antikristus.

Sementara itu Adam kecil sedang berada dalam posisi dilematis. Akankah dia mendengarkan bisikan dari dalam dirinya untuk menghancurkan dunia ?

Yang saya suka banget dari buku ini adalah tokoh Crowley dan Aziraphale yang tidak terlalu jahat dan juga tidak terlalu baik , ceritanya yang lucu dan sedikit menyentil dan tentu saja endingnya. Dan yang lucu pada halaman 89 : diceritakan tentang seorang penunggang kuda neraka yang bernama Polusi masih menyamar menjadi seorang yang bernama White.

Alkisah White sedang ada di sebuah tangker minyak menuju Tokyo. Dia baru saja menyebabkan tumpahan minyak besar namun seperti biasa tidak ada yang menyadari dan semua pihak sibuk saling tuduh. Disana dituliskan bahwa sementara semua pihak saling tuduh, White sudah ada di suatu kapal uap sewaan yang penuh mengangkut tong logam berisi obat pembasmi ilalang yang amat beracun menuju INDONESIA, hahahahaha….

The Graveyard Book By Neil Gaiman

Reviewed on : July 26th, 2010

His friends in the graveyard named him Nobody Owens. Graveyard ??? Yes he live in the graveyard ever since he was a toddler. He was raised by a ghost couple, Mr & Mrs. Owens and a somewhere in between creature, Silas.

His biological parents was killed when he was a toddler. He was saved by the ghost in the Graveyard. They decided to give the toddler The Freedom Of The Graveyard. Meaning as long as the boy remain within the graveyard, he is safe. People from the outside can not see him. Silas, The Honour Guard Creature swore to protect the boy until he was old enough.

So there it is. A human boy, living among the non living. Nobody Owens, that’s the name they gave him. They call him Bod. As he grow, the ghost invented as system to keep Bod educated. Once, they decide to listed Bod in a public school. But it turned out to be a bad decision, because sooner or later Bod will be noticed.

So, how did Bod survive ? Will the killer finally found Bod ? Read it yourself !! Hehe.

This is a great and adventurous book. Neil Gaiman is e great storyteller, though the story is a little bit “dark” but it was fun. The story is different and original. It was the kind of book that you couldn’t get it out of your head even though you’ve finished it for sometimes.

You should definitely read it !!

Negeri 5 Menara By A.Fuadi

Reviewed on : July 18th 2010

“Ada dua hal yang paling penting dalam mempersiapkan diri untuk sukses, yaitu going the extra miles. Tidak menyerah dengan rata-rata. Kalau orang belajar 2 jam, dia akan belajar 5 jam. Kalau orang berlari 2 kilo, dia akan berlari 3 kilo.

Resep lainnya adalah tidak pernah mengizinkan diri kalian dipengaruhi oleh unsur diluar diri kalian. Oleh siapapun, apapun dan suasana bagaiamana pun. Artinya jangan mau sedih, marah, kecewa dan takut karena ada factor dari luar. Kalianlah yang berkuasa terhadap diri kalian sendiri, jangan serahkan kekuasaan kepada orang lain. Orang boleh menodong senapan, tapi kalian punya pilihan untuk takut atau tetap tegar. Kalian punya pilihan di lapisan diri kalian yang paling dalam, dan itu tidak ada hubungannya dengan pengaruh luar.”

(Negeri 5 Menara)

2 paragraf dari 405 halaman buku ini sudah cukup untuk membuat saya memasukannya dalam kategori Worth To Read.

Eat, Pray, Love By Elizabeth Gilbert

Reviewed on : March 29th 2010

Akhirnya kebaca juga buku ini. Hmm.. Agak mengecewakan ternyata. Buku ini adalah memoir sang pengarang tentang beberapa episode penting dalam hidupnya. Alkisah Liz baru saja mengalami perceraian yang cukup ruwet lalu berturut-turut patah hati karena kisah cinta barunya gagal. Liz mengalami depresi sehingga tenggelam di suatu kondisi yang bernama melancholy.

Setelah mencari pertolongan, beranjak sembuh dan menyelesaikan perceraiannya Liz memutuskan untuk mengunjungi beberapa tempat. Italia (karena dia suka bahasanya), India (karena dia ingin datang ke Ashram untuk mendalami meditasi dan mencari ketenangan diri dan/atau Tuhan), Indonesia (karena undangan sekaligus premonition dari seorang Tabib di Bali)

Dan berkunjunglah dia ke tempat-tempat tersebut dan mengalami warna warni peristiwa. Terlintas di pikiran saya tentang Piramida Maslow saat membaca buku ini. This is a perfect sample (menurut saya loh) dimana seseorang yang physiological, safety, love/belonging dan esteem needs nya sudah terpenuhi akan beranjak ke tahap self actualization. Kenginan untuk mencari Tuhan, mengerti hidup dan mencari ketenangan diri adalah inti yang dicari oleh sang punya cerita. Satu hal penting yang menjadi kesimpulan dan pelajaran dari kisah ini adalah bahwa yang bisa menolong diri kita keluar dari keadaan buruk adalah diri kita sendiri.

Cara penulisannya pada beberapa bagian lumayan lucu. Mirip-mirip novel chicklit kalo menurut saya. Lumayan untuk mengisi waktu luang tapi over all menurut saya sih biasa aja. Buku itu seperti makanan yang enak ngga nya tergantung selera sang penikmat. Sepertinya buku ini bukan selera saya. Maaf penggemar Elizabeth Gilbert !!

The Palace Of Illusion By Chitra Banerjee Divakaruni

Reviewed on : February 1st 2010

Beginilah rasanya kalo membaca buku yang (menurut saya) menghanyutkan.. Begitu membuka halaman demi halaman apa yang terjadi di sekitar mengabur dan seperti terseret ke dalam dunia lain.. Padahal saya pertama kali buka halaman buku ini di atas bis damri menuju Bandung. Hehe.

Untuk yang tidak terlalu familiar dengan kisah Mahabharata, buku ini merupakan suatu adaptasi yang baik untuk memulai karena ceritanya mengalir dengan baik dan tidak se-jelimet kalo baca kitab aslinya.

Terdapat banyak sekali tokoh dalam epic Mahabharata ini, dan sang pengarang memilih untuk bercerita dari sudut pandang seorang perempuan yaitu Dropadi/Drupadi/Panchali. Akibatnya pernyataan, pemikiran dan perasaan yang sampai melalui buku ini “perempuan banget” tapi sama sekali tidak cengeng. Tentang perempuan yang terseret dalam “skenario sang waktu”, bukannya kita semua seperti itu ya.. Walau tidak semaha dasyat kisah Drupadi.

Jadi inget di salah satu postingan dimana saya pernah nulis betapa kita ini hanya setitik debu di padang pasir yang dinamakan nasib dan takdir. Yah yah yah, jadi menyimpang kan ceritanya.

Drupadi adalah seorang perempuan yang unik di zamannya, bukan hanya karena dia terlahir dari api dan diramalkan akan merubah jalannya sejarah tetapi memang karena keingintahuannya, tindakannya dan temperamennya yang cepat panas sehingga membuat dia “stand out” dan berbeda dari perempuan-perempuan lainnya.

Menjelang dewasa ayah drupadi sang puteri kerajaan Panchala mengadakan sayembara untuk para raja. Sang pemenang boleh memboyong sang puteri sebagai istri. Sebenarnya ini adalah suatu taktik untuk mendapatkan sekutu (ah ya banyak pelajaran politik dalam cerita ini).

Drupadi hampir saja diperistri oleh seorang anak kusir kereta yang sekarang menjadi raja Angga yang bernama Karna, namun demi meredam konflik yang nyaris melibatkan kakaknya. Drupadi melontarkan pertanyaan yang membuat Karna mundur, merasa sakit hati dan menaruh dendam pada Drupadi (Ah ya, banyak sekali dendam diumbar dalam cerita ini).

Akhirnya yang menjadi pemenang adalah Arjuna, salah satu dari kelima bersaudara Pandawa. Karena sesuatu pernyataan Sang Bunda Pandawa bersaudara yang tidak bisa ditarik lagi maka Drupadi pun terpaksa harus menjadi istri dari kelima Pandawa bersaudara itu.

Diboyonglah Drupadi ke istana Hastanipura. Karena tidak betah di istana yang dipenuhi dengan para Kurawa yang terdiri dari 100 bersaudara dengan saudara tertuanya Durdoyana (para Pandawa dan Kurawa bersepupu tapi bersaing dalam memperebutkan tahta) akhirnya para Pandawa diberi jatah suatu lahan yang gersang dimana mereka diperkenankan memerintah. Disanalah mereka membangun The Palace Of Illusions yang akhirnya menjadi negeri yang makmur.

Dalam suatu perjamuan Yudhistira, kakak tertua para Pandawa yang paling jujur dan lurus digoda (saya tidak bisa menahan diri untuk memikirkan cerita Nabi Adam yang digoda setan) untuk bermain dadu dengan Durdoyana dan (dengan bodohnya) mempertaruhkan seluruh kerajaannya, saudara-saudaranya bahkan Drupadi. Kejadian itu berakhir dengan dipermalukannya Drupadi di depan umum. Saat itu Drupadi mengucapkan sumpah bahwa dia tidak akan tenang sampai bisa mencuci rambut dengan darah para Kurawa (Ah ya cerita ini penuh dengan sumpah serapah yang selalu terjadi).

Setelah peristiwa pengasingan dan penyamaran terjadilah perang akbar antara para Pandawa dan Kurawa. Tertumpaslah para Kurawa. Namun ntah kenapa saya merasa tidak ada yang menang dalam hal ini karena pada akhirnya para Pandawa yang telah memegang kekuasaan pun dihantui rasa bersalah dan merekapun kehilangan banyak hal. Termasuk Drupadi.

Major Moral of the story menurut saya : dendam tidak akan membawa kita kemanapun_tidak juga ke perasaan damai ketika dendam itu sudah dibalaskan, tahanlah apa yang ingin diucapkan jika sedang marah karena kemungkinan besar kita akan menyesalinya.