Tebal : 387 Halaman
Awalnya saya kira buku ini bergenre romance, ternyata oh ternyata bukan. Hehe. Terus terang naksir buku ini karena judulnya, cover depannya dan sinopsis di belakangnya yang menggoda buat baca lebih lanjut. Ternyata cukup worthed untuk dibaca. Saya selalu suka buku yang bercerita tentang persahabatan. Those kind of story never failed to bring a warm feeling to my heart.
Alkisah kedua bocah yang tinggal di daerah Pantai Lovina, Singaraja, Kabupaten Buleleng Bali. Yang satu bernama Samihi, ayahnya berasal dari Sumatra dan telah dua puluh tahun lebih tinggal di Singaraja. Singaraja adalah salah satu daerah di Bali dimana kebanyakan penduduk muslim bermukim. Kakak laki-laki Samihi tewas tenggelam di laut, oleh karena itu Ibundanya melarang Samihi untuk mendekati laut. Tidak lama kemudian Ibunda Samihi pun meninggal dunia. Meninggalkan ia, ayahnya dan adik perempuannya Syamimi.
Bocah yang satu bernama Wayan Manik atau seringkali dipanggil Yanik. Yanik beberapa tahun lebih tua dari Samihi. Ia menjadi putus sekolah karena Ibunya telah sakit2an dan tidak mampu lagi membiayai. Ayah Yanik bekerja di Legian, sudah menikah lagi dan menetap disana. Meninggalkan Yanik dan Ibunya menghadapi hidup berdua. Yanik membiayai hidup mereka berdua dengan menjadi tour guide untuk turis2 asing yang berminat snorkling dan menonton lumba2 yang memang sekali2 terlihat di Pantai Lovina. Itulah mengapa sebabnya Yanik sangat mencintai lautan dan terobsesi pada ikan lumba-lumba. Hehe.
Samihi bertemu Yanik karena suatu hari Yanik membelanya dari bocah-bocah berandalan yang bermaksud merebut sepeda Samihi. Semenjak saat itu mereka berdua seringkali menghabiskan waktu bermain bersama. Perbedaan agama sama sekali tidak menghalangi mereka untuk menjalin persabatan. Bahkan dengan kondisi seperti itu mereka belajar untuk saling mentoleransi satu sama lain. Sebagaimana umumnya masyarakat Hindu dan Muslim di Singaraja hidup berdampingan dalam kondisi yang rukun.
Suatu ketika Samihi memiliki keinginan untuk mengikuti perlombaan mengaji. Ketika menunjukkan kebolehannya kepada Yanik yang Samihi dapatkan adalah cemoohan. Namun Yanik tidak semata-mata mengejek, ia pun kemudian membantu Samihi untuk memperindah kemampuan mengajinya dengan mendorong Samihi untuk mempelajari kesenian bernyanyi khas Bali yang bernama Merkidung.
Bersamaan dengan proses belajar Samihi, ternyata Yanik selama ini menyimpan rahasia gelap yang membuat dirinya luar biasa terbebani.
“Ketika hari ini Yanik membuka rahasianya padaku, yang terlintas dikepalaku adalah ia sudah terlalu lelah menyimpan rahasia. Terlalu banyak kesedihan yang ia rasakan. Saat ini, ia membutuhkan rasa lega dengan membiarkan rahasia itu terbuka kepadaku.”
Terungkapnya rahasia Yanik yang cukup menggemparkan masyarakat berlangsung bersamaan dengan kejadian bom bali di Legian. Keharmonisan toleransi antar agama di Singaraja pun mulai sedikit terganggu. Samihi merasa bersalah karena ketakutannya pada air menyebabkan Yanik tertimpa bencana lebih lanjut.
“Tuhan tengah menguji kami dengan takdirnya yang tak bisa diterka.”
Pada saat itu, berkat bantuan Yanik, Samihi terpilih untuk mewakili Singaraja untuk mengikuti lomba Sekabupaten Buleleng. Telah 3 bulan Samihi tidak bertemu dengan Yanik. Seketika sebelum mengikuti lomba tiba2 Samihi meragukan kemampuannya sendiri. Di saat itu, seperti sudah meramalkan suasana hati Samihi, Yanik tiba-tiba muncul untuk memberinya semangat.
“Suatu saat aku pasti melihat kau mengalahkan laut. Berselancar, snorkeling, seperti anak-anak Singaraja lain. Samihi jangan pernah takut lagi, karena Tuhan akan menjaga dan melindungi orang-orang yang selalu berdoa.”
Samihi bahagia sekaligus sedih luar biasa. Bahagia karena memenangkan lomba. Sedih luar biasa karena melalui kalimat di atas Yanik mengucapkan kata perpisahannya. Itu adalah pertemuan terakhir Samihi dengan Yanik.
Demi Yanik, Samihi berusaha sekuat tenaga untuk melawan ketakutannya hingga ia berada di posisi yang ia sendiri tidak pernah impikan. Semua karena Yanik. Jika bukan karena dorongan Yanik, Samihi tidak akan berani mengambil langkah pertamanya. Langkah pertama yang kelak akan membawanya menuju jalan hidup yang tak terbayangkan.
“Rasa takut adalah belukar yang siap membelit siapa saja yang membiarkan dirinya dicekam perasaan itu.”
Akankah Samihi dapat mengucapkan terimakasihnya kepada Yanik. Huaaaa. Walaupun saya sangat menyukai tema persahabatan, ending buku ini sangat menyakitkan sehingga saya mendiskon bintang buku ini di goodreads dari 4 bintang jadi 3 bintang saja. Terlalu menyedihkan ah karena sebenarnya selalu ada kemungkinan. Intinya, for me the ending is not acceptable. Fighters never give up.
“Tak ada yang lebih berat dan rumit selain menyembunyikan rasa sayang di depan orang yang dicintai. Menahan diri mengungkapkan isi hati, terkadang merupakan kemustahilan yang menyakitkan.”
Tags: Erwin Arnada



udah mau masuk wishlist karena temanya yang tentang persahabatan tapi berhubung akhirnya sad ending…. mikir lagi deh… sering nggak kuat baca yang sad ending…
Kikikik, aku juga lg ga kuat sm sad ending put. Pasti pengen nangis, udah gt kesel. Hehe.
wahhh ternyata sad end yaa :’< padahal ud ad rencana mau baca bulan marett
*terlanjur beli*
Ndapapa stef, akunya aja yg lg sensi sm sad ending, hehe..
aku suka covernya… pengen baca setelah baca review temen2 ;D
Iya covernya bagus, bertekstur gitu, hehe. Happy reading kalo begitu
tertarik sama buku ini karena nama Erwin arnada-nya. Trus wkt di gramed, sempat ngintip endingnya dan memutuskan batal beli. Daripada makin galau habis baca
. Nunggu filmnya aja deh
Hahaha, aku malah ngga ngeh sama siapa pengarangnya. Setelah bc ucapan terimakasih baru tau, hehe. Huaaaa, udah ngintip belakangnya ternyata
nama tokohnya lucu :’D
Hehehe.. Unik kali ya..
Sad ending. Seperti karya habiburahman el syirazy: pudarnya pesona cleopatra. Jadi kebawa sedih. Jd males baca lg.
Hehehe.. Iya ya? Saya malah belum pernah baca buku pesona cleopatra.. Tapi emang kalo ktemu sad ending moodnya lg ngga tepat suka bikin keki, hehe