Madre By Dee

22 Jul

Penerbit : Bentang Pustaka

Tebal : 162 Halaman

Sudah cukup lama saya menunggu karya baru Dee. Senang rasanya buku barunya yang berjudul Madre ini sudah ditangan dan saya lalap habis kurang dari satu jam. Hehe. Buku ini ternyata adalah kumpulan 13 campuran cerpen dan puisinya Dee antara tahun 2006 – 2011.

Secara overall saya merasa jauh lebih dahsyat Rectoverso daripada Madre. Di Rectoverso hampir di setiap kisah saya merasa terseret masuk ke dalam dunia ciptaan Dee. Namun Madre ini cukup mengobati rasa kangen saya terhadap karya-karyanya.

Diantara puisi-puisi yang ada dalam buku ini, saya paling terkesan dengan Percakapan di Sebuah Jembatan :

Berdua kami melintasi jembatan sejarah

Tahun-tahun yang berhiaskan putih harapan dan merah darah

Dan aku bertanya : apakah yang sanggup mengubah gumpal luka menjadi intan

Yang membekukan air mata menjadi kristal garam?

Sahabatku menjawab : Waktu

Hanya waktu yang mampu”

Sedangkan untuk Cerpennya saya sangat kesengsem (bahasa apa pula ini) sama Madre. Kisah singkat ini kocak sekaligus menyentuh. Alkisah seorang pria keturunan India bernama Tansen yang hidup bebas di Bali sebagai freelancer tiba-tiba mendapat warisan dari seseorang pria tua beretnis Cina yang bernama  Tan Sin Gie.

Tansen pun berangkat ke Jakarta untuk mengobati penasarannya. “Siapa dia?, Kenapa Aku?” Pikir Tansen. Di pemakaman orang tua tersebut Tansen bertemu dengan seorang pengacara keluarga. Warisan Tansen adalah sebuah amplop yang berisi sebuah alamat. Tansen pun diantar oleh pengacara tersebut ke alamat yang dimaksud.

Ternyata alamat tersebut adalah alamat sebuah gedung tua yang kondisi luarnya sudah memprihatinkan. Disana ia bertemu dengan orang tua bernama Pak Hadi yang menjaga gedung tersebut. Dari Pak Hadi ia mengetahui asal muasal keluarganya yang sebenarnya dan bahwa ternyata warisannya adalah setoples adonan biang roti berumur 70 tahun yang diperlakukan sebagai manusia dan diberi nama Madre. Mau tidak mau saya dibuat tertawa terkekeh-kekeh membaca cerita ini.

Tawaku menyembur. Akhirnya kutemukan kelucuan dari semua ini. Telah kusebrangi lautan, menemui orang-orang asing yang tiba-tiba mengobrak-abrik garis hidupku, menguak sejarah orang-orang mati yang tak mungkin bangkit lagi, dan satu-satunya yang tersisa dari rangkaian drama itu adalah satu toples adonan roti?

Banyak dialog-dialog lucu antara Tansen dan Pak Hadi. Dee menggambarkan perbedaan generasi dan kebudayaan dengan menghibur. Pak Hadi yang tidak bisa membedakan antara Warnet dengan Wartel ataupun Pak  Hadi yang tidak bisa mengerti bagaimana caranya internet bisa menghubungkan orang-orang versus Tansen yang rutin menulis di sebuah blog. Sungguh membuat senyum-senyum sendiri. Di tangan Dee perbedaan generasi dan budaya menjadi potensi untuk saling melengkapi. Apa yang akan Tansen lakukan dengan si Madre? Baca aja sendiri yaaaa.. Dijamin seru deh, hehe.. Cerpen lain yang cukup berkesan untuk saya mungkin yang berjudul Semangkok Acar Untuk Cinta dan Tuhan. Walaupun cuman empat halaman, cerpen yang ini mungkin yang paling “menggigit” diantara yang lainnya.

Oiya, satu lagi self dialogue menarik Tansen ketika bertemu dengan seorang perempuan bernama Mei yang ia kenal lewat blog :

Sejauh ini Mei sesuai dengan gambaran yang kusimpulkan saat membaca pesannya di blog dan berbicara dengannya di telpon. Seperti banyak orang Jakarta yang kutemui, ia pun dijangkiti semacam keresahan yang khas, yang membuatnya berbicara cepat, bergerak cepat, dan saat duduk pun kakinya bergoyang-goyang seperti diatas pedal mesin jahit. Orang-orang Jakarta ini, mereka seperti selalu overdosis kafein.

Hehehe.

About these ads

20 Responses to “Madre By Dee”

  1. ana July 22, 2011 at 11:39 AM #

    belom pernah baca rectoverso jadinya ngga tahu perbandingannya kaya apa sih mba.. tapi kalo dibandingin sama FilKop bagusan mana mba?
    aku pribadi karena promosinya heboh gitu, jadi malah rada males buat beli.. *menjauh dari keramaian.* hehehe

    • annisaanggiana July 22, 2011 at 11:47 AM #

      Kalo dibandingin Madre secara keseluruhan bagusan filosofi kopi sih na.. Rectoverso itu lebih bagus dari filosofi kopi menurutku.. Jadi kalo mau baca aku saranin rectoverso dulu, hehe

  2. miamembaca July 22, 2011 at 11:40 AM #

    Buku yang lagi panas-panasnya nih :) Respon pembaca beragam, mulai dari yang suka banget sampai yang biasa-biasa saja. Tapi menurut saya se’biasa-biasa’nya dee tetap mampu membius pembaca.

    Membaca sepenggal paragraf yang waktu di atas bikin nyesek. Bagus! Ah, andainya saya bisa merangkai kalimat seindah dee *ya jadi penyair kalee ga jadi drg* :p aduh maaf OOT Annisa, hehehe.

    Reviewmu bagus, as always :) btw dibaca cuma sejam, tipis banget brati? beda sama Rectoverso.

    • annisaanggiana July 22, 2011 at 11:49 AM #

      Iya termasuk tipis, hehe.. Tul banget mi, sebiasa-biasanya tulisan Dee tetep bikin kangen ;) dan kayaknya satu cerpen Madre itu udah bikin buku ini worthed buat dibaca :)

  3. helvry sinaga July 22, 2011 at 11:58 AM #

    wah saya ketinggalan.
    lagi ngelirik temen sekantor untuk pinjemin buku ini.
    geli aja pas bagian “orang jakarta kelebihan kafein”
    aku bukan merasa orang jakarta sih, tapi ngerasa bikin kopinya mpe dua sachet sekali minum. ahahaha

    • annisaanggiana July 22, 2011 at 12:07 PM #

      Kakakakak.. Aku juga ngerasa sedikit tertohok dengan paragraf itu karena suka merasa diri overdosis kafein ;) *ayo bajak bukunya dari temen kantormu* ;)

  4. riana July 23, 2011 at 10:14 PM #

    aku juga baru kelar baca buku ini, bukan karena ikut2 keramaian tapi karena aku memang sukaaa banget sama karya2 Dee dan cerpen Madre ini benar2 ‘membius’, kelar baca jadi pengen punya toko roti, hehe…

    • annisaanggiana July 24, 2011 at 2:46 PM #

      Bener banget!! Kalo aku jadi pengen makan roti. Kayaknya Roti2 bikinan Pak Hadi & Tansen dkk itu enak banget sampe ikut ngiler, hehehe..

  5. maya July 27, 2011 at 8:01 AM #

    pengen baca buku ini. tapi belum cek di gramedia banjarmasin sudah masuk atau belum :)
    di twitter madre sempat heboh banget ya promonya :D
    tapi halamannya tipis amat ya mbak kalo 162 itu… mikir lagi deh buat beli. hehehe

    *tukeran link yuk mbak :)

    • annisaanggiana July 27, 2011 at 8:04 AM #

      Iya may, di twitter promonya rame. Aku jg mesennya dari bukabuku.com karena emang nge fans sama karya2nya Dee. Iya bukunya termasuk tipis, nunggu dapetnya lama tapi bacanya bentar. Hehe. Tapi cerpen Madre nya mantep kok ! :) :) ok deh blogmu aku taro di blogroll ku yaaa.. :) :)

  6. Novita July 28, 2011 at 11:37 PM #

    belum pernah baca karya Dee, tapi lagi mupeng berat. rectoverso cuma punya mp3 nya itupun donlod #eeaaa
    baiklah kayaknya emang kudu menoleh pada karya penulis indo,paling sering disebut sih emang Dee yah..

    • annisaanggiana July 29, 2011 at 8:12 AM #

      Yang ke kini an sih emang aku paling suka Dee.. Tapi masih banyak kok penulis Indonesia yang OK !! Andrea Hirata, Tere Liya, Tasaro GK, A.Fuadi..

  7. arnissilvia August 2, 2011 at 12:17 AM #

    Hai annisa.. Aku juga Deeholic! Dan menurutku, Filosofi Kopi memiliki kesamaan “genetik” yang lebih dekat dengan Madre ini :)
    Quote favoritku:

    “Saya menetap di kota yang paling saya hindari. Bekerja rutin di satu tempat yang sama setiap hari. Ternyata sampai hari ini saya masih waras. Saya rindu pantai. Tapi pantai tidak perlu menjadi rumah saya. Rumah adalah tempat dimana saya dibutuhkan.”

    Dee – Madre (hal.71)

    “Itulah cinta. Itulah Tuhan. Pengalaman, bukan penjelasan. Perjalanan, bukan tujuan. Pertanyaan, yang sungguh tidak berjodoh dengan segala jawaban.”

    Dee – Semangkok Acar untuk Cinta dan Tuhan (hal.103)

    Aku juga nulis review lancang untuk madre ini, kalau berkenan, boleh mampir :)

    http://blog.beswandjarum.com/arnissilvia/?p=1190

    • annisaanggiana August 2, 2011 at 10:50 AM #

      Hellow arnis, seneng ketemu sesama penggemar Dee. Aku suka banget quote yang semangkok acar untuk cinta dan Tuhan :)
      Makasi udah berkenan mampir. Aku berkunjung balik ya :)

  8. peri hutan August 24, 2011 at 1:00 PM #

    kalau di Rectoverso aku hanya menyukai satu cerita yang lagunya “malaikat juga tahu, siapa yang jadi juaranya” hehehe. Kalau di Madre ini hanya ada dua yang aku suka Madre dan Menunggu Layang-layang, membekas sekali sehabis membacanya :)

    • annisaanggiana August 24, 2011 at 1:04 PM #

      Apalagi Madre ya!! Sampe-sampe aku ikutan laper pengen makan roti, hehehe :)

  9. peri hutan August 24, 2011 at 1:08 PM #

    yub, baru tahu tentang seluk beluk roti dan adonan biang (eh beneran ada nggak sih?) hehehe

    • annisaanggiana August 24, 2011 at 1:10 PM #

      Beneran ada adonan biang ini de, kaldu yang biangnya itu (yg dijadiin kuah sup) beneran ada di dunia kuliner ;)

  10. peri hutan August 24, 2011 at 1:12 PM #

    oh kaldu toh, tapi bener itu disimpan selama bertahun-tahun malah enak mb? kayak wine gitu ya?

    • annisaanggiana August 24, 2011 at 1:17 PM #

      Biang Roti and Biang Kaldu itu emang beneran ada. Konon katanya siy emang jauh lebih enak, aku juga belum pernah nyoba *nah kan jadi ngiler bayanginnya*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 896 other followers

%d bloggers like this: