Divergent By Veronica Roth

25 May

20130525-104404.jpgPenerbit : Katherine Tegen Books

Tebal : 487 Halaman

Our dependents are now sixteen. They stand on the precipice of adulthood, and it is up to them to decide what kind of people they will be. Decades ago our ancestor realized that it is not political ideology, religious belief, race, or nationalism that is to blame for a warring world. Rather, they determined that it was the fault of human personality-of humankind’s inclination toward evil, in whatever form that is. They divided into factions that sought to eradicate those qualities they believed responsible for the world’s disarray.

Those who blamed aggressions formed Amity.

Those who blamed ignorance became the Erudite.

Those who blamed duplicity created Candor.

Those who blamed selfishness made Abnegation.

And those who blamed cowardice were the Dauntless.

For me, to start reading an unfinished series always create an agony. Especially dystopian series like this one, in which by the time you close the last page, your hand will itch to get the next book. :)

Saya baca langsung dari buku satunya ini ke buku selanjutnya yang judulnya Insurgent. Itu juga begitu beres gemes bukan alang kepalang karena penasaran. Berhubung buku penutup dari seri ini (Allegiant) bakalan terbit di 2013 dan saya baru aja Pre Order (yes, I am that sick ;p) jadi yuk mari saya cerita sedikit soal buku satunya dulu, Divergent.

Seperti yang dijelaskan di quote awal, masyarakat di dunia Beatrice Prior, sang heroine kita dibagi kedalam lima kelompok. Amity, Erudite, Candor, Abnegation dan Dauntless. Penentuan dilaksanakan ketika anak2 mencapai umur 16 tahun.

Sebelum upacara penentuan, setiap anak diassessment kecenderungan sikapnya melalui suatu simulasi. Dari petugas simulasinya Beatrice menerima sebuah rahasia bahwa dirinya berbeda, hasil simulasinya tidak bisa disimpulkan.

Ia bisa memilih diantara tiga kelompok Abnegation, Dauntless dan Erudite. Orang2 seperti itu dinilai memiliki kecenderungan berbahaya karena tidak terkendali, karena itulah Beatrice tidak diperkenankan menceritakan hasil aptitude test nya kepada siapa pun. Orang2 dengan hasil seperti Beatrice, mereka disebut dengan istilah Divergent.

Dalam upacara penentuan, para anak remaja dipersilahkan untuk memilih kelompok yang sesuai dengan hasil aptitude test dan juga prinsip/ keinginan mereka, pilihan itu dinyatakan dengan meneteskan darah mereka ke salah satu simbol dari lima kelompok yang ada.

Setelah memilih, anak2 tersebut akan di didik menurut cara masing2 kelompok. Anak yang memilih kelompok yang sama dimana ia dibesarkan akan masih dapat bertemu dengan keluarganya. Namun anak yang memilih kelompok yang berbeda dari tempat ia dibesarkan harus meninggalkan keluarganya dan setia pada kelompok yang dipilih. Faction before blood. Begitulah motto yang dianut.

Working together, these five factions have lived in peace for many years, each contributing to a different sector of society. Abnegation has fulfilled our need for selfless leaders in government; Candor has provided us with trustworthy and sound leaders in law; Erudite has supplied us with intelligent teachers and researchers; Amity has given us understanding counselors and caretakers; and Dauntless provides us with protection from threats both within and without. In our factions, we find meaning, we find purpose, we find life.

Lalu apa yang terjadi dengan Beatrice di upacara pemilihan. Setelah cukup tercengang dengan kakaknya yang memilih Erudite alih2 kelompok asal mereka Abnegation, Beatrice ternyata melakukan hal yang sama dengan memilih Dauntless. Hari itu kedua orang tua mereka harus merelakan kedua anaknya mempunyai keluarga baru.

Those who want power and get it live in terror of losing it. That’s why we have to give power to those who do not want it.

Singkat kata, anak muda Dauntless adalah sekelompok daredevil yang dengan berbagai cara mencoba menguji “keberanian” para anak baru dengan tantangan yang penuh bahaya. Selain itu mereka juga berlatih kemampuan fisik dengan pertarungan satu lawan satu, menggunakan senapan, melempar pisau dan juga berlatih untuk menghadapi hal yang paling ditakuti melalui sebuah simulasi psikologis.

Persaingan pun sengaja diciptakan antara para anak baru. Setiap latihan memiliki skor sendiri untuk setiap anak.
Needless to say that from that point on the competition tends to get dirty.

Human reaction can excuse any evil; that is why it’s so important that we don’t rely on it.

Perlahan-lahan, Tris (panggilan Beatrice semenjak bergabung dengan Dauntless) menyadari bahwa kelompok2 yang sekarang ini ada sudah banyak menyimpang dari tujuan awal mereka dibentuk. Dari dalam kelompok Dauntless ia menyaksikan sendiri hal itu. Dauntless yang didirikan dengan prinsip “We believe in ordinary acts of bravery, in the courage that drives one person to stand up for another”, telah sedikit banyak mengabaikan idealisme mereka.

Ujian paling menantang dari inisiasi para Dauntless muda justru adalah ujian psikologis. Setiap anak disutik oleh suatu serum, lalu mereka masuk ke suatu ruangan. Serum tersebut akan memancing setiap anak untuk berhadapan dengan hal yang paling ditakutinya. Apa yang dilihat oleh setiap anak dapat dilihat dari tim penilai melalui layar, dan disitulah setiap anak dinilai dalam menghadapi ketakutan terbesarnya.

Dari ujian itu pula Tris mengetahui bahwa dirinya bisa memanipulasi jalannya simulasi. Serum simulasi tersebut tidak mempan padanya. Tris mampu menyadarkan dirinya bahwa itu adalah simulasi dan menenangkan dirinya sendiri. Situasi itu menyebabkan Tris menjadi menonjol diantara initiates lainnya. Tris dapat melalui simulasi tersebut dengan waktu tersingkat.

It’s when you’re acting selflessly that you are at your bravest.

Tris menjadi salah satu initiates dalam peringkat teratas. Sepanjang masa pendidikannya Tris menjalin kedekatan dengan seorang senior yang dijuluki Four. Four yang merupakan rival salah satu pemimpin muda Dauntless yang keji bernama Eric.

Bersama-sama dengan Four, kejadian demi kejadian menunjukkan bahwa fakta bahwa dirinya adalah seorang Divergent adalah kenyataan yang membahayakan. Banyak orang memberikan Tris peringatan. Sesuatu sedang terjadi diluar, ketegangan antar kelompok terasa hingga kalangan initiates.

Apa yang terjadi sebenarnya? Mengapa para Divergent berada dalam bahaya? Dijamin begitu nutup buku ini, anda pasti grabak grubuk mencari buku berikutnya. Hehehe.

I love Dystopians genre!! 5 dari 5 bintang untuk Divergent!!

13 Reasons Why By Jay Asher

22 May

20130522-114648.jpgPenerbit : Matahati

Alih Bahasa : Mery Riansyah
Tebal : 275 Halaman

You don’t know what goes on in anyone’s life but your own. And when you mess with one part of a person’s life, you’re not messing with just that part. Unfortunately, you can’t be that precise and selective. When you mess with one part of a person’s life, you’re messing with their entire life. Everything.. affects everything..

Udah lama banget rasanya saya beli buku ini. Ntah kenapa baru kesamber dari rak buku minggu kemaren. Agak berat buat saya baca karena temanya yang agak kelam. Tapi kelar juga, walaupun dengan perasaan geram karena tidak ada yang mengulurkan tangan untuk Hannah Baker.

Ya, dari awal cerita, kita sudah diberi gambaran jelas jika tokoh utama kita, Hannah Baker, telah meninggal. Pada suatu hari Hannah memutuskan lelah hidup dan menelan satu botol pil agar bisa tertidur sampai alam yang lain.

Lalu bagaimana caranya kita mengenal Hannah? Jangan salah, Hannah meninggalkan warisan agar setiap orang yang terkait pada bola salju yang memojokkannya tahu bahwa mereka telah mengacaukan hidup Hannah.

Warisan itu berupa 7 kaset rekaman yang dinarasikan sendiri oleh Hannah Baker. Didedikasikan untuk 13 orang yang berperan hingga Hannah mengambil keputusan yang akhirnya dia ambil.

Kaset-kaset itu dikirim Hannah ke orang pertama di hari terakhir dalam hidupnya. Dalam instruksi Hannah, orang pertama harus mengirimkan kaset-kaset itu ke orang berikutnya yang disebut dalam cerita Hannah setelah namanya sendiri. Jika seseorang gagal meneruskan, maka Hannah memiliki rencana cadangan untuk memastikan pesan berantainya diteruskan sampai orang terakhir.

Pada suatu hari Clay Jensen menerima paket seukuran kotak sepatu itu di depan pintu rumahnya. Clay mengenal Hannah, tentu saja. Clay telah lama tertarik pada Hannah, namun Clay tidak pernah punya keberanian. Hingga pada akhirnya pada suatu pesta Clay berani menyapa Hannah. Hanya saja sesuatu terjadi, dan semenjak itu Hannah menghindari Clay.

Bisakah anda membayangkan mendengar suara seseorang yang telah meninggal dunia di dalam kaset rekaman? Bukan hanya seseorang, tapi anda mengenalnya, memperhatikannya dari jauh, menyukainya. Dan di rekaman itu anda mendengar rangkaian kisah bagaimana seseorang itu telah diperlakukan semena-mena, dihakimi dan reputasinya sedikit demi sedikit dirusak oleh orang-orang yang menganggap bahwa hal itu adalah biasa saja untuk dilakukan. Hanya bahan bercandaan biasa.

Clay muntah mendengarnya.

Bahkan saya pun marah mendengarnya. Keseluruhan isi cerita ini adalah gambaran memuakkan tentang bagaimana dengan mudahnya manusia menghakimi manusia lainnya, dengan mudahnya menyebarkan rumor dan kebohongan tentang manusia lain untuk melindungi reputasinya sendiri tanpa memikirkan apa akibat dari kata-kata yang telah dikeluarkan.

I hate those kind of people ’cause I’ve been there. Those sick selfish people who didn’t use neither their brain nor their heart before saying something about other people.

Sadly, Hannah tidak mendapatkan pertolongan yang saya dapatkan. Tidak ada yang mengulurkan tangan untuknya. Dalam posisi seperti Hannah, menemukan satu saja orang yang percaya apa yang kita katakan dapat membuat kita berdiri lebih tegak. I have more than one hand that reach me in the time I need it badly, whereas she had none. Poor Hannah.. Poor lonely Hannah..

Pada beberapa titik cerita saya merasa Hannah memang tidak cukup berusaha meminta tolong. Padahal ternyata ada orang-orang yang memperhatikan Hannah dengan tulus, andai saja Hannah lebih membuka dirinya.

Hhhhhh.. Cerita ini memang kelam untuk dibaca, namun penting agar kita lebih memiliki kesadaran untuk menggunakan perasaan dalam berinteraksi dengan orang lain. Berlatihlah untuk menempatkan diri di posisi orang lain. Jangan memperlakukan orang lain dengan cara dimana kita sendiri tidak ingin diperlakukan seperti itu.

Have a heart, be grateful, and live with it every second of your day.

4 dari 5 bintang dari saya untuk buku ini. Pesannya yang realistis sangat saya rekomendasikan untuk dibaca. And very well translated by teteh Mery Riansyah. :D

Miracle Journey By Yudhi Herwibowo

17 May

20130517-064014.jpgPenerbit : Elex Media Komputindo
Tebal : 172 Halaman

Lalu apa yang bisa engkau ceritakan tentang jejak-jejak yang terlihat di jalan setapak, dan pelan-pelan hilang tersapu angin? Sebagai pengingat kita untuk tak lagi melihat ke belakang?

Saya pernah membuat review buku Perjalanan Menuju Cahaya dimana di dalam ceritanya terdapat legenda tentang Kitta Kadafaru dari desa Kofa. Desa Kofa yang indah dan memiliki empat mata air semenjak Kitta lahir. Kitta yang dapat menyembuhkan orang lain dengan cahaya yang ada di telapak tangannya.

Lalu suatu hari Kitta Kadafaru muda meninggalkan Kofa, dan mulai saat itu Kofa kembali menjadi desa yang gersang seperti desa-desa sekitarnya.

Kitta Kadafaru merasa perlu mencari jawaban tentang kegelisahan yang menggumpal di hatinya. Tentang beban yang ia rasakan karena fisiknya yang memiliki kekurangan, tentang hal2 yang bisa ia lakukan sehingga membuatnya dianggap sakti oleh penduduk desanya.

Kitta Kadafaru, pemuda dengan punuk di punggungnya. Kitta Kadafaru, pemuda dengan mimpi sederhana, menjadi normal seperti orang-orang lainnya.

Aku ingin menjadi burung-burung yang bisa terbang bebas menuju langit tak bertepi, dan bersembunyi di balik awan…

Di perjalanan Kitta bertemu dengan seorang bapak tua yang tertidur di bawah pohon rindang. Kitta dengan terpaksa membangunkan bapak tua itu karena perlu meminta air. Bekal air yang dibawa Kitta telah lama habis dan ia melihat bapak tua tersebut memiliki tabung bambu yang penuh air.

Dari perkenalan itu mereka memutuskan untuk berjalan bersama sampai arah mereka bersimpangan. Dalam perjalanan tersebut mereka banyak bertukar cerita. Tepatnya bapak tua tersebut banyak bercerita tentang legenda2 yang pernah ia temukan selama perjalanan.

Suatu ketika mereka bermalam di sebuah rumah kosong. Kitta melihat bahwa bapak tua tersebut kesulitan mencari posisi tidur dan tampak kesakitan. Empati membuat Kitta akhirnya memutuskan untuk melakukan sesuatu untuk bapak tua tersebut, ia mendekatkan tangannya ke arah kaki sang bapak tua. Dan cahaya pun muncul dari telapak tangan Kitta.

Pagi harinya bapak tua itu tekejut karena seluruh rasa sakit di tubuhnya menghilang sama sekali. Bapak tua tersebut juga sempat melihat cahaya yang keluar dari telapak tangan Kitta. Saat bapak tua itu menanyakan yang sebenarnya kepada Kitta, mengalirlah cerita muasal Kitta meninggalkan desa tercintanya Kofa.

Bapak tua tersebut kemudian menceritakan satu kisah lagi kepada Kitta sebelum mereka berpisah jalan. Kisah tentang Matu Lesso, seorang leleki yang dapat memanggil hujan.

Dikisahkan bahwa Matu Lesso dapat memanggil hujan dengan melemparkan pasir yang ada di tas selempangnya ke arah langit. Matu Lesso melakukan perjalanan panjang dari satu tempat ke tempat lainnya untuk membantu memanggil hujan. Suatu hari Matu Lesso merasa lelah dengan kelebihan yang ia miliki. Matu Lesso hanya ingin hidup normal, menetap dan berkeluarga layaknya orang biasa.

Matu Lesso memutuskan untuk mengabulkan hanya tiga permintaan lagi. Setelah itu ia akan berhenti melakukan perjalanan. Ia akan menetap dan hidup normal.

Menurut sang bapak tua pada akhirnya Matu Lesso melaksanakan keinginannya. Ia hanya mengabulkan tiga permintaan dan setelah itu menetap, hidup layaknya orang biasa.

Melalui kisah itu sang bapak tua mencoba menyampaikan kepada Kitta bahwa ia memiliki pilihan yang sama. Jika Kitta betul2 mendambakan untuk hidup normal, cobalah untuk melakukan hal yang sama seperti yang Matu Lesso lakukan. Semua itu adalah hak Kitta untuk dilakukan, keputusannya sendiri untuk diambil.

Kitta pun memutuskan untuk menerima saran bapak tua. Merekapun berpisah jalan dan saling mendoakan. Dari titik itu Kitta bertekad untuk membantu tiga orang lagi, kemudian mencari tempat untuk menetap dan hidup normal.

Pertanyaannya, sanggupkah ia mengambil pilihan tersebut?

Pertanyaan yang menurut saya menjadi tema seluruh isi cerita bergenre Magic Realism ini. If you had the resources to help those in needs, would you? And if you decide not to, can you live with that decision?

That is a deep question and this book makes me question myself too.

Belakangan ini saya mengambil keputusan yang membuat saya keluar dari zona nyaman saya. Keputusan yang menempatkan diri saya sendiri dalam risiko. Saya mengambil keputusan itu karena pada akhirnya saya menolak memalingkan muka dari kesewenangan yang terang2an dipamerkan di lingkungan saya.

Pada akhirnya memang satu orang tidak akan bisa memberontak kepada satu sistem. It requires much more than that. Tapi tidak sedikitpun saya menyesali langkah yang sudah saya ambil. Jika semua dapat diulang saya pun tetap akan mengambil langkah yang sama. Karena hanya dengan itu saya dapat berdamai dengan diri saya, dengan nurani saya. I take all consequences with no regrets. In my case, that’s my answer for the question.

Nah jadi curcol kan.. Hehe.. Anyway, I love this story about Kitta Kadafaru’s journey. Genre Magical Realism masih jarang dijamah oleh para pengarang Indonesia and I highly encourage Yudhi Herwibowo to continue doing so. He’s doing a good job in this Genre!

4 dari 5 bintang dari saya untuk buku Miracle Journey ini.

BBI Second Anniversary, Close Up Interview with Perdani Budiarti

25 Apr

20130425-200422.jpg

Dalam rangka ulang tahun Blogger Buku Indonesia (BBI) yang kedua, divisi event dari komunitas BBI nyelenggarain 3 kegiatan besar antara lain : giveaway hop, close up interview dan BBI berbagi.

Karena akhir2 ini hidup lg hectic banget jadilah saya cuma bisa ikut kegiatan yang kedua yaitu Close Up Interview (CUI). Ini ide brilian banget karena makin banyaknya anggota BBI, hampir pasti satu sama lain anggota banyak yang belum saling kenal lebih jauh. Host dari kegiatan ini adalah dokter gigi cantik kita, non Mia Prasetya.

Setelah diundi saya ternyata dapet bagian ngewawancara Perdani Budiarti.

Saya sendiri baru kenal sekilas dari pertemanan di twitter. Yang menarik dari akun twitter Dani adalah avatarnya yang berkarakter Pororo, idola anak saya Ayid. Jadi setiap ketangkep basah ayid lg twitteran pasti rebutan hp karena ayid pengen liat Pororo. Hihihi.

Ternyata mba yang satu ini udah lumayan lama ngeblog. Dulu punya akun multiply lalu hijrah (toss) plus beberapa akun blog lain.

Saya mengaku dosa kalo salah liat tanggal posting CUI, padahal Mia udah jelas2 kasitau via Whatsapp kalo postingnya tanggal 25. Saya keukeuh ngira tanggal 27. Jadilah Dani dikerjain karena pertanyaannya baru saya kirim tanggal 23 malem. Hihihi. Maaphkan yah. Saya bener2 silap.

Ada 15 pertanyaan yang saya kirim lewat email. Berikut jawaban dari pertanyaan2 itu yang mudah2an bikin kita semua kenal lebih jauh dengan Perdani Budiarti alias Dani :)

1. Sehari2 kegiatannya apa dan kapan aja waktu buat baca buku?

Kegiatan sehari2 di hari kerja: ngantor di Pemkot Solo dari pk.7.00 pagi sampai saatnya pulang (entah pk berapa tpi paling cepat pk.16.30), pulang, terus tepar sampai pagi. Waktu baca sih biasanya sore setelah pulang kantor, atau malam.

Kalau pas hari libur (Sabtu-Minggu) biasanya baca seharian kalau mmg nggak ada acara. Jadi intinya baca kalau sempat saja #plak *makanya timbunannya nggak berkurang malah nambah terus ^^v*

2. Sejak kapan suka baca dan ngeriview buku and kenapa?

Kalo suka baca sih sejak kecil ya, karena bapakku lebih suka kasih hadiah buku kalo anak2nya dapat ranking di sekolah. Hobi baca juga diturunkan dari bapak, jadi kalo aku jdi penimbun skrg ini juga gr2 bapak #eh *alasan*

Kalau mereview buku sih setelah gabung di goodreads ya, sekitar tahun 2009, terus awal tahun 2012 mule gabung di BBI dan benar2 jdi penimbun akut karenanya, hu3

3. Sebutin 5 buku yang paling berpengaruh dalam hidup dan kenapa?

a. Al-Qur’an; buku pertama yg harus dibaca pake ngapalin huruf arab & nggak habis2 :|

b. Harry Potter; sukses membuatku jadi Potterhead walo aku liat filmnya duluan, tapi memang sihir JKR tak terbantahkan.

c. Five People You Meet in Heaven; buku pertama Mitch Albom yg sukses bikin aku nempelin bnyak stick note karena hampir setiap kalimat di dalamnya berupa quotation bermakna *jempol*

d. The Bridgerton Series-nya Julia Quinn yg sukses memaksaku utk mengoleksi historical romance utk pertama kalinya karena di membuatku terhibur sepanjang membaca buku-buku tsb.

e. Message in a Bottle-nya Nicholas Sparks yang aku suka karena berisi surat-surat dari seorang pria ke wanita yang dicintainya *tsah*

f. Perfume-nya Patrick Süskind, terkesan banget dengan kegilaan tokoh utamanya yg berambisi untuk mendapatkan wangi terbaik di dunia, hiiiiih.

*gpp ya, Teh, ada 6 buku favoritku, ha3

4. Sebutin 5 buku yang setelah dibaca paling bikin keki dan kenapa?

a. Memory & Destiny; suweeer, otakku bener2 nggak prima karena butuh waktu luama bgt utk nekat baca buku ini dan harus tersiksa selama berhari2 karenanya, nggak kelar2 soalnya (>0<”)

b. Twilight; terpaksa baca buku pertamanya karena dikasih temen pas ultah, langsung keki dengan kelakuan Bella. Buku kedua sampe ke empat aku baca sambil lalu dari rental dan masih keki sama Bella dan egoisme dia utk mndapatkan perhatian dri skitarnya. Plus obsesinya si Edward yg… *digebukin fans Edward*

c. Fifty Shades of Grey; well, awalnya penasaran seperti apa buku yg awalnya fanfic TW yg bertema BDSM ini, namun saat baca aku jdi ketiduran mulu karena alurnya yg luambat pisan, terus si obsesi Mr. Grey-nya ke Ana yg dkasi laptop super canggih hnya utk email2an aja gitu? D*mn, aku mau laptopnya utk ngegame & maen grafiiiis *intinya iri sama Ana, ha3* Belum menjamah buku kedua & ketiga karena trauma sama kkedua tokohnya tersebut, hiks

d. A Romantic Story About Serena; uhm, well, yeah, terlalu mirip gaya penulisan harlequin jadul & karakter Serena-nya nggak kuat :|

e. Pokoknya semua buku yang karakter cewe-nya TSTL *sudah susah nyari buku apalagi*

5. Paling suka ending buku yang seperti apa?

Ending yg unpredictable, jdi setelah baca buku itu aku bengong sebentar saking terpesonanya, terus teriak…gelaaaaaa… Aku tidak bermasalah dg sad/happy ending, selama ending itulah yg terbaik utk semua tokoh di dalam buku tsb :) __<”

6. Kalo boleh kasih hadiah ke 3 orang yang paling disayang, bakalan kasih buku apa dan kenapa? (sebutin juga orangnya ya)

a. Koleksi lengkap Tetralogi Buru ke my beloved father, soalnya kemarin pas ad yg nitip Bumi Manusia dan bapak liat langsung terliat mupeng jadi ya aku beliin aja deh buat beliau :D

b. Buku-buku karya Ayu Utami ke adikku yang memang penggemar penulis tersebut. Sudah beberapa kali ultah, dia aku kasih bukunya Ayu Utami terus, hehe

c. Irma, teman sejak SD yg smpe skr masih kontak. Dia suka semua jenis buku, tapi bentar lagi mau merid, jadi enaknya dikasih buku nikah aja ya? #plak

7. Kalo boleh kasih hadiah ke 3 orang yang pernah bikin sakit hati, bakalan kasih buku apa dan kenapa? (Nama boleh disamarin)

Waduh, siapa ya… er….duh, nggak ada Teh…eman-eman bukune #plak Tapi suer, nggak ada ide sama sekali T^T

8. Pernah dianggap sebagai orang aneh karena sesuatu yang berkaitan dengan buku?

Nggg, nggak secara langsung sih, tapi seorang teman adikku sempat komentar ngapain beli buku, kalau sudah dibaca ya sudah habis, dianggurin di rak. Argh, kan seninya jadi pencinta buku selain membacanya adalah menimbun yang banyak #eh

9. Domisili pernah dimana aja? Dimana yang paling berkesan? Kalo bisa hidup di dalam buku pengen hidup di dalam buku apa?

Err, numpang lahir di Magelang tapi sejak usia beberapa bulan stay terus di Solo sampe skrg.

Pengen hidup di dunia sekarang tapi bisa mampir ke Hogwarts-nya Harry Potter

10. Sekarang punya berapa buku (fisik maupun ebook) dan berapa yang udah dibaca?

Waduh, susah ini…belum didata semua, teh T^T. Tadi nengok rak goodreads sih hanya ada 169-an gitu utk buku fisik, kalo ebook…ada 1.400-an file, tapi kayanya kurang valid juga deh *worried*

Yg sudah dibaca? Err…aduh, Teh Chacha, aku nggak mendata jugaaaa *die*

11. Apa genre kesukaannya dan kenapa?

a. Romance; karena sering baca cerpen romance di Aneka pas zama SMPD dulu, terus curi baca novel remaja koleksi bapak yg ternyata romance semua, huehehe.

b. Fantasy; karena sejak kecil aku hidup di dunia khayal dan suka melarikan diri dari kenyataan*halah*

c. Detektif, thriller, misteri; sejak kecil baca 5 Sekawan, STOP, Trio Detektif, dll hasil pinjam di perpus sekolah yg membuatku pengen gabung di klub detektif gitu karena mupeng memecahkan misteri dg segala kerumitan kode2nya

12. Sebutin 5 pengarang luar yang bukunya otomatis dibeli and kenapa?

Waduh, pertanyaan yg sulit karena sampe skrg aku cumi rental setia. Tapi ada beberapa yg memang aku usahakan beli bukunya…

a. J.K. Rowling, kecuali The Casual Vancancy yg masih masuk dlm daftar tunggu dibeli :D

b. Nicholas Sparks; setiap ada terjemahan baru bukunya aku beli sih, suka aja sama gaya bercerita romance dia, sesuatu yg sepele di buku dia bisa jadi sesuatu yg romantis & berkesan utk para couple dalam buku2 dia

c. Kim Dong Hwa; mangaka Korea ini ketiga bukunya langsung aku borong karena bagus, dan memang bagus ternyata Trilogi Warna-nya. Sepeda Merah belum sempat terbeli karena bulan April ini aku boke :’(

d. Neil Gaiman; walau belum pernah baca bukunya tapi entah kenapa otomatis beli aja buku2 dia :P

4 aja ya, Teh…yg satu sebenernya Sandra Brown, tapi aku beli buku dia cuma yg aku suka aja beberapa, lainnya cumi rental :”)

13. Sebutin 5 pengarang indonesia yang bukunya otomatis dibeli dan kenapa?

Err, nggak ada :’( piye ikiiii? (>_<”) soalnya aku lebih sering baca buku terjemahan sejak kecil, jadi kurang akrab sama buku-buku lokal, hu3, mafkan aku, Para Penulis Indo #plak

Eh, setelah kupikir2, ada ding penulis Indonesia yang aku beli bukunya otomatis…Ayu Utami, soalnya adikku koleksi, jadi aku suka otomatis beliin dia juga :D terus Ahmad Fuadi buat Bapak untuk melengkapi koleksi Negeri 5 Merana-nya

14. Sejak kapan masuk BBI, gimana ceritanya dan setelah masuk gimana kesannya sama BBI?

Masuk BBI sejak Januari 2012, tertarik gr2 ada event Secret Santa yg diobrolin sma anak goodreads solo pas kopdar di rumah Alvina, kok kayaknya seru. Ya udah deh habis itu cari info, blogwalking, daftar, dan akhirnya ketimbun buku bersama para member BBI lainnya smpe skrg. Kesannya sih pengetahuan tentang buku menjadi lebih luas

15. Sebutin 5 anggota BBI terfavorit dan kenapa?

Mbak ASD, eh, mbak Dewi; karena review2nya yang jujur dan nendang ke ulu hati #halah

Ndari; karena walau masih muda bgt tpi bacaannya ajaib2 semua #shock

Mbak Desty; kecepatan baca & reviewnya daebak! Ngiri sama update2nya yang ter-schedule dengan baik >_<”

Mbak Fanda; yang fokus dan konsisten sama genre classic di tengah maraknya genre lain yang seabrek itu

Hernadi Tanzil a.k.a Rahib Sang Sesepuh BBI; salut sama koleksi bukunya yang beragam dan semangatnya untuk terus baca-review-share!

Fyuh, udahan ya Teh Chacha…capeeee

———————————————

Hahaha.. Maaf ya Dani aku kerjain, walaupun bilangnya fotonya berantakan tapi tetep cantik kok. Oiya koleksi buku yang bikin kekinya 90% sama nih sama saya (walaupun sampe saat ini belum ada waktu luang buat baca 50 shades)

Dan paraaaah nih ngga ngedata buku, curiga timbunannya jauh lebih banyak dari yang diperkirain. Hihihihi. Data deh! Pasti kaget sendiri (seperti yang saya alami).

Anyway tengkyu ya atas kesediaannya jawab pertanyaanku. Aaaand yang pasti sukses terus buat Dani plus semua anggota Blogger Buku Indonesia tercinta. Semoga kita makin kompak & makin punya gigi di dunia literasi Indonesia.

Maju terus BBI!

20130425-200535.jpg

By the way di kegiatan Close Up Interview ini saya diwawancara sama Luthfia alias Lulu.. Hasil wawancaranya bisa dilihat disini.

Paranormalcy By Kiersten White

11 Mar

8254259Penerbit : Terakota Books (Uncorrected Version/ Dummy)
Tebal : 403 Halaman
Alih Bahasa : Tendy Yulianes Susanto

Jujur nih, saya sempet trauma dengan buku2 yang mengandung vampire dan ware-wolf setelah membaca Twilight Series. Lalu kemarin2 saya bertekad untuk mengapus keengganan untuk membaca segala jenis buku yang tadinya saya hindarin dan mencoba lagi untuk kembali netral. Kebeneran dapet tawaran dari Terakota Books buat baca versi dummy dari buku Paranormalcy nya Kiersten White yang bakalan mereka terbitin.

Gayung bersambut deh. Dan emang kayaknya ngga boleh deh menghakimi suatu genre itu asik atau ngga. Buktinya buku ini berhasil mengampuni prasangka saya terhadap cerita2 yang mengandung vampire dan ware-wolf. Hehe.

Tokoh utama di buku ini namanya Evie. Seorang remaja perempuan yang bekerja di IPCA ( The International Paranormal Containment Agency). IPCA ada untuk mendata, melacak dan menertralkan semua mahluk jadi2an (atau istilah lainnya golongan paranormal) yang berkeliaran di dunia. Vampire, Ware-wolf, Faerie, Mermaid, Hag dan aneka mahluk jadi2an lainnya yang belum dikategorikan.

Para mahluk paranormal tersebut biasanya menggunakan wujud penyamaran (Glamor, istilah mereka) agar bisa berkeliaran bebas di dunia manusia. Wujud penyamaran tersebut sebenarnya hanya ilusi untuk menipu mata mahluk lain. Di titik itulah Evie memiliki kelebihan, dia bisa melihat wujud asli mahluk paranormal menembus Glamor-nya. Dengan kata lain, tidak ada satu pun mahluk paranormal yang bisa bersembunyi dari mata Evie.

Karena itu, semenjak berumur kurang dari 10 tahun Evie  dirawat dan dibesarkan oleh orang2 IPCA. Dan ketika telah cukup terlatih, Evie bekerja untuk menetralkan para vampir dan mahluk lainnya sehingga tidak dapat mengganggu manusia.

Di kompleks IPCA Evie memiliki unit tempat tinggalnya sendiri, ia bersahabat dengan seorang Mermaid pintar bernama Liz yang juga bekerja untuk IPCA. Namun seperti halnya remaja biasa, Evie seringkali memimpikan kehidupan normal seperti yang ia lihat di serial TV. Dan hal2 yang paling ia inginkan untuk miliki sebagai perlambang kehidupan remaja normal adalah memiliki SIM dan locker sendiri. Hehehe.

Boleh dibilang salah satu kelebihan dari buku ini adalah karakter heroine nya. Evie yang cerdik, lucu dan tangguh. Jauh dari kesan menye2 (we had enough of Bella Swan thank you!) pokoknya si Evie ini.

Suatu hari markas IPCA menangkap seorang penyelundup di ruangan agen/ibu asuh Evie, Rachel. Si penyelundup ternyata semacam shapeshifter yang belum pernah ditemukan dan dikategorikan oleh IPCA. Sang shape shifter itu bernama Lend yang ternyata pada dasarnya adalah seorang remaja pria yang seumuran dengan Evie.

Didorong oleh rasa penasarannya (karena minim teman sebaya), akhirnya Evie berteman dekat dengan Lend yang statusnya tahanan IPCA. Dari hasil ngobrol2 mereka Evie mulai mempertanyakan keberadaannya di IPCA. Apa sebenarnya statusnya, kenapa ia tidak boleh bebas keluar dari lembaga itu, dan pertanyaan2 lain yang sebelumnya diterima Evie sebagai suatu kewajaran.

Di sisi lain terjadi sesuatu yang tidak biasa di dunia paranomal. Banyak mahluk2 paranormal yang ditemukan mati tanpa sebab. Setelah beberapa kasus rumor beredar bahwa pembunuhnya adalah mahluk berwujud api yang dapat membuat paranormal sekuat apapun mati hanya dengan menyentuhnya.

Ternyata rumor tersebut berkaitan dengan kelakuan Reth, seorang Faerie yang pernah dekat (tapi sekarang tidak) dan terlanjur terobsesi dengan Evie. Reth terus mencoba dengan berbagai cara untuk mendekati Evie dan mengisinya dengan api.

Apa sebenarnya benah merah dari semua puzzle di atas? Siapa sebenarnya Evie? Baca sendiri aja ya.. Yang jelas terimakasih kepada pihak yang memberikan kesempatan saya untuk baca terjemahan ini duluan, saya jadi kadung penasaran dan beli ebook buku ini dan dua buku terusannya untuk ngobatin penyakit penasaran saya. Hehehe.

Saya suka banget dengan ide adanya lembaga kayak IPCA buat mengatur keberadaan para mahluk jadi2an. Idenya orignal dan menarik. Setelah bandingin dengan versi bahasa inggrisnya, ternyata versi terjemahannya ini berhasil mentransfer semua muatan dari bahasa aslinya tanpa mengurangi kesegaran jalannya cerita.

Ngga gampang deh kayaknya mengkonversi celoteh khas remaja dari versi bahasa inggris ke versi bahasa indonesia. Salah2 bisa2 kedengeran ganjil dan ngerusak seluruh keasikan baca. Makanya saya bisa bilang kalo ini salah satu versi terjemahan yang berhasil.

Buat para penggemar genre Young Adult Paranormal kayaknya keterlaluan kalo sampe ngelewatin buku ini. Buat para penggemar genre lain, ngga ada salahnya juga nyoba baca. Terlepas apa genrenya, buku ini cukup seru dan menarik buat dibaca. 4 dari 5 bintang dari saya.

PS : Menurut saya satu2nya yang kurang OK adalah covernya. Ngga menggambarkan kepribadian Evie soalnya. Terlalu feminim dan kurang sangar. Hihihi.

Cerita Cinta Enrico By Ayu Utami

31 Jan

13454650Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia

Tebal : 244 Halaman

“Selanjutnya hidup bagaikan judi…”

Lebih dari 10 tahun lalu saya mencoba membaca buku Saman karya Ayu Utami. Saya waktu itu baru akan memasuki umur 20 tahunan langsung menyimpulkan bahwa Saman is not my cup of tea. Ketika itu saya versi “remaja-dewasa” merasa sudah tau pasti siapa diri saya, apa yang saya mau dalam hidup, mau kemana langkah kaki saya arahkan.

Lalu kehidupan yang sebenarnya datang. Dan semakin bertambah umur, semakin saya tahu bahwa tidak ada yang pasti di dunia ini. Hidup selalu mendorong manusia untuk selalu berubah. Di suatu titik saya sempat bingung dengan  perubahan diri sendiri dan merasa tidak mengenal orang yang saya lihat dalam kaca. Namun pada akhirnya saya mengerti bahwa memang kita tidak akan pernah tahu. Tidak ada satu hal pun yang pasti dalam hidup.

Saya belajar untuk menenggang. Saya belajar untuk menempatkan diri di banyak sisi sebelum mengambil kesimpulan.

Ini berlaku juga dalam pilihan buku yang ingin saya baca. Saya memutuskan untuk mencoba kembali membaca buku2 yang dulu saya labeli “bukan untuk saya” untuk belajar menemukan keindahan perubahan cara pandang yang dibawa oleh waktu.

Dan kehidupan menjawab maksud saya. Ayu Utami mengeluarkan karya barunya Cerita Cinta Enrico. Saya yang tadinya berfikir untuk memulai dari Saman tiba-tiba merubah pikiran untuk berjalan mundur dari masa kini ke masa lalu. Saya akan memulai dari Cerita Cinta Enrico dan merunut ke karya2 Ayu Utami sebelumnya.

Walaupun orang-orang bilang ini adalah buku yang termasuk ringan untuk karya Ayu Utami, buat saya buku ini adalah kejutan yang menyenangkan. Kenapa?

Pertama karena gaya berceritanya yang unik. Enrico si tokoh utama bercerita tentang bab-bab kehidupannya dengan menggunakan peristiwa2 bersejarah Indonesia sebagai acuan waktu. Gaya ini pernah saya lihat dalam salah satu buku Salman Rushdie dan merupakan sesuatu menyenangkan untuk melihat versi lain gaya ini di Cerita Cinta Enrico.

Kedua karena buku Cerita Cinta Enrico ini merupakan penyeimbang. Penyeimbang dari kisah perjalanan anak Indonesia lainnya yang telah banyak beredar. Kebanyakan kisah perjalan tersebut mengajarkan kemuliaan dalam meraih mimpi, pengorbanan, kecintaan pada keluarga, determinasi, dan sifat2 baik lainnya sehingga sang tokoh berhasil meraih mimpi yang dicita-citakan.

Enrico berkelana ke Bandung dari Sumatra karena ingin bebas. Bebas dari suasana tertekan yang diradiasikan Ibunya. Bebas untuk memilih siapa dirinya. Buat saya keberanian untuk jujur menginginkan kebebasan itulah yang menyeimbangkan. Tidak semua dari kita diberkahi dengan jenis cinta keluarga yang membentuk kita menjadi manusia dengan sifat2 terbaik. Sebagian besar dari kita ingin terbebas dari kungkungan, terlepas dari kenyataan kita mencintai keluarga kita. Itu adalah kenyataan.

Ketiga, kisah Enrico meng-amin-ni, cerita pengalaman saya di awal2 paragraf bahwa manusia akan selalu berubah. Dan jika pada saat ini kita merasa masih belum menemukan diri kita, itu adalah sesuatu yang wajar karena fitrah manusia untuk selalu merubah dirinya. Kalo diibaratkan puzzle, seumur hidup kita akan selalu mengisi kepingan puzzle yang kosong itu, dan keping terakhir akan kita lengkapi di saat hembusan nafas terakhir. Jadi percayalah bahwa tidak ada pilihan yang salah dan jangan pernah merasa terlambat untuk sesuatu. Jalan hidup kita masih bisa berubah selama kita masih bernyawa.

Empat dari lima bintang dari saya untuk buku ini. Selebihnya tentang sinopsis cerita bisa teman2 lihat di goodreads karena apa yang saya tulis di atas lebih banyak muatan curhatnya daripada reviewnya. Hehehe.

Oh iya. Ini posting pertama para Blogger Buku Indonesia untuk tahun 2013. Untuk bulan Januari para anggota BBI memposting review buku hadiah dari event Secret Santa di bulan Desember 2012. Di postingan ini setiap orang harus mencantumkan tebakan siapa Secret Santanya.

Dan Secret Santa saya (hampir 100% yakin) adalah tak lain dan tak bukan Mia Prasetya sang dokter gigi cantik dari bali. Hehehe. Darimana saya tahu? 1. Resinya mencantumkan kode agen pengiriman denpasar; 2. Riddlenya pernah saya baca di buku The Hobbit and BBI’ers bali yang mereview buku itu not so long ago adalah Mia. Hihihihi. Iya kan Mia? ;p

“Orang yang tidak pernah merasa tertekan tak kan bisa menginginkan kebebasan.”

“Aku selalu merasa bahwa perempuan sering jauh lebih tangguh daripada laki-laki. Dan mereka memikirkan kehidupan, bukan kegagahan. Kami, para lelaki, sering melakukan sesuatu demi kegagahan. Tapi kaum perempuan berbuat demi kehidupan. Lelaki sering berbuat untuk egonya sendiri, sedang perempuan berbuat untuk orang lain.”

“Aku kini mahasiswa. Tapi perguruan tinggi telah menjadi peternakan yang membesarkan ayam-ayam leghorn dan broiler saja. Yaitu ayam-ayam palsu, yang tak punya kemauan, tak punya kenakalan, tak punya rasa ingin mencari yang sebenarnya. Ayam-ayam yang diproduksi untuk daging dan telurnya saja. Ayam-ayam yang tak punya karakter, tak punya keunikan individu. Ayam-ayam yang hanya mengangguk-angguk, mematuk2 apapun yang diberikan kepada mereka, sampai kelak Kiamat memotong leher mereka.”

The Hundred Year Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeard By Jonas Jonasson

10 Jan

13486632Penerbit : Hesperus Press Limited

Tebal : 393 Halaman

“Things are what they are, and whatever will be, will be.”

Haha! Saya nutup halaman terakhir buku ini asli sambil ketawa cekikikan. Padahal ngga sengaja nemu waktu lagi browsing2 di bookdepository dan kesengsem sama judulnya yang menarik. Emang bikin penasaran kan judulnya? Hehe..

Merasa beruntung karena jenis cerita macem gini adalah salah satu jenis yang paling saya suka. Ibarat perpaduan antara Forrest Gump nya Winston Groom dan Good Omens nya Neil Gaiman sama Terry Pratchett. Lucu, humoris dan sedikit absurd. Hehe.

Alkisah seorang tua di rumah jompo yang bernama Allan Karlsson, beberapa jam lagi ia harus menghadiri pesta ulang tahunnya yang keseratus. Karena pencapaian umur yang cukup langka itu panti jomponya memutuskan  untuk mengadakan pesta yang sedikit heboh. Walikota dan beberapa media akan datang untuk meliput peristiwa langka tersebut.

Allan yang enggan menghadiri pesta tersebut akhirnya memutuskan untuk kabur dengan melompat dari jendela kamarnya dan mendarat di semak bunga yang terletak di bawah jendela. Masih menggunakan sendal tidurnya, Allan berhasil mengaburkan jejak pelariannya dan tiba di stasiun bus untuk lalu membeli tiket bus jalur apapun yang berangkat paling cepat.

Secara kebetulan di stasiun bus yang sepi itu hanya ada satu orang lain yang duduk bersamanya di ruang tunggu. Anak muda tersebut memakai jaket dengan tulisan “Never Again” dan membawa sebuah koper perak dengan ukuran yang cukup besar.

Dengan polos(atau bodoh)nya anak mudah tersebut menitipkan kopernya kepada Allan karena harus pergi ke kamar kecil (koper sebesar itu tidak akan muat dibawa ke kamar kecil). Di saat bersamaan bus yang Allan tunggu tiba, dan di dalam pikirannya mungkin di koper tersebut akan tersedia beberapa potong baju ganti dan sepasang sepatu (kalau ia beruntung). Tanpa pikir panjang Allan membawa koper yang bukan miliknya itu ke dalam bus dan berlalu melanjutkan perjalanan.

Di saat yang bersamaan pesta ulang tahun Allan yang keseratus telah siap dilaksanakan. Seluruh tamu undangan telah siap menyambut sang birthday boy. Alangkah terkejutnya direktur panti jompo ketika menemukan bahwa Allan tidak ada di kamarnya. Fakta bahwa walikota dan media telah ada di tempat itu menyebabkan peristiwa hilangnya Allan menjadi heboh. Pencarian sang sepuh pun dilakukan dan media dengan ramainya memberitakan perihal hilangnya “Sang Orang Tua yang Berumur 100 Tahun” dari panti jompo.

Lalu bagaimana kabarnya anak muda yang kopernya dibajak oleh Allan? Ternyata “Never Again” adalah nama suatu geng mafia yang memiliki spesialisasi di bidang perampokan dan perdagangan obat terlarang. Koper yang Allan curi penuh berisi uang. Tidak tanggung murkanya anak muda tersebut mendapati bahwa dirinya telah dikerjai oleh seorang kakek renta. Dengan geram (dan takut pada bos mafianya) anak mudah tersebut segera menyusul Allan dengan Bus berikutnya.

Dan petualangan absurd Allan yang melibatkan geng mafia dan sekumpulan polisi inkompeten pun dimulai. Allan diduga diculik, untuk kemudian diburu dengan tuduhan pembunuhan terhadap (tidak tanggung2) tiga orang.

“People could behave all they like, but Allan considered that in general it was quite unnecessary to be grumpy if you had the chance not to.”

Cerita digambarkan melalui kisah Allan di masa sekarang dan kilas balik cerita hidupnya. Melalui kilas balik itulah kita kemudian mengetahui bahwa tidak hanya menyaksikan sebagian besar peristiwa di abad 20-an, bahkan Allan pun terlibat dalam berbagai peristiwa besar di abad tersebut melalui keahlian otodidaknya dalam hal membuat bom.

Sebutlah berteman baik dengan Harry S. Truman, menyelamatkan istri Mao Tse-tung, bertengkar dengan Stalin, menjadi penghuni  camp Gulag dan kemudian berlibur berbelas-belas tahun di Bali, Indonesia. Hahaha!! This story is so funny and amusing that it makes me smile over and over again while writing the review.

Ah, sebenernya asik banget kalo buku ini ada yang mau terbitin di Indonesia, tapi terus terang saya khawatir dengan masyarakat Indonesia yang suka terlalu sensitif. Kenapa? Soalnya Indonesia digambarkan dalam buku ini sebagai tempat dimana segala sesuatunya bisa dibeli dengan uang (dimana kurang lebih saya sependapat dengan penulis). Reputasi, jabatan, identitas, ijasah, you name it! Hihihi..

Lima dari lima bintang dari saya untuk keseruan nan absurd buku ini.

“Allan asked the representative of the Indonesian Government to sit down. And then he explained that he had given the Bomb to Stalin, and that had been a mistake because Stalin was as crazy as they come. So first, Allan wanted to know about the mental state of Indonesian President.

The Government representative replied that President Yudhoyono was a very wise and responsible person.

‘I am glad to hear it,’ said Allan.’In that case I’d be happy to help out.’

And that’s what he did.

The End”

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 639 other followers

%d bloggers like this: